KOMPAS - Rabu, 20 Aug 2003 Halaman: 30 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 8643 Foto: 1
CARA EFEKTIF MENGHADANG PENEBANGAN LIAR
MENGERINGNYA sejumlah sungai di Sumatera Selatan pada musim
kemarau ini, telah menyengsarakan warga yang bermukim di sekitarnya.
Terlebih lagi bagi mereka yang biasa mengandalkan air sungai untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Untuk mendapatkan air, dasar sungai yang telah mengering terpaksa
digali. Dari sumur di dasar sungai itulah sebagian warga kini
menggantungkan kebutuhan air untuk hidupnya.
Itu misalnya dilakukan oleh warga di Kecamatan Cempaka, Kabupaten
Ogan Komering Ilir (OKI). Mengeringnya sungai itu menyebabkan
sebagian dari mereka menggali dasar sungai untuk mendapatkan air.
Akibat lebih besar keringnya sungai dirasakan oleh ribuan petani
yang sawahnya kekeringan, karena air irigasi tidak mengalir lagi.
Irigasi kering karena tidak ada lagi pasokan air dari sungai.
Mengeringnya sungai-sungai pada musim kemarau merupakan akibat
langsung dari rusaknya DAS (daerah aliran sungai), terutama di bagian
hulu. Penebangan liar pepohonan di hutan di kawasan hulu sungai
mengakibatkan hilangnya persediaan air saat kemarau tiba.
Sungai-sungai pun menjadi kering. Warga yang biasa memanfaatkan
air sungai pun terkena getahnya.
***
PENEBANGAN liar beberapa tahun ini memang semakin menjadi-jadi di
hutan-hutan Sumatera bagian selatan. Ratusan ribu hektar hutan di
Sumatera Selatan, Lampung, dan Jambi rusak parah.
Di Jambi, lahan kritis akibat penebangan ilegal dan okupasi
kawasan hutan oleh masyarakat saat ini sedikitnya tercatat mencapai
626.539 hektar, atau 11,82 persen dari luas Provinsi Jambi yang 5,3
juta hektar. Lahan kritis sekitar 110.000 hektar di antaranya itu
berada di Kabupaten Kerinci.
Sebagian kawasan hutan di Provinsi Lampung juga telah rusak. Di
Gunung Betung, misalnya, lebih dari 12.000 hektar hutan rusak.
Kerusakan tersebut mencakup sekitar 60 persen dari total luas hutan
lindung di gunung itu.
Kerusakan hutan di Provinsi Bengkulu malah lebih parah. Saat ini,
lahan hutan seluas 180.000 hektar rusak parah. Semua kerusakan
tersebut terjadi di kawasan hutan konservasi dan hutan lindung.
Dari total luas hutan di Bengkulu yang 920.000 hektar, sebanyak
76,42 persen di antaranya, menurut Kepala Dinas Kehutanan Bengkulu
Hidayat Sjahid, adalah hutan konservasi dan hutan lindung. Hutan
konservasi terluas, yakni 340.000 hektar, berada di kawasan Taman
Nasional Kerinci Seblat (TNKS), dan sekitar 65.000 hektar berada di
Taman Nasional Bukit Barisan Selasan (TNBBS).
Hidayat mengakui, perusakan hutan sulit dihindari selama
masyarakat sekitar masih membutuhkan lahan untuk membuka kebun.
Perusakan itu pun akan terus berlangsung selama penebangan liar tidak
bisa dihentikan.
Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera
Selatan, Dulhadi, menyatakan, perambahan di hutan konservasi sulit
dibendung. Masyarakat masih kerap membabat hutan untuk membuka kebun
atau pertambakan. Para perambah hutan sudah turun-temurun
melakukannya.
***
MENJAGA hutan yang luas di Bengkulu diakui Hidayat cukup sulit.
Apalagi petugas polisi kehutanan di provinsi itu hanya berjumlah 132
orang.
Dengan jumlah polisi hutan yang terbatas, memang sulit menghadang
aksi-aksi penjarahan atau penebangan liar. Oleh karena itu, bentuk
upaya lain untuk menghadang penebangan liar perlu dilakukan.
Upaya menghadang dan menghadapi penebangan liar di Bengkulu,
salah satunya kini dilakukan Kepolisian Resor (Polres) Kota Bengkulu.
Mereka tidak mengawasi langsung hutan, melainkan memberantas di
bagian hilir, yakni bisnis kayu olahan di dalam kota.
Dengan dasar penertiban SKSHH (surat keterangan sah hasil hutan),
Polres Kota Bengkulu menyegel sekitar 60 depot penjualan kayu di kota
tersebut. Selama dilakukan penyegelan, pemiliknya dilarang menjual
kayu di depot milik mereka.
Upaya ini sementara waktu cukup efektif untuk mengurangi
mengalirnya kayu-kayu olahan dari panglong (tempat penggergajian
kayu). Berkurangnya pengiriman kayu dari panglong dipastikan
mengurangi pula kiriman batang-batang pohon dari hutan untuk
digergaji.
Penyegelan sebanyak 60 depot penjualan kayu di Kota Bengkulu itu
sudah berlangsung sejak pekan pertama Agustus 2003.
Penyegelan dilakukan polisi karena para pedagang kayu tersebut
tidak memiliki SKSHH. Surat yang dikeluarkan Dinas Kehutanan setempat
itu merupakan bukti bahwa kayu olahan yang mereka jual bahan baku
kayunya bukan dari hasil penebangan liar.
Akibat penyegelan tersebut, pedagang tidak berani menjual kayu
milik mereka. Meskipun tempat-tempat penjualan itu masih dibuka,
mereka tidak melayani pembeli yang datang.
Seorang pedagang kayu di Jalan Sumatera, Kota Bengkulu, Janil,
menyatakan, tidak berani lagi menjual kayu karena telah disegel
polisi. Namun, dia tetap berharap polisi mengizinkan agar dia tetap
bisa menjual kayu-kayu miliknya.
"Saya ini pedagang kecil. Kayu yang saya jual berasal dari lahan
rakyat, bukan dari hasil penebangan liar di hutan lindung," katanya.
Menurut Janil, seharusnya polisi memberikan kebebasan bagi
pedagang kecil seperti dirinya. Apalagi, menurut dia, kayu yang
dijual berasal dari lahan milik rakyat.
"Kayu yang saya jual berasal dari pohon yang ditebang dari lahan
milik rakyat. Saya memiliki surat keterangan dari kepala desa tempat
kayu itu ditebang. Lagi pula, kayu-kayu yang saya jual jumlahnya
tidak banyak, dan berasal dari kayu- kayu yang kurang berkualitas,"
katanya.
Surat keterangan dari kepala desa itu menyebutkan, kayu yang
dibawa dari panglong tersebut adalah pohon-pohon bahan bakunya
berasal dari lahan milik rakyat. Selembar surat yang diterbitkan pada
Mei 2003 itu juga dilengkapi dengan legalisasi dari pos polisi hutan
dan petugas kepolisian sektor (polsek).
Disebutkan, perjalanan untuk membawa kayu dari panglong ke depot
membutuhkan biaya tidak sedikit. Selain untuk surat keterangan dari
kepala desa sebesar Rp 10.000, dia pun selama perjalanan harus
mengeluarkan biaya lain di sedikitnya enam lokasi dengan besar
pungutan Rp 5.000 hingga Rp 10.000.
Berkaitan dengan penyegelan puluhan depot kayu, Kepala Polres
Kota Bengkulu Ajun Komisaris Besar M Toha Suharto menyatakan,
pihaknya akan mengusut tuntas kasus itu. Penjualan kayu-kayu yang
tidak memiliki dokumen resmi seperti SKSHH tersebut harus diusut
sampai ke akar-akarnya.
Oleh karena itu, Toha menyatakan kayu-kayu di depot penjualan
yang kini menjadi barang bukti tersebut tidak boleh dijual oleh
pemiliknya. "Menjual berarti menghilangkan barang bukti. Itu berarti
telah melakukan tindak pidana lain," ujarnya.
Kasus itu, ungkap Toha, akan terus berlanjut hingga ke
penyidikan. Seandainya dalam penyidikan ditemukan bukti bahwa kayu-
kayu itu berasal dari penebangan liar, berkas penyidikan perkaranya
akan dilimpahkan ke kejaksaan.
Menurut Toha, pihaknya hanya mencoba menegakkan peraturan
mengenai perdagangan kayu. Seharusnya pemilik kayu melengkapi semua
bentuk perizinan, termasuk SKSHH. "Kami hanya melakukan tindakan di
dalam kota, di wilayah yurisdiksi kami. Mengenai pencegahan illegal
logging itu urusan pihak lain, karena bukan berada di wilayah hukum
Kota Bengkulu," katanya.
Penyegelan depot kayu yang dilakukan Polres Kota Bengkulu itu
telah memancing puluhan pedagang melakukan aksi unjuk rasa di DPRD
Kota Bengkulu pada Rabu lalu. Mereka memprotes tindakan polisi yang
dianggap telah mematikan usaha perdagangan kayu di kota itu. Mereka
meminta agar tempat usaha yang telah disegel dibuka kembali.
Terlepas dari benturan kepentingan yang muncul menyusul
penertiban penjualan kayu di Bengkulu, langkah itu diharapkan mampu
menghentikan penebangan liar. Dengan keharusan memiliki SKSHH, para
pedagang harus benar-benar menjual kayu yang berasal hutan produksi.
Di Provinsi Bengkulu sendiri, menurut Hidayat, tidak ada lagi
hutan produksi sejak enam tahun lalu. "Sejak enam tahun lalu, tidak
ada lagi HPH (hak pengusahaan hutan) di Bengkulu," katanya.
Nah, kalau tak ada lagi hutan produksi, dari mana kayukayu yang
dijual kepada masyarakat itu berasal? (AGUS MULYADI)
Foto:
Kompas/Agus Mulyadi
BABAT HUTAN--Penggundulan hutan terus terjadi akibat perambahan dan
penebangan liar. Seperti yang terjadi di kawasan hutan lindung Taba
Penanjung, Kabupaten Bengkulu Utara. Sebagian hutan di kawasan itu
dibabat agar bisa dijadikan kebun.
Kamis, 17 Juli 2008
Hantu di Jalan Lintas Sumatera
KOMPAS - Selasa, 15 Jul 2003 Halaman: 29 Penulis: mul Ukuran: 5135 Foto: 1
"HANTU" DI JALAN LINTAS SUMATERA
KETIKA hendak menempuh perjalanan menggunakan mobil dari Kota
Bengkulu ke Palembang, bingung juga menentukan rute mana yang akan
ditempuh. Beberapa orang di Bengkulu yang ditanya soal itu, memberi
pilihan berbeda.
Ada yang menyarankan agar melewati rute Bengkulu Kepahiang-Curup-
Sekayu-Betung- Palembang. Ada pula yang menyarankan agar melalui rute
Bengkulu-Kepahiang-Pendopo-Pagar Alam-Lahat-Palembang.
Lebih banyak lagi yang menyarankan agar melewati rute Bengkulu-
Curup-Lubuk Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas- Lahat-
Palembang. "Meskipun jaraknya lebih jauh dan sebagian jalan rusak
berat, rute itu lebih aman," kata salah seorang pemberi saran.
Pengelola penginapan di kawasan perkebunan Gunung Dempo, Nanang
Rusmadi, menyarankan jangan sekali-sekali menempuh perjalanan pada
sore atau malam hari.
Menurut informasi dari seorang tamu penginapan, penghadangan oleh
kawanan penjahat dilakukan dengan cara menghentikan mobil di tengah
jalan. Korban mencoba memberikan uang Rp 10.000. Namun, kawanan
penghadang itu malah merampok semua harta benda korban, kecuali
mobilnya.
***
CERITA seram di ruas jalan antara Pagar Alam-Pendopo-Kepahiang,
dikemukakan pula oleh seorang warga di Curup, ibu kota Kabupaten
Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. "Kalau masih pagi sampai siang
bolehlah melalui jalan yang kecil itu. Tapi, kalau sore atau malam
jangan melalui jalan itu," katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Rejang Lebong,
Rosihan YT, ketika ditanya soal pilihan rute perjalanan juga
menganjurkan agar tidak melalui ruas jalan Kepahiang-Pendopo-Pagar
Alam. Di ruas jalan itu kerap terjadi aksi perampokan terhadap
pengendara kendaraan.
Karena dianjurkan tidak melalui ruas jalan tersebut, pilihan rute
perjalanan dari Bengkulu pun tinggal dua yakni melalui Lubuk Linggau-
Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas Lahat-Palembang, atau rute Lubuk
Linggau-Muara Beliti-Sekayu-Betung-Palembang.
Tanto, seorang sopir truk pengangkut sayur dari kawasan Selupuh
Rejang, Rejang Lebong, menyarankan agar perjalanan lebih baik melalui
Sekayu. Tetapi, Kepala Desa Suban Ayam, Kecamatan Selupuh Rejang,
Ahmad Holil, menyarankan agar tidak melalui Sekayu. "Jalan itu rusak
parah di mana-mana. Mendingan lewat Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga
Mas-Lahat saja. Di jalan itu, meskipun jaraknya lebih jauh dan banyak
rusak pula, situasinya lebih ramai. Banyak truk yang lewat. Lagi pula
di sepanjang jalan banyak PKJR,"ujar Holil.
Perjalanan dari Bengkulu ke Palembang, akhirnya diputuskan
melalui rute Lubuk-Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas-
Lahat. Padahal, rute sepanjang 515 kilometer itu harus melalui jalan
rusak di sebagian lokasi, terutama antara Muara Beliti-Lahat.
***
MAKA perjalanan pun dimulai dengan rasa waswas, menempuh rute
Bengkulu-Kepahiang- Curup-Lubuk Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-
Bunga Mas-Lahat-Muara Enim-Prabumulih-Palembang. Perjalanan melalui
rute ini pasti melalui jalur jalan yang konon paling seram itu, yakni
Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas-Lahat.
Selain kerusakan di sepanjang jalan, banyak ditemukan gerombolan
orang di belasan lokasi yang menadahkan tangan, bila ada truk yang
melintas pelan. Gerombolan itu kebanyakan menempati pos darurat,
berupa gubuk sederhana dengan atap daun kelapa.
Meskipun gerombolan warga itu tidak memaksa, para pengendara
agaknya tak mau mengambil risiko. Setiap kali ada truk yang melintas
di pos darurat tempat gerombolan warga yang mangkal, salah seorang di
antara mereka menuju ke tepi jalan lalu menadahkan tangan. Sebagian
sopir terlihat memberi uang, dengan melemparkannya atau mengangsurkan
ke tangan yang menadah.
Selain pungutan yang dilakukan oleh sekelompok warga di pos-pos
darurat, di beberapa lokasi terdapat pula warga yang berdiri di
bagian jalan yang rusak. Kepada setiap sopir kendaraan yang melintas,
mereka menadahkan tangan. Ini rupanya yang membuat ruas jalan ini
seram, dan mereka itulah "hantu"-nya.
Di lokasi sepi seperti tanjakan atau di jalan rusak, ada pula
beberapa pos permanen di tepi jalan. Pos itu dilengkapi pesawat radio
komunikasi. Beberapa orang penunggunya pun terlihat berseragam
seperti petugas satpam. Di depan pos terpampang tulisan PKJR (Pos
Keamanan Jalan Raya). Tulisan PKJR itu sama persis dengan yang
terpampang di papan-papan di depan pos-pos darurat tempat gerombolan
warga meminta uang kepada sopir truk yang lewat. (mul)
Foto:
Kompas/Agus Mulyadi
"HANTU" - Ruas Jalan Lintas Tengah Sumatera yang sudah lama rusak di
banyak lokasi sering dimanfaatkan kawanan penjahat untuk memeras para
pemakai jalan. Sopir angkutan umum, terutama truk, mengeluhkan
banyaknya pungutan liar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok warga
di sepanjang jalan. Aksi mereka ini rancu dengan Pos Keamanan Jalan
Raya yang resmi, seperti "hantu" yang kadang ada kadang menghilang
sendiri.
"HANTU" DI JALAN LINTAS SUMATERA
KETIKA hendak menempuh perjalanan menggunakan mobil dari Kota
Bengkulu ke Palembang, bingung juga menentukan rute mana yang akan
ditempuh. Beberapa orang di Bengkulu yang ditanya soal itu, memberi
pilihan berbeda.
Ada yang menyarankan agar melewati rute Bengkulu Kepahiang-Curup-
Sekayu-Betung- Palembang. Ada pula yang menyarankan agar melalui rute
Bengkulu-Kepahiang-Pendopo-Pagar Alam-Lahat-Palembang.
Lebih banyak lagi yang menyarankan agar melewati rute Bengkulu-
Curup-Lubuk Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas- Lahat-
Palembang. "Meskipun jaraknya lebih jauh dan sebagian jalan rusak
berat, rute itu lebih aman," kata salah seorang pemberi saran.
Pengelola penginapan di kawasan perkebunan Gunung Dempo, Nanang
Rusmadi, menyarankan jangan sekali-sekali menempuh perjalanan pada
sore atau malam hari.
Menurut informasi dari seorang tamu penginapan, penghadangan oleh
kawanan penjahat dilakukan dengan cara menghentikan mobil di tengah
jalan. Korban mencoba memberikan uang Rp 10.000. Namun, kawanan
penghadang itu malah merampok semua harta benda korban, kecuali
mobilnya.
***
CERITA seram di ruas jalan antara Pagar Alam-Pendopo-Kepahiang,
dikemukakan pula oleh seorang warga di Curup, ibu kota Kabupaten
Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. "Kalau masih pagi sampai siang
bolehlah melalui jalan yang kecil itu. Tapi, kalau sore atau malam
jangan melalui jalan itu," katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Rejang Lebong,
Rosihan YT, ketika ditanya soal pilihan rute perjalanan juga
menganjurkan agar tidak melalui ruas jalan Kepahiang-Pendopo-Pagar
Alam. Di ruas jalan itu kerap terjadi aksi perampokan terhadap
pengendara kendaraan.
Karena dianjurkan tidak melalui ruas jalan tersebut, pilihan rute
perjalanan dari Bengkulu pun tinggal dua yakni melalui Lubuk Linggau-
Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas Lahat-Palembang, atau rute Lubuk
Linggau-Muara Beliti-Sekayu-Betung-Palembang.
Tanto, seorang sopir truk pengangkut sayur dari kawasan Selupuh
Rejang, Rejang Lebong, menyarankan agar perjalanan lebih baik melalui
Sekayu. Tetapi, Kepala Desa Suban Ayam, Kecamatan Selupuh Rejang,
Ahmad Holil, menyarankan agar tidak melalui Sekayu. "Jalan itu rusak
parah di mana-mana. Mendingan lewat Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga
Mas-Lahat saja. Di jalan itu, meskipun jaraknya lebih jauh dan banyak
rusak pula, situasinya lebih ramai. Banyak truk yang lewat. Lagi pula
di sepanjang jalan banyak PKJR,"ujar Holil.
Perjalanan dari Bengkulu ke Palembang, akhirnya diputuskan
melalui rute Lubuk-Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas-
Lahat. Padahal, rute sepanjang 515 kilometer itu harus melalui jalan
rusak di sebagian lokasi, terutama antara Muara Beliti-Lahat.
***
MAKA perjalanan pun dimulai dengan rasa waswas, menempuh rute
Bengkulu-Kepahiang- Curup-Lubuk Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-
Bunga Mas-Lahat-Muara Enim-Prabumulih-Palembang. Perjalanan melalui
rute ini pasti melalui jalur jalan yang konon paling seram itu, yakni
Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas-Lahat.
Selain kerusakan di sepanjang jalan, banyak ditemukan gerombolan
orang di belasan lokasi yang menadahkan tangan, bila ada truk yang
melintas pelan. Gerombolan itu kebanyakan menempati pos darurat,
berupa gubuk sederhana dengan atap daun kelapa.
Meskipun gerombolan warga itu tidak memaksa, para pengendara
agaknya tak mau mengambil risiko. Setiap kali ada truk yang melintas
di pos darurat tempat gerombolan warga yang mangkal, salah seorang di
antara mereka menuju ke tepi jalan lalu menadahkan tangan. Sebagian
sopir terlihat memberi uang, dengan melemparkannya atau mengangsurkan
ke tangan yang menadah.
Selain pungutan yang dilakukan oleh sekelompok warga di pos-pos
darurat, di beberapa lokasi terdapat pula warga yang berdiri di
bagian jalan yang rusak. Kepada setiap sopir kendaraan yang melintas,
mereka menadahkan tangan. Ini rupanya yang membuat ruas jalan ini
seram, dan mereka itulah "hantu"-nya.
Di lokasi sepi seperti tanjakan atau di jalan rusak, ada pula
beberapa pos permanen di tepi jalan. Pos itu dilengkapi pesawat radio
komunikasi. Beberapa orang penunggunya pun terlihat berseragam
seperti petugas satpam. Di depan pos terpampang tulisan PKJR (Pos
Keamanan Jalan Raya). Tulisan PKJR itu sama persis dengan yang
terpampang di papan-papan di depan pos-pos darurat tempat gerombolan
warga meminta uang kepada sopir truk yang lewat. (mul)
Foto:
Kompas/Agus Mulyadi
"HANTU" - Ruas Jalan Lintas Tengah Sumatera yang sudah lama rusak di
banyak lokasi sering dimanfaatkan kawanan penjahat untuk memeras para
pemakai jalan. Sopir angkutan umum, terutama truk, mengeluhkan
banyaknya pungutan liar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok warga
di sepanjang jalan. Aksi mereka ini rancu dengan Pos Keamanan Jalan
Raya yang resmi, seperti "hantu" yang kadang ada kadang menghilang
sendiri.
Rabu, 16 Juli 2008
Transaksi Ecstasy yang Transparan
KOMPAS - Selasa, 28 Mar 1995 Halaman: 1 Penulis: WIN/BAR/IR/KSP/WIS/MUL Ukuran: 7815
TRANSAKSI ECSTASY YANG TRANSPARAN
PEREDARAN ecstasy ternyata sudah merasuk jauh ke berbagaitempat hiburan di DKI Jakarta. Transaksinya bahkan sudah dilakukansecara terang-terangan di tengah keramaian khalayak. Tidak adarintangan bagi pengunjung diskotek untuk memperoleh pil maut ini.Malah ada kesan, ganja jauh lebih berbahaya ketimbang ecstasy.Apalagi selama ini yang dijaring hanyalah pengedar ganja. Padahal saat ini ganja bagi pengguna obat-obatan dianggap barang rongsokan.
"Kiriman yang warna cokelat belum tiba dari Bali. Seandainya Andacoba itu, nikmatnya bukan main. Kita melambung ke angkasa," ujarBelok (bukan nama sebenarnya), pengedar ecstasy di diskotek Terminal I di kawasan Glodok, Jakarta Barat.
Dalam semalam saja Belok bisa meraub kentungan jutaan rupiah.Harga ecstasy yang dibelinya di Bali Rp 40.000/butir, di Terminal laku dijual Rp 120.000-Rp 150.000. Beberapa malam lalu seorangpembeli langsung membayar kontan satu juta rupiah untuk 5 butir pilMegatron, jenis yang paling dahsyat.
Harga ecstasy tergantung pada jenisnya dan suasana pasar. Jikapembeli ramai, harga bisa dikatrol sampai 50 persen. "Masalahnyakiriman dari Bali belum datang, sedang stok sudah hampir habis,"ujar Bobon (bukan nama sebenarnya) di salah satu diskotek di kawasanBlok M.
Ia menawarkan ecstasy jenis white purple seharga Rp 130.000.Padahal biasanya harganya hanya berkisar Rp 100.000.Di berbagai diskotek saat ini jalur mata rantai ecstasy sangat transparans. Asal ada uang dan menyebut pilnya tidak keliru,sesegera itu pula transaksi dilakukan.
Atau lihatlah apa yang dilakukan Bobon. Ia memberi pil itu dalam kertas, kemudian menerima uangnya. Atau juga Belok yang sambil ajojing menerima segepok uang.DI kalangan anak-anak muda Ibu Kota sebutan ecstasy tidakpernah digunakan. Mereka menggunakan istilah "inex" dalam transaksipil berbahaya ini. Inex adalah plesetan kata "enak".
Saat ini harga berbagai ecstasy di pasaran diskotek di salahsatu gedung di Jl. Soedirman, atau di kawasan Kuningan sertapertokoan Blok M, berkisar Rp 80.000 - Rp 200.000.Untuk jenis paling murah disebut "pink tebal", warnanya merah jambu berbintik-bintik, harganya Rp 80.000/butir. Sedang "pink tipis" harganyaantara Rp 110.000 - Rp 120.000.Di atas pil-pil pink ini ada yang disebut "white doft" dengangambar burung penguin. Pil yang tidak lebih besar dari biji saga inidisebut-sebut mampu melipatgandakan kekuatan dan daya khayal.
"Kalau kepalanya sudah goyang-goyang ke kiri-kanan, seperti kuda lumping,itu tandanya white doft mulai bekerja," ujar Hengky (bukan nama sebenarnya), pengusaha muda yang setiap hari menenggak pil ini.Setingkat dengan "white doft" yang putih mungil ini ada lagi"white rose."
Sedang di atasnya beredar "purple," dengan warna ungukehijauan. Harganya berkisar Rp 150.000 - Rp 175.000. Jika wanita menenggak pil ini, tubuhnya segera terangsang.Namun yang paling dahsyat dari semua pil itu adalah "megatron."Harganya berkisar Rp 175.000 - Rp 200.000.
Pil yang besarnya mirip merica dan berwarna cokelat ini, sanggup mengubah bawah sadar si pemakai. Di tengah deru musik metal di ruang diskotek, pil ini mampumembuat si pengguna kehilangan malu, hingga tidak segan-seganmenanggalkan buasana di tengah keramaian itu.
Pil-pil yang juga turunan amfetamin ini, dipasok dari ASatau negara-negara Eropa melalui Denpasar. Di negara asalnya,produksi pil ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi di rumah-rumah.Kekuatannya bisa berpuluh kali lipat heroin. Jika campuran kimianyadipadatkan reaksinya makin gawat.
"Kebanyakan pil ini digunakanbukan untuk psikhosa, tapi obat depresi," tutur seorang pemakai."Saya kesal makan kertas itu. Soalnya jadi pengen ketawaterus," ujar Raly (bukan nama sebenarnya), bandar ecstasy dibeberapa diskotek.
Kertas yang lebarnya hanya 1 x 1 cm ini dicampurdengan LSD, satu jenis narkotik paling berbahaya. Kemudian dikunyahterus hingga ludes.Raly yang suka hanya mengenakan singlet, dengan lincah berlarike sana ke mari di tengah keramaian pengunjung diskotek. Pemuda inimerasa dirinya sebagai wanita paling anggun dan cantik di tengahratusan manusia.
"Saya bukan dealer. Itu keliru yang menyebut sayademikian. Saya ini 'kan apoteker, nah kalau dia dokternya," ujarnyasambil tertawa-tawa. Maksudnya, dialah yang mengeluarkan obat atasresep pria yang disebutnya "dokter" itu.
DI suatu diskotek dua pria gondrong duduk santai. Sebentar-sebentar ada rekannya datang kemudian berbisik. Setelah itu iamenyerahkan ecstasy. Tidak jauh dari meja ini, 4 orang pria bertubuhkekar, mengamati anak-anak muda yang sedang ajojing. Beberapa kalibandar ecstasy menyapanya.
Tidak begitu jelas apakah ini pengawalnyaatau apa. Yang pasti transaksi ecstasy di sini berjalan lancar."Bandar di diskotek di kawasan Kuningan bekingnya kuat, anakorang berkuasa. Mana berani kita masuk ke sana," ujar Belok.
Seperti umumnya kejahatan terorganisir, jaringan penjualan ecstasy inimempunyai mata rantai yang panjang, bahkan hingga ke mancanegara.Dan mereka juga dilindungi beking, termasuk para preman.
"Kami juga tidak menghendaki pecandu obat itu di sini. Hanya saja 'kan tidak mungkin kita geledah setiap tamu yang datang," ujarKT Budiman, manajer operasi M Club, beberapa waktu lalu.
Apalagi pada malam Minggu jumlah pengunjung bisa sampai 3.000 orang. "Pusingsaya memikirkan ini semua," tambahnya.
Serse Polda Metro Jaya jugapernah berulang kali menggeledah pengunjung yang kelihatan super"teler" di sini.
Sementara itu pemilik diskotek Terminal I, Letty, ketika dihubungi secara terpisah membantah adanya kemungkinan pihaknya terlibat dalam perdagangan obat berbahaya itu."Saya paling benci obat-obat bius. Oleh karena itu di setiap tempat hiburan saya selalu menempatkan dua orang polisi berpakaian preman untuk mengawasi tamu yang datang," jelasnya.
Beberapa waktu lalu salah satu diskotek milik pengusaha muda ini digerebek polisi karena mempekerjakanwanita-wanita usia belasan tahun sebagai prostitusi. Kasusnya akanditeruskan ke meja hijau.
Wakil Ketua DPRD DKI, H Ismunandar terperanjat ketika ditanyakan masalah ini. Ia mengimbau pengusaha agar jangan hanyapikir keuntungan. "Korban seperti ini 'kan anak-anak muda. Kalaupengusaha membiarkannya demikian, atau malah memanfaatkan situasidemikian untuk cari untung, itu sudah keterlaluan. Tidak punya rasanasionalis lagi," ujarnya.
Ismunandar mengakui pengusaha tidak punya wewenang kuat untuk menghentikan aktivitas perdagangan obat ini di berbagai diskotek.Namun sedikit-dikitnya mereka bisa melaporkan ke petugas polisisetempat. "Saya jadi curiga melihat pengusaha hiburan yangmembiarkan situasi demikian," tambahnya.
Wakil rakyat ini mengimbauagar instansi terkait membekukan, atau kalau perlu mencabut, izinusaha tempat hiburan demikian.Pihak Tramtib (Ketenteraman dan Ketertiban) DKI belum bisa dihubungi menyangkut soal pengawasan terhadap berbagai tempathiburan di DKI. Kepala Kantor Tramtib DKI, Kusaeini, tidak berada ditempat karena sedang ikut penataran Santiaji.
Berbarengan dengan mata hari terbit, anak-anak muda di sejumlah diskotek larut dalam dunianya. Kepala mereka digeleng-gelengkan kekiri-kanan, sementara satu atau dua jarinya mengikuti gerak yangsama di depan wajahnya.
Mereka fly seharian, menghamburkan uang danseks. Kehidupan malam dan siang hari berada pada dataran garis yang sama. (win/bar/ir/ksp/wis/agus mulyadi).
TRANSAKSI ECSTASY YANG TRANSPARAN
PEREDARAN ecstasy ternyata sudah merasuk jauh ke berbagaitempat hiburan di DKI Jakarta. Transaksinya bahkan sudah dilakukansecara terang-terangan di tengah keramaian khalayak. Tidak adarintangan bagi pengunjung diskotek untuk memperoleh pil maut ini.Malah ada kesan, ganja jauh lebih berbahaya ketimbang ecstasy.Apalagi selama ini yang dijaring hanyalah pengedar ganja. Padahal saat ini ganja bagi pengguna obat-obatan dianggap barang rongsokan.
"Kiriman yang warna cokelat belum tiba dari Bali. Seandainya Andacoba itu, nikmatnya bukan main. Kita melambung ke angkasa," ujarBelok (bukan nama sebenarnya), pengedar ecstasy di diskotek Terminal I di kawasan Glodok, Jakarta Barat.
Dalam semalam saja Belok bisa meraub kentungan jutaan rupiah.Harga ecstasy yang dibelinya di Bali Rp 40.000/butir, di Terminal laku dijual Rp 120.000-Rp 150.000. Beberapa malam lalu seorangpembeli langsung membayar kontan satu juta rupiah untuk 5 butir pilMegatron, jenis yang paling dahsyat.
Harga ecstasy tergantung pada jenisnya dan suasana pasar. Jikapembeli ramai, harga bisa dikatrol sampai 50 persen. "Masalahnyakiriman dari Bali belum datang, sedang stok sudah hampir habis,"ujar Bobon (bukan nama sebenarnya) di salah satu diskotek di kawasanBlok M.
Ia menawarkan ecstasy jenis white purple seharga Rp 130.000.Padahal biasanya harganya hanya berkisar Rp 100.000.Di berbagai diskotek saat ini jalur mata rantai ecstasy sangat transparans. Asal ada uang dan menyebut pilnya tidak keliru,sesegera itu pula transaksi dilakukan.
Atau lihatlah apa yang dilakukan Bobon. Ia memberi pil itu dalam kertas, kemudian menerima uangnya. Atau juga Belok yang sambil ajojing menerima segepok uang.DI kalangan anak-anak muda Ibu Kota sebutan ecstasy tidakpernah digunakan. Mereka menggunakan istilah "inex" dalam transaksipil berbahaya ini. Inex adalah plesetan kata "enak".
Saat ini harga berbagai ecstasy di pasaran diskotek di salahsatu gedung di Jl. Soedirman, atau di kawasan Kuningan sertapertokoan Blok M, berkisar Rp 80.000 - Rp 200.000.Untuk jenis paling murah disebut "pink tebal", warnanya merah jambu berbintik-bintik, harganya Rp 80.000/butir. Sedang "pink tipis" harganyaantara Rp 110.000 - Rp 120.000.Di atas pil-pil pink ini ada yang disebut "white doft" dengangambar burung penguin. Pil yang tidak lebih besar dari biji saga inidisebut-sebut mampu melipatgandakan kekuatan dan daya khayal.
"Kalau kepalanya sudah goyang-goyang ke kiri-kanan, seperti kuda lumping,itu tandanya white doft mulai bekerja," ujar Hengky (bukan nama sebenarnya), pengusaha muda yang setiap hari menenggak pil ini.Setingkat dengan "white doft" yang putih mungil ini ada lagi"white rose."
Sedang di atasnya beredar "purple," dengan warna ungukehijauan. Harganya berkisar Rp 150.000 - Rp 175.000. Jika wanita menenggak pil ini, tubuhnya segera terangsang.Namun yang paling dahsyat dari semua pil itu adalah "megatron."Harganya berkisar Rp 175.000 - Rp 200.000.
Pil yang besarnya mirip merica dan berwarna cokelat ini, sanggup mengubah bawah sadar si pemakai. Di tengah deru musik metal di ruang diskotek, pil ini mampumembuat si pengguna kehilangan malu, hingga tidak segan-seganmenanggalkan buasana di tengah keramaian itu.
Pil-pil yang juga turunan amfetamin ini, dipasok dari ASatau negara-negara Eropa melalui Denpasar. Di negara asalnya,produksi pil ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi di rumah-rumah.Kekuatannya bisa berpuluh kali lipat heroin. Jika campuran kimianyadipadatkan reaksinya makin gawat.
"Kebanyakan pil ini digunakanbukan untuk psikhosa, tapi obat depresi," tutur seorang pemakai."Saya kesal makan kertas itu. Soalnya jadi pengen ketawaterus," ujar Raly (bukan nama sebenarnya), bandar ecstasy dibeberapa diskotek.
Kertas yang lebarnya hanya 1 x 1 cm ini dicampurdengan LSD, satu jenis narkotik paling berbahaya. Kemudian dikunyahterus hingga ludes.Raly yang suka hanya mengenakan singlet, dengan lincah berlarike sana ke mari di tengah keramaian pengunjung diskotek. Pemuda inimerasa dirinya sebagai wanita paling anggun dan cantik di tengahratusan manusia.
"Saya bukan dealer. Itu keliru yang menyebut sayademikian. Saya ini 'kan apoteker, nah kalau dia dokternya," ujarnyasambil tertawa-tawa. Maksudnya, dialah yang mengeluarkan obat atasresep pria yang disebutnya "dokter" itu.
DI suatu diskotek dua pria gondrong duduk santai. Sebentar-sebentar ada rekannya datang kemudian berbisik. Setelah itu iamenyerahkan ecstasy. Tidak jauh dari meja ini, 4 orang pria bertubuhkekar, mengamati anak-anak muda yang sedang ajojing. Beberapa kalibandar ecstasy menyapanya.
Tidak begitu jelas apakah ini pengawalnyaatau apa. Yang pasti transaksi ecstasy di sini berjalan lancar."Bandar di diskotek di kawasan Kuningan bekingnya kuat, anakorang berkuasa. Mana berani kita masuk ke sana," ujar Belok.
Seperti umumnya kejahatan terorganisir, jaringan penjualan ecstasy inimempunyai mata rantai yang panjang, bahkan hingga ke mancanegara.Dan mereka juga dilindungi beking, termasuk para preman.
"Kami juga tidak menghendaki pecandu obat itu di sini. Hanya saja 'kan tidak mungkin kita geledah setiap tamu yang datang," ujarKT Budiman, manajer operasi M Club, beberapa waktu lalu.
Apalagi pada malam Minggu jumlah pengunjung bisa sampai 3.000 orang. "Pusingsaya memikirkan ini semua," tambahnya.
Serse Polda Metro Jaya jugapernah berulang kali menggeledah pengunjung yang kelihatan super"teler" di sini.
Sementara itu pemilik diskotek Terminal I, Letty, ketika dihubungi secara terpisah membantah adanya kemungkinan pihaknya terlibat dalam perdagangan obat berbahaya itu."Saya paling benci obat-obat bius. Oleh karena itu di setiap tempat hiburan saya selalu menempatkan dua orang polisi berpakaian preman untuk mengawasi tamu yang datang," jelasnya.
Beberapa waktu lalu salah satu diskotek milik pengusaha muda ini digerebek polisi karena mempekerjakanwanita-wanita usia belasan tahun sebagai prostitusi. Kasusnya akanditeruskan ke meja hijau.
Wakil Ketua DPRD DKI, H Ismunandar terperanjat ketika ditanyakan masalah ini. Ia mengimbau pengusaha agar jangan hanyapikir keuntungan. "Korban seperti ini 'kan anak-anak muda. Kalaupengusaha membiarkannya demikian, atau malah memanfaatkan situasidemikian untuk cari untung, itu sudah keterlaluan. Tidak punya rasanasionalis lagi," ujarnya.
Ismunandar mengakui pengusaha tidak punya wewenang kuat untuk menghentikan aktivitas perdagangan obat ini di berbagai diskotek.Namun sedikit-dikitnya mereka bisa melaporkan ke petugas polisisetempat. "Saya jadi curiga melihat pengusaha hiburan yangmembiarkan situasi demikian," tambahnya.
Wakil rakyat ini mengimbauagar instansi terkait membekukan, atau kalau perlu mencabut, izinusaha tempat hiburan demikian.Pihak Tramtib (Ketenteraman dan Ketertiban) DKI belum bisa dihubungi menyangkut soal pengawasan terhadap berbagai tempathiburan di DKI. Kepala Kantor Tramtib DKI, Kusaeini, tidak berada ditempat karena sedang ikut penataran Santiaji.
Berbarengan dengan mata hari terbit, anak-anak muda di sejumlah diskotek larut dalam dunianya. Kepala mereka digeleng-gelengkan kekiri-kanan, sementara satu atau dua jarinya mengikuti gerak yangsama di depan wajahnya.
Mereka fly seharian, menghamburkan uang danseks. Kehidupan malam dan siang hari berada pada dataran garis yang sama. (win/bar/ir/ksp/wis/agus mulyadi).
Kebebasan untuk Zarima
KOMPAS - Kamis, 22 Oct 1998 Halaman: 15 Penulis: MUL/TRA Ukuran: 3214
KEBEBASAN UNTUK ZARIMA
"HATI-HATI Rima. Jangan lupa kami," teriak beberapa narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Tangerang, sambil melambaikantangan mereka ke arah Zarima binti Mirafsur (26). Gadis berkulit kuning bersih itu sambil tersenyum balas melambaikan tangan, sambil terus melangkah menuju pintu keluar LP Wanita.
Hari Rabu (21/10), tepat pukul 10.12 WIB Zarima resmi menginjak"tanah kebebasan" di luar pintu kompleks LP Wanita. Hari itu Zarima,yang diringkus petugas Polres Tangerang tahun 1996, karena menyimpan29.677 butir ecstasy di rumahnya, di kawasan Jakarta Barat, mendapatpembebasan bersyarat dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Depkeh.
Dengan pembebasan itu, ia tidak perlu menjalani penuh pidananya selama empat tahun, sampai akhir tahun 2000, seperti yang dijatuhkan majelis hakim PN Jakbar, Juni 1997.Walau bebas, Zarima tetap wajib lapor ke kejaksaan. Kalau dalam masa "pemantauan" sampai Oktober 2001ia melakukan pelanggaran pidana, sisa hukumannya harus dijalani.
Kepala LP Wanita Tangerang, Susy Marliana minta Zarima memahami pengertian pembebasan bersyarat itu secara sungguh-sungguh, sehingga tidak perlu lagi meringkuk di balik jeruji besi."Selama di sini, ia berkelakuan baik. Zarima juga sudah menjalani dua pertiga pidananya.Dia memenuhi syarat untuk mendapatkan pembebasan bersyarat, walaupun masih gamang, karena mendapat sorotan masyarakat," tuturnya.
Penasihat hukum Zarima, OC Kaligis, mengingatkan kliennya untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Tetapi ia juga berharap, masyarakatbisa menerima Zarima dengan sepenuh hati, tanpa stigma masa lalunyayang tidak menyenangkan."Zarima masih membutuhkan bimbingan. Namun ia kini semakin berdisiplin," tuturnya.
SEBUAH mobil Mercy warna perak metalik, bernomor polisi B 1088FP membawa Zarima dan keluarganya meninggalkan LP Wanita Tangerang.Sebelum pulang, mereka sempat mampir ke Kantor Pengacara OC Kaligis.
Di sini sejak Agustus lalu, Zarima menjalani asimilasi (bekerja diluar LP). Ia diberi gaji Rp 500.000 per bulan.Menikmati kebebasan itu, Zarima terlihat berbinar. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum, bukan saja kepada wartawan yang sejak pagimenunggu di LP Wanita Tangerang, tetapi juga kepada aparat KejaksaanNegeri Tangerang yang mengurusi surat pembebasan bersyarat.
"Saya senang. Saya akan menikmati dahulu kebebasan ini di rumah bersamakeluarga," papar Zarima.
Ia berjanji tak ingin kembali ke penjara, meski dari situ banyakpelajaran yang dipetik. "Selama di dalam tahanan, saya ambil hikmahnya.Di tahanan, saya selalu shalat lima waktu, dan diajarkan hidup disiplin.Seperti untuk makan harus dimulai dan berakhir saat bel berbunyi.Pertama di tahanan memang berat, tetapi selanjutnya tidak," tuturnya.
Salah satu barang bawaan yang dibawa Zarima dari tahanan adalah uang tabungannya sebesar Rp 5.431.000. Uang itu tabungan serta upahZarima selama bekerja di kantor OC Kaligis. (agus mulyadil/tra)
Teksfoto:Kompas/tra
SENYUM ZARIMA - Dengan tersenyum, Zarima mengurus persyaratan untuk kebebasan bersyaratnya.
KEBEBASAN UNTUK ZARIMA
"HATI-HATI Rima. Jangan lupa kami," teriak beberapa narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Tangerang, sambil melambaikantangan mereka ke arah Zarima binti Mirafsur (26). Gadis berkulit kuning bersih itu sambil tersenyum balas melambaikan tangan, sambil terus melangkah menuju pintu keluar LP Wanita.
Hari Rabu (21/10), tepat pukul 10.12 WIB Zarima resmi menginjak"tanah kebebasan" di luar pintu kompleks LP Wanita. Hari itu Zarima,yang diringkus petugas Polres Tangerang tahun 1996, karena menyimpan29.677 butir ecstasy di rumahnya, di kawasan Jakarta Barat, mendapatpembebasan bersyarat dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Depkeh.
Dengan pembebasan itu, ia tidak perlu menjalani penuh pidananya selama empat tahun, sampai akhir tahun 2000, seperti yang dijatuhkan majelis hakim PN Jakbar, Juni 1997.Walau bebas, Zarima tetap wajib lapor ke kejaksaan. Kalau dalam masa "pemantauan" sampai Oktober 2001ia melakukan pelanggaran pidana, sisa hukumannya harus dijalani.
Kepala LP Wanita Tangerang, Susy Marliana minta Zarima memahami pengertian pembebasan bersyarat itu secara sungguh-sungguh, sehingga tidak perlu lagi meringkuk di balik jeruji besi."Selama di sini, ia berkelakuan baik. Zarima juga sudah menjalani dua pertiga pidananya.Dia memenuhi syarat untuk mendapatkan pembebasan bersyarat, walaupun masih gamang, karena mendapat sorotan masyarakat," tuturnya.
Penasihat hukum Zarima, OC Kaligis, mengingatkan kliennya untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Tetapi ia juga berharap, masyarakatbisa menerima Zarima dengan sepenuh hati, tanpa stigma masa lalunyayang tidak menyenangkan."Zarima masih membutuhkan bimbingan. Namun ia kini semakin berdisiplin," tuturnya.
SEBUAH mobil Mercy warna perak metalik, bernomor polisi B 1088FP membawa Zarima dan keluarganya meninggalkan LP Wanita Tangerang.Sebelum pulang, mereka sempat mampir ke Kantor Pengacara OC Kaligis.
Di sini sejak Agustus lalu, Zarima menjalani asimilasi (bekerja diluar LP). Ia diberi gaji Rp 500.000 per bulan.Menikmati kebebasan itu, Zarima terlihat berbinar. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum, bukan saja kepada wartawan yang sejak pagimenunggu di LP Wanita Tangerang, tetapi juga kepada aparat KejaksaanNegeri Tangerang yang mengurusi surat pembebasan bersyarat.
"Saya senang. Saya akan menikmati dahulu kebebasan ini di rumah bersamakeluarga," papar Zarima.
Ia berjanji tak ingin kembali ke penjara, meski dari situ banyakpelajaran yang dipetik. "Selama di dalam tahanan, saya ambil hikmahnya.Di tahanan, saya selalu shalat lima waktu, dan diajarkan hidup disiplin.Seperti untuk makan harus dimulai dan berakhir saat bel berbunyi.Pertama di tahanan memang berat, tetapi selanjutnya tidak," tuturnya.
Salah satu barang bawaan yang dibawa Zarima dari tahanan adalah uang tabungannya sebesar Rp 5.431.000. Uang itu tabungan serta upahZarima selama bekerja di kantor OC Kaligis. (agus mulyadil/tra)
Teksfoto:Kompas/tra
SENYUM ZARIMA - Dengan tersenyum, Zarima mengurus persyaratan untuk kebebasan bersyaratnya.
Aksi Pelarian Tiga Narapidana Perempuan dari LP
KOMPAS - Minggu, 03 Dec 2000 Halaman: 1 Penulis: mul Ukuran: 5734
AKSI PELARIAN TIGA NARAPIDANA PEREMPUAN DARI LP
BAK adegan film, tiga perempuan yang mendekam di bui gara-gara kasus narkotika dan psikotropika, secara perlahan-lahan menggergajiterali besi kamar tahanan mereka. Setiap kali seorang dari mereka menggergaji, dua narapidana lainnya mengawasi bagian luar ruangtahanan agar tidak ketahuan oleh penjaga.
Aksi dengan gergaji besi itu dilakukan setiap saat, sejak Rabu(29/11), pada waktu-waktu yang mereka anggap aman.Ketekunan tiga perempuan yang mendekam di ruang tahanan Blok A LP (LembagaPemasyarakatan) Wanita Dewasa Tangerang di Jalan TMP Taruna, KotaTangerang, itu membuahkan hasil. Pada Kamis malam batang besi selesaidigergaji dan tinggal dibengkokkan.
Ketiganya, Rani Andriyani (25), Maya (40), dan Angel (30),bernafas lega. Mereka tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membengkokkan dan mematahkan batang terali besi itu, serta menyelinap keluar.Sejak beberapa minggu sebelumnya mereka mengumpulkan untaian nilon sedikit demi sedikit untuk dibuat tali. Nilon itu mereka ambil saat mengikuti pendidikan keterampilan di dalam LP Wanita.
Rani Andriyani, narapidana yang divonis hukuman mati olehPengadilan Negeri Tangerang pada 22 Agustus 2000, adalah seorang penyelundup heroin dan kokain. Dia dibekuk di kawasan BandaraSoekarno-Hatta pada 12 Januari 2000, ketika hendak terbang ke London,membawa 3,5 kilogram heroin dan tiga kilogram kokain.
Rani ditangkap polisi bersama dua saudara sepupunya, Meirika Franola dan Deny SetiaMaharwan, yang akhirnya juga dihukum mati dalam kasus yang sama.Setelah lepas dari tahanan polisi, Rani mendekam di LP WanitaTangerang, hingga kini.
Sedangkan Angel dan Maya, juga terlibat kasus narkotika danpsikotropika. Angel telah dijatuhi hukuman 18 bulan penjara, karena memiliki putaw. Maya divonis hukuman delapan tahun penjara, karenatersangkut kasus ecstasy.
Dua wanita bertubuh langsing itu, menurut seorang petugas LP Wanita Tangerang, baru sekitar dua bulan menempati selnya di Tangerang. Sebelumnya mereka mendekam di LP WanitaPondokbambu, Jakarta Timur.
ENTAH ide siapa, tiga narapidana perempuan memilih waktu kabur pada sekitar usai makan sahur dan shalat Subuh. Pertimbangannya mungkin bahwa semua penjaga LP pada malam itu sudah kekenyangansetelah makan sahur sehingga mengantuk, atau telah sampai pada puncakkantuknya setelah berjaga sejak pukul 18.00.
Rani, Maya, dan Angel, segera membengkokkan terali besi yang mereka gergaji. Satu per satu perempuan-perempuan perkasa, berani,dan cerdik, itu menyelinap di sela terali besi yang dibengkokkan, dansegera menuju ke menara pos jaga nomor dua, di bagian belakang LP.Dari menara pos jaga yang kosong tanpa penjaga itu, satu per satu mereka menuruni pagar tembok LP setinggi lima meter, dengan bantuan tali nilon.
Namun malang bagi Rani, karena dia jatuh terduduk. Akibatnya,sakit luar biasa segera menderanya. Kelak ketahuan kalau tulang pinggangnya patah atau saling berhimpitan. Rani akhirnya ditinggal pergi oleh Maya dan Angel.
Aksi tiga narapidana perempuan itu baru diketahui penjaga LP Wanita setelah Rani berteriak meminta tolong."Saya ingin pulang. Saya kangen sama orang tua dan saudara," ujarRani dengan berlinangan air mata, usai menceritakan kisahnya di ruangIGD (instalasi gawat darurat) RSU Tangerang, Jumat siang.
Kerinduan Rani, anak sulung pasangan Neni dan Andi, semakin menguat ketika memasuki bulan suci Ramadhan ini. Dia ingin kembali merasakan makan sahur dan berbuka puasa, bersama ayah, ibu, dan duaadik kandungnya, di rumahnya di Jalan Moch Yamin, Cianjur, JawaBarat.
Hingga Sabtu (2/12) siang belum diketahui siapa yang mendalangi pelarian itu. Juga belum diketahui asal gergaji besi tersebut.Seandainya gergaji berasal dari tamu yang mengunjungi mereka, kenapa bisa lolos dari pengecekan petugas LP Wanita?Belum diketahui pula apakah pelarian itu dibantu pihak lain.
Pada waktu pelarian berlangsung, LP dijaga oleh 11 petugas.Sebagian adalah petugas laki-laki yang berjaga di pagar bagian dalam.Sebagian lain para sipir wanita, bertugas di dalam blok-blok penjara.Empat menara pos jaga di empat sudut LP Wanita seluas 1,6 hektar itu,diduga tidak ditempati penjaga.
"Kami selama ini memang kekurangan orang, untuk mengawasi 211 narapidana dan tahanan di LP Wanita," ujar seorang petugas LP saat menjaga Rani di RSU Tangerang.
Kepala LP Wanita Tangerang hingga Sabtu siang tetap sulit ditemui. Petugas LP semuanya menolak kedatangan Kompas dan wartawan lain, dengan menanyakan apakah membawa surat izin dari Kanwil DepkehDKI Jakarta.
Menurut informasi, Kepala LP Wanita dan semua penjaga yang bertugas pada malam pelarian narapidana, sudah diperiksa atasan mereka dari Departemen Kehakiman.Kaburnya tiga narapidana perempuan dari ruang penjara mereka,mengagetkan petugas LP Wanita.
Menurut seorang petugas LP Wanita,selama 17 tahun dia bertugas di LP itu, baru kali ini ada kasus pelarian narapidana.
"Kami tidak menduga sama sekali. Selama ini kami percaya tidakbakal ada yang kabur, karena mereka semuanya perempuan. Kelengahankami rupanya dimanfaatkan Rani, Maya, dan Angel," ujarnya.
Pelarian yang cukup menggemparkan itu, diduga bisa terjadi terutama akibat lengahnya petugas LP Wanita Tangerang. Mereka terlenaoleh adem-ayemnya penghuni LP selama ini.Kepolisian Resor Tangerang hingga Sabtu sore, belum mampu melacak keberadaan Maya dan Angel, yang tengah menghirup "udara bebas"-nya.(agus mulyadi)
AKSI PELARIAN TIGA NARAPIDANA PEREMPUAN DARI LP
BAK adegan film, tiga perempuan yang mendekam di bui gara-gara kasus narkotika dan psikotropika, secara perlahan-lahan menggergajiterali besi kamar tahanan mereka. Setiap kali seorang dari mereka menggergaji, dua narapidana lainnya mengawasi bagian luar ruangtahanan agar tidak ketahuan oleh penjaga.
Aksi dengan gergaji besi itu dilakukan setiap saat, sejak Rabu(29/11), pada waktu-waktu yang mereka anggap aman.Ketekunan tiga perempuan yang mendekam di ruang tahanan Blok A LP (LembagaPemasyarakatan) Wanita Dewasa Tangerang di Jalan TMP Taruna, KotaTangerang, itu membuahkan hasil. Pada Kamis malam batang besi selesaidigergaji dan tinggal dibengkokkan.
Ketiganya, Rani Andriyani (25), Maya (40), dan Angel (30),bernafas lega. Mereka tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membengkokkan dan mematahkan batang terali besi itu, serta menyelinap keluar.Sejak beberapa minggu sebelumnya mereka mengumpulkan untaian nilon sedikit demi sedikit untuk dibuat tali. Nilon itu mereka ambil saat mengikuti pendidikan keterampilan di dalam LP Wanita.
Rani Andriyani, narapidana yang divonis hukuman mati olehPengadilan Negeri Tangerang pada 22 Agustus 2000, adalah seorang penyelundup heroin dan kokain. Dia dibekuk di kawasan BandaraSoekarno-Hatta pada 12 Januari 2000, ketika hendak terbang ke London,membawa 3,5 kilogram heroin dan tiga kilogram kokain.
Rani ditangkap polisi bersama dua saudara sepupunya, Meirika Franola dan Deny SetiaMaharwan, yang akhirnya juga dihukum mati dalam kasus yang sama.Setelah lepas dari tahanan polisi, Rani mendekam di LP WanitaTangerang, hingga kini.
Sedangkan Angel dan Maya, juga terlibat kasus narkotika danpsikotropika. Angel telah dijatuhi hukuman 18 bulan penjara, karena memiliki putaw. Maya divonis hukuman delapan tahun penjara, karenatersangkut kasus ecstasy.
Dua wanita bertubuh langsing itu, menurut seorang petugas LP Wanita Tangerang, baru sekitar dua bulan menempati selnya di Tangerang. Sebelumnya mereka mendekam di LP WanitaPondokbambu, Jakarta Timur.
ENTAH ide siapa, tiga narapidana perempuan memilih waktu kabur pada sekitar usai makan sahur dan shalat Subuh. Pertimbangannya mungkin bahwa semua penjaga LP pada malam itu sudah kekenyangansetelah makan sahur sehingga mengantuk, atau telah sampai pada puncakkantuknya setelah berjaga sejak pukul 18.00.
Rani, Maya, dan Angel, segera membengkokkan terali besi yang mereka gergaji. Satu per satu perempuan-perempuan perkasa, berani,dan cerdik, itu menyelinap di sela terali besi yang dibengkokkan, dansegera menuju ke menara pos jaga nomor dua, di bagian belakang LP.Dari menara pos jaga yang kosong tanpa penjaga itu, satu per satu mereka menuruni pagar tembok LP setinggi lima meter, dengan bantuan tali nilon.
Namun malang bagi Rani, karena dia jatuh terduduk. Akibatnya,sakit luar biasa segera menderanya. Kelak ketahuan kalau tulang pinggangnya patah atau saling berhimpitan. Rani akhirnya ditinggal pergi oleh Maya dan Angel.
Aksi tiga narapidana perempuan itu baru diketahui penjaga LP Wanita setelah Rani berteriak meminta tolong."Saya ingin pulang. Saya kangen sama orang tua dan saudara," ujarRani dengan berlinangan air mata, usai menceritakan kisahnya di ruangIGD (instalasi gawat darurat) RSU Tangerang, Jumat siang.
Kerinduan Rani, anak sulung pasangan Neni dan Andi, semakin menguat ketika memasuki bulan suci Ramadhan ini. Dia ingin kembali merasakan makan sahur dan berbuka puasa, bersama ayah, ibu, dan duaadik kandungnya, di rumahnya di Jalan Moch Yamin, Cianjur, JawaBarat.
Hingga Sabtu (2/12) siang belum diketahui siapa yang mendalangi pelarian itu. Juga belum diketahui asal gergaji besi tersebut.Seandainya gergaji berasal dari tamu yang mengunjungi mereka, kenapa bisa lolos dari pengecekan petugas LP Wanita?Belum diketahui pula apakah pelarian itu dibantu pihak lain.
Pada waktu pelarian berlangsung, LP dijaga oleh 11 petugas.Sebagian adalah petugas laki-laki yang berjaga di pagar bagian dalam.Sebagian lain para sipir wanita, bertugas di dalam blok-blok penjara.Empat menara pos jaga di empat sudut LP Wanita seluas 1,6 hektar itu,diduga tidak ditempati penjaga.
"Kami selama ini memang kekurangan orang, untuk mengawasi 211 narapidana dan tahanan di LP Wanita," ujar seorang petugas LP saat menjaga Rani di RSU Tangerang.
Kepala LP Wanita Tangerang hingga Sabtu siang tetap sulit ditemui. Petugas LP semuanya menolak kedatangan Kompas dan wartawan lain, dengan menanyakan apakah membawa surat izin dari Kanwil DepkehDKI Jakarta.
Menurut informasi, Kepala LP Wanita dan semua penjaga yang bertugas pada malam pelarian narapidana, sudah diperiksa atasan mereka dari Departemen Kehakiman.Kaburnya tiga narapidana perempuan dari ruang penjara mereka,mengagetkan petugas LP Wanita.
Menurut seorang petugas LP Wanita,selama 17 tahun dia bertugas di LP itu, baru kali ini ada kasus pelarian narapidana.
"Kami tidak menduga sama sekali. Selama ini kami percaya tidakbakal ada yang kabur, karena mereka semuanya perempuan. Kelengahankami rupanya dimanfaatkan Rani, Maya, dan Angel," ujarnya.
Pelarian yang cukup menggemparkan itu, diduga bisa terjadi terutama akibat lengahnya petugas LP Wanita Tangerang. Mereka terlenaoleh adem-ayemnya penghuni LP selama ini.Kepolisian Resor Tangerang hingga Sabtu sore, belum mampu melacak keberadaan Maya dan Angel, yang tengah menghirup "udara bebas"-nya.(agus mulyadi)
Langganan:
Postingan (Atom)

