KOMPAS - Selasa, 15 Jul 2003 Halaman: 29 Penulis: mul Ukuran: 5135 Foto: 1
"HANTU" DI JALAN LINTAS SUMATERA
KETIKA hendak menempuh perjalanan menggunakan mobil dari Kota
Bengkulu ke Palembang, bingung juga menentukan rute mana yang akan
ditempuh. Beberapa orang di Bengkulu yang ditanya soal itu, memberi
pilihan berbeda.
Ada yang menyarankan agar melewati rute Bengkulu Kepahiang-Curup-
Sekayu-Betung- Palembang. Ada pula yang menyarankan agar melalui rute
Bengkulu-Kepahiang-Pendopo-Pagar Alam-Lahat-Palembang.
Lebih banyak lagi yang menyarankan agar melewati rute Bengkulu-
Curup-Lubuk Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas- Lahat-
Palembang. "Meskipun jaraknya lebih jauh dan sebagian jalan rusak
berat, rute itu lebih aman," kata salah seorang pemberi saran.
Pengelola penginapan di kawasan perkebunan Gunung Dempo, Nanang
Rusmadi, menyarankan jangan sekali-sekali menempuh perjalanan pada
sore atau malam hari.
Menurut informasi dari seorang tamu penginapan, penghadangan oleh
kawanan penjahat dilakukan dengan cara menghentikan mobil di tengah
jalan. Korban mencoba memberikan uang Rp 10.000. Namun, kawanan
penghadang itu malah merampok semua harta benda korban, kecuali
mobilnya.
***
CERITA seram di ruas jalan antara Pagar Alam-Pendopo-Kepahiang,
dikemukakan pula oleh seorang warga di Curup, ibu kota Kabupaten
Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. "Kalau masih pagi sampai siang
bolehlah melalui jalan yang kecil itu. Tapi, kalau sore atau malam
jangan melalui jalan itu," katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Rejang Lebong,
Rosihan YT, ketika ditanya soal pilihan rute perjalanan juga
menganjurkan agar tidak melalui ruas jalan Kepahiang-Pendopo-Pagar
Alam. Di ruas jalan itu kerap terjadi aksi perampokan terhadap
pengendara kendaraan.
Karena dianjurkan tidak melalui ruas jalan tersebut, pilihan rute
perjalanan dari Bengkulu pun tinggal dua yakni melalui Lubuk Linggau-
Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas Lahat-Palembang, atau rute Lubuk
Linggau-Muara Beliti-Sekayu-Betung-Palembang.
Tanto, seorang sopir truk pengangkut sayur dari kawasan Selupuh
Rejang, Rejang Lebong, menyarankan agar perjalanan lebih baik melalui
Sekayu. Tetapi, Kepala Desa Suban Ayam, Kecamatan Selupuh Rejang,
Ahmad Holil, menyarankan agar tidak melalui Sekayu. "Jalan itu rusak
parah di mana-mana. Mendingan lewat Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga
Mas-Lahat saja. Di jalan itu, meskipun jaraknya lebih jauh dan banyak
rusak pula, situasinya lebih ramai. Banyak truk yang lewat. Lagi pula
di sepanjang jalan banyak PKJR,"ujar Holil.
Perjalanan dari Bengkulu ke Palembang, akhirnya diputuskan
melalui rute Lubuk-Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas-
Lahat. Padahal, rute sepanjang 515 kilometer itu harus melalui jalan
rusak di sebagian lokasi, terutama antara Muara Beliti-Lahat.
***
MAKA perjalanan pun dimulai dengan rasa waswas, menempuh rute
Bengkulu-Kepahiang- Curup-Lubuk Linggau-Muara Beliti-Tebing Tinggi-
Bunga Mas-Lahat-Muara Enim-Prabumulih-Palembang. Perjalanan melalui
rute ini pasti melalui jalur jalan yang konon paling seram itu, yakni
Muara Beliti-Tebing Tinggi-Bunga Mas-Lahat.
Selain kerusakan di sepanjang jalan, banyak ditemukan gerombolan
orang di belasan lokasi yang menadahkan tangan, bila ada truk yang
melintas pelan. Gerombolan itu kebanyakan menempati pos darurat,
berupa gubuk sederhana dengan atap daun kelapa.
Meskipun gerombolan warga itu tidak memaksa, para pengendara
agaknya tak mau mengambil risiko. Setiap kali ada truk yang melintas
di pos darurat tempat gerombolan warga yang mangkal, salah seorang di
antara mereka menuju ke tepi jalan lalu menadahkan tangan. Sebagian
sopir terlihat memberi uang, dengan melemparkannya atau mengangsurkan
ke tangan yang menadah.
Selain pungutan yang dilakukan oleh sekelompok warga di pos-pos
darurat, di beberapa lokasi terdapat pula warga yang berdiri di
bagian jalan yang rusak. Kepada setiap sopir kendaraan yang melintas,
mereka menadahkan tangan. Ini rupanya yang membuat ruas jalan ini
seram, dan mereka itulah "hantu"-nya.
Di lokasi sepi seperti tanjakan atau di jalan rusak, ada pula
beberapa pos permanen di tepi jalan. Pos itu dilengkapi pesawat radio
komunikasi. Beberapa orang penunggunya pun terlihat berseragam
seperti petugas satpam. Di depan pos terpampang tulisan PKJR (Pos
Keamanan Jalan Raya). Tulisan PKJR itu sama persis dengan yang
terpampang di papan-papan di depan pos-pos darurat tempat gerombolan
warga meminta uang kepada sopir truk yang lewat. (mul)
Foto:
Kompas/Agus Mulyadi
"HANTU" - Ruas Jalan Lintas Tengah Sumatera yang sudah lama rusak di
banyak lokasi sering dimanfaatkan kawanan penjahat untuk memeras para
pemakai jalan. Sopir angkutan umum, terutama truk, mengeluhkan
banyaknya pungutan liar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok warga
di sepanjang jalan. Aksi mereka ini rancu dengan Pos Keamanan Jalan
Raya yang resmi, seperti "hantu" yang kadang ada kadang menghilang
sendiri.
Tampilkan postingan dengan label jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 17 Juli 2008
Rabu, 21 November 2007
Jatibarang-Palimanan, Jalan Penuh Kerawanan
KOMPAS - Senin, 05 Aug 1991 Halaman: 13 Penulis: MUL Ukuran: 6110 Foto: 1
JATIBARANG - PALIMANAN, JALAN PENUH KERAWANAN
RABU tengah malam di akhir bulan Juni itu langit begitu bersih
Bulan penuh bersinar cerah, sementara bintang gemerlapan tak
terhalang awan. Sekitar sepuluh truk gandengan di parkir berjejer di
kiri-kanan by-pass jalur utara Jawa. Para pengemudinya tengah
beristirahat di beberapa warung di Desa Lung Benda, Kecamatan
Palimanan, Kabupaten Cirebon (Jawa Barat). Mereka menghilangkan
penat setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta.
Lepas dari Desa Lung Benda, sekitar 20 kilometer barat kota
Cirebon, jalan mulai memasuki daerah persawahan. Di sini, lalu
lintas jalur utara Jawa mulai menampakkan karakternya. Mobil
penumpang, bus, truk dan bahkan truk gandengan, berlari bagai dikejar
setan. Semua berlomba mengejar waktu.
Pengendara sepeda motor yang ikut "numpang" di jalan mulus itu
harus banyak mengalah. Sesekali, kendaraan terpaksa "dibuang" ke
luar badan jalan jika bus dari arah berlawanan sedang dipacu
mendahului kendaraan di depannya. Badan jalan sekitar 6 meter untuk
sesaat tertutup habis. Meleng sedikit saja bisa berakibat fatal.
"Kerasnya" lalu lintas di jalur itu sedikit berkurang ketika
memasuki Arjawinangun dengan tikungan tajam. Namun setelah itu jalan
kembali memasuki daerah persawahan dan perkebunan tebu. Pedal gas
kembali ditekan kuat-kuat. Lampu kendaraan menyorot tajam, membelah
malam yang lengang. Keadaan itu tak berubah sampai memasuki kota
Kecamatan Indramayu.
WASPADA memang mutlak bagi semua pemakai jalan. Tapi di jalur
utara Jawa, sopir truk tak sekadar berhati-hati mengendalikan
kendaraannya. Tapi juga harus waspada menjaga barang yang dibawanya.
Jalur ini tak hanya rawan kecelakaan, tapi juga rawan kejahatan
akibat beroperasinya kawanan pengutil muatan yang dikenal dengan
sebutan "bajing loncat".
Selama beberapa tahun terakhir, "bajing loncat" menjadi momok
para sopir truk di jalur utara, terutama bagi pengemudi truk
gandengan yang mengangkut barang berharga. Kawanan "bajing loncat"
biasanya beroperasi menggunakan kendaraan lebih kecil dengan bak
terbuka. Kendaraan mereka "menempel" truk yang sedang melaju, lalu
para "bajing" berloncatan ke atas truk.
Senjata tajam beraksi, terpal penutup dicabik-cabik। Lalu
muatan truk dilempar ke atas bak kendaraannya yang terus menempel.
Bila dirasa cukup, "bajing-bajing" tadi kembali berlompatan ke atas
pick-Up, dan mereka kabur tanpa diketahui pengemudi truk. "Sewaktu
beroperasi lampu kendaraan mereka matikan hingga kami tak tahu kalau
ada mobil yang menempel," cerita beberapa sopir truk di Desa
Tulungagung, Kecamatan Kertasemaya.
Dari beberapa kejadian di wilayah hukum Polres Cirebon dalam
dua bulan terakhir, pengemudi truk mengetahui barang bawaannya
dikutil waktu melewati ruas Palimanan - Cirebon. Mereka baru tahu
setelah rekan sesama sopir yang jalan di belakang melihat
kejanggalan di bak truk. Pengemudi itu kemudian melaporkan kejadian
itu ke polisi Cirebon.
Kapolres Cirebon, Letkol (Pol) Drs RE Karnadi mengatakan,
pihaknya hanya kebagian laporan-laporan ulah kawanan "bajing
loncat". Komplotan pengutil itu diduga beroperasi sebelum memasuki
wilayah Cirebon, terutama pada ruas jalan yang melewati persawahan
dan kebun tebu.
TETAPI "bajing loncat" rupanya tak hanya menjarah barang bawaan
truk yang sedang melaju. Mereka juga mengincar sasaran diam, secara
nekad merampok kendaraan yang pengemudinya sedang beristirahat.
Sebuah truk gandengan yang dibawa sopir Moh Jumaheni dengan kernet
Muntihar dan Suhari disikat ketika mampir di sebuah warung makan di
Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Indramayu, pertengahan
bulan Mei lalu.
Waktu asyik makan bersama beberapa sopir lain, Jumaheni
didatangi sejumlah lelaki bertopeng. Pemilik warung dan tamu lainnya
diancam dengan senjata tajam, sementara beberapa anggota komplotan
dengan tenang memindahkan 55 tape dan dua mini compo dari truk
jurusan Jakarta - Surabaya itu.
Sebelas orang anggota komplotan ini beberapa hari kemudian
berhasil diciduk di Desa Panyindangan Wetan, Lohbener. Mereka
tertangkap karena kesiangan setelah merampok di daerah Pusaka
Negara, Kabupaten Subang. Polisi di Indramayu yang kemudian dibantu
penduduk, tinggal mencegat kawanan penjahat itu setelah menerima
informasi dari Subang.
Rentetan kasus kejahatan itu menunjukkan betapa rawannya ruas
jalan jalur utara Pulau Jawa. Salah satu di antaranya, tentu saja,
ruas antara Jatibarang - Palimanan. Beberapa kasus yang dilaporkan
ke Polres Cirebon, terjadi di ruas jalan ini. Kecuali sepi hingga
memungkinkan kendaraan penjahat menempel truk-truk yang dijadikan
sasaran, di jalur ini juga tak terlihat cukup petugas keamanan.
Seperti ketika Kompas mengamati daerah itu tengah malam akhir Juni
lalu, hanya tampak 3 petugas di pos polisi pertigaan Palimanan -
Cirebon - Bandung.
RASA aman melintasi jalur utara Jawa, seperti masih merupakan
mimpi para pemakainya. Selain selalu terancam kecelakaan akibat
lomba adu cepat, juga rasa tak aman karena gangguan kawanan
penjahat. Seperti kata seorang pembaca Kompas, komplotan penjahat
yang minimal beranggotakan 5 orang itu tak jarang memeras para
pengemudi dengan minta uang antara Rp 1.000 - Rp 15.000. Sering pula
mereka menunggu calon-calon korbannya di warung makan sepanjang
jalur tersebut.
Akibat kekhawatiran itu, kini banyak pengemudi truk yak tak mau
lagi melewati ruas-ruas jalan yang rawan, pada malam hari. Terutama
truk-truk yang mengangkut barang berharga mahal, seperti peralatan
elektronik. Beberapa truk bahkan kini memasang palang bambu di bawah
terpal untuk mengamankan barang bawaan dari komplotan pengutil yang
berkeliaran. (agus mulyadi)
Foto: 1
Kompas/mul
BERLOMBA - Jalur jalan pun tertutup. Kendaraan saling berlomba, tidak
menghiraukan keselamatan kendaraan lain dan penumpangnya.
JATIBARANG - PALIMANAN, JALAN PENUH KERAWANAN
RABU tengah malam di akhir bulan Juni itu langit begitu bersih
Bulan penuh bersinar cerah, sementara bintang gemerlapan tak
terhalang awan. Sekitar sepuluh truk gandengan di parkir berjejer di
kiri-kanan by-pass jalur utara Jawa. Para pengemudinya tengah
beristirahat di beberapa warung di Desa Lung Benda, Kecamatan
Palimanan, Kabupaten Cirebon (Jawa Barat). Mereka menghilangkan
penat setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta.
Lepas dari Desa Lung Benda, sekitar 20 kilometer barat kota
Cirebon, jalan mulai memasuki daerah persawahan. Di sini, lalu
lintas jalur utara Jawa mulai menampakkan karakternya. Mobil
penumpang, bus, truk dan bahkan truk gandengan, berlari bagai dikejar
setan. Semua berlomba mengejar waktu.
Pengendara sepeda motor yang ikut "numpang" di jalan mulus itu
harus banyak mengalah. Sesekali, kendaraan terpaksa "dibuang" ke
luar badan jalan jika bus dari arah berlawanan sedang dipacu
mendahului kendaraan di depannya. Badan jalan sekitar 6 meter untuk
sesaat tertutup habis. Meleng sedikit saja bisa berakibat fatal.
"Kerasnya" lalu lintas di jalur itu sedikit berkurang ketika
memasuki Arjawinangun dengan tikungan tajam. Namun setelah itu jalan
kembali memasuki daerah persawahan dan perkebunan tebu. Pedal gas
kembali ditekan kuat-kuat. Lampu kendaraan menyorot tajam, membelah
malam yang lengang. Keadaan itu tak berubah sampai memasuki kota
Kecamatan Indramayu.
WASPADA memang mutlak bagi semua pemakai jalan. Tapi di jalur
utara Jawa, sopir truk tak sekadar berhati-hati mengendalikan
kendaraannya. Tapi juga harus waspada menjaga barang yang dibawanya.
Jalur ini tak hanya rawan kecelakaan, tapi juga rawan kejahatan
akibat beroperasinya kawanan pengutil muatan yang dikenal dengan
sebutan "bajing loncat".
Selama beberapa tahun terakhir, "bajing loncat" menjadi momok
para sopir truk di jalur utara, terutama bagi pengemudi truk
gandengan yang mengangkut barang berharga. Kawanan "bajing loncat"
biasanya beroperasi menggunakan kendaraan lebih kecil dengan bak
terbuka. Kendaraan mereka "menempel" truk yang sedang melaju, lalu
para "bajing" berloncatan ke atas truk.
Senjata tajam beraksi, terpal penutup dicabik-cabik। Lalu
muatan truk dilempar ke atas bak kendaraannya yang terus menempel.
Bila dirasa cukup, "bajing-bajing" tadi kembali berlompatan ke atas
pick-Up, dan mereka kabur tanpa diketahui pengemudi truk. "Sewaktu
beroperasi lampu kendaraan mereka matikan hingga kami tak tahu kalau
ada mobil yang menempel," cerita beberapa sopir truk di Desa
Tulungagung, Kecamatan Kertasemaya.
Dari beberapa kejadian di wilayah hukum Polres Cirebon dalam
dua bulan terakhir, pengemudi truk mengetahui barang bawaannya
dikutil waktu melewati ruas Palimanan - Cirebon. Mereka baru tahu
setelah rekan sesama sopir yang jalan di belakang melihat
kejanggalan di bak truk. Pengemudi itu kemudian melaporkan kejadian
itu ke polisi Cirebon.
Kapolres Cirebon, Letkol (Pol) Drs RE Karnadi mengatakan,
pihaknya hanya kebagian laporan-laporan ulah kawanan "bajing
loncat". Komplotan pengutil itu diduga beroperasi sebelum memasuki
wilayah Cirebon, terutama pada ruas jalan yang melewati persawahan
dan kebun tebu.
TETAPI "bajing loncat" rupanya tak hanya menjarah barang bawaan
truk yang sedang melaju. Mereka juga mengincar sasaran diam, secara
nekad merampok kendaraan yang pengemudinya sedang beristirahat.
Sebuah truk gandengan yang dibawa sopir Moh Jumaheni dengan kernet
Muntihar dan Suhari disikat ketika mampir di sebuah warung makan di
Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Indramayu, pertengahan
bulan Mei lalu.
Waktu asyik makan bersama beberapa sopir lain, Jumaheni
didatangi sejumlah lelaki bertopeng. Pemilik warung dan tamu lainnya
diancam dengan senjata tajam, sementara beberapa anggota komplotan
dengan tenang memindahkan 55 tape dan dua mini compo dari truk
jurusan Jakarta - Surabaya itu.
Sebelas orang anggota komplotan ini beberapa hari kemudian
berhasil diciduk di Desa Panyindangan Wetan, Lohbener. Mereka
tertangkap karena kesiangan setelah merampok di daerah Pusaka
Negara, Kabupaten Subang. Polisi di Indramayu yang kemudian dibantu
penduduk, tinggal mencegat kawanan penjahat itu setelah menerima
informasi dari Subang.
Rentetan kasus kejahatan itu menunjukkan betapa rawannya ruas
jalan jalur utara Pulau Jawa. Salah satu di antaranya, tentu saja,
ruas antara Jatibarang - Palimanan. Beberapa kasus yang dilaporkan
ke Polres Cirebon, terjadi di ruas jalan ini. Kecuali sepi hingga
memungkinkan kendaraan penjahat menempel truk-truk yang dijadikan
sasaran, di jalur ini juga tak terlihat cukup petugas keamanan.
Seperti ketika Kompas mengamati daerah itu tengah malam akhir Juni
lalu, hanya tampak 3 petugas di pos polisi pertigaan Palimanan -
Cirebon - Bandung.
RASA aman melintasi jalur utara Jawa, seperti masih merupakan
mimpi para pemakainya. Selain selalu terancam kecelakaan akibat
lomba adu cepat, juga rasa tak aman karena gangguan kawanan
penjahat. Seperti kata seorang pembaca Kompas, komplotan penjahat
yang minimal beranggotakan 5 orang itu tak jarang memeras para
pengemudi dengan minta uang antara Rp 1.000 - Rp 15.000. Sering pula
mereka menunggu calon-calon korbannya di warung makan sepanjang
jalur tersebut.
Akibat kekhawatiran itu, kini banyak pengemudi truk yak tak mau
lagi melewati ruas-ruas jalan yang rawan, pada malam hari. Terutama
truk-truk yang mengangkut barang berharga mahal, seperti peralatan
elektronik. Beberapa truk bahkan kini memasang palang bambu di bawah
terpal untuk mengamankan barang bawaan dari komplotan pengutil yang
berkeliaran. (agus mulyadi)
Foto: 1
Kompas/mul
BERLOMBA - Jalur jalan pun tertutup. Kendaraan saling berlomba, tidak
menghiraukan keselamatan kendaraan lain dan penumpangnya.
Rabu, 14 November 2007
Di Tangerang, Melintasi Jalan 500 Meter Harus Bayar Rp 7500
KOMPAS - Kamis, 20 Sep 2001 Halaman: 18 Penulis: mul Ukuran: 6025
DI TANGERANG, MELINTASI JALAN 500 METER HARUS BAYAR RP 7.500
SEORANG laki-laki berseragam karyawan Pemerintah Kota (Pemkot)
Tangerang berdiri di tepi jalur hijau pemisah Jalan MH Thamrin di
kawasan Warung Mangga, Kota Tangerang. Terik Matahari pada Rabu
(19/9) siang tidak dihiraukannya. Matanya tajam memandang ke arah
selatan, mengikuti jalur jalan di sebelah barat. Tangan kanan aparat
Pemkot Tangerang itu menggenggam sebatang tongkat bambu.
DI tepi jalan sebelah barat, tempat laki-laki bertongkat berdiri,
terdapat sebuah bangunan terbuat dari tripleks, yang ditunggui dua
orang laki-laki berseragam Dinas Perhubungan Kota Tangerang. Seorang
laki-laki lain yang berseragam sama terlihat duduk di atas sepeda
motor di samping bangunan tripleks dijadikan pos tempat pemungutan
retribusi.
Beberapa menit kemudian, dari arah selatan terlihat sebuah truk
bermuatan tanah melintas, mendekati pos dan laki-laki yang berdiri
di pemisah jalan. Laki-laki yang membawa tongkat bambu itu segera
mengacungkan tongkatnya ke arah truk. Sopir truk pun memperlambat
laju kendaraan, dan akhirnya berhenti di tepi jalan di depan pos.
Kernet truk segera turun dan menuju pos. Dia menyerahkan uang
yang telah digenggamnya kepada petugas di dalam pos, melalui lubang
di bagian depan. Usai membayar kernet kembali naik ke atas truk, dan
kendaraan itu pun segera melaju menuju ke arah utara. Tiba di bawah
jembatan tol yang terletak sekitar 200 meter dari pos retribusi, truk
berbelok ke kiri menuju gerbang jalan tol Tangerang-Merak-Jakarta.
Beberapa menit kemudian, satu truk bermuatan, kembali melintas.
Namun, kali ini sopir truk tidak mengindahkan acungan tongkat aparat
Pemkot Tangerang. Petugas lain di depan pos juga mendiamkan truk yang
menuju ke arah gerbang jalan tol itu.
AKTIVITAS yang terjadi di kawasan Warung Mangga tersebut, telah
berlangsung sejak 1 September 2001 lalu. Mulai hari itu, Pemkot
Tangerang melaksanakan Perda (Peraturan Daerah) Nomor 3 Tahun 2001
tentang Retribusi Dispensasi Pemakaian Jalan. Semua truk pengangkut
barang dan bus yang melintas, diharuskan membayar retribusi pemakaian
jalan di wilayah Kota Tangerang.
Pilihan lokasi pungutan retribusi dispensasi jalan di Warung
Mangga dianggap kurang tepat oleh para pemakai jalan. Jalan di
kawasan itu selalu dipadati kendaraan. Bahkan, setiap kali ada
truk yang berhenti tiba-tiba, karena sopirnya takut kepada petugas
pemungut retribusi, pengendara di belakangnya kerap kelabakan dan
harus segera mengerem kendaraannya.
Gara-gara diberlakukannya Perda Nomor 3 Tahun 2001 itu, sejumlah
sopir truk mengeluh. Mereka harus mengeluarkan biaya tambahan yang
tidak sedikit. Apalagi umumnya truk hanya melintas sekitar 500 meter
jalan di Kota Tangerang, mulai di depan pabrik PT Surya Toto sampai
dengan gerbang tol.
"Pungutan di Warung Mangga terlalu mengada-ada. Masak hanya untuk
melintas jalan sekitar 500 meter, kami harus membayar Rp 7.500," kata
beberapa sopir truk pengangkut tanah.
Padahal, sopir-sopir itu sebelumnya telah membayar pungutan lain
di jalan yang dilalui di Kabupaten Tangerang. Salah satunya adalah
pungutan yang disebut Retribusi Jaringan, seperti yang terdapat di
selatan Pasar Serpong dan Desa Rawa Buntu, Kecamatan Serpong.
Besarnya retribusi jaringan rata-rata Rp 1.000 per truk bermuatan.
Dasar penarikan retribusi jaringan adalah Perda Kabupaten Tangerang
Nomor 4 Tahun 2000.
Retribusi dispensasi pemakaian jalan belum diterapkan di
Kabupaten Tangerang. Namun, seorang petugas Dinas Perhubungan
setempat menyatakan, retribusi itu tidak lama lagi akan diberlakukan.
Perda-nya sudah disetujui oleh DPRD setempat. "Saat ini lagi survei,"
katanya.
ERA otonomi daerah saat ini memang telah mendorong semua daerah-
kota maupun kabupaten-seperti berlomba mencari pendapatan asli daerah
(PAD) sebanyak-banyaknya. Salah satu cara yang dilakukan di antaranya
adalah retribusi dispensasi pemakaian jalan, seperti yang sudah
diberlakukan Pemkot Tangerang.
Tempat pemungutan retribusi dispensasi jalan di Kota Tangerang
terdapat di sejumlah jalan yang berbatasan dengan DKI Jakarta dan
Kabupaten Tangerang. Salah satu pos bahkan terdapat di Kebon Nanas,
yang lokasinya kurang dari satu kilometer ke arah utara dari Warung
Mangga.
"Pos di Kebon Nanas untuk menjaring truk bermuatan yang baru
keluar dari jalan tol dan menuju ke Kota Tangerang," kata Kepala
Bagian Informasi dan Komunikasi Pemkot Tangerang E Herry Kusnadi.
Herry mengakui, pos retribusi jalan dibangun agar dapat sebanyak-
banyaknya menjaring truk bermuatan, sehingga PAD akan meningkat.
Sesuai dengan Perda Nomor 3 Tahun 2001, retribusi ditetapkan sesuai
dengan jenis truk dan beratnya muatan yang diangkut.
Di dalam perda itu antara lain ditetapkan, jenis truk light
(engkel ban) dengan daya angkut 1.000-1.800 kg retribusinya Rp 2.000
per rit, truk ban ganda dengan muatan 2.300-6.500 kg dikenai Rp
3.500, truk tronton/tenden dengan muatan 8.000-12.000 kg diharuskan
membayar retribusi Rp 6.000 per rit, dan truk gandengan/trailer/peti
kemas dan sejenisnya dengan muatan 12.000 kg ke atas harus membayar
retribusi Rp 7.500 per rit.
Pungutan yang dianggap tinggi oleh para sopir truk itu, seperti
yang tertuang dalam Pasal 9 Perda Nomor 3, dilakukan untuk mengganti
sebagian biaya pembuatan dan perawatan jalan, atau untuk
mempertahankan lama pemakaian jalan.
Namun, kenyataannya saat ini sejumlah ruas jalan di Kota
Tangerang dan juga Kabupaten Tangerang tetap dibiarkan rusak.
Rupanya uang yang dipungut dari ribuan sopir setiap harinya, belum
dimanfaatkan untuk memperbaiki jalan, seperti tujuan pemberlakuan
perda. Padahal, dalam satu hari diperkirakan ribuan truk pengangkut
barang terjaring petugas pemungut retribusi. (agus mulyadi)
DI TANGERANG, MELINTASI JALAN 500 METER HARUS BAYAR RP 7.500
SEORANG laki-laki berseragam karyawan Pemerintah Kota (Pemkot)
Tangerang berdiri di tepi jalur hijau pemisah Jalan MH Thamrin di
kawasan Warung Mangga, Kota Tangerang. Terik Matahari pada Rabu
(19/9) siang tidak dihiraukannya. Matanya tajam memandang ke arah
selatan, mengikuti jalur jalan di sebelah barat. Tangan kanan aparat
Pemkot Tangerang itu menggenggam sebatang tongkat bambu.
DI tepi jalan sebelah barat, tempat laki-laki bertongkat berdiri,
terdapat sebuah bangunan terbuat dari tripleks, yang ditunggui dua
orang laki-laki berseragam Dinas Perhubungan Kota Tangerang. Seorang
laki-laki lain yang berseragam sama terlihat duduk di atas sepeda
motor di samping bangunan tripleks dijadikan pos tempat pemungutan
retribusi.
Beberapa menit kemudian, dari arah selatan terlihat sebuah truk
bermuatan tanah melintas, mendekati pos dan laki-laki yang berdiri
di pemisah jalan. Laki-laki yang membawa tongkat bambu itu segera
mengacungkan tongkatnya ke arah truk. Sopir truk pun memperlambat
laju kendaraan, dan akhirnya berhenti di tepi jalan di depan pos.
Kernet truk segera turun dan menuju pos. Dia menyerahkan uang
yang telah digenggamnya kepada petugas di dalam pos, melalui lubang
di bagian depan. Usai membayar kernet kembali naik ke atas truk, dan
kendaraan itu pun segera melaju menuju ke arah utara. Tiba di bawah
jembatan tol yang terletak sekitar 200 meter dari pos retribusi, truk
berbelok ke kiri menuju gerbang jalan tol Tangerang-Merak-Jakarta.
Beberapa menit kemudian, satu truk bermuatan, kembali melintas.
Namun, kali ini sopir truk tidak mengindahkan acungan tongkat aparat
Pemkot Tangerang. Petugas lain di depan pos juga mendiamkan truk yang
menuju ke arah gerbang jalan tol itu.
AKTIVITAS yang terjadi di kawasan Warung Mangga tersebut, telah
berlangsung sejak 1 September 2001 lalu. Mulai hari itu, Pemkot
Tangerang melaksanakan Perda (Peraturan Daerah) Nomor 3 Tahun 2001
tentang Retribusi Dispensasi Pemakaian Jalan. Semua truk pengangkut
barang dan bus yang melintas, diharuskan membayar retribusi pemakaian
jalan di wilayah Kota Tangerang.
Pilihan lokasi pungutan retribusi dispensasi jalan di Warung
Mangga dianggap kurang tepat oleh para pemakai jalan. Jalan di
kawasan itu selalu dipadati kendaraan. Bahkan, setiap kali ada
truk yang berhenti tiba-tiba, karena sopirnya takut kepada petugas
pemungut retribusi, pengendara di belakangnya kerap kelabakan dan
harus segera mengerem kendaraannya.
Gara-gara diberlakukannya Perda Nomor 3 Tahun 2001 itu, sejumlah
sopir truk mengeluh. Mereka harus mengeluarkan biaya tambahan yang
tidak sedikit. Apalagi umumnya truk hanya melintas sekitar 500 meter
jalan di Kota Tangerang, mulai di depan pabrik PT Surya Toto sampai
dengan gerbang tol.
"Pungutan di Warung Mangga terlalu mengada-ada. Masak hanya untuk
melintas jalan sekitar 500 meter, kami harus membayar Rp 7.500," kata
beberapa sopir truk pengangkut tanah.
Padahal, sopir-sopir itu sebelumnya telah membayar pungutan lain
di jalan yang dilalui di Kabupaten Tangerang. Salah satunya adalah
pungutan yang disebut Retribusi Jaringan, seperti yang terdapat di
selatan Pasar Serpong dan Desa Rawa Buntu, Kecamatan Serpong.
Besarnya retribusi jaringan rata-rata Rp 1.000 per truk bermuatan.
Dasar penarikan retribusi jaringan adalah Perda Kabupaten Tangerang
Nomor 4 Tahun 2000.
Retribusi dispensasi pemakaian jalan belum diterapkan di
Kabupaten Tangerang. Namun, seorang petugas Dinas Perhubungan
setempat menyatakan, retribusi itu tidak lama lagi akan diberlakukan.
Perda-nya sudah disetujui oleh DPRD setempat. "Saat ini lagi survei,"
katanya.
ERA otonomi daerah saat ini memang telah mendorong semua daerah-
kota maupun kabupaten-seperti berlomba mencari pendapatan asli daerah
(PAD) sebanyak-banyaknya. Salah satu cara yang dilakukan di antaranya
adalah retribusi dispensasi pemakaian jalan, seperti yang sudah
diberlakukan Pemkot Tangerang.
Tempat pemungutan retribusi dispensasi jalan di Kota Tangerang
terdapat di sejumlah jalan yang berbatasan dengan DKI Jakarta dan
Kabupaten Tangerang. Salah satu pos bahkan terdapat di Kebon Nanas,
yang lokasinya kurang dari satu kilometer ke arah utara dari Warung
Mangga.
"Pos di Kebon Nanas untuk menjaring truk bermuatan yang baru
keluar dari jalan tol dan menuju ke Kota Tangerang," kata Kepala
Bagian Informasi dan Komunikasi Pemkot Tangerang E Herry Kusnadi.
Herry mengakui, pos retribusi jalan dibangun agar dapat sebanyak-
banyaknya menjaring truk bermuatan, sehingga PAD akan meningkat.
Sesuai dengan Perda Nomor 3 Tahun 2001, retribusi ditetapkan sesuai
dengan jenis truk dan beratnya muatan yang diangkut.
Di dalam perda itu antara lain ditetapkan, jenis truk light
(engkel ban) dengan daya angkut 1.000-1.800 kg retribusinya Rp 2.000
per rit, truk ban ganda dengan muatan 2.300-6.500 kg dikenai Rp
3.500, truk tronton/tenden dengan muatan 8.000-12.000 kg diharuskan
membayar retribusi Rp 6.000 per rit, dan truk gandengan/trailer/peti
kemas dan sejenisnya dengan muatan 12.000 kg ke atas harus membayar
retribusi Rp 7.500 per rit.
Pungutan yang dianggap tinggi oleh para sopir truk itu, seperti
yang tertuang dalam Pasal 9 Perda Nomor 3, dilakukan untuk mengganti
sebagian biaya pembuatan dan perawatan jalan, atau untuk
mempertahankan lama pemakaian jalan.
Namun, kenyataannya saat ini sejumlah ruas jalan di Kota
Tangerang dan juga Kabupaten Tangerang tetap dibiarkan rusak.
Rupanya uang yang dipungut dari ribuan sopir setiap harinya, belum
dimanfaatkan untuk memperbaiki jalan, seperti tujuan pemberlakuan
perda. Padahal, dalam satu hari diperkirakan ribuan truk pengangkut
barang terjaring petugas pemungut retribusi. (agus mulyadi)
Senin, 12 November 2007
Lancar dan Aman Sepanjang Jalan
KOMPAS - Sabtu, 13 Mar 1993 Halaman: 9 Penulis: WGT/WHO/SUP/NTS/TIF/MUL/GUS/WE/NUG Ukuran: 8339
LANCAR DAN AMAN SEPANJANG JALAN...
JAKARTA-CIREBON di hari-hari menjelang Lebaran, biasanya
identik dengan jalur lalu lintas yang teramat padat dan tak bisa
terhindar dari kemacetan. Meski tak separah jalur Jakarta-Cirebon,
jalan-jalan utama lain di Jawa tak urung akan jauh lebih meriah
dibanding hari-hari biasanya. Membludaknya arus mudik, membuat
kendaraan praktis merayap, kadang terhenti sampai berjam-jam.
Penyebab kemacetan beragam. Mulai dari mobil mogok lantaran
kerusakan mesin ataupun kehabisan bensin, jalan tersumbat oleh
antrean kendaraan yang masuk ke pompa bensin, atau parkir di rumah
makan. Malah bisa jadi jalan tersendat hanya karena mobil berhenti
dan pengendaranya tertidur kelelahan setelah berjam-jam terjebak
kemacetan. Paling merepotkan adalah jika terjadi kecelakaan.
"Banyak sekali sebab yang bisa mengakibatkan kemacetan
berlarut. Harus diingat, sumbatan kecil saja bisa bikin ribuan mobil
di belakangnya terhambat," ujar seorang perwira polisi di Cikampek.
***
JARAK tempuh Jakarta-Cirebon yang sekitar 250 km, memang tak
begitu panjang. Apalagi dengan banyak stasiun pompa bensin di jalur
itu. Tapi teramat padatnya arus kendaraan pada hari-hari menjelang
Lebaran, bisa-bisa membuat jarak itu harus ditempuh belasan jam!
Disarankan, selepas Jakarta, tangki bensin harus penuh. Usahakan
jangan mengisi bensin di perjalanan antara Cikampek-Cirebon, karena
jalur diharapkan tak terganggu.
Seorang polisi yang bertugas di Pamanukan malah mengutarakan
kemungkinan larangan kendaraan berbelok kanan sekadar untuk mengisi
bensin atau akan singgah di rumah makan. Jadi jangan dilupakan untuk
juga menyiapkan makanan dalam kendaraan.
Seperti di ruas jalan antara Sewo-Lohbener. Di sepanjang jalur
ini, terdapat empat SPBU, masing-masing dua di kiri jalan dan dua
lain di kanan jalan. Sedangkan puluhan rumah makan, berjejer di
sepanjang kedua pinggiran jalan negara itu. Titik-titik macet
biasanya terjadi di sekitar SPBU dan rumah makan. Kemacetan total di
ruas jalan Sewo-Lohbener, selalu dikhawatirkan terjadi, setiap kali
terjadi arus mudik lebaran.
Kembali diingatkan agar pengendara mau mengerti bahwa sumbatan
kecil bisa berakibat kemacetan berlarut. Apalagi jika sumbatan itu
berupa kecelakaan lalu lintas. Arus terhenti, pertolongan tak bisa
datang secepatnya lantaran seluruh bagian jalan diisi kendaraan.
Jadi, kata Kapolres Karawang, Letkol (Pol) Maman Supratman, "Tolong
pengendara mau antre agar tak seluruh bagian jalan tersumbat."
Kabag Lalu Lintas (Lantas) Polwil Cirebon, Kapten (Pol) Arief
Wicaksono mengatakan, jalan paling baik untuk memecahkan simpul
kemacetan jika terjadi kecelakaan, adalah dengan menggeser kendaraan
yang melintang karena kecelakaan itu ke luar jalan.
Karena kemacetan diantisipasi akan terjadi di jalur utama di
Jawa Barat, maka diharapkan pengendara juga tidak menghentikan
kendaraannya semau sendiri, termasuk pula bila akan istirahat.
Istirahat bisa dilakukan selepas Jawa Barat, setelah kepadatan lalu
lintas berkurang.
***
PAGAR betis yang terdiri dari petugas dan pos-pos pelayanan
untuk mereka yang pulang mudik, menurut beberapa petugas, kali ini
juga akan dilakukan di jalur-jalur utama Jawa, khususnya jalan yang
padat oleh arus mudik. Beberapa simpul rawan kemacetan, seperti di
sekitar rumah makan dan pompa bensin, akan lebih menjadi prioritas
pagar betis ini. Petugas bersepeda motor pun disipakan sebagai
antisipasi menembus titik macet jika terjadi kemacetan total.
Di antara Cikarang-Jatisari (Cikampek) yang jaraknya lebih
kurang 41 kilometer, pos polisi yang disiapkan tersebar di 51 titik.
Kesiapan itu masih ditambah dengan disiagakannya derek di tujuh
lokasi, ambulans di beberapa titik yang dianggap rawan kecelakaan,
serta puskesmas 24 jam. Tak ketinggalan adalah menyiapkan jalan-
jalan alternatif untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan di jalur
utama.
Ribuan petugas, dari Polri ditambah unsur keamanan lain serta
instansi terkait, akan bersiap mengamankan arus mudik lebaran 1993
di jalur jalan-jalan utama Jawa.
Sebanyak 2.900 anggota Polri ditambah ratusan petugas dari
unsur lain akan disebar dalam pengamanan dalam wilayah hukum Polwil
Cirebon meliputi empat kabupaten yaitu Cirebon, Kuningan,
Majalengka, dan Indramayu, serta Kotamadya Cirebon. Pengamanannya
lebih dikonsentrasikan pada sepanjang jalur utara mulai Sewo
(perbatasan Subang-Indramayu)-Lohbener (Celeng)-Jatibarang-
Palimanan-Cirebon-Losari, sepanjang sekitar 160 km.
Sementara untuk kelancaran dan keamanan arus lalu lintas di
jalur perbatasan Jateng-Jatim, akan didirikan 14 poskostis (pos
komando taktis) yang tersebar sejak Kecamatan Jati Kabupaten Kudus,
Kabupaten Pati, sampai Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, yang
berjarak sekitar 114 kilometer. Lalu ditambah 5 poskostis di jalur
jalan raya Kudus-Jepara-Bangsri. Kemudian 4 poskostis di jalur
Rembang-Cepu (Kabupaten Blora).
Bagi pengendara motor dan mobil yang melewati jalur Semarang-
Demak-Kudus-Pati-Rembang, disediakan pula pos simpatik, yang
ditempatkan di jalan raya Desa Gondoarum Kecamatan Jekulo (Kudus)
dan di tepi pantai Sluke (Rembang)."Di pos simpatik ini kami
rencanakan disediakan minuman kopi," tutur Kabag Lalulintas Polwil
Pati, Kapten (polisi) Soehardono. Di setiap poskostis maupun pos
simpatik, dikerahkan 13 personil, yang berjaga secara giliran selama
24 jam penuh, terhitung sejak hari Kamis (18/3) hingga Jumat (2/4).
Selain sebagai tempat istirahat, di pos simpatik pengemudi juga bisa
memperoleh keterangan tentang jalan-jalan yang akan dilaluinya.
Di wilayah Jateng, pos simpatik ditempatkan di Brebes, Batang,
Salatiga, Cilacap dan lain-lain tempat yang dinilai rawan kecelakaan
dan titik lelah pengemudi. Dari pengalaman, kata beberapa petugas di
jalan, kecelakaan di hari-hari sekitar Lebaran cenderung terjadi
saat pengendara mulai letih setelah mengarungi ratusan kilometer.
"Usahakan ada pengemudi cadangan," ujar petugas.
Pada jalur selatan Jateng, pihak Polwil Banyumas akan
mendirikan sekitar 20 Pos. Pada setiap Pos akan dikendalikan oleh 3-
4 orang petugas Polri yang siaga selama 24 jam penuh. Disamping pos
khusus Lebaran, puskesmas di jalur arteri juga akan siaga selama 24
jam penuh.
Kesiapan serupa juga sudah dilakukan oleh Polres Slawi yang
menyediakan 27 Pos. Pada jalur selatan mulai dari daerah Talang
sampai Margasari sepanjang 30 kilometer akan didirikan 18 pos
keamanan. Sementara pada jalur utara akan didirikan 9 Pos. Pos-pos
keamanan tersebut akan didukung dua Pos Kesehatan yang dilengkapi
pula dengan bengkel dan mobil derek. Kedua Pos Kesehatan itu akan
didirikan di daerah Margasari untuk melayani pemudik yang
menggunakan jalur selatan sedang pos lainnya akan didirikan di
daerah wisata Purwahamba untuk melayani pemudik yang melewati jalur
utara.
Polda Jatim kali ini mengerahkan lebih kurang 9.000 personil.
Polda Jatim juga membentuk pos-pos simpatik untuk melayani pengguna
jasa angkutan maupun awak bus, truk maupun kendaraan pribadi.
Liburan Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Nyepi tahun ini, Polda
Jatim membentuk tiga pos simpatik, masing-masing di Mantingan
(Ngawi), di Banyuputih (Situbondo), dan di Bulu (Bojonegoro).
"Sampai di wilayah Madiun ini, pengendara dari Jakarta rata-rata
sudah letih. Saya sarankan istirahat dulu sebelum meneruskan
perjalanan ke arah timur," saran Kapolres Madiun , Letkol (Pol) Drs
Makbul Padmanagara.
Sebelum bepergian jauh, periksa kondisi kendaraan dengan baik
dan menyeluruh, siapkan mesin berikut seluruh kelengkapan kendaraan,
seperti kunci-kunci (tool kits), dan juga lampu senter. Akan halnya
pengemudi, diharap mematuhi rambu-rambu dan tidak bersikap egois,
misalnya memaksakan berhenti hanya untuk keperluan sepele di jalan
yang padat. Sebab, ulah satu kendaraan bisa mengganggu banyak
pengguna jalan lainnya.
Perjalanan cukup jauh, pesan petugas lalu lintas, istirahatlah
jika letih atau mengantuk, sebaiknya diperhatikan ...
(wgt/who/sup/nts/tif/mul/gus/we/nug)
LANCAR DAN AMAN SEPANJANG JALAN...
JAKARTA-CIREBON di hari-hari menjelang Lebaran, biasanya
identik dengan jalur lalu lintas yang teramat padat dan tak bisa
terhindar dari kemacetan. Meski tak separah jalur Jakarta-Cirebon,
jalan-jalan utama lain di Jawa tak urung akan jauh lebih meriah
dibanding hari-hari biasanya. Membludaknya arus mudik, membuat
kendaraan praktis merayap, kadang terhenti sampai berjam-jam.
Penyebab kemacetan beragam. Mulai dari mobil mogok lantaran
kerusakan mesin ataupun kehabisan bensin, jalan tersumbat oleh
antrean kendaraan yang masuk ke pompa bensin, atau parkir di rumah
makan. Malah bisa jadi jalan tersendat hanya karena mobil berhenti
dan pengendaranya tertidur kelelahan setelah berjam-jam terjebak
kemacetan. Paling merepotkan adalah jika terjadi kecelakaan.
"Banyak sekali sebab yang bisa mengakibatkan kemacetan
berlarut. Harus diingat, sumbatan kecil saja bisa bikin ribuan mobil
di belakangnya terhambat," ujar seorang perwira polisi di Cikampek.
***
JARAK tempuh Jakarta-Cirebon yang sekitar 250 km, memang tak
begitu panjang. Apalagi dengan banyak stasiun pompa bensin di jalur
itu. Tapi teramat padatnya arus kendaraan pada hari-hari menjelang
Lebaran, bisa-bisa membuat jarak itu harus ditempuh belasan jam!
Disarankan, selepas Jakarta, tangki bensin harus penuh. Usahakan
jangan mengisi bensin di perjalanan antara Cikampek-Cirebon, karena
jalur diharapkan tak terganggu.
Seorang polisi yang bertugas di Pamanukan malah mengutarakan
kemungkinan larangan kendaraan berbelok kanan sekadar untuk mengisi
bensin atau akan singgah di rumah makan. Jadi jangan dilupakan untuk
juga menyiapkan makanan dalam kendaraan.
Seperti di ruas jalan antara Sewo-Lohbener. Di sepanjang jalur
ini, terdapat empat SPBU, masing-masing dua di kiri jalan dan dua
lain di kanan jalan. Sedangkan puluhan rumah makan, berjejer di
sepanjang kedua pinggiran jalan negara itu. Titik-titik macet
biasanya terjadi di sekitar SPBU dan rumah makan. Kemacetan total di
ruas jalan Sewo-Lohbener, selalu dikhawatirkan terjadi, setiap kali
terjadi arus mudik lebaran.
Kembali diingatkan agar pengendara mau mengerti bahwa sumbatan
kecil bisa berakibat kemacetan berlarut. Apalagi jika sumbatan itu
berupa kecelakaan lalu lintas. Arus terhenti, pertolongan tak bisa
datang secepatnya lantaran seluruh bagian jalan diisi kendaraan.
Jadi, kata Kapolres Karawang, Letkol (Pol) Maman Supratman, "Tolong
pengendara mau antre agar tak seluruh bagian jalan tersumbat."
Kabag Lalu Lintas (Lantas) Polwil Cirebon, Kapten (Pol) Arief
Wicaksono mengatakan, jalan paling baik untuk memecahkan simpul
kemacetan jika terjadi kecelakaan, adalah dengan menggeser kendaraan
yang melintang karena kecelakaan itu ke luar jalan.
Karena kemacetan diantisipasi akan terjadi di jalur utama di
Jawa Barat, maka diharapkan pengendara juga tidak menghentikan
kendaraannya semau sendiri, termasuk pula bila akan istirahat.
Istirahat bisa dilakukan selepas Jawa Barat, setelah kepadatan lalu
lintas berkurang.
***
PAGAR betis yang terdiri dari petugas dan pos-pos pelayanan
untuk mereka yang pulang mudik, menurut beberapa petugas, kali ini
juga akan dilakukan di jalur-jalur utama Jawa, khususnya jalan yang
padat oleh arus mudik. Beberapa simpul rawan kemacetan, seperti di
sekitar rumah makan dan pompa bensin, akan lebih menjadi prioritas
pagar betis ini. Petugas bersepeda motor pun disipakan sebagai
antisipasi menembus titik macet jika terjadi kemacetan total.
Di antara Cikarang-Jatisari (Cikampek) yang jaraknya lebih
kurang 41 kilometer, pos polisi yang disiapkan tersebar di 51 titik.
Kesiapan itu masih ditambah dengan disiagakannya derek di tujuh
lokasi, ambulans di beberapa titik yang dianggap rawan kecelakaan,
serta puskesmas 24 jam. Tak ketinggalan adalah menyiapkan jalan-
jalan alternatif untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan di jalur
utama.
Ribuan petugas, dari Polri ditambah unsur keamanan lain serta
instansi terkait, akan bersiap mengamankan arus mudik lebaran 1993
di jalur jalan-jalan utama Jawa.
Sebanyak 2.900 anggota Polri ditambah ratusan petugas dari
unsur lain akan disebar dalam pengamanan dalam wilayah hukum Polwil
Cirebon meliputi empat kabupaten yaitu Cirebon, Kuningan,
Majalengka, dan Indramayu, serta Kotamadya Cirebon. Pengamanannya
lebih dikonsentrasikan pada sepanjang jalur utara mulai Sewo
(perbatasan Subang-Indramayu)-Lohbener (Celeng)-Jatibarang-
Palimanan-Cirebon-Losari, sepanjang sekitar 160 km.
Sementara untuk kelancaran dan keamanan arus lalu lintas di
jalur perbatasan Jateng-Jatim, akan didirikan 14 poskostis (pos
komando taktis) yang tersebar sejak Kecamatan Jati Kabupaten Kudus,
Kabupaten Pati, sampai Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, yang
berjarak sekitar 114 kilometer. Lalu ditambah 5 poskostis di jalur
jalan raya Kudus-Jepara-Bangsri. Kemudian 4 poskostis di jalur
Rembang-Cepu (Kabupaten Blora).
Bagi pengendara motor dan mobil yang melewati jalur Semarang-
Demak-Kudus-Pati-Rembang, disediakan pula pos simpatik, yang
ditempatkan di jalan raya Desa Gondoarum Kecamatan Jekulo (Kudus)
dan di tepi pantai Sluke (Rembang)."Di pos simpatik ini kami
rencanakan disediakan minuman kopi," tutur Kabag Lalulintas Polwil
Pati, Kapten (polisi) Soehardono. Di setiap poskostis maupun pos
simpatik, dikerahkan 13 personil, yang berjaga secara giliran selama
24 jam penuh, terhitung sejak hari Kamis (18/3) hingga Jumat (2/4).
Selain sebagai tempat istirahat, di pos simpatik pengemudi juga bisa
memperoleh keterangan tentang jalan-jalan yang akan dilaluinya.
Di wilayah Jateng, pos simpatik ditempatkan di Brebes, Batang,
Salatiga, Cilacap dan lain-lain tempat yang dinilai rawan kecelakaan
dan titik lelah pengemudi. Dari pengalaman, kata beberapa petugas di
jalan, kecelakaan di hari-hari sekitar Lebaran cenderung terjadi
saat pengendara mulai letih setelah mengarungi ratusan kilometer.
"Usahakan ada pengemudi cadangan," ujar petugas.
Pada jalur selatan Jateng, pihak Polwil Banyumas akan
mendirikan sekitar 20 Pos. Pada setiap Pos akan dikendalikan oleh 3-
4 orang petugas Polri yang siaga selama 24 jam penuh. Disamping pos
khusus Lebaran, puskesmas di jalur arteri juga akan siaga selama 24
jam penuh.
Kesiapan serupa juga sudah dilakukan oleh Polres Slawi yang
menyediakan 27 Pos. Pada jalur selatan mulai dari daerah Talang
sampai Margasari sepanjang 30 kilometer akan didirikan 18 pos
keamanan. Sementara pada jalur utara akan didirikan 9 Pos. Pos-pos
keamanan tersebut akan didukung dua Pos Kesehatan yang dilengkapi
pula dengan bengkel dan mobil derek. Kedua Pos Kesehatan itu akan
didirikan di daerah Margasari untuk melayani pemudik yang
menggunakan jalur selatan sedang pos lainnya akan didirikan di
daerah wisata Purwahamba untuk melayani pemudik yang melewati jalur
utara.
Polda Jatim kali ini mengerahkan lebih kurang 9.000 personil.
Polda Jatim juga membentuk pos-pos simpatik untuk melayani pengguna
jasa angkutan maupun awak bus, truk maupun kendaraan pribadi.
Liburan Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Nyepi tahun ini, Polda
Jatim membentuk tiga pos simpatik, masing-masing di Mantingan
(Ngawi), di Banyuputih (Situbondo), dan di Bulu (Bojonegoro).
"Sampai di wilayah Madiun ini, pengendara dari Jakarta rata-rata
sudah letih. Saya sarankan istirahat dulu sebelum meneruskan
perjalanan ke arah timur," saran Kapolres Madiun , Letkol (Pol) Drs
Makbul Padmanagara.
Sebelum bepergian jauh, periksa kondisi kendaraan dengan baik
dan menyeluruh, siapkan mesin berikut seluruh kelengkapan kendaraan,
seperti kunci-kunci (tool kits), dan juga lampu senter. Akan halnya
pengemudi, diharap mematuhi rambu-rambu dan tidak bersikap egois,
misalnya memaksakan berhenti hanya untuk keperluan sepele di jalan
yang padat. Sebab, ulah satu kendaraan bisa mengganggu banyak
pengguna jalan lainnya.
Perjalanan cukup jauh, pesan petugas lalu lintas, istirahatlah
jika letih atau mengantuk, sebaiknya diperhatikan ...
(wgt/who/sup/nts/tif/mul/gus/we/nug)
Jumat, 09 November 2007
Wajah Kekuasaan di Jalan Raya
KOMPAS - Sabtu, 28 Sep 1991 Halaman: 1 Penulis: MULYADI, AGUS; SETIAWAN, AGUS; SUGANDA, HER Ukuran: 5496 Foto: 1
WAJAH KEKUASAAN DI JALAN RAYA
Jalur Tengkorak Cikampek-Cirebon(2-habis)
KAKI kiri di jalan, kaki kanan di penjara. Inilah pameo
sebagian sopir yang ditemui di jalur Cikampek-Cirebon. "Teman saya
nabrak orang, kena dua tahun," kata Mahmud, seorang sopir asal
Pamanukan.
Nasib yang tak jauh berbeda menimpa Siyam bin Mukri (40).
Pengemudi yang memulai kariernya sebagai kernet ini, sekitar setahun
lalu mengemudikan mobil minibus yang memang ia ketahui remnya blong.
Ia bermaksud memperbaiki rem mobil tersebut di rumahnya. Dalam
perjalanan pulang itu, pada sebuah tikungan ia berpapasan dengan
truk yang melaju dalam kecepatan cukup tinggi. Kedua pengemudi
kaget. Tabrakan tak terhindarkan. Minibus yang dikemudikan Siyam
terbalik, sebelum menimpa empat pejalan kaki di trotoar. Dua di
antara korban yang ditabraknya tewas. Oleh Pengadilan Negeri
Karawang, dia diganjar hukuman dua tahun potong tahanan.
"Saya tidak menyangka akan bernasib seperti ini," katanya
ketika ditemui di Lembaga Pemasyarakatan Karawang. Dia manyatakan
masih dibayang-bayangi peristiwa kecelakaan itu. "Saya melihat
bagaimana korban tergeletak di jalan terhimpit rongsokan kendaraan.
Saya benar-benar menyesal, dan tak ingin jadi sopir lagi," tambahnya.
***
PENYESALAN, biasanya datang terlambat. Menjadi sopir sendiri
dengan tetap harus mengingat bahwa masih banyak sopir yang baik
dan tahu sopan-santun di jalan oleh sebagian sopir ternyata bisa
menjadi pekerjaan yang memabokkan.
Menurut pengakuan beberapa sopir, sejelek-jeleknya sopir kata
mereka "masih dilirik wanita".
"Entahlah, kenapa banyak wanita gampang terpikat pada sopir,"
kata Rindon maupun Parman (keduanya bukan nama sebenarnya). Kedua
pengemudi antarkota itu mengaku beristeri lebih dari satu.
Pengalaman mereka memang bisa tak jauh berbeda satu sama lain.
Siyam bin Sukri adalah anak petani dari Majalengka. Setelah lulus
SD, ia tak bisa melanjutkan pendidikan, dan menjadi buruh tani
menyambi berbagai pekerjaan kasar lain.
Setelah itu, ia jadi kernet. Di situ ia mulai belajar menyetir,
sampai bisa mengemudikan truk. Walau waktu itu ia tidak memiliki SIM
(Surat Izin Mengemudi), ia sudah biasa ditugaskan untuk mengangkut
batu oleh sopir utama truknya. Dari situlah perjalanannya sebagai
sopir.
Begitu pula Mahmud dari Pamanukan. Sekolahnya hanya sampai
kelas V SD. Ia menjadi calo, sebelum menjadi kernet. Dia ingat, pada
saat menjadi kernet itulah pernah suatu kali mobilnya tengah dicuci,
dan sang sopir makan di warung. Ia tergoda untuk belajar menyetir.
Mesin mobil dihidupkan, roda gigi perseneling dimasukkan. Kendaraan
meloncat, menabrak benda lain sampai penyok. Mahmud dipecat. Tapi
dari situ dia terus menguatkan tekad untuk belajar menyetir.
Akhirnya, berhasil juga.
"Mula-mula angkutan penumpang Cikampek-Cilamaya," ia menuturkan
pengalamannya.
Latar belakang serba nekat inikah yang sebagian juga melatar-
belakangi sikap mereka di jalan raya?
***
PARA sopir bus antarkota itu biasanya melengkapi kendaraan
mereka dengan berbagai asesori. Mereka beranggapan, makin "keren"
dan "gagah" kendaraannya, akan lebih mudah memikat penumpang. Bus
itu, akhirnya seperti menjadi identitas mereka. Kalau sopir ini
pindah kerja ke perusahaan bus lain, asesori-asesori itu biasanya
mereka bawa, untuk dipasang lagi di bus barunya.
Lihatlah Rindon, ketika ngetem di terminal Pulo Gadung, Jakarta.
Kendaraannya seperti huruf-huruf besar yang tertera di kaca
belakang bus oleh orang-orang di situ dijuluki Si Bapuk. Di situ
juga ada bus-bus lain, dengan nama Kombayana, Ratu Bilkis, Permai.
Nama-nama itu seolah identik dengan karakter pengemudi bus yang
bersangkutan. Selain menciptakan citra dirinya lewat aksesori-
aksesori, lewat nama-nama yang aneh untuk busnya, juga lewat
"keberaniannya" ngebut dan memperpendek waktu tempuh dari route yang
dilaluinya. Makin cepat, mereka merasa makin populer.
Apa yang terjadi, mungkin seperti pernah dilukiskan oleh
psikolog MAW Brouwer almarhum. Soal mengejar setoran, sebetulnya
hanya salah satu faktor yang menyebabkan para sopir bus ngebut di
jalan raya.
Faktor lain, dimana dengan mengingat latarbelakang pendidikan
berikut sosial sebagian sopir, dengan duduk di belakang kemudi
mereka sebenarnya tengah mengkonversikan dirinya dari orang biasa
kursi kendaraannya yang tinggi berikut kaca bus yang lebar dimana
dari situ kendaraan-kendaraan lain kelihatan kerdil, mereka
mengalami tranformasi psikologis. Dari situ, ada keinginan untuk
melampiaskan keinginan-keinginan yang selama ini terpendam.
Lebih-lebih, seperti dituturkan sebagian dari mereka, mulai ada
yang melirik di jalanan. Perpaduan antara kekuasaan dan wanita,
makin mengokohkan citra diri tentang kehebatan seorang sopir bus.
Ada pepatah, citra bangsa, konon tercermin lewat tingkah laku
di jalan raya.
Dari deru bus-bus antarkota dengan asesori misalnya lampu
merah, sirene, lampu tembak, dan karakter serba berkuasa di jalan
raya itu, adakah juga tercermin wajah kita? Yakni wajah, yang suka
mabok atas kekuasaan? (agus mulyadi/agus setiawan/her suganda)
Foto:1
Kompas/mul
BERDESAKAN - Suasana dalam bis antarkota. Penumpang berdesakan,
sementara bis ngebut. Sebuah pertaruhan yang amat mahal.
WAJAH KEKUASAAN DI JALAN RAYA
Jalur Tengkorak Cikampek-Cirebon(2-habis)
KAKI kiri di jalan, kaki kanan di penjara. Inilah pameo
sebagian sopir yang ditemui di jalur Cikampek-Cirebon. "Teman saya
nabrak orang, kena dua tahun," kata Mahmud, seorang sopir asal
Pamanukan.
Nasib yang tak jauh berbeda menimpa Siyam bin Mukri (40).
Pengemudi yang memulai kariernya sebagai kernet ini, sekitar setahun
lalu mengemudikan mobil minibus yang memang ia ketahui remnya blong.
Ia bermaksud memperbaiki rem mobil tersebut di rumahnya. Dalam
perjalanan pulang itu, pada sebuah tikungan ia berpapasan dengan
truk yang melaju dalam kecepatan cukup tinggi. Kedua pengemudi
kaget. Tabrakan tak terhindarkan. Minibus yang dikemudikan Siyam
terbalik, sebelum menimpa empat pejalan kaki di trotoar. Dua di
antara korban yang ditabraknya tewas. Oleh Pengadilan Negeri
Karawang, dia diganjar hukuman dua tahun potong tahanan.
"Saya tidak menyangka akan bernasib seperti ini," katanya
ketika ditemui di Lembaga Pemasyarakatan Karawang. Dia manyatakan
masih dibayang-bayangi peristiwa kecelakaan itu. "Saya melihat
bagaimana korban tergeletak di jalan terhimpit rongsokan kendaraan.
Saya benar-benar menyesal, dan tak ingin jadi sopir lagi," tambahnya.
***
PENYESALAN, biasanya datang terlambat. Menjadi sopir sendiri
dengan tetap harus mengingat bahwa masih banyak sopir yang baik
dan tahu sopan-santun di jalan oleh sebagian sopir ternyata bisa
menjadi pekerjaan yang memabokkan.
Menurut pengakuan beberapa sopir, sejelek-jeleknya sopir kata
mereka "masih dilirik wanita".
"Entahlah, kenapa banyak wanita gampang terpikat pada sopir,"
kata Rindon maupun Parman (keduanya bukan nama sebenarnya). Kedua
pengemudi antarkota itu mengaku beristeri lebih dari satu.
Pengalaman mereka memang bisa tak jauh berbeda satu sama lain.
Siyam bin Sukri adalah anak petani dari Majalengka. Setelah lulus
SD, ia tak bisa melanjutkan pendidikan, dan menjadi buruh tani
menyambi berbagai pekerjaan kasar lain.
Setelah itu, ia jadi kernet. Di situ ia mulai belajar menyetir,
sampai bisa mengemudikan truk. Walau waktu itu ia tidak memiliki SIM
(Surat Izin Mengemudi), ia sudah biasa ditugaskan untuk mengangkut
batu oleh sopir utama truknya. Dari situlah perjalanannya sebagai
sopir.
Begitu pula Mahmud dari Pamanukan. Sekolahnya hanya sampai
kelas V SD. Ia menjadi calo, sebelum menjadi kernet. Dia ingat, pada
saat menjadi kernet itulah pernah suatu kali mobilnya tengah dicuci,
dan sang sopir makan di warung. Ia tergoda untuk belajar menyetir.
Mesin mobil dihidupkan, roda gigi perseneling dimasukkan. Kendaraan
meloncat, menabrak benda lain sampai penyok. Mahmud dipecat. Tapi
dari situ dia terus menguatkan tekad untuk belajar menyetir.
Akhirnya, berhasil juga.
"Mula-mula angkutan penumpang Cikampek-Cilamaya," ia menuturkan
pengalamannya.
Latar belakang serba nekat inikah yang sebagian juga melatar-
belakangi sikap mereka di jalan raya?
***
PARA sopir bus antarkota itu biasanya melengkapi kendaraan
mereka dengan berbagai asesori. Mereka beranggapan, makin "keren"
dan "gagah" kendaraannya, akan lebih mudah memikat penumpang. Bus
itu, akhirnya seperti menjadi identitas mereka. Kalau sopir ini
pindah kerja ke perusahaan bus lain, asesori-asesori itu biasanya
mereka bawa, untuk dipasang lagi di bus barunya.
Lihatlah Rindon, ketika ngetem di terminal Pulo Gadung, Jakarta.
Kendaraannya seperti huruf-huruf besar yang tertera di kaca
belakang bus oleh orang-orang di situ dijuluki Si Bapuk. Di situ
juga ada bus-bus lain, dengan nama Kombayana, Ratu Bilkis, Permai.
Nama-nama itu seolah identik dengan karakter pengemudi bus yang
bersangkutan. Selain menciptakan citra dirinya lewat aksesori-
aksesori, lewat nama-nama yang aneh untuk busnya, juga lewat
"keberaniannya" ngebut dan memperpendek waktu tempuh dari route yang
dilaluinya. Makin cepat, mereka merasa makin populer.
Apa yang terjadi, mungkin seperti pernah dilukiskan oleh
psikolog MAW Brouwer almarhum. Soal mengejar setoran, sebetulnya
hanya salah satu faktor yang menyebabkan para sopir bus ngebut di
jalan raya.
Faktor lain, dimana dengan mengingat latarbelakang pendidikan
berikut sosial sebagian sopir, dengan duduk di belakang kemudi
mereka sebenarnya tengah mengkonversikan dirinya dari orang biasa
kursi kendaraannya yang tinggi berikut kaca bus yang lebar dimana
dari situ kendaraan-kendaraan lain kelihatan kerdil, mereka
mengalami tranformasi psikologis. Dari situ, ada keinginan untuk
melampiaskan keinginan-keinginan yang selama ini terpendam.
Lebih-lebih, seperti dituturkan sebagian dari mereka, mulai ada
yang melirik di jalanan. Perpaduan antara kekuasaan dan wanita,
makin mengokohkan citra diri tentang kehebatan seorang sopir bus.
Ada pepatah, citra bangsa, konon tercermin lewat tingkah laku
di jalan raya.
Dari deru bus-bus antarkota dengan asesori misalnya lampu
merah, sirene, lampu tembak, dan karakter serba berkuasa di jalan
raya itu, adakah juga tercermin wajah kita? Yakni wajah, yang suka
mabok atas kekuasaan? (agus mulyadi/agus setiawan/her suganda)
Foto:1
Kompas/mul
BERDESAKAN - Suasana dalam bis antarkota. Penumpang berdesakan,
sementara bis ngebut. Sebuah pertaruhan yang amat mahal.
Siapa Kuat Dia Menang
KOMPAS - Jumat, 27 Sep 1991 Halaman: 1 Penulis: MULYADI, AGUS; SETIAWAN, AGUS; SUGANDA, HER Ukuran: 8133 Foto: 1
SIAPA KUAT, DIA MENANG
Jalur Tengkorak Cikampek-Cirebon (1)
Cikampek-Cirebon (250) km) dijuluki "jalur tengkorak". Jalan
raya di pesisir utara Jabar itu dianggap jalur rawan kecelakaan.
Pemandangan yang umum terjadi di situ adalah kebut-kebutan antara
kendaraan besar semacam bis. Inikah arena pamer kekuasaan, yang bisa
merefleksikan sikap budaya kita secara keseluruhan? Koresponden
Kompas Agus Mulyadi, Agus Setiawan, dan Her Suganda, menelusuri
jalur itu dan menuangkan pengamatannya dalam dua tulisan, untuk
hari ini dan besok.
JALUR TENGKORAK. Inilah julukan untuk ruas jalan Cikampek-
Cirebon. Selain dikenal sebagai jalur yang padat dimana pada hari-
hari istimewa seperti Lebaran biasanya menjadi pusat kemacetan lalu
lintas terburuk di Jawa, jalur ini juga sangat rawan kecelakaan.
Dengarlah pengakuan Adji Gunawan, penduduk Kalibata Indah yang
baru saja melewati jalur itu. "Kami sekeluarga hampir jadi korban
jago jalanan," katanya. Mengendarai sebuah kendaraan kecil, dalam
perjalanan ke Jakarta ia berpapasan dengan bus yang sedang adu
kecepatan di daerah Pamanukan. Menyadari bahaya di depannya, ia
segera mengurangi kecepatan sambil memberi isyarat lampu.
Tapi, isyarat kendaraan kecil ini tak digubris. "Monster" di
depannya itu malah menjawab dengan menyalakan lampu merah seperti
layaknya mobil polisi atau ambulans. Gunawan segera keluar dari
jalan aspal, masuk trotoar, dan berhenti. "Bayangkan kalau di
kendaraan kami ada yang berpenyakit jantung," ujarnya.
Pengalaman seperti ini pasti bukan hanya milik Gunawan,
melainkan bisa menjadi milik siapa saja yang punya pengalaman
berkendaraan melewati jalur tersebut. Kendaraan-kendaraan besar akan
menakut-nakuti kendaraan kecil dengan misalnya memepet dari
belakang, merampas jalur pengemudi lain dari arah berlawanan, sampai
ke kesukaan membunyikan klakson kendaraan yang sengaja dibuat
mengguntur bunyinya.
Jika tidak mengalah, keadaan lebih fatal bisa terjadi. Seperti
terjadi suatu siang, 10 Juni 1991. Sepuluh jiwa melayang akibat
tabrakan antara bus SN No Pol E 600 SY dengan Colt L-300 No Pol AD
8069 D yang dikemudikan Ir Nasir Nugroho (34) pada ruas jalan di
desa Batangsari, Pamanukan, Subang. Sebagian besar korban yang
meninggal adalah penumpang Colt berikut pengemudinya. Kendaraan itu
ringsek tak berbentuk lagi. Lebih tragis, bahwa dalam kecelakaan
ini tersambar juga Wasin, petani setempat, yang saat itu sedang
mengambil daun lamtoro di pinggir jalan. Dia tewas di tempat.
Pagi hari, kecelakaan yang menelan nyawa kembali terulang. Kali
ini di Rancajaya, Patokbuesi, tidak terlalu jauh dari lokasi
kecelakaan sehari sebelumnya. Kali ini, bus ALS bertabrakan dengan
Daihatsu Hijet. Kendaraan keluarga ini ringsek, dan empat
penumpangnya tewas.
"Di sini kecelakaan hampir setiap hari terjadi," kata Kepala
Kepolisian Sektor (Kapolsek) Ciasem, Subang, Lettu (Pol) R.
Sudiarna. Ruas jalur utara yang termasuk wilayah hukum Polsek
tersebut tergolong paling rawan, karena sepanjang ruas jalan
Cikampek-Pamanukan padat perumahan dan warung-warung tempat
bersantai dan beristirahat.
Ini bukan lalu berarti bahwa pada jalur yang lain keadaan tidak
rawan. Dalam lima tahun terakhir ini, kecelakaan terhebat dengan
merenggut 24 orang meninggal dan 40 orang luka berat maupun ringan,
terjadi di Desa Rawahurip, Astanajapura, yang terletak antara
Cirebon dengan wilayah perbatasan Jabar-Jateng. Peristiwa yang
terjadi 13 Agustus 1986 itu melibatkan bus Sono No Pol G 2638 BA dan
bus pariwisata Antar Arah No Pol B 7999 FM. Bus Sono melaju dalam
kecepatan tinggi dari Cirebon menuju arah Tegal. Bus tersebut
menyalip pick-up di depannya, kemudian langsung digenjot lagi untuk
mendahului sebuah truk. Sementara, dari arah berlawanan muncul bus
pariwisata itu. Kecelakaan fatal tak terelakkan.
Puluhan penumpang, mati sia-sia...
***
PERSOALAN pokok pada jalur ini adalah akumulasi berbagai
perkembangan yang begitu cepat terjadi di wilayah ini. Daerah-daerah
di utara Jabar telah berkembang sedemikian pesatnya dengan Jakarta
sebagai magnit utama. Perkembangan juga dialami daerah-daerah di
Jateng dan Jatim yang pada akhirnya makin menumbuhkan bobot kegiatan
lalu lintas wilayah tersebut.
Dari terminal Cirebon saja, setiap hari diberangkatkan sekitar
1.700 bus. Belum terhitung kendaraan-kendaraan lain yang melewati
jalur itu semacam truk barang, trailer, kendaraan penumpang kecil,
dan lain-lain. Menurut Ditlantas Polda Jabar, jalur ini dilalui
sekitar 42.000 kendaraan setiap hari.
Dengan angka itu, menurut Kaditlantas Kol (Pol) Drs Agus
Sarman, jalur ini menjadi jalur terpadat di Jabar. Dan juga rawan,
baik rawan kecelakaan, maupun rawan tindak kriminalitas "bajing
loncat". Istilah ini mengacu pada komplotan bandit, yang biasanya
menjarah truk-truk barang. Komplotan itu, tak jarang menghabisi
nyawa korban, seperti terjadi Agustus lalu, dimana seorang kernet
truk ditemukan tewas setelah dilempar sebuah komplotan "bajing
loncat" ke pinggir jalan.
Polwil Cirebon, Letkol (Pol) Drs Nasrul Yusuf mengakui, angka
pencurian dengan kekerasan di wilayah jalur utara sangat tinggi.
Bahkan tertinggi dibanding daerah lain di Polwil Cirebon yang
meliputi Polresta dan Polres Cirebon, Polres Indramayu, serta Polres
Majalengka. Penempatan 40 anggota Brimob ke jalur tersebut, diakui
cukup mengurangi kasus pencurian dengan kekerasan.
Sedang yang sulit ditekan, tetaplah angka kecelakaan. Untuk
wilayah Cirebon, sampai Juli lalu tercatat 395 kasus kecelakaan
dengan merenggut 234 korban meninggal, 306 luka berat, dan 413 luka
ringan. Jumlah kerugian seluruhnya Rp 226 juta.
Sedang untuk Polwil Purwakarta, sampai Juli lalu tercatat 162
orang meninggal, 266 luka berat, dan 387 luka ringan.
Pengawasan jalur sepanjang 250 km itu selama ini ditangani 25
Polsek. Jumlah ini, sebetulnya dipandang kurang memadai. Tiap Polsek
didukung oleh sekitar 30 personil dengan masalah yang ditangani
tidak hanya masalah lalu lintas, tetapi juga masalah ketertiban dan
keamanan.
***
UNTUK memecahkan sebagian masalah lalu lintas yang muncul di
situ, dilakukan pula upaya memperbaiki kualitas jalan. Tapi, ini
seperti buah simalakama. Ini malah merangsang pengemudi untuk memacu
kendaraan seperti layaknya di arena balap mobil (bus). Sistem
penggajian terhadap para sopir bus, juga kian memacu para pengemudi
untuk makin kurang mengingat kepentingan para pengemudi lain.
Menurut Siyam, seorang sopir angkutan umum yang kini meringkuk
di lembaga pemasyarakatan, dulu tiap hari dia harus menyetor Rp
45.000 per hari. Pada hari-hari baik, pendapatan bisa mencapai Rp
65.000. Tetapi, kelebihan Rp 20.000 harus dibagi tiga dengan dua
orang kernetnya, sehingga ia hanya memperoleh bagian Rp 10.000.
Sistem setoran ini juga berlaku pada pengemudi bus antarkota.
Sebut saja Hasan, pengemudi salah satu bus antar kota di Cirebon.
Berdasarkan perjanjian, besar setoran setiap hari adalah Rp 155.000.
Tetapi menurut dia, target itu sebetulnya sulit dicapai. Lantas,
pengusaha biasanya menetapkan, kalau mereka tak bisa memenuhi jumlah
setoran, lalu dianggap utang. Pembayaran, dilakukan dengan cara
mencicil.
Kebiasaan di jalan raya, sistem pembayaran yang membelenggu
para sopir, apresiasi terhadap nyawa orang lain, akhirnya menjadi
unsur-unsur yang terlihat dalam perilaku berlalu lintas di jalur
utara pulau Jawa itu.
Yakni, sebuah perilaku saling sikut, seperti adagium "survival
of the fittest". Yang terkuat yang menang. Sedang yang lemah, yang
kecil seperti kendaraan-kendaraan kecil di jalur Cikampek-Cirebon
kadang harus tersingkir atau terperosok di tepi jalan.
(Bersambung)
Foto: 1
Kompas/kr
TERPEROSOK - Sebuah pemandangan yang umum terjadi di jalur Cikampek-
Cirebon. Sebuah bis terperosok ke parit di tepi jalan.
SIAPA KUAT, DIA MENANG
Jalur Tengkorak Cikampek-Cirebon (1)
Cikampek-Cirebon (250) km) dijuluki "jalur tengkorak". Jalan
raya di pesisir utara Jabar itu dianggap jalur rawan kecelakaan.
Pemandangan yang umum terjadi di situ adalah kebut-kebutan antara
kendaraan besar semacam bis. Inikah arena pamer kekuasaan, yang bisa
merefleksikan sikap budaya kita secara keseluruhan? Koresponden
Kompas Agus Mulyadi, Agus Setiawan, dan Her Suganda, menelusuri
jalur itu dan menuangkan pengamatannya dalam dua tulisan, untuk
hari ini dan besok.
JALUR TENGKORAK. Inilah julukan untuk ruas jalan Cikampek-
Cirebon. Selain dikenal sebagai jalur yang padat dimana pada hari-
hari istimewa seperti Lebaran biasanya menjadi pusat kemacetan lalu
lintas terburuk di Jawa, jalur ini juga sangat rawan kecelakaan.
Dengarlah pengakuan Adji Gunawan, penduduk Kalibata Indah yang
baru saja melewati jalur itu. "Kami sekeluarga hampir jadi korban
jago jalanan," katanya. Mengendarai sebuah kendaraan kecil, dalam
perjalanan ke Jakarta ia berpapasan dengan bus yang sedang adu
kecepatan di daerah Pamanukan. Menyadari bahaya di depannya, ia
segera mengurangi kecepatan sambil memberi isyarat lampu.
Tapi, isyarat kendaraan kecil ini tak digubris. "Monster" di
depannya itu malah menjawab dengan menyalakan lampu merah seperti
layaknya mobil polisi atau ambulans. Gunawan segera keluar dari
jalan aspal, masuk trotoar, dan berhenti. "Bayangkan kalau di
kendaraan kami ada yang berpenyakit jantung," ujarnya.
Pengalaman seperti ini pasti bukan hanya milik Gunawan,
melainkan bisa menjadi milik siapa saja yang punya pengalaman
berkendaraan melewati jalur tersebut. Kendaraan-kendaraan besar akan
menakut-nakuti kendaraan kecil dengan misalnya memepet dari
belakang, merampas jalur pengemudi lain dari arah berlawanan, sampai
ke kesukaan membunyikan klakson kendaraan yang sengaja dibuat
mengguntur bunyinya.
Jika tidak mengalah, keadaan lebih fatal bisa terjadi. Seperti
terjadi suatu siang, 10 Juni 1991. Sepuluh jiwa melayang akibat
tabrakan antara bus SN No Pol E 600 SY dengan Colt L-300 No Pol AD
8069 D yang dikemudikan Ir Nasir Nugroho (34) pada ruas jalan di
desa Batangsari, Pamanukan, Subang. Sebagian besar korban yang
meninggal adalah penumpang Colt berikut pengemudinya. Kendaraan itu
ringsek tak berbentuk lagi. Lebih tragis, bahwa dalam kecelakaan
ini tersambar juga Wasin, petani setempat, yang saat itu sedang
mengambil daun lamtoro di pinggir jalan. Dia tewas di tempat.
Pagi hari, kecelakaan yang menelan nyawa kembali terulang. Kali
ini di Rancajaya, Patokbuesi, tidak terlalu jauh dari lokasi
kecelakaan sehari sebelumnya. Kali ini, bus ALS bertabrakan dengan
Daihatsu Hijet. Kendaraan keluarga ini ringsek, dan empat
penumpangnya tewas.
"Di sini kecelakaan hampir setiap hari terjadi," kata Kepala
Kepolisian Sektor (Kapolsek) Ciasem, Subang, Lettu (Pol) R.
Sudiarna. Ruas jalur utara yang termasuk wilayah hukum Polsek
tersebut tergolong paling rawan, karena sepanjang ruas jalan
Cikampek-Pamanukan padat perumahan dan warung-warung tempat
bersantai dan beristirahat.
Ini bukan lalu berarti bahwa pada jalur yang lain keadaan tidak
rawan. Dalam lima tahun terakhir ini, kecelakaan terhebat dengan
merenggut 24 orang meninggal dan 40 orang luka berat maupun ringan,
terjadi di Desa Rawahurip, Astanajapura, yang terletak antara
Cirebon dengan wilayah perbatasan Jabar-Jateng. Peristiwa yang
terjadi 13 Agustus 1986 itu melibatkan bus Sono No Pol G 2638 BA dan
bus pariwisata Antar Arah No Pol B 7999 FM. Bus Sono melaju dalam
kecepatan tinggi dari Cirebon menuju arah Tegal. Bus tersebut
menyalip pick-up di depannya, kemudian langsung digenjot lagi untuk
mendahului sebuah truk. Sementara, dari arah berlawanan muncul bus
pariwisata itu. Kecelakaan fatal tak terelakkan.
Puluhan penumpang, mati sia-sia...
***
PERSOALAN pokok pada jalur ini adalah akumulasi berbagai
perkembangan yang begitu cepat terjadi di wilayah ini. Daerah-daerah
di utara Jabar telah berkembang sedemikian pesatnya dengan Jakarta
sebagai magnit utama. Perkembangan juga dialami daerah-daerah di
Jateng dan Jatim yang pada akhirnya makin menumbuhkan bobot kegiatan
lalu lintas wilayah tersebut.
Dari terminal Cirebon saja, setiap hari diberangkatkan sekitar
1.700 bus. Belum terhitung kendaraan-kendaraan lain yang melewati
jalur itu semacam truk barang, trailer, kendaraan penumpang kecil,
dan lain-lain. Menurut Ditlantas Polda Jabar, jalur ini dilalui
sekitar 42.000 kendaraan setiap hari.
Dengan angka itu, menurut Kaditlantas Kol (Pol) Drs Agus
Sarman, jalur ini menjadi jalur terpadat di Jabar. Dan juga rawan,
baik rawan kecelakaan, maupun rawan tindak kriminalitas "bajing
loncat". Istilah ini mengacu pada komplotan bandit, yang biasanya
menjarah truk-truk barang. Komplotan itu, tak jarang menghabisi
nyawa korban, seperti terjadi Agustus lalu, dimana seorang kernet
truk ditemukan tewas setelah dilempar sebuah komplotan "bajing
loncat" ke pinggir jalan.
Polwil Cirebon, Letkol (Pol) Drs Nasrul Yusuf mengakui, angka
pencurian dengan kekerasan di wilayah jalur utara sangat tinggi.
Bahkan tertinggi dibanding daerah lain di Polwil Cirebon yang
meliputi Polresta dan Polres Cirebon, Polres Indramayu, serta Polres
Majalengka. Penempatan 40 anggota Brimob ke jalur tersebut, diakui
cukup mengurangi kasus pencurian dengan kekerasan.
Sedang yang sulit ditekan, tetaplah angka kecelakaan. Untuk
wilayah Cirebon, sampai Juli lalu tercatat 395 kasus kecelakaan
dengan merenggut 234 korban meninggal, 306 luka berat, dan 413 luka
ringan. Jumlah kerugian seluruhnya Rp 226 juta.
Sedang untuk Polwil Purwakarta, sampai Juli lalu tercatat 162
orang meninggal, 266 luka berat, dan 387 luka ringan.
Pengawasan jalur sepanjang 250 km itu selama ini ditangani 25
Polsek. Jumlah ini, sebetulnya dipandang kurang memadai. Tiap Polsek
didukung oleh sekitar 30 personil dengan masalah yang ditangani
tidak hanya masalah lalu lintas, tetapi juga masalah ketertiban dan
keamanan.
***
UNTUK memecahkan sebagian masalah lalu lintas yang muncul di
situ, dilakukan pula upaya memperbaiki kualitas jalan. Tapi, ini
seperti buah simalakama. Ini malah merangsang pengemudi untuk memacu
kendaraan seperti layaknya di arena balap mobil (bus). Sistem
penggajian terhadap para sopir bus, juga kian memacu para pengemudi
untuk makin kurang mengingat kepentingan para pengemudi lain.
Menurut Siyam, seorang sopir angkutan umum yang kini meringkuk
di lembaga pemasyarakatan, dulu tiap hari dia harus menyetor Rp
45.000 per hari. Pada hari-hari baik, pendapatan bisa mencapai Rp
65.000. Tetapi, kelebihan Rp 20.000 harus dibagi tiga dengan dua
orang kernetnya, sehingga ia hanya memperoleh bagian Rp 10.000.
Sistem setoran ini juga berlaku pada pengemudi bus antarkota.
Sebut saja Hasan, pengemudi salah satu bus antar kota di Cirebon.
Berdasarkan perjanjian, besar setoran setiap hari adalah Rp 155.000.
Tetapi menurut dia, target itu sebetulnya sulit dicapai. Lantas,
pengusaha biasanya menetapkan, kalau mereka tak bisa memenuhi jumlah
setoran, lalu dianggap utang. Pembayaran, dilakukan dengan cara
mencicil.
Kebiasaan di jalan raya, sistem pembayaran yang membelenggu
para sopir, apresiasi terhadap nyawa orang lain, akhirnya menjadi
unsur-unsur yang terlihat dalam perilaku berlalu lintas di jalur
utara pulau Jawa itu.
Yakni, sebuah perilaku saling sikut, seperti adagium "survival
of the fittest". Yang terkuat yang menang. Sedang yang lemah, yang
kecil seperti kendaraan-kendaraan kecil di jalur Cikampek-Cirebon
kadang harus tersingkir atau terperosok di tepi jalan.
(Bersambung)
Foto: 1
Kompas/kr
TERPEROSOK - Sebuah pemandangan yang umum terjadi di jalur Cikampek-
Cirebon. Sebuah bis terperosok ke parit di tepi jalan.
Langganan:
Postingan (Atom)

