Rabu, 16 Juli 2008

Peremajaan Karet Dianggap Angin Lalu

KOMPAS - Senin, 14 Apr 2003 Halaman: 32 Penulis: nat; b04; mul Ukuran: 8727 Foto: 1

PEREMAJAAN KARET DIANGGAP ANGIN LALU

TERBATASNYA modal menjadi alasan klasik bagi peremajaanperkebunan karet rakyat di negeri ini, termasuk di Sumatera Selatandan Jambi. Petani karet rakyat yang hidup miskin, sudah tentu tidakmemiliki modal tersebut. Sementara, pemerintah juga ikut-ikutanmengaku tidak punya anggaran cukup untuk membantu modal bagi petanikaret yang hendak meremajakan kebun karet mereka.

SEPERTI dikemukakan Kepala Dinas Kehutanan dan PerkebunanKabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Frachrudin, Senin (31/3),pihaknya pernah mengajukan anggaran ke pemerintah setempat. Namunterbatasnya anggaran di APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah)Muaro Jambi, menyebabkan usulan itu belum dipenuhi.

"Kami sudah mengajukan anggaran ke pemerintah kabupaten untukperemajaan karet rakyat yang berusia tua (berkisar antara 25 hingga50 tahun). Namun karena anggaran terbatas, membuat usulan itu belumbisa dipenuhi," ujarnya.

Selain itu, katanya, para petani pemilik kebun karet tua memintaagar pemerintah memfasilitasi untuk mengonversi tanaman karet tuamenjadi perkebunan kelapa sawit.Dinas Perkebunan Jambi menyadari sepenuhnya akan terjadi dampakberantai akibat tersendatnya peremajaan tanaman karet. Luas arealkaret tua bertambah dengan produksi yang terus menurun, pada akhirnyasemakin menurunkan pendapatan petani itu sendiri.

Di beberapa kabupaten, seperti di Tanjung Jabung Barat, Muaro Jambi, dan Tebo,para petani pemilik kebun karet tua lebih suka mengonversi lahannyamenjadi perkebunan kelapa sawit.Tahun ini, Dinas Perkebunan Jambi hanya bisa menyediakanpembibitan seluas satu hektar atau sebanyak 25.000 batang bibit pohonkaret. Jumlah bibit sebanyak itu dapat ditanam di atas lahan seluas50 hektar yang diremajakan.

"Saya sudah minta kepada pemerintahkabupaten yang menjadi sentra produksi karet rakyat untukmemfasilitasi dan meningkatkan bantuan kepada petani. Itu dilakukanuntuk meremajakan tanaman karet tua milik mereka," kata Kepala DinasPerkebunan Jambi Muhammad Aman.

Menurut Aman, bantuan bisa diberikan dalam bentuk penyediaanbibit unggul, pembukaan lahan, melubangi, bibit tanaman tumpang sari,dan sebagainya.Dalam era otonomi daerah ini, ungkap Aman, sudah selayaknyapemerintah kabupaten yang sebagian besar rakyatnya petani perkebunan,khususnya karet, memberikan perhatian sungguh-sungguh terhadapperemajaan pohon yang telah tua.

"Tahun 2002 lalu memang adaperemajaan yang dilakukan di beberapa pemerintah kabupaten, namunmasih minim," jelas Aman.Para petani karet, jelas tidak akan mampu melakukan peremajaanterhadap tanaman karetnya karena biayanya yang mahal.

"Biaya penanaman atau peremajaan karet generasi ke-4 (G-4) klon IRR-118sebanyak 500 pohon, pada tahun pertama sekitar Rp 3.095.500 perhektar. Itu belum termasuk biaya pemeliharaan pada tahun berikutnya,"kata Aman.

Padahal, usia produktif karet adalah usia enam tahun hingga usia25 atau 30 tahun. Pada usia produktif, tanaman karet rakyat ini rata-rata bisa menghasilkan sekitar 900 kilogram per hektar per tahun.Sementara 100.000 hektar tanaman rakyat tersebut, saat ini sudah diatas usia produktif tersebut.

Menurut Kepala Dinas Perkebunan Sumsel Sukarno kendala dalammeremajakan karet rakyat adalah ketiadaan dana. Dibutuhkan sekitarRp 6 juta per hektar untuk meremajakan tanaman karet.Untuk itu, pihaknya mengharap ada investor yang mau memberikanpinjaman atau kredit khusus kepada petani karet supaya lahan-lahantersebut tidak sia-sia.

Pinjaman atau kredit khusus tersebutdiharapkan bisa menolong petani karet yang lahannya tidak produktiflagi untuk meremajakan tanaman mereka.Salah satu usaha yang dilakukan oleh Dinas Perkebunan adalahmerintis kerja sama dengan perusahaan kayu lapis yang bisamemproduksi kayu lapis dari pohon karet. Hasil penjualan dari pohonkaret ini nantinya bisa dimanfaatkan sebagai modal oleh para petanikaret untuk meremajakan kebun mereka.

PENELITI senior Balai Penelitian Karet Sembawa (BPKS) Supriadimenyebutkan, dengan asumsi laju peremajaan lahan karet 4.000 hektarper tahun, dibutuhkan waktu sekitar 25 tahun untuk meremajakan karettua seluas 100.000 hektar lebih itu.Sementara data BPKS untuk peremajaan karet di Sumsel untuk tahun2001 sampai 2002 hanya 2.760 hektar.

"Selama waktu tersebut, tentunyakaret rakyat yang sekarang masih dalam usia produktif akan memasuki usia pensiun juga," kata Supriadi.

Itu akan menjadi permasalahan lain. Hal yang utama adalahperemajaan pohon yang sudah tua saat ini. Waktu semakin mendesak.Waridi dan ribuan petani lain tidak akan terus-menerus bisa menyadappohon karet tua milik mereka.Beberapa tahun lagi karet-karet itu akan berhenti mengalirkan getahnya. Padahal, pohon itulah satu-satunya sumber penghidupan parapetani karet. Jika itu sudah terjadi, ratusan ribu petani dankeluarganya akan kehilangan penghidupan.

Namun, sejak tahun 2000 di Jambi, misalnya, hampir tidak adaprogram peremajaan karet rakyat yang dilaksanakan pemerintah.Kalaupun ada, skalanya relatif kecil. Misalnya, melalui ProyekPengembangan Wilayah Khusus (P2WK) di daerah terpencil danterbelakang. Untuk Kabupaten Muaro Jambi, tahun 2003 ini hanya 58hektar, sementara tahun sebelumnya 60 hektar.

Kondisi tanaman karetrakyat di daerah itu yang luasnya 50.000 hektar, 28.000 di antaranyamerupakan karet yang masih menghasilkan, 9.200 hektar karet tua, dansisanya tanaman yang belum menghasilkan.Kondisi yang sama juga terjadi di kabupaten penghasil karetlainnya di Jambi, seperti Kabupaten Batanghari, Tebo, Bungo,Sarolangun, dan Merangin.

"Di Tanjung Jabung Barat, tahun 2001diremajakan 150 hektar tanaman karet tua melalui P2WK.Tahun 2002 tidak ada lagi peremajaan. Di Tanjung Jabung Baratterdapat sekitar 25.500 hektar tanaman karet dan 7.000 hektar diantaranya tanaman tua," kata Asisten II Pemerintah Kabupaten TanjungJabung Barat Irsal Tajudin.

Sedangkan di Kabupaten Sarolangun, pemerintah pusat melalui dana dekonsentrasi, meremajakan lahan seluas 185 hektar. Sementara diKabupaten Batanghari 150 hektar. Bibit yang ditanam jenis Generasi ke-4 (G-4).Guna membantu para petani meremajakan tanaman karet tuanya, DinasPerkebunan Provinsi Jambi telah merencanakan kerja sama denganperusahaan swasta dari Malaysia, PT Latitude Tree. Perusahaan asing itu akan membeli kayu karet tua milik rakyat untuk diolah menjadibahan baku mebel.

"Harga pembelian perusahaan tersebut rendah, hanya Rp 150.000 permeter kubik di pabrik, Rp 60.000 per meter kubik di pinggir jalan,dan Rp 30.000 meter kubik jika dibeli langsung di kebun petani," ujarAman.

Hasil penjualan kayu karet itu, tentu sangat kecil dibandingkankebutuhan petani untuk meremajakan perkebunan mereka. "Kalau dijualdi kebun, rata-rata rakyat hanya menerima Rp 750.000 per hektarkarena kayu pohon karet rakyat hanya sekitar 25 meter kubik perhektar. Dengan dana hasil penjualan kayu sebanyak itu, jelasperemajaan kebun keret tidak mungkin bisa dilakukan petani pemilik,"kata Aman.

Sejak tahun 1980 sampai dengan 1999, pemerintah melalui pinjamanBank Dunia, Bank Pembangunan Asia, APBN (Anggaran Pendapatan danBelanja Negara), serta APBD sebenarnya pernah mendanai proyekperemajaan, rehabilitasi, dan perluasan tanaman karet.Berbagai proyek pernah dilakukan, misalnya, PeremajaanRehabilitasi dan Peremajaan Tanaman Ekspor (PRPTE), Nucleus Estateand Smallholder (NES), Tricrop Smallholder Development Project(TCSDP), Pengembangan Perkebunan Daerah Transmigrasi (P2DT),Pertanian Rakyat Terpadu (PRT), dan Smallholder Rubber DevelopmentProject (SRDP).

Hasil peremajaan ketika itu rata-rata produktivitas tanaman karetrakyat di Provinsi Jambi naik dari rata-rata 500 kg per hektar tahun1980 menjadi 720 kilogram per hektar tahun 2000.Terlepas masalah adanya korupsi di sebagian proyek tersebut, jikadiakumulasikan, sebenarnya sudah bisa diremajakan sekitar 2.000hektar tanaman karet rakyat di Provinsi Jambi setahun atau 4.000hektar dalam dua tahun.Namun sejak tahun 2000, proyek peremajaan karet rakyat yangdidanai pinjaman luar negeri tidak ada lagi. (NAT/B04/AGUS MULYADI)

Foto:Prasetyo Eko P

KARET MUDA - Para pekerja sedang merawat karet muda di salah satuperkebunan di daerah Betung, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.Hanya perusahaan perkebunan mampu yang sudah melakukan peremajaankaret.

Tidak ada komentar: