Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Oktober 2008

Menunggu Longsor, Menunggu Korban Manusia!







Menunggu Longsor! Menunggu Korban Manusia!

Sejak lebih dari enam bulan lalu, badan jalan tol persis di gerbang keluar Veteran (Bintaro), disangga tumpukan karng berisi tanan/pasir. Itu dilakukan menyusul ambrolnya sebagian badan jalan itu saat musim hujan lalu.

Sebagai pengguna jalan tol Serpong-Bintaro-JORR yang hampir setiap hari keluar di gerbang tol Veteran, saya merasa khawatir dengan kondisi badan jalan tol yang disangga karung berisi pasir/tanah itu. Musim hujan sudah dekat, namun pengelola jalan tol belum melakukan perbaikan permanen.

Saat badan jalan tol sering diguyur hujan nanti, termasuk bagian yang disangga karung berisi pasir/tanah, pasti akan mudah longsor. Apalagi akan selalu ada getaran dari mobil yang melintas di jalan tol. Ketika terjadi longsor dan kebetulan saat itu ada mobil keluar di gerbang Veteran, tentu akan tertimbun. Korban manusia pun tentu akan muncul.

Apakah perbaikan harus menunggu bagian itu longsor? Apakah harus menunggu jatuh korban manusia? (agus mulyadi)

Rabu, 15 Oktober 2008

Penutup Drainase Ambrol Terus




Penutup Drainase Ambrol Terus


Pengguna jalan yang biasa melintasi kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan, sering terhambat kerusakan jalan di dua lokasi. Pertama lubang persis di perempatan jalan di samping kuburan, tidak jauh dari perlintasan KA. Lokasi kedua sekitar 40 meter di sebelahnya, persis di perempatan Jalan Bendi Raya. Di lokasi kedua ini lebih parah.




Telah beberapa kali jalan berlubang, karena penutup drainase di bawah jalan ambrol, tak kuat menahan kendaraan yang selalu ramai melintas. Padahal setahun ini saja, telah lebih dari dua kali beton penutup saluran itu ambrol. Beberapa hari ini, hingga Rabu (15 Oktober 2008) penutup drainase di bagian itu kembali berlubang. Ambrol lagi... ambrol lagi...




Ini mungkin karena kualitas perbaikan penutup saluran yang ambrol itu kurang bagus. Atau terlalu banyaknya kendaraan yang melintas menjadi penyebab? Ruas jalan itu mulai dari kawasan Bintaro dan Jalan Veteran, memang sepanjang hari selalu dipadati kendaraan. Ruas itu menjadi jalan utama pengendara yang datang dari Bintaro, serta Serpong, Pamulang, dan sekitarnya yang keluar melalui gerbang tol Veteran.




Gara-gara jalan kembali berlubang, arus kendaraan yang biasa macet kini semakin macet. Entah kapan perbaikan berkualitas, hingga bagian itu tidak berlubang lagi dalam waktu lama, akan dilakukan pemerintah DKI JAkarta. (agus mulyadi)

Rabu, 16 Juli 2008

Transaksi Ecstasy yang Transparan

KOMPAS - Selasa, 28 Mar 1995 Halaman: 1 Penulis: WIN/BAR/IR/KSP/WIS/MUL Ukuran: 7815

TRANSAKSI ECSTASY YANG TRANSPARAN

PEREDARAN ecstasy ternyata sudah merasuk jauh ke berbagaitempat hiburan di DKI Jakarta. Transaksinya bahkan sudah dilakukansecara terang-terangan di tengah keramaian khalayak. Tidak adarintangan bagi pengunjung diskotek untuk memperoleh pil maut ini.Malah ada kesan, ganja jauh lebih berbahaya ketimbang ecstasy.Apalagi selama ini yang dijaring hanyalah pengedar ganja. Padahal saat ini ganja bagi pengguna obat-obatan dianggap barang rongsokan.

"Kiriman yang warna cokelat belum tiba dari Bali. Seandainya Andacoba itu, nikmatnya bukan main. Kita melambung ke angkasa," ujarBelok (bukan nama sebenarnya), pengedar ecstasy di diskotek Terminal I di kawasan Glodok, Jakarta Barat.

Dalam semalam saja Belok bisa meraub kentungan jutaan rupiah.Harga ecstasy yang dibelinya di Bali Rp 40.000/butir, di Terminal laku dijual Rp 120.000-Rp 150.000. Beberapa malam lalu seorangpembeli langsung membayar kontan satu juta rupiah untuk 5 butir pilMegatron, jenis yang paling dahsyat.

Harga ecstasy tergantung pada jenisnya dan suasana pasar. Jikapembeli ramai, harga bisa dikatrol sampai 50 persen. "Masalahnyakiriman dari Bali belum datang, sedang stok sudah hampir habis,"ujar Bobon (bukan nama sebenarnya) di salah satu diskotek di kawasanBlok M.

Ia menawarkan ecstasy jenis white purple seharga Rp 130.000.Padahal biasanya harganya hanya berkisar Rp 100.000.Di berbagai diskotek saat ini jalur mata rantai ecstasy sangat transparans. Asal ada uang dan menyebut pilnya tidak keliru,sesegera itu pula transaksi dilakukan.

Atau lihatlah apa yang dilakukan Bobon. Ia memberi pil itu dalam kertas, kemudian menerima uangnya. Atau juga Belok yang sambil ajojing menerima segepok uang.DI kalangan anak-anak muda Ibu Kota sebutan ecstasy tidakpernah digunakan. Mereka menggunakan istilah "inex" dalam transaksipil berbahaya ini. Inex adalah plesetan kata "enak".

Saat ini harga berbagai ecstasy di pasaran diskotek di salahsatu gedung di Jl. Soedirman, atau di kawasan Kuningan sertapertokoan Blok M, berkisar Rp 80.000 - Rp 200.000.Untuk jenis paling murah disebut "pink tebal", warnanya merah jambu berbintik-bintik, harganya Rp 80.000/butir. Sedang "pink tipis" harganyaantara Rp 110.000 - Rp 120.000.Di atas pil-pil pink ini ada yang disebut "white doft" dengangambar burung penguin. Pil yang tidak lebih besar dari biji saga inidisebut-sebut mampu melipatgandakan kekuatan dan daya khayal.

"Kalau kepalanya sudah goyang-goyang ke kiri-kanan, seperti kuda lumping,itu tandanya white doft mulai bekerja," ujar Hengky (bukan nama sebenarnya), pengusaha muda yang setiap hari menenggak pil ini.Setingkat dengan "white doft" yang putih mungil ini ada lagi"white rose."

Sedang di atasnya beredar "purple," dengan warna ungukehijauan. Harganya berkisar Rp 150.000 - Rp 175.000. Jika wanita menenggak pil ini, tubuhnya segera terangsang.Namun yang paling dahsyat dari semua pil itu adalah "megatron."Harganya berkisar Rp 175.000 - Rp 200.000.

Pil yang besarnya mirip merica dan berwarna cokelat ini, sanggup mengubah bawah sadar si pemakai. Di tengah deru musik metal di ruang diskotek, pil ini mampumembuat si pengguna kehilangan malu, hingga tidak segan-seganmenanggalkan buasana di tengah keramaian itu.

Pil-pil yang juga turunan amfetamin ini, dipasok dari ASatau negara-negara Eropa melalui Denpasar. Di negara asalnya,produksi pil ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi di rumah-rumah.Kekuatannya bisa berpuluh kali lipat heroin. Jika campuran kimianyadipadatkan reaksinya makin gawat.

"Kebanyakan pil ini digunakanbukan untuk psikhosa, tapi obat depresi," tutur seorang pemakai."Saya kesal makan kertas itu. Soalnya jadi pengen ketawaterus," ujar Raly (bukan nama sebenarnya), bandar ecstasy dibeberapa diskotek.

Kertas yang lebarnya hanya 1 x 1 cm ini dicampurdengan LSD, satu jenis narkotik paling berbahaya. Kemudian dikunyahterus hingga ludes.Raly yang suka hanya mengenakan singlet, dengan lincah berlarike sana ke mari di tengah keramaian pengunjung diskotek. Pemuda inimerasa dirinya sebagai wanita paling anggun dan cantik di tengahratusan manusia.

"Saya bukan dealer. Itu keliru yang menyebut sayademikian. Saya ini 'kan apoteker, nah kalau dia dokternya," ujarnyasambil tertawa-tawa. Maksudnya, dialah yang mengeluarkan obat atasresep pria yang disebutnya "dokter" itu.

DI suatu diskotek dua pria gondrong duduk santai. Sebentar-sebentar ada rekannya datang kemudian berbisik. Setelah itu iamenyerahkan ecstasy. Tidak jauh dari meja ini, 4 orang pria bertubuhkekar, mengamati anak-anak muda yang sedang ajojing. Beberapa kalibandar ecstasy menyapanya.

Tidak begitu jelas apakah ini pengawalnyaatau apa. Yang pasti transaksi ecstasy di sini berjalan lancar."Bandar di diskotek di kawasan Kuningan bekingnya kuat, anakorang berkuasa. Mana berani kita masuk ke sana," ujar Belok.

Seperti umumnya kejahatan terorganisir, jaringan penjualan ecstasy inimempunyai mata rantai yang panjang, bahkan hingga ke mancanegara.Dan mereka juga dilindungi beking, termasuk para preman.

"Kami juga tidak menghendaki pecandu obat itu di sini. Hanya saja 'kan tidak mungkin kita geledah setiap tamu yang datang," ujarKT Budiman, manajer operasi M Club, beberapa waktu lalu.

Apalagi pada malam Minggu jumlah pengunjung bisa sampai 3.000 orang. "Pusingsaya memikirkan ini semua," tambahnya.

Serse Polda Metro Jaya jugapernah berulang kali menggeledah pengunjung yang kelihatan super"teler" di sini.

Sementara itu pemilik diskotek Terminal I, Letty, ketika dihubungi secara terpisah membantah adanya kemungkinan pihaknya terlibat dalam perdagangan obat berbahaya itu."Saya paling benci obat-obat bius. Oleh karena itu di setiap tempat hiburan saya selalu menempatkan dua orang polisi berpakaian preman untuk mengawasi tamu yang datang," jelasnya.

Beberapa waktu lalu salah satu diskotek milik pengusaha muda ini digerebek polisi karena mempekerjakanwanita-wanita usia belasan tahun sebagai prostitusi. Kasusnya akanditeruskan ke meja hijau.

Wakil Ketua DPRD DKI, H Ismunandar terperanjat ketika ditanyakan masalah ini. Ia mengimbau pengusaha agar jangan hanyapikir keuntungan. "Korban seperti ini 'kan anak-anak muda. Kalaupengusaha membiarkannya demikian, atau malah memanfaatkan situasidemikian untuk cari untung, itu sudah keterlaluan. Tidak punya rasanasionalis lagi," ujarnya.

Ismunandar mengakui pengusaha tidak punya wewenang kuat untuk menghentikan aktivitas perdagangan obat ini di berbagai diskotek.Namun sedikit-dikitnya mereka bisa melaporkan ke petugas polisisetempat. "Saya jadi curiga melihat pengusaha hiburan yangmembiarkan situasi demikian," tambahnya.

Wakil rakyat ini mengimbauagar instansi terkait membekukan, atau kalau perlu mencabut, izinusaha tempat hiburan demikian.Pihak Tramtib (Ketenteraman dan Ketertiban) DKI belum bisa dihubungi menyangkut soal pengawasan terhadap berbagai tempathiburan di DKI. Kepala Kantor Tramtib DKI, Kusaeini, tidak berada ditempat karena sedang ikut penataran Santiaji.

Berbarengan dengan mata hari terbit, anak-anak muda di sejumlah diskotek larut dalam dunianya. Kepala mereka digeleng-gelengkan kekiri-kanan, sementara satu atau dua jarinya mengikuti gerak yangsama di depan wajahnya.

Mereka fly seharian, menghamburkan uang danseks. Kehidupan malam dan siang hari berada pada dataran garis yang sama. (win/bar/ir/ksp/wis/agus mulyadi).
KOMPAS - Minggu, 11 Mar 2001 Halaman: 26 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 9748

DARI JAKARTA NARKOBA MENGALIR

JAKARTA masih menjadi kontributor terbesar pasokan narkoba danpsikotropika di Indonesia. Bahkan Jakarta kini bukan cuma menjadipasar dan distributor barang laknat itu ke berbagai daerah, tetapijuga sudah naik peringkat sebagai produsen dan eksportir ecstasy.

PIHAK kepolisian memperkirakan 1,3 juta warga Jakarta adalahpemakai narkoba dan psikotropika. Walaupun tanpa bukti demografi,sebuah organisasi yang menamakan diri LSM Program Penanggulangan danPemberantasan Penyalahgunaan Narkoba, malah melontarkan dugaan lebih mengejutkan, yaitu sekitar 3,4 juta atau 25 persen warga Jakartapernah memakai narkoba, 85 persen di antaranya pelajar dan mahasiswa.

Dengan konsumen begitu besar, pasokan narkoba yang masuk keJakarta memang luar biasa besar. Yang tertangkap dari sekali usahapenyelundupan di bulan Januari saja, polisi menyita 1,3 ton ganjaserta 6,8 kilogram heroin.

Bayangkan yang tidak tertangkap danberedar di pasar. Pintu masuk yang paling sering dipakai adalahBandara Soekarno-Hatta.Seorang pejabat Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) BandaraSoekarno-Hatta mengakui, penyelundupan heroin, morfin, dan ecstasy,dilakukan sindikat internasional.

"Pelakunya bekerja untuk jaringan internasional yang sangat kuat," kata pejabat yang tidak mau disebut namanya, dengan alasan keamanan keluarganya.

Jaringan pengedar narkotika dan psikotropika internasional itu mempunyai ciri-ciri antara lain, organisasinya rapi, tahu pasar, dan tingginya pemakai di Indonesia. Ciri lain, mereka tahu siapa yangakan menerima heroin, morfin atau ecstasy dan shabu di Indonesia.

Penyelundup umumnya pernah ke Indonesia atau tinggal di Indonesia.Dalam kasus penyelundupan di bulan Januari lalu, misalnya, parapenyelundup datang menggunakan pesawat dari Lahore dan Karachi(Pakistan). S

ebelumnya, mereka menempuh perjalanan dari Bangkok langsung ke Jakarta, atau transit terlebih dahulu di Singapura."Tidak mungkin para penyelundup itu melakukannya sendiri-sendiri.Mereka pasti berasal dari satu jaringan internasional yang sangatkuat. Apalagi mereka datang dari negara yang jauh dari Indonesia,seperti negara-negara Afrika," katanya.

Untuk memasukkan barang ke Indonesia, para penyelundup biasanyamemakai warga Nigeria dan Nepal, serta dari beberapa negara Afrikalain, seperti Zimbabwe dan Angola, atau warga Indonesia sendiri.

Ciri lain jaringan internasional ini adalah cara penyelundupan yangdilakukan. Salah satunya adalah dikenal dengan nama shot gunning.Penyelundupannya dilakukan dengan cara memasukkan banyak penyelundupdalam kurun waktu pendek. Dengan cara seperti itu diharapkan ada diantaranya yang berhasil.

Shot gunning misalnya terjadi pada 28, 29, dan 30 Januari 2001lalu. Ketika itu, secara berturut-turut terjadi tiga kali upayapenyelundupan heroin ke Indonesia. Beruntung petugas KPBC Soekarno-Hatta I jeli, sehingga tiga kali penyelundupan heroinseberat 2.600 gram (2,6 kilogram) dapat digagalkan.

Modus operandi yang dilakukan tiga penyelundup itu pun sama,dengan cara menyembunyikan heroin di dalam perut (ditelan atauswallower). Sebelum ditelan, serbuk putih heroin dimasukkan terlebihdahulu ke dalam butiran-butiran kapsul sebesar kepompong ulat sutra.

Para penyelundup yang gagal antara lain, Zwelibanzi Manana (37) warganegara Afrika Selatan, Hansen Anthony Nwaolisa (33) warga negaraNigeria, dan Ozias Sibanda (33) warga negara Zimbabwe.Beberapa hari sebelumnya 20 Januari 2001, seorang warga negaraNepal Indra Bahadur Tamang (21), juga mencoba menyelundupkan 900 gramheroin dengan cara menelannya.

Seorang warga Nigeria, SamuelIwuchukwu Okeye pada 9 Januari 2001, mencoba pula menyelundupkan 3,8kilogram heroin yang disembunyikannya di dalam tas.Kelima penyelundup heroin itu, kini mendekam di tahanan Markas Besar Polri.

Analisa profil
Pemeriksaan isi perut dengan sinar-x (rontgen) itu, merupakanprosedur standar yang dilakukan petugas KPBC Soekarno-Hatta I. Sebelum seseorang diperiksa, sebelumnya dilakukan analisa profil terhadap para penumpang pesawat yang baru tiba di bandara.Jika petugas KPBC mencurigai seseorang, pemeriksaan segera dilakukan.Tidak hanya barang bawaan yang diperiksa, tetapi juga isi perutnya.

Dengan analisa profil, selama ini banyak kasus penyelundupan bisa digagalkan. Melalui cara ini, petugas KPBC mengamati para penumpangyang baru turun dari pesawat."Biasanya orang yang membawa barangterlarang, apalagi ke negara lain, akan bertingkah laku kurang wajar.Kadang dia terlihat tegang. Kalau melihat orang seperti itu, petugasKPBC segera memeriksanya," ujar pejabat KPBC I.

Selain analisa profil, pengamatan terhadap penumpang pesawat yangbaru tiba di bandara, antara lain dilakukan pula dengan alat pemantaumonitor dan sinar-x. Jika ditemukan benda mencurigakan, isi tas dantubuh penumpang pun diperiksa.

Upaya penyelundupan narkotika dan psikotropika dengan berbagaicara menyebabkan petugas KPBC I yang berjumlah 307 orang pun kini semakin waspada . Untuk mengelabui petugas, penyelundup tidak segan-segan mencobanya dengan cara yang membahayakan diri sendiri, sepertidengan cara menelannya itu. Cara itu berisiko kehilangan nyawa jikakapsul yang berisi heroin pecah di dalam perut.

Pemasaran berjenjang
Jika lolos masuk Jakarta, komoditas narkoba beredar secara berjenjang, untuk mencegah dan menghindari kejaran polisi. Jaringanpemilik narkoba, biasanya mempercayakan beberapa bandar atauBD-biasanya empat atau lima bandar-yang memiliki kerja dan wilayahoperasi berlainan.

Bandar pertama, hanya mengatur masuknya "pasokan" dari luar negeri, untuk kemudian mendistribusikan ke hotel-hotel besar atau apartemen mewah di sekitar Jakarta.Sesuai perannya, biasanya bandarpertama dilakukan orang-orang keturunan Tionghoa.Kabarnya di Jakarta hanya ada 4 bandar pertama, semuanya praktis untouchable, karena dilindungi tukang pukul, pengacara atau bahkanoknum aparat keamanan.

Pada tingkat ini pula biasanya diatur pasokanuntuk daerah di luar Jakarta, tergantung kesepakatan antara BD1 yangtersebar di Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau Bali.

Selanjutnya, pasokan akan disebar lagi oleh bandar BD2, yang jugaberoperasi dari hotel ke hotel berbintang tiga atau kawasan perumahan. Sama seperti kurir yang membawa narkoba dari luar negeri,para BD2 ini kebanyakan berasal dari negara-negara Afrika. Sedangkan penerimanya adalah BD3 yang beredar di beberapa hotel di kawasanKota, Tanah Abang atau Jalan Jaksa, Menteng.

Polisi biasanya cuma mampu menjerat pengedar pada tingkat BD2 ini saat bertransaksi denganpara BD3.Barang-barang dari BD2 biasanya disebar lagi oleh para BD3, yang umumnya warga Indonesia.

Mereka menyebarkan narkoba lewat pesanan telepon, atau kepada pengecer atau BD4 yang umumnya telah mereka kenal. BD4 inilah yang bersinggungan secara langsung dengan konsumen,atau pengecer kelas teri untuk kawasan perkampungan.Ekspor dan imporUpaya penyelundupan narkotika dan psikotropika melalui BandaraSoekarno-Hatta belakangan ini tidak hanya terjadi untuk yang impor.

Tetapi juga ekspor atau persisnya penyelundupan ke luar negeri.Penyelundupan keluar dilakukan pertama kali pada 26 September1999 oleh seorang warga Singapura, Kow Mui Hat alias Gao Meita (34).Sebanyak 5.852 butir ecstasy produksi dalam negeri ketika itu hendakdiselundupkan ke Taiwan.

Ekspor ecstasy menandai mulai pintarnyajaringan pengedar di Indonesia, yang mampu memproduksinya sendiri.Salah satu ekspor ecstasy ke Taiwan lainnya terjadi pada 24 Juli2000. Sebanyak 4.721 butir ecstasy buatan Indonesia, ketika ituhendak diselundupkan oleh Ceng Ching Lung (30), warga negara Taiwan.

Ceng kini mendekam di penjara, setelah dijatuhi hukuman penjara empattahun di Pengadilan Negeri Tangerang, Desember lalu.Upaya menyelundupkan heroin dan kokain ke luar negeri, pernah dilakukan pula oleh tiga bersaudara warga negara Indonesia yaituMeirika Pranola (30), Rani Andriani (25) dan Deni Setia Maharwan(28).

Ketiganya telah dijatuhi vonis hukuman mati, juga olehPengadilan Negeri Tangerang Agustus 2000, karena terbukti menyelundupkan 3,5 kilogram heroin dan tiga kilogram kokain, dengantujuan London.Pada tahun 2000, empat warga negara Nepal, Nar Bahadur Tamang(59), Bala Tamang (30), Til Bahadur Badhari (32), Bahadur Gurung(24), dan seorang warga negara Angola, Thomas Daniel (40), jugadivonis hukuman mati karena menyelundupkan heroin ke Indonesia.

Keuntungan berlimpah yang diperoleh dari penyelundupan, terus mendorong penyelundup lain mencoba melakukannya. Terlebih lagi, jika barang yang diselundupkan adalah miliknya sendiri, keuntungannya berlipat ganda.Para penyelundup yang berhasil dibekuk petugas KPBC Soekarno-Hatta I umumnya mengaku hanya sebagai kurir dengan dijanjikanmendapat sejumlah imbalan. Salah seorang penyelundup heroin yangdibekuk Januari 2001, Hansen Anthony Nwaolisa, mengaku mendapatkan upah 2.000 dollar AS dari orang yang menyuruhnya. (Agus Mulyadi)

Kematian Alda, Fenomena Gunung Es Narkoba

KOMPAS - Minggu, 17 Dec 2006 Halaman: 4 Penulis: amr; mul Ukuran: 3961 Foto: 1

Kriminalitas
KEMATIAN ALDA, FENOMENA GUNUNG ES NARKOBA

Diskotek masih dihinggapi stigma negatif: kelas sosial rawanpsikotropika, narkotika, dan obat-obatan berbahaya. Di situ berkumpulgenerasi penerus bangsa, segmen pasar paling potensial untukdijadikan klien para pengedar ekstasi, sabu, dan sebagainya.Liputan media begitu hebat melaknat barang haram itu, terutamapascakematian artis Alda Risma Elfariana (24) yang meninggal diduga akibat overdosis narkoba, Selasa (12/12).

Kehidupan malam yang bebasmelawan nilai-nilai konvensional turut dihujat.Dampaknya, masyarakat malam diperkirakan berkurang anggotanyakarena shock dan tersadar betapa kehidupan bebas, narkoba, dankematian amatlah tipis batasnya. Setidaknya mereka akan cooling down.

Namun, di diskotek-diskotek di Jakarta, misalnya dua diskotek diJalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk, JakartaBarat, dugaan itumeleset. Di dua tempat itu pada Sabtu (16/12) dini hari kehidupanjustru baru dimulai, melepas penat kota dengan iringan musik yangbisa bikin ekstase. Didominasi muda-mudi, suasana malam terasa makin"panas".

Mereka yang memuja keindahan tubuh, merayakan hidup hampir tiapmalam dengan cara yang tak pernah sempat dipikirkan para guru mereka.Mata memejam, bibir terkatup, kepala bergoyang-goyang, kadang-kadang seolah berputar.Karena ini bukan bursa saham, fluktuasi komunitas ini takterpengaruh oleh berita terkini kematian Alda.

Uniknya, ekonomi sekitar justru berputar cepat.Toko swalayan dan pedagang kaki lima tak pernah tidur melayani pelanggan. Tak bisa dimungkiri, tempat seperti ini penting menjadi salah satu seltransaksi ilegal.

Misalnya, Jumat (15/12) malam, aparat Direktorat Narkoba PoldaMetro Jaya menemukan 4.000 butir ekstasi di Jakarta Barat. Dan diJakarta Pusat ditemukan 1.000 butir ekstasi.Kasus ini menambah daftar barang bukti yang disita selama 2006(hingga Oktober) sebanyak 180.498 butir ekstasi; 1,12 juta gram sabu;597.641 butir obat daftar "G"; dan ganja mencapai angka mengesankan,9,9 juta gram (Data Badan Narkotika Nasional atau BNN).

Remaja memang mendominasi penggunaan narkoba. Remaja itu adalahpelajar SD (malah bisa disebut anak-anak) hingga SLTA. Tahun 2006(hingga Oktober), pengguna SLTA mencapai 14.971 orang, SLTP 4.736orang, dan SD 2.260 orang. Dari mahasiswa, 536 orang.

Kasus Alda
Kasus Alda adalah fenomena gunung es. Alda, satu dari 5.743 orangusia 20-24 tahun yang terlibat narkoba. Atau hanya satu dari 22.503pengguna narkoba tahun 2006."Jumlah ini bisa bertambah karena dataini baru sampai Oktober," ungkap Pranowo Dahlan, Sekretaris PelaksanaHarian BNN.

Tragisnya, Alda masuk jajaran satu dari 40 orang yang meninggaltiap hari karena narkoba. Hari itu, kata Pranowo, selain Alda, masih ada 39 orang meninggal. Ironisnya, kondisi ini nyaris dianggap "lumrah".

Kematian Alda yang menyentak publik menjadi peringatan aktualuntuk mengingatkan bahaya narkoba. Pesan yang ditangkap bukan sekadarjangan sekali-kali check-in di hotel dengan pengedar walaupun diabaik.

Lebih dari itu, jangan sekali-kali mendekati narkoba!Sayangnya, momentum ini tak bisa digunakan baik oleh polisi untukmenggeber kasus narkoba. Polisi belum bisa memainkan public relationyang baik.

Derap informasi tak mampu mengantar polisi profesionaldalam menyampaikan berita kepublik. Hasilnya justru kontraproduktif,selain publik tak mendapatkan haknya, bisa jadi ada yang jadi korbankarena berbagai spekulasi berita.

Media menempatkan mereka bak artis, diuber untuk jadi narasumber.Namun, berita masih berkembang penuh rumor, padahal bisa dicegah jikapolisi mengerti informasi itu bisa menjadi edukasi efektif. KematianAlda, dan 39 orang lainnya per hari itu, harus bisa memberi edukasi kepada kita. (AMIR SODIKIN/AGUS MULYADI)Foto: 1STUDIO MALIBU 62Alda

Jangan Biarkan Ciliwung Renggut Harta dan Nyawa

KOMPAS - Senin, 26 Feb 1996 Halaman: 8 Penulis: BAR/MUL Ukuran: 6705

JANGAN BIARKAN CILIWUNG RENGGUT NYAWA DAN HARTA (1)

SETIAP banjir melanda Ibu Kota, korban nyawa dan harta pastiterjadi. Terakhir, sekitar 22 jiwa melayang akibat bencana tersebut.Akibatnya, Presiden Soeharto menginstruksikan pengembalian fungsikawasan Puncak, Jawa Barat, yakni fungsi konservasi lingkungan.

Ditegaskan, bangunan yang berada di kawasan penyangga, atau taksesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR), harus segera dibongkar(Kompas 15/2).

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua BappenasGinandjar Kartasasmita selaku Ketua Badan Koordinasi Tata Ruangmenambahkan, pembangunan di kawasan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopunjur)akan di-status qou-kan. Tidak ada lagi pemberian izin mendirikanbangunan (IMB) atau perpanjangan yang baru.

Sedang bangunan yangmenyalahi rencana RUTR akan dibongkar, dan lahan perkebunan yang takmemiliki Hak Guna Usaha (HGU) akan diubah menjadi hutan wisata.Kawasan selatan Ibu Kota (Bopunjur) ini merupakan kawasan yanglebih tinggi, dan menjadi daerah pengontrol kondisi hidrologi.

Apabila kondisi hidrologi dan lingkungan wilayah Bopunjur seimbang, airhujan akan terserap ke dalam tanah. Selain banjir tak terjadi, airitu pun menjadi cadangan air bagi kawasan-kawasan yang lebih rendah.Sebaliknya jika tak seimbang, sebagian besar curah hujan langsungmengalir ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. A

kibatnya, karenadebit air yang melimpah, banjir tak bisa dielakkan.Selain Ciliwung, terdapat 9 sungai besar-kecil yang berhulu padakawasan tinggi di Jawa Barat itu. Yakni, Sungai Cisadane, Angke,Pesanggrahan, Grogol, Krukut, Cipinang, Sunter, Buaran dan Cakung.Namun Sungai Ciliwung memang pembuat banjir di Ibu Kota yangterparah.

Sebab, dari 13 sungai yang membelah DKI Jakarta ini, dialahyang terpanjang, terbesar dan berhulu tertinggi, yakni di kawasanGunung Mas, Puncak, yang ketinggiannya sekitar 1.000 meter.Ciliwung berhulu di Gunung Talaga, sekitar Desa Tugu sampaiKecamatan Bogor Timur. Dia memiliki sekitar 10 anak sungai, antaralain Sungai Citamiang, Cimegamendung atau Cikoneng, Cisarua, Cibogo,Cijulang, Cisukabirus, Ciesek, dan Ciseupan.

BERDASARKAN pengamatan Kompas di beberapa tempat DAS Ciliwung dikawasan Bopunjur, ditemukan fakta bahwa kondisinya memang sudahsangat mengkhawatirkan. Munculnya sejumlah lapangan golf dan hutanbeton pembangunan ribuan vila, membuat debit air hujan yang masuk kesungai itu makin besar jumlahnya. Apalagi dengan banyaknya sisisungai yang ditembok oleh beberapa pemilik vila, membuat aliran airmakin deras di DAS Ciliwung tersebut.

Saat ini di sepanjang sempadan sejumlah anak Sungai Ciliwung yangberhulu di daerah Puncak, seperti Kali Cisarua, Kali Ciseek, KaliCilember dan Kali Ciangrang, dipenuhi vila-vila baik yang sudah lamadibangun maupun yang baru. Akibatnya, setiap saat jumlah debit airdari anak-anak sungai itu kian besar dan berkumpul di SungaiCiliwung, yakni bermula di Desa Gadog, Kecamatan Megamendung ini,yang daerah sempadannya juga sudah dipenuhi bangunan.

Di sempadan Kali Cisarua yang melintas di Desa Kopo, terlihatbahwa vila-vila mewah berdiri tanpa mempedulikan kemiringan lerengsungai. Kondisi serupa terlihat pula di sempadan Kali Cirangrang,Kali Ciseek, dan Kali Cilember, yang melintasi sejumlah desa diKecamatan Megamendung.Bahkan di bagian hulu Kali Cirangrang di Desa Megamendung,terdapat di kawasan vila atau bungalow, "Mega Indah".

Di kawasan vilaini terdapat padang golf. Orang-orang yang bisa masuk ke kawasaneksklusif itu hanya mereka yang terdaftar sebagai anggota, denganiuran tahunan yang luar biasa mahalnya.

Mengenai jumlah debit air sungai yang terus meningkat di kawasanMegamendung itu, Kasubag Penanggulangan Pencemaran Lingkungan (PPL)bagian Lingkungan Hidup Pemda TK I Bogor, Ir Pupung Purnama MScmembenarkan hal itu. Dijelaskan, dari penelitian yang dilakukan padasejumlah anak Sungai Ciliwung di kawasan Megamendung beberapa waktulalu, diketahui bahwa tingkat sedimentasinya sangat tinggi.

Menurutdia, saat ini air hujan yang langsung tumpah ke kali juga tinggi.Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB Bogor, Dr IrAhmad Bey menguatkan hal itu. Ditegaskannya, makin banyaknya bangunanyang tumbuh di daerah resapan Puncak, air hujan yang langsungmeluncur terbuang ke sungai akan makin meningkat setiap harinya. Airhujan tidak bisa lagi mampir ke pepohonan, tanah, dan meresap kedalamnya.

Pernyataan Direktur Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum,Ir Soeparmono beberapa waktu lalu, mendukung pendapat kedua pakarlingkungan di atas. Menurut dia, kian maraknya pembangunan lapangangolf di kawasan Bopunjur itu akan menjadi bencana bagi Ibu Kota.Sebab kemampuan daya serap air lapangan golf itu hanya 30 persendibanding kemampuan pepohonan rimbun.

Lagi pula, karena tak memilikiakar besar, maka air yang melaju di permukaan lapangan rumput ituakan jauh lebih cepat masuk ke sungai dibanding pepohonan.Berdasarkan catatan Kompas, lapangan golf besar yangmengkhawatirkan tersebut antara lain, di resor wisata DesaPasirangin, Cipayung, Bogor serta di kawasan Cisalak, sebelah kananjalan tol Jagorawi.Lantas bagaimana solusi mengatasi bahaya banjir di Ibu Kota ini?

Mantan Wagub DKI Bun Yamin Ramto kepada Kompas mengatakan,persoalan banjir akan semakin kusut, karena kawasan Depok dan Sentul,yang selama ini jadi daerah resapan sudah berubah jadi "hutan beton".

Demikian pula penyimpangan RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) DKI,misalnya kawasan selatan DKI yang seharusnya jadi daerah resapan,sudah berubah menjadi perumahan dan industri. Belum lagi adanyaproyek reklamasi pantai di Jakarta Utara.

Rektor ISTN (Institut Sains dan Teknologi Nasional) ini mengakui,penanganan banjir tidak mudah sebab dibutuhkan biaya trilyunan rupiahuntuk mengerjakannya. Namun diingatkannya, tidak ada jalan lain, jikatak ingin melihat tiap tahun kondisi banjir di Ibu Kota makin parahmaka pemerintah harus memprioritaskan proyek banjir itu.

Apa dana untuk itu ada? Seandainya, dana rebosiasi yang katanyamerupakan "uang nganggur" itu masih ada, tentunya Sungai Ciliwung taklagi menjadi "momok" yang menakutkan bagi warga Ibu Kota. (bar/agus mulyadi)

eksfoto:Kompas/bar
TEMBOK DAN PADANG RUMPUT DI SISI SUNGAI - Salah satu kawasan vila yangberada di tepi anak Sungai Ciliwung, di Kali Cisarua, Jawa Barat.

Kamis, 15 November 2007

Sri Yuliani Saraswaty, Wanita Pertama yang Jadi Lurah di Ibu Kota

KOMPAS - Jumat, 11 Feb 1994 Halaman: 20 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 9305

Ny. Sri Yuliani Saraswaty SH
WANITA PERTAMA YANG JADI LURAH DI IBU KOTA

KALAU ada wanita mendapat sebutan "Bu Lurah" tanpa harus
menjadi istri Pak Lurah, inilah dia: Sri Yuliani Saraswaty SH (31) -
- satu dari sedikit lurah wanita di Indonesia.

"Apanya yang istimewa Mas, kok sampai mau ditulis segala?" kata
wanita kelahiran Solo yang menjadi Kepala Kelurahan Grogol,
Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat itu. Ya, karena sampean
lurah itulah. Lebih-lebih, dekade sekarang ini sering disebut-sebut
sebagai "dekade wanita" -- prowomen. Lebih istimewa lagi, Sri adalah
wanita pertama yang menjadi lurah sejak Jakarta lahir lebih dari
empat abad yang lalu.

Dia dilantik sebagai Lurah Grogol oleh Wali Kotamadya Jakarta
Barat, Sutardijanto, di Ruang Pola Kantor Wali Kotamadya Jakarta
Barat, seputar awal Februari lalu. Seusai pelantikan, ibu dari tiga
anak ini langsung menuju ke Kantor Kelurahan Grogol. Dia ingin
segera tahu tempat kerjanya yang baru, sekaligus mengenal aparat
kelurahan yang menjadi mitra kerjanya.

Penampilannya kalem -- seperti tersisa kekhasan sebagai "Putri
Solo", meski di Solo dia cuma "numpang lahir", karena sejak TK dia
dibesarkan di Jakarta. Dalam tingkat kepemimpinan pada unit
sosiologi seperti sebuah desa, yang dibutuhkan mungkin memang bukan
kata-kata besar, tapi tindakan konkrit bagaimana dia harus
berhadapan dengan masyarakatnya. Sementara, desa yang disebut di
sini adalah sebuah desa di tengah Jakarta, dengan seribu satu
persoalan urban.

"Apa-apa yang memang sudah baik dikerjakan aparat kelurahan,
akan saya teruskan. Sedangkan yang masih kurang, akan kami
tingkatkan," ujarnya bersahaja.

Yang akan menjadi fokus perhatiannya adalah meningkatkan
pelayanan masyarakat. Lulusan Fakultas Hukum Universitas
Tarumanegara (Untar) tahun 1985 ini sadar belaka, jabatan yang
diembannya adalah sebagai pelayan masyarakat.

SEORANG lurah, seorang istri, seorang ibu, dan terlebih lagi
seorang wanita. Rasanya tak perlu muluk-muluk menjulukinya "wanita
karier", "wanita aktif", dan semacamnya (yang kalau dalam kekenesan
siaran radio yang membahas "trend wanita aktif" dikatakan, bagi
"wanita aktif" rasanya 24 jam sehari tidak cukup...).

"Wanita tetap tidak boleh lupa kodratnya sebagai wanita. Meski
berkarir, harus ingat tugasnya sebagai ibu rumah tangga," ujarnya
kalem. Dia tak melebih-lebihkan perannya sendiri, bahwa dia
betapapun tak sekadar "ratu rumah tangga", tapi juga membawahi
27.000 penduduk Kelurahan Grogol yang begitu heterogen disertai
beraneka ragam karakter.

Lahir di Solo, 23 Juli 1963, sebagai anak tunggal pasangan Drs
Soekarno, pejabat di lingkungan Kanwil BKKBN Timor Timur dan Ny
Suharmi, Sri memulai perjalanan karirnya di lingkungan Pemda DKI
Jakarta tahun 1981. Setelah tamat SMA Negeri II Jalan Gajah Mada
Jakarta, Sri mulai bekerja di BKKBN DKI Jakarta. Pada tahun itu juga
dia masuk kuliah di FH Untar, dan sekaligus aktif di KNPI Kecamatan
Tambora (wilayah tempat tinggalnya) sebagai sekretaris. Di BKKBN DKI
dia betah sampai dengan pertengahan tahun 1984. Sesudahnya dia
pindah ke BKKBN Jakarta Pusat, dan sejak April 1986 dia menjadi
bendahara di BKKBN Jakarta Barat.

Sejak 1 Agustus 1992 Sri menjadi staf di Bagian Hukum dan
Organisasi Tata Laksana (Ortala) Pemda Jakbar. Tujuh belas bulan
kemudian dia kembali pindah dan kini dipercaya sebagai Lurah Grogol.
Kehidupannya mengalir, sebagai kehidupan wanita. Di tengah-
tengah perjalanan karirnya sebagai pegawai negeri, Sri Yuliani

Saraswaty menikah dengan Drs Sutrisno -- saat ini bekerja di Badan
Meteorologi dan Geofisika di Jalan Arif Rahman Hakim Jakarta.
Pasangan itu dikaruniai tiga putri: Yutrisa Sasti Anindyarani (4,5
tahun), Citra Swari Pradita (2), dan si bungsu yang baru lahir satu
setengah bulan lalu, Desrina Putri Mustikasari.

"Jabatan yang saya jalani sekarang merupakan hadiah buat si
kecil," ujar wanita berambut lurus sebahu dan berkulit sawo matang
itu sambil tersenyum.

NYONYA Sri Yuliani Saraswaty mengakui meski tidak semua orang
bisa menjadi lurah, apalagi wanita, dia tetap merasa jabatannya
sekarang tidak lebih sebagai kepercayaan atasannya di Pemda
Kotamadya Jakarta Barat. Dan sebagai pelayan masyarakat, sebisa
mungkin dia akan berusaha maksimal, tentu dengan dukungan rekan
kerja di kelurahan.

Peningkatan pelayanan kepada masyarakat serta penanganan
kebersihan di wilayahnya, menjadi prioritas pertama yang akan
dilakukan. Apalagi dua hal itu merupakan bagian dari rencana
strategis Pemda DKI Jakarta 1992-1997. Bentuk pelayanan maksimal
yang akan diberikannya kepada masyarakat, tentu sebatas proporsi
kerja dalam tingkat kelurahan. Misalnya penandatanganan KTP, surat-
surat pengantar dari kelurahan, dan sebagainya.

"Pokoknya setiap surat yang masuk dan harus saya tandatangani,
kalau ada kesempatan akan saya lakukan hari itu juga. Kenapa harus
membuat masyarakat harus menunggu lama, untuk sekadar sebuah tanda
tangan," ujarnya setengah bertanya.

Semua kegiatan yang akan dilakukannya itu pastilah akan lebih
menyita waktu, dibandingkan di tempat-tempat kerja sebelumnya.
Sebagai lurah, dia harus langsung berhubungan dengan orang banyak.
Tidak lagi hanya duduk di belakang meja, menghadapi setumpuk berkas
seperti sebelumnya.

Untuk semua itu dukungan dari suami dan anak-anaknya pasti
sangat diperlukannya. Mungkin dia tidak lagi berhari Minggu bersama
keluarga, karena harus mengikuti kegiatan kebersihan. Di lain waktu
mungkin pula dia harus pulang begitu larut malam, karena menghadiri
berbagai acara, baik di kelurahannya maupun di kecamatan dan di
kantor wali kota atau tempat lainnya.

"Suami saya menyatakan dukungannya ketika mengetahui saya akan
dilantik menjadi Lurah Grogol," katanya.

Kesibukkan yang menyita waktu sebagai lurah, mulai dirasakannya
dalam masa dua hari dia bertugas. Ketika Kompas berusaha menemui di
kantornya, Ny Sri ternyata sudah tidak berada di tempat. Dia harus
mengikuti rapat mingguan tingkat Kecamatan Grogol Petamburan,
bertempat di Kantor Kelurahan Tanjung Duren Selatan. Beruntung,
ketika dikejar ke Tanjung Duren Selatan, rapat belum dimulai.
Bincang-bincang sekitar 45 menit pun terpaksa numpang di salah satu
ruangan kantor itu.

Kesibukan dalam hari kedua masa kerjanya sebagai lurah itu,
dapat dikatakan sebagai gambaran dari rutinitas dan kesibukan kerja
yang bakal terus menghadangnya. Ny Sri tentu harus pintar-pintar
membagi waktu untuk tugas dan keluarganya.

KEPERCAYAAN yang diembannya sebagai lurah wanita yang pertama
di DKI Jakarta, juga dianggap oleh Ny Sri sebagai uji coba. Dia
berharap dapat menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga akan
banyak lagi lahir lurah wanita lain di Jakarta. Penempatannya
sebagai Lurah Grogol dianggapnya sebagai bagian dari uji coba itu.

Ny Sri menyadari betul, Kelurahan Grogol selama ini memang
telah tertata baik. Di kelurahan ini sekitar 70 persen dari luas
wilayahnya merupakan perumahan yang dihuni pegawai negeri dan
pensiunan pegawai negeri. Hingga untuk menggerakkan partisipasi
masyarakat, dia memperkirakan tidaklah terlalu sulit.

Salah satu hal yang menjadi pemikirannya dalam hari-hari
pertama tugasnya adalah bagaimana menata permukiman kumuh di
sebagian kawasan bantaran Banjir Kanal. Tentang istilah permukiman
kumuh sendiri, Ny Sri mengungkapkan ketidaksetujuannya. "Itu lebih
tepat disebut kawasan tertinggal," kata Bu Lurah.

Penanganan permukiman kumuh, pelayanan, kebersihan, dan
berbagai tugas lainnya, dianggapnya sebagai tantangan yang harus
bisa dijalani dengan baik. Dia mengetahui untuk melaksanakannya
dibutuhkan partisipasi langsung dari semua warga. Untuk itu
pendekatan-pendekatan terhadap warga akan dilakukannya.

Tetap dalam bahasanya, dia tidak muluk-muluk mengemukakan
program kerja. Apalagi dia belum tahu betul bagaimana menjalani
tugas sebagai lurah. "Saya kan baru dua hari ini bekerja," katanya
kepada Kompas yang memang menemuinya dua hari setelah pelantikan.

Meski dapat dikatakan baru dua hari kerja sejak hari Senin
(7/2) lalu, sebenarnya Ny Sri Yuliani Saraswaty telah mulai pada
hari Minggu (6/2). Pada hari itu, dia menghadiri apel program
kebersihan di Kebon Jeruk. "Saya pergi ke Kebon Jeruk sambil membawa
anak saya yang paling besar. Sementara saya ikut apel, dia tinggal
di dalam mobil."

Cara seperti itu mungkin akan dilakukan, baik sebagai lurah
maupun sebagai ibu rumah tangga. Apalagi nantinya dia akan tinggal
di rumah dinas yang tidak jauh dari kantor kelurahan. Lantas apa
yang telah dilakukan lurah wanita pertama di DKI itu sebagai pelayan
masyarakat, dalam dua hari pertama masa kerjanya? "Saya hanya baru
mendatangani surat-surat pengantar untuk warga yang membuat akte
kelahiran, dan seorang warga yang akan pindah tempat tinggalnya,"
ujar Ny. Sri Yuliani Saraswaty sambil tersenyum. (agus mulyadi)

Foto:1(mul)
Kompas/mul
Ny. Sri Yuliani Saraswaty

Rabu, 14 November 2007

Mempertaruhkan Hidup dengan Cangkul

KOMPAS - Sabtu, 08 Apr 1995 Halaman: 8 Penulis: MUL Ukuran: 5348
MEMPERTARUHKAN HIDUP DENGAN CANGKUL
PULUHAN orang berkerumun di pinggir Jalan Ahmad Yani, Jakarta
Timur pekan lalu. Mereka sedang menyaksikan dua buah mobil rusak,
yang beberapa saat sebelumnya saling bertabrakan. Sementara belasan
orang lainnya, terlihat tiduran atau duduk-duduk di bawah jalan
layang Cawang-Tanjungpriok itu.
Ada pemandangan khas di antara kerumunan orang yang rata-rata
berpakaian lusuh itu. Di sana-sini teronggok bungkusan atau tas, dan
batang cangkul. "Kami sedang menunggu pekerjaan," kata beberapa
orang dari mereka.
Di bahu jalan di bawah jalan layang itulah, para buruh kasar
berbekal cangkul ini menunggu jatuhnya rezeki. Menunggu orang-orang
yang mau memakai jasa mereka. Siang malam, kalau tidak ada kerja,
mereka duduk dan tidur di udara terbuka beratapkan jalan layang.
"Kami semuanya berasal dari Kabupaten Brebes, Jateng," kata
Warkim yang mengaku berasal dari Desa Jemasih, Kecamatan
Ketanggungan, Brebes.
Mandi tidak terlalu mereka pikirkan, sebab untuk keperluan ini
ada sebuah sumur pompa di tanah kosong sebelah barat jalan. Makan
pun, mereka bisa utang dulu di warung yang pemiliknya juga berasal
dari daerah sama.
Soal pekerjaan? Semuanya tergantung dari tawaran. Biasanya
pelaksana proyek yang menawarkan kerja seperti membuat galian kabel
Telkom, pipa PAM, pondasi rumah, dan sebagainya.
Kerumunan buruh cangkul ini terdapat pula di bawah pepohonan
jalur hijau di sekitar pintu masuk kawasan industri Pulogadung, dari
arah Jalan Pemuda. Meski tidak tidur di di bawah pepohonan itu,
kalau malam mereka juga harus saling berjejal untuk beristirahat di
pondokan.
* * *
SEKWILDA DKI Jakarta Harun Al Rasyid, dan Ketua DPRD DKI
Jakarta MH Ritonga pernah mengatakan, para pendatang baru
hendaknya memiliki jaminan kerja dan tempat tinggal yang tetap.
"Bila tidak punya keterampilan, jangan coba ke Jakarta. Banyak
pendatang baru jadi gelandangan karena tak punya bekal itu," tegas
MH Ritonga.
Ia memperkirakan, jumlah pendatang baru ke kota Jakarta usai
Lebaran 1995 diperkirakan antara 200.000 sampai 300.000 orang. MH
Ritonga mengakui, Jakarta memang ideal sebagai tempat mencari
nafkah. Tetapi itu hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang memiliki
keterampilan. Sedangkan mereka yang tidak memiliki bekal itu akan
terjepit, dan selanjutnya menjadi gelandangan, pengemis, dan
menghuni permukiman-permukiman kumuh.
Kaum urban yang datang bermodalkan cangkul dan menjadi buruh
bangunan, tidak hanya terdapat di kawasan Pulogadung. Sejumlah orang
lainnya, mangkal di bawah pepohonan di Jalan Ahmad Yani, Cinere,
kawasan Halim Perdanakusuma, dan lokasi lain.
Sebagian pekerja seperti ini ada yang telah berpengalaman dan
mengadu nasib selama belasan tahun. Seperti misalnya Haryono (29)
dan Waryo (30) yang berasal dari Larangan, Brebes. Umumnya kalangan
buruh ini tiba di Jakarta setelah mendengar informasi dari
rekannya. Cerita tentang kemudahan memperoleh uang dalam jumlah
ribuan rupiah, mendorong warga desa berbondong-bondong meluncur ke
Ibu Kota. Di desa mencari uang Rp 100 pun nyaris mustahil.
Tapi impian mereka tidak semua menjadi kenyataan. Seperti
dialami Haryono, Waryo, dan teman-temannya yang ke Jakarta seusai
Lebaran namun belum juga ada tawaran kerja.
* * *
"UNTUK makan kami bisa utang dulu di warung," kata Haryono,
yang mengadu nasib di Jakarta sejak awal tahun 1980-an. Mereka bisa
utang karena pemilik warung berasal dari satu desa. Dan di kawasan
industri Pulogadung itu terdapat lima warung makan yang menjadi
langganan ratusan orang asal Brebes, para buruh yang mengadu nasib
di Jakarta. Di pondokan-pondokan sekitar warung makan ini pula
mereka tinggal, untuk sekadar memejamkan mata pada malam hari.
Menurut Haryono dan Waryo, utang itu seperti biasanya dibayar
kalau mereka mendapat pekerjaan nanti. Kalau tidak juga dapat
pekerjaan, utang bisa saja diselesaikan di desa nanti. Soal tidak
kunjung mendapat pekerjaan sampai sebulan lebih ini, pernah membuat
Haryono misalnya, terpaksa pulang kampung dengan numpang truk.
Pekerjaan yang didapat itu biasanya dalam bentuk borongan,
sehingga upahnya pun berdasarkan kesepakatan pemberi pekerjaan.
Namun karena lamanya waktu menganggur, uang bayaran hanya dapat
untuk menutup utang. Jarang berlebih, kalaupun ada, berapa pun
jumlahnya, dikirim untuk keluarga di kampung lewat teman.
Meski perjuangan hidup begitu berat dirasakan, para buruh
cangkul itu tetap mencoba bertahan. Sebab di kampung mereka, untuk
menjadi buruh tani sekali pun tetap banyak saingan. Waktunya pun
musiman, hanya pada waktu pengolahan lahan yang tidak terlalu lama
dan saat panen. Namun ada sebagian dari mereka memang tidak dapat
bertahan, sehingga terperosok ke dunia hitam. Ikut-ikutan menjadi
maling, copet, atau rampok. Sebagian lainnya, menjadi pemulung,
gelandangan, dan pengemis. Itulah nasib pendatang di Ibu
Kota...(mul)
Teks Foto:
MENUNGGU REZEKI-Ratusan calon tenaga kerja dengan berbekal cangkul
datang mengais rezeki di Ibu Kota. Tapi kebanyakan dari mereka malah ì
menganggur. Dibawah jalan layang inilah, mereka menanti, tidur dan
berharap.