Kamis, 17 Juli 2008

Kalah Bersaing dengan Kopi Brasil dan Vietnam

KOMPAS - Jumat, 11 Jul 2003 Halaman: 31 Penulis: mul; jos; b04 Ukuran: 8697 Foto: 1
KALAH BERSAING DENGAN KOPI BRASIL DAN VIETNAM
"KEBANYAKAN petani di Indonesia menanam kopi jenis robusta, yang
empat tahun ini harganya memang rendah. Sementara kopi jenis arabika
hanya ditanam sebagian kecil petani. Padahal, harga kopi arabika di
pasar dunia masih tetap tinggi," ujar Edi Kasim, Ketua Asosiasi
Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Provinsi Bengkulu, ketika ditemui
Senin (7/7) pagi di rumahnya.
DI pasar dunia saat ini kopi robusta memang tengah membanjiri
pasaran, terutama kopi robusta produksi Brasil dan Vietnam. Kopi
jenis ini umumnya ditanam petani di sebagian besar wilayah Indonesia,
termasuk Provinsi Bengkulu, Lampung, dan Sumatera Selatan. Kopi
arabika hanya ditanam oleh kurang dari 10 persen petani kopi di tiga
kawasan itu.
Kopi arabika di Indonesia umumnya ditanam petani di Aceh,
Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.
Petani-petani penanam kopi arabika mendapat penghasilan lebih baik
karena produksi dunia tidak melimpah seperti kopi robusta. Dengan
sendirinya harga kopi itu pun stabil.
Sedikitnya lahan yang ditanami kopi arabika oleh petani Provinsi
Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung, merupakan kesalahan dalam
menentukan pilihan. Mungkin karena pengaruh petani lain, ratusan ribu
petani di tiga provinsi itu lebih memilih menanam kopi robusta.
Kebetulan pula, petani di Brasil dan Vietnam umumnya menanam kopi
sejenis pula. Akibatnya, ketika musim panen berlangsung bersamaan
dengan panen di dua negara itu dan negara produsen lain, harga pun
bersaing keras. "Suplai kopi lebih besar dibandingkan dengan
permintaan sehingga harga pun anjlok. Kopi dari Indonesia harus
bersaing dengan kopi dari negara lain," ujar Edi.
Harga kopi robusta ditentukan oleh bursa kopi di London, Inggris.
Sementara kopi arabika ditentukan oleh bursa kopi di New York,
Amerika Serikat (AS). Produksi yang melimpah itulah yang membuat
harga kopi tertekan.
Bagi petani Indonesia, harga kopi yang tertekan akibat kelebihan
produksi itu makin menyulitkan pemasaran. Hal ini disebabkan produsen
kopi negara lain berani menjual dengan harga lebih murah dibanding
kopi asal Indonesia.
Meskipun kopi dijual lebih murah, sehingga lebih mudah menembus
pasar dunia dan diminati pembeli di luar negeri (buyer), petani
Vietnam, misalnya, tetap mendapat penghasilan lebih baik. Ini
disebabkan tingkat produksi petani kopi di negara itu jauh lebih
bagus dibandingkan dengan tingkat produksi petani Indonesia.
Soal produksi, bandingkan misalnya dengan petani Bengkulu, Pagar
Alam, Lahat, atau Lampung. Di sentra-sentra produksi kopi itu, tahun
ini produksinya paling tinggi 500 kilogram per hektar. Sementara
petani Vietnam mampu menghasilkan dua ton biji kopi kering per hektar!
"Meski harga jual kopi mereka lebih rendah dibandingkan dengan
kopi dari Indonesia, penghasilan petani Vietnam tetap lebih tinggi,"
kata Edi.
Dengan penghasilan lebih tinggi, tentu saja petani Vietnam hidup
lebih layak. Itu terwujud berat kegigihan mereka mengolah dan merawat
kebun jauh lebih baik dibandingkan dengan petani di Tanjung Sakti,
Kabupaten Lahat. Ditambah dengan mutu yang lebih bagus, kopi Vietnam
lebih mampu menembus pasar dunia.
***

KOPI asal Indonesia memang masih tetap dikapalkan ke berbagai
negara oleh para eksportir. Namun, mereka harus menanggung kerugian
tidak sedikit, karena harga jual di luar negeri lebih rendah
dibandingkan dengan harga pembelian dari pedagang pengumpul.
"Untuk kembali modal saja sulit bagi eksportir. Mereka masih
menjual kopi kepada pembeli luar negeri karena sebelumnya terikat
kontrak jual beli. Kalau eksportir ingkar janji, mereka akan di-black
list. Ini akan menyulitkan usaha ke depan," ujar Edi.
Para eksportir di Sumatera bagian selatan kebanyakan berada di
Lampung. Mereka membeli kopi dari ratusan pedagang pengumpul kopi
yang berdatangan dari Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung. Karena
banyak pedagang yang datang menjual kopi mereka, eksportir pun bisa
membeli dengan selisih harga yang tidak terlalu menganga dengan harga
jual rugi kepada pembeli asing.
Pilihan ekspor melalui Lampung karena ada jaminan kapal yang akan
mengangkut kopi di daerah itu. Pembeli bisa menentukan sendiri jenis
kapal yang akan mengangkut kopi ke negara tujuan melalui Pelabuhan
Panjang.
Jaminan ketersediaan kapal di pelabuhan itulah yang membuat
Lampung dibanjiri eksportir. Kondisi pelabuhan di Lampung lebih
menjamin dibandingkan Pelabuhan Bom Baru Palembang, misalnya. Karena
itu, pedagang pengumpul pun berbondong-bondong menjual kopi ke
Lampung.
Ekspor kopi melalui Lampung itu membuat nilai ekspor dari daerah
ini terangkat. Lampung memang menjadi andalan bagi ekspor kopi
Indonesia. Hingga akhir tahun 2002 tercatat Lampung memberi andil
lebih dari 196.000 ton dari total ekspor kopi Indonesia 283.700 ton.
Nilai ekspor yang disumbangkan Lampung dari komoditas ini sekitar
99,46 juta dollar AS. Jumlah itu menurun dibandingkan dengan total
ekspor tahun 2001 yang tercatat 240.900 ton kopi dengan nilai 106
juta dollar AS.
Humas AEKI Provinsi Lampung Azischan Satib menyebutkan, tahun ini
hingga periode April 2003, ekspor kopi Lampung lebih dari 49.000 ton
dengan nilai ekspor lebih dari 30 juta dollar AS. Jumlah sebanyak itu
naik sekitar 5.000 ton jika dibandingkan dengan periode yang sama
tahun 2002 yang 44.600 ton dengan nilai ekspor 18,5 juta dollar AS.
Semestinya produksi kopi asal Lampung dapat ditingkatkan karena
kawasan tersebut memiliki lahan dan iklim yang pas untuk kopi. Namun
karena buruknya harga kopi di pasar dunia, petani pun enggan mengurus
tanaman mereka.
Saat ini di Lampung terdapat sekitar 141. 500 hektar tanaman kopi
yang menghasilkan, dan sekitar 12.400 hektar kebun yang belum
menghasilkan. Dari total luasan itu, setiap tahun diperkirakan total
produksi kopi Lampung 150.000 ton, dengan asumsi rata-rata per hektar
kebun menghasilkan 700 kilogram hingga 800 kilogram kopi.
Hal itu berbeda dengan petani Vietnam yang mengolah lahan mereka
lebih baik sehingga mampu memproduksi lebih dari tiga ton kopi per
hektar. Meski pasar dalam negeri tidak mampu menyerap semua produksi
tersebut, Vietnam masih memiliki peluang besar menjual produksi kopi
di pasar dunia dengan harga lebih rendah.
Hingga akhir tahun 2002, dari total 41,45 juta ton kebutuhan kopi
dunia, Vietnam menyuplai sekitar 11,23 juta ton. Sementara Indonesia
memberi andil 5,22 juta ton.
Ketua Dewan Pembina dan Penasihat AEKI Sumatera Selatan Indra
Mulyawan mengemukakan, merosotnya harga kopi dipengaruhi oleh
menumpuknya persediaan kopi dunia. Saat ini, negara penghasil kopi
dunia seperti Brasil sedang panen. Beberapa negara lain seperti
Vietnam, meskipun belum panen raya, juga masih memiliki persediaan
kopi yang sangat besar.
Indra menyebutkan, harga ekspor kopi robusta asal Indonesia di
pasaran dunia saat ini berkisar 60 sen dollar AS per kilogram. "Di
Sumatera Selatan sendiri tidak ada kopi arabika," ujarnya.
Selain stok kopi menumpuk, menguatnya nilai tukar rupiah juga
cukup berperan terhadap turunnya harga ekspor.
Sementara, menurut Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Selatan
Sukarno HS, kopi sebagai komoditas ekspor harganya memang sangat
terpengaruh oleh harga di pasar dunia, sehingga sangat sulit
mengangkat harga kopi petani ke tingkat yang semestinya.
Sukarno menambahkan, sebenarnya ada semacam rencana dana retensi
kopi untuk menjaga harga kopi petani tidak jatuh. Dana ini untuk
membeli kopi saat terjadi panen raya dan harga kopi anjlok.
Petani, menurut Indra, juga berperan terhadap rendahnya harga
jual kopi mereka. Pengolahan pascapanen dan panen yang tidak baik
membuat mutu kopi rendah sehingga dihargai murah. "Dari dulu hingga
sekarang mutu kopi petani memang gitu-gitu saja, belum juga membaik,"
ujarnya.
Kualitas kopi asal Indonesia mungkin tidak bagus karena sebagian
di antaranya terlebih dahulu dilindas kendaraan saat dijemur di
jalan. Itu sebabnya, mungkin, kopi Indonesia kalah bersaing dengan
kopi Brasil dan Vietnam yang tidak perlu dilindas-lindas roda
kendaraan terlebih dahulu. (mul/jos/b04)
Foto:
Kompas/Agus Mulyadi
TETAP MELIMPAH - Meskipun produksi kopi tahun ini merosot sampai
sekitar separuh dari tahun lalu, pedagang pengumpul di Kepahiang,
Rejang Lebong, masih mampu menghimpun berton-ton kopi setiap hari.
Kopi dari daerah ini selanjutnya dijual kepada eksportir di Lampung.

Tidak ada komentar: