KOMPAS - Rabu, 20 Aug 2003 Halaman: 30 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 8643 Foto: 1
CARA EFEKTIF MENGHADANG PENEBANGAN LIAR
MENGERINGNYA sejumlah sungai di Sumatera Selatan pada musim
kemarau ini, telah menyengsarakan warga yang bermukim di sekitarnya.
Terlebih lagi bagi mereka yang biasa mengandalkan air sungai untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Untuk mendapatkan air, dasar sungai yang telah mengering terpaksa
digali. Dari sumur di dasar sungai itulah sebagian warga kini
menggantungkan kebutuhan air untuk hidupnya.
Itu misalnya dilakukan oleh warga di Kecamatan Cempaka, Kabupaten
Ogan Komering Ilir (OKI). Mengeringnya sungai itu menyebabkan
sebagian dari mereka menggali dasar sungai untuk mendapatkan air.
Akibat lebih besar keringnya sungai dirasakan oleh ribuan petani
yang sawahnya kekeringan, karena air irigasi tidak mengalir lagi.
Irigasi kering karena tidak ada lagi pasokan air dari sungai.
Mengeringnya sungai-sungai pada musim kemarau merupakan akibat
langsung dari rusaknya DAS (daerah aliran sungai), terutama di bagian
hulu. Penebangan liar pepohonan di hutan di kawasan hulu sungai
mengakibatkan hilangnya persediaan air saat kemarau tiba.
Sungai-sungai pun menjadi kering. Warga yang biasa memanfaatkan
air sungai pun terkena getahnya.
***
PENEBANGAN liar beberapa tahun ini memang semakin menjadi-jadi di
hutan-hutan Sumatera bagian selatan. Ratusan ribu hektar hutan di
Sumatera Selatan, Lampung, dan Jambi rusak parah.
Di Jambi, lahan kritis akibat penebangan ilegal dan okupasi
kawasan hutan oleh masyarakat saat ini sedikitnya tercatat mencapai
626.539 hektar, atau 11,82 persen dari luas Provinsi Jambi yang 5,3
juta hektar. Lahan kritis sekitar 110.000 hektar di antaranya itu
berada di Kabupaten Kerinci.
Sebagian kawasan hutan di Provinsi Lampung juga telah rusak. Di
Gunung Betung, misalnya, lebih dari 12.000 hektar hutan rusak.
Kerusakan tersebut mencakup sekitar 60 persen dari total luas hutan
lindung di gunung itu.
Kerusakan hutan di Provinsi Bengkulu malah lebih parah. Saat ini,
lahan hutan seluas 180.000 hektar rusak parah. Semua kerusakan
tersebut terjadi di kawasan hutan konservasi dan hutan lindung.
Dari total luas hutan di Bengkulu yang 920.000 hektar, sebanyak
76,42 persen di antaranya, menurut Kepala Dinas Kehutanan Bengkulu
Hidayat Sjahid, adalah hutan konservasi dan hutan lindung. Hutan
konservasi terluas, yakni 340.000 hektar, berada di kawasan Taman
Nasional Kerinci Seblat (TNKS), dan sekitar 65.000 hektar berada di
Taman Nasional Bukit Barisan Selasan (TNBBS).
Hidayat mengakui, perusakan hutan sulit dihindari selama
masyarakat sekitar masih membutuhkan lahan untuk membuka kebun.
Perusakan itu pun akan terus berlangsung selama penebangan liar tidak
bisa dihentikan.
Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera
Selatan, Dulhadi, menyatakan, perambahan di hutan konservasi sulit
dibendung. Masyarakat masih kerap membabat hutan untuk membuka kebun
atau pertambakan. Para perambah hutan sudah turun-temurun
melakukannya.
***
MENJAGA hutan yang luas di Bengkulu diakui Hidayat cukup sulit.
Apalagi petugas polisi kehutanan di provinsi itu hanya berjumlah 132
orang.
Dengan jumlah polisi hutan yang terbatas, memang sulit menghadang
aksi-aksi penjarahan atau penebangan liar. Oleh karena itu, bentuk
upaya lain untuk menghadang penebangan liar perlu dilakukan.
Upaya menghadang dan menghadapi penebangan liar di Bengkulu,
salah satunya kini dilakukan Kepolisian Resor (Polres) Kota Bengkulu.
Mereka tidak mengawasi langsung hutan, melainkan memberantas di
bagian hilir, yakni bisnis kayu olahan di dalam kota.
Dengan dasar penertiban SKSHH (surat keterangan sah hasil hutan),
Polres Kota Bengkulu menyegel sekitar 60 depot penjualan kayu di kota
tersebut. Selama dilakukan penyegelan, pemiliknya dilarang menjual
kayu di depot milik mereka.
Upaya ini sementara waktu cukup efektif untuk mengurangi
mengalirnya kayu-kayu olahan dari panglong (tempat penggergajian
kayu). Berkurangnya pengiriman kayu dari panglong dipastikan
mengurangi pula kiriman batang-batang pohon dari hutan untuk
digergaji.
Penyegelan sebanyak 60 depot penjualan kayu di Kota Bengkulu itu
sudah berlangsung sejak pekan pertama Agustus 2003.
Penyegelan dilakukan polisi karena para pedagang kayu tersebut
tidak memiliki SKSHH. Surat yang dikeluarkan Dinas Kehutanan setempat
itu merupakan bukti bahwa kayu olahan yang mereka jual bahan baku
kayunya bukan dari hasil penebangan liar.
Akibat penyegelan tersebut, pedagang tidak berani menjual kayu
milik mereka. Meskipun tempat-tempat penjualan itu masih dibuka,
mereka tidak melayani pembeli yang datang.
Seorang pedagang kayu di Jalan Sumatera, Kota Bengkulu, Janil,
menyatakan, tidak berani lagi menjual kayu karena telah disegel
polisi. Namun, dia tetap berharap polisi mengizinkan agar dia tetap
bisa menjual kayu-kayu miliknya.
"Saya ini pedagang kecil. Kayu yang saya jual berasal dari lahan
rakyat, bukan dari hasil penebangan liar di hutan lindung," katanya.
Menurut Janil, seharusnya polisi memberikan kebebasan bagi
pedagang kecil seperti dirinya. Apalagi, menurut dia, kayu yang
dijual berasal dari lahan milik rakyat.
"Kayu yang saya jual berasal dari pohon yang ditebang dari lahan
milik rakyat. Saya memiliki surat keterangan dari kepala desa tempat
kayu itu ditebang. Lagi pula, kayu-kayu yang saya jual jumlahnya
tidak banyak, dan berasal dari kayu- kayu yang kurang berkualitas,"
katanya.
Surat keterangan dari kepala desa itu menyebutkan, kayu yang
dibawa dari panglong tersebut adalah pohon-pohon bahan bakunya
berasal dari lahan milik rakyat. Selembar surat yang diterbitkan pada
Mei 2003 itu juga dilengkapi dengan legalisasi dari pos polisi hutan
dan petugas kepolisian sektor (polsek).
Disebutkan, perjalanan untuk membawa kayu dari panglong ke depot
membutuhkan biaya tidak sedikit. Selain untuk surat keterangan dari
kepala desa sebesar Rp 10.000, dia pun selama perjalanan harus
mengeluarkan biaya lain di sedikitnya enam lokasi dengan besar
pungutan Rp 5.000 hingga Rp 10.000.
Berkaitan dengan penyegelan puluhan depot kayu, Kepala Polres
Kota Bengkulu Ajun Komisaris Besar M Toha Suharto menyatakan,
pihaknya akan mengusut tuntas kasus itu. Penjualan kayu-kayu yang
tidak memiliki dokumen resmi seperti SKSHH tersebut harus diusut
sampai ke akar-akarnya.
Oleh karena itu, Toha menyatakan kayu-kayu di depot penjualan
yang kini menjadi barang bukti tersebut tidak boleh dijual oleh
pemiliknya. "Menjual berarti menghilangkan barang bukti. Itu berarti
telah melakukan tindak pidana lain," ujarnya.
Kasus itu, ungkap Toha, akan terus berlanjut hingga ke
penyidikan. Seandainya dalam penyidikan ditemukan bukti bahwa kayu-
kayu itu berasal dari penebangan liar, berkas penyidikan perkaranya
akan dilimpahkan ke kejaksaan.
Menurut Toha, pihaknya hanya mencoba menegakkan peraturan
mengenai perdagangan kayu. Seharusnya pemilik kayu melengkapi semua
bentuk perizinan, termasuk SKSHH. "Kami hanya melakukan tindakan di
dalam kota, di wilayah yurisdiksi kami. Mengenai pencegahan illegal
logging itu urusan pihak lain, karena bukan berada di wilayah hukum
Kota Bengkulu," katanya.
Penyegelan depot kayu yang dilakukan Polres Kota Bengkulu itu
telah memancing puluhan pedagang melakukan aksi unjuk rasa di DPRD
Kota Bengkulu pada Rabu lalu. Mereka memprotes tindakan polisi yang
dianggap telah mematikan usaha perdagangan kayu di kota itu. Mereka
meminta agar tempat usaha yang telah disegel dibuka kembali.
Terlepas dari benturan kepentingan yang muncul menyusul
penertiban penjualan kayu di Bengkulu, langkah itu diharapkan mampu
menghentikan penebangan liar. Dengan keharusan memiliki SKSHH, para
pedagang harus benar-benar menjual kayu yang berasal hutan produksi.
Di Provinsi Bengkulu sendiri, menurut Hidayat, tidak ada lagi
hutan produksi sejak enam tahun lalu. "Sejak enam tahun lalu, tidak
ada lagi HPH (hak pengusahaan hutan) di Bengkulu," katanya.
Nah, kalau tak ada lagi hutan produksi, dari mana kayukayu yang
dijual kepada masyarakat itu berasal? (AGUS MULYADI)
Foto:
Kompas/Agus Mulyadi
BABAT HUTAN--Penggundulan hutan terus terjadi akibat perambahan dan
penebangan liar. Seperti yang terjadi di kawasan hutan lindung Taba
Penanjung, Kabupaten Bengkulu Utara. Sebagian hutan di kawasan itu
dibabat agar bisa dijadikan kebun.
Tampilkan postingan dengan label sumatera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sumatera. Tampilkan semua postingan
Kamis, 17 Juli 2008
Hantu di Jalan Lintas Sumatera
KOMPAS - Selasa, 15 Jul 2003 Halaman: 29 Penulis: mul Ukuran: 5135 Foto: 1
"HANTU" DI JALAN LINTAS SUMATERA
KETIKA hendak menempuh perjalanan menggunakan mobil dari Kota
Bengkulu ke Palembang, bingung juga menentukan rute mana yang akan
ditempuh. Beberapa orang di Bengkulu yang ditanya soal itu, memberi
pilihan berbeda.
Ada yang menyarankan agar melewati rute Bengkulu Kepahiang-Curup-
Sekayu-Betung- Palembang. Ada pula yang menyarankan agar melalui rute
Bengkulu-Kepahiang-Pendopo-Pagar Alam-Lahat-Palembang.
Lebih banyak lagi yang menyarankan agar melewati rute Bengkulu-
Curup-Lubuk Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas- Lahat-
Palembang. "Meskipun jaraknya lebih jauh dan sebagian jalan rusak
berat, rute itu lebih aman," kata salah seorang pemberi saran.
Pengelola penginapan di kawasan perkebunan Gunung Dempo, Nanang
Rusmadi, menyarankan jangan sekali-sekali menempuh perjalanan pada
sore atau malam hari.
Menurut informasi dari seorang tamu penginapan, penghadangan oleh
kawanan penjahat dilakukan dengan cara menghentikan mobil di tengah
jalan. Korban mencoba memberikan uang Rp 10.000. Namun, kawanan
penghadang itu malah merampok semua harta benda korban, kecuali
mobilnya.
***
CERITA seram di ruas jalan antara Pagar Alam-Pendopo-Kepahiang,
dikemukakan pula oleh seorang warga di Curup, ibu kota Kabupaten
Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. "Kalau masih pagi sampai siang
bolehlah melalui jalan yang kecil itu. Tapi, kalau sore atau malam
jangan melalui jalan itu," katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Rejang Lebong,
Rosihan YT, ketika ditanya soal pilihan rute perjalanan juga
menganjurkan agar tidak melalui ruas jalan Kepahiang-Pendopo-Pagar
Alam. Di ruas jalan itu kerap terjadi aksi perampokan terhadap
pengendara kendaraan.
Karena dianjurkan tidak melalui ruas jalan tersebut, pilihan rute
perjalanan dari Bengkulu pun tinggal dua yakni melalui Lubuk Linggau-
Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas Lahat-Palembang, atau rute Lubuk
Linggau-Muara Beliti-Sekayu-Betung-Palembang.
Tanto, seorang sopir truk pengangkut sayur dari kawasan Selupuh
Rejang, Rejang Lebong, menyarankan agar perjalanan lebih baik melalui
Sekayu. Tetapi, Kepala Desa Suban Ayam, Kecamatan Selupuh Rejang,
Ahmad Holil, menyarankan agar tidak melalui Sekayu. "Jalan itu rusak
parah di mana-mana. Mendingan lewat Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga
Mas-Lahat saja. Di jalan itu, meskipun jaraknya lebih jauh dan banyak
rusak pula, situasinya lebih ramai. Banyak truk yang lewat. Lagi pula
di sepanjang jalan banyak PKJR,"ujar Holil.
Perjalanan dari Bengkulu ke Palembang, akhirnya diputuskan
melalui rute Lubuk-Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas-
Lahat. Padahal, rute sepanjang 515 kilometer itu harus melalui jalan
rusak di sebagian lokasi, terutama antara Muara Beliti-Lahat.
***
MAKA perjalanan pun dimulai dengan rasa waswas, menempuh rute
Bengkulu-Kepahiang- Curup-Lubuk Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-
Bunga Mas-Lahat-Muara Enim-Prabumulih-Palembang. Perjalanan melalui
rute ini pasti melalui jalur jalan yang konon paling seram itu, yakni
Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas-Lahat.
Selain kerusakan di sepanjang jalan, banyak ditemukan gerombolan
orang di belasan lokasi yang menadahkan tangan, bila ada truk yang
melintas pelan. Gerombolan itu kebanyakan menempati pos darurat,
berupa gubuk sederhana dengan atap daun kelapa.
Meskipun gerombolan warga itu tidak memaksa, para pengendara
agaknya tak mau mengambil risiko. Setiap kali ada truk yang melintas
di pos darurat tempat gerombolan warga yang mangkal, salah seorang di
antara mereka menuju ke tepi jalan lalu menadahkan tangan. Sebagian
sopir terlihat memberi uang, dengan melemparkannya atau mengangsurkan
ke tangan yang menadah.
Selain pungutan yang dilakukan oleh sekelompok warga di pos-pos
darurat, di beberapa lokasi terdapat pula warga yang berdiri di
bagian jalan yang rusak. Kepada setiap sopir kendaraan yang melintas,
mereka menadahkan tangan. Ini rupanya yang membuat ruas jalan ini
seram, dan mereka itulah "hantu"-nya.
Di lokasi sepi seperti tanjakan atau di jalan rusak, ada pula
beberapa pos permanen di tepi jalan. Pos itu dilengkapi pesawat radio
komunikasi. Beberapa orang penunggunya pun terlihat berseragam
seperti petugas satpam. Di depan pos terpampang tulisan PKJR (Pos
Keamanan Jalan Raya). Tulisan PKJR itu sama persis dengan yang
terpampang di papan-papan di depan pos-pos darurat tempat gerombolan
warga meminta uang kepada sopir truk yang lewat. (mul)
Foto:
Kompas/Agus Mulyadi
"HANTU" - Ruas Jalan Lintas Tengah Sumatera yang sudah lama rusak di
banyak lokasi sering dimanfaatkan kawanan penjahat untuk memeras para
pemakai jalan. Sopir angkutan umum, terutama truk, mengeluhkan
banyaknya pungutan liar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok warga
di sepanjang jalan. Aksi mereka ini rancu dengan Pos Keamanan Jalan
Raya yang resmi, seperti "hantu" yang kadang ada kadang menghilang
sendiri.
"HANTU" DI JALAN LINTAS SUMATERA
KETIKA hendak menempuh perjalanan menggunakan mobil dari Kota
Bengkulu ke Palembang, bingung juga menentukan rute mana yang akan
ditempuh. Beberapa orang di Bengkulu yang ditanya soal itu, memberi
pilihan berbeda.
Ada yang menyarankan agar melewati rute Bengkulu Kepahiang-Curup-
Sekayu-Betung- Palembang. Ada pula yang menyarankan agar melalui rute
Bengkulu-Kepahiang-Pendopo-Pagar Alam-Lahat-Palembang.
Lebih banyak lagi yang menyarankan agar melewati rute Bengkulu-
Curup-Lubuk Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas- Lahat-
Palembang. "Meskipun jaraknya lebih jauh dan sebagian jalan rusak
berat, rute itu lebih aman," kata salah seorang pemberi saran.
Pengelola penginapan di kawasan perkebunan Gunung Dempo, Nanang
Rusmadi, menyarankan jangan sekali-sekali menempuh perjalanan pada
sore atau malam hari.
Menurut informasi dari seorang tamu penginapan, penghadangan oleh
kawanan penjahat dilakukan dengan cara menghentikan mobil di tengah
jalan. Korban mencoba memberikan uang Rp 10.000. Namun, kawanan
penghadang itu malah merampok semua harta benda korban, kecuali
mobilnya.
***
CERITA seram di ruas jalan antara Pagar Alam-Pendopo-Kepahiang,
dikemukakan pula oleh seorang warga di Curup, ibu kota Kabupaten
Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. "Kalau masih pagi sampai siang
bolehlah melalui jalan yang kecil itu. Tapi, kalau sore atau malam
jangan melalui jalan itu," katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Rejang Lebong,
Rosihan YT, ketika ditanya soal pilihan rute perjalanan juga
menganjurkan agar tidak melalui ruas jalan Kepahiang-Pendopo-Pagar
Alam. Di ruas jalan itu kerap terjadi aksi perampokan terhadap
pengendara kendaraan.
Karena dianjurkan tidak melalui ruas jalan tersebut, pilihan rute
perjalanan dari Bengkulu pun tinggal dua yakni melalui Lubuk Linggau-
Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas Lahat-Palembang, atau rute Lubuk
Linggau-Muara Beliti-Sekayu-Betung-Palembang.
Tanto, seorang sopir truk pengangkut sayur dari kawasan Selupuh
Rejang, Rejang Lebong, menyarankan agar perjalanan lebih baik melalui
Sekayu. Tetapi, Kepala Desa Suban Ayam, Kecamatan Selupuh Rejang,
Ahmad Holil, menyarankan agar tidak melalui Sekayu. "Jalan itu rusak
parah di mana-mana. Mendingan lewat Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga
Mas-Lahat saja. Di jalan itu, meskipun jaraknya lebih jauh dan banyak
rusak pula, situasinya lebih ramai. Banyak truk yang lewat. Lagi pula
di sepanjang jalan banyak PKJR,"ujar Holil.
Perjalanan dari Bengkulu ke Palembang, akhirnya diputuskan
melalui rute Lubuk-Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas-
Lahat. Padahal, rute sepanjang 515 kilometer itu harus melalui jalan
rusak di sebagian lokasi, terutama antara Muara Beliti-Lahat.
***
MAKA perjalanan pun dimulai dengan rasa waswas, menempuh rute
Bengkulu-Kepahiang- Curup-Lubuk Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-
Bunga Mas-Lahat-Muara Enim-Prabumulih-Palembang. Perjalanan melalui
rute ini pasti melalui jalur jalan yang konon paling seram itu, yakni
Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas-Lahat.
Selain kerusakan di sepanjang jalan, banyak ditemukan gerombolan
orang di belasan lokasi yang menadahkan tangan, bila ada truk yang
melintas pelan. Gerombolan itu kebanyakan menempati pos darurat,
berupa gubuk sederhana dengan atap daun kelapa.
Meskipun gerombolan warga itu tidak memaksa, para pengendara
agaknya tak mau mengambil risiko. Setiap kali ada truk yang melintas
di pos darurat tempat gerombolan warga yang mangkal, salah seorang di
antara mereka menuju ke tepi jalan lalu menadahkan tangan. Sebagian
sopir terlihat memberi uang, dengan melemparkannya atau mengangsurkan
ke tangan yang menadah.
Selain pungutan yang dilakukan oleh sekelompok warga di pos-pos
darurat, di beberapa lokasi terdapat pula warga yang berdiri di
bagian jalan yang rusak. Kepada setiap sopir kendaraan yang melintas,
mereka menadahkan tangan. Ini rupanya yang membuat ruas jalan ini
seram, dan mereka itulah "hantu"-nya.
Di lokasi sepi seperti tanjakan atau di jalan rusak, ada pula
beberapa pos permanen di tepi jalan. Pos itu dilengkapi pesawat radio
komunikasi. Beberapa orang penunggunya pun terlihat berseragam
seperti petugas satpam. Di depan pos terpampang tulisan PKJR (Pos
Keamanan Jalan Raya). Tulisan PKJR itu sama persis dengan yang
terpampang di papan-papan di depan pos-pos darurat tempat gerombolan
warga meminta uang kepada sopir truk yang lewat. (mul)
Foto:
Kompas/Agus Mulyadi
"HANTU" - Ruas Jalan Lintas Tengah Sumatera yang sudah lama rusak di
banyak lokasi sering dimanfaatkan kawanan penjahat untuk memeras para
pemakai jalan. Sopir angkutan umum, terutama truk, mengeluhkan
banyaknya pungutan liar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok warga
di sepanjang jalan. Aksi mereka ini rancu dengan Pos Keamanan Jalan
Raya yang resmi, seperti "hantu" yang kadang ada kadang menghilang
sendiri.
Rabu, 16 Juli 2008
Lubuk Linggau, Kota Tak Pernah Mati
KOMPAS - Selasa, 01 Jul 2003 Halaman: 32 Penulis: mul Ukuran: 6751 Foto: 1LUBUK LINGGAU, KOTA TAK PERNAH MATI
LEBIH dari 25 mobil memenuhi tempat parkir di salah satu hotel diJalan Sudirman Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Kendaraan roda empatyang diparkir itu, tidak hanya beragam jenisnya, tetapi jugaberlainan nomor polisinya.
Mobil bernomor polisi dari berbagai kota atau daerah di Jawa danSumatera diparkir di tempat itu, karena pengendaranya tengahmenginap. Mereka tengah beristirahat sebelum melanjutkan perjalanankeesokan harinya.
Mobil yang diparkir tidak hanya bernomor polisi Medan, Bengkulu,Banda Aceh, Jambi, Lampung, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan,tetapi juga bernomor polisi Jakarta, Bogor, dan Bandung. "Mereka yangberistirahat di Lubuk Linggau ini, biasanya tengah menempuhperjalanan jauh," kata seorang pelayan hotel.
LUBUK Linggau, kota yang berada sekitar 350 kilometer sebelahbarat Palembang, merupakan kota transit. Dari kota ini, pengendarabisa melanjutkan perjalanan ke kota-kota di Sumatera maupun ke Jawa.Lokasinya di jalan lintas tengah (Jalinteng) Sumatera, membuat kotaini banyak dilewati pemakai jalan.
Pengendara yang datang dari Lampung tujuan Padang, Medan, BandaAceh, Bengkulu, atau Jambi, bisa melalui kota ini. Demikian pula,pengendara dari Medan, Jambi, Padang, atau Bengkulu, melewati danbisa beristirahat di kota ini.
Lokasi yang strategis menyebabkan Lubuk Linggau menjadi kota yangselalu hidup sepanjang hari. Kendaraan hilir mudik, tidak hanya sianghari, tetapi berlangsung pula sepanjang malam.Denyut kehidupan kota yang tidak pernah mati dari pemakai jalandan orang yang lalu lalang itu pula, yang kemudian membuat kehidupandi kota ini terus hidup 24 jam.
Warga kota pun akhirnya terbiasamelakukan aktivitas siang dan malam.Kehidupan kota pada malam hari, salah satunya bisa dilihat dipusat jajanan Pasar Mambo. Di kawasan ini, sekitar 50 pedagangmakanan, minuman, rokok, jamu, dan lainnya menggelar dagangan di duasisi jalan sampai ujung Jalan Sudirman. "Sebagian dari kami buka sampai pagi," kata Arsad (30), pedagangjamu.
Menurut anak transmigran asal Pulau Jawa ini, pedagang makanan diPasar Mambo tidak hanya warga setempat. "Kebanyakan malah pendatang,"ujarnya.
Bermacam dagangan digelar di Pasar Mambo yang berdampingan denganStasiun KA Lubuk Linggau. Warga setempat maupun pendatang yangtransit di kota itu, bisa makan malam sambil jalan-jalan di dalamkota.
Pasar Mambo bisa dijangkau dengan apa saja, baik jalan kaki, naikojek sepeda motor, naik becak, maupun mobil. Lokasinya yang di pusatkota membuat kawasan itu mudah didatangi."Sebagian besar pedagang makanan di sini, umumnya tutup jam 12.00(24.00-Red).
Namun, kawasan ini tetap ramai sampai pagi karena mulaijam 12.00 malam pedagang sayur mulai berdatangan. Otomatis kawasanini hidup siang dan malam," kata seorang pedagang sate padang.
Menikmati makan malam di Pasar Mambo, sebenarnya tidak ubahnyamakan di warung-warung kaki lima di mana pun. Seliweran kendaraan dijalan, sekadar melintas maupun yang hendak parkir, mewarnai kawasanitu.
Namun berbeda dengan di sejumlah kota lain, calon pembeli diPasar Mambo bisa memilih jenis makanan yang disukai. Di sini pembelibisa mencari makanan kaki lima apa saja seperti pecel lele, satepadang, sate madura, sop kaki kambing, dan martabak.
Kehidupan malam terlihat pula di sisi lain Kota Lubuk Linggau.Pendatang atau warga yang suka kehidupan malam, bisa menemukannya dilokalisasi pelacuran Patok Besi.Di lokasi ini terdapat lebih dari 50 rumah tempat mangkal wanitaPSK (pekerja seks komersial) yang sekaligus menjadi tempat kencansesaat.
Di lokalisasi yang letaknya sekitar delapan kilometer daripusat kota ini, terdapat pula sebuah diskotek yang bisa dijadikantempat menghilangkan kepenatan pengunjung.
LUBUK Linggau memang lebih besar dan lebih dikenal daripada kotalain di sekitarnya. Seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di kotaitu malah menyebutkan, Lubuk Linggau lebih besar dan ramai dibandingBengkulu, ibu kota provinsi tetangganya.
Kota yang terletak di pertemuan jalan lintas tengah dan baratSumatera ini, sebenarnya merupakan kota tua yang telah dikenal sejakdahulu kala. Bahkan, kolonial Belanda pun pada awal abad ke-20membangun jalur rel KA dari Lubuk Linggau hingga ke Kertapati,Palembang, dan Tanjung Karang, Bandar Lampung.
Melalui Lubuk Linggau berbagai hasil bumi diangkut. Sampaisekarang pun, jalur KA sampai ke Lubuk Linggau masih hidup. DariStasiun Lubuk Linggau, warga bisa melanjutkan perjalanan ke daerahatau kota tujuan masing-masing di provinsi Bengkulu, Jambi, maupunSumatera Barat.
Seorang penumpang KA Serelo yang baru tiba dari Palembang,Solihin (60), menyebutkan, dia selalu menggunakan KA dari LubukLinggau jika hendak ke Palembang atau sebaliknya. "Lebih pasti waktutibanya," ucap warga Curup, Bengkulu, tersebut.
Dari Lubuk Linggau ke Curup, perjalanan ditempuh menggunakanangkutan umum. Angkutan umum biasanya menunggu calon penumpang tujuankota itu di depan Stasiun KA Lubuk Linggau.Meskipun sudah berusia tua, kota ini baru berdiri secara otonomdua tahun lalu.
Sebelumnya, Lubuk Linggau merupakan ibu kotaKabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.Lubuk Linggau menjadi daerah otonom dengan status kota sejak 17Oktober 2001. Kota dengan penduduk sekitar 180.000 jiwa ini,sebelumnya menjadi ibu kota Musi Rawa sejak 20 April 1943.
Sejak menjadi daerah otonom, perkembangan kota pun semakin pesat.Saat ini, sejumlah hotel melati sampai bintang dua berdiri dikota itu. Sejumlah agen perjalanan siap mengantar warga bepergian kedaerah lain. Pendatang yang menggunakan angkutan umum, bisa pulamendapatkan jasa mobil sewaan untuk beraktivitas di kota ini.
"Kota ini tumbuh menjadi kota perdagangan," ujar Sofyan, salahseorang sopir mobil angkutan sembako.Mungkin karena tumbuh sebagai pusat perdagangan, muncul tokoswalayan, dan sejumlah bank dengan butik ATM-nya.
Bagi yang pertama kali melintas di kota ini, akan terkesimamelihat kota yang selalu hidup. Kota yang penduduknya sebagianpendatang ini, seperti tidak pernah mati. Denyut kehidupan kotaberjalan sepanjang hari, dari pagi hingga ke pagi berikutnya, seiringberjalannya kehidupan di jalan lintas timur Sumatera. (agus mulyadi)
Foto:Kompas/agus mulyadi
PASAR MAMBO - Kawasan Pasar Mambo di pusat Kota Lubuk Linggau setiapmalam dipadati pedagang makanan. Kota perlintasan itu hidup selama 24jam.
LEBIH dari 25 mobil memenuhi tempat parkir di salah satu hotel diJalan Sudirman Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Kendaraan roda empatyang diparkir itu, tidak hanya beragam jenisnya, tetapi jugaberlainan nomor polisinya.
Mobil bernomor polisi dari berbagai kota atau daerah di Jawa danSumatera diparkir di tempat itu, karena pengendaranya tengahmenginap. Mereka tengah beristirahat sebelum melanjutkan perjalanankeesokan harinya.
Mobil yang diparkir tidak hanya bernomor polisi Medan, Bengkulu,Banda Aceh, Jambi, Lampung, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan,tetapi juga bernomor polisi Jakarta, Bogor, dan Bandung. "Mereka yangberistirahat di Lubuk Linggau ini, biasanya tengah menempuhperjalanan jauh," kata seorang pelayan hotel.
LUBUK Linggau, kota yang berada sekitar 350 kilometer sebelahbarat Palembang, merupakan kota transit. Dari kota ini, pengendarabisa melanjutkan perjalanan ke kota-kota di Sumatera maupun ke Jawa.Lokasinya di jalan lintas tengah (Jalinteng) Sumatera, membuat kotaini banyak dilewati pemakai jalan.
Pengendara yang datang dari Lampung tujuan Padang, Medan, BandaAceh, Bengkulu, atau Jambi, bisa melalui kota ini. Demikian pula,pengendara dari Medan, Jambi, Padang, atau Bengkulu, melewati danbisa beristirahat di kota ini.
Lokasi yang strategis menyebabkan Lubuk Linggau menjadi kota yangselalu hidup sepanjang hari. Kendaraan hilir mudik, tidak hanya sianghari, tetapi berlangsung pula sepanjang malam.Denyut kehidupan kota yang tidak pernah mati dari pemakai jalandan orang yang lalu lalang itu pula, yang kemudian membuat kehidupandi kota ini terus hidup 24 jam.
Warga kota pun akhirnya terbiasamelakukan aktivitas siang dan malam.Kehidupan kota pada malam hari, salah satunya bisa dilihat dipusat jajanan Pasar Mambo. Di kawasan ini, sekitar 50 pedagangmakanan, minuman, rokok, jamu, dan lainnya menggelar dagangan di duasisi jalan sampai ujung Jalan Sudirman. "Sebagian dari kami buka sampai pagi," kata Arsad (30), pedagangjamu.
Menurut anak transmigran asal Pulau Jawa ini, pedagang makanan diPasar Mambo tidak hanya warga setempat. "Kebanyakan malah pendatang,"ujarnya.
Bermacam dagangan digelar di Pasar Mambo yang berdampingan denganStasiun KA Lubuk Linggau. Warga setempat maupun pendatang yangtransit di kota itu, bisa makan malam sambil jalan-jalan di dalamkota.
Pasar Mambo bisa dijangkau dengan apa saja, baik jalan kaki, naikojek sepeda motor, naik becak, maupun mobil. Lokasinya yang di pusatkota membuat kawasan itu mudah didatangi."Sebagian besar pedagang makanan di sini, umumnya tutup jam 12.00(24.00-Red).
Namun, kawasan ini tetap ramai sampai pagi karena mulaijam 12.00 malam pedagang sayur mulai berdatangan. Otomatis kawasanini hidup siang dan malam," kata seorang pedagang sate padang.
Menikmati makan malam di Pasar Mambo, sebenarnya tidak ubahnyamakan di warung-warung kaki lima di mana pun. Seliweran kendaraan dijalan, sekadar melintas maupun yang hendak parkir, mewarnai kawasanitu.
Namun berbeda dengan di sejumlah kota lain, calon pembeli diPasar Mambo bisa memilih jenis makanan yang disukai. Di sini pembelibisa mencari makanan kaki lima apa saja seperti pecel lele, satepadang, sate madura, sop kaki kambing, dan martabak.
Kehidupan malam terlihat pula di sisi lain Kota Lubuk Linggau.Pendatang atau warga yang suka kehidupan malam, bisa menemukannya dilokalisasi pelacuran Patok Besi.Di lokasi ini terdapat lebih dari 50 rumah tempat mangkal wanitaPSK (pekerja seks komersial) yang sekaligus menjadi tempat kencansesaat.
Di lokalisasi yang letaknya sekitar delapan kilometer daripusat kota ini, terdapat pula sebuah diskotek yang bisa dijadikantempat menghilangkan kepenatan pengunjung.
LUBUK Linggau memang lebih besar dan lebih dikenal daripada kotalain di sekitarnya. Seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di kotaitu malah menyebutkan, Lubuk Linggau lebih besar dan ramai dibandingBengkulu, ibu kota provinsi tetangganya.
Kota yang terletak di pertemuan jalan lintas tengah dan baratSumatera ini, sebenarnya merupakan kota tua yang telah dikenal sejakdahulu kala. Bahkan, kolonial Belanda pun pada awal abad ke-20membangun jalur rel KA dari Lubuk Linggau hingga ke Kertapati,Palembang, dan Tanjung Karang, Bandar Lampung.
Melalui Lubuk Linggau berbagai hasil bumi diangkut. Sampaisekarang pun, jalur KA sampai ke Lubuk Linggau masih hidup. DariStasiun Lubuk Linggau, warga bisa melanjutkan perjalanan ke daerahatau kota tujuan masing-masing di provinsi Bengkulu, Jambi, maupunSumatera Barat.
Seorang penumpang KA Serelo yang baru tiba dari Palembang,Solihin (60), menyebutkan, dia selalu menggunakan KA dari LubukLinggau jika hendak ke Palembang atau sebaliknya. "Lebih pasti waktutibanya," ucap warga Curup, Bengkulu, tersebut.
Dari Lubuk Linggau ke Curup, perjalanan ditempuh menggunakanangkutan umum. Angkutan umum biasanya menunggu calon penumpang tujuankota itu di depan Stasiun KA Lubuk Linggau.Meskipun sudah berusia tua, kota ini baru berdiri secara otonomdua tahun lalu.
Sebelumnya, Lubuk Linggau merupakan ibu kotaKabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.Lubuk Linggau menjadi daerah otonom dengan status kota sejak 17Oktober 2001. Kota dengan penduduk sekitar 180.000 jiwa ini,sebelumnya menjadi ibu kota Musi Rawa sejak 20 April 1943.
Sejak menjadi daerah otonom, perkembangan kota pun semakin pesat.Saat ini, sejumlah hotel melati sampai bintang dua berdiri dikota itu. Sejumlah agen perjalanan siap mengantar warga bepergian kedaerah lain. Pendatang yang menggunakan angkutan umum, bisa pulamendapatkan jasa mobil sewaan untuk beraktivitas di kota ini.
"Kota ini tumbuh menjadi kota perdagangan," ujar Sofyan, salahseorang sopir mobil angkutan sembako.Mungkin karena tumbuh sebagai pusat perdagangan, muncul tokoswalayan, dan sejumlah bank dengan butik ATM-nya.
Bagi yang pertama kali melintas di kota ini, akan terkesimamelihat kota yang selalu hidup. Kota yang penduduknya sebagianpendatang ini, seperti tidak pernah mati. Denyut kehidupan kotaberjalan sepanjang hari, dari pagi hingga ke pagi berikutnya, seiringberjalannya kehidupan di jalan lintas timur Sumatera. (agus mulyadi)
Foto:Kompas/agus mulyadi
PASAR MAMBO - Kawasan Pasar Mambo di pusat Kota Lubuk Linggau setiapmalam dipadati pedagang makanan. Kota perlintasan itu hidup selama 24jam.
Langganan:
Postingan (Atom)

