Rabu, 16 Juli 2008

KOMPAS - Jumat, 02 May 2003 Halaman: 32 Penulis: nat; day; mul Ukuran: 4932 Foto: 1

TARIF PESAWAT TETAP MAHAL BAGI WARGA KEBANYAKAN

NAIK pesawat terbang, sudah pasti membuat perjalanan ke tempattujuan jauh lebih cepat dari pada naik angkutan darat. Denganmenggunakan burung besi itu pun bagi sebagian warga negara ini, sudahpasti lebih bergengsi.

Oleh karena itu, murahnya tarif pesawat sekarang ini mendorongsejumlah warga Palembang dan Jambi, untuk menggunakannya. "Sudah pasti pilih naik pesawat dari pada naik bus yang makan waktu lama.Naik bus, waktu habis di jalan. Tarif pesawat yang murah inimenguntungkan rakyat kok," kata Yaya, seorang warga Jakarta yang tengah berkunjung ke Palembang, beberapa waktu lalu.

Waktu tempuh Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng) kePalembang yang hanya sekitar 50 menit, tentu saja jauh lebih cepatserta tidak membuang-buang waktu dan tenaga. Selain lebih bergengsidengan naik pesawat, penumpang tidak akan disiksa oleh jalan rusakselama perjalanan, seandainya memilih angkutan bus.

Perjalanan darat antara Palembang-Jakarta dan sebaliknya saat inisekitar 23 jam. Lamanya waktu tempuh itu terjadi sejak jalintim(jalan lintas timur) Sumatera Selatan rusak parah. Pemerintah telahmembiarkan kerusakan terjadi begitu lama sehingga menyiksa sebagianwarga negara republik ini.

Perjalanan Palembang-Jakarta oleh bus Lorena, pada awal 2000,sebenarnya masih dapat ditempuh dalam waktu 16 jam. Namun saat ini,jurusan yang sama mesti ditempuh dalam waktu antara 21 jam hingga 23jam. "Keadaan jalan ini juga membuat bus dan travel di Palembang makin terpuruk," keluh Junaidy YS, Kepala Cabang PO Lorena Palembang.

Masalah kerusakan jalan juga berbuntut terhadap keamanan selamaperjalanan bagi bus-bus AKAP. Seperti yang diungkapkan para operatorbus AKAP di Jambi, di lokasi jalan rusak terutama di wilayah Sumsel,banyak masyarakat atau sekelompok orang yang bersikap seperti preman.

Aksi premanisme tersebut dilakukan mereka dengan berpura-puramemperbaiki kerusakan jalan. Dengan dalih telah menambal lubang yangmenganga di jalan menggunakan tanah, mereka kemudian minta uangkepada sopir kendaraan yang tengah melintas.

"Aparat kepolisian seharusnya mengamankan jalan, khususnya diruas jalintim yang rusak parah. Jika tidak, semakin banyak biaya yangharus kami keluarkan. Padahal, saat ini bus antarkota sudah sempoyongan. Penumpang sudah hampir tidak ada lagi sehinggapendapatan pun sedikit. Sudah begitu, kami pun harus mengeluarkanuang tambahan untuk para preman yang mencegat di jalan untuk memintauang tersebut," ujar seorang sopir bus trayek Jambi-Jakarta.

Kenyamanan perjalanan menggunakan bus antarkota memang telahhilang. Pesawat udara pun menjadi pilihan. Dengan menggunakan burungbesi, penumpang pun tidak lagi harus mengeluarkan biaya tidak sedikituntuk makan selama perjalanan darat.

Salah seorang penumpang bus yang ditemui di rumah makan Pagi Sore di ruas jalintim di kawasan Tanjung Lubuk, Kabupaten Ogan KomeringIlir (OKI), Sumsel, misalnya, menyebutkan harus mengeluarkan uang Rp34.000 untuk sekali makan. Meskipun dia hanya menyantap dua jenis lauk, lalapan, dan es juice, dari dompetnya keluar uang dalam jumlah tidak sedikit.

Padahal, perjalanan antara Palembang yang kini mencapai sehari semalam akibat kerusakan jalan membuat perut harus diisi paling tidaktiga kali. Seandainya setiap kali makan harus mengeluarkan uang dalamjumlah yang sama, isi dompetnya semakin jebol.Semua biaya yang dikeluarkan saat menempuh perjalanan darat,jumlahnya tentu sama saja seperti naik pesawat udara.

Padahal,mungkin penumpang bus harus mengeluarkan uang tambahan saat tiba diJakarta atau Palembang untuk biaya pijat. Perjalanan panjang yangmenyiksa akibat jalan rusak, tentunya membuat badan menjadi pegal-pegal, dan mungkin harus dipijat.

Kerugian lain yang dialami penumpang bus, sudah pasti waktutempuh yang lama. Sementara tarif pesawat yang terbilang murah,sebenarnya hanya dirasakan orang yang berkantung tebal.


Bagi wargakebanyakan, naik pesawat tetap merupakan pilihan mewah. Meskipun badan remuk karena disiksa jalan rusak selama perjalanan panjang,rakyat banyak tetap memilih bus AKAP.Dengan menggunakan bus DAMRI kelas ekonomi Palembang-Jakarta,mereka hanya mengeluarkan uang Rp 57.000 per orang.

"Makan dan minum sampai di Jakarta, kita harus ngirit lah. Bagisaya yang penting kan sampai ke tempat tujuan, biaya pun terjangkau,"ujar Suradi, salah seorang penumpang bus DAMRI kelas ekonomiI yangmurah meriah. (NASRUL THAHAR/NUR HIDAYATI/AGUS MULYADI)

Foto: 1Kompas/Nasrul Thahar

"NONGKRONG" DI POOL-Perusahaan bus angkutan kota antarprovinsi (AKAP)terpaksa memarkir angkutannya di pool setelah jalan rusak dan tarifpesawat terbang yang murah. PO Jambi Transport tampak mengandangkanbus-busnya daripada rusak dan tidak dapat penumpang.

Tidak ada komentar: