Tampilkan postingan dengan label indramayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indramayu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 November 2007

Jatibarang-Palimanan, Jalan Penuh Kerawanan

KOMPAS - Senin, 05 Aug 1991 Halaman: 13 Penulis: MUL Ukuran: 6110 Foto: 1

JATIBARANG - PALIMANAN, JALAN PENUH KERAWANAN

RABU tengah malam di akhir bulan Juni itu langit begitu bersih
Bulan penuh bersinar cerah, sementara bintang gemerlapan tak
terhalang awan. Sekitar sepuluh truk gandengan di parkir berjejer di
kiri-kanan by-pass jalur utara Jawa. Para pengemudinya tengah
beristirahat di beberapa warung di Desa Lung Benda, Kecamatan
Palimanan, Kabupaten Cirebon (Jawa Barat). Mereka menghilangkan
penat setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta.

Lepas dari Desa Lung Benda, sekitar 20 kilometer barat kota
Cirebon, jalan mulai memasuki daerah persawahan. Di sini, lalu
lintas jalur utara Jawa mulai menampakkan karakternya. Mobil
penumpang, bus, truk dan bahkan truk gandengan, berlari bagai dikejar
setan. Semua berlomba mengejar waktu.

Pengendara sepeda motor yang ikut "numpang" di jalan mulus itu
harus banyak mengalah. Sesekali, kendaraan terpaksa "dibuang" ke
luar badan jalan jika bus dari arah berlawanan sedang dipacu
mendahului kendaraan di depannya. Badan jalan sekitar 6 meter untuk
sesaat tertutup habis. Meleng sedikit saja bisa berakibat fatal.

"Kerasnya" lalu lintas di jalur itu sedikit berkurang ketika
memasuki Arjawinangun dengan tikungan tajam. Namun setelah itu jalan
kembali memasuki daerah persawahan dan perkebunan tebu. Pedal gas
kembali ditekan kuat-kuat. Lampu kendaraan menyorot tajam, membelah
malam yang lengang. Keadaan itu tak berubah sampai memasuki kota
Kecamatan Indramayu.

WASPADA memang mutlak bagi semua pemakai jalan. Tapi di jalur
utara Jawa, sopir truk tak sekadar berhati-hati mengendalikan
kendaraannya. Tapi juga harus waspada menjaga barang yang dibawanya.
Jalur ini tak hanya rawan kecelakaan, tapi juga rawan kejahatan
akibat beroperasinya kawanan pengutil muatan yang dikenal dengan
sebutan "bajing loncat".

Selama beberapa tahun terakhir, "bajing loncat" menjadi momok
para sopir truk di jalur utara, terutama bagi pengemudi truk
gandengan yang mengangkut barang berharga. Kawanan "bajing loncat"
biasanya beroperasi menggunakan kendaraan lebih kecil dengan bak
terbuka. Kendaraan mereka "menempel" truk yang sedang melaju, lalu
para "bajing" berloncatan ke atas truk.

Senjata tajam beraksi, terpal penutup dicabik-cabik। Lalu
muatan truk dilempar ke atas bak kendaraannya yang terus menempel.
Bila dirasa cukup, "bajing-bajing" tadi kembali berlompatan ke atas
pick-Up, dan mereka kabur tanpa diketahui pengemudi truk. "Sewaktu
beroperasi lampu kendaraan mereka matikan hingga kami tak tahu kalau
ada mobil yang menempel," cerita beberapa sopir truk di Desa
Tulungagung, Kecamatan Kertasemaya.

Dari beberapa kejadian di wilayah hukum Polres Cirebon dalam
dua bulan terakhir, pengemudi truk mengetahui barang bawaannya
dikutil waktu melewati ruas Palimanan - Cirebon. Mereka baru tahu
setelah rekan sesama sopir yang jalan di belakang melihat
kejanggalan di bak truk. Pengemudi itu kemudian melaporkan kejadian
itu ke polisi Cirebon.

Kapolres Cirebon, Letkol (Pol) Drs RE Karnadi mengatakan,
pihaknya hanya kebagian laporan-laporan ulah kawanan "bajing
loncat". Komplotan pengutil itu diduga beroperasi sebelum memasuki
wilayah Cirebon, terutama pada ruas jalan yang melewati persawahan
dan kebun tebu.

TETAPI "bajing loncat" rupanya tak hanya menjarah barang bawaan
truk yang sedang melaju. Mereka juga mengincar sasaran diam, secara
nekad merampok kendaraan yang pengemudinya sedang beristirahat.
Sebuah truk gandengan yang dibawa sopir Moh Jumaheni dengan kernet
Muntihar dan Suhari disikat ketika mampir di sebuah warung makan di
Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Indramayu, pertengahan
bulan Mei lalu.

Waktu asyik makan bersama beberapa sopir lain, Jumaheni
didatangi sejumlah lelaki bertopeng. Pemilik warung dan tamu lainnya
diancam dengan senjata tajam, sementara beberapa anggota komplotan
dengan tenang memindahkan 55 tape dan dua mini compo dari truk
jurusan Jakarta - Surabaya itu.

Sebelas orang anggota komplotan ini beberapa hari kemudian
berhasil diciduk di Desa Panyindangan Wetan, Lohbener. Mereka
tertangkap karena kesiangan setelah merampok di daerah Pusaka
Negara, Kabupaten Subang. Polisi di Indramayu yang kemudian dibantu
penduduk, tinggal mencegat kawanan penjahat itu setelah menerima
informasi dari Subang.

Rentetan kasus kejahatan itu menunjukkan betapa rawannya ruas
jalan jalur utara Pulau Jawa. Salah satu di antaranya, tentu saja,
ruas antara Jatibarang - Palimanan. Beberapa kasus yang dilaporkan
ke Polres Cirebon, terjadi di ruas jalan ini. Kecuali sepi hingga
memungkinkan kendaraan penjahat menempel truk-truk yang dijadikan
sasaran, di jalur ini juga tak terlihat cukup petugas keamanan.
Seperti ketika Kompas mengamati daerah itu tengah malam akhir Juni
lalu, hanya tampak 3 petugas di pos polisi pertigaan Palimanan -
Cirebon - Bandung.

RASA aman melintasi jalur utara Jawa, seperti masih merupakan
mimpi para pemakainya. Selain selalu terancam kecelakaan akibat
lomba adu cepat, juga rasa tak aman karena gangguan kawanan
penjahat. Seperti kata seorang pembaca Kompas, komplotan penjahat
yang minimal beranggotakan 5 orang itu tak jarang memeras para
pengemudi dengan minta uang antara Rp 1.000 - Rp 15.000. Sering pula
mereka menunggu calon-calon korbannya di warung makan sepanjang
jalur tersebut.

Akibat kekhawatiran itu, kini banyak pengemudi truk yak tak mau
lagi melewati ruas-ruas jalan yang rawan, pada malam hari. Terutama
truk-truk yang mengangkut barang berharga mahal, seperti peralatan
elektronik. Beberapa truk bahkan kini memasang palang bambu di bawah
terpal untuk mengamankan barang bawaan dari komplotan pengutil yang
berkeliaran. (agus mulyadi)

Foto: 1
Kompas/mul
BERLOMBA - Jalur jalan pun tertutup. Kendaraan saling berlomba, tidak
menghiraukan keselamatan kendaraan lain dan penumpangnya.

Kamis, 15 November 2007

KEMIKINAN di INDRAMAYU

KEMISKINAN DI INDRAMAYU

Setelah empat tahun di Palembang, Sumatera Selatan, saya kembali ke Jakarta awal Desember 2006. Saya kembali pula melihat, memantau, mendengar, tentang kehidupan di Ibu Kota. Jakarta ternyata makin banyak dihuni orang miskin.

Kehidupan yang semakin sulit, mungkin akibat kurang mampunya para pengelola negara ini memakmurkan rakyatnya, menyebabkan perempatan jalan semakin banyak dipenuhi pengemis, pedagang asongan, dan orang-orang "terbuang" lainnya. Kolong tol pun semakin penuh dihuni warga miskin. Demikian pula tepian rel KA dan kolong jembatan, serta rawa-rawa di Jakarta Utara.

Bagi saya, yang lebih menyedihkan adalah fakta bahwa sebagian di antara mereka berasal dari Indramayu. Ini penanda. Ini bukti tentang kemiskinan di Bumi Wiralodra sana. Baik info dari teman-teman maupun yang saya lihat sendiri, di hampir semua perempatan jalan, pengemis-pengemis itu berasal dari Indramayu. Pedagang asongan pun demikian. Pemulung, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, sebagian dari Indramayu pula.

Bahkan saat pengosongan kolong jalan tol di Jakarta Utara, sebagian ternyata berasal dari kabupaten yang merupakan lumbung padi terbesar di Jawa Barat dan Indonesia itu. Saat terjadi kebakaran di kawasan rumah liar di daerah Jagakarsa, September 2007, dari 200-an rumah yang terbakar, sebagian besar penghuninya juga berasal dari daerah penghasil mangga itu.

Dan yang paling menyedihkan, di hampir semua tempat hiburan di Jakarta, banyak ditemui perempuan-perempuan muda asal desa-desa di Indramayu. Di kawasan Manga Besar, Lokasari, Gajah Mada, Hayam Wuruk, Pangeran Jayakarta, dan wilayah Jakarta lain, dengan mudah ditemui perempuan (penghibur) asal kabupaten penghasil minyak dan gas bumi cukup besar itu. Logat mereka saat bicara, baik dengan sesama teman maupun tamu yang tengah ditemani, tidak dapat menyembunyikan daerah asal mereka.

Fakta-fakta itu dapat menjadi bukti bahwa kemiskinan masih menghiasi Bumi Indramayu. Pembangunan selama bertahun-tahun, termasuk pertanian, belum membawa perubahan cukup berarti untuk memerangi kemiskinan. Demikian pula, eksploitasi habis-habisan migas sejak awal 1970-an, tetap membuat kemiskinan di daerah pesisir utara Jawa Barat itu.

Entah apa yang dilakukan pemerintah daerah Indramayu selama ini. Mengapa kekayaan alam yang melimpah, bumi yang subur, dan penduduknya yang dikenal sebagai pekerja keras, seperti menjadi sebuah kutukan?

Begitu banyak migas yang disedot dari Indramayu. Begitu banyak pula ikan hasil tangkapan nelayan yang dikirim ke Jakarta dan daerah lain. Belum lagi lahan pertanian (tanaman padi) yang mampu memproduksi 1,3 juta gabah kering giling. Itu semua tidak mampu mengubah Indramayu menjadi lebih baik. Sebagian penduduknya terus dililit kemiskinan.

Laki-laki dan perempuan terpaksa keluar kampung, merantau ke daerah-daerah yang sebelumnya asing bagi mereka. Batam, Pekanbaru, Dumai, Jambi, Lubuk Linggau, Palembang, Bandar Lampung, serta beberapa daerah di Kalimantan. Sebagian perempuan muda yang merantau akhirnya terjerumus di tempat-tempat prostitusi.

Sebagian perempuan muda Indramayu lain memenuhi tempat-tempat hiburan di Jakarta, seperti panti pijat, diskotek, atau lokalisasi. Ratusan ribu laki-laki dan perempuan lain, dengan gagah berani masuk ke negara lain, seperti negara-negara di Timur Tengah, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, dan lainnya.baik sekadar menjadi pembantu rumah tangga atau sopir. Sebagian di antara mereka disiksa majikan. Ada yang cacat seumur hidup ada pula meninggal dunia.

Sebagian tenaga kerja wanita asal Indramayu tersebut, tertipu dan dipaksa masuk ke tempat hiburan di negara lain. Di Kuala Lumpur (kawasan Bukit Bintang), Singapura, Sabah, Sarawak (Kinibalu dan Sandakan), mereka konon terjerumus ke dalam "lumpur"..

Belakangan, sebagian bahkan nekat "bekerja" di Jepang. Konon di negara Matahari Terbit itu pun perempuan-perempuan muda tersebut menjadi wanita penghibur. Konon pula, pengiriman mereka ke Jepang berkedok misi kebudayaan.

Kemelaratan memang telah membuat sebagian penduduk Indramayu mencari jalan pintas untuk bertahan hidup, atau mencari kehidupan lebih baik bagi dirinya dan keluarga. Jika kampung halaman mampu memberi sumber nafkah, tentu tidak akan begitu banyak penduduk Indramayu berbondong-bondong mencari uang dengan cara mengemis, memulung, mengamen, menjadi penghibur, atau menjadi pembantu rumah tangga di negara orang.

Kondisi seperti ini tentunya harus menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Indramayu (udah ah capek)

Senin, 12 November 2007

Munggahan, Marpangir, dan Musik Sahur

KOMPAS - Selasa, 14 Feb 1995 Halaman: 10 Penulis: MUL/DMU/THY/SP/MBA Ukuran: 9898
MUNGGAHAN, MARPANGIR, DAN MUSIK SAHUR
Pengantar Redaksi:
BERBAGAI macam tradisi menjelang dan selama bulan Ramadhan,
banyak dilakukan oleh masyarakat. Berbagai kegiatan yang sudah
mentradisi itu bisa mencakup ihwal makan, mandi, maupun bermusik.
Berikut disajikan sejumlah kegiatan yang mentradisi di beberapa
daerah. Red
MENYAMBUT bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, berbagai acara
dan tradisi dilakukan masyarakat Indonesia. Acara itu berbeda satu
dengan daerah lainnya, sedangkan yang hampir sama di tiap daerah,
adalah mengunjungi makam sanak keluarganya, yang biasanya mulai
dilakukan satu minggu menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.
Munggahan menjadi acara tradisional dari Tasikmalaya untuk
menyambut datangnya bulan puasa, sementara mandi khusus dengan
sebutan marpangir biasa dilakukan masyarakat Tapanuli Selatan.
Selama bulan puasa, hampir di seluruh daerah, selalu dimeriahkan
dengan berbagai bunyian perkakas musik, seperti rebana, gendang,
kecrek dan lainnya untuk membangunkan orang makan sahur.
***
HARI Minggu, dua hari sebelum bulan Ramadhan, 20 orang
berkendaraan jip pergi ke luar kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka
menuju perkebunan albasia di Kecamatan Kawalu, sekitar 10 km selatan
kota. Mereka kemudian membakar ikan-ikan mas dan setelah matang,
beramai-ramailah para anggota klub jip itu makan dengan lahapnya.
Acara makan-makan itu merupakan tradisi munggahan yang biasa
dilaksanakan sebelum puasa. Puncak tradisi biasanya dilakukan sehari
menjelang puasa. Sekelompok orang-orang atau gabungan dari beberapa
keluarga pergi ke suatu tempat sambil membawa makanan lalu makan-
makan di sana. "Pesta-pesta" kecil itu dilakukan untuk menyambut
bulan Ramadhan dan merupakan hari terakhir makan di siang hari
sebelum bulan puasa.
Selain menuju tempat-tempat yang agak menjorok ke luar kota,
warga Tasikmalaya dan Ciamis banyak yang memburu rumah-rumah makan
ikan bakar di luar kota. Mereka berkelompok dan makan munggahan di
rumah-rumah makan tradisional itu. Tidak ada yang istimewa dalam
tradisi itu. Hanya saja suasana dan rasa agak berbeda dengan waktu-
waktu makan biasa. Terutama bagi anak-anak, tradisi ini merupakan
persiapan mental dalam menghadapi bulan puasa.
Menurut KH M Ilyas Ruhiat, Rois Aam Syuriah Nahdatul Ulama,
munggahan hanyalah tradisi masyarakat yang boleh dilakukan asal
tidak bertentangan dengan ketentuan agama. Tradisi itu dilakukan
dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi puasa di bulan Ramadhan.
"Menghadapi bulan Ramadhan, sebaiknya mempersiapkan makanan-makanan
bergizi. Namun bukan berarti menghadapi bulan puasa berlomba-lomba
mengumpulkan makanan, bukan itu yang dimaksud," ujar KHM Ilyas.
Upaya-upaya ini hanya sebagai penunjang agar bisa melaksanakan
puasa lebih baik. Bagi anak-anak, upaya itu terutama untuk
merangsang mereka agar mampu belajar puasa. Anak-anak harus dibibita
(diberi dorongan semangat) untuk belajar berpuasa.
Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan,
Sumatera Utara, yang biasanya mandi khusus atau dalam bahasa
Mandailing disebut marpangir. Tujuannya tidak lain agar jasmani dan
rohani bisa benar-benar bersih saat memasuki bulan Ramadhan, selain
agar dapat melaksanakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya.
Agak mirip dengan mandi balimau" bagi masyarakat Sumbar, bahan-
bahan yang dipakai untuk marpangir antara lain jeruk purut, mayang
pinang, pandan wangi, sere wangi dan akar wangi. Bahan-bahan itu
direbus sampai airnya wangi dengan aroma menonjol wewanngian daun
pandan. Air rebusan itu lalu dicampur air biasa secukupnya.
Bagi masyarakat Tapanuli Selatan, marpangir juga dilakukan
menjelang hari raya Idul Fitri. Tujuannnya sama, agar jasmani dan
rohani yang melakukannya bisa bersih seterusnya sampai menjelang
bulan Ramadhan berikutnya.
***
MUSIK jalanan khas daerah ikut mewarnai kehadiran bulan puasa.
Di pesisir utara Jabar, Cirebon dan Indramanyu, dikenal nama obrog,
yakni membangunkan orang untuk makan sahur dengan membunyikan aneka
tabuhan. Mulai dari rebana, gendang, kecrek dan berbagai alat musik
lainnya, dibunyikan sekelompok orang sambil berkeliling kampung.
Alat yang digunakan, mulanya sangat khas pedesaan. Gendang
misalnya, dibuat sendiri dengan memanfaatkan batang pohon pepaya
yang dilubangi tengahnya. Lalu salah satu sisi ditutup dengan kain
bekas (jarit) yang direkat tanah lempung di seputar lubang. Namun
kini dengan "modernisasi", gitar, seng bekas dan bahkan karaoke
berpengeras suara pun digunakan. Pokoknya, ditambah teriakan
"sahur...sahur", ditanggung ampuh untuk membangunkan orang tidur.
Kalaupun masih tak bangun juga, yah...keterlaluan.
Agar tak monoton, sejumlah kelompok obrog akan menambahinya
dengan suguhan atraksi menarik, seperti membawa wewe (semacam ondel-
ondel Betawi), tiruan binatang seperti burung atau ular, bahkan
topeng. Di malam-malam bulan puasa ini, para penduduk yang sudah
bangun biasanya menyempatkan diri untuk sejenak melihat mereka.
Kelompok-kelompok obrog itu, biasanya satu hari menjelang
lebaran atau pada hari lebaran, akan "menagih" hasil kerja mereka.
Kelompok-kelompok ini akan keliling kampung untuk mendapatkan "upah"
baik berupa kue lebaran, beras, atau uang. Tergantung pemberi.
***
Kota Sumenep di Madura dirasakan menjadi gaduh oleh suara aneka
alat musik tradisional dan modern. Beragam jenis musik pun digelar,
mulai dari dangdut, qosidah sampai rock, tergantung siapa yang
memainkan. Meski tak seramai tahun 1980-an, tidak sedikit orang yang
terlibat dalam musik sahur ini.
Justru keberadaan musik sahur ini, telah mengilhami banyak
orang untuk kreatif memilih dan menggunakan alat musik yang akan
dipakai. Bahkan, tidak jarang keberadaan alat musik "kuno" seperti
accordion, cello atau bas jegug, jadi dominan dalam musik sahur ini.
"Selain harganya murah, merawatnya juga relatif gampang. Jadi,
katakan tidak dipakai sama sekali dalam setahun, masih bisa
dipakai," ujar Sumari (43), pemijit accordion musik sahur di Desa
Marengan Daya, Kecamatan Kota Sumenep.
Kebutaan sejak kecil tak membuat Suparno ragu untuk terlibat
dalam musik sahur. Sebab, dia punya kelebihan khususnya dalam
menabuh gendang. "Kalau urusan nabuh gendang, dia itu pakarnya,"
ujar Suatlan (23), anggota rombongan Sumari.
Keterlibatan Suparno dalam musik sahur datang tiba-tiba,
menyusul sakitnya pemain gendang kelompok Sumari. Tiga hari Sumari
kehilangan suara gendang yang menjadi daya tarik utama dalam
memainkan lagu dangdut. "Saya coba mengajak Suparno. Ternyata mau,
dan hanya dalam dua tiga hari dia bisa main dengan baik," ujarnya.
Musik sahur di Sumenep mulai digelar sekitar pukul 01.30.
Mereka biasanya berkumpul di perempatan jalan atau tempat strategis
lain seperti gardu jaga, menunggu anggota sambil memadukan alat
musik yang dibawanya. Satu kelompok, bisa terdiri 10 - 20 orang.
Jika seluruh anggota sudah hadir, mereka mulai memainkan musik
sesuai dengan kebiasannya. Meski sebagian besar memainkan musik
dangdut, tak jarang bila sebagian besar pemainnya anak muda juga
memainkan musik pop atau rock. Bagi yang sedikit "kaya", mereka
menyewa seperangkat mesin pengeras suara.
Dari perempatan jalan, masing-masing kelompok dengan rute
tertentu, mulai keluar masuk kampung lewat jalan kecil yang kadang
berlumpur. Masing-masing kelompok berusaha untuk tidak bertemu,
apalagi berhadapan.
Sebab, hal itu juga berkaitan dengan rezeki bagi masing-masing
dan kepercayaan dari warga terhadap rombongan itu. Di depan rumah
salah seorang warga, rombongan Sumari berhenti sebentar. Dari rumah
itu keluar seorang wanita membawa nampan berisi bermacam makanan.
"Ini makanan yang tidak habis dimakan sewaktu berbuka. Daripada
dibuang, lebih baik diberikan kepada kami sekadar untuk mengganjal
perut," ujar Suatlan.
Bahkan, tak jarang ada warga yang sengaja mengundang mereka
untuk sahur di rumahnya. "Kalau ada rezeki apa salahnya kita
mengundang mereka makan sahur bersama," ujar Haji Adenan (57).
Kebiasaan memberi makanan bagi pemusik sahur, menjadi salah
satu alasan mengapa musik sahur di pinggiran kota Sumenep tetap
bertahan sampai sekarang. Bagi orang seperti Sumari dan Suparno
misalnya, keberadaan musik sahur memberi kesibukan ekstra yang
menguntungkan diri sekaligus warga desanya.
Para pemusik sahur, umumnya anak muda yang tidak punya banyak
kegiatan di siang hari dan pemimpinnya lebih banyak orang tua yang
berasal dari golongan ekonomi lemah. Potensi konflik para pemuda
diredam dengan cara menghindari pertemuan langsung dua kelompok
musik itu.
***
BERBEDA di lingkungan masyarakat Aceh, para pemudanya biasanya
jarang tidur malam di rumah selama bulan puasa. Mereka berkumpul di
meunasah (langgar), yang juga digunakan sebagai tempat berkomunikasi
sesama mereka.
Meunasah merupakan pusat informasi bagi masyarakat desa. Di
meunasah ada pengajian, ada tengku dan ustad yang mengajarkan
berbagai masalah agama dan cara beribadat. Berbagai peristiwa yang
terjadi di desa pasti menjadi berita dan bisa didengar ceritanya di
meunasah.
Mulai dari peristiwa sehari-hari yang menimpa warga desa,
masalah untung rugi dalam bertani di sawah atau di kebun, sampai
urusan politik luar negeri, misalnya perang Bosnia, Saddam Husein
dan berbagai informasi tentang perkembangan dunia setiap hari
beritanya bisa didengar di meunasah. Sumbernya dari berita TV dan
radio. Apalagi setelah antene parabola masuk ke desa dewasa ini.
(mul/dmu/thy/sp/y/mba)

Hari Pertama Masuk Sekolah, Tak Ada yang Baru Bagi Murid SD Mundu

KOMPAS - Rabu, 20 Jul 1994 Halaman: 17 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 5150 Foto: 1
Hari Pertama Masuk Sekolah
TAK ADA YANG BARU BAGI MURID SD MUNDU
SUASANA serba baru biasa dialami oleh murid-murid yang kembali
masuk sekolah, pada setiap tahun ajaran baru. Tas, buku-buku, pulpen,
pinsil, baju seragam, dan sepatu baru, menjadi semacam syarat
sebagian dari mereka untuk kembali masuk sekolah. Dan bagi siswa
kelas satu tentu akan mendapat pula teman-teman baru.
Namun keadaan serba baru itu tidak sepenuhnya dialami siswa-
siswa Sekolah Dasar Negeri III Mundu Pesisir, Kecamatan Mundu
Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Tak semua siswanya mampu membeli
sepatu, dan terpaksa sekolah bersandal jepit. Lokasi SD ini sekitar
lima kilometer arah timur kota Cirebon, dan hanya 200 meter dari
bibir pantai. Kondisi sekolahannya cukup memprihatinkan, karena
berada di tengah komunitas masyarakat nelayan yang miskin.
Walaupun ruangan kelas yang ditempati sekarang "baru", karena
mereka naik kelas, namun suasana kelas sama sekali tidak baru. Para
murid kembali mendapatkan ruangan kelas yang tidak dilengkapi kursi
dan meja belajar yang cukup. Sebagian dari mereka belajar sambil
berdiri dan sebagian terpaksa duduk lesehan di lantai. Sementara yang
lain duduk berdesak-desakan di kursi-kursi yang reyot.
Bertahun-tahun sudah kondisi seperti itu dialami siswa SDN III
Mundu Pesisir. Meski setiap tahun jumlah siswa berkurang, karena
ada yang sudah lulus, kekurangan kursi dan meja belajar selalu saja
terjadi. Siswa baru kelas satu yang baru masuk akan mengisi kursi
dan meja yang ditinggalkan kakak kelas mereka.
Tahun ajaran baru kali ini, bahkan dengan kurikulum pelajaran
baru pula, tetap akan dialami murid Mundu Pesisir dalam suasana
lama. Baju seragam yang mereka kenakan mungkin baru. Tetapi sebagian
siswa SDN III Mundu Pesisir terpaksa tetap belajar di lantai.
Murid kelas dua dan tiga dapat bebas masuk-keluar kelas masing-
masing, karena tidak ada pintu pembatas ruangan antara keduanya.
Sejak lama pintu dibiarkan terbuka tanpa daun pintu.
Hingga pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 1994/1995,
Senin (18/7) pagi, terlihat beberapa murid kelas dua dan tiga saling
berebut kursi. Bila salah satu dari mereka lengah, kursi akan lenyap
dibawa ke kelas lain melalui pintu terbuka tadi.
***
KEKURANGAN kursi dan meja belajar bagi murid-murid SDN III
Mundu Pesisir, menurut Kepala Sekolahnya, Hasan, memang cukup
mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah itu. Namun pihaknya
tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kondisi seperti itu, karena
menyangkut pengadaan kursi dan meja memang tergantung pemerintah.
Menurut Hasan, saat ini di SDN III Mundu Pesisir hanya ada 78
meja belajar yang masih bisa digunakan. "Jumlah itu masih amat
kurang, dibanding jumlah murid yang ada di sini," katanya.
Dengan jumlah murid sekitar 240 orang -- belum termasuk murid
baru kelas satu -- jumlah meja yang dibutuhkan sekitar 120 unit.
Sedangkan kursi dibutuhkan dua kali lipat dari jumlah meja. Lantaran
cuma tersedia 78 meja, sebagian besar murid belajar tanpa meja.
Sedangkan jumlah kursi sekitar 156 buah.
Kekurangan kursi di sekolah itu diatasi dengan memasang bangku
panjang tanpa sandaran. Tiap bangku diisi empat orang murid yang
harus berdesak-desakkan bila mereka menulis di satu meja yang sama.
Sebagian murid memilih lesehan di lantai. Sebagian lain berdiri, dan
bila harus menulis mereka menggunakan dinding kelas sebagai "meja".
***
KEPALA Dinas P dan K Kabupaten Cirebon Drs Tatang Setiawan
mengatakan kepada Kompas, bahwa dalam penyediaan sarana belajar
berupa kursi dan meja untuk murid SD di Kabupaten Cirebon pihaknya
hanya menunggu kebijaksanaan pemerintah.
Dikatakan, Dinas P dan K Cirebon sudah melaporkan kepada Pemda
setempat mengenai kekurangan sarana belajar murid SD tersebut. Untuk
itu, pihak Depdikbud Cirebon lebih memprioritaskan sekolah-sekolah
yang menderita kekurangan paling parah.
Bupati Cirebon, H Rachmat Djoehana dalam sidang pleno DPRD
setempat beberapa waktu lalu mengemukakan, kekurangan sarana belajar
berupa kursi dan meja belajar SD di Kabupaten Cirebon saat ini
mencapai sekitar 54.000 kursi dan 27.000 meja belajar.
Namun pada tahun anggaran 1994/1995 ini Kabupaten Cirebon hanya
mendapat jatah dari Program Proyek Inpres SD/MI tahun anggaran
1994/1995, sebanyak 500 meja dan 5.000 kursi. Entah, sampai kapan
kekurangan kursi dan meja belajar murid SD di Cirebon ini kapan
dapat diatasi. Yang pasti, pada tahun ajaran 1994/1995 ini murid-
murid SDN III Mundu Pesisir masih seperti tahun-tahun sebelumnya.
(agus mulyadi)
Teks Foto
Kompas/mul
HARI PERTAMA -- Hari pertama memasuki tahun ajaran baru, bagi murid
SDN III Mundu Pesisir tidak merasakan suasana yang baru. Kondisi
ruangan kelas masih seperti sebelumnya, yakni kekurangan meja dan
kursi belajar. Sehingga para murid ada yang terpaksa belajar sambil
duduk di lantai, atau berdiri bersandar di dinding.

Nasib Primadona Ekspor Nonmigas Jabar, Benur yang Ditebar Ular yang Didapat

KOMPAS - Minggu, 22 Aug 1993 Halaman: 8 Penulis: SUGANDA, HER/MULYADI, AGUS Ukuran: 11785
Nasib Primadona Ekspor Nonmigas Jabar
BENUR YANG DITEBAR, ULAR YANG DIDAPAT
AGAK sulit dicari kegiatan usaha subsektor perikanan yang
mampu menandingi keuntungan menggiurkan dibanding tambak udang.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, udang tampil sebagai mata ì
dagangan yang memikat berkat dukungan harga yang relatif
mantap dan pasar yang jelas terjamin. Dengan dukungan itu, pantas
jika para pengusaha menanamkan modalnya di tambak udang. Ribuan ì
bahkan puluhan ribu hektar lahan baru dibuka untuk dijadikan areal ì
tambak di berbagai tempat di Indonesia.
Intensifikasi dan ekstensifikasi tambak yang berlangsung secara
besar-besaran selama tahun 1986 paling tidak diiming-iming
keuntungan memikat. Tak kurang dari Gubernur Jawa Barat (Jabar) yang
saat itu dijabat HR Moch Yogie Suardi Memet mencanangkan udang
sebagai primadona Jabar dalam ekspor nonmigas.
Di Jabar sendiri, budidaya udang sebenarnya bukan hal baru.
Tetapi selama itu petani tambak hanya mengusahakannya secara
tradisional dan kecil-kecilan. Modal dan kemampuan teknologinya
tergolong masih lemah, sehingga bisa dipahami jika di beberapa
tempat udang hanya hasil sampingan. Hasil utamanya adalah bandeng.
Namun selama tahun 1980-an, ikan bandeng hampir
tidak mempunyai arti ekonomi akibat harganya yang rendah. Padahal
budidaya ikan bandeng membutuhkan penanganan khusus. Benur yang
merupakan bibit kadangkala harus didatangkan dari Jatim.
Karena penanganannya masih sederhana, angka mortalitas cukup
tinggi. Keadaannya diperberat dengan bencana alam seperti banjir,
sampai akhirnya petani tambak kehabisan modal kerja dan modal
hidup. Pada gilirannya, semua itu mengakibatkan tingkat kehidupan
ekonomi petani tambak selalu dililit utang atau bahkan ijon.
Akibatnya, tambak-tambak yang terletak di bagian utara Jabar
dibiarkan dan kurang perawatan.
***
BABAK baru pertambakan mulai merebak di daerah ini bersamaan
dengan munculnya pemilik modal kuat yang mengusahakan tambak udang
secara intensif. Ini merupakan pengaruh positif yang banyak
mempengaruhi budidaya tambak tradisional. Paling tidak, petani
tambak tidak lagi melihat udang sebagai hasil sampingan tetapi
menjadi hasil utama yang mengalahkan bandeng. Keadaan ini bisa
tercermin dari meningkatnya produktivitas tambak yang terus
meningkat. Jika dalam tahun 1980 hanya 682,05 kilogram per hektar,
pada tahun 1990 mencapai 1.425,88 kilogram per hektar.
Pembukaan tambak baru dan meningkatnya produktivitas, jelas
meningkatkan produk tambak secara keseluruhan. Tetapi agak
sulit mencari angka-angka pasti, seberapa besar sebenarnya
produksi udang tambak dari bagian utara Jabar memberikan
sumbangannya untuk menjawab tantangan "primadona ekspor nonmigas
Jabar".
Di Cirebon misalnya, ekspor udang beku ke Jepang, AS dan Taiwan
yang dilakukan tiga perusahaan pembekuan udang (cold storage) pada
tahun 1992/1993 mencapai 35.398 kilogram atau senilai 5.753.493
dollar AS. Tetapi harus diingat, jumlah tersebut bukan hanya berasal
dari Kotamadya dan Kabupaten Cirebon. Udang yang dikirim melalui
tiga perusahaan pembekuan udang tersebut banyak yang berasal dari
Kabupaten Indramayu dan Jateng.
Dari Karawang angka-angka ini agak sulit diperoleh karena
perusahaan pembekuan udang justru berada di Jakarta. Selain itu tidak
semua udang hasil tambak yang berasal dari daerah ini bertujuan
memenuhi kebutuhan ekspor, sebagian kecil lainnya untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri.
Tetapi bagaimanapun, Jabar utara yang membentang sejak
Serang, Tangerang, Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu dan
Cirebon merupakan daerah potensial tambak udang. Sekaligus
memperlihatkan, usaha tambak, terutama tambak udang tetap
mempunyai daya pikat tersendiri. Ini bisa terlihat dari
perkembangan luas areal tambak yang terus meningkat dari tahun ke
tahun. Tahun 1970 lalu, luas tambak secara kotor hanyalah sekitar
29.000 hektar. Dalam tempo dua dasawarsa, luasnya hampir mencapai dua
kali lipat, sekitar 51.000 hektar.
Memang luas tersebut bukan sepenuhnya tambak udang. Tetapi
bahwa udang telah jadi primadona subsektor perikanan, rasanya tidak
bisa dibantah. Sebaliknya yang menjadi pertanyaan kemudian adalah,
budidaya udang secara intensif hampir dapat dikatakan masih baru dan
merupakan diversifikasi dari usaha pokoknya. Sehingga tidak
mengherankan kalau di antara para investor itu sebelumnya tidak
memiliki pengalaman sama sekali. Tenaga-tenaga lapangan juga banyak
yang belum berpengalaman sehingga kegiatannya banyak yang coba-coba.
Padahal udang membutuhkan perlakuan-perlakuan khusus dengan kondisi
yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
***
MASALAH yang terakhir ini menjadi perdebatan hangat di
kalangan sesama petambak, apakah lingkungan di bagian utara Jawa
Barat masih mendukung usaha tambak udang secara intensif?
Soalnya, angka mortalitas sekarang begitu tinggi sehingga banyak
petambak yang gulung tikar akibat serangan virus atau
bakteri yang belum diketahui bagaimana penanggulangannya.
Sebagian besar menyebutkan karena kualitas air laut yang sudah
tercemar. Tetapi sebagian lagi menyebut faktor perlakuan yang
intensif dan monokultur yang mengakibatkan terjadinya serangan
penyakit. Bahkan Agus Mulyatno dari PT Ika Nusa Windutama terang-
terangan menyatakan serangan virus berasal dari tambak rakyat.
Alasannya, tambak rakyat membuang dan mengambil sumber air kebutuhan
tambak dari satu tempat, yakni saluran pembuang. Sedangkan tambak
intensif menyedot air laut sebagai sumber airnya secara langsung
melalui mesin pompa.
Sebenarnya, masalah kualitas air tidak hanya sebatas
bagaimana cara sirkulasi air di tambak. Kepala Dinas Perikanan
Kabupaten Cirebon, Ir Rusli Thamrin mengingatkan pentingnya
kondisi lingkungan lainnya, misalnya tersedianya ruang hijau
berupa hutan payau.
Walaupun di atas kertas terdapat cukup luas kawasan hutan
payau, tetapi kenyataan di lapangan tidak selalu sesuai. Pantai
utara Jabar boleh dikatakan miskin hutan payau. Bahkan seperti
disinyalir Bupati Cirebon Suwendo, hutan payau yang masih ada
malah dibabat dijadikan tambak. Menyadari kelengahan ini, hanya
sedikit sekali pengusaha tambak yang berusaha memperbaiki
lingkungan sekitarnya. PT Ika Nusa Windutama, menurut Thamrin
menanam sekitar 20 hektar hutan bakau. Perusahaan ini, sejak 1989
membuka tambak udang windu seluas 300 hektar di Pulosari, Desa
Tawangsari, Kecamatan Losari, Cirebon.
Petambak intensif juga dituding ada yang teledor dalam
memberikan pakan. Pakan yang diberikan secara berlebihan lalu
terbuang, pada akhirnya akan menjadi racun sehingga memungkinkan
munculnya bakteri atau virus. "Apalagi kalau proses pengeringan
tambak kurang sempurna," kata sebuah sumber di Dinas Perikanan.
Serangan virus dan bakteri sekarang ini merupakan momok
paling menakutkan petambak udang. Di Karawang, sekitar 300 hektar
tambak udang diserang virus Vebrio Sp. Di kalangan petambak,
ini disebut penyakit kusta udang, karena yang diserang bagian ì
kakinya yang kemudian rontok dan akhirnya mati. Di tempat lain ì
serangan mengakibatkan usus udang robek sehingga penyakit itu ì
dijuluki virus usus. Gejalanya diawali dengan makan berlebihan dan ì
dua hari kemudian mati. Bentuk serangan lainnya seperti di Cirebon ì
dan Indramayu terjadi pada bagian insang.
Petambak-petambak yang belum berpengalaman, biasanya
memberikan obat untuk penanggulangan. Tetapi menurut Iwan
Binardi, Bagian Teknik Budidaya PT Udang Asli Kencana di
Sungaibuntu, Karawang, pemberian obat hanya akan mengakibatkan
serangan makin parah dan kerugian bertambah besar. "Sampai
sekarang, belum ada obat untuk menanggulangi virus dan bakteri ì
tersebut," kata Ir Odi Suryadi, Kepala Dinas Perikanan Karawang.
Keadaan yang tidak menggembirakan ini dialami petambak
selama tiga tahun terakhir. Banyak pengusaha yang menderita
rugi bahkan gulung tikar. Seorang pengusaha di Sungaibuntu sempat
pingsan di tambaknya karena udang yang baru berumur dua bulan
sudah jadi bangkai. Udang seumur itu tidak laku dijual.
Sekarang ini para petambak lebih banyak berusaha menahan
diri untuk ancang-ancang berikutnya, atau bahkan hengkang dari
usaha tambak. Tambak untuk sementara dibiarkan atau hanya
ditanami bandeng untuk makanan pancing ikan tuna. PT Argo Pantes
yang menguasai 125 tambak, menurut petugasnya, Edi Winarto sudah
sejak 1989 tidak memiliki semangat lagi menebarkan benur udang.
Bandeng yang jadi sumber utama tambak ini, kini dibudidayakan
secara tradisional.
Keluhan hasil tambak udang muncul pula dari petambak-
petambak kecil. "Benur yang ditebar, justru ular yang dipanen,"
kata seorang petambak di Cilamaya, Karawang.
Bupati Karawang, Sumarno Suradi pernah mengemukakan, karena
udang habis oleh hama dan hanya tinggal ular yang bisa didapat,
binatang melata yang satu ini akhirnya jadi salah satu mata
pencaharian penduduk tertentu. Mereka menangkapnya lalu menjual
ke pedagang penampung untuk kemudian diambil kulitnya sebagai bahan
kerajinan. Di Cilamaya, usaha perajin kulit ular malah dijadikan
salah satu pola untuk mengurangi kemiskinan di daerah Karawang.
***
KECUALI tahun 1989, harga udang selama ini yang berkisar
antara Rp 17.000 - Rp 18.000 akan tetap merupakan mata dagangan
menarik walaupun risikonya sangat tinggi. Apalagi dengan teknik
budidaya yang memadai, produksinya bisa mencapai 3,5 - 5 ton per
hektar, atau bahkan lebih tinggi lagi karena tergantung kepadatan
benur yang ditebar.
Harga yang menjanjikan keuntungan dalam usaha tambak udang
rupanya merupakan salah satu penyebab mengapa masih ada pengusaha
tambak udang tidak merasa jera walaupun dalam dua atau tiga hari,
modal ratusan juta yang ditanam ludes dimakan virus atau bakteri.
Hanya jika dulu mereka berlomba mengusahakan tambak seintensif
mungkin dengan kerapatan benur yang cukup tinggi, kini mereka
lebih berhati-hati. Bahkan tidak jarang yang melakukan berbagai
uji coba.
Iwan Binardi dari PT Udang Asli Kencana misalnya, dari 54
tambak yang dikelolanya, 21 hektar sengaja ditanami bandeng. Tambak-
tambak bandeng tersebut merupakan tempat pembuangan air sekaligus ì
pengendapan untuk mentralisir air payau yang dibutuhkan. Setelah ì
dianggap bersih, air digunakan kembali. Di tempat lain, Ahoy
lebih mencurahkan perhatian pada warna air yang akan digunakan untuk
tambak di kolam khusus. Jika warna air sudah memenuhi warna
tertentu, barulah dialirkan ke tambak.
Percobaan-percobaan itu tentu saja sangat tergantung
ketrampilan setiap orang. Mereka tidak memiliki pola yang sama
karena semuanya dilakukan tidak lebih dari coba-coba, sehingga
jika Ahoy mengaku tidak pernah gagal dalam mengelola tambak
udangnya seluas empat hektar, ia kemudian menyatakan hal ini,
"Mungkin saya lagi hoki," katanya mengungkapkan nasib mujur yang
berpihak padanya. (Her Suganda/Agus Mulyadi)
Foto: Kompas/mul
TAMBAK UDANG -- Mengelola tambak udang membutuhkan penanganan yang
serius dan intensif, hingga pengelola bisa dikatakan harus berada di
tambak setiap saat.

Pergelaran Topeng Cirebon, Si Jelita dari Kadiri

KOMPAS - Kamis, 19 Nov 1992 Halaman: 12 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 2310
Pergelaran Topeng Cirebon
SI JELITA DARI KADIRI
KISAH Si Buruk Rupa dan Si Jelita sudah melegenda di Cirebon.
Si Buruk Rupa itu bernama Joko Bluwo, pemuda dusun dari Gebang
Tinatar. Si Cantik Jelita adalah Dewi Candrakirana, putri Raja
Kadiri bernama Lembu Amiris.
Tema cerita yang digelar kelompok tari topeng Cirebon asal Desa
Selangit, Kabupaten Cirebon, Jabar, di Gedung Pancakabraja Cirebon,
Selasa (17/11) ini memang dari siklus Panji. Kisah cinta antara
Raden Panji Inu Kertapati dengan Candrakirana ini dikenal luas
di berbagai bagian wilayah budaya Jawa, bahkan meluas sampai di
Thailand.
Yang unik adalah karena ini Cirebon. Tari topeng ini lain
dengan umumnya tari topeng Cirebon, yang terdiri dari tahapan-
tahapan, dan disajikan dalam lima jenis tarian berbeda. Setiap
karakter pun, digambarkan melalui jenis topeng berbeda pula.
Kelimanya adalah panji, samba, rumyang, tumenggung, dan kelana.
Dipimpin penari topeng kondang asal Selangit, yakni Sudjana
Ardja (56), penampilan mereka bertutur seperti layaknya pergelaran
drama tari. Bisa disebutkan pergelaran Joko Bluwo ini langka, dalam
arti sangat jarang dimainkan.
***
MENURUT pengamat kebudayaan Cirebon, TD Sudjana, tari topeng
dengan lakon, sebenarnya ada dan berkembang di masyarakat.
Sebagaimana perkembangannya sejak zaman Sunan Gunung Jati, topeng
Cirebon asal Selangit memang mengenal dua jenis unsur pementasan
itu, yakni babakan dan lakon (dalang) yang dipimpin seorang dalang.
Beda keduanya adalah, topeng lakon tidak sepenuhnya terikat
pada lima karakter baku seperti dalam topeng babakan. Di situ
muncul karakter lain, seperti tokoh dengan peran lucu dan konyol.
Dalam pergelaran ini memang banyak bermunculan tokoh tokoh lucu
dan konyol, seperti Jaka Bluwo itu sendiri. Sudjana Ardja yang
langsung memerankan tokoh itu berhasil menampilkan kekonyolan dan
karakter seorang berwajah buruk, misalnya sekali-sekali memunculkan
cara berjalan bak Charlie Chaplin. Ditambah topeng dalam bentuk
berhidung besar bundar, mata melotot, dan dasar topeng warna merah,
karakter Jaka Bluwo seakan terwakili benar. Seorang dalang mengucapkan ì
dialog semua tokoh. (agus mulyadi)

Kejahatan di Kereta Api, Jendela Terbuka Penimba Datang

KOMPAS - Minggu, 18 Oct 1992 Halaman: 1 Penulis: MULYADI, AGUS/GUN/NTS/POM/P/E/HW Ukuran: 12125
Kejahatan di Kereta Api
JENDELA TERBUKA, PENIMBA DATANG

Pengantar Redaksi
KEJAHATAN di atas kereta api kembali muncul, meski upaya aparat
keamanan dengan melakukan operasi dan penangkapan bisa disebut
sukses. Bagaimana bentuk kejahatan di atas kereta, serta dilema yang
dihadapi petugas Polsuska, disajikan dari bahan-bahan dikumpulkan
oleh wartawan Kompas, Agus Mulyadi, Tjahya Gunawan, Hindaryoen NTS,
Djoko Pournomo, Thomas Pudjowidiyanto dan Doddy Wisnu Pribadi serta
Moch S Hendrowijono yang merangkumnya dalam dua tulisan, di halaman ì
ini.
SUDAH lewat tengah malam di akhir September tahun lalu, ketika
KA Bangunkarta dari Jombang ke Jakarta pelan-pelan meninggalkan
stasiun Cirebon. Orang sudah mulai bergelimpangan di lantai kereta.
Pemandangannya jadi seperti dalam pengungsian, saat orang
memanfaatkan sejengkal lahan untuk sekadar istirahat setelah mereka
terusir karena bencana alam. Kalau saja bunyi roda kereta melintas
persambungan tidak terdengar demikian keras, antara lain karena
pintu dan persambungan kereta yang terbuka, pasti dengkur orang-
orang itu terdengar jelas.
Suyadi (57) saat itu duduk di bangku kedua dekat pintu, satu
kursi dengan seorang nenek yang sepanjang perjalanan menekukkan
kepalanya, tidur nyenyak. Nenek yang akan menengok anaknya di
Cempaka Putih Jakarta itu tak sadar, tetesan air sirihnya yang
berwarna merah darah turun dari sela-sela sudut bibirnya. Di depan
Suyadi duduk seorang lelaki setengah umur yang sejak awal
mengajaknya bercakap-cakap terus sehingga ia kecapaian. Diliriknya
jam tangannya, sudah lewat pukul 02.00 dinihari. Ia menggeser
duduknya sedikit dan menyandarkan kepalanya ke sudut antara sandaran
kursi dan dinding kereta, sekadar mencari posisi enak untuk
memejamkan mata, tidur-tidur ayam.
Plasss, rasanya enak sekali terlena, meski bisa jadi cuma
semenit dua. Ia membuka mata, lelaki di depannya tidak ada, mungkin
ke kamar kecil. Ia siap memejamkan matanya lagi, ketika tiba-tiba
saja ia tersentak. Tas di meja kecil di depannya sudah raib. Ia
celingukan ke kanan-kiri, tapi tak ada gerakan mencurigakan. Semua
orang terlelap. Ia bangkit, lalu lari melangkahi beberapa tubuh yang
tergeletak sambil tak lupa mengucap "Amit..", menuju ke pintu. ì
Pintu terbuka lebar, di kanan maupun di kiri. Tak ada satu orang pun di
sana, tak ada juga lelaki yang ramah tadi.
Rahangnya berkerot kesal. ì
"Gandrik..., sudah pasti lelaki tadi," gerutunya. Pasti dia yang ì
menjarahnya saat ia terlena, padahal tak sampai lima menit. Padahal ia ì
sudah ekstra hati-hati, dengan menempatkan tas itu di sisi kirinya, ì
terhimpit antara badannya dengan dinding kereta. Hanya saat ia mencari ì
posisi enak tadi, saat ia mulai percaya lingkungannya, saat kecurigaan ì
kepada tetangga duduknya sudah mulai sirna, ia memindahkan tas kecil itu ì
ke meja, setelah menyingkirkan gelas-gelas kotor. Itu pun, saat
memindahkan tas, ia sudah memandang muka si lelaki tadi sambil
senyum, seolah minta ikut dijagai, dan si lelaki seolah mengerti,
mengangguk sambil senyum juga.
Pensiunan guru itu marah besar, padahal isi tas itu tak
seberapa bagi lelaki tadi. Di dalam tas kecil itu cuma ada empat
buah mangga yang ranum, dan amplop berisi uang Rp 15.000 titipan
istrinya. Semua untuk anaknya di Jakarta yang sedang hamil anak
pertama, yang mengidam mangga yang tumbuh di halaman rumahnya di
Jombang. Calon kakek itu pun merasa perjalanannya sia-sia saja.#l#
* * *
SUYADI bukan orang pertama yang menjadi korban kejahatan di
atas kereta api. Banyak orang senasib, di antaranya enggan melapor
karena yang dicuri pun barang "sepele". Seperti halnya Teguh
Santoso, yang dijambret kacamatanya oleh seorang pedagang asongan
yang baru saja menawarkan dagangan di atas KA Sawunggalih jurusan
Purwokerto -- Jakarta. Warga Pondok Kelapa Jakarta Timur itu enggan
melapor, karena khawatir malah akan menghambat perjalanannya.
Padahal kacamata itu baru dibelinya Rp 95.000.
Sikap Suyadi atau Santoso yang memilih untuk tidak melaporkan
kejahatan itu kepada Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) atau
aparat keamanan lainnya, seperti sudah menjadi sikap umum para
penumpang kereta api. "Sikap demikian ini justru akan menyulitkan
pengusutan yang dilakukan polisi," ujar Kapolwil Banyumas, Kolonel
Pol Drs Anwari SH.
Dengan tidak melaporkan kasus-kasus kejahatan seperti itu,
polisi akan kesulitan melacak tersangka pelakunya. Meski pada
akhirnya, berbekal laporan yang sedikit, Polwil Banyumas berhasil
menggulung tiga kelompok penjahat di atas kereta.
Kejahatan di atas KA, terutama yang berjadwal malam dan di
kelas ekonomi, tampaknya giat lagi. Kejahatan terjadi umumnya pada ì
saat-saat penumpang pulas tidur antara pukul 01.00 hingga 03.00, walau ì
ada juga yang terjadi sore hari, atau pagi menjelang matahari terbit. ì
Bukan kebetulan, jika pada jam-jam rawan itu justru kereta api umumnya ì
berada di wilayah Banyumas, baik yang datang dari Jakarta, maupun dari ì
arah Surabaya, atau Bandung. Ini terutama antara stasiun Kroya -- ì
Kutoarjo (arah ke Yogyakarta), Kroya -- Sidareja (arah ke Bandung) dan ì
Kroya ke Purwokerto -- Prupuk (arah ke Jakarta).
Walaupun demikian, daerah selepas Cirebon, misalnya antara
Pegaden Baru -- Cikampek dan Cirebon -- Brebes -- Tegal, termasuk rawan
pula. Utamanya pada saat-saat tiadanya petugas polsuska karena
pergantian wilayah.
Usaha untuk menanggulangi berbagai gangguan KA sebenarnya sudah
dilakukan secara rutin. Khususnya yang dilakukan oleh polisi dan
aparat keamanan lainnya. Perumka misalnya menempatkan petugas
Polsuska untuk melakukan tugas pengawalan dan pengamanan KA terutama
pada rangkaian KA terbuka, KA kelas ekonomi. Sementara penjagaan di
KA-KA berbendera, misalnya KA Mutiara, Bima atau Senja, Perumka
mendapat bantuan tenaga Brimob.
"Polsuska yang bertugas di Daop V masih sangat terbatas," ujar
Kepala Daop (Daerah Operasi) V Perumka, Ir Suprayitno didampingi
Kepala Seksi Operasi, Sunyoto ketika ditemui Kompas. Wilayah Daop V yang ì
jalur KA-nya sangat luas dan frekuensi paling tinggi, hanya punya 24 ì
orang anggota polsuska. Padahal idealnya 60 orang untuk mengawasi 68 ì
rangkaian KA penumpang dan barang pergi pulang dari arah Purwokerto, ì
sebagian besar jalan malam.
* * *
KEJAHATAN di atas KA, sebenarnya kejahatan kecil-kecilan, bukan
penjahat kaliber dan profesional. "Umumnya hanya sebatas orang lapar
saja, yang diambil pun barang seadanya," ujar Djatmiko, reserse
Polsuska Perumka Wilu (wilayah usaha) Jawa di Semarang. Mereka ini,
katanya, banyak datang justru dari kalangan pedagang asongan, yang
frustrasi karena terus-terusan dikejar-kejar petugas saat berdagang.
Mereka menjambret saat KA mulai jalan seperti yang dialami oleh
Teguh Santoso, "untuk mendapat tambahan penghasilan". Sasarannya pun
umumnya KA kelas ekonomi yang selain kurang mendapat pengawalan,
juga memberi peluang sangat besar.
Namun justru karena dicurigai sumbernya dari kalangan asongan,
banyak stasiun yang kini dibersihkan dari pedagang itu. Cirebon,
misalnya, kini lengang dari asongan, juga Kroya dan Purwokerto.
Meski di stasiun yang terakhir ini masih ada asongan, tapi semua
terawasi lewat seragam asongan warna biru bernomor.
Hadi, kondektur KA Bangunkarta setiap kali merasa was-was jika
KA yang ditumpanginya itu dinaiki pedagang asongan. Apalagi jika
mereka tidak segera turun begitu peluit kereta berbunyi sebagai
tanda untuk berangkat. "Kalau ada asongan ngider saat KA jalan,
pasti akan ada penumpang yang kecurian," tuturnya.
Padahal, mengusir pedagang asongan tidak mudah. "Biasanya
pengusiran malah jadi bumerang bagi petugas yang bersangkutan karena
ia jadi incaran balas dendam pedagang yang merasa diusir itu. Hal
seperti ini pernah terjadi di Cikampek," ujar seorang perwira
menengah polisi yang dikaryakan di Perumka Pusat sebagai pembina
polsuska.
Memang tidak semua pedagang asongan melakukan kerja rangkap
itu. Ada yang benar-benar bersih, ada pula yang sekadar membantu
kelancaran kejahatan, dengan melaporkan situasi yang ada kepada
penjahat. Sambil mengasong, ia melihat barang-barang yang berada di
tempat yang mudah diambil, misalnya di meja dekat jendela, atau yang
terletak di tiga baris kursi pertama dekat jendela. Ia lalu
melaporkan pada rekannya yang akan beroperasi pada saat KA berjalan,
baik dari bawah atau di atas kereta.
***
ADA satu cara yang riskan sekali, yang sering dilakukan oleh
para perampok. Cara ini disebut nimba, yang dilakukan oleh dua
orang, satu berperan sebagai penimba, satu lagi sebagai timbanya.
Mereka benar-benar berani menantang maut, dengan si timba
menjulurkan badannya dari atas atap kereta yang sedang berjalan
kencang, ke arah jendela. Sambil kedua kakinya dipegangi oleh
penimba di atap, tangannya masuk lewat jendela yang terbuka,
mengambil barang yang ada di meja dekat jendela.
Berhasil atau tidak, si timba akan segera ditarik ke atas, lalu
keduanya lari melompat-lompat ke gerbong lain, lalu turun di salah
satu sambungan, terus melompat ke tanah. "Mereka punya keahlian
meloncat dari KA," ujar Saroni (52) anggota Polsuska Stasiun
Cirebon.
Praktek demikian ini bisa berjalan mulus antara lain karena
banyak stasiun yang terbuka, sehingga orang bebas keluar masuk.
Selain itu kondisi kereta kelas ekonomi juga sangat buruk. Jendela
banyak yang pecah, atau tak bisa ditutup. Atau juga karena memang
dibuka oleh penumpang akibat kepanasan karena ventilasi yang tidak
baik. Pencoleng pun mudah kabur, sebab umumnya persambungan kereta
kelas ini terbuka, pintu-pintu pun banyak yang tak bisa dikunci,
atau bahkan tak ada daun pintunya.
Tidak cuma itu, jendela WC umumnya sudah terlepas, dan kemudian
WC jadi tempat penumpang, karena fasilitas kamar kecil itu sejak
lama tak ada. Ketika hal ini ditanyakan kepada seorang pejabat
Perumka, walau dengan nada berkelakar, ia ketus menjawab, "Lha wong
mbayare murah, kok mau fasilitas komplet". KA Ekonomi memang murah,
untuk jarak 750 km Jakarta -- Surabaya, dengan Rp 9.000 orang Jakarta
tahu beres sampai Surabaya.
Kondisi buruk kereta diperjelek lagi dengan banyaknya ì
pelemparan-pelemparan batu dari luar, sehingga banyak kaca-kaca
pecah, bahkan tak jarang mencederai penumpang. Menurut Ir Ronny
Wahjudi, Kadaop III Cirebon, pelemparan ini biasanya dilakukan
remaja yang nakal. "Kami pernah tangkap satu, kami haruskan dia
mengganti, dan kami laporkan ke sekolahnya," kata Ronny. Selain itu,
Perumka melakukan pendekatan dengan pamong sepanjang jalur KA yang
sering diganggu pelemparan, dan hasilnya gangguan itu agak
berkurang.
Namun satu cara yang kini mulai dikerjakan oleh pencoleng
adalah menyamar sebagai penumpang KA dan membeli karcis, yang sejak
dari stasiun pemberangkatan sudah mengincar calon korban. Di
perjalanan, ia akan menjalankan metode geser, yaitu menukar ì
barang korban saat ia lengah, atau saat ia terlelap, pergi ke WC atau ke
restorasi.
Karenanya, menurut Udiyo Basuki SH, Kepala Security Peleton
Polsuska Yogyakarta, penumpang KA bagaimanapun harus ekstra hati-
hati, terutama jika mendapat kenalan baru di atas kereta. "Belum
tentu dia orang baik-baik," kata alumnus Fak Hukum Universitas Islam
Indonesia itu.
Pernyataan ini diperkuat oleh Kepala Seksi Eksternal Humas
Perumka Pusat, Dra Nenny SH (Siti Hasanah). "Penumpang sebaiknya
tidak membawa atau mengenakan barang berharga, sebab bisa merangsang
penjahat beraksi," tuturnya.
Pada dasarnya, meski Perumka menyediakan pengawalan, baik dari
polsuska maupun dari Brimob, penumpang seharusnya tetap waspada,
tidak mengandalkan petugas. Apalagi, untuk seluruh jalurnya, Perumka
cuma memiliki 500 polsus, dan ini adalah jumlah yang sangat kecil.
***

Busung Lapar dan Kelalaian Negara

KOMPAS - Sabtu, 27 Feb 1999 Halaman: 8 Penulis: THY/MUL Ukuran: 5199
BUSUNG LAPAR DAN KELALAIAN NEGARA
ANGGA, bayi berumur enam bulan, tergolek lemah. Matanya lebih
sering terpejam. Kalaupun sesekali terbuka, matanya kelihatan cekung
dan sayu. Badannya kurus kering dan kakinya mulai membengkak.
Karena tidak ada gairah untuk makan dan menyusu, dokter yang
merawatnya di Rumah Sakit Arjawinangun Cirebon memberinya makan
tambahan melalui saluran infus. "Ketika lahir kondisinya normal. Hanya
belakangan ini saja badannya melemah dan semakin kurus," kata Madi
(35), ayah Angga.
Buruh tani miskin yang tinggal di rumah teramat sederhana di Desa
Bobos, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon ini tidak mengetahui
anaknya menderita marasmic kwashiorhor atau lebih parah dari sekadar
gizi buruk dan hampir mendekati busung lapar. Selain kemiskinan,
ketidaktahuannya memilih makanan yang bergizi, menyebabkan Angga harus
terganggu pertumbuhan badan dan fungsi otaknya.
Namun bukan hanya Angga yang mengalami penderitaan demikian.
Sofiah, bayi berumur 12 bulan, juga harus mengalami nasib serupa.
Ayahnya, Sarkin (36) buruh tani dan tinggal di Desa Kejuden, Kecamatan
Plumbon sekitar 15 kilometer sebelah barat pusat kota Cirebon, juga
tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi Sofiah.
Berat badan Sofiah hanya sekitar 5 kg atau separuh dari berat
badan normal. Selain berat badannya rendah, kondisi tubuhnya sangat
kurus, rambut kemerahan dan kelopak matanya cekung. Sofiah hanya bisa
terbaring lemah dengan tatapan mata sayu.
Selain Angga dan Sofiah, tercatat masih ada enam bayi lain yang
mendekati tahap busung lapar dan sekitar 27.000 bayi lainnya yang
bergizi buruk yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Cirebon. Jika
status gizi bayi dapat dijadikan indikator kemiskinan-seperti
disimpulkan dalam disertasi Dr Herman Sudiman-maka hal ini tercermin
gamblang di seluruh wilayah Kabupaten Cirebon.
***

IRONIS memang. Program Jaring Perlindungan Sosial Bidang Kesehatan
(JPSBK) berdana hampir Rp 2 trilyun nyaris habis disebar, namun
laporan munculnya bayi-bayi gizi buruk makin gencar saja. Paling tidak
di Jawa Barat, bukan hanya di Kabupaten Cirebon saja, tapi juga di
Kodya dan Kabupaten Tangerang yang tak jauh dari Jakarta, sudah
dilaporkan dua bayi mati karena kekurangan gizi.
Selain dua bayi yang telanjur mati, hingga kini setidaknya masih
ada dua bayi lagi di Kodya Tangerang yang menderita busung lapar.
Mereka kini tergolek lemah di dua ranjang perawatan yang terletak
berdampingan, di Paviliun Kemuning, RSU Tangerang. Sorot mata mereka
sayu. Perut kedua bayi terlihat membesar, seperti wanita hamil tua.
Sedangkan bagian tubuh lainnya terlihat kurus, dengan tulang-tulang
menonjol.
Adelia (sembilan bulan) dan Ahmad Jaya (26 bulan), dua bayi itu,
sudah seminggu lebih harus menjalani perawatan di RSU Tangerang.
Krisis ekonomi berkepanjangan, telah melahirkan bayi-bayi generasi
penerus yang kurang makan. Makanan seadanya di zaman serba sulit ini,
mengakibatkan Adelia dan Ahmad Jaya didera perut lapar. Puluhan bayi
lain di Kotamadya Tangerang, dan sejumlah bayi lain di Kabupaten
Tangerang, diketahui telah mengalami kekurangan gizi.
Bibi Adelia, Melan (20), yang menungguinya di RSU Tangerang,
menyebutkan, ihwal penderitaan Adelia berawal dari perceraian kedua
orang tuanya beberapa bulan lalu. Adelia yang masih bayi pun ikut
ibunya, Mega (18), warga Kelurahan Pasirjaya, Kecamatan Jatiuwung,
Kodya Tangerang.
Dengan penghasilan pas-pasan sebagai buruh pabrik, Mega berusaha
mencukupi makanan bagi anak tunggalnya itu.
"Mega hanya mampu membeli susu satu kaleng setelah gajian. Setelah
susu habis, Adelia hanya bisa diberi teh manis," kata Melan, Kamis
(25/2).
Perut Adelia sejak tiga bulan lalu membengkak. Dengan rujukan
petugas puskesmas Adelia dikirim ke RSU Tangerang sejak pekan lalu.
Dalam pemeriksaan dokter, dikatakan Adelia mengalami penyakit lever
(hati) yang menyebabkan perut bayi itu membengkak.
Kurangnya pemberian makanan bergizi, juga menyebabkan penderitaan
Ahmad Jaya, anak keenam dari tujuh anak. Menurut ibunya, Amsiah (27),
sejak ia hamil lagi Jaya pun tidak bisa netek. "ASI saya ganti dengan
air campur gula. Itu pun kalau saya sedang punya gula," kata Amsiah,
warga Desa Rajeg, Kabupaten Tangerang.
Selama lima bulan Jaya menyusu air gula, sampai akhirnya dia pun
terkena penyakit. Perutnya membesar, dan bagian tubuh lainnya kurus
kering. Menurut dr Bachtiar, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Tangerang, Ahmad Jaya juga menderita penyakit lain, seperti anemia,
kurang protein, dan infeksi pada saluran kencing.
Apapun penyakit bayi-bayi malang seperti Adelia dan Ahmad Jaya di
Tangerang, atau Angga dan Sofiah di Cirebon Pemerintah Indonesia tidak
bisa melepaskan tanggungjawabnya untuk menyelamatkan mereka. Bahkan
seharusnya mencegahnya lebih dini, jika tidak ingin dikatakan telah
terjadi kelalaian atau penelantaran oleh negara (state negligence)
yang jelas melanggar Konvensi PBB untuk Hak-hak Anak yang telah
diratifikasi Pemerintah Indonesia. (thy/mul)

Menyelamatkan Caturwulan

KOMPAS - Rabu, 18 Feb 1998 Halaman: 11 Penulis: THY/MUL Ukuran: 3545
MENYELAMATKAN CATURWULAN...
INILAH salah satu kebijaksanaan pemerintah daerah yang di rasakan
langsung masyarakat. Ketika terjadi pemogokan sopir angkutan umum di
sekitar Cirebon selama sepekan, Bupati Cirebon Rachmat Djoehana langsung
memerintahkan agar pejabat Pemda Cirebon yang selama ini menikmati mobil
dinas, harus mengangkut pelajar yang berdiri di pinggir-pinggir jalan
karena tidak terangkut kendaraan bantuan.
"Mobil dinas tersebut pada dasarnya milik rakyat, sehingga ketika
rakyat membutuhkan, mobil tersebut harus bisa dimanfaatkan," perintah
Bupati Rachmat Djoehana.
Maka mulai dari kepala bagian hingga jabatan yang lebih atas yang
mendapat mobil dinas, selama pemogokan berlangsung, bolak-balik mengangkut
pelajar, karyawan hingga ibu-ibu yang akan pergi kepasar. Jika selama ini
pelajar dan karyawan hanya bisa menyaksikan kendaraan berpelat merah
tersebut hilir mudik di tengah jalan, sekarang saat pemogokan berlangsung,
bisa menikmati secara gratisan.
"Lebih enak naik mobil dinas begini. Kalau naik truk bantuan, untuk
pelajar putri karena pakai rok, sangat susah naiknya," kata seorang siswi
SMEA Negeri 2 Lemahabang, Kabupaten Cirebon yang terlambat mengikuti tes
somatif karena baru mendapat angkutan sekitar pukul 07.30 WIB kemarin.
Pemogokan sopir angkutan, memang bukan hanya menyusahkan pelajar dan
karyawan. Guru-guru pun juga jadi serba salah. Jika di liburkan, karena
murid susah mendapatkan angkutan, kebijaksanaan tersebut jelas menyalai
aturan. Namun jika tidak di liburkan, kasihan murid-murid susah mendapatkan
angkutan untuk pergi ke sekolah maupun kembali ke rumah. Tidak mengherankan
jika kemudian, sejumlah guru di Cirebon turut menghentikan kendaraan
pribadi yang melintas, lalu minta pengertian dan minta pertolongan
pengemudi agar bersedia mengantar anak didiknya yang kesulitan angkutan.
Keluhan yang sama juga di rasakan masyarakat yang akan bepergian
ke luar kota karena urusan yang sangat penting. "Saya harus memeriksakan
diri ke dokter setelah operasi, namun tidak ada bus atau kendaraan pribadi
yang berani melintasi Kadipaten karena mendengar di Kadipateng sedang
terjadi kerusuhan," keluh Ny Yeti (27), penduduk perumnas Cirebon yang
harus memeriksakan diri ke dokter penyakit dalam ke Rumah Sakit AL-Islam
Bandung.
Rasa pasrah dilontarkan Ny Euis Karmini (45) yang tidak bisa ke Bandung untuk menengok anaknya yang sakit, karena tidak ada angkutan umum. Kita merasakan dampak pahit dari krisis moneter. Tapi melakukan pemogokan, tidak memecahkan masalah, malah lebih menyengsarakan rakyat," ujarnya geram.
***
KELUHAN soal naiknya harga suku cadang ini, memang yang menjadi alasan
pemogokan sopir dan pemilik angkutan umum. Sebagai contah, minyak rem dari
Rp 5.500 naik menjadi Rp 22.500 per liter. Sedangkan ban yang semula
Rp 80.000 sekarang naik menjadi Rp 300.000 per buah. "Berarti untuk membeli satu buah ban, pemilik kendaraan harus menunggu setoran selama sepuluh hari," kata Iskandar Agus Banaji, ketua Organda Kabupaten/Kotmadya Cirebon menanggapi keluhan pengemudi dan pemilik angkutan umum.
Menurut Iskandar, menaikkan tarif angkutan bukanlah solusi yang tepat
karena daya beli masyarakat saat ini sudah sangat rendah. "Idealnya pemerintah melakukan intervensi sehingga harga suku cadang kendaraan bisa
turun kembali," ujar Iskandar yang memahami namun tidak mendukung terjadinya pemogokan angkutan umum. (thy/mul)

Plered, Pusat Makanan Ringan "Selawe Perak"

KOMPAS - Minggu, 30 Apr 1995 Halaman: 15 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 7800
PLERED, PUSAT MAKANAN RINGAN "SELAWE PERAK"
ANDA pasti akan pusing tujuh keliling seandainya saat ini
mencari makanan ringan (snack) super murah seharga Rp 25 (dua
puluh lima rupiah). Dengan uang sebesar itu paling banter hanya
mendapat sebutir permen, seperti yang sah-sah saja dilakukan
sejumlah pasar swalayan, saat membayar kembalian uang pembeli.
Namun Anda tak usah berkecil hati. Di zaman harga-harga makanan
dan segala macam kebutuhan manusia semakin melambung, ternyata masih
ada makanan ringan yang dijual dengan harga selawe perak.
Makanan ringan murah -- yang kebanyakan untuk konsumsi anak-
anak ini -- dengan mudah didapatkan di Cirebon. Tepatnya di kawasan
pusat perdagangan kue di kawasan Plered, sekitar lima kilometer
barat kota Cirebon. Kawasan perdagangan makanan ringan ini meliputi
sejumlah desa seperti Plered, Weru, Panembahan, dan Setu.
Para pemudik Lebaran atau pengendara lain yang kerap
melintas jalan itu, akan dapat dengan mudah melihat banyaknya
makanan ringan seharga selawe perak (Rp 25 ) itu. Timbunan
kue dari pedagang grosir besar, menengah, dan kecil, banyak
terdapat di kedua sisi jalan. Bongkar muat jajanan dari truk dan
kendaraan lain, sebagian dilakukan pula di kedua pinggir jalan padat
kendaraan itu.
Ramainya transaksi jual beli segala macam makanan ringan
dan kegiatan bongkar muat yang melibatkan banyak kendaraan
pengangkutnya, menjadi salah satu penyebab kemacetan lalu lintas
yang kerap terjadi di kawasan itu. Arus kendaraan yang merambat,
menjadi pemandangan biasa di Plered. Antrean kendaraan
biasa terjadi, mulai dari sekitar perempatan Jl Plered sampai
pertigaan Kedawung, sepanjang sekitar tiga kilometer.
Padat dan tersendatnya lalu lintas di Plered, selain karena
tingginya frekuensi arus kendaraan, juga karena kesibukan pasar
makanan ringan di kawasan itu. Setiap hari ratusan pembeli datang
membawa kendaraan untuk mengangkut makanan ringan yang
dibeli. Puluhan kendaraan besar, juga datang dan membongkar
muatan makanan ke sejumlah grosir di pusat makanan itu.
***
PEMBELI makanan ringan kering di Plered berdatangan dari
berbagai kota dan daerah. Mereka adalah pedagang yang
sengaja membeli makanan di Plered untuk dijual di daerah mereka.
Mereka tidak hanya berasal dari daerah Cirebon sendiri dan
daerah sekitar seperti, Brebes, Tegal, Indramayu, Kuningan, dan
Majalengka, tetapi juga berasal dari Purwokerto, Solo, atau
Subang, Sumedang serta daerah lain.
Sejumlah grosir ada di daerah itu. Mereka menjual dan
menyalurkan kiriman bertruk-truk makanan kering, kepada sub-grosir
atau pedagang lebih kecil. Hingga tidaklah berlebihan jika setiap
hari transaki dagang, diperkirakan bernilai ratusan juta rupiah.
Di Plered, menurut pemilik Toko Hendra, terdapat ratusan jenis
makanan. Pedagang sub-grosir ini sampai kesulitan menyebut satu per
satu jenis makanan ringan yang ditawarkan karena banyaknya.
Bermacam makanan ringan mulai dari harga Rp 25 per bungkus
sampai seharga Rp 100 dan segala jenis makan ringan lain, sebagian
besar tidak berasal dari Plered dan daerah Cirebon itu sendiri.
Makanan itu datang dari pabrik di berbagai kota seperti Jakarta,
Bandung, Tangerang, Solo, Surabaya, dan kota lainnya.
Selebihnya adalah makanan ringan yang berasal dari produk industri
rumahan di kawasan Plered sendiri dan sekitar Cirebon.
Namun antara produk lokal dan pabrik besar dapat dibedakan,
dengan melihat dari bentuk kemasannya. Aneka makanan ringan dari
pabrik dikemas dalam bungkus plastik bagus aneka warna, atau dalam
kotak karton. Merek makanan ini pun keren-keren.
Snack selawe perak misalnya diberi nama Halo, cokelat stik
Choyo-Chyo, agar-agar Jely Cup-Cup, atau permen bermerek RX
Candy. Kebanyakan jenis yang dijual di Plered adalah aneka macam
snack, kuaci, agar-agar, permen, mie kering, sampai kue yang
dikemas dalam balon. Hampir semua jenis makanan ini berasal dari
luar Cirebon.
Sedangkan produk lokal yang juga turut meramaikan Plered, di
antaranya aneka jenis kerupuk, kacang-kacangan, makanan kering dari
terigu, makanan dari singkong, dan sebagainya. Beberapa jenis
makanan setempat antara lain dikenal dengan nama kremes,
klitik, kacang, atum, teng-teng, kerupuk melarat/mares, dan
sebagainya. Sebagian makanan lokal ini, bisa dibeli sejumlah pasar
swalayan di Cirebon.
***
MAKANAN ringan lokal inilah yang sebenarnya menjadi cikal bakal
mengapa Plered menjadi pusat perdagangan makanan ringan. Seorang
grosir, H. Enny (47), menyebutkan sejak dia kecil, kawasan Plered
sudah menjadi tempat perdagangan makanan.
Menurut Enny, salah seorang perintisnya adalah penduduk
setempat, H Anwar, yang saat ini juga menjadi grosir besar.
Namun pengusaha ini tidak mau menjelaskan ihwal pertumbuhan
Plered. "Tanya pada yang lain saja," katanya.
Sejumlah pedagang menyebutkan, berkembangnya kawasan Plered
menjadi pusat perdagangan makanan karena di daerah itu ada kawasan
makanan ringan industri rumahan. Transaksi jual beli, selain
berlangsung di rumah produksi, juga di Pasar Kue Weru. Pasar ini
sampai sekarang masih menjadi tempat transaksi. Puluhan pedagang
sub-grosir dan kecil mengambil tempat menjajakan dagangan di sini.
Keberadaan pedagang di Pasar Kue Weru dan sekitarnya, juga
merupakan gambaran dari suatu pembagian rezeki (keuntungan)
secara merata bagi banyak orang. Tidak hanya grosir yang meraup
keuntungan besar karena menjual dalam partai besar, tetapi
pedagang kecil di bawahnya pun dapat meraih laba.
Pedagang yang berdatangan, kebanyakan membeli pada sub-grosir
atau pedagang lebih kecil dari grosir. Pedagang-pedagang ini
membeli barangnya dari grosir yang menerima kiriman pabrik. Kecuali
pembelian dalam partai besar yang tidak dapat dilayani sub-grosir,
pembeli dari luar tidak boleh membeli langsung dari grosir. Begitu
aturan dagangnya meski tidak tertulis.
Satu ikat makanan kecil berisi 100 bungkus, misalnya, dibeli
pedagang dari sub-grosir Rp 1.850. Sebelumnya sub-grosir mebeli dari
grosir Rp 1.800. Pihak grosir sendiri tidak mau menyebut, berapa
harga makanan itu dari pabriknya.
Rantai pembagian rezeki ini lebih panjang lagi. Pedagang yang
membeli dari subgrosir, akan menjualnya kepada pedagang eceran di
pasar Rp 1.900. Di tingkat pedagang eceran, harganya kemudian
melonjak menjadi Rp 2.500 per satu ikat isi 100 bungkus, karena
dijual Rp 25 per bungkus.
Meski untung yang didapat pedagang subgrosir per ikat kecil,
hanya Rp 50, namun bisnis makanan ini berjalan lancar dan dalam
partai cukup besar. Seorang pedagang asal Sindanglaut, Cirebon,
Tafsir (60), membeli aneka makanan ringan satu bak truk kecil
seharga Rp 1,5 juta. Dua kali seminggu dia bolak-balik ke Plered.
Hal serupa dilakukan seorang pedagang asal Majalengka. Sukar (35)
asal Tegal dua hari sekali juga membawa (membeli) satu boks penuh
makanan ringan. Di kotanya, makanan ini dijual ke pedagang eceran.
Para pedagang mulai dari pedagang eceran sampai grosir
sendiri sebenarnya tidak begitu mengerti mengapa pihak pabrik
mampu memproduksi makanan semurah itu, Rp 25 per bungkus.
Mungkin itulah misteri mata rantai produksi dan perdagangan
makanan ringan Plered. Yang tidak masuk akal bagi masyarakat awam
pun dapat menghidupi ribuan orang, seperti makanan ringan selawe
perak Plered.(agus mulyadi)
----------
teks foto:
Kompas/mul
PASAR MAKANAN -- Kawasan sekitar pasar kue Weru, Plered, selalu
dipadati tumpukan makanan ringan, pedagang, dan pembelinya.
Pemandangan seperti ini berlangsung sepanjang hari.

Derita Ini Masih Belum Berakhir

KOMPAS - Rabu, 08 Feb 1995 Halaman: 1 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 7427
DERITA INI MASIH BELUM BERAKHIR...
TANAM padi dan panen sampai dengan tiga kali musim tanam, biasa
terjadi di lahan sawah beririgasi teknis yang airnya terjamin.
Sebagian petani di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, pun
kerap tanam sampai tiga kali atau lebih. Namun itu tidak dalam satu
tahun, tapi dalam satu kali musim tanam (MT). Panennya pun, tetap
hanya satu kali.
Itu terjadi, karena petani setempat kerap harus mengganti
tanaman padi mereka. Biasanya, karena bibit padi yang sudah ditanam
mati membusuk akibat terendam air. Agar bisa ikut panen -meski
terlambat- mau tidak mau petani Krangkeng harus mengganti tanaman
padinya yang mati.
Penggantian bibit tanaman padi ini kadang tidak hanya sekali
(dalam satu MT), tetapi sampai dua tiga kali. Sebab, ketika tanaman
baru sudah ditanam, banjir datang lagi merendam berhari-hari.
Tanaman padi mati lagi, sehingga harus diganti. Kondisi itu berulang
terjadi, sampai genangan tinggi yang mematikan tanaman tidak terjadi
lagi. Ya karena hujan mulai jarang turun, sehingga genangan surut.
Bahkan hantaman cobaan terhadap petani Krangkeng dalam
bercocok tanam padi ini, sudah terjadi saat baru dalam persemaian
bibit. Bibit baru disemaikan banjir datang, hingga habis terbawa
banjir. Ganti persemaian ini pun kerap terjadi lebih dari satu
kali.
"Kita bae wis nebar ping loro kien," kata seorang petani di
Desa Singakerta, sebut saja namanya Samin. Maksudnya, dalam MT
1994/1995 sekarang dia sudah dua kali ini menaburkan bibit di
persemaian. Sebab persemaiannya yang pertama lenyap dibawa
genangan banjir di sawahnya.
* * *
SEBAGIAN petani di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu,
sampai minggu pertama Februari 1995 ini tetap belum bisa menanam
padi di lahan sawah mereka. Boro-boro menanam padi, mengolah
sawah pun sulit dilakukan. Genangan air di kawasan persawahan itu
yang mengakibatkan tertundanya penanaman padi MT sekarang.
Sebagian petani lainnya di kawasan persawahan "merana" itu
ada yang sudah menanam padi, tetapi tetap terlambat jauh
dibandingkan di kecamatan lain di Indramayu.
Keadaan tidak jauh berbeda terjadi pula di daerah
tetangganya, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Petak-petak
sawah terlantar atau baru dan belum lama ditanam, menjadi
pemandangan sekarang ini. Padahal di Krangkeng dan Kapetakan
masing-masing ada sekitar 5.000 hektar dan 8.000 hektar sawah
tadah hujan.
Gambaran persawahan tadah hujan dua kecamatan di kabupaten
berbeda yang lahannya kerap tergenang banjir ini, mungkin bisa
diwakili di kawasan persawahan antara Sungai Cimanis dan Sungai
Kumpulkuista. Di kawasan persawahan yang termasuk dalam Desa
Singakerta (Krangkeng) dan Bungko Lor, sebagian besar masih
terlantar. Genangan air cukup tinggi masih merendam sawah.
Lokasinya, berada di sisi barat berbatasan dengan jalan raya
yang menghubungkan Indramayu-Cirebon. Di sisi timur berbatasan
langsung dengan sebuah saluran air tawar pertambakan kawasan
pantai. Persawahan di sisi barat jalan raya pun kondisinya tidak
jauh berbeda, meski tidak separah di sisi timur jalan.
* * *
SEJAK kapan sebenarnya kendala yang begitu menghambat
kelancaran pertanian di kawasan itu terjadi? Apa pula penyebabnya?
Kondisi sawah tadah hujan yang tidak beririgasi teknis yang
dijamin airnya, memang sudah sejak berpuluh tahun lalu. Namun
genangan air dalam waktu lama di persawahan mereka, terjadi
sekitar sepuluh tahun lalu.
Ada penyebab yang menghambat pembuangan air ke laut, sehingga
genangan seperti betah di persawahan. Petani setempat menuding
pertambakan di sepanjang pantai, yang menjadi salah satu penyebab
terjadinya genangan. Setiap kali hujan deras - di kawasan itu maupun
di bagian hilir saluran-saluran yang melintas - genangan terjadi.
Dan surutnya, membutuhkan waktu berhari-hari, berminggu-minggu.
Di wilayah Krangkeng, air dari beberapa sungai dan saluran
pembuang yang melintas di persawahan, terhambat saluran sejajar
tambak yang disebut penduduk setempat Kali Malang. Air yang mengalir
dari sungai dan saluran, tidak langsung terbuang ke laut, tetapi
bermuara di Kali Malang, yang melintang sejajar dengan pantai
berkilo-kilo meter jauhnya di wilayah Kecamatan Krangkeng.
Karena semua air dari saluran dan sungai bermuara hanya di
satu tempat -Kali Malang- air jadi cepat meninggi. Dari kali ini
untuk kepentingan penyediaan air pertambakan ini, air dialirkan dan
bermuara di Sungai Kumpulkuista.
Namun Kumpulkuista sendiri sudah bermuatan volume air dalam
jumlah besar. Permukaan air yang cukup tinggi, sehingga air dari
Kali Malang hanya bisa mengalir perlahan. Tidak lancar. Terlebih
lagi pada musim hujan, ketika semua saluran/sungai yang bermuara
di Kali Malang, dan Kumpulkuista sendiri tinggi. Bisa dikatakan,
air dari Kali Malang tidak bisa mengalir ke Kumpulkuista.
Akibatnya mudah ditebak. Air di Kali Malang kemudian meluap
ke persawahan di sisi barat. Kondisi tanggul di sisi itu, yang
memudahkan air meluber ke persawahan. Sedangkan tanggul di sisi
timur yang membatasi Kali Malang dengan pertambakan, memang
didesain untuk mengamankan tambak. Tanggul yang cukup tinggi,
mengamankan tambak dari bahaya luapan.
Selain menerima luapan dari Kali Malang, persawahan di
kawasan Krangkeng itu harus pula menerima luapan dari semua
saluran dan sungai yang melintas. Sebabnya, tanggul-tanggul
saluran/sungai tidak terpelihara. Di tanggul yang sudah mendekati
kawasan Kali Malang, di sana-sini tanggul rata dengan sawah.
Kali Cimanis misalnya, tanggulnya tidak dapat dilewati
sampai mencapai Kali Malang. Kondisi tanggul yang sebagian rusak
di bagian hilir, yang menjadi penyebabnya.
Dengan kondisi itu, tentu saja air dari saluran dengan
bebasnya masuk persawahan. Dalam musim hujan sejak sebulan
terakhir yang kerap mengguyur kawasan itu, air yang menggenangi
persawahan menjadi semakin tinggi dan sulit terbuang.
Di Kapetakan, persoalannya sedikit berbeda. Genangan sulit
terbuang, karena sejumlah saluran tidak bisa bermuara ke laut,
karena saluran dijadikan tambak. Air tidak bisa mengalir. Pimpro
PWS (pengembangan wilayah sungai) Cimanuk-Cisanggarung, Ir
Soeradji Dipl Ing, sudah meminta Bupati Cirebon untuk menertibkan
kawasan tambak.
* * *
PETANI setempat terus bergulat dengan nasibnya. Akibat
kepentingan yang dianggap lebih bagus -pertambakan- mereka
menjadi korban. Tetapi petani tidak menyerah. Mereka mencoba
terus bertahan dan tetap setia bercocok tanam padi.
Meski kemudian mereka harus lebih lama lagi menunggu
surutnya genangan, karena ada kepentingan lain lagi yang tidak
dapat dihadang mereka. Seperti yang dialami petani Bungko Lor.
Sawah mereka yang sudah lama tergenang, kini semakin "awet"
kebanjiran. Sawah mereka menjadi tempat pembuangan air saluran di
sisi utara Kumpulkuista, yang sengaja dibobol untuk pembangunan
sebuah bendung karet. Dari tanggul yang dibobol sejak Agustus
1994 lalu, air langsung menerjang persawahan mereka, tanpa mereka
bisa berbuat apa-apa.
Perjalanan nasib buruk petani Krangkeng dan Kapetakan, terus
berlanjut. Derita bagi mereka memang belum berakhir...
(agus mulyadi)

Sukareja Diemohi Warganya Sendiri

KOMPAS - Jumat, 05 Aug 1994 Halaman: 9 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 8148
SUKAREJA "DIEMOHI" WARGANYA SENDIRI
INI mungkin antitesa. Proyek pembangunan yang terpaksa
membebaskan areal tanah milik penduduk harus selalu berhadapan
dengan sikap keras yang menentang. Cerita yang umum di mana-mana,
penduduk cenderung berkeras menolak lahan miliknya dibebaskan, dan
biasanya menyangkut jumlah ganti rugi yang dianggap tak sepadan.
Tetapi tak demikian yang terjadi pada Sukareja, kawasan proyek
Exor I milik Pertamina, di daerah Kabupaten Indramayu (Jabar). Warga
setempat di Desa Sukareja, Kecamatan Balongan, justru terkesan
mengemohi (menolak) kampung halamannya sendiri. Sebagian penduduk
justru menginginkan agar desa mereka "dibebaskan" untuk kepentingan
megaproyek Kilang Minyak Exor I.
Pembebasan areal di Sukareja diputuskan, terutama karena
penduduk merasa terganggu akibat keberadaan kilang minyak Exor I
milik Pertamina. Pembangunan proyek kilang minyak itu telah
menyebabkan Desa Sukareja menjadi satu yang terpencil, dan seolah
terputus dari desa-desa sekitarnya.
Sekarang tak ada lagi jalan (besar) menuju ke Desa Sukareja,
karena itu tak ada kendaraan umum yang menuju ke sana. Akibatnya,
penduduk setempat terpaksa mencari jalan lain, bila harus menuju ke
Cirebon atau Indramayu, memutar sekitar satu km di sebelah barat.
Memaksa dibebaskan
Alasan gangguan dan keterpencilan, rupanya tidak cukup kuat
menggugah pihak Proyek Exor I agar membebaskan Desa Sukareja. Pihak
proyek terkesan tidak membutuhkan areal pemukiman penduduk yang
terletak persis berdampingan dengan kompleks kilang minyak itu.
Proyek Exor I memang masih mempunyai lahan luas di sisi selatan
lokasi kilang yang sudah dibangun. "Kami punya areal luas yang masih
kosong. Jadi untuk apa Exor I membebaskan lagi areal baru," kata
Kahumas Exor I, Adrin Umar.
Bagi penduduk Sukareja, dengan sejumlah alasan, merasa "punya
hak untuk dipindahkan". Menurut penduduk, desa mereka harus
dibebaskan dengan harga sesuai keinginan penduduk, Rp 200.000/m2.
Berbagai perundingan yang melibatkan Pemda Indramayu, Proyek Exor I
dan penduduk Sukareja telah dilakukan guna mencari titik temu
kesepakatan harga pembebasan tanah.
Kata Kahumas Exor I, pihak proyek siap dengan dana pembebasan
Sukareja, kalau memang itu yang dikehendaki warga setempat. Namun
harga ganti rugi yang ditawarkan kepada penduduk tak beranjak jauh
dari Rp 20.000/m2, setelah sebelumnya hanya Rp 17.500/m2.
Rasanya sulit dicari titik temu mengingat harga antara yang
ditawarkan pihak proyek (Rp 20.000) dengan tuntuan penduduk (Rp
200.000) terlalu jauh. Karena itu angan-angan penduduk agar areal
desanya dibebaskan dengan cara bedol desa, mustahil terlaksana.
Keinginan penduduk agar desanya dibebaskan seolah
mengisyaratkan sikap menolak terhadap kampung halamannya sendiri.
Mereka lebih suka meninggalkan desanya, dengan membawa segepok
rupiah, untuk mencari lahan baru serta mata pencaharian baru.
Kehilangan
Sebagian penduduk Sukareja terpaksa harus kehilangan mata
pencaharian mereka, terutama yang hidup sebagai petani dan nelayan.
Menyusul lahan pertanian mereka yang dibebaskan untuk lokasi proyek
kilang minyak Exor I. Sebagian nelayan juga terpaksa menghentikan
kegiatannya, karena perairan laut sekitar Exor I, seperti diharamkan
untuk dilalui perahu nelayan.
Penduduk yang kehilangan mata pencaharian ini sekarang seolah
tak punya peluang lagi untuk menjalani mata pencahariannya semula
setelah proyek hampir rampung. Di antara mereka dulu mungkin ada
yang pernah menjadi pekerja proyek saat pembangunan berlangsung,
namun kini kesempatan itu sudah tertutup.
Sejak beroperasi, kilang minyak Exor I kini lebih mengandalkan
tenaga terlatih untuk mengoperasikan kilang minyak. Tidak lagi
menggunakan buruh-buruh kasar seperti yang berasal dari penduduk
Sukareja atau daerah lain sekitarnya. Kini mereka hanya bisa menjadi
penonton, dan tak bisa ikut merasakan nikmatnya proyek.
Mungkin lantaran semua itu, mendorong sebagian besar penduduk
Sukareja memilih pindah ke daerah lain. Pikir mereka, ketimbang
sakit hati karena tidak dapat bekerja di proyek yang ada di depan
hidung mereka. Daripada kecemburuan semakin membengkak, dan mungkin
bakal menimbulkan dampak yang lebih buruk.
Keinginan untuk pindah ke lokasi pemukiman di desa lain,
menggumpal dalam lubuk hati sebagian besar warga. Itu tercermin dari
jawaban penduduk, ketika pihak Kecamatan Balongan mengedarkan
kuesioner kepada penduduk.
Pemda Indramayu sendiri merencanakan satu lokasi, untuk
permukiman baru penduduk Sukareja yang bedol desa di Desa Rawadalem,
Kecamatan Balongan. Alternatif lain, penduduk memilih sendiri tempat
tinggal baru yang mereka sukai.
Masih cinta
Betapapun sebenarnya warga masih memiliki rasa cinta terhadap
desa tumpah darah mereka. Seperti dilontarkan sejumlah penduduk yang
tinggal di sekitar Balai Desa Sukareja, mereka mau pindah asal
mendapat bayaran ganti rugi memadai. Mereka berharap ganti rugi
cukup tinggi, untuk bekal hidup baru di tempat lain.
Tentang usulan besarnya ganti rugi yang diajukan penduduk,
mereka anggap sebagai hal yang wajar. Salah satunya, karena harga
tanah di sekitar lokasi Exor I sudah melambung.
Sejumlah penduduk yang kini terpaksa bermatapencaharian mencari
nener dan benur di pantai menyebutkan, mereka tidak mengerti mengapa
harga yang diajukan Exor I hanya Rp 20.000/m2. "Kalau ganti ruginya
tidak besar, lebih baik kami tetap tinggal di sini," kata penduduk.
Bila pembebasan lahan di Sukareja terjadi, itu merupakan nasib
buruk bagi mereka. Dewasa ini sebagian penduduk telah kehilangan
mata pencahariannya. Desa mereka pun menjadi terpencil. Hidup mereka
niscaya tidka damai lagi sejak Exor I beroperasi, mengingat lokasi
Sukareja amat berdekatan dengan kilang minyak itu.
Penjualan bengkok
Kehidupan di Sukareja hari-hari ini tampak lesu. Sejumlah
penduduk kini kerjanya hanya duduk-duduk di depan rumah mereka.
Kesan serupa bisa disaksikan di kantor kelurahan setempat. Kepala
Desa dan perangkatnya seringkali tak ada di tempat. Kondisi seperti
itu terjadi sejak beberapa bulan setelah dimulainya pembangunan
proyek Exor I tahun 1991 lalu.
Dari kalangan penduduk, Kompas memperoleh keterangan, alasan
kemalasan aparat desa untuk ngantor karena menyangkut sumber
penghasilan, berupa tanah bengkok seluas 21 ha yang telah dibebaskan
untuk proyek. Selain tanah bengkok, dibebaskan pula tanah titisara
milik desa, tanah pangonan dan tanah timbul seluas 17 ha.
Seluruh areal tanah milik desa/negara yang dibebaskan 38 ha.
Beberapa aparat desa yang dihubungi Kompas menerangkan, kini sudah
ada tanah bengkok pengganti yang luasnya sama dengan tanah yang
dibebaskan, sedang lokasinya tersebar.
Tetapi penduduk belum percaya, karena sulit membuktikan lokasi
bengkok yang baru. Apalagi aparat desa tidak pernah menggarap
sendiri tanah bengkok mereka, karena sistemnya disewakan kepada
orang lain untuk dikerjakan, sedang dia hanya menerima sewa.
Selain kurang jelas soal tanah bengkok yang baru, penduduk juga
sama sekali tak paham tentang sisa hasil penjualan tanah milik desa.
Berdasar perhitungan hasil ganti rugi 38 ha tanah desa/negara saat
pembebasan yang mencapai sekitar Rp 1,7 milyar (dihargai Rp
4.750/m2), diduga ada kelebihan uang hasil ganti rugi cukup besar.
Kelebihan itu berasal dari sisa uang yang dibelikan untuk tanah
pengganti. Dengan perhitungan misalnya harga tanah pengganti Rp 20
juta/ha, untuk tanah seluas 38 ha, cukup dibutuhkan uang Rp 760
juta. Hingga sisa uang ditaksir masih sekitar Rp 1 milyar.
Kepada Kompas sejumlah penduduk menyampaikan keinginannya, agar
Pemda setempat terbuka, dan menjelaskan sisa uang hasil ganti rugi
tanah aset desa itu. Kalau memang ada, hendaknya dikembalikan ke
desa. Misalnya untuk membangun Desa Sukareja, atau untuk bekal
membangun "desa" baru mereka nanti, jika Sukareja jadi dibebaskan.
(agus mulyadi)
FOTO:1

Senyum Petani Hanya Sementara

KOMPAS - Rabu, 03 Aug 1994 Halaman: 17 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 6137
SENYUM PETANI HANYA SEMENTARA
PETANI di Kabupaten Karawang, Subang, serta sebagian Indramayu,
dan Cirebon di Jawa Barat, hari-hari ini bisa menyunggingkan senyum
senang. Ekspresi kegembiraan itu muncul lantaran mereka merasa bahwa
jerih payahnya dihargai. Harga gabah hasil panen petani MT (musim
tanam) 1994 saat ini masih tinggi dalam ukuran mereka.
Harga gabah jenis GKP (gabah kering panen) berkisar Rp 400--Rp
450/kg, sedang untuk GKG (gabah kering giling) yang siap digiling
menjadi beras, harganya sudah di atas Rp 500/kg.
Tetapi sebagian petani di Indramayu dan Cirebon, juga petani di
daerah lain, agaknya harus menunda perasaan senang lantaran lahan
persawahan mereka mengalami kekeringan. Di Indramayu, sawah yang
sudah dinyatakan puso mencapai 4.950 ha, dan di Cirebon 2.700 ha.
Tidak ada senyum tersungging di bibir para petani yang
terakhir. Tanaman padi MT 1994 yang jadi tumpuan harapan telah
berubah menjadi jerami-jerami kering tidak berguna. Untuk menyambung
hidup, akhirnya sebagian dari mereka, terutama petani gurem,
terpaksa hengkang dari desanya, mencari kerja apa saja di kota.
Kondisi berbeda dialami sebagian petani lain di Indramayu dan
Cirebon. Lahan tanaman padi mereka yang selamat dari ancaman
kekeringan, dan berhasil dipanen, membuat mereka menyunggingkan
senyum seperti petani tetangga di Karawang dan Subang. Di sini nilai
tukar gabah hasil sawah mereka sama tingginya.
Musim panen MT 1994 yang kini tengah berlangsung di Cirebon,
mencakup areal seluas 5.000 ha. Bahkan di Indramayu sudah sekitar
30.000 ha tanaman padi yang dipanen. Areal luas panen yang tidak
jauh berbeda dengan di Indramayu, telah berlangsung pula di Karawang
dan Subang. Panen raya di empat kabupaten "lumbung beras" di Jabar
itu, diperkirakan akan berlangsung sampai Agustus ini.
***
PENGAMATAN Kompas di areal persawahan di Karawang, Subang, dan
Indramayu pekan lalu menunjukkan, sebagian areal persawahan lain di
Kecamatan Ciasem, Patokbeusi (Subang), dan sebagian di Kecamatan
Jatisari (Karawang) rata-rata usia tanaman padi sudah tiga bulan.
Diperkirakan, panenan berlangsung September 1994 nanti.
"Mudah-mudahan harga gabah tetap tinggi seperti sekarang,
ketika sawah saya panen nanti," kata seorang petani di Pamanukan,
Kabupaten Subang.
Harapan yang dilontarkan petani tadi cukup beralasan. Dia
khawatir, harga padi/gabah yang sekarang tinggi akan kembali menurun
bila operasi pasar (OP) beras semakin membanjiri pasar-pasar. Atau
manakala produksi padi melimpah, dan saat panen raya mendatang.
Kalau itu terjadi, para petani tidak akan merasakan tingginya
nilai tukar hasil jerih payah mereka. Tak bakal merasakan bahagia
seperti yang dialami Aying (40) petani di Gempolsari, Patokbeusi
yang dapat menjual gabah kering panennya seharga Rp 440/kg.
"Saat ini harga gabah kering giling sudah di atas Rp 500," kata
beberapa tengkulak yng membeli GKP, langsung di lokasi-lokasi panen
di Patokbeusi dan Jatisari.
Harga gabah di tingkat petani saat ini, sudah jauh di atas
harga dasar gabah tahun 1994 yang ditetapkan pemerintah yakni Rp
260/kg untuk GKP dan Rp 360/kg untuk GKG. Bagi petani, nilai tukar
gabah sekarang cukup layak untuk jerih payah mereka. Kelebihan hasil
penjualan, akan dapat memperpanjang pemenuhan kebutuhan hidup yang
mereka dapat dari hasil pertanian itu.
Apalagi, mereka tidak merasakan "manisnya" hasil nilai tukar
gabah MT 1993/1994 sebelumnya. Ketika itu harga gabah paling tinggi
sesuai standar pemerintah yakni Rp 260/kg untuk GKS (gabah kering
simpan), bahkan sebagian lain hanya dihargai Rp 240-Rp 250/kg.
***
HARGA gabah pada saat ini yang dirasakan cukup tinggi, akhirnya
berpengaruh pada melambungnya harga beras di pasaran. Di sejumlah
daerah di Karawang, Subang, dan Indramayu, harga beras kualitas
sedang masih berkisar Rp 750--Rp 800/kg. Bahkan di Cirebon, harga
beras dengan kualitas sama Rp 800--Rp850/kg.
Tetapi keuntungan yang didapat petani dalam waktu satu tahun
(dua MT) sebenarnya tidaklah terlalu tinggi. Para petani di Ciberes,
Patokbeusi, dan Jatibaru, Jatisari merinci, sawah mereka seluas satu
bahu (0,7) pada MT 1994, menghasilkan tiga ton GKP bersih. Dengan
nilai jual Rp 440/kg, didapatkan hasil uang Rp 1.320.000. "Tapi saya
harus memperhitungkan semua pengeluaran untuk pengolahan tanaman
padi dan sawah saya itu," kata petani Ciberes.
Untuk biaya produksi MT 1994 dia mengeluarkan uang Rp 250.000,
untuk traktor pengolah lahan sawah, bibit, pupuk, obat-obatan hama,
dan lainnya. Diperoleh hasil bersih Rp 1.070.000.
Sedangkan hasil bersih dari sawah/tanaman satu bahu padi MT
1993/1994 lalu juga sebanyak tiga ton, hanya senilai Rp 530.000.
Hingga total yang didapat petani dari tanaman padi satu bahu untuk
satu tahun (dua MT), hanya Rp 1.600.000.
"Tetapi itu pun harus dikurangi dengan biaya untuk sawah lain,
seperti PBB, hektaran, dan iuran air," kata petani di Ciberes. PBB
satu bahu dibayar Rp 42.000, dan hektaran (dana swadaya pembangunan
desa) Rp 100.000.
Setelah dikurangi Rp 142.000, hasil yang didapat petani dari
sawahnya seluas satu bahu, dalam waktu satu tahun Rp 1.480.000. Atau
untuk tiap bulan dia hanya mendapat Rp 123.300. Dengan perhitungan
sama, dari areal satu hektar sawah yang menghasilkan 4,5 ton GKG,
penghasilan petani setahun Rp 1.838.000, atau Rp 153.160 sebulan.
Gembar-gembor tentang tingginya harga beras dan gabah saat ini,
sebenarnya tidak bersifat riil, karena yang didapat petani tetap
rendah. Kalau pun petani sementara ini bisa tersenyum senang, karena
mereka merasa bersyukur dengan harga sekarang. Itu berarti membantu
menambah sedikit penghasilan mereka. (agus mulyadi)
Teks Foto
Kompas/mul
MENGUNTUNGKAN -- Harga gabah hasil panen MT 1994 yang mencapai Rp
440/kg untuk GKP, kali ini menguntungkan kalangan petani. Seperti
yang dialami petani Aying (tak bertopi) dari Desa Gempolsari ini.

Sandiwara Cirebon Antara Hidup dan Mati

KOMPAS - Sabtu, 05 Dec 1992 Halaman: 12 Penulis: MUL Ukuran: 2683
SANDIWARA "CIREBON" ANTARA HIDUP DAN MATI
PERBUATAN yang baik selalu mengalahkan yang jahat. Sebuah
pengertian yang selalu ditanamkan kepada anak-anak. Gambaran realita
itu, sampai akhir 1970-an, kerap dimainkan anak-anak di pedesaan
Cirebon atau Indramayu, dalam bentuk "sandiwara-sandiwaraan" di
pekarangan, lapangan, atau halaman rumah. Namun sejak pertengahan
1980-an, permainan itu sudah sulit ditemukan.
Hilangnya permainan itu, karena makin kurangnya kesempatan
mementaskan kesenian tradisional itu sendiri. Dulu, mereka biasanya
manggung di pesta hajatan, umumnya di pedesaan. Namun kini, pesta
hajatan itu sudah beralih ke bentuk hiburan lain, seperti video,
layar tancap atau pengajian. Alasan utama, menyelenggarakan
sandiwara cukup merepotkan, jumlah pasukan yang besar juga harus
dilayani pembuat hajat. Untuk satu grup sandiwara, paling tidak
melibatkan sekitar 50 orang. Mereka terdiri dari 15 penabuh gamelan,
10 orang bagian peralatan, sisanya pemain.
Itu berarti, pengundang perlu menambah dana yang cukup, seperti
untuk makan dan rokok. Belum lagi honor grup itu, sekitar Rp 700.000
sekali mentas siang malam.
***
BERKURANGNYA pertunjukan sandiwara itu, diakui Kepala Seksi
Kebudayaan Depdikbud Kabupaten Cirebon, S. Muchtar RD. "Pertunjukkan
semua jenis kesenian daerah Cirebon, termasuk sandiwara, makin
menurun dalam 20 tahun terakhir ini," ujarnya.
Sebagai perbandingan, Muchtar menyebutkan, tahun 1974 satu grup
kesenian, termasuk sandiwara, rata-rata mentas sekitar 210 kali
setahun. Angka pementasan turun pada 1979-1984, rata-rata 175 kali
mentas, tahun 1984-1989, turun lagi menjadi 105 kali.
Berkurangnya kesempatan mentas, menurunkan kualitas kesenian
daerah. Karena itu, kata Muchtar, sekolah, lembaga pemerintah atau
swasta, dapat ikut menyelamatkan dan mengembangkan kesenian daerah.
Kini tercatat 47 grup sandiwara di Cirebon, tersebar di enam
kecamatan.
Sandiwara tumbuh dan berkembang di Kabupaten Cirebon, sekitar
1940-an. Lahirnya sandiwara atas prakarsa Mursid, penduduk Desa
Wangunarja, Kecamatan Klangenan-Cirebon. Dua kesenian khas daerah
itu ialah reog sepat dan tunil, dipadukan menjadi satu. Kesenian
baru itu pertama kali dinamakan jeblusan, artinya pertunjukan drama
tunil tanpa layar tutup (jeblas-jeblos).
Kesenian yang dianggap baru itu, akhirnya dikenal dengan nama
sandiwara, dari kata sandi (terselubung) dan wara (pemberitahuan).
Penduduk setempat mengartikannya, penyampaian suatu petunjuk secara
terselubung. Sayang, sandiwara itu kini kurang diminati penduduk
setempat. (mul)

Minggu, 11 November 2007

Kemiskinan di Indramayu

Setelah empat tahun di tinggal Palembang, Sumatera Selatan, saya kembali ke Jakarta awal Desember 2006. Saya kembali pula melihat, memantau, mendengar, tentang kehidupan di Ibu Kota.
Jakarta ternyata makin banyak dihuni orang miskin. Kehidupan yang semakin sulit, mungkin akibat kurang mampunya para pengelola negara ini memakmurkan rakyatnya, menyebabkan perempatan jalan semakin banyak dipenuhi pengemis, pedagang asongan, dan orang-orang terbuang lainnya. Kolong tol pun semakin penuh dihuni warga miskin. Demikian pula tepian rel KA dan kolong jembatan, serta rawa-rawa di Jakarta Utara.
Bagi saya, yang lebih menyedihkan adalah fakta bahwa sebagian di antara mereka berasal dari Indramayu. Ini penanda. Ini bukti tentang kemiskinan di Bumi Wiralodra sana. Baik info dari teman-teman maupun yang saya lihat sendiri, di hampir semua perempatan jalan pengemis-pengemis itu berasal dari Indramayu. Pedagang asongan pun demikian. Pemulung, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, sebagian dari Indramayu pula. Bahkan saat pengosongan kolong jalan tol di Jakarta Utara, sebagian ternyata berasal dari kabupaten yang merupakan lumbung padi terbesar di Jawa Barat dan Indonesia itu.
Saat terjadi kebakaran di kawasan rumah liar di daerah Jagakarsa, September 2007, dari 200-an rumah yang terbakar, sebagian besar penghuninya juga berasal dari daerah penghasil mangga itu.
Dan yang paling menyedihkan, di hampir semua tempat hiburan di Jakarta, banyak ditemui perempuan-perempuan muda asal desa-desa di Indramayu. Di kawasan Manga Besar, Lokasari, Gajah Mada, Hayam Wuruk, Pangeran Jayakarta, dan wilayah Jakarta lain, dengan mudah ditemui perempuan (penghibur) asal kabupaten penghasil minyak dan gas bumi cukup besar itu.
Fakta-fakta itu dapat menjadi bukti bahwa kemiskinan masih menghiasi bumi Indramayu. Pembangunan selama bertahun-tahun, termasuk pertanian, belum membawa perubahan cukup berarti untuk memerangi kemiskinan. Demikian pula, eksploitasi habis-habisan migas sejak awal 1970-an, tetap membuat kemiskinan di daerah pesisir utara Jawa Barat itu.
Entah apa yang dilakukan pemerintah daerah Indramayu selama ini.

Jumat, 09 November 2007

Upaya Mewujudkan Cirebon Berintan

KOMPAS - Jumat, 06 Dec 1991 Halaman: 13 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 6813

UPAYA MEWUJUDKAN CIREBON BERINTAN

ANGIN timur yang bertiup dari arah laut, terasa lembut mengusap
kulit. Cukup untuk mengurangi rasa gerah yang kerap dirasa warga
atau orang-orang yang sedang berada di Kotamadya Cirebon. Rasa gerah
ini akrab dirasa, akibat teriknya matahari menyiram permukaan bumi
Cirebon. Apalagi pada musium kemarau, udara panas dan kering makin
menjadi. Suhu udara berada berkisar antara 24 - 33 derajat Celsius.

Letak geografis yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa,
membuat kota pesisir di timur laut Jawa Barat ini, selalu berudara
panas. Air kemudian menjadi momok penduduk, sebagai satu kebutuhan
rutin yang harus selalu terpenuhi. Beruntung bagi penduduk Kotamadya
Cirebon, meski air tanah di wilayahnya tidak mungkin mencukupi
kebutuhan mereka, PDAM setempat mampu menyediakannya.

Meski untuk itu, kebaikan daerah tetangganya yaitu Kabupaten
Kuningan tidak boleh dilupakan. Karena sumber air dari Paniis di
Kecamatan Mandirancan (Kuningan), merupakan sumber air utama yang
diolah PDAM setempat, sebelum dialirkan ke keran-keran air di rumah-
rumah penduduk.

Dan seperti pada daerah-daerah atau perkotaan di dataran rendah,
udara panas atau kurangnya air akibat hujan yang tak kunjung turun,
keadaan itu akan berubah sebaliknya manakala musim hujan tiba.
Banjir menjadi langganan. Baik akibat mampetnya saluran air yang
tersumbat, maupun memang karena kapasitas saluran yang tidak mampu
menampung air hujan.

DENGAN kondisi alam yang kurang menguntungkan terutama pada
musim hujan, Kotamadya Cirebon mengupayakan agar keadaan itu tidak
mengganggu kehidupan penduduknya. Untuk mengatasinya, dilakukan
perbaikan-perbaikan drainasi di dalam kota. Pokoknya air di dalam
saluran itu harus mengalir cepat di tempat pembuangan. Disadari,
aliran air terhambat akan menimbulkan banjir di dalam kota. Tercatat
curah hujan di kota ini mencapai 2.560 milimeter per tahun.
Melalui program CUDP (Cirebon Urban Development Project)
pada 1977, Cirebon mengatasi genangan-genangan air akibat
kiriman hujan.

Berbeda dengan program CUDP I (1977-1982) yang merupakan program
peningkatan kapasitas pelayanan air minum, program CUDP II mencakup
bidang lebih luas yakni sektor drainase, air limbah, dan persampahan.
Selain pelaksanaan fisik, CUDP II juga melaksanakan Program
Pengembangan Kelambagaan, Program Pengembangan Masyarakat, serta
Studi Pemantauan dan Dampak (SPD). Dengan program-program itu,
diharapkan pada saatnya nanti lembaga yang akan menangani hasil CUDP
II, telah siap dan mampu melakukan pengelolaan.

Masyarakat pun diharapkan secara aktif ikut berperan dalam
memelihara dan membangun bidang penyehatan lingkungan pemukiman.
Sedangkan dengan SPD, akan dapat diketahui keberhasilan serta
kekurangan pelaksanaan CUDP II, sehingga dapat diperbaiki pada
program CUDP II. Upaya itu semua dimaksudkan demi terwujudnya
Cirebon Berintan (Indah, Bersih, Tertib dan Aman).

DENGAN kondisi seperti itu, upaya Pemda Kotamadya Cirebon untuk
menata Kotanya menjadi lebih tertantang. Suatu upaya untuk memberikan
kenyamanan bagi warga Cirebon, dan pendatang dari daerah lain yang
setiap hari membanjiri Cirebon.

Seperti juga pada program CUDP I, pelaksanaan Program CUDP II
yang dimulai pada 1987 pun tidak lepas dari bantuan Pemerintah Swiss.
Besarnya bantuan untuk CUDP II sebesar 8,63 juta Franc Swiss,
dimaksudkan untuk membiayai pelaksanaan pada sektor drainase, air
limbah, persampahan, PPM dan SPED. Semua itu tercakup dalam bidang
Penyehatan Lingkungan Permukiman.

Selain berasal dari bantuan Swiss, CUDP II menyerap pula dana
dari PDN pemerintah pusat kepada Pemda Kotamadya Cirebon untuk sektor
persampahan dan sektor air limbah sebesar Rp 380 juta dan Rp 1.343
juta. Lainnya berasal dari DIP Ditjen Cipta Karya DPU untuk sektor
drainase dalam tahun anggaran 1987/1988 - 1989/1990 sebesar Rp
1.352.880.000. Bantuan APBD Jabar tahun 1987/1988 - 1990/1991
sebesar Rp 1.287.987.479. Serta penyertaan APBD Kotamadya Cirebon
tahun anggaran 1987/1988 - 1990/1991 sebesar Rp 720.000.000.

PELAKSANAAN program CUDP II pada akhirnya, dapat menangani
banjir pusat kota dan daerah pengaruh Kali Cipadu, dengan pembuatan
dan rehabilitasi saluran drainase sekunder dan primer pada daerah
pengaruh Kali Cipadu. Saluran drainase baru dibangun pula di Jalan
Karanggetas, Jalan Pasuketan dan sekitarnya. Rumah pompa baru pun
dibangun, dengan dilengkapi pemasangan pompa drainase berkapasitas
3.500 liter per detik.

Di sektor persampahan, penanganan dilaksanakan dengan membangun
TPA (Tempat pembuangan akhir) Grenjeng di selatan kota. Sasarannya,
70 persen sampah dapat dibuang di tempat ini. Ditambah dengan
pengadaan dump truk, kontainer, gerobak sampah.

Untuk air limbah dilakukan dengan membangun Kolam Oksidasi Taman
Ade Irma Suryani, seluas sekitar tempat empat hektar. Kolam ini
mampu mengolah 50 persen (61 liter per detik) kepasitas air limbah
pusat kota secara biologis. Pompa air limbah berkapasitas total
2.101 liter per detik pun dibangun Bersamaan pembangunan kantor air
limbah, dan bangunan laboratorium air limbah.

Rehabilitas jaringan air limbah peninggalan Belanda tahun 1920-
an dilakukan pula. Meskipun rehabilitas ini sempat tertunda, akibat
terlambatnya pengadaan alat pembersih saluran air limbah, dan
dialihkan ke Bridging Phase.

Upaya Pemda Kotamadya Cirebon melalui program CUDP-nya memang
bermanfaat bagi warga kota. Kenyamanan warga dan pendatang pun,
menjadi jaminan betahnya berada di kota ini.
Dampak langsung dari keberhasilan di bidang kebersihan, adalah
dengan diraihnya Penghargaan Adipura sebagai salah satu kota
terbersih di Indonesia pada 1991. Walikotamadya Cirebon, Drs.H.
Kumaedhi Syafrudin, menerima anugerah itu dari Presiden Soeharto di
Jakarta.

Upaya mewujudkan Cirebon Berintan, cukup beralasan. Kota ini
merupakan pusat wilayah III Cirebon, yang meliputi Kabupaten
Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten
Majalengka, dengan sendirinya penduduk dari sekitar Kotamadya
Cirebon itu tumplek ke kota ini. Baik untuk mencari nafkah,
maupun mencari keperluan lain, karena Cirebon adalah pusat
perdagangan wilayah itu.

Seperti yang dikatakan Kumaedhi Syafrudin, "Kota Cirebon pada
malam hari hanya dihuni sekitar 250.000 jiwa penduduknya. Namun pada
siang hari, sekitar 1,5 juta jiwa orang berada di kota ini."
Pernyataan yang beralasan, dikaitkan dengan kondisi kota sebagai
pusat keresidenan. (agus mulyadi)