Tampilkan postingan dengan label ekstasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekstasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juli 2008

Transaksi Ecstasy yang Transparan

KOMPAS - Selasa, 28 Mar 1995 Halaman: 1 Penulis: WIN/BAR/IR/KSP/WIS/MUL Ukuran: 7815

TRANSAKSI ECSTASY YANG TRANSPARAN

PEREDARAN ecstasy ternyata sudah merasuk jauh ke berbagaitempat hiburan di DKI Jakarta. Transaksinya bahkan sudah dilakukansecara terang-terangan di tengah keramaian khalayak. Tidak adarintangan bagi pengunjung diskotek untuk memperoleh pil maut ini.Malah ada kesan, ganja jauh lebih berbahaya ketimbang ecstasy.Apalagi selama ini yang dijaring hanyalah pengedar ganja. Padahal saat ini ganja bagi pengguna obat-obatan dianggap barang rongsokan.

"Kiriman yang warna cokelat belum tiba dari Bali. Seandainya Andacoba itu, nikmatnya bukan main. Kita melambung ke angkasa," ujarBelok (bukan nama sebenarnya), pengedar ecstasy di diskotek Terminal I di kawasan Glodok, Jakarta Barat.

Dalam semalam saja Belok bisa meraub kentungan jutaan rupiah.Harga ecstasy yang dibelinya di Bali Rp 40.000/butir, di Terminal laku dijual Rp 120.000-Rp 150.000. Beberapa malam lalu seorangpembeli langsung membayar kontan satu juta rupiah untuk 5 butir pilMegatron, jenis yang paling dahsyat.

Harga ecstasy tergantung pada jenisnya dan suasana pasar. Jikapembeli ramai, harga bisa dikatrol sampai 50 persen. "Masalahnyakiriman dari Bali belum datang, sedang stok sudah hampir habis,"ujar Bobon (bukan nama sebenarnya) di salah satu diskotek di kawasanBlok M.

Ia menawarkan ecstasy jenis white purple seharga Rp 130.000.Padahal biasanya harganya hanya berkisar Rp 100.000.Di berbagai diskotek saat ini jalur mata rantai ecstasy sangat transparans. Asal ada uang dan menyebut pilnya tidak keliru,sesegera itu pula transaksi dilakukan.

Atau lihatlah apa yang dilakukan Bobon. Ia memberi pil itu dalam kertas, kemudian menerima uangnya. Atau juga Belok yang sambil ajojing menerima segepok uang.DI kalangan anak-anak muda Ibu Kota sebutan ecstasy tidakpernah digunakan. Mereka menggunakan istilah "inex" dalam transaksipil berbahaya ini. Inex adalah plesetan kata "enak".

Saat ini harga berbagai ecstasy di pasaran diskotek di salahsatu gedung di Jl. Soedirman, atau di kawasan Kuningan sertapertokoan Blok M, berkisar Rp 80.000 - Rp 200.000.Untuk jenis paling murah disebut "pink tebal", warnanya merah jambu berbintik-bintik, harganya Rp 80.000/butir. Sedang "pink tipis" harganyaantara Rp 110.000 - Rp 120.000.Di atas pil-pil pink ini ada yang disebut "white doft" dengangambar burung penguin. Pil yang tidak lebih besar dari biji saga inidisebut-sebut mampu melipatgandakan kekuatan dan daya khayal.

"Kalau kepalanya sudah goyang-goyang ke kiri-kanan, seperti kuda lumping,itu tandanya white doft mulai bekerja," ujar Hengky (bukan nama sebenarnya), pengusaha muda yang setiap hari menenggak pil ini.Setingkat dengan "white doft" yang putih mungil ini ada lagi"white rose."

Sedang di atasnya beredar "purple," dengan warna ungukehijauan. Harganya berkisar Rp 150.000 - Rp 175.000. Jika wanita menenggak pil ini, tubuhnya segera terangsang.Namun yang paling dahsyat dari semua pil itu adalah "megatron."Harganya berkisar Rp 175.000 - Rp 200.000.

Pil yang besarnya mirip merica dan berwarna cokelat ini, sanggup mengubah bawah sadar si pemakai. Di tengah deru musik metal di ruang diskotek, pil ini mampumembuat si pengguna kehilangan malu, hingga tidak segan-seganmenanggalkan buasana di tengah keramaian itu.

Pil-pil yang juga turunan amfetamin ini, dipasok dari ASatau negara-negara Eropa melalui Denpasar. Di negara asalnya,produksi pil ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi di rumah-rumah.Kekuatannya bisa berpuluh kali lipat heroin. Jika campuran kimianyadipadatkan reaksinya makin gawat.

"Kebanyakan pil ini digunakanbukan untuk psikhosa, tapi obat depresi," tutur seorang pemakai."Saya kesal makan kertas itu. Soalnya jadi pengen ketawaterus," ujar Raly (bukan nama sebenarnya), bandar ecstasy dibeberapa diskotek.

Kertas yang lebarnya hanya 1 x 1 cm ini dicampurdengan LSD, satu jenis narkotik paling berbahaya. Kemudian dikunyahterus hingga ludes.Raly yang suka hanya mengenakan singlet, dengan lincah berlarike sana ke mari di tengah keramaian pengunjung diskotek. Pemuda inimerasa dirinya sebagai wanita paling anggun dan cantik di tengahratusan manusia.

"Saya bukan dealer. Itu keliru yang menyebut sayademikian. Saya ini 'kan apoteker, nah kalau dia dokternya," ujarnyasambil tertawa-tawa. Maksudnya, dialah yang mengeluarkan obat atasresep pria yang disebutnya "dokter" itu.

DI suatu diskotek dua pria gondrong duduk santai. Sebentar-sebentar ada rekannya datang kemudian berbisik. Setelah itu iamenyerahkan ecstasy. Tidak jauh dari meja ini, 4 orang pria bertubuhkekar, mengamati anak-anak muda yang sedang ajojing. Beberapa kalibandar ecstasy menyapanya.

Tidak begitu jelas apakah ini pengawalnyaatau apa. Yang pasti transaksi ecstasy di sini berjalan lancar."Bandar di diskotek di kawasan Kuningan bekingnya kuat, anakorang berkuasa. Mana berani kita masuk ke sana," ujar Belok.

Seperti umumnya kejahatan terorganisir, jaringan penjualan ecstasy inimempunyai mata rantai yang panjang, bahkan hingga ke mancanegara.Dan mereka juga dilindungi beking, termasuk para preman.

"Kami juga tidak menghendaki pecandu obat itu di sini. Hanya saja 'kan tidak mungkin kita geledah setiap tamu yang datang," ujarKT Budiman, manajer operasi M Club, beberapa waktu lalu.

Apalagi pada malam Minggu jumlah pengunjung bisa sampai 3.000 orang. "Pusingsaya memikirkan ini semua," tambahnya.

Serse Polda Metro Jaya jugapernah berulang kali menggeledah pengunjung yang kelihatan super"teler" di sini.

Sementara itu pemilik diskotek Terminal I, Letty, ketika dihubungi secara terpisah membantah adanya kemungkinan pihaknya terlibat dalam perdagangan obat berbahaya itu."Saya paling benci obat-obat bius. Oleh karena itu di setiap tempat hiburan saya selalu menempatkan dua orang polisi berpakaian preman untuk mengawasi tamu yang datang," jelasnya.

Beberapa waktu lalu salah satu diskotek milik pengusaha muda ini digerebek polisi karena mempekerjakanwanita-wanita usia belasan tahun sebagai prostitusi. Kasusnya akanditeruskan ke meja hijau.

Wakil Ketua DPRD DKI, H Ismunandar terperanjat ketika ditanyakan masalah ini. Ia mengimbau pengusaha agar jangan hanyapikir keuntungan. "Korban seperti ini 'kan anak-anak muda. Kalaupengusaha membiarkannya demikian, atau malah memanfaatkan situasidemikian untuk cari untung, itu sudah keterlaluan. Tidak punya rasanasionalis lagi," ujarnya.

Ismunandar mengakui pengusaha tidak punya wewenang kuat untuk menghentikan aktivitas perdagangan obat ini di berbagai diskotek.Namun sedikit-dikitnya mereka bisa melaporkan ke petugas polisisetempat. "Saya jadi curiga melihat pengusaha hiburan yangmembiarkan situasi demikian," tambahnya.

Wakil rakyat ini mengimbauagar instansi terkait membekukan, atau kalau perlu mencabut, izinusaha tempat hiburan demikian.Pihak Tramtib (Ketenteraman dan Ketertiban) DKI belum bisa dihubungi menyangkut soal pengawasan terhadap berbagai tempathiburan di DKI. Kepala Kantor Tramtib DKI, Kusaeini, tidak berada ditempat karena sedang ikut penataran Santiaji.

Berbarengan dengan mata hari terbit, anak-anak muda di sejumlah diskotek larut dalam dunianya. Kepala mereka digeleng-gelengkan kekiri-kanan, sementara satu atau dua jarinya mengikuti gerak yangsama di depan wajahnya.

Mereka fly seharian, menghamburkan uang danseks. Kehidupan malam dan siang hari berada pada dataran garis yang sama. (win/bar/ir/ksp/wis/agus mulyadi).

Kebebasan untuk Zarima

KOMPAS - Kamis, 22 Oct 1998 Halaman: 15 Penulis: MUL/TRA Ukuran: 3214

KEBEBASAN UNTUK ZARIMA

"HATI-HATI Rima. Jangan lupa kami," teriak beberapa narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Tangerang, sambil melambaikantangan mereka ke arah Zarima binti Mirafsur (26). Gadis berkulit kuning bersih itu sambil tersenyum balas melambaikan tangan, sambil terus melangkah menuju pintu keluar LP Wanita.

Hari Rabu (21/10), tepat pukul 10.12 WIB Zarima resmi menginjak"tanah kebebasan" di luar pintu kompleks LP Wanita. Hari itu Zarima,yang diringkus petugas Polres Tangerang tahun 1996, karena menyimpan29.677 butir ecstasy di rumahnya, di kawasan Jakarta Barat, mendapatpembebasan bersyarat dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Depkeh.

Dengan pembebasan itu, ia tidak perlu menjalani penuh pidananya selama empat tahun, sampai akhir tahun 2000, seperti yang dijatuhkan majelis hakim PN Jakbar, Juni 1997.Walau bebas, Zarima tetap wajib lapor ke kejaksaan. Kalau dalam masa "pemantauan" sampai Oktober 2001ia melakukan pelanggaran pidana, sisa hukumannya harus dijalani.

Kepala LP Wanita Tangerang, Susy Marliana minta Zarima memahami pengertian pembebasan bersyarat itu secara sungguh-sungguh, sehingga tidak perlu lagi meringkuk di balik jeruji besi."Selama di sini, ia berkelakuan baik. Zarima juga sudah menjalani dua pertiga pidananya.Dia memenuhi syarat untuk mendapatkan pembebasan bersyarat, walaupun masih gamang, karena mendapat sorotan masyarakat," tuturnya.

Penasihat hukum Zarima, OC Kaligis, mengingatkan kliennya untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Tetapi ia juga berharap, masyarakatbisa menerima Zarima dengan sepenuh hati, tanpa stigma masa lalunyayang tidak menyenangkan."Zarima masih membutuhkan bimbingan. Namun ia kini semakin berdisiplin," tuturnya.

SEBUAH mobil Mercy warna perak metalik, bernomor polisi B 1088FP membawa Zarima dan keluarganya meninggalkan LP Wanita Tangerang.Sebelum pulang, mereka sempat mampir ke Kantor Pengacara OC Kaligis.

Di sini sejak Agustus lalu, Zarima menjalani asimilasi (bekerja diluar LP). Ia diberi gaji Rp 500.000 per bulan.Menikmati kebebasan itu, Zarima terlihat berbinar. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum, bukan saja kepada wartawan yang sejak pagimenunggu di LP Wanita Tangerang, tetapi juga kepada aparat KejaksaanNegeri Tangerang yang mengurusi surat pembebasan bersyarat.

"Saya senang. Saya akan menikmati dahulu kebebasan ini di rumah bersamakeluarga," papar Zarima.

Ia berjanji tak ingin kembali ke penjara, meski dari situ banyakpelajaran yang dipetik. "Selama di dalam tahanan, saya ambil hikmahnya.Di tahanan, saya selalu shalat lima waktu, dan diajarkan hidup disiplin.Seperti untuk makan harus dimulai dan berakhir saat bel berbunyi.Pertama di tahanan memang berat, tetapi selanjutnya tidak," tuturnya.

Salah satu barang bawaan yang dibawa Zarima dari tahanan adalah uang tabungannya sebesar Rp 5.431.000. Uang itu tabungan serta upahZarima selama bekerja di kantor OC Kaligis. (agus mulyadil/tra)

Teksfoto:Kompas/tra
SENYUM ZARIMA - Dengan tersenyum, Zarima mengurus persyaratan untuk kebebasan bersyaratnya.

Aksi Pelarian Tiga Narapidana Perempuan dari LP

KOMPAS - Minggu, 03 Dec 2000 Halaman: 1 Penulis: mul Ukuran: 5734

AKSI PELARIAN TIGA NARAPIDANA PEREMPUAN DARI LP

BAK adegan film, tiga perempuan yang mendekam di bui gara-gara kasus narkotika dan psikotropika, secara perlahan-lahan menggergajiterali besi kamar tahanan mereka. Setiap kali seorang dari mereka menggergaji, dua narapidana lainnya mengawasi bagian luar ruangtahanan agar tidak ketahuan oleh penjaga.

Aksi dengan gergaji besi itu dilakukan setiap saat, sejak Rabu(29/11), pada waktu-waktu yang mereka anggap aman.Ketekunan tiga perempuan yang mendekam di ruang tahanan Blok A LP (LembagaPemasyarakatan) Wanita Dewasa Tangerang di Jalan TMP Taruna, KotaTangerang, itu membuahkan hasil. Pada Kamis malam batang besi selesaidigergaji dan tinggal dibengkokkan.

Ketiganya, Rani Andriyani (25), Maya (40), dan Angel (30),bernafas lega. Mereka tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membengkokkan dan mematahkan batang terali besi itu, serta menyelinap keluar.Sejak beberapa minggu sebelumnya mereka mengumpulkan untaian nilon sedikit demi sedikit untuk dibuat tali. Nilon itu mereka ambil saat mengikuti pendidikan keterampilan di dalam LP Wanita.

Rani Andriyani, narapidana yang divonis hukuman mati olehPengadilan Negeri Tangerang pada 22 Agustus 2000, adalah seorang penyelundup heroin dan kokain. Dia dibekuk di kawasan BandaraSoekarno-Hatta pada 12 Januari 2000, ketika hendak terbang ke London,membawa 3,5 kilogram heroin dan tiga kilogram kokain.

Rani ditangkap polisi bersama dua saudara sepupunya, Meirika Franola dan Deny SetiaMaharwan, yang akhirnya juga dihukum mati dalam kasus yang sama.Setelah lepas dari tahanan polisi, Rani mendekam di LP WanitaTangerang, hingga kini.

Sedangkan Angel dan Maya, juga terlibat kasus narkotika danpsikotropika. Angel telah dijatuhi hukuman 18 bulan penjara, karena memiliki putaw. Maya divonis hukuman delapan tahun penjara, karenatersangkut kasus ecstasy.

Dua wanita bertubuh langsing itu, menurut seorang petugas LP Wanita Tangerang, baru sekitar dua bulan menempati selnya di Tangerang. Sebelumnya mereka mendekam di LP WanitaPondokbambu, Jakarta Timur.

ENTAH ide siapa, tiga narapidana perempuan memilih waktu kabur pada sekitar usai makan sahur dan shalat Subuh. Pertimbangannya mungkin bahwa semua penjaga LP pada malam itu sudah kekenyangansetelah makan sahur sehingga mengantuk, atau telah sampai pada puncakkantuknya setelah berjaga sejak pukul 18.00.

Rani, Maya, dan Angel, segera membengkokkan terali besi yang mereka gergaji. Satu per satu perempuan-perempuan perkasa, berani,dan cerdik, itu menyelinap di sela terali besi yang dibengkokkan, dansegera menuju ke menara pos jaga nomor dua, di bagian belakang LP.Dari menara pos jaga yang kosong tanpa penjaga itu, satu per satu mereka menuruni pagar tembok LP setinggi lima meter, dengan bantuan tali nilon.

Namun malang bagi Rani, karena dia jatuh terduduk. Akibatnya,sakit luar biasa segera menderanya. Kelak ketahuan kalau tulang pinggangnya patah atau saling berhimpitan. Rani akhirnya ditinggal pergi oleh Maya dan Angel.

Aksi tiga narapidana perempuan itu baru diketahui penjaga LP Wanita setelah Rani berteriak meminta tolong."Saya ingin pulang. Saya kangen sama orang tua dan saudara," ujarRani dengan berlinangan air mata, usai menceritakan kisahnya di ruangIGD (instalasi gawat darurat) RSU Tangerang, Jumat siang.

Kerinduan Rani, anak sulung pasangan Neni dan Andi, semakin menguat ketika memasuki bulan suci Ramadhan ini. Dia ingin kembali merasakan makan sahur dan berbuka puasa, bersama ayah, ibu, dan duaadik kandungnya, di rumahnya di Jalan Moch Yamin, Cianjur, JawaBarat.

Hingga Sabtu (2/12) siang belum diketahui siapa yang mendalangi pelarian itu. Juga belum diketahui asal gergaji besi tersebut.Seandainya gergaji berasal dari tamu yang mengunjungi mereka, kenapa bisa lolos dari pengecekan petugas LP Wanita?Belum diketahui pula apakah pelarian itu dibantu pihak lain.

Pada waktu pelarian berlangsung, LP dijaga oleh 11 petugas.Sebagian adalah petugas laki-laki yang berjaga di pagar bagian dalam.Sebagian lain para sipir wanita, bertugas di dalam blok-blok penjara.Empat menara pos jaga di empat sudut LP Wanita seluas 1,6 hektar itu,diduga tidak ditempati penjaga.

"Kami selama ini memang kekurangan orang, untuk mengawasi 211 narapidana dan tahanan di LP Wanita," ujar seorang petugas LP saat menjaga Rani di RSU Tangerang.

Kepala LP Wanita Tangerang hingga Sabtu siang tetap sulit ditemui. Petugas LP semuanya menolak kedatangan Kompas dan wartawan lain, dengan menanyakan apakah membawa surat izin dari Kanwil DepkehDKI Jakarta.

Menurut informasi, Kepala LP Wanita dan semua penjaga yang bertugas pada malam pelarian narapidana, sudah diperiksa atasan mereka dari Departemen Kehakiman.Kaburnya tiga narapidana perempuan dari ruang penjara mereka,mengagetkan petugas LP Wanita.

Menurut seorang petugas LP Wanita,selama 17 tahun dia bertugas di LP itu, baru kali ini ada kasus pelarian narapidana.

"Kami tidak menduga sama sekali. Selama ini kami percaya tidakbakal ada yang kabur, karena mereka semuanya perempuan. Kelengahankami rupanya dimanfaatkan Rani, Maya, dan Angel," ujarnya.

Pelarian yang cukup menggemparkan itu, diduga bisa terjadi terutama akibat lengahnya petugas LP Wanita Tangerang. Mereka terlenaoleh adem-ayemnya penghuni LP selama ini.Kepolisian Resor Tangerang hingga Sabtu sore, belum mampu melacak keberadaan Maya dan Angel, yang tengah menghirup "udara bebas"-nya.(agus mulyadi)
KOMPAS - Minggu, 11 Mar 2001 Halaman: 26 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 9748

DARI JAKARTA NARKOBA MENGALIR

JAKARTA masih menjadi kontributor terbesar pasokan narkoba danpsikotropika di Indonesia. Bahkan Jakarta kini bukan cuma menjadipasar dan distributor barang laknat itu ke berbagai daerah, tetapijuga sudah naik peringkat sebagai produsen dan eksportir ecstasy.

PIHAK kepolisian memperkirakan 1,3 juta warga Jakarta adalahpemakai narkoba dan psikotropika. Walaupun tanpa bukti demografi,sebuah organisasi yang menamakan diri LSM Program Penanggulangan danPemberantasan Penyalahgunaan Narkoba, malah melontarkan dugaan lebih mengejutkan, yaitu sekitar 3,4 juta atau 25 persen warga Jakartapernah memakai narkoba, 85 persen di antaranya pelajar dan mahasiswa.

Dengan konsumen begitu besar, pasokan narkoba yang masuk keJakarta memang luar biasa besar. Yang tertangkap dari sekali usahapenyelundupan di bulan Januari saja, polisi menyita 1,3 ton ganjaserta 6,8 kilogram heroin.

Bayangkan yang tidak tertangkap danberedar di pasar. Pintu masuk yang paling sering dipakai adalahBandara Soekarno-Hatta.Seorang pejabat Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) BandaraSoekarno-Hatta mengakui, penyelundupan heroin, morfin, dan ecstasy,dilakukan sindikat internasional.

"Pelakunya bekerja untuk jaringan internasional yang sangat kuat," kata pejabat yang tidak mau disebut namanya, dengan alasan keamanan keluarganya.

Jaringan pengedar narkotika dan psikotropika internasional itu mempunyai ciri-ciri antara lain, organisasinya rapi, tahu pasar, dan tingginya pemakai di Indonesia. Ciri lain, mereka tahu siapa yangakan menerima heroin, morfin atau ecstasy dan shabu di Indonesia.

Penyelundup umumnya pernah ke Indonesia atau tinggal di Indonesia.Dalam kasus penyelundupan di bulan Januari lalu, misalnya, parapenyelundup datang menggunakan pesawat dari Lahore dan Karachi(Pakistan). S

ebelumnya, mereka menempuh perjalanan dari Bangkok langsung ke Jakarta, atau transit terlebih dahulu di Singapura."Tidak mungkin para penyelundup itu melakukannya sendiri-sendiri.Mereka pasti berasal dari satu jaringan internasional yang sangatkuat. Apalagi mereka datang dari negara yang jauh dari Indonesia,seperti negara-negara Afrika," katanya.

Untuk memasukkan barang ke Indonesia, para penyelundup biasanyamemakai warga Nigeria dan Nepal, serta dari beberapa negara Afrikalain, seperti Zimbabwe dan Angola, atau warga Indonesia sendiri.

Ciri lain jaringan internasional ini adalah cara penyelundupan yangdilakukan. Salah satunya adalah dikenal dengan nama shot gunning.Penyelundupannya dilakukan dengan cara memasukkan banyak penyelundupdalam kurun waktu pendek. Dengan cara seperti itu diharapkan ada diantaranya yang berhasil.

Shot gunning misalnya terjadi pada 28, 29, dan 30 Januari 2001lalu. Ketika itu, secara berturut-turut terjadi tiga kali upayapenyelundupan heroin ke Indonesia. Beruntung petugas KPBC Soekarno-Hatta I jeli, sehingga tiga kali penyelundupan heroinseberat 2.600 gram (2,6 kilogram) dapat digagalkan.

Modus operandi yang dilakukan tiga penyelundup itu pun sama,dengan cara menyembunyikan heroin di dalam perut (ditelan atauswallower). Sebelum ditelan, serbuk putih heroin dimasukkan terlebihdahulu ke dalam butiran-butiran kapsul sebesar kepompong ulat sutra.

Para penyelundup yang gagal antara lain, Zwelibanzi Manana (37) warganegara Afrika Selatan, Hansen Anthony Nwaolisa (33) warga negaraNigeria, dan Ozias Sibanda (33) warga negara Zimbabwe.Beberapa hari sebelumnya 20 Januari 2001, seorang warga negaraNepal Indra Bahadur Tamang (21), juga mencoba menyelundupkan 900 gramheroin dengan cara menelannya.

Seorang warga Nigeria, SamuelIwuchukwu Okeye pada 9 Januari 2001, mencoba pula menyelundupkan 3,8kilogram heroin yang disembunyikannya di dalam tas.Kelima penyelundup heroin itu, kini mendekam di tahanan Markas Besar Polri.

Analisa profil
Pemeriksaan isi perut dengan sinar-x (rontgen) itu, merupakanprosedur standar yang dilakukan petugas KPBC Soekarno-Hatta I. Sebelum seseorang diperiksa, sebelumnya dilakukan analisa profil terhadap para penumpang pesawat yang baru tiba di bandara.Jika petugas KPBC mencurigai seseorang, pemeriksaan segera dilakukan.Tidak hanya barang bawaan yang diperiksa, tetapi juga isi perutnya.

Dengan analisa profil, selama ini banyak kasus penyelundupan bisa digagalkan. Melalui cara ini, petugas KPBC mengamati para penumpangyang baru turun dari pesawat."Biasanya orang yang membawa barangterlarang, apalagi ke negara lain, akan bertingkah laku kurang wajar.Kadang dia terlihat tegang. Kalau melihat orang seperti itu, petugasKPBC segera memeriksanya," ujar pejabat KPBC I.

Selain analisa profil, pengamatan terhadap penumpang pesawat yangbaru tiba di bandara, antara lain dilakukan pula dengan alat pemantaumonitor dan sinar-x. Jika ditemukan benda mencurigakan, isi tas dantubuh penumpang pun diperiksa.

Upaya penyelundupan narkotika dan psikotropika dengan berbagaicara menyebabkan petugas KPBC I yang berjumlah 307 orang pun kini semakin waspada . Untuk mengelabui petugas, penyelundup tidak segan-segan mencobanya dengan cara yang membahayakan diri sendiri, sepertidengan cara menelannya itu. Cara itu berisiko kehilangan nyawa jikakapsul yang berisi heroin pecah di dalam perut.

Pemasaran berjenjang
Jika lolos masuk Jakarta, komoditas narkoba beredar secara berjenjang, untuk mencegah dan menghindari kejaran polisi. Jaringanpemilik narkoba, biasanya mempercayakan beberapa bandar atauBD-biasanya empat atau lima bandar-yang memiliki kerja dan wilayahoperasi berlainan.

Bandar pertama, hanya mengatur masuknya "pasokan" dari luar negeri, untuk kemudian mendistribusikan ke hotel-hotel besar atau apartemen mewah di sekitar Jakarta.Sesuai perannya, biasanya bandarpertama dilakukan orang-orang keturunan Tionghoa.Kabarnya di Jakarta hanya ada 4 bandar pertama, semuanya praktis untouchable, karena dilindungi tukang pukul, pengacara atau bahkanoknum aparat keamanan.

Pada tingkat ini pula biasanya diatur pasokanuntuk daerah di luar Jakarta, tergantung kesepakatan antara BD1 yangtersebar di Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau Bali.

Selanjutnya, pasokan akan disebar lagi oleh bandar BD2, yang jugaberoperasi dari hotel ke hotel berbintang tiga atau kawasan perumahan. Sama seperti kurir yang membawa narkoba dari luar negeri,para BD2 ini kebanyakan berasal dari negara-negara Afrika. Sedangkan penerimanya adalah BD3 yang beredar di beberapa hotel di kawasanKota, Tanah Abang atau Jalan Jaksa, Menteng.

Polisi biasanya cuma mampu menjerat pengedar pada tingkat BD2 ini saat bertransaksi denganpara BD3.Barang-barang dari BD2 biasanya disebar lagi oleh para BD3, yang umumnya warga Indonesia.

Mereka menyebarkan narkoba lewat pesanan telepon, atau kepada pengecer atau BD4 yang umumnya telah mereka kenal. BD4 inilah yang bersinggungan secara langsung dengan konsumen,atau pengecer kelas teri untuk kawasan perkampungan.Ekspor dan imporUpaya penyelundupan narkotika dan psikotropika melalui BandaraSoekarno-Hatta belakangan ini tidak hanya terjadi untuk yang impor.

Tetapi juga ekspor atau persisnya penyelundupan ke luar negeri.Penyelundupan keluar dilakukan pertama kali pada 26 September1999 oleh seorang warga Singapura, Kow Mui Hat alias Gao Meita (34).Sebanyak 5.852 butir ecstasy produksi dalam negeri ketika itu hendakdiselundupkan ke Taiwan.

Ekspor ecstasy menandai mulai pintarnyajaringan pengedar di Indonesia, yang mampu memproduksinya sendiri.Salah satu ekspor ecstasy ke Taiwan lainnya terjadi pada 24 Juli2000. Sebanyak 4.721 butir ecstasy buatan Indonesia, ketika ituhendak diselundupkan oleh Ceng Ching Lung (30), warga negara Taiwan.

Ceng kini mendekam di penjara, setelah dijatuhi hukuman penjara empattahun di Pengadilan Negeri Tangerang, Desember lalu.Upaya menyelundupkan heroin dan kokain ke luar negeri, pernah dilakukan pula oleh tiga bersaudara warga negara Indonesia yaituMeirika Pranola (30), Rani Andriani (25) dan Deni Setia Maharwan(28).

Ketiganya telah dijatuhi vonis hukuman mati, juga olehPengadilan Negeri Tangerang Agustus 2000, karena terbukti menyelundupkan 3,5 kilogram heroin dan tiga kilogram kokain, dengantujuan London.Pada tahun 2000, empat warga negara Nepal, Nar Bahadur Tamang(59), Bala Tamang (30), Til Bahadur Badhari (32), Bahadur Gurung(24), dan seorang warga negara Angola, Thomas Daniel (40), jugadivonis hukuman mati karena menyelundupkan heroin ke Indonesia.

Keuntungan berlimpah yang diperoleh dari penyelundupan, terus mendorong penyelundup lain mencoba melakukannya. Terlebih lagi, jika barang yang diselundupkan adalah miliknya sendiri, keuntungannya berlipat ganda.Para penyelundup yang berhasil dibekuk petugas KPBC Soekarno-Hatta I umumnya mengaku hanya sebagai kurir dengan dijanjikanmendapat sejumlah imbalan. Salah seorang penyelundup heroin yangdibekuk Januari 2001, Hansen Anthony Nwaolisa, mengaku mendapatkan upah 2.000 dollar AS dari orang yang menyuruhnya. (Agus Mulyadi)

Kematian Alda, Fenomena Gunung Es Narkoba

KOMPAS - Minggu, 17 Dec 2006 Halaman: 4 Penulis: amr; mul Ukuran: 3961 Foto: 1

Kriminalitas
KEMATIAN ALDA, FENOMENA GUNUNG ES NARKOBA

Diskotek masih dihinggapi stigma negatif: kelas sosial rawanpsikotropika, narkotika, dan obat-obatan berbahaya. Di situ berkumpulgenerasi penerus bangsa, segmen pasar paling potensial untukdijadikan klien para pengedar ekstasi, sabu, dan sebagainya.Liputan media begitu hebat melaknat barang haram itu, terutamapascakematian artis Alda Risma Elfariana (24) yang meninggal diduga akibat overdosis narkoba, Selasa (12/12).

Kehidupan malam yang bebasmelawan nilai-nilai konvensional turut dihujat.Dampaknya, masyarakat malam diperkirakan berkurang anggotanyakarena shock dan tersadar betapa kehidupan bebas, narkoba, dankematian amatlah tipis batasnya. Setidaknya mereka akan cooling down.

Namun, di diskotek-diskotek di Jakarta, misalnya dua diskotek diJalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk, JakartaBarat, dugaan itumeleset. Di dua tempat itu pada Sabtu (16/12) dini hari kehidupanjustru baru dimulai, melepas penat kota dengan iringan musik yangbisa bikin ekstase. Didominasi muda-mudi, suasana malam terasa makin"panas".

Mereka yang memuja keindahan tubuh, merayakan hidup hampir tiapmalam dengan cara yang tak pernah sempat dipikirkan para guru mereka.Mata memejam, bibir terkatup, kepala bergoyang-goyang, kadang-kadang seolah berputar.Karena ini bukan bursa saham, fluktuasi komunitas ini takterpengaruh oleh berita terkini kematian Alda.

Uniknya, ekonomi sekitar justru berputar cepat.Toko swalayan dan pedagang kaki lima tak pernah tidur melayani pelanggan. Tak bisa dimungkiri, tempat seperti ini penting menjadi salah satu seltransaksi ilegal.

Misalnya, Jumat (15/12) malam, aparat Direktorat Narkoba PoldaMetro Jaya menemukan 4.000 butir ekstasi di Jakarta Barat. Dan diJakarta Pusat ditemukan 1.000 butir ekstasi.Kasus ini menambah daftar barang bukti yang disita selama 2006(hingga Oktober) sebanyak 180.498 butir ekstasi; 1,12 juta gram sabu;597.641 butir obat daftar "G"; dan ganja mencapai angka mengesankan,9,9 juta gram (Data Badan Narkotika Nasional atau BNN).

Remaja memang mendominasi penggunaan narkoba. Remaja itu adalahpelajar SD (malah bisa disebut anak-anak) hingga SLTA. Tahun 2006(hingga Oktober), pengguna SLTA mencapai 14.971 orang, SLTP 4.736orang, dan SD 2.260 orang. Dari mahasiswa, 536 orang.

Kasus Alda
Kasus Alda adalah fenomena gunung es. Alda, satu dari 5.743 orangusia 20-24 tahun yang terlibat narkoba. Atau hanya satu dari 22.503pengguna narkoba tahun 2006."Jumlah ini bisa bertambah karena dataini baru sampai Oktober," ungkap Pranowo Dahlan, Sekretaris PelaksanaHarian BNN.

Tragisnya, Alda masuk jajaran satu dari 40 orang yang meninggaltiap hari karena narkoba. Hari itu, kata Pranowo, selain Alda, masih ada 39 orang meninggal. Ironisnya, kondisi ini nyaris dianggap "lumrah".

Kematian Alda yang menyentak publik menjadi peringatan aktualuntuk mengingatkan bahaya narkoba. Pesan yang ditangkap bukan sekadarjangan sekali-kali check-in di hotel dengan pengedar walaupun diabaik.

Lebih dari itu, jangan sekali-kali mendekati narkoba!Sayangnya, momentum ini tak bisa digunakan baik oleh polisi untukmenggeber kasus narkoba. Polisi belum bisa memainkan public relationyang baik.

Derap informasi tak mampu mengantar polisi profesionaldalam menyampaikan berita kepublik. Hasilnya justru kontraproduktif,selain publik tak mendapatkan haknya, bisa jadi ada yang jadi korbankarena berbagai spekulasi berita.

Media menempatkan mereka bak artis, diuber untuk jadi narasumber.Namun, berita masih berkembang penuh rumor, padahal bisa dicegah jikapolisi mengerti informasi itu bisa menjadi edukasi efektif. KematianAlda, dan 39 orang lainnya per hari itu, harus bisa memberi edukasi kepada kita. (AMIR SODIKIN/AGUS MULYADI)Foto: 1STUDIO MALIBU 62Alda

Dikonsumsi di Kota Hingga Tepi Hutan

KOMPAS - Rabu, 04 Jun 2003 Halaman: 31 Penulis: b04; mul Ukuran: 9633 Foto: 1

DIKONSUMSI DI KOTA HINGGA TEPI HUTAN

KEPALA pria dan wanita di ruang salah satu diskotek di KotaPalembang, Sumatera Selatan (Sumsel), bergoyang-goyang ke kiri dan kekanan. Gerakan mereka tidak beraturan, tetapi seperti mengikuti ingar-bingar musik yang menggelegar di ruangan itu.

Suara musik yang terasa mengentak jantung dan memekakkan gendangtelinga tersebut seolah menyatu dengan mereka. Mata para pejoget,baik yang duduk maupun berdiri di lantai diskotek, sebagian besarterlihat terpejam.

"Mereka semua lagi on karena pengaruh ecstasy. Biasa lah, tiapmalam Minggu, ya, seperti itu," ujar salah seorang pengunjung yangbaru memasuki arena diskotek tersebut.

Diskotek yang terletak di lantai lima Hotel King di Jalan KolonelAtmo, Palembang, itu dipadati pengunjung. Semua bangku pada Sabtumalam itu penuh terisi. Di setiap bangku, umumnya, terdapat pasanganpria dan wanita.

Di dalam ruang diskotek yang memasang tarif masuk Rp 25.000 perorang tersebut terdapat pula satu ruangan khusus persis di depantoilet pria. Di dalam ruangan yang bagian depannya berdinding kacatersebut terdapat sejumlah wanita yang bisa menjadi pendampingpengunjung pria. Tarif mereka Rp 40.000 untuk tiap jamnya.

Mata terpejam, kepala bergoyang-goyang, dan dentuman musik bisadilihat dan dirasakan pula di diskotek lain di Hotel LembangPalembang.Diskotek yang memasang tarif masuk Rp 15.000 per orang tersebutlebih luas. Pengunjungnya pun lebih beragam karena banyak pula diantara mereka berasal dari kalangan anak baru gede (ABG).

Pengunjung dari kalangan ABG bisa dilihat pula di Diskotek PuriIndah di Jalan Tasik, Palembang, yang memasang tarif masuk Rp 10.000per orang. Kelakuan pengunjung di diskotek ini pun sama seperti duadiskotek lain, yakni bergoyang dan berjoget di bawah pengaruh ecstasy.

Keriuhan pengunjung ABG yang paling mencolok terdapat di diskotekHotel Princess dan Mega Bintang di kompleks Hotel Darma Agung,Palembang. Bahkan di Mega Bintang, ruangan diskotek selalu penuhsesak pengunjung.Diskotek yang memasang tarif murah meriah, Rp 5.000, pada Minggusore terlihat dipenuhi pengunjung ABG pria dan wanita.Semuanya terlihat bergoyang dalam iringan dentuman irama housemusic yang memekakkan telinga.

Mereka seperti tidak peduli denganyang lain kecuali bergoyang sesuka hati mengikuti irama musiktersebut.House music dan ecstasy seperti menjadi bagian dari kehidupanremaja Palembang!

NUN jauh di lokasi lain yang letaknya hampir 400 kilometersebelah barat Palembang, dentuman ingar-bingar irama house musicterdengar jelas pula dari dalam gedung di tepi hutan itu. Irama musikyang mengentak jantung dan serasa memecahkan gendang telinga itu punmengiringi pria dan wanita yang berada di dalam ruangan asal suarauntuk berjoget.

Lokasi gedung tempat kegaduhan irama musik tersebut terletakdi Kampung Patok Besi. Kampung yang terletak di tepi hutan yangdilintasi Jalan Lintas Tengah Sumatera tersebut merupakan lokalisasipelacuran yang termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Sumber Agung, KotaLubuk Linggau.

"Tiap malam, terutama malam Minggu, tempat ini selalu ramaipengunjung. Mereka umumnya pengunjung yang memang suka main ke tempatpelacuran ini," ujar seorang sopir angkutan kota yang mengantarKompas ke lokalisasi itu.

Pengunjung diskotek di lokalisasi tepi hutan itu pun sama sepertitempat lain, menikmati entakkan musik di bawah pengaruh ecstasy atauyang biasa disebut kalangan pemakainya dengan nama inex.

"Di Lubuk Linggau sini gampang mas nyari ecstasy. Barang itutidak hanya mudah didapat di kota besar saja," katanya.

Jauh di selatan sana melewati batas Provinsi Sumsel, yakni diProvinsi Lampung, ecstasy juga bebas beredar di kalangan pengunjungdiskotek yang ada di kawasan Jalan Yos Sudarso.

Rentang jarak sekitar900 kilometer antara Lubuk Linggau dan Bandar Lampung tak mampumembuat perbedaan di kalangan pengunjung tempat hiburan tersebut.Meskipun dipisahkan jarak teramat jauh, sebagian pengunjungdiskotek di Lubuk Linggau dan Bandar Lampung sama-sama mencarihiburan di bawah pengaruh ecstasy.

Di Diskotek Meteor Garden di JalanYos Sudarso, Bandar Lampung, dengan mudah seorang pengunjung dapatmencari "pil gembira" tersebut.Pengunjung bisa memesan ecstacy melalui perantara pramuria ataupengunjung wanita yang bisa diajak untuk menemani minum. "Kalau mau nginex, saya kenalkan dengan teman saya," kata Lindy, seorangpramuria.

Sebentar kemudian, Lindy pergi dan kembali mengajak seoranglaki-laki muda yang mengaku bernama Anto."Mau berapa butir? Kalau micky mouse harganya Rp 70.000 perbutir," kata Anto menawarkan salah satu jenis ecstasy.

Anto jugamenyebut beberapa jenis lain dengan harga yang berbeda-beda."Mana uangnya, nanti saya ambilkan. Tunggu saja di sini, sayajamin barang saya bagus," demikian Anto merayu pengunjung yangberminat membeli ecstasy.

Butiran-butiran pil dengan bermacam-macam nama dan jenis sertaefek berbeda-beda bagi pemakainya tersebut bebas beredar di mana-mana. Ecstasy seperti telah menjadi bagian hidup sebagian warga,bahkan sampai ke pelosok Sumatera Selatan.

Butiran-butiran dengananeka warna yang kerap disebut pula pil setan itu sepertinya bebasdiedarkan dan dikonsumsi para pemakainya tanpa ada proteksi dariaparat kepolisian.

ECSTASY memang tidak lagi menjadi barang mewah dibandingkansekitar lima tahun lalu. Namun, bagi orang kebanyakan hargapsikotropika itu tetap di luar jangkauan.Saat ini, baik di Lubuk Linggau, Bandar Lampung, maupunPalembang, ecstasy dengan berbagai nama ditawarkan para pengedarnyadengan harga Rp 70.000-Rp 80.000 per butir.

Pil yang memberi efek gembira dan tidak mau diam bagi penggunanyatersebut dengan mudah dapat diperoleh di diskotek-diskotek yangterdapat di tiga kota itu. Bahkan bagi pendatang baru yang belummengenal isi perut diskotek tersebut, ecstasy bisa dengan mudahdidapatkan.

Para pramuria atau pengunjung wanita yang biasa mangkal didiskotek menjadi salah satu petunjuk atau pemberi jalan bagaimanamendapatkan ecstasy. Malahan mereka kadang merengek kepada pengunjunglaki-laki yang ditemaninya agar dibelikan ecstasy."Beli inex, dong, bang, sebutir saja. Aku bisa kok mendapatkannyadi sini," kata salah seorang pengunjung wanita di Diskotek Lembang.

Pengunjung wanita, sebut saja namanya Lili, itu menyatakan hargasebutir inex bermerek butterfly Rp 80.000. Maka ketika uang sejumlahitu diberikan kepadanya, Lili pun beranjak dari tempat duduk danmenuju ke arah pintu masuk diskotek.Tidak sampai lima menit kemudian dia telah kembali. Di antara ibujari dan telunjuk tangannya terjepit sebutir pil.

"Ini butterflybang," katanya.Dia pun lantas menenggak inex tersebut dengan air mineral. Dalamhitungan sekitar 20 menit kemudian, Lili telah bergoyang, berjoget.Kadang dia duduk, namun tetap menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiridan kanan.

Bebas dan begitu terbukanya peredaran ecstasy juga dengan mudahditemukan pula di Diskotek Mega Bintang. Sejak berada di pelataranparkir, barang haram itu sudah ditawarkan. Seorang pemuda yangrupanya biasa mangkal di lokasi itu tanpa rasa sungkan dan takutmenawarkan ecstasy kepada pengunjung yang baru turun dari mobil."Kalau mau inex ada bang, harganya Rp 70.000," ujarnya.

ABG dengan wajah pucat, mata kuyu, dan mulut terkatup atau tengahmengunyah permen karet keluar dari pintu yang terletak di lantaidasar Hotel Princess, yang menutup pentas diskotek pada pukul 17.30.Penampilan seperti itu tak bisa menyembunyikan pengaruh ecstasyyang masih bercokol dalam tubuh para remaja pria dan wanita tersebut.

Maraknya peredaran psikotropika jenis ecstasy di Palembang bahkanhingga Lubuk Linggau seperti menunjukkan tidak adanya upayapemberantasan oleh aparat kepolisian. Pada Sabtu malam, misalnya,polisi tidak melakukan razia ke diskotek-diskotek itu.Padahal, peredaran ecstasy sudah begitu mengkhawatirkan.

Dalamrazia mobil di Jalan Kapten A Rivai pada hari Sabtu (31/5) malam,misalnya, polisi membekuk pemilik ecstasy yang mobilnya terjaring.Pemberantasan narkotika, obat-obatan berbahaya, dan psikotropikaapakah hanya dilakukan secara kebetulan dalam razia seperti itu?

Menanggapi maraknya peredaran ecstacy di masyarakat, SosiologInstitut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Wijaya,mengatakan, hal itu terjadi karena masih lemahnya penegakan hukum,khususnya, dalam kasus-kasus narkoba.

"Meskipun sulit dibuktikan, faktanya ada sebagian penegak hukumjustru terlibat dalam mata rantai peredaran narkoba," kata Wijaya.

Selain itu, tingkat partisipasi masyarakat dalam pemberantasannarkoba masih rendah. "Ditambah, kesadaran masyarakat akan bahayanarkoba termasuk ecstasy juga masih sangat rendah," tambah Wijaya."Tidak ada gerakan nyata yang dilakukan untuk memberantasnya,"katanya.(B04/AGUS MULYADI)

Foto:prasetyo eko p

KELUAR DISKOTEK - Beberapa pengunjung salah satu diskotek diPalembang keluar dari tempat hiburan itu pada Selasa (3/6) dini hari.Sebelumnya mereka bersama ratusan pengunjung lainnya di tempat itutenggelam dalam irama house music. Saat menikmati musik riang itulah,hampir semua pengunjung diduga menenggak ecstasy.