KOMPAS - Minggu, 28 Mar 1993 Halaman: 5 Penulis: MUL Ukuran: 8429
MENCARI PESANAN DAN UPAYA
MENGENALKAN BATIK TRUSMI
"INI Mbak Yeyen kan?" ujar seorang pelayan wanita di salah
satu studio cuci cetak film di Cirebon, sambil menunjuk foto seorang
wanita yang akan diambil Kompas, setelah dicetak di tempat itu.
"Mbak Yeyen sering ke mari mencetak foto-foto batiknya," tambah
pelayan tadi.
Wanita yang ditunjuk tadi adalah Ny Yeyen Roswargita. Ibu tiga
orang anak berusia 32 tahun ini, konon satu-satunya wanita pengusaha
batik trusmi di Cirebon. Artinya, dia adalah seorang wanita yang
melahirkan dan mengelola sendiri usahanya. Baik mencipta motif baru,
memasarkan, dan mengelolanya. Kemandirian itu dimulai, ketika dia
bercerai dari suaminya tahun 1991 lalu.
"Setelah bercerai dari suami, saya memulai lagi usaha ini benar-benar dari nol.
Dengan modal berupa bantuan pinjaman dari seorang bapak angkat,
saya kembali meniti usaha ini dari bawah," ujarnya di show room miliknya
di kawasan industri batik trusmi, Cirebon. Yeyen sendiri menggeluti usaha
perbatikan sejak masih bersama mantan suaminya 12 tahun lalu.
Yeyen memulai usahanya pada tahun 1981 lalu bersama mantan
suaminya yang merupakan anak pengusaha batik trusmi, di tengah
lesunya usaha perbatikan saat itu. "Ketika kami memulai usaha,
industri batik trusmi sedang lesu. Namun saya melihat ada peluang
yang selama ini diabaikan pengusaha batik yakni membuat seragam
karyawan-karyawan instansi. Peluang itulah yang kemudian kami masuki
untuk memulai usaha," katanya.
Dengan menggunakan sebuah mobil milik mereka, Yeyen Roswargita
dan mantan suaminya berkeliling ke berbagai instansi. Tidak hanya di
kota-kota tingkat desa, tapi ke instansi tingkat propinsi dan pusat.
Tujuannya mencari pesanan seragam dari batik. Di sinilah kemampuan
Yeyen keluar. Kemampuan bagaimana meyakinkan pimpinan suatu instansi
untuk mau memesan seragam batik dari perusahaan mereka berdua Gunung
Jati.
KEMAMPUAN melobi Yeyen bisa dikatakan hanya belajar dari
pengalaman masa kecilnya. Sejak kelas enam SD, Yeyen yang anak putri
pertama dari enam bersaudara, sudah sering menawarkan karya foto
ayahnya yang berprofesi sebagai fotografer yang biasa memotret
acara-acara di berbagai instasi, kepada orang-orang yang wajahnya
terdapat dalam foto. Kepandaiannya makin bertambah setelah ia
bekerja sebagai pramuniaga di perusahaan optik di kota kelahirannya,
Bandung, sebelum dipersunting mantan suaminya.
"Tidak semua instansi yang kami datangi mau memesan. Tapi dari
beberapa pesanan yang ada, kami mulai usaha ini," katanya. Selain
itu Yeyen seperti membawa misi khusus untuk memperkenalkan batik
trusmi kepada masyarakat di luar Cirebon. Trusmi sendiri adalah nama
sebuah desa sentra batik yang terletak di Kecamatan Weru sekitar 8
km sebelah barat kota Cirebon. Meskipun motifnya terus berkembang,
tetapi dasar motif serta warnanya sepintas mirip dengan batik
Pekalongan, yaitu yang disebut batik pesisir.
Bisa dikatakan, berkat jasa Yeyen kalau kemudian misalnya PGRI
dan BKKBN Pusat menggunakan batik trusmi untuk karyawannya. Belum
lagi seragam instansi lain yang tidak terhitung banyaknya.
Terobosan untuk ekspor pun pernah pula dicobanya. Melalui
korespondensi, dia mendapat lampu hijau dari rekan di AS, Jerman dan
Inggris. Tapi Yeyen akhirnya terbentur berbagai urusan yang tidak
bisa ditembus.
Obsesinya menembus pasar luar negeri, membuat ibu muda ini
ingin sekali membangun museum batik trusmi. Maksudnya, untuk lebih
mengenalkan batik trusmi kepada para turis mancanegara yang
berkunjung ke Cirebon.
Dalam melobi untuk mencari order, wanita berambut lurus ini,
sedapat mungkin tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan
pemesan. Bagi dia, produk yang dihasilkan harus sesuai dengan
contoh-contoh desain yang dibawa. Demikian pula kualitasnya. Dia
percaya kalau pesanan sesuai dengan kehendak pemesan, kalau sekali
waktu instansi yang bersangkutan membutuhkan seragam lagi, niscaya
akan kembali memakai produknya.
Yeyen sadar industri batik mempunyai banyak saingan. Sebut saja
umpamanya batik Pekalongan atau Solo, yang lebih mempunyai nama
dibanding batik Trusmi. "Tapi saya percaya batik trusmi mempunyai
kelebihan dan kualitas tersendiri. Kalau kita bisa meyakinkannya,
tentu orang mau memesannya."
Dalam hitungan tahun usaha berdua itu terus berkembang. Hingga
kemudian badai merontokkan rumah tangganya dua tahun lalu. "Gunung
Jati" pun kemudian dikelola suaminya.
YEYEN Roswargita sendiri ternyata tegar menghadapi cobaan itu.
Rontoknya rumah tangga, tidak merontokkan semangatnya. Dia kembali
ingin meniti usaha itu. Namun dia terbentur ketiadaan modal.
Dasar kemauannya keras, kendala modal tidak mematahkannya.
Yeyen berusaha mencari mitra atau pemberi bantuan modal. Untuk itu
dia membuat usulan mengenai bisnis yang akan digelutinya. Usulan itu
lalu dibawanya kepada beberapa orang bermodal. Sampai akhirnya salah
seorang dari mereka, yang disebutnya sebagai bapak angkat mau
memberinya modal.
Meski tidak besar, yakni Rp 10 juta, bantuan modal itu
disebutnya sebagai "pertolongan Tuhan". Dan Yeyen tidak menyia-
nyiakan kesempatan itu. Kembali dia berkeliling mencari pesanan.
Tidak hanya di Cirebon dan sekitarnya, tapi ke berbagai instansi di
Bandung dan Jakarta. Sekolah-sekolah pun tidak dilewatkannya.
Untuk meyakinkan pemesan dan sebagai bendera produk batiknya,
Yeyen memberi nama perusahaannya "Sinar Gunung Jati". "Bukannya saya
mendompleng nama perusahaan Gunung Jati yang sudah dikenal lebih
dulu. Saya pilih nama Gunung Jati, karena nama itu identik dengan
Cirebon," ujar Yeyen.
Kemampuan Yeyen untuk meyakinkan calon pemesan, kadang justru
merepotkan dia sendiri. Itu kerap terjadi untuk pesanan dalam partai
besar. Yeyen kadang tidak mampu memenuhi jumlah pesanan, karena
keterbatasan modal. Dia menyebutkan satu contoh ada pesanan untuk
seragam SD di Kabupaten Cirebon, sebanyak 100.000 potong. Namun yang
bisa dipenuhinya hanya 40.000 sehingga pemesan mengambil pula dari
perusahaan lain.
Modal besar sangat diperlukan karena untuk memenuhi pesanan
partai besar, bahan baku yang dibutuhkan akan sangat besar pula dan
waktu pengerjaan yang bertambah lama. Karena itu dia merelakan kalau
pemesan mencari perusahaan batik lain untuk menyelesaikan pesanan
persis dengan motif yang diciptakannya. Padahal datangnya pesanan
seragam itu sebenarnya murni usaha Yeyen.
Untuk pesanan partai besar ini, dia bisa melibatkan lebih dari
20 orang penduduk sekitar yang berprofesi sebagai penjahit. Mereka
dilibatkan dengan upah sesuai kontrak, sehingga tidak mempunyai
ikatan dengan "Sinar Gunung Jati". Sedangkan untuk mengelola
perusahaannya, tenaga kerja yang terlibat 14 orang.
Yeyen menerima pesanan pula dari berbagai butik di Jakarta,
Bandung dan Cirebon sendiri, serta dari bermacam orang yang tertarik
dengan motif-motif batik kreasinya. Pesanan itu terus mengalir,
karena dia tidak hanya menunggu. Yeyen masih pula keluar masuk
instansi atau butik, menawarkan karyanya.
Dari hasil keringatnya, kini ibu muda yang merangkap ayah ini,
mempunyai show room sendiri di kawasan Trusmi. Bagian belakang
gedung itu juga menjadi tempat pembuatan batik dan di bagian lainnya
ditinggali Yeyen bersama dua anaknya. Sedangkan anak pertamanya yang
berusia 13 tahun, masuk pesantren di Solo, Jateng.
Saat ini produksi batik yang dihasilkan untuk pemesan mencapai
nilai sekitar Rp 30-Rp 40 juta per bulan. Sedangkan dari penjualan
langsung di show room-nya, paling tinggi Rp 500 ribu per hari.
Sebagai manusia adalah wajar saja jika Yeyen ingin terus
mengembangkan usahanya. Misalnya, dengan membuka show room di Jakarta,
yang akan menjadi tempatnya memajang dan memasarkan berbagai motif
baru hasil kreasinya. Namun dia sadar, untuk itu dibutuhkan modal
tidak sedikit. Karena itu dia berusaha memperkuat akar bisnisnya di
Cirebon dulu. "Siapa sih yang tidak ingin maju." (mul)
Teksfoto:
Kompas/mul
PERHATIAN -- Di tengah kesibukan yang menyita hari-harinya sebagai ì
pengusaha batik, Ny Yeyen Roswargita tetap menyempatkan diri mengasuh ì
sendiri anak bungsunya yang berusia dua tahun.
Tampilkan postingan dengan label cirebon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cirebon. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 November 2007
Senin, 12 November 2007
Munggahan, Marpangir, dan Musik Sahur
KOMPAS - Selasa, 14 Feb 1995 Halaman: 10 Penulis: MUL/DMU/THY/SP/MBA Ukuran: 9898
MUNGGAHAN, MARPANGIR, DAN MUSIK SAHUR
Pengantar Redaksi:
BERBAGAI macam tradisi menjelang dan selama bulan Ramadhan,
banyak dilakukan oleh masyarakat. Berbagai kegiatan yang sudah
mentradisi itu bisa mencakup ihwal makan, mandi, maupun bermusik.
Berikut disajikan sejumlah kegiatan yang mentradisi di beberapa
daerah. Red
MENYAMBUT bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, berbagai acara
dan tradisi dilakukan masyarakat Indonesia. Acara itu berbeda satu
dengan daerah lainnya, sedangkan yang hampir sama di tiap daerah,
adalah mengunjungi makam sanak keluarganya, yang biasanya mulai
dilakukan satu minggu menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.
Munggahan menjadi acara tradisional dari Tasikmalaya untuk
menyambut datangnya bulan puasa, sementara mandi khusus dengan
sebutan marpangir biasa dilakukan masyarakat Tapanuli Selatan.
Selama bulan puasa, hampir di seluruh daerah, selalu dimeriahkan
dengan berbagai bunyian perkakas musik, seperti rebana, gendang,
kecrek dan lainnya untuk membangunkan orang makan sahur.
***
HARI Minggu, dua hari sebelum bulan Ramadhan, 20 orang
berkendaraan jip pergi ke luar kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka
menuju perkebunan albasia di Kecamatan Kawalu, sekitar 10 km selatan
kota. Mereka kemudian membakar ikan-ikan mas dan setelah matang,
beramai-ramailah para anggota klub jip itu makan dengan lahapnya.
Acara makan-makan itu merupakan tradisi munggahan yang biasa
dilaksanakan sebelum puasa. Puncak tradisi biasanya dilakukan sehari
menjelang puasa. Sekelompok orang-orang atau gabungan dari beberapa
keluarga pergi ke suatu tempat sambil membawa makanan lalu makan-
makan di sana. "Pesta-pesta" kecil itu dilakukan untuk menyambut
bulan Ramadhan dan merupakan hari terakhir makan di siang hari
sebelum bulan puasa.
Selain menuju tempat-tempat yang agak menjorok ke luar kota,
warga Tasikmalaya dan Ciamis banyak yang memburu rumah-rumah makan
ikan bakar di luar kota. Mereka berkelompok dan makan munggahan di
rumah-rumah makan tradisional itu. Tidak ada yang istimewa dalam
tradisi itu. Hanya saja suasana dan rasa agak berbeda dengan waktu-
waktu makan biasa. Terutama bagi anak-anak, tradisi ini merupakan
persiapan mental dalam menghadapi bulan puasa.
Menurut KH M Ilyas Ruhiat, Rois Aam Syuriah Nahdatul Ulama,
munggahan hanyalah tradisi masyarakat yang boleh dilakukan asal
tidak bertentangan dengan ketentuan agama. Tradisi itu dilakukan
dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi puasa di bulan Ramadhan.
"Menghadapi bulan Ramadhan, sebaiknya mempersiapkan makanan-makanan
bergizi. Namun bukan berarti menghadapi bulan puasa berlomba-lomba
mengumpulkan makanan, bukan itu yang dimaksud," ujar KHM Ilyas.
Upaya-upaya ini hanya sebagai penunjang agar bisa melaksanakan
puasa lebih baik. Bagi anak-anak, upaya itu terutama untuk
merangsang mereka agar mampu belajar puasa. Anak-anak harus dibibita
(diberi dorongan semangat) untuk belajar berpuasa.
Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan,
Sumatera Utara, yang biasanya mandi khusus atau dalam bahasa
Mandailing disebut marpangir. Tujuannya tidak lain agar jasmani dan
rohani bisa benar-benar bersih saat memasuki bulan Ramadhan, selain
agar dapat melaksanakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya.
Agak mirip dengan mandi balimau" bagi masyarakat Sumbar, bahan-
bahan yang dipakai untuk marpangir antara lain jeruk purut, mayang
pinang, pandan wangi, sere wangi dan akar wangi. Bahan-bahan itu
direbus sampai airnya wangi dengan aroma menonjol wewanngian daun
pandan. Air rebusan itu lalu dicampur air biasa secukupnya.
Bagi masyarakat Tapanuli Selatan, marpangir juga dilakukan
menjelang hari raya Idul Fitri. Tujuannnya sama, agar jasmani dan
rohani yang melakukannya bisa bersih seterusnya sampai menjelang
bulan Ramadhan berikutnya.
***
MUSIK jalanan khas daerah ikut mewarnai kehadiran bulan puasa.
Di pesisir utara Jabar, Cirebon dan Indramanyu, dikenal nama obrog,
yakni membangunkan orang untuk makan sahur dengan membunyikan aneka
tabuhan. Mulai dari rebana, gendang, kecrek dan berbagai alat musik
lainnya, dibunyikan sekelompok orang sambil berkeliling kampung.
Alat yang digunakan, mulanya sangat khas pedesaan. Gendang
misalnya, dibuat sendiri dengan memanfaatkan batang pohon pepaya
yang dilubangi tengahnya. Lalu salah satu sisi ditutup dengan kain
bekas (jarit) yang direkat tanah lempung di seputar lubang. Namun
kini dengan "modernisasi", gitar, seng bekas dan bahkan karaoke
berpengeras suara pun digunakan. Pokoknya, ditambah teriakan
"sahur...sahur", ditanggung ampuh untuk membangunkan orang tidur.
Kalaupun masih tak bangun juga, yah...keterlaluan.
Agar tak monoton, sejumlah kelompok obrog akan menambahinya
dengan suguhan atraksi menarik, seperti membawa wewe (semacam ondel-
ondel Betawi), tiruan binatang seperti burung atau ular, bahkan
topeng. Di malam-malam bulan puasa ini, para penduduk yang sudah
bangun biasanya menyempatkan diri untuk sejenak melihat mereka.
Kelompok-kelompok obrog itu, biasanya satu hari menjelang
lebaran atau pada hari lebaran, akan "menagih" hasil kerja mereka.
Kelompok-kelompok ini akan keliling kampung untuk mendapatkan "upah"
baik berupa kue lebaran, beras, atau uang. Tergantung pemberi.
***
Kota Sumenep di Madura dirasakan menjadi gaduh oleh suara aneka
alat musik tradisional dan modern. Beragam jenis musik pun digelar,
mulai dari dangdut, qosidah sampai rock, tergantung siapa yang
memainkan. Meski tak seramai tahun 1980-an, tidak sedikit orang yang
terlibat dalam musik sahur ini.
Justru keberadaan musik sahur ini, telah mengilhami banyak
orang untuk kreatif memilih dan menggunakan alat musik yang akan
dipakai. Bahkan, tidak jarang keberadaan alat musik "kuno" seperti
accordion, cello atau bas jegug, jadi dominan dalam musik sahur ini.
"Selain harganya murah, merawatnya juga relatif gampang. Jadi,
katakan tidak dipakai sama sekali dalam setahun, masih bisa
dipakai," ujar Sumari (43), pemijit accordion musik sahur di Desa
Marengan Daya, Kecamatan Kota Sumenep.
Kebutaan sejak kecil tak membuat Suparno ragu untuk terlibat
dalam musik sahur. Sebab, dia punya kelebihan khususnya dalam
menabuh gendang. "Kalau urusan nabuh gendang, dia itu pakarnya,"
ujar Suatlan (23), anggota rombongan Sumari.
Keterlibatan Suparno dalam musik sahur datang tiba-tiba,
menyusul sakitnya pemain gendang kelompok Sumari. Tiga hari Sumari
kehilangan suara gendang yang menjadi daya tarik utama dalam
memainkan lagu dangdut. "Saya coba mengajak Suparno. Ternyata mau,
dan hanya dalam dua tiga hari dia bisa main dengan baik," ujarnya.
Musik sahur di Sumenep mulai digelar sekitar pukul 01.30.
Mereka biasanya berkumpul di perempatan jalan atau tempat strategis
lain seperti gardu jaga, menunggu anggota sambil memadukan alat
musik yang dibawanya. Satu kelompok, bisa terdiri 10 - 20 orang.
Jika seluruh anggota sudah hadir, mereka mulai memainkan musik
sesuai dengan kebiasannya. Meski sebagian besar memainkan musik
dangdut, tak jarang bila sebagian besar pemainnya anak muda juga
memainkan musik pop atau rock. Bagi yang sedikit "kaya", mereka
menyewa seperangkat mesin pengeras suara.
Dari perempatan jalan, masing-masing kelompok dengan rute
tertentu, mulai keluar masuk kampung lewat jalan kecil yang kadang
berlumpur. Masing-masing kelompok berusaha untuk tidak bertemu,
apalagi berhadapan.
Sebab, hal itu juga berkaitan dengan rezeki bagi masing-masing
dan kepercayaan dari warga terhadap rombongan itu. Di depan rumah
salah seorang warga, rombongan Sumari berhenti sebentar. Dari rumah
itu keluar seorang wanita membawa nampan berisi bermacam makanan.
"Ini makanan yang tidak habis dimakan sewaktu berbuka. Daripada
dibuang, lebih baik diberikan kepada kami sekadar untuk mengganjal
perut," ujar Suatlan.
Bahkan, tak jarang ada warga yang sengaja mengundang mereka
untuk sahur di rumahnya. "Kalau ada rezeki apa salahnya kita
mengundang mereka makan sahur bersama," ujar Haji Adenan (57).
Kebiasaan memberi makanan bagi pemusik sahur, menjadi salah
satu alasan mengapa musik sahur di pinggiran kota Sumenep tetap
bertahan sampai sekarang. Bagi orang seperti Sumari dan Suparno
misalnya, keberadaan musik sahur memberi kesibukan ekstra yang
menguntungkan diri sekaligus warga desanya.
Para pemusik sahur, umumnya anak muda yang tidak punya banyak
kegiatan di siang hari dan pemimpinnya lebih banyak orang tua yang
berasal dari golongan ekonomi lemah. Potensi konflik para pemuda
diredam dengan cara menghindari pertemuan langsung dua kelompok
musik itu.
***
BERBEDA di lingkungan masyarakat Aceh, para pemudanya biasanya
jarang tidur malam di rumah selama bulan puasa. Mereka berkumpul di
meunasah (langgar), yang juga digunakan sebagai tempat berkomunikasi
sesama mereka.
Meunasah merupakan pusat informasi bagi masyarakat desa. Di
meunasah ada pengajian, ada tengku dan ustad yang mengajarkan
berbagai masalah agama dan cara beribadat. Berbagai peristiwa yang
terjadi di desa pasti menjadi berita dan bisa didengar ceritanya di
meunasah.
Mulai dari peristiwa sehari-hari yang menimpa warga desa,
masalah untung rugi dalam bertani di sawah atau di kebun, sampai
urusan politik luar negeri, misalnya perang Bosnia, Saddam Husein
dan berbagai informasi tentang perkembangan dunia setiap hari
beritanya bisa didengar di meunasah. Sumbernya dari berita TV dan
radio. Apalagi setelah antene parabola masuk ke desa dewasa ini.
(mul/dmu/thy/sp/y/mba)
MUNGGAHAN, MARPANGIR, DAN MUSIK SAHUR
Pengantar Redaksi:
BERBAGAI macam tradisi menjelang dan selama bulan Ramadhan,
banyak dilakukan oleh masyarakat. Berbagai kegiatan yang sudah
mentradisi itu bisa mencakup ihwal makan, mandi, maupun bermusik.
Berikut disajikan sejumlah kegiatan yang mentradisi di beberapa
daerah. Red
MENYAMBUT bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, berbagai acara
dan tradisi dilakukan masyarakat Indonesia. Acara itu berbeda satu
dengan daerah lainnya, sedangkan yang hampir sama di tiap daerah,
adalah mengunjungi makam sanak keluarganya, yang biasanya mulai
dilakukan satu minggu menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.
Munggahan menjadi acara tradisional dari Tasikmalaya untuk
menyambut datangnya bulan puasa, sementara mandi khusus dengan
sebutan marpangir biasa dilakukan masyarakat Tapanuli Selatan.
Selama bulan puasa, hampir di seluruh daerah, selalu dimeriahkan
dengan berbagai bunyian perkakas musik, seperti rebana, gendang,
kecrek dan lainnya untuk membangunkan orang makan sahur.
***
HARI Minggu, dua hari sebelum bulan Ramadhan, 20 orang
berkendaraan jip pergi ke luar kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka
menuju perkebunan albasia di Kecamatan Kawalu, sekitar 10 km selatan
kota. Mereka kemudian membakar ikan-ikan mas dan setelah matang,
beramai-ramailah para anggota klub jip itu makan dengan lahapnya.
Acara makan-makan itu merupakan tradisi munggahan yang biasa
dilaksanakan sebelum puasa. Puncak tradisi biasanya dilakukan sehari
menjelang puasa. Sekelompok orang-orang atau gabungan dari beberapa
keluarga pergi ke suatu tempat sambil membawa makanan lalu makan-
makan di sana. "Pesta-pesta" kecil itu dilakukan untuk menyambut
bulan Ramadhan dan merupakan hari terakhir makan di siang hari
sebelum bulan puasa.
Selain menuju tempat-tempat yang agak menjorok ke luar kota,
warga Tasikmalaya dan Ciamis banyak yang memburu rumah-rumah makan
ikan bakar di luar kota. Mereka berkelompok dan makan munggahan di
rumah-rumah makan tradisional itu. Tidak ada yang istimewa dalam
tradisi itu. Hanya saja suasana dan rasa agak berbeda dengan waktu-
waktu makan biasa. Terutama bagi anak-anak, tradisi ini merupakan
persiapan mental dalam menghadapi bulan puasa.
Menurut KH M Ilyas Ruhiat, Rois Aam Syuriah Nahdatul Ulama,
munggahan hanyalah tradisi masyarakat yang boleh dilakukan asal
tidak bertentangan dengan ketentuan agama. Tradisi itu dilakukan
dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi puasa di bulan Ramadhan.
"Menghadapi bulan Ramadhan, sebaiknya mempersiapkan makanan-makanan
bergizi. Namun bukan berarti menghadapi bulan puasa berlomba-lomba
mengumpulkan makanan, bukan itu yang dimaksud," ujar KHM Ilyas.
Upaya-upaya ini hanya sebagai penunjang agar bisa melaksanakan
puasa lebih baik. Bagi anak-anak, upaya itu terutama untuk
merangsang mereka agar mampu belajar puasa. Anak-anak harus dibibita
(diberi dorongan semangat) untuk belajar berpuasa.
Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan,
Sumatera Utara, yang biasanya mandi khusus atau dalam bahasa
Mandailing disebut marpangir. Tujuannya tidak lain agar jasmani dan
rohani bisa benar-benar bersih saat memasuki bulan Ramadhan, selain
agar dapat melaksanakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya.
Agak mirip dengan mandi balimau" bagi masyarakat Sumbar, bahan-
bahan yang dipakai untuk marpangir antara lain jeruk purut, mayang
pinang, pandan wangi, sere wangi dan akar wangi. Bahan-bahan itu
direbus sampai airnya wangi dengan aroma menonjol wewanngian daun
pandan. Air rebusan itu lalu dicampur air biasa secukupnya.
Bagi masyarakat Tapanuli Selatan, marpangir juga dilakukan
menjelang hari raya Idul Fitri. Tujuannnya sama, agar jasmani dan
rohani yang melakukannya bisa bersih seterusnya sampai menjelang
bulan Ramadhan berikutnya.
***
MUSIK jalanan khas daerah ikut mewarnai kehadiran bulan puasa.
Di pesisir utara Jabar, Cirebon dan Indramanyu, dikenal nama obrog,
yakni membangunkan orang untuk makan sahur dengan membunyikan aneka
tabuhan. Mulai dari rebana, gendang, kecrek dan berbagai alat musik
lainnya, dibunyikan sekelompok orang sambil berkeliling kampung.
Alat yang digunakan, mulanya sangat khas pedesaan. Gendang
misalnya, dibuat sendiri dengan memanfaatkan batang pohon pepaya
yang dilubangi tengahnya. Lalu salah satu sisi ditutup dengan kain
bekas (jarit) yang direkat tanah lempung di seputar lubang. Namun
kini dengan "modernisasi", gitar, seng bekas dan bahkan karaoke
berpengeras suara pun digunakan. Pokoknya, ditambah teriakan
"sahur...sahur", ditanggung ampuh untuk membangunkan orang tidur.
Kalaupun masih tak bangun juga, yah...keterlaluan.
Agar tak monoton, sejumlah kelompok obrog akan menambahinya
dengan suguhan atraksi menarik, seperti membawa wewe (semacam ondel-
ondel Betawi), tiruan binatang seperti burung atau ular, bahkan
topeng. Di malam-malam bulan puasa ini, para penduduk yang sudah
bangun biasanya menyempatkan diri untuk sejenak melihat mereka.
Kelompok-kelompok obrog itu, biasanya satu hari menjelang
lebaran atau pada hari lebaran, akan "menagih" hasil kerja mereka.
Kelompok-kelompok ini akan keliling kampung untuk mendapatkan "upah"
baik berupa kue lebaran, beras, atau uang. Tergantung pemberi.
***
Kota Sumenep di Madura dirasakan menjadi gaduh oleh suara aneka
alat musik tradisional dan modern. Beragam jenis musik pun digelar,
mulai dari dangdut, qosidah sampai rock, tergantung siapa yang
memainkan. Meski tak seramai tahun 1980-an, tidak sedikit orang yang
terlibat dalam musik sahur ini.
Justru keberadaan musik sahur ini, telah mengilhami banyak
orang untuk kreatif memilih dan menggunakan alat musik yang akan
dipakai. Bahkan, tidak jarang keberadaan alat musik "kuno" seperti
accordion, cello atau bas jegug, jadi dominan dalam musik sahur ini.
"Selain harganya murah, merawatnya juga relatif gampang. Jadi,
katakan tidak dipakai sama sekali dalam setahun, masih bisa
dipakai," ujar Sumari (43), pemijit accordion musik sahur di Desa
Marengan Daya, Kecamatan Kota Sumenep.
Kebutaan sejak kecil tak membuat Suparno ragu untuk terlibat
dalam musik sahur. Sebab, dia punya kelebihan khususnya dalam
menabuh gendang. "Kalau urusan nabuh gendang, dia itu pakarnya,"
ujar Suatlan (23), anggota rombongan Sumari.
Keterlibatan Suparno dalam musik sahur datang tiba-tiba,
menyusul sakitnya pemain gendang kelompok Sumari. Tiga hari Sumari
kehilangan suara gendang yang menjadi daya tarik utama dalam
memainkan lagu dangdut. "Saya coba mengajak Suparno. Ternyata mau,
dan hanya dalam dua tiga hari dia bisa main dengan baik," ujarnya.
Musik sahur di Sumenep mulai digelar sekitar pukul 01.30.
Mereka biasanya berkumpul di perempatan jalan atau tempat strategis
lain seperti gardu jaga, menunggu anggota sambil memadukan alat
musik yang dibawanya. Satu kelompok, bisa terdiri 10 - 20 orang.
Jika seluruh anggota sudah hadir, mereka mulai memainkan musik
sesuai dengan kebiasannya. Meski sebagian besar memainkan musik
dangdut, tak jarang bila sebagian besar pemainnya anak muda juga
memainkan musik pop atau rock. Bagi yang sedikit "kaya", mereka
menyewa seperangkat mesin pengeras suara.
Dari perempatan jalan, masing-masing kelompok dengan rute
tertentu, mulai keluar masuk kampung lewat jalan kecil yang kadang
berlumpur. Masing-masing kelompok berusaha untuk tidak bertemu,
apalagi berhadapan.
Sebab, hal itu juga berkaitan dengan rezeki bagi masing-masing
dan kepercayaan dari warga terhadap rombongan itu. Di depan rumah
salah seorang warga, rombongan Sumari berhenti sebentar. Dari rumah
itu keluar seorang wanita membawa nampan berisi bermacam makanan.
"Ini makanan yang tidak habis dimakan sewaktu berbuka. Daripada
dibuang, lebih baik diberikan kepada kami sekadar untuk mengganjal
perut," ujar Suatlan.
Bahkan, tak jarang ada warga yang sengaja mengundang mereka
untuk sahur di rumahnya. "Kalau ada rezeki apa salahnya kita
mengundang mereka makan sahur bersama," ujar Haji Adenan (57).
Kebiasaan memberi makanan bagi pemusik sahur, menjadi salah
satu alasan mengapa musik sahur di pinggiran kota Sumenep tetap
bertahan sampai sekarang. Bagi orang seperti Sumari dan Suparno
misalnya, keberadaan musik sahur memberi kesibukan ekstra yang
menguntungkan diri sekaligus warga desanya.
Para pemusik sahur, umumnya anak muda yang tidak punya banyak
kegiatan di siang hari dan pemimpinnya lebih banyak orang tua yang
berasal dari golongan ekonomi lemah. Potensi konflik para pemuda
diredam dengan cara menghindari pertemuan langsung dua kelompok
musik itu.
***
BERBEDA di lingkungan masyarakat Aceh, para pemudanya biasanya
jarang tidur malam di rumah selama bulan puasa. Mereka berkumpul di
meunasah (langgar), yang juga digunakan sebagai tempat berkomunikasi
sesama mereka.
Meunasah merupakan pusat informasi bagi masyarakat desa. Di
meunasah ada pengajian, ada tengku dan ustad yang mengajarkan
berbagai masalah agama dan cara beribadat. Berbagai peristiwa yang
terjadi di desa pasti menjadi berita dan bisa didengar ceritanya di
meunasah.
Mulai dari peristiwa sehari-hari yang menimpa warga desa,
masalah untung rugi dalam bertani di sawah atau di kebun, sampai
urusan politik luar negeri, misalnya perang Bosnia, Saddam Husein
dan berbagai informasi tentang perkembangan dunia setiap hari
beritanya bisa didengar di meunasah. Sumbernya dari berita TV dan
radio. Apalagi setelah antene parabola masuk ke desa dewasa ini.
(mul/dmu/thy/sp/y/mba)
Sandal Kebarepan Menembus Pasar Dunia
KOMPAS - Minggu, 12 Mar 1995 Halaman: 15 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 7977
SANDAL KEBAREPAN MENEMBUS PASAR DUNIA
SEPASANG sandal raksasa, berdiri kokoh di depan sebuah bangunan
di pinggir jalan raya di Desa Kebarepan, Kecamatan Plumbon,
Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Sandal berukuran tinggi sekitar tiga
meter dan lebar setengah meter itu, tampak begitu mencolok.
Pengendara yang lewat di jalan raya antara Palimanan-Cirebon, jika
melihat pasti akan menoleh karena tertarik sandal langka tersebut.
Lokasi sandal raksasa warna hitam itu, sekitar 10 kilometer
barat kota Cirebon. Sandal dibuat dari spons, bahan baku yang juga
digunakan untuk sandal biasa. Bahan ini merupakan campuran antara
karet, plastik, dan unsur lainnya.
Sandal raksasa Kebarepan dapat disebut sebagai sebuah simbol.
Perlambang yang kokoh dan cukup besar dari sebuah industri kecil di
Cirebon yang cukup kuat. Industri kecil yang berawal dari industri
rumahan yang menapak pasti, terus berkembang.
Industri kecil yang menuju besar ini adalah industri sandal.
Penduduk Kebarepan yang lebih dari 2.000 orang itu pun
menggantungkan nafkah hidupnya dari industri ini. Produksi sandal
dari Kebarepan tidak hanya dipasarkan ke berbagai daerah di
Indonesia, tetapi juga sudah menembus pasar dunia.
Di desa ini tercatat sekitar 15 pabrik pembuatan sandal, yang
melibatkan ribuan tenaga kerja. Dari rumah-rumah penduduk setempat
pun, lahir pula sandal-sandal karya penghuninya, mengikuti produk
pabrik di kawasan itu.
***
BERKEMBANGNYA Kebarepan menjadi sentra produksi sandal,
sebenarnya tidak diduga penduduk desa itu sendiri. Sebab, cikal
bakal yang mengarah ke lahirnya industri itu hanyalah dari keahlian
segelintir penduduk setempat yang mengubah ban-ban bekas menjadi
sandal jepit murahan.
Penduduk setempat menyebut, embrio dari industri sandal
Kebarepan sekarang adalah karya beberapa penduduk berupa sandal
bandol. Ini merupakan akronim dari ban bodol, yang artinya ban bekas
dan butut yang sudah tidak terpakai lagi.
Konon sekitar tahun 1950-an sejumlah penduduk setempat membuat
sandal jepit dari ban bekas itu. Ketika sandal jenis ini dijual
ternyata laku, hingga akhirnya tidak hanya segelintir orang yang
berkarya membuat sandal bandol. Penduduk lainnya pun mengikuti,
sehingga Kebarepan pun tumbuh menjadi produsen sandal jepit murahan
itu. Pemasarannya masih di daerah Cirebon dan sekitarnya.
Menurut salah seorang pemilik industri sandal rumahan setempat,
Ny Suparmi (40), keahlian membuat sandal itu kemudian berkembang.
Sebagian perajin ada yang memodifikasi sandal karet bekas merek Lily
yang ketika itu cukup digemari orang. Sandal karet bekas itu dibeli
dari pemulung, diperbaiki dengan mengganti bagian bawahnya
menggunakan bahan spons.
"Sandal Lily yang sudah robek bagian atasnya, kami sambung lagi
dengan menggunakan besi panas," kata Suparmi.
Perbaikan sandal bekas yang mengenalkan perajin dengan bahan
spons, kemudian mengilhami mereka membuat produk lain. Sebagian
perajin mencoba membuat sandal dari bahan itu untuk bagian alas,
ditambah dengan penjepit sandal di bagian atasnya.
Kreativitas perajin pedesaan ini ternyata malah merupakan awal
dari tumbuhnya industri sandal Kebarepan. Sandal baru yang tidak
lagi menggunakan bahan ban bekas ini laku di pasaran. Permintaan
khalayak semakin berkembang.
Tidak hanya penduduk sekitar yang menyukai sandal Kebarepan.
Ketika sandal mereka dipasarkan ke daerah lain, masyarakat pun
menyukainya.
Perkembangan ini semakin menarik minat penduduk setempat,
mencari nafkah dari memproduksi sandal. Sebagian besar penduduk
Kebarepan membuatnya di rumah mereka masing-masing. Sejumlah
penduduk lainnya bahkan mampu membuat pabrik cukup besar. Sedangkan
sebagian lainnya mencoba peruntungannya dengan menjadi penjual
produk itu ke daerah lain.
Sampai sekarang ini sandal Kebarepan telah menyerbu pasar
sampai ke luar Pulau Jawa, seperti propinsi-propinsi di Sumatera,
Kalimantan dan Sulawesi. Di Jawa sebagian besar sandal Kebarepan
tersedot di pasar Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Tidak lupa pula, para pengusaha dan perajin pun masing-masing
memiliki merek dagang sandal produksi mereka. Nama-nama yang
kedengaran cukup asing pun disandang sandal Kebarepan. Sebut saja
misalnya sandal dengan merek dagang Sonic, Katoni, atau Esay. "Esay
itu diambil dari bahasa Cina, artinya bagus," kata Ny Suparmi yang
memiliki sandal bermerek itu.
***
"SEBENARNYA industri sandal di sini baru berkembang belum
terlalu lama, baru sejak awal tahun 1980-an," kata Bedi Toni (50),
salah seorang pengusaha sandal paling besar di Kebarepan. Dia
termasuk perintis yang mengembangkan industri Kebarepan.
Menurut Bedi, pertumbuhan sandal Kebarepan juga didongkrak oleh
dukungan pemasok bahan baku spons dari produsennya di Tangerang.
Dengan pasokan bahan baku yang cukup -- meski perajin tidak
membayarnya dengan kontan -- memungkinkan perkembangan industri itu.
Hingga kemudian tidaklah mengherankan jika "bayi industri" yang
semakin besar itu sejak dua tahun lalu mengekspor produksinya ke
mancanegara. "Sandal Kebarepan diekspor ke negara-negara di Asia,
seperti negara-negara Arab," kata Bedi Toni.
Dikatakannya, kemampuan menembus pasar luar negeri itu pun
sebenarnya merupakan bantuan dari pemasok spons. "Mereka yang
mencari pasar luar negeri. Kami hanya memproduksi dan memenuhi
permintaan mereka," ujar pengusaha tamatan SMP itu.
Untuk pemasaran dalam negeri, sebagian pengusaha dan perajin
sandal Kebarepan melakukannya dengan memasarkan sendiri produk
mereka. Namun akhirnya sekarang ini, sebagian pengusaha setempat
tinggal menunggu pesanan pembeli.
Sandal pesanan baru akan dikirim, jika pemesan mentransfer
uangnya kepada produsen. "Kalau uangnya sudah cair baru kami
kirimkan sandal pesanan," ujar Bedi.
Cara seperti itu dilakukan semata-mata untuk melancarkan usaha
kerajinan tersebut. Dengan cara seperti itu, tidak ada yang namanya
pembayaran macet, sehingga proses produksi pun tidak terhambat
karena kehabisan modal misalnya.
Dikatakan Bedi, dalam pemasaran sandal ini para pengusaha mampu
yang sudah mempunyai pangsa pasar, tidak hanya memasarkan produk
mereka sendiri. Produksi sandal dari rumahan pun kalangan pengusaha
mampu yang memasarkannya.
Sebagian pengusaha sandal yang masih belum mempunyai pelanggan,
menerima pesanan lewat telepon dan transfer uang, terpaksa
memasarkan produksinya sendiri. Itu misalnya dilakukan oleh Suwari
(43), suami Ny Suparmi.
Hampir setiap minggu dia memasarkan langsung ke pasar-pasar di
Jateng, Jatim, bahkan Lampung dan Bengkulu. "Suami saya lebih sering
memasarkan ke daerah Jateng dan Jatim. Waktu yang dibutuhkan sampai
barang satu boks kendaraan habis, cukup dua sampai tiga hari. Kalau
ke Bengkulu bisa membutuhkan waktu satu minggu," kata Suparmi,
pemilik industri rumahan yang juga memasarkan produk dari rumah
lainnya.
Kebarepan memang sudah mampu menjadi produsen dan pemasok
sandal cukup andal. Itu semua berkat sentuhan kreativitas perajin
setempat. Untuk memadukan potensi ini dibentuk koperasi perajin
sandal. Namun wadah koperasi yang pernah mengekspor produk sandal
Kebarepan itu, justru yang tidak bisa berkembang.
Sejumlah pengusaha menyebutkan, koperasi hanya digunakan untuk
kepentingan sejumlah orang saja. Tujuan pembentukannya untuk lebih
memajukan Kebarepan tidak tercapai, hingga pengusaha dan perajin
setempat pun lebih memilih mengembangkan usahanya sendiri-sendiri.
Mereka pun mampu semakin "meraksasa". (agus mulyadi)
FOTO: INDUSTRI RUMAHAN -- Di Desa Kebarepan, Cirebon, Jawa Barat selain
terdapat pabrik pembuat sandal berskala cukup besar, juga banyak
dijumpai sandal produksi rumahan seperti gambar di atas.
SANDAL KEBAREPAN MENEMBUS PASAR DUNIA
SEPASANG sandal raksasa, berdiri kokoh di depan sebuah bangunan
di pinggir jalan raya di Desa Kebarepan, Kecamatan Plumbon,
Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Sandal berukuran tinggi sekitar tiga
meter dan lebar setengah meter itu, tampak begitu mencolok.
Pengendara yang lewat di jalan raya antara Palimanan-Cirebon, jika
melihat pasti akan menoleh karena tertarik sandal langka tersebut.
Lokasi sandal raksasa warna hitam itu, sekitar 10 kilometer
barat kota Cirebon. Sandal dibuat dari spons, bahan baku yang juga
digunakan untuk sandal biasa. Bahan ini merupakan campuran antara
karet, plastik, dan unsur lainnya.
Sandal raksasa Kebarepan dapat disebut sebagai sebuah simbol.
Perlambang yang kokoh dan cukup besar dari sebuah industri kecil di
Cirebon yang cukup kuat. Industri kecil yang berawal dari industri
rumahan yang menapak pasti, terus berkembang.
Industri kecil yang menuju besar ini adalah industri sandal.
Penduduk Kebarepan yang lebih dari 2.000 orang itu pun
menggantungkan nafkah hidupnya dari industri ini. Produksi sandal
dari Kebarepan tidak hanya dipasarkan ke berbagai daerah di
Indonesia, tetapi juga sudah menembus pasar dunia.
Di desa ini tercatat sekitar 15 pabrik pembuatan sandal, yang
melibatkan ribuan tenaga kerja. Dari rumah-rumah penduduk setempat
pun, lahir pula sandal-sandal karya penghuninya, mengikuti produk
pabrik di kawasan itu.
***
BERKEMBANGNYA Kebarepan menjadi sentra produksi sandal,
sebenarnya tidak diduga penduduk desa itu sendiri. Sebab, cikal
bakal yang mengarah ke lahirnya industri itu hanyalah dari keahlian
segelintir penduduk setempat yang mengubah ban-ban bekas menjadi
sandal jepit murahan.
Penduduk setempat menyebut, embrio dari industri sandal
Kebarepan sekarang adalah karya beberapa penduduk berupa sandal
bandol. Ini merupakan akronim dari ban bodol, yang artinya ban bekas
dan butut yang sudah tidak terpakai lagi.
Konon sekitar tahun 1950-an sejumlah penduduk setempat membuat
sandal jepit dari ban bekas itu. Ketika sandal jenis ini dijual
ternyata laku, hingga akhirnya tidak hanya segelintir orang yang
berkarya membuat sandal bandol. Penduduk lainnya pun mengikuti,
sehingga Kebarepan pun tumbuh menjadi produsen sandal jepit murahan
itu. Pemasarannya masih di daerah Cirebon dan sekitarnya.
Menurut salah seorang pemilik industri sandal rumahan setempat,
Ny Suparmi (40), keahlian membuat sandal itu kemudian berkembang.
Sebagian perajin ada yang memodifikasi sandal karet bekas merek Lily
yang ketika itu cukup digemari orang. Sandal karet bekas itu dibeli
dari pemulung, diperbaiki dengan mengganti bagian bawahnya
menggunakan bahan spons.
"Sandal Lily yang sudah robek bagian atasnya, kami sambung lagi
dengan menggunakan besi panas," kata Suparmi.
Perbaikan sandal bekas yang mengenalkan perajin dengan bahan
spons, kemudian mengilhami mereka membuat produk lain. Sebagian
perajin mencoba membuat sandal dari bahan itu untuk bagian alas,
ditambah dengan penjepit sandal di bagian atasnya.
Kreativitas perajin pedesaan ini ternyata malah merupakan awal
dari tumbuhnya industri sandal Kebarepan. Sandal baru yang tidak
lagi menggunakan bahan ban bekas ini laku di pasaran. Permintaan
khalayak semakin berkembang.
Tidak hanya penduduk sekitar yang menyukai sandal Kebarepan.
Ketika sandal mereka dipasarkan ke daerah lain, masyarakat pun
menyukainya.
Perkembangan ini semakin menarik minat penduduk setempat,
mencari nafkah dari memproduksi sandal. Sebagian besar penduduk
Kebarepan membuatnya di rumah mereka masing-masing. Sejumlah
penduduk lainnya bahkan mampu membuat pabrik cukup besar. Sedangkan
sebagian lainnya mencoba peruntungannya dengan menjadi penjual
produk itu ke daerah lain.
Sampai sekarang ini sandal Kebarepan telah menyerbu pasar
sampai ke luar Pulau Jawa, seperti propinsi-propinsi di Sumatera,
Kalimantan dan Sulawesi. Di Jawa sebagian besar sandal Kebarepan
tersedot di pasar Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Tidak lupa pula, para pengusaha dan perajin pun masing-masing
memiliki merek dagang sandal produksi mereka. Nama-nama yang
kedengaran cukup asing pun disandang sandal Kebarepan. Sebut saja
misalnya sandal dengan merek dagang Sonic, Katoni, atau Esay. "Esay
itu diambil dari bahasa Cina, artinya bagus," kata Ny Suparmi yang
memiliki sandal bermerek itu.
***
"SEBENARNYA industri sandal di sini baru berkembang belum
terlalu lama, baru sejak awal tahun 1980-an," kata Bedi Toni (50),
salah seorang pengusaha sandal paling besar di Kebarepan. Dia
termasuk perintis yang mengembangkan industri Kebarepan.
Menurut Bedi, pertumbuhan sandal Kebarepan juga didongkrak oleh
dukungan pemasok bahan baku spons dari produsennya di Tangerang.
Dengan pasokan bahan baku yang cukup -- meski perajin tidak
membayarnya dengan kontan -- memungkinkan perkembangan industri itu.
Hingga kemudian tidaklah mengherankan jika "bayi industri" yang
semakin besar itu sejak dua tahun lalu mengekspor produksinya ke
mancanegara. "Sandal Kebarepan diekspor ke negara-negara di Asia,
seperti negara-negara Arab," kata Bedi Toni.
Dikatakannya, kemampuan menembus pasar luar negeri itu pun
sebenarnya merupakan bantuan dari pemasok spons. "Mereka yang
mencari pasar luar negeri. Kami hanya memproduksi dan memenuhi
permintaan mereka," ujar pengusaha tamatan SMP itu.
Untuk pemasaran dalam negeri, sebagian pengusaha dan perajin
sandal Kebarepan melakukannya dengan memasarkan sendiri produk
mereka. Namun akhirnya sekarang ini, sebagian pengusaha setempat
tinggal menunggu pesanan pembeli.
Sandal pesanan baru akan dikirim, jika pemesan mentransfer
uangnya kepada produsen. "Kalau uangnya sudah cair baru kami
kirimkan sandal pesanan," ujar Bedi.
Cara seperti itu dilakukan semata-mata untuk melancarkan usaha
kerajinan tersebut. Dengan cara seperti itu, tidak ada yang namanya
pembayaran macet, sehingga proses produksi pun tidak terhambat
karena kehabisan modal misalnya.
Dikatakan Bedi, dalam pemasaran sandal ini para pengusaha mampu
yang sudah mempunyai pangsa pasar, tidak hanya memasarkan produk
mereka sendiri. Produksi sandal dari rumahan pun kalangan pengusaha
mampu yang memasarkannya.
Sebagian pengusaha sandal yang masih belum mempunyai pelanggan,
menerima pesanan lewat telepon dan transfer uang, terpaksa
memasarkan produksinya sendiri. Itu misalnya dilakukan oleh Suwari
(43), suami Ny Suparmi.
Hampir setiap minggu dia memasarkan langsung ke pasar-pasar di
Jateng, Jatim, bahkan Lampung dan Bengkulu. "Suami saya lebih sering
memasarkan ke daerah Jateng dan Jatim. Waktu yang dibutuhkan sampai
barang satu boks kendaraan habis, cukup dua sampai tiga hari. Kalau
ke Bengkulu bisa membutuhkan waktu satu minggu," kata Suparmi,
pemilik industri rumahan yang juga memasarkan produk dari rumah
lainnya.
Kebarepan memang sudah mampu menjadi produsen dan pemasok
sandal cukup andal. Itu semua berkat sentuhan kreativitas perajin
setempat. Untuk memadukan potensi ini dibentuk koperasi perajin
sandal. Namun wadah koperasi yang pernah mengekspor produk sandal
Kebarepan itu, justru yang tidak bisa berkembang.
Sejumlah pengusaha menyebutkan, koperasi hanya digunakan untuk
kepentingan sejumlah orang saja. Tujuan pembentukannya untuk lebih
memajukan Kebarepan tidak tercapai, hingga pengusaha dan perajin
setempat pun lebih memilih mengembangkan usahanya sendiri-sendiri.
Mereka pun mampu semakin "meraksasa". (agus mulyadi)
FOTO: INDUSTRI RUMAHAN -- Di Desa Kebarepan, Cirebon, Jawa Barat selain
terdapat pabrik pembuat sandal berskala cukup besar, juga banyak
dijumpai sandal produksi rumahan seperti gambar di atas.
Hari Pertama Masuk Sekolah, Tak Ada yang Baru Bagi Murid SD Mundu
KOMPAS - Rabu, 20 Jul 1994 Halaman: 17 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 5150 Foto: 1
Hari Pertama Masuk Sekolah
TAK ADA YANG BARU BAGI MURID SD MUNDU
SUASANA serba baru biasa dialami oleh murid-murid yang kembali
masuk sekolah, pada setiap tahun ajaran baru. Tas, buku-buku, pulpen,
pinsil, baju seragam, dan sepatu baru, menjadi semacam syarat
sebagian dari mereka untuk kembali masuk sekolah. Dan bagi siswa
kelas satu tentu akan mendapat pula teman-teman baru.
Namun keadaan serba baru itu tidak sepenuhnya dialami siswa-
siswa Sekolah Dasar Negeri III Mundu Pesisir, Kecamatan Mundu
Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Tak semua siswanya mampu membeli
sepatu, dan terpaksa sekolah bersandal jepit. Lokasi SD ini sekitar
lima kilometer arah timur kota Cirebon, dan hanya 200 meter dari
bibir pantai. Kondisi sekolahannya cukup memprihatinkan, karena
berada di tengah komunitas masyarakat nelayan yang miskin.
Walaupun ruangan kelas yang ditempati sekarang "baru", karena
mereka naik kelas, namun suasana kelas sama sekali tidak baru. Para
murid kembali mendapatkan ruangan kelas yang tidak dilengkapi kursi
dan meja belajar yang cukup. Sebagian dari mereka belajar sambil
berdiri dan sebagian terpaksa duduk lesehan di lantai. Sementara yang
lain duduk berdesak-desakan di kursi-kursi yang reyot.
Bertahun-tahun sudah kondisi seperti itu dialami siswa SDN III
Mundu Pesisir. Meski setiap tahun jumlah siswa berkurang, karena
ada yang sudah lulus, kekurangan kursi dan meja belajar selalu saja
terjadi. Siswa baru kelas satu yang baru masuk akan mengisi kursi
dan meja yang ditinggalkan kakak kelas mereka.
Tahun ajaran baru kali ini, bahkan dengan kurikulum pelajaran
baru pula, tetap akan dialami murid Mundu Pesisir dalam suasana
lama. Baju seragam yang mereka kenakan mungkin baru. Tetapi sebagian
siswa SDN III Mundu Pesisir terpaksa tetap belajar di lantai.
Murid kelas dua dan tiga dapat bebas masuk-keluar kelas masing-
masing, karena tidak ada pintu pembatas ruangan antara keduanya.
Sejak lama pintu dibiarkan terbuka tanpa daun pintu.
Hingga pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 1994/1995,
Senin (18/7) pagi, terlihat beberapa murid kelas dua dan tiga saling
berebut kursi. Bila salah satu dari mereka lengah, kursi akan lenyap
dibawa ke kelas lain melalui pintu terbuka tadi.
***
KEKURANGAN kursi dan meja belajar bagi murid-murid SDN III
Mundu Pesisir, menurut Kepala Sekolahnya, Hasan, memang cukup
mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah itu. Namun pihaknya
tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kondisi seperti itu, karena
menyangkut pengadaan kursi dan meja memang tergantung pemerintah.
Menurut Hasan, saat ini di SDN III Mundu Pesisir hanya ada 78
meja belajar yang masih bisa digunakan. "Jumlah itu masih amat
kurang, dibanding jumlah murid yang ada di sini," katanya.
Dengan jumlah murid sekitar 240 orang -- belum termasuk murid
baru kelas satu -- jumlah meja yang dibutuhkan sekitar 120 unit.
Sedangkan kursi dibutuhkan dua kali lipat dari jumlah meja. Lantaran
cuma tersedia 78 meja, sebagian besar murid belajar tanpa meja.
Sedangkan jumlah kursi sekitar 156 buah.
Kekurangan kursi di sekolah itu diatasi dengan memasang bangku
panjang tanpa sandaran. Tiap bangku diisi empat orang murid yang
harus berdesak-desakkan bila mereka menulis di satu meja yang sama.
Sebagian murid memilih lesehan di lantai. Sebagian lain berdiri, dan
bila harus menulis mereka menggunakan dinding kelas sebagai "meja".
***
KEPALA Dinas P dan K Kabupaten Cirebon Drs Tatang Setiawan
mengatakan kepada Kompas, bahwa dalam penyediaan sarana belajar
berupa kursi dan meja untuk murid SD di Kabupaten Cirebon pihaknya
hanya menunggu kebijaksanaan pemerintah.
Dikatakan, Dinas P dan K Cirebon sudah melaporkan kepada Pemda
setempat mengenai kekurangan sarana belajar murid SD tersebut. Untuk
itu, pihak Depdikbud Cirebon lebih memprioritaskan sekolah-sekolah
yang menderita kekurangan paling parah.
Bupati Cirebon, H Rachmat Djoehana dalam sidang pleno DPRD
setempat beberapa waktu lalu mengemukakan, kekurangan sarana belajar
berupa kursi dan meja belajar SD di Kabupaten Cirebon saat ini
mencapai sekitar 54.000 kursi dan 27.000 meja belajar.
Namun pada tahun anggaran 1994/1995 ini Kabupaten Cirebon hanya
mendapat jatah dari Program Proyek Inpres SD/MI tahun anggaran
1994/1995, sebanyak 500 meja dan 5.000 kursi. Entah, sampai kapan
kekurangan kursi dan meja belajar murid SD di Cirebon ini kapan
dapat diatasi. Yang pasti, pada tahun ajaran 1994/1995 ini murid-
murid SDN III Mundu Pesisir masih seperti tahun-tahun sebelumnya.
(agus mulyadi)
Teks Foto
Kompas/mul
HARI PERTAMA -- Hari pertama memasuki tahun ajaran baru, bagi murid
SDN III Mundu Pesisir tidak merasakan suasana yang baru. Kondisi
ruangan kelas masih seperti sebelumnya, yakni kekurangan meja dan
kursi belajar. Sehingga para murid ada yang terpaksa belajar sambil
duduk di lantai, atau berdiri bersandar di dinding.
Hari Pertama Masuk Sekolah
TAK ADA YANG BARU BAGI MURID SD MUNDU
SUASANA serba baru biasa dialami oleh murid-murid yang kembali
masuk sekolah, pada setiap tahun ajaran baru. Tas, buku-buku, pulpen,
pinsil, baju seragam, dan sepatu baru, menjadi semacam syarat
sebagian dari mereka untuk kembali masuk sekolah. Dan bagi siswa
kelas satu tentu akan mendapat pula teman-teman baru.
Namun keadaan serba baru itu tidak sepenuhnya dialami siswa-
siswa Sekolah Dasar Negeri III Mundu Pesisir, Kecamatan Mundu
Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Tak semua siswanya mampu membeli
sepatu, dan terpaksa sekolah bersandal jepit. Lokasi SD ini sekitar
lima kilometer arah timur kota Cirebon, dan hanya 200 meter dari
bibir pantai. Kondisi sekolahannya cukup memprihatinkan, karena
berada di tengah komunitas masyarakat nelayan yang miskin.
Walaupun ruangan kelas yang ditempati sekarang "baru", karena
mereka naik kelas, namun suasana kelas sama sekali tidak baru. Para
murid kembali mendapatkan ruangan kelas yang tidak dilengkapi kursi
dan meja belajar yang cukup. Sebagian dari mereka belajar sambil
berdiri dan sebagian terpaksa duduk lesehan di lantai. Sementara yang
lain duduk berdesak-desakan di kursi-kursi yang reyot.
Bertahun-tahun sudah kondisi seperti itu dialami siswa SDN III
Mundu Pesisir. Meski setiap tahun jumlah siswa berkurang, karena
ada yang sudah lulus, kekurangan kursi dan meja belajar selalu saja
terjadi. Siswa baru kelas satu yang baru masuk akan mengisi kursi
dan meja yang ditinggalkan kakak kelas mereka.
Tahun ajaran baru kali ini, bahkan dengan kurikulum pelajaran
baru pula, tetap akan dialami murid Mundu Pesisir dalam suasana
lama. Baju seragam yang mereka kenakan mungkin baru. Tetapi sebagian
siswa SDN III Mundu Pesisir terpaksa tetap belajar di lantai.
Murid kelas dua dan tiga dapat bebas masuk-keluar kelas masing-
masing, karena tidak ada pintu pembatas ruangan antara keduanya.
Sejak lama pintu dibiarkan terbuka tanpa daun pintu.
Hingga pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 1994/1995,
Senin (18/7) pagi, terlihat beberapa murid kelas dua dan tiga saling
berebut kursi. Bila salah satu dari mereka lengah, kursi akan lenyap
dibawa ke kelas lain melalui pintu terbuka tadi.
***
KEKURANGAN kursi dan meja belajar bagi murid-murid SDN III
Mundu Pesisir, menurut Kepala Sekolahnya, Hasan, memang cukup
mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah itu. Namun pihaknya
tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kondisi seperti itu, karena
menyangkut pengadaan kursi dan meja memang tergantung pemerintah.
Menurut Hasan, saat ini di SDN III Mundu Pesisir hanya ada 78
meja belajar yang masih bisa digunakan. "Jumlah itu masih amat
kurang, dibanding jumlah murid yang ada di sini," katanya.
Dengan jumlah murid sekitar 240 orang -- belum termasuk murid
baru kelas satu -- jumlah meja yang dibutuhkan sekitar 120 unit.
Sedangkan kursi dibutuhkan dua kali lipat dari jumlah meja. Lantaran
cuma tersedia 78 meja, sebagian besar murid belajar tanpa meja.
Sedangkan jumlah kursi sekitar 156 buah.
Kekurangan kursi di sekolah itu diatasi dengan memasang bangku
panjang tanpa sandaran. Tiap bangku diisi empat orang murid yang
harus berdesak-desakkan bila mereka menulis di satu meja yang sama.
Sebagian murid memilih lesehan di lantai. Sebagian lain berdiri, dan
bila harus menulis mereka menggunakan dinding kelas sebagai "meja".
***
KEPALA Dinas P dan K Kabupaten Cirebon Drs Tatang Setiawan
mengatakan kepada Kompas, bahwa dalam penyediaan sarana belajar
berupa kursi dan meja untuk murid SD di Kabupaten Cirebon pihaknya
hanya menunggu kebijaksanaan pemerintah.
Dikatakan, Dinas P dan K Cirebon sudah melaporkan kepada Pemda
setempat mengenai kekurangan sarana belajar murid SD tersebut. Untuk
itu, pihak Depdikbud Cirebon lebih memprioritaskan sekolah-sekolah
yang menderita kekurangan paling parah.
Bupati Cirebon, H Rachmat Djoehana dalam sidang pleno DPRD
setempat beberapa waktu lalu mengemukakan, kekurangan sarana belajar
berupa kursi dan meja belajar SD di Kabupaten Cirebon saat ini
mencapai sekitar 54.000 kursi dan 27.000 meja belajar.
Namun pada tahun anggaran 1994/1995 ini Kabupaten Cirebon hanya
mendapat jatah dari Program Proyek Inpres SD/MI tahun anggaran
1994/1995, sebanyak 500 meja dan 5.000 kursi. Entah, sampai kapan
kekurangan kursi dan meja belajar murid SD di Cirebon ini kapan
dapat diatasi. Yang pasti, pada tahun ajaran 1994/1995 ini murid-
murid SDN III Mundu Pesisir masih seperti tahun-tahun sebelumnya.
(agus mulyadi)
Teks Foto
Kompas/mul
HARI PERTAMA -- Hari pertama memasuki tahun ajaran baru, bagi murid
SDN III Mundu Pesisir tidak merasakan suasana yang baru. Kondisi
ruangan kelas masih seperti sebelumnya, yakni kekurangan meja dan
kursi belajar. Sehingga para murid ada yang terpaksa belajar sambil
duduk di lantai, atau berdiri bersandar di dinding.
Nasib Primadona Ekspor Nonmigas Jabar, Benur yang Ditebar Ular yang Didapat
KOMPAS - Minggu, 22 Aug 1993 Halaman: 8 Penulis: SUGANDA, HER/MULYADI, AGUS Ukuran: 11785
Nasib Primadona Ekspor Nonmigas Jabar
BENUR YANG DITEBAR, ULAR YANG DIDAPAT
AGAK sulit dicari kegiatan usaha subsektor perikanan yang
mampu menandingi keuntungan menggiurkan dibanding tambak udang.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, udang tampil sebagai mata ì
dagangan yang memikat berkat dukungan harga yang relatif
mantap dan pasar yang jelas terjamin. Dengan dukungan itu, pantas
jika para pengusaha menanamkan modalnya di tambak udang. Ribuan ì
bahkan puluhan ribu hektar lahan baru dibuka untuk dijadikan areal ì
tambak di berbagai tempat di Indonesia.
Intensifikasi dan ekstensifikasi tambak yang berlangsung secara
besar-besaran selama tahun 1986 paling tidak diiming-iming
keuntungan memikat. Tak kurang dari Gubernur Jawa Barat (Jabar) yang
saat itu dijabat HR Moch Yogie Suardi Memet mencanangkan udang
sebagai primadona Jabar dalam ekspor nonmigas.
Di Jabar sendiri, budidaya udang sebenarnya bukan hal baru.
Tetapi selama itu petani tambak hanya mengusahakannya secara
tradisional dan kecil-kecilan. Modal dan kemampuan teknologinya
tergolong masih lemah, sehingga bisa dipahami jika di beberapa
tempat udang hanya hasil sampingan. Hasil utamanya adalah bandeng.
Namun selama tahun 1980-an, ikan bandeng hampir
tidak mempunyai arti ekonomi akibat harganya yang rendah. Padahal
budidaya ikan bandeng membutuhkan penanganan khusus. Benur yang
merupakan bibit kadangkala harus didatangkan dari Jatim.
Karena penanganannya masih sederhana, angka mortalitas cukup
tinggi. Keadaannya diperberat dengan bencana alam seperti banjir,
sampai akhirnya petani tambak kehabisan modal kerja dan modal
hidup. Pada gilirannya, semua itu mengakibatkan tingkat kehidupan
ekonomi petani tambak selalu dililit utang atau bahkan ijon.
Akibatnya, tambak-tambak yang terletak di bagian utara Jabar
dibiarkan dan kurang perawatan.
***
BABAK baru pertambakan mulai merebak di daerah ini bersamaan
dengan munculnya pemilik modal kuat yang mengusahakan tambak udang
secara intensif. Ini merupakan pengaruh positif yang banyak
mempengaruhi budidaya tambak tradisional. Paling tidak, petani
tambak tidak lagi melihat udang sebagai hasil sampingan tetapi
menjadi hasil utama yang mengalahkan bandeng. Keadaan ini bisa
tercermin dari meningkatnya produktivitas tambak yang terus
meningkat. Jika dalam tahun 1980 hanya 682,05 kilogram per hektar,
pada tahun 1990 mencapai 1.425,88 kilogram per hektar.
Pembukaan tambak baru dan meningkatnya produktivitas, jelas
meningkatkan produk tambak secara keseluruhan. Tetapi agak
sulit mencari angka-angka pasti, seberapa besar sebenarnya
produksi udang tambak dari bagian utara Jabar memberikan
sumbangannya untuk menjawab tantangan "primadona ekspor nonmigas
Jabar".
Di Cirebon misalnya, ekspor udang beku ke Jepang, AS dan Taiwan
yang dilakukan tiga perusahaan pembekuan udang (cold storage) pada
tahun 1992/1993 mencapai 35.398 kilogram atau senilai 5.753.493
dollar AS. Tetapi harus diingat, jumlah tersebut bukan hanya berasal
dari Kotamadya dan Kabupaten Cirebon. Udang yang dikirim melalui
tiga perusahaan pembekuan udang tersebut banyak yang berasal dari
Kabupaten Indramayu dan Jateng.
Dari Karawang angka-angka ini agak sulit diperoleh karena
perusahaan pembekuan udang justru berada di Jakarta. Selain itu tidak
semua udang hasil tambak yang berasal dari daerah ini bertujuan
memenuhi kebutuhan ekspor, sebagian kecil lainnya untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri.
Tetapi bagaimanapun, Jabar utara yang membentang sejak
Serang, Tangerang, Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu dan
Cirebon merupakan daerah potensial tambak udang. Sekaligus
memperlihatkan, usaha tambak, terutama tambak udang tetap
mempunyai daya pikat tersendiri. Ini bisa terlihat dari
perkembangan luas areal tambak yang terus meningkat dari tahun ke
tahun. Tahun 1970 lalu, luas tambak secara kotor hanyalah sekitar
29.000 hektar. Dalam tempo dua dasawarsa, luasnya hampir mencapai dua
kali lipat, sekitar 51.000 hektar.
Memang luas tersebut bukan sepenuhnya tambak udang. Tetapi
bahwa udang telah jadi primadona subsektor perikanan, rasanya tidak
bisa dibantah. Sebaliknya yang menjadi pertanyaan kemudian adalah,
budidaya udang secara intensif hampir dapat dikatakan masih baru dan
merupakan diversifikasi dari usaha pokoknya. Sehingga tidak
mengherankan kalau di antara para investor itu sebelumnya tidak
memiliki pengalaman sama sekali. Tenaga-tenaga lapangan juga banyak
yang belum berpengalaman sehingga kegiatannya banyak yang coba-coba.
Padahal udang membutuhkan perlakuan-perlakuan khusus dengan kondisi
yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
***
MASALAH yang terakhir ini menjadi perdebatan hangat di
kalangan sesama petambak, apakah lingkungan di bagian utara Jawa
Barat masih mendukung usaha tambak udang secara intensif?
Soalnya, angka mortalitas sekarang begitu tinggi sehingga banyak
petambak yang gulung tikar akibat serangan virus atau
bakteri yang belum diketahui bagaimana penanggulangannya.
Sebagian besar menyebutkan karena kualitas air laut yang sudah
tercemar. Tetapi sebagian lagi menyebut faktor perlakuan yang
intensif dan monokultur yang mengakibatkan terjadinya serangan
penyakit. Bahkan Agus Mulyatno dari PT Ika Nusa Windutama terang-
terangan menyatakan serangan virus berasal dari tambak rakyat.
Alasannya, tambak rakyat membuang dan mengambil sumber air kebutuhan
tambak dari satu tempat, yakni saluran pembuang. Sedangkan tambak
intensif menyedot air laut sebagai sumber airnya secara langsung
melalui mesin pompa.
Sebenarnya, masalah kualitas air tidak hanya sebatas
bagaimana cara sirkulasi air di tambak. Kepala Dinas Perikanan
Kabupaten Cirebon, Ir Rusli Thamrin mengingatkan pentingnya
kondisi lingkungan lainnya, misalnya tersedianya ruang hijau
berupa hutan payau.
Walaupun di atas kertas terdapat cukup luas kawasan hutan
payau, tetapi kenyataan di lapangan tidak selalu sesuai. Pantai
utara Jabar boleh dikatakan miskin hutan payau. Bahkan seperti
disinyalir Bupati Cirebon Suwendo, hutan payau yang masih ada
malah dibabat dijadikan tambak. Menyadari kelengahan ini, hanya
sedikit sekali pengusaha tambak yang berusaha memperbaiki
lingkungan sekitarnya. PT Ika Nusa Windutama, menurut Thamrin
menanam sekitar 20 hektar hutan bakau. Perusahaan ini, sejak 1989
membuka tambak udang windu seluas 300 hektar di Pulosari, Desa
Tawangsari, Kecamatan Losari, Cirebon.
Petambak intensif juga dituding ada yang teledor dalam
memberikan pakan. Pakan yang diberikan secara berlebihan lalu
terbuang, pada akhirnya akan menjadi racun sehingga memungkinkan
munculnya bakteri atau virus. "Apalagi kalau proses pengeringan
tambak kurang sempurna," kata sebuah sumber di Dinas Perikanan.
Serangan virus dan bakteri sekarang ini merupakan momok
paling menakutkan petambak udang. Di Karawang, sekitar 300 hektar
tambak udang diserang virus Vebrio Sp. Di kalangan petambak,
ini disebut penyakit kusta udang, karena yang diserang bagian ì
kakinya yang kemudian rontok dan akhirnya mati. Di tempat lain ì
serangan mengakibatkan usus udang robek sehingga penyakit itu ì
dijuluki virus usus. Gejalanya diawali dengan makan berlebihan dan ì
dua hari kemudian mati. Bentuk serangan lainnya seperti di Cirebon ì
dan Indramayu terjadi pada bagian insang.
Petambak-petambak yang belum berpengalaman, biasanya
memberikan obat untuk penanggulangan. Tetapi menurut Iwan
Binardi, Bagian Teknik Budidaya PT Udang Asli Kencana di
Sungaibuntu, Karawang, pemberian obat hanya akan mengakibatkan
serangan makin parah dan kerugian bertambah besar. "Sampai
sekarang, belum ada obat untuk menanggulangi virus dan bakteri ì
tersebut," kata Ir Odi Suryadi, Kepala Dinas Perikanan Karawang.
Keadaan yang tidak menggembirakan ini dialami petambak
selama tiga tahun terakhir. Banyak pengusaha yang menderita
rugi bahkan gulung tikar. Seorang pengusaha di Sungaibuntu sempat
pingsan di tambaknya karena udang yang baru berumur dua bulan
sudah jadi bangkai. Udang seumur itu tidak laku dijual.
Sekarang ini para petambak lebih banyak berusaha menahan
diri untuk ancang-ancang berikutnya, atau bahkan hengkang dari
usaha tambak. Tambak untuk sementara dibiarkan atau hanya
ditanami bandeng untuk makanan pancing ikan tuna. PT Argo Pantes
yang menguasai 125 tambak, menurut petugasnya, Edi Winarto sudah
sejak 1989 tidak memiliki semangat lagi menebarkan benur udang.
Bandeng yang jadi sumber utama tambak ini, kini dibudidayakan
secara tradisional.
Keluhan hasil tambak udang muncul pula dari petambak-
petambak kecil. "Benur yang ditebar, justru ular yang dipanen,"
kata seorang petambak di Cilamaya, Karawang.
Bupati Karawang, Sumarno Suradi pernah mengemukakan, karena
udang habis oleh hama dan hanya tinggal ular yang bisa didapat,
binatang melata yang satu ini akhirnya jadi salah satu mata
pencaharian penduduk tertentu. Mereka menangkapnya lalu menjual
ke pedagang penampung untuk kemudian diambil kulitnya sebagai bahan
kerajinan. Di Cilamaya, usaha perajin kulit ular malah dijadikan
salah satu pola untuk mengurangi kemiskinan di daerah Karawang.
***
KECUALI tahun 1989, harga udang selama ini yang berkisar
antara Rp 17.000 - Rp 18.000 akan tetap merupakan mata dagangan
menarik walaupun risikonya sangat tinggi. Apalagi dengan teknik
budidaya yang memadai, produksinya bisa mencapai 3,5 - 5 ton per
hektar, atau bahkan lebih tinggi lagi karena tergantung kepadatan
benur yang ditebar.
Harga yang menjanjikan keuntungan dalam usaha tambak udang
rupanya merupakan salah satu penyebab mengapa masih ada pengusaha
tambak udang tidak merasa jera walaupun dalam dua atau tiga hari,
modal ratusan juta yang ditanam ludes dimakan virus atau bakteri.
Hanya jika dulu mereka berlomba mengusahakan tambak seintensif
mungkin dengan kerapatan benur yang cukup tinggi, kini mereka
lebih berhati-hati. Bahkan tidak jarang yang melakukan berbagai
uji coba.
Iwan Binardi dari PT Udang Asli Kencana misalnya, dari 54
tambak yang dikelolanya, 21 hektar sengaja ditanami bandeng. Tambak-
tambak bandeng tersebut merupakan tempat pembuangan air sekaligus ì
pengendapan untuk mentralisir air payau yang dibutuhkan. Setelah ì
dianggap bersih, air digunakan kembali. Di tempat lain, Ahoy
lebih mencurahkan perhatian pada warna air yang akan digunakan untuk
tambak di kolam khusus. Jika warna air sudah memenuhi warna
tertentu, barulah dialirkan ke tambak.
Percobaan-percobaan itu tentu saja sangat tergantung
ketrampilan setiap orang. Mereka tidak memiliki pola yang sama
karena semuanya dilakukan tidak lebih dari coba-coba, sehingga
jika Ahoy mengaku tidak pernah gagal dalam mengelola tambak
udangnya seluas empat hektar, ia kemudian menyatakan hal ini,
"Mungkin saya lagi hoki," katanya mengungkapkan nasib mujur yang
berpihak padanya. (Her Suganda/Agus Mulyadi)
Foto: Kompas/mul
TAMBAK UDANG -- Mengelola tambak udang membutuhkan penanganan yang
serius dan intensif, hingga pengelola bisa dikatakan harus berada di
tambak setiap saat.
Nasib Primadona Ekspor Nonmigas Jabar
BENUR YANG DITEBAR, ULAR YANG DIDAPAT
AGAK sulit dicari kegiatan usaha subsektor perikanan yang
mampu menandingi keuntungan menggiurkan dibanding tambak udang.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, udang tampil sebagai mata ì
dagangan yang memikat berkat dukungan harga yang relatif
mantap dan pasar yang jelas terjamin. Dengan dukungan itu, pantas
jika para pengusaha menanamkan modalnya di tambak udang. Ribuan ì
bahkan puluhan ribu hektar lahan baru dibuka untuk dijadikan areal ì
tambak di berbagai tempat di Indonesia.
Intensifikasi dan ekstensifikasi tambak yang berlangsung secara
besar-besaran selama tahun 1986 paling tidak diiming-iming
keuntungan memikat. Tak kurang dari Gubernur Jawa Barat (Jabar) yang
saat itu dijabat HR Moch Yogie Suardi Memet mencanangkan udang
sebagai primadona Jabar dalam ekspor nonmigas.
Di Jabar sendiri, budidaya udang sebenarnya bukan hal baru.
Tetapi selama itu petani tambak hanya mengusahakannya secara
tradisional dan kecil-kecilan. Modal dan kemampuan teknologinya
tergolong masih lemah, sehingga bisa dipahami jika di beberapa
tempat udang hanya hasil sampingan. Hasil utamanya adalah bandeng.
Namun selama tahun 1980-an, ikan bandeng hampir
tidak mempunyai arti ekonomi akibat harganya yang rendah. Padahal
budidaya ikan bandeng membutuhkan penanganan khusus. Benur yang
merupakan bibit kadangkala harus didatangkan dari Jatim.
Karena penanganannya masih sederhana, angka mortalitas cukup
tinggi. Keadaannya diperberat dengan bencana alam seperti banjir,
sampai akhirnya petani tambak kehabisan modal kerja dan modal
hidup. Pada gilirannya, semua itu mengakibatkan tingkat kehidupan
ekonomi petani tambak selalu dililit utang atau bahkan ijon.
Akibatnya, tambak-tambak yang terletak di bagian utara Jabar
dibiarkan dan kurang perawatan.
***
BABAK baru pertambakan mulai merebak di daerah ini bersamaan
dengan munculnya pemilik modal kuat yang mengusahakan tambak udang
secara intensif. Ini merupakan pengaruh positif yang banyak
mempengaruhi budidaya tambak tradisional. Paling tidak, petani
tambak tidak lagi melihat udang sebagai hasil sampingan tetapi
menjadi hasil utama yang mengalahkan bandeng. Keadaan ini bisa
tercermin dari meningkatnya produktivitas tambak yang terus
meningkat. Jika dalam tahun 1980 hanya 682,05 kilogram per hektar,
pada tahun 1990 mencapai 1.425,88 kilogram per hektar.
Pembukaan tambak baru dan meningkatnya produktivitas, jelas
meningkatkan produk tambak secara keseluruhan. Tetapi agak
sulit mencari angka-angka pasti, seberapa besar sebenarnya
produksi udang tambak dari bagian utara Jabar memberikan
sumbangannya untuk menjawab tantangan "primadona ekspor nonmigas
Jabar".
Di Cirebon misalnya, ekspor udang beku ke Jepang, AS dan Taiwan
yang dilakukan tiga perusahaan pembekuan udang (cold storage) pada
tahun 1992/1993 mencapai 35.398 kilogram atau senilai 5.753.493
dollar AS. Tetapi harus diingat, jumlah tersebut bukan hanya berasal
dari Kotamadya dan Kabupaten Cirebon. Udang yang dikirim melalui
tiga perusahaan pembekuan udang tersebut banyak yang berasal dari
Kabupaten Indramayu dan Jateng.
Dari Karawang angka-angka ini agak sulit diperoleh karena
perusahaan pembekuan udang justru berada di Jakarta. Selain itu tidak
semua udang hasil tambak yang berasal dari daerah ini bertujuan
memenuhi kebutuhan ekspor, sebagian kecil lainnya untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri.
Tetapi bagaimanapun, Jabar utara yang membentang sejak
Serang, Tangerang, Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu dan
Cirebon merupakan daerah potensial tambak udang. Sekaligus
memperlihatkan, usaha tambak, terutama tambak udang tetap
mempunyai daya pikat tersendiri. Ini bisa terlihat dari
perkembangan luas areal tambak yang terus meningkat dari tahun ke
tahun. Tahun 1970 lalu, luas tambak secara kotor hanyalah sekitar
29.000 hektar. Dalam tempo dua dasawarsa, luasnya hampir mencapai dua
kali lipat, sekitar 51.000 hektar.
Memang luas tersebut bukan sepenuhnya tambak udang. Tetapi
bahwa udang telah jadi primadona subsektor perikanan, rasanya tidak
bisa dibantah. Sebaliknya yang menjadi pertanyaan kemudian adalah,
budidaya udang secara intensif hampir dapat dikatakan masih baru dan
merupakan diversifikasi dari usaha pokoknya. Sehingga tidak
mengherankan kalau di antara para investor itu sebelumnya tidak
memiliki pengalaman sama sekali. Tenaga-tenaga lapangan juga banyak
yang belum berpengalaman sehingga kegiatannya banyak yang coba-coba.
Padahal udang membutuhkan perlakuan-perlakuan khusus dengan kondisi
yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
***
MASALAH yang terakhir ini menjadi perdebatan hangat di
kalangan sesama petambak, apakah lingkungan di bagian utara Jawa
Barat masih mendukung usaha tambak udang secara intensif?
Soalnya, angka mortalitas sekarang begitu tinggi sehingga banyak
petambak yang gulung tikar akibat serangan virus atau
bakteri yang belum diketahui bagaimana penanggulangannya.
Sebagian besar menyebutkan karena kualitas air laut yang sudah
tercemar. Tetapi sebagian lagi menyebut faktor perlakuan yang
intensif dan monokultur yang mengakibatkan terjadinya serangan
penyakit. Bahkan Agus Mulyatno dari PT Ika Nusa Windutama terang-
terangan menyatakan serangan virus berasal dari tambak rakyat.
Alasannya, tambak rakyat membuang dan mengambil sumber air kebutuhan
tambak dari satu tempat, yakni saluran pembuang. Sedangkan tambak
intensif menyedot air laut sebagai sumber airnya secara langsung
melalui mesin pompa.
Sebenarnya, masalah kualitas air tidak hanya sebatas
bagaimana cara sirkulasi air di tambak. Kepala Dinas Perikanan
Kabupaten Cirebon, Ir Rusli Thamrin mengingatkan pentingnya
kondisi lingkungan lainnya, misalnya tersedianya ruang hijau
berupa hutan payau.
Walaupun di atas kertas terdapat cukup luas kawasan hutan
payau, tetapi kenyataan di lapangan tidak selalu sesuai. Pantai
utara Jabar boleh dikatakan miskin hutan payau. Bahkan seperti
disinyalir Bupati Cirebon Suwendo, hutan payau yang masih ada
malah dibabat dijadikan tambak. Menyadari kelengahan ini, hanya
sedikit sekali pengusaha tambak yang berusaha memperbaiki
lingkungan sekitarnya. PT Ika Nusa Windutama, menurut Thamrin
menanam sekitar 20 hektar hutan bakau. Perusahaan ini, sejak 1989
membuka tambak udang windu seluas 300 hektar di Pulosari, Desa
Tawangsari, Kecamatan Losari, Cirebon.
Petambak intensif juga dituding ada yang teledor dalam
memberikan pakan. Pakan yang diberikan secara berlebihan lalu
terbuang, pada akhirnya akan menjadi racun sehingga memungkinkan
munculnya bakteri atau virus. "Apalagi kalau proses pengeringan
tambak kurang sempurna," kata sebuah sumber di Dinas Perikanan.
Serangan virus dan bakteri sekarang ini merupakan momok
paling menakutkan petambak udang. Di Karawang, sekitar 300 hektar
tambak udang diserang virus Vebrio Sp. Di kalangan petambak,
ini disebut penyakit kusta udang, karena yang diserang bagian ì
kakinya yang kemudian rontok dan akhirnya mati. Di tempat lain ì
serangan mengakibatkan usus udang robek sehingga penyakit itu ì
dijuluki virus usus. Gejalanya diawali dengan makan berlebihan dan ì
dua hari kemudian mati. Bentuk serangan lainnya seperti di Cirebon ì
dan Indramayu terjadi pada bagian insang.
Petambak-petambak yang belum berpengalaman, biasanya
memberikan obat untuk penanggulangan. Tetapi menurut Iwan
Binardi, Bagian Teknik Budidaya PT Udang Asli Kencana di
Sungaibuntu, Karawang, pemberian obat hanya akan mengakibatkan
serangan makin parah dan kerugian bertambah besar. "Sampai
sekarang, belum ada obat untuk menanggulangi virus dan bakteri ì
tersebut," kata Ir Odi Suryadi, Kepala Dinas Perikanan Karawang.
Keadaan yang tidak menggembirakan ini dialami petambak
selama tiga tahun terakhir. Banyak pengusaha yang menderita
rugi bahkan gulung tikar. Seorang pengusaha di Sungaibuntu sempat
pingsan di tambaknya karena udang yang baru berumur dua bulan
sudah jadi bangkai. Udang seumur itu tidak laku dijual.
Sekarang ini para petambak lebih banyak berusaha menahan
diri untuk ancang-ancang berikutnya, atau bahkan hengkang dari
usaha tambak. Tambak untuk sementara dibiarkan atau hanya
ditanami bandeng untuk makanan pancing ikan tuna. PT Argo Pantes
yang menguasai 125 tambak, menurut petugasnya, Edi Winarto sudah
sejak 1989 tidak memiliki semangat lagi menebarkan benur udang.
Bandeng yang jadi sumber utama tambak ini, kini dibudidayakan
secara tradisional.
Keluhan hasil tambak udang muncul pula dari petambak-
petambak kecil. "Benur yang ditebar, justru ular yang dipanen,"
kata seorang petambak di Cilamaya, Karawang.
Bupati Karawang, Sumarno Suradi pernah mengemukakan, karena
udang habis oleh hama dan hanya tinggal ular yang bisa didapat,
binatang melata yang satu ini akhirnya jadi salah satu mata
pencaharian penduduk tertentu. Mereka menangkapnya lalu menjual
ke pedagang penampung untuk kemudian diambil kulitnya sebagai bahan
kerajinan. Di Cilamaya, usaha perajin kulit ular malah dijadikan
salah satu pola untuk mengurangi kemiskinan di daerah Karawang.
***
KECUALI tahun 1989, harga udang selama ini yang berkisar
antara Rp 17.000 - Rp 18.000 akan tetap merupakan mata dagangan
menarik walaupun risikonya sangat tinggi. Apalagi dengan teknik
budidaya yang memadai, produksinya bisa mencapai 3,5 - 5 ton per
hektar, atau bahkan lebih tinggi lagi karena tergantung kepadatan
benur yang ditebar.
Harga yang menjanjikan keuntungan dalam usaha tambak udang
rupanya merupakan salah satu penyebab mengapa masih ada pengusaha
tambak udang tidak merasa jera walaupun dalam dua atau tiga hari,
modal ratusan juta yang ditanam ludes dimakan virus atau bakteri.
Hanya jika dulu mereka berlomba mengusahakan tambak seintensif
mungkin dengan kerapatan benur yang cukup tinggi, kini mereka
lebih berhati-hati. Bahkan tidak jarang yang melakukan berbagai
uji coba.
Iwan Binardi dari PT Udang Asli Kencana misalnya, dari 54
tambak yang dikelolanya, 21 hektar sengaja ditanami bandeng. Tambak-
tambak bandeng tersebut merupakan tempat pembuangan air sekaligus ì
pengendapan untuk mentralisir air payau yang dibutuhkan. Setelah ì
dianggap bersih, air digunakan kembali. Di tempat lain, Ahoy
lebih mencurahkan perhatian pada warna air yang akan digunakan untuk
tambak di kolam khusus. Jika warna air sudah memenuhi warna
tertentu, barulah dialirkan ke tambak.
Percobaan-percobaan itu tentu saja sangat tergantung
ketrampilan setiap orang. Mereka tidak memiliki pola yang sama
karena semuanya dilakukan tidak lebih dari coba-coba, sehingga
jika Ahoy mengaku tidak pernah gagal dalam mengelola tambak
udangnya seluas empat hektar, ia kemudian menyatakan hal ini,
"Mungkin saya lagi hoki," katanya mengungkapkan nasib mujur yang
berpihak padanya. (Her Suganda/Agus Mulyadi)
Foto: Kompas/mul
TAMBAK UDANG -- Mengelola tambak udang membutuhkan penanganan yang
serius dan intensif, hingga pengelola bisa dikatakan harus berada di
tambak setiap saat.
Kejahatan di Kereta Api, Jendela Terbuka Penimba Datang
KOMPAS - Minggu, 18 Oct 1992 Halaman: 1 Penulis: MULYADI, AGUS/GUN/NTS/POM/P/E/HW Ukuran: 12125
Kejahatan di Kereta Api
JENDELA TERBUKA, PENIMBA DATANG
Pengantar Redaksi
KEJAHATAN di atas kereta api kembali muncul, meski upaya aparat
keamanan dengan melakukan operasi dan penangkapan bisa disebut
sukses. Bagaimana bentuk kejahatan di atas kereta, serta dilema yang
dihadapi petugas Polsuska, disajikan dari bahan-bahan dikumpulkan
oleh wartawan Kompas, Agus Mulyadi, Tjahya Gunawan, Hindaryoen NTS,
Djoko Pournomo, Thomas Pudjowidiyanto dan Doddy Wisnu Pribadi serta
Moch S Hendrowijono yang merangkumnya dalam dua tulisan, di halaman ì
ini.
SUDAH lewat tengah malam di akhir September tahun lalu, ketika
KA Bangunkarta dari Jombang ke Jakarta pelan-pelan meninggalkan
stasiun Cirebon. Orang sudah mulai bergelimpangan di lantai kereta.
Pemandangannya jadi seperti dalam pengungsian, saat orang
memanfaatkan sejengkal lahan untuk sekadar istirahat setelah mereka
terusir karena bencana alam. Kalau saja bunyi roda kereta melintas
persambungan tidak terdengar demikian keras, antara lain karena
pintu dan persambungan kereta yang terbuka, pasti dengkur orang-
orang itu terdengar jelas.
Suyadi (57) saat itu duduk di bangku kedua dekat pintu, satu
kursi dengan seorang nenek yang sepanjang perjalanan menekukkan
kepalanya, tidur nyenyak. Nenek yang akan menengok anaknya di
Cempaka Putih Jakarta itu tak sadar, tetesan air sirihnya yang
berwarna merah darah turun dari sela-sela sudut bibirnya. Di depan
Suyadi duduk seorang lelaki setengah umur yang sejak awal
mengajaknya bercakap-cakap terus sehingga ia kecapaian. Diliriknya
jam tangannya, sudah lewat pukul 02.00 dinihari. Ia menggeser
duduknya sedikit dan menyandarkan kepalanya ke sudut antara sandaran
kursi dan dinding kereta, sekadar mencari posisi enak untuk
memejamkan mata, tidur-tidur ayam.
Plasss, rasanya enak sekali terlena, meski bisa jadi cuma
semenit dua. Ia membuka mata, lelaki di depannya tidak ada, mungkin
ke kamar kecil. Ia siap memejamkan matanya lagi, ketika tiba-tiba
saja ia tersentak. Tas di meja kecil di depannya sudah raib. Ia
celingukan ke kanan-kiri, tapi tak ada gerakan mencurigakan. Semua
orang terlelap. Ia bangkit, lalu lari melangkahi beberapa tubuh yang
tergeletak sambil tak lupa mengucap "Amit..", menuju ke pintu. ì
Pintu terbuka lebar, di kanan maupun di kiri. Tak ada satu orang pun di
sana, tak ada juga lelaki yang ramah tadi.
Rahangnya berkerot kesal. ì
"Gandrik..., sudah pasti lelaki tadi," gerutunya. Pasti dia yang ì
menjarahnya saat ia terlena, padahal tak sampai lima menit. Padahal ia ì
sudah ekstra hati-hati, dengan menempatkan tas itu di sisi kirinya, ì
terhimpit antara badannya dengan dinding kereta. Hanya saat ia mencari ì
posisi enak tadi, saat ia mulai percaya lingkungannya, saat kecurigaan ì
kepada tetangga duduknya sudah mulai sirna, ia memindahkan tas kecil itu ì
ke meja, setelah menyingkirkan gelas-gelas kotor. Itu pun, saat
memindahkan tas, ia sudah memandang muka si lelaki tadi sambil
senyum, seolah minta ikut dijagai, dan si lelaki seolah mengerti,
mengangguk sambil senyum juga.
Pensiunan guru itu marah besar, padahal isi tas itu tak
seberapa bagi lelaki tadi. Di dalam tas kecil itu cuma ada empat
buah mangga yang ranum, dan amplop berisi uang Rp 15.000 titipan
istrinya. Semua untuk anaknya di Jakarta yang sedang hamil anak
pertama, yang mengidam mangga yang tumbuh di halaman rumahnya di
Jombang. Calon kakek itu pun merasa perjalanannya sia-sia saja.#l#
* * *
SUYADI bukan orang pertama yang menjadi korban kejahatan di
atas kereta api. Banyak orang senasib, di antaranya enggan melapor
karena yang dicuri pun barang "sepele". Seperti halnya Teguh
Santoso, yang dijambret kacamatanya oleh seorang pedagang asongan
yang baru saja menawarkan dagangan di atas KA Sawunggalih jurusan
Purwokerto -- Jakarta. Warga Pondok Kelapa Jakarta Timur itu enggan
melapor, karena khawatir malah akan menghambat perjalanannya.
Padahal kacamata itu baru dibelinya Rp 95.000.
Sikap Suyadi atau Santoso yang memilih untuk tidak melaporkan
kejahatan itu kepada Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) atau
aparat keamanan lainnya, seperti sudah menjadi sikap umum para
penumpang kereta api. "Sikap demikian ini justru akan menyulitkan
pengusutan yang dilakukan polisi," ujar Kapolwil Banyumas, Kolonel
Pol Drs Anwari SH.
Dengan tidak melaporkan kasus-kasus kejahatan seperti itu,
polisi akan kesulitan melacak tersangka pelakunya. Meski pada
akhirnya, berbekal laporan yang sedikit, Polwil Banyumas berhasil
menggulung tiga kelompok penjahat di atas kereta.
Kejahatan di atas KA, terutama yang berjadwal malam dan di
kelas ekonomi, tampaknya giat lagi. Kejahatan terjadi umumnya pada ì
saat-saat penumpang pulas tidur antara pukul 01.00 hingga 03.00, walau ì
ada juga yang terjadi sore hari, atau pagi menjelang matahari terbit. ì
Bukan kebetulan, jika pada jam-jam rawan itu justru kereta api umumnya ì
berada di wilayah Banyumas, baik yang datang dari Jakarta, maupun dari ì
arah Surabaya, atau Bandung. Ini terutama antara stasiun Kroya -- ì
Kutoarjo (arah ke Yogyakarta), Kroya -- Sidareja (arah ke Bandung) dan ì
Kroya ke Purwokerto -- Prupuk (arah ke Jakarta).
Walaupun demikian, daerah selepas Cirebon, misalnya antara
Pegaden Baru -- Cikampek dan Cirebon -- Brebes -- Tegal, termasuk rawan
pula. Utamanya pada saat-saat tiadanya petugas polsuska karena
pergantian wilayah.
Usaha untuk menanggulangi berbagai gangguan KA sebenarnya sudah
dilakukan secara rutin. Khususnya yang dilakukan oleh polisi dan
aparat keamanan lainnya. Perumka misalnya menempatkan petugas
Polsuska untuk melakukan tugas pengawalan dan pengamanan KA terutama
pada rangkaian KA terbuka, KA kelas ekonomi. Sementara penjagaan di
KA-KA berbendera, misalnya KA Mutiara, Bima atau Senja, Perumka
mendapat bantuan tenaga Brimob.
"Polsuska yang bertugas di Daop V masih sangat terbatas," ujar
Kepala Daop (Daerah Operasi) V Perumka, Ir Suprayitno didampingi
Kepala Seksi Operasi, Sunyoto ketika ditemui Kompas. Wilayah Daop V yang ì
jalur KA-nya sangat luas dan frekuensi paling tinggi, hanya punya 24 ì
orang anggota polsuska. Padahal idealnya 60 orang untuk mengawasi 68 ì
rangkaian KA penumpang dan barang pergi pulang dari arah Purwokerto, ì
sebagian besar jalan malam.
* * *
KEJAHATAN di atas KA, sebenarnya kejahatan kecil-kecilan, bukan
penjahat kaliber dan profesional. "Umumnya hanya sebatas orang lapar
saja, yang diambil pun barang seadanya," ujar Djatmiko, reserse
Polsuska Perumka Wilu (wilayah usaha) Jawa di Semarang. Mereka ini,
katanya, banyak datang justru dari kalangan pedagang asongan, yang
frustrasi karena terus-terusan dikejar-kejar petugas saat berdagang.
Mereka menjambret saat KA mulai jalan seperti yang dialami oleh
Teguh Santoso, "untuk mendapat tambahan penghasilan". Sasarannya pun
umumnya KA kelas ekonomi yang selain kurang mendapat pengawalan,
juga memberi peluang sangat besar.
Namun justru karena dicurigai sumbernya dari kalangan asongan,
banyak stasiun yang kini dibersihkan dari pedagang itu. Cirebon,
misalnya, kini lengang dari asongan, juga Kroya dan Purwokerto.
Meski di stasiun yang terakhir ini masih ada asongan, tapi semua
terawasi lewat seragam asongan warna biru bernomor.
Hadi, kondektur KA Bangunkarta setiap kali merasa was-was jika
KA yang ditumpanginya itu dinaiki pedagang asongan. Apalagi jika
mereka tidak segera turun begitu peluit kereta berbunyi sebagai
tanda untuk berangkat. "Kalau ada asongan ngider saat KA jalan,
pasti akan ada penumpang yang kecurian," tuturnya.
Padahal, mengusir pedagang asongan tidak mudah. "Biasanya
pengusiran malah jadi bumerang bagi petugas yang bersangkutan karena
ia jadi incaran balas dendam pedagang yang merasa diusir itu. Hal
seperti ini pernah terjadi di Cikampek," ujar seorang perwira
menengah polisi yang dikaryakan di Perumka Pusat sebagai pembina
polsuska.
Memang tidak semua pedagang asongan melakukan kerja rangkap
itu. Ada yang benar-benar bersih, ada pula yang sekadar membantu
kelancaran kejahatan, dengan melaporkan situasi yang ada kepada
penjahat. Sambil mengasong, ia melihat barang-barang yang berada di
tempat yang mudah diambil, misalnya di meja dekat jendela, atau yang
terletak di tiga baris kursi pertama dekat jendela. Ia lalu
melaporkan pada rekannya yang akan beroperasi pada saat KA berjalan,
baik dari bawah atau di atas kereta.
***
ADA satu cara yang riskan sekali, yang sering dilakukan oleh
para perampok. Cara ini disebut nimba, yang dilakukan oleh dua
orang, satu berperan sebagai penimba, satu lagi sebagai timbanya.
Mereka benar-benar berani menantang maut, dengan si timba
menjulurkan badannya dari atas atap kereta yang sedang berjalan
kencang, ke arah jendela. Sambil kedua kakinya dipegangi oleh
penimba di atap, tangannya masuk lewat jendela yang terbuka,
mengambil barang yang ada di meja dekat jendela.
Berhasil atau tidak, si timba akan segera ditarik ke atas, lalu
keduanya lari melompat-lompat ke gerbong lain, lalu turun di salah
satu sambungan, terus melompat ke tanah. "Mereka punya keahlian
meloncat dari KA," ujar Saroni (52) anggota Polsuska Stasiun
Cirebon.
Praktek demikian ini bisa berjalan mulus antara lain karena
banyak stasiun yang terbuka, sehingga orang bebas keluar masuk.
Selain itu kondisi kereta kelas ekonomi juga sangat buruk. Jendela
banyak yang pecah, atau tak bisa ditutup. Atau juga karena memang
dibuka oleh penumpang akibat kepanasan karena ventilasi yang tidak
baik. Pencoleng pun mudah kabur, sebab umumnya persambungan kereta
kelas ini terbuka, pintu-pintu pun banyak yang tak bisa dikunci,
atau bahkan tak ada daun pintunya.
Tidak cuma itu, jendela WC umumnya sudah terlepas, dan kemudian
WC jadi tempat penumpang, karena fasilitas kamar kecil itu sejak
lama tak ada. Ketika hal ini ditanyakan kepada seorang pejabat
Perumka, walau dengan nada berkelakar, ia ketus menjawab, "Lha wong
mbayare murah, kok mau fasilitas komplet". KA Ekonomi memang murah,
untuk jarak 750 km Jakarta -- Surabaya, dengan Rp 9.000 orang Jakarta
tahu beres sampai Surabaya.
Kondisi buruk kereta diperjelek lagi dengan banyaknya ì
pelemparan-pelemparan batu dari luar, sehingga banyak kaca-kaca
pecah, bahkan tak jarang mencederai penumpang. Menurut Ir Ronny
Wahjudi, Kadaop III Cirebon, pelemparan ini biasanya dilakukan
remaja yang nakal. "Kami pernah tangkap satu, kami haruskan dia
mengganti, dan kami laporkan ke sekolahnya," kata Ronny. Selain itu,
Perumka melakukan pendekatan dengan pamong sepanjang jalur KA yang
sering diganggu pelemparan, dan hasilnya gangguan itu agak
berkurang.
Namun satu cara yang kini mulai dikerjakan oleh pencoleng
adalah menyamar sebagai penumpang KA dan membeli karcis, yang sejak
dari stasiun pemberangkatan sudah mengincar calon korban. Di
perjalanan, ia akan menjalankan metode geser, yaitu menukar ì
barang korban saat ia lengah, atau saat ia terlelap, pergi ke WC atau ke
restorasi.
Karenanya, menurut Udiyo Basuki SH, Kepala Security Peleton
Polsuska Yogyakarta, penumpang KA bagaimanapun harus ekstra hati-
hati, terutama jika mendapat kenalan baru di atas kereta. "Belum
tentu dia orang baik-baik," kata alumnus Fak Hukum Universitas Islam
Indonesia itu.
Pernyataan ini diperkuat oleh Kepala Seksi Eksternal Humas
Perumka Pusat, Dra Nenny SH (Siti Hasanah). "Penumpang sebaiknya
tidak membawa atau mengenakan barang berharga, sebab bisa merangsang
penjahat beraksi," tuturnya.
Pada dasarnya, meski Perumka menyediakan pengawalan, baik dari
polsuska maupun dari Brimob, penumpang seharusnya tetap waspada,
tidak mengandalkan petugas. Apalagi, untuk seluruh jalurnya, Perumka
cuma memiliki 500 polsus, dan ini adalah jumlah yang sangat kecil.
***
Kejahatan di Kereta Api
JENDELA TERBUKA, PENIMBA DATANG
Pengantar Redaksi
KEJAHATAN di atas kereta api kembali muncul, meski upaya aparat
keamanan dengan melakukan operasi dan penangkapan bisa disebut
sukses. Bagaimana bentuk kejahatan di atas kereta, serta dilema yang
dihadapi petugas Polsuska, disajikan dari bahan-bahan dikumpulkan
oleh wartawan Kompas, Agus Mulyadi, Tjahya Gunawan, Hindaryoen NTS,
Djoko Pournomo, Thomas Pudjowidiyanto dan Doddy Wisnu Pribadi serta
Moch S Hendrowijono yang merangkumnya dalam dua tulisan, di halaman ì
ini.
SUDAH lewat tengah malam di akhir September tahun lalu, ketika
KA Bangunkarta dari Jombang ke Jakarta pelan-pelan meninggalkan
stasiun Cirebon. Orang sudah mulai bergelimpangan di lantai kereta.
Pemandangannya jadi seperti dalam pengungsian, saat orang
memanfaatkan sejengkal lahan untuk sekadar istirahat setelah mereka
terusir karena bencana alam. Kalau saja bunyi roda kereta melintas
persambungan tidak terdengar demikian keras, antara lain karena
pintu dan persambungan kereta yang terbuka, pasti dengkur orang-
orang itu terdengar jelas.
Suyadi (57) saat itu duduk di bangku kedua dekat pintu, satu
kursi dengan seorang nenek yang sepanjang perjalanan menekukkan
kepalanya, tidur nyenyak. Nenek yang akan menengok anaknya di
Cempaka Putih Jakarta itu tak sadar, tetesan air sirihnya yang
berwarna merah darah turun dari sela-sela sudut bibirnya. Di depan
Suyadi duduk seorang lelaki setengah umur yang sejak awal
mengajaknya bercakap-cakap terus sehingga ia kecapaian. Diliriknya
jam tangannya, sudah lewat pukul 02.00 dinihari. Ia menggeser
duduknya sedikit dan menyandarkan kepalanya ke sudut antara sandaran
kursi dan dinding kereta, sekadar mencari posisi enak untuk
memejamkan mata, tidur-tidur ayam.
Plasss, rasanya enak sekali terlena, meski bisa jadi cuma
semenit dua. Ia membuka mata, lelaki di depannya tidak ada, mungkin
ke kamar kecil. Ia siap memejamkan matanya lagi, ketika tiba-tiba
saja ia tersentak. Tas di meja kecil di depannya sudah raib. Ia
celingukan ke kanan-kiri, tapi tak ada gerakan mencurigakan. Semua
orang terlelap. Ia bangkit, lalu lari melangkahi beberapa tubuh yang
tergeletak sambil tak lupa mengucap "Amit..", menuju ke pintu. ì
Pintu terbuka lebar, di kanan maupun di kiri. Tak ada satu orang pun di
sana, tak ada juga lelaki yang ramah tadi.
Rahangnya berkerot kesal. ì
"Gandrik..., sudah pasti lelaki tadi," gerutunya. Pasti dia yang ì
menjarahnya saat ia terlena, padahal tak sampai lima menit. Padahal ia ì
sudah ekstra hati-hati, dengan menempatkan tas itu di sisi kirinya, ì
terhimpit antara badannya dengan dinding kereta. Hanya saat ia mencari ì
posisi enak tadi, saat ia mulai percaya lingkungannya, saat kecurigaan ì
kepada tetangga duduknya sudah mulai sirna, ia memindahkan tas kecil itu ì
ke meja, setelah menyingkirkan gelas-gelas kotor. Itu pun, saat
memindahkan tas, ia sudah memandang muka si lelaki tadi sambil
senyum, seolah minta ikut dijagai, dan si lelaki seolah mengerti,
mengangguk sambil senyum juga.
Pensiunan guru itu marah besar, padahal isi tas itu tak
seberapa bagi lelaki tadi. Di dalam tas kecil itu cuma ada empat
buah mangga yang ranum, dan amplop berisi uang Rp 15.000 titipan
istrinya. Semua untuk anaknya di Jakarta yang sedang hamil anak
pertama, yang mengidam mangga yang tumbuh di halaman rumahnya di
Jombang. Calon kakek itu pun merasa perjalanannya sia-sia saja.#l#
* * *
SUYADI bukan orang pertama yang menjadi korban kejahatan di
atas kereta api. Banyak orang senasib, di antaranya enggan melapor
karena yang dicuri pun barang "sepele". Seperti halnya Teguh
Santoso, yang dijambret kacamatanya oleh seorang pedagang asongan
yang baru saja menawarkan dagangan di atas KA Sawunggalih jurusan
Purwokerto -- Jakarta. Warga Pondok Kelapa Jakarta Timur itu enggan
melapor, karena khawatir malah akan menghambat perjalanannya.
Padahal kacamata itu baru dibelinya Rp 95.000.
Sikap Suyadi atau Santoso yang memilih untuk tidak melaporkan
kejahatan itu kepada Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) atau
aparat keamanan lainnya, seperti sudah menjadi sikap umum para
penumpang kereta api. "Sikap demikian ini justru akan menyulitkan
pengusutan yang dilakukan polisi," ujar Kapolwil Banyumas, Kolonel
Pol Drs Anwari SH.
Dengan tidak melaporkan kasus-kasus kejahatan seperti itu,
polisi akan kesulitan melacak tersangka pelakunya. Meski pada
akhirnya, berbekal laporan yang sedikit, Polwil Banyumas berhasil
menggulung tiga kelompok penjahat di atas kereta.
Kejahatan di atas KA, terutama yang berjadwal malam dan di
kelas ekonomi, tampaknya giat lagi. Kejahatan terjadi umumnya pada ì
saat-saat penumpang pulas tidur antara pukul 01.00 hingga 03.00, walau ì
ada juga yang terjadi sore hari, atau pagi menjelang matahari terbit. ì
Bukan kebetulan, jika pada jam-jam rawan itu justru kereta api umumnya ì
berada di wilayah Banyumas, baik yang datang dari Jakarta, maupun dari ì
arah Surabaya, atau Bandung. Ini terutama antara stasiun Kroya -- ì
Kutoarjo (arah ke Yogyakarta), Kroya -- Sidareja (arah ke Bandung) dan ì
Kroya ke Purwokerto -- Prupuk (arah ke Jakarta).
Walaupun demikian, daerah selepas Cirebon, misalnya antara
Pegaden Baru -- Cikampek dan Cirebon -- Brebes -- Tegal, termasuk rawan
pula. Utamanya pada saat-saat tiadanya petugas polsuska karena
pergantian wilayah.
Usaha untuk menanggulangi berbagai gangguan KA sebenarnya sudah
dilakukan secara rutin. Khususnya yang dilakukan oleh polisi dan
aparat keamanan lainnya. Perumka misalnya menempatkan petugas
Polsuska untuk melakukan tugas pengawalan dan pengamanan KA terutama
pada rangkaian KA terbuka, KA kelas ekonomi. Sementara penjagaan di
KA-KA berbendera, misalnya KA Mutiara, Bima atau Senja, Perumka
mendapat bantuan tenaga Brimob.
"Polsuska yang bertugas di Daop V masih sangat terbatas," ujar
Kepala Daop (Daerah Operasi) V Perumka, Ir Suprayitno didampingi
Kepala Seksi Operasi, Sunyoto ketika ditemui Kompas. Wilayah Daop V yang ì
jalur KA-nya sangat luas dan frekuensi paling tinggi, hanya punya 24 ì
orang anggota polsuska. Padahal idealnya 60 orang untuk mengawasi 68 ì
rangkaian KA penumpang dan barang pergi pulang dari arah Purwokerto, ì
sebagian besar jalan malam.
* * *
KEJAHATAN di atas KA, sebenarnya kejahatan kecil-kecilan, bukan
penjahat kaliber dan profesional. "Umumnya hanya sebatas orang lapar
saja, yang diambil pun barang seadanya," ujar Djatmiko, reserse
Polsuska Perumka Wilu (wilayah usaha) Jawa di Semarang. Mereka ini,
katanya, banyak datang justru dari kalangan pedagang asongan, yang
frustrasi karena terus-terusan dikejar-kejar petugas saat berdagang.
Mereka menjambret saat KA mulai jalan seperti yang dialami oleh
Teguh Santoso, "untuk mendapat tambahan penghasilan". Sasarannya pun
umumnya KA kelas ekonomi yang selain kurang mendapat pengawalan,
juga memberi peluang sangat besar.
Namun justru karena dicurigai sumbernya dari kalangan asongan,
banyak stasiun yang kini dibersihkan dari pedagang itu. Cirebon,
misalnya, kini lengang dari asongan, juga Kroya dan Purwokerto.
Meski di stasiun yang terakhir ini masih ada asongan, tapi semua
terawasi lewat seragam asongan warna biru bernomor.
Hadi, kondektur KA Bangunkarta setiap kali merasa was-was jika
KA yang ditumpanginya itu dinaiki pedagang asongan. Apalagi jika
mereka tidak segera turun begitu peluit kereta berbunyi sebagai
tanda untuk berangkat. "Kalau ada asongan ngider saat KA jalan,
pasti akan ada penumpang yang kecurian," tuturnya.
Padahal, mengusir pedagang asongan tidak mudah. "Biasanya
pengusiran malah jadi bumerang bagi petugas yang bersangkutan karena
ia jadi incaran balas dendam pedagang yang merasa diusir itu. Hal
seperti ini pernah terjadi di Cikampek," ujar seorang perwira
menengah polisi yang dikaryakan di Perumka Pusat sebagai pembina
polsuska.
Memang tidak semua pedagang asongan melakukan kerja rangkap
itu. Ada yang benar-benar bersih, ada pula yang sekadar membantu
kelancaran kejahatan, dengan melaporkan situasi yang ada kepada
penjahat. Sambil mengasong, ia melihat barang-barang yang berada di
tempat yang mudah diambil, misalnya di meja dekat jendela, atau yang
terletak di tiga baris kursi pertama dekat jendela. Ia lalu
melaporkan pada rekannya yang akan beroperasi pada saat KA berjalan,
baik dari bawah atau di atas kereta.
***
ADA satu cara yang riskan sekali, yang sering dilakukan oleh
para perampok. Cara ini disebut nimba, yang dilakukan oleh dua
orang, satu berperan sebagai penimba, satu lagi sebagai timbanya.
Mereka benar-benar berani menantang maut, dengan si timba
menjulurkan badannya dari atas atap kereta yang sedang berjalan
kencang, ke arah jendela. Sambil kedua kakinya dipegangi oleh
penimba di atap, tangannya masuk lewat jendela yang terbuka,
mengambil barang yang ada di meja dekat jendela.
Berhasil atau tidak, si timba akan segera ditarik ke atas, lalu
keduanya lari melompat-lompat ke gerbong lain, lalu turun di salah
satu sambungan, terus melompat ke tanah. "Mereka punya keahlian
meloncat dari KA," ujar Saroni (52) anggota Polsuska Stasiun
Cirebon.
Praktek demikian ini bisa berjalan mulus antara lain karena
banyak stasiun yang terbuka, sehingga orang bebas keluar masuk.
Selain itu kondisi kereta kelas ekonomi juga sangat buruk. Jendela
banyak yang pecah, atau tak bisa ditutup. Atau juga karena memang
dibuka oleh penumpang akibat kepanasan karena ventilasi yang tidak
baik. Pencoleng pun mudah kabur, sebab umumnya persambungan kereta
kelas ini terbuka, pintu-pintu pun banyak yang tak bisa dikunci,
atau bahkan tak ada daun pintunya.
Tidak cuma itu, jendela WC umumnya sudah terlepas, dan kemudian
WC jadi tempat penumpang, karena fasilitas kamar kecil itu sejak
lama tak ada. Ketika hal ini ditanyakan kepada seorang pejabat
Perumka, walau dengan nada berkelakar, ia ketus menjawab, "Lha wong
mbayare murah, kok mau fasilitas komplet". KA Ekonomi memang murah,
untuk jarak 750 km Jakarta -- Surabaya, dengan Rp 9.000 orang Jakarta
tahu beres sampai Surabaya.
Kondisi buruk kereta diperjelek lagi dengan banyaknya ì
pelemparan-pelemparan batu dari luar, sehingga banyak kaca-kaca
pecah, bahkan tak jarang mencederai penumpang. Menurut Ir Ronny
Wahjudi, Kadaop III Cirebon, pelemparan ini biasanya dilakukan
remaja yang nakal. "Kami pernah tangkap satu, kami haruskan dia
mengganti, dan kami laporkan ke sekolahnya," kata Ronny. Selain itu,
Perumka melakukan pendekatan dengan pamong sepanjang jalur KA yang
sering diganggu pelemparan, dan hasilnya gangguan itu agak
berkurang.
Namun satu cara yang kini mulai dikerjakan oleh pencoleng
adalah menyamar sebagai penumpang KA dan membeli karcis, yang sejak
dari stasiun pemberangkatan sudah mengincar calon korban. Di
perjalanan, ia akan menjalankan metode geser, yaitu menukar ì
barang korban saat ia lengah, atau saat ia terlelap, pergi ke WC atau ke
restorasi.
Karenanya, menurut Udiyo Basuki SH, Kepala Security Peleton
Polsuska Yogyakarta, penumpang KA bagaimanapun harus ekstra hati-
hati, terutama jika mendapat kenalan baru di atas kereta. "Belum
tentu dia orang baik-baik," kata alumnus Fak Hukum Universitas Islam
Indonesia itu.
Pernyataan ini diperkuat oleh Kepala Seksi Eksternal Humas
Perumka Pusat, Dra Nenny SH (Siti Hasanah). "Penumpang sebaiknya
tidak membawa atau mengenakan barang berharga, sebab bisa merangsang
penjahat beraksi," tuturnya.
Pada dasarnya, meski Perumka menyediakan pengawalan, baik dari
polsuska maupun dari Brimob, penumpang seharusnya tetap waspada,
tidak mengandalkan petugas. Apalagi, untuk seluruh jalurnya, Perumka
cuma memiliki 500 polsus, dan ini adalah jumlah yang sangat kecil.
***
Kompleks Makam Sunan Gunung Jati, Menyimpan Bukti Sejarah Hubungan dengan Cina
KOMPAS - Minggu, 10 Nov 1991 Halaman: 8 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 7956
Kompleks Makam Sunan Gunung Jati
MENYIMPAN BUKTI SEJARAH HUBUNGAN DENGAN CINA
KOMPLEKS Makam Sunan Gunung Jati, sekitar 10 kilometer utara
pusat kota Cirebon, mempunyai nilai historis yang tinggi. Nama ini
mengambil nama salah seorang Walisanga penyebar Islam di Jawa,
Sunan Gunung Jati, yang dimakamkan di kompleks ini.
Sebutan Makam Gunung Jati oleh para peziarah dan penduduk
sekitar Cirebon itu sebenarnya meliputi dua tempat berbeda. Kompleks
pemakaman yang satu terletak di Gunung (Bukit) Jati, dan satunya
lagi berada di sebelah barat berada di Gunung (Bukit) Sembung. Kedua
bukit itu dipisahkan jalan raya Indramayu-Cirebon dan beberapa rumah
penduduk.
Gunung Sembung sebenarnya tempat Sunan Gunung Jati dimakamkan.
Sedangkan yang dimakamkan di Gunung (Bukit) Jati antara lain Syekh
Idlofi Mahdi, ulama yang lebih dulu menyebarkan Islam di daerah
sekitar wilayah ini.
Pada permulaan abad ke-15 di utara Gunung Jati sekarang,
terdapat Pelabuhan Muara Jati yang disinggahi pedagang dari India,
Arab, dan Cina. Waktu itu Ki Surawijaya yang menjadi penguasa daerah
dan Syahbandar Muara Jati adalah Ki Jumajan Jati. Salah seorang di
antara pedagang, Syeh Idlofi Mahdi yang datang pada tahun 1420
Masehi, minta izin untuk tinggal di tempat ini guna memperlancar
usaha dagangnya. Dia diizinkan tinggal di Kampung Pasambangan di
mana terletak Bukit Jati.
Dari tempat itulah Syeh Idlofi Mahdi mulai berdakwah tentang
agama Islam, dan mengajak penduduk sekitar memeluk Islam. Dan agar
mereka yang menjadi muridnya lebih tenang mempelajari agama baru
itu, ia kemudian memilih tempat di Gunung Jati untuk kegiatan
pengajaran agama. Akhirnya tempat ini dikenal sebagai Pengguron
Jati. Di luar waktu dakwah, kebiasaan Syekh Idlofi adakah tafakur
sendirian di salah satu gua di puncak Gunung Jati. Karena itulah
para santrinya memanggil dia dengan nama Syekh Dzatul Kahfi, yang
artinya "sesepuh yang mendiami gua". Selain sebutan itu, karena
Gunung Jati menjadi bersinar dengan syiar Islam yang diajarkannya,
maka masyarakat Pasambangan menghormatinya sebagai Syekh Nur Jati
yang artinya "sesepuh yang menyinari Gunung Jati".
Salah seorang murid Syekh Dzatul Kahfi adalah Ratu Rarasantang,
salah seorang puteri Prabu Siliwangi dari Padjadjaran. Ia ibunda
Syarif Hidayatullah yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Ratu Rarasantang bersama kakaknya -- Raden Walangsungsang yang
kemudian dikenal sebagai Pangeran Cakrabuwana pendiri Cirebon --
memperdalam agama Islam.
Penyebar pertama Islam di Cirebon itu sampai akhir hayatnya
tinggal di Gunung Jati dan dimakamkan di puncak gunung ini. Sampai
sekarang, makam itu menjadi salah satu tujuan peziarah.
***
PANGERAN Cakrabuwana yang tinggal di Tegal Alang-alang kemudian
diangkat menjadi akuwu (kepala daerah) di padukuhan itu. Padukuhan
ini semakin berkembang dan kemudian dikenal sebagai Caruban.
Perkembangannya semakin pesat sehingga menjadi sebuah negeri dengan
nama Nagari Caruban Larang (asal mula Cirebon sekarang). Meski
kesibukannya bertambah, Pangeran Cakrabuwana tetap rutin mengunjungi
gurunya di Gunung Jati. Ia kemudian membangun sebuah taman di Gunung
Sembung (sebelah barat Gunung Jati). Di tempat inilah Syarif
Hidayatullah kemudian tinggal bersama ibunya, Nyai Rara Santang yang
kemudian dikenal dengan nama Syarifah Mudaim. Alasan sang ibunda
agar selalu dekat dengan makam gurunya, Syekh Dzatul Kahfi.
Dari Gunung Sembung inilah Syarif Hidayatullah -- yang kelak
diangkat sebagai penguasa Nagari Caruban oleh Pangeran Cakrabuwana
dengan gelar Susuhunan atau Sunan -- mulai mengajarkan Islam
sebagai penerus di Pangguron Gunung Jati.
Syarif Hidayatullah yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung
Jati, setelah wafat dimakamkan di Gunung Sembung. Pada masa-masa
selanjutnya tempat itu dijadikan tempat pemakaman raja-raja dan
kerabat Keraton Cirebon.
***
KOMPLEKS pemakaman Gunung Sembung dan Gunung Jati, selalu ramai
dikunjungi orang yang berziarah. Bahkan dalam setiap Jumat Kliwon
ribuan peziarah datang, sehingga jalan raya antara Cirebon-
Indramayu ditutup dan lalulintas dialihkan ke ruas jalan lain.
Kepadatan pengunjung mencapai puncaknya pada waktu Muludan, perayaan
Maulid Nabi Muhammad SAW. Jalan ditutup untuk beberapa hari akibat
membludaknya pengunjung.
Sebenarnya peziarah tidak bisa melihat langsung dan mendekati
makam Sunan Gunung Jati. Mereka dibatasi sampai di depan pintu
serambi muka yang dikenal dengan Selamatangkep. Sekali-sekali pintu
ini dibuka beberapa menit. Dan dari pintu inilah akan terlihat
tangga dan beberapa pintu yang menuju makam Sunan Gunung Jati di
bagian puncak Gunung Sembung. Di sebelah timur pemakaman ada masjid
yang dikenal dengan nama Masjid Astana Gunung Jati.
Di kompleks ini dimakamkan pula seorang puteri Cina, Ong Tien,
yang dikenal juga dengan nama Rara Sumanding, salah seorang istri
Sunan Gunung Jati. Karena itu untuk peziarah Cina disediakan
ruangan khusus di bagian barat dalam serambi muka itu.
Kompleks pemakaman Gunung Sembung dijaga oleh 108 orang
petugas. Konon jumlah itu bermula dari jumlah pasukan di bawah
pimpinan Adipati Keling yang menjadi salah satu taklukan Sunan
Gunung Jati. Petugas di pemakaman dibagi menjadi sembilan kelompok
masing-masing 12 orang, dan berjaga bergilir selama 15 hari. Mereka
diketuai seorang Bekel Anon dan seorang Bekel Sepuh, yang berasal
dari Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan di Cirebon.
Pengunjung kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati, sebagian di
antaranya berziarah dengan tujuan mencari berkah. Hingga tidak aneh,
jika di kompleks itu banyak orang-orang yang mencari "berkah
langsung". Mereka adalah sekelompok pengemis. Baik anak-anak,
wanita, maupun laki-laki dewasa.
***
DI kompleks pemakaman Gunung Sembung terdapat sembilan macam
pintu, yang memisahkan makam-makam kerabat keraton di Cirebon. Pintu
Gapura, Pintu Krapyak, Pintu Pasujudan, Pintu Ratna Komala, Pintu
Jinem, Pintu Rawagora, Pintu Kaca, Pintu Bacem, dan Pintu Teratai.
Pintu-pintu itu membatasi suatu ruangan dalam ketinggian berbeda
menuju ke puncak gunung, di mana terdapat makam Sunan Gunung Jati,
makam sebagian istri-istrinya, serta kerabat keraton lainnya.
Pemandangan mencolok mata lainnya yang akan dijumpai pengunjung
adalah banyak ditempelkannya piring keramik kuno asal Cina. Hampir
di semua bagian kompleks pemakaman, keramik-keramik kuno ini di
tanam ke dalam dinding. Diduga benda-benda ini berasal dari
saudagar-saudagar Cina yang berdagang di Cirebon pada zaman itu, dan
bawaan puteri Ong Tien dari negaranya.
Di bagian lain yaitu di serambi muka akan ditemui guci-guci
kuno. Salah seorang dari empat ulama Cina yang berkunjung ke
Cirebon, Haji Iman Soleh Anchi Wei, Imam di Masjid Dongxi, Beijing,
yang berkunjung ke kompleks pemakaman ini Selasa (23/10),
melontarkan kekagumannya atas masih tersimpannya guci-guci kuno
tersebut. Padahal di Cina sendiri, guci-guci seperti itu sudah
merupakan barang langka.
Keluarga Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman melakukan ziarah
pada saat Gerebeg Syawal (Lebaran). Pada waktu itu pintu-pintu
dibuka, untuk memberi kesempatan keluarga keraton mengirimkan doa.
Namun pengunjung umum tetap tidak dibolehkan masuk ke bagian-bagian
makam kerabat keraton, dan hanya sampai di depan Pintu Selamatangkep
di serambi muka itu. Dari tempat itulah pengunjung mengirimkan
doanya. (agus mulyadi)
Foto: 1
Kompas/bsp
ZIARAH -- Peziarah di Makam Sunan Gunung Jati - Cirebon tengah
mengirim doa kepada salah seorang Walisanga ini. Mereka hanya bisa
mendekat sampai batas Pintu Selamattangkep.
Kompleks Makam Sunan Gunung Jati
MENYIMPAN BUKTI SEJARAH HUBUNGAN DENGAN CINA
KOMPLEKS Makam Sunan Gunung Jati, sekitar 10 kilometer utara
pusat kota Cirebon, mempunyai nilai historis yang tinggi. Nama ini
mengambil nama salah seorang Walisanga penyebar Islam di Jawa,
Sunan Gunung Jati, yang dimakamkan di kompleks ini.
Sebutan Makam Gunung Jati oleh para peziarah dan penduduk
sekitar Cirebon itu sebenarnya meliputi dua tempat berbeda. Kompleks
pemakaman yang satu terletak di Gunung (Bukit) Jati, dan satunya
lagi berada di sebelah barat berada di Gunung (Bukit) Sembung. Kedua
bukit itu dipisahkan jalan raya Indramayu-Cirebon dan beberapa rumah
penduduk.
Gunung Sembung sebenarnya tempat Sunan Gunung Jati dimakamkan.
Sedangkan yang dimakamkan di Gunung (Bukit) Jati antara lain Syekh
Idlofi Mahdi, ulama yang lebih dulu menyebarkan Islam di daerah
sekitar wilayah ini.
Pada permulaan abad ke-15 di utara Gunung Jati sekarang,
terdapat Pelabuhan Muara Jati yang disinggahi pedagang dari India,
Arab, dan Cina. Waktu itu Ki Surawijaya yang menjadi penguasa daerah
dan Syahbandar Muara Jati adalah Ki Jumajan Jati. Salah seorang di
antara pedagang, Syeh Idlofi Mahdi yang datang pada tahun 1420
Masehi, minta izin untuk tinggal di tempat ini guna memperlancar
usaha dagangnya. Dia diizinkan tinggal di Kampung Pasambangan di
mana terletak Bukit Jati.
Dari tempat itulah Syeh Idlofi Mahdi mulai berdakwah tentang
agama Islam, dan mengajak penduduk sekitar memeluk Islam. Dan agar
mereka yang menjadi muridnya lebih tenang mempelajari agama baru
itu, ia kemudian memilih tempat di Gunung Jati untuk kegiatan
pengajaran agama. Akhirnya tempat ini dikenal sebagai Pengguron
Jati. Di luar waktu dakwah, kebiasaan Syekh Idlofi adakah tafakur
sendirian di salah satu gua di puncak Gunung Jati. Karena itulah
para santrinya memanggil dia dengan nama Syekh Dzatul Kahfi, yang
artinya "sesepuh yang mendiami gua". Selain sebutan itu, karena
Gunung Jati menjadi bersinar dengan syiar Islam yang diajarkannya,
maka masyarakat Pasambangan menghormatinya sebagai Syekh Nur Jati
yang artinya "sesepuh yang menyinari Gunung Jati".
Salah seorang murid Syekh Dzatul Kahfi adalah Ratu Rarasantang,
salah seorang puteri Prabu Siliwangi dari Padjadjaran. Ia ibunda
Syarif Hidayatullah yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Ratu Rarasantang bersama kakaknya -- Raden Walangsungsang yang
kemudian dikenal sebagai Pangeran Cakrabuwana pendiri Cirebon --
memperdalam agama Islam.
Penyebar pertama Islam di Cirebon itu sampai akhir hayatnya
tinggal di Gunung Jati dan dimakamkan di puncak gunung ini. Sampai
sekarang, makam itu menjadi salah satu tujuan peziarah.
***
PANGERAN Cakrabuwana yang tinggal di Tegal Alang-alang kemudian
diangkat menjadi akuwu (kepala daerah) di padukuhan itu. Padukuhan
ini semakin berkembang dan kemudian dikenal sebagai Caruban.
Perkembangannya semakin pesat sehingga menjadi sebuah negeri dengan
nama Nagari Caruban Larang (asal mula Cirebon sekarang). Meski
kesibukannya bertambah, Pangeran Cakrabuwana tetap rutin mengunjungi
gurunya di Gunung Jati. Ia kemudian membangun sebuah taman di Gunung
Sembung (sebelah barat Gunung Jati). Di tempat inilah Syarif
Hidayatullah kemudian tinggal bersama ibunya, Nyai Rara Santang yang
kemudian dikenal dengan nama Syarifah Mudaim. Alasan sang ibunda
agar selalu dekat dengan makam gurunya, Syekh Dzatul Kahfi.
Dari Gunung Sembung inilah Syarif Hidayatullah -- yang kelak
diangkat sebagai penguasa Nagari Caruban oleh Pangeran Cakrabuwana
dengan gelar Susuhunan atau Sunan -- mulai mengajarkan Islam
sebagai penerus di Pangguron Gunung Jati.
Syarif Hidayatullah yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung
Jati, setelah wafat dimakamkan di Gunung Sembung. Pada masa-masa
selanjutnya tempat itu dijadikan tempat pemakaman raja-raja dan
kerabat Keraton Cirebon.
***
KOMPLEKS pemakaman Gunung Sembung dan Gunung Jati, selalu ramai
dikunjungi orang yang berziarah. Bahkan dalam setiap Jumat Kliwon
ribuan peziarah datang, sehingga jalan raya antara Cirebon-
Indramayu ditutup dan lalulintas dialihkan ke ruas jalan lain.
Kepadatan pengunjung mencapai puncaknya pada waktu Muludan, perayaan
Maulid Nabi Muhammad SAW. Jalan ditutup untuk beberapa hari akibat
membludaknya pengunjung.
Sebenarnya peziarah tidak bisa melihat langsung dan mendekati
makam Sunan Gunung Jati. Mereka dibatasi sampai di depan pintu
serambi muka yang dikenal dengan Selamatangkep. Sekali-sekali pintu
ini dibuka beberapa menit. Dan dari pintu inilah akan terlihat
tangga dan beberapa pintu yang menuju makam Sunan Gunung Jati di
bagian puncak Gunung Sembung. Di sebelah timur pemakaman ada masjid
yang dikenal dengan nama Masjid Astana Gunung Jati.
Di kompleks ini dimakamkan pula seorang puteri Cina, Ong Tien,
yang dikenal juga dengan nama Rara Sumanding, salah seorang istri
Sunan Gunung Jati. Karena itu untuk peziarah Cina disediakan
ruangan khusus di bagian barat dalam serambi muka itu.
Kompleks pemakaman Gunung Sembung dijaga oleh 108 orang
petugas. Konon jumlah itu bermula dari jumlah pasukan di bawah
pimpinan Adipati Keling yang menjadi salah satu taklukan Sunan
Gunung Jati. Petugas di pemakaman dibagi menjadi sembilan kelompok
masing-masing 12 orang, dan berjaga bergilir selama 15 hari. Mereka
diketuai seorang Bekel Anon dan seorang Bekel Sepuh, yang berasal
dari Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan di Cirebon.
Pengunjung kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati, sebagian di
antaranya berziarah dengan tujuan mencari berkah. Hingga tidak aneh,
jika di kompleks itu banyak orang-orang yang mencari "berkah
langsung". Mereka adalah sekelompok pengemis. Baik anak-anak,
wanita, maupun laki-laki dewasa.
***
DI kompleks pemakaman Gunung Sembung terdapat sembilan macam
pintu, yang memisahkan makam-makam kerabat keraton di Cirebon. Pintu
Gapura, Pintu Krapyak, Pintu Pasujudan, Pintu Ratna Komala, Pintu
Jinem, Pintu Rawagora, Pintu Kaca, Pintu Bacem, dan Pintu Teratai.
Pintu-pintu itu membatasi suatu ruangan dalam ketinggian berbeda
menuju ke puncak gunung, di mana terdapat makam Sunan Gunung Jati,
makam sebagian istri-istrinya, serta kerabat keraton lainnya.
Pemandangan mencolok mata lainnya yang akan dijumpai pengunjung
adalah banyak ditempelkannya piring keramik kuno asal Cina. Hampir
di semua bagian kompleks pemakaman, keramik-keramik kuno ini di
tanam ke dalam dinding. Diduga benda-benda ini berasal dari
saudagar-saudagar Cina yang berdagang di Cirebon pada zaman itu, dan
bawaan puteri Ong Tien dari negaranya.
Di bagian lain yaitu di serambi muka akan ditemui guci-guci
kuno. Salah seorang dari empat ulama Cina yang berkunjung ke
Cirebon, Haji Iman Soleh Anchi Wei, Imam di Masjid Dongxi, Beijing,
yang berkunjung ke kompleks pemakaman ini Selasa (23/10),
melontarkan kekagumannya atas masih tersimpannya guci-guci kuno
tersebut. Padahal di Cina sendiri, guci-guci seperti itu sudah
merupakan barang langka.
Keluarga Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman melakukan ziarah
pada saat Gerebeg Syawal (Lebaran). Pada waktu itu pintu-pintu
dibuka, untuk memberi kesempatan keluarga keraton mengirimkan doa.
Namun pengunjung umum tetap tidak dibolehkan masuk ke bagian-bagian
makam kerabat keraton, dan hanya sampai di depan Pintu Selamatangkep
di serambi muka itu. Dari tempat itulah pengunjung mengirimkan
doanya. (agus mulyadi)
Foto: 1
Kompas/bsp
ZIARAH -- Peziarah di Makam Sunan Gunung Jati - Cirebon tengah
mengirim doa kepada salah seorang Walisanga ini. Mereka hanya bisa
mendekat sampai batas Pintu Selamattangkep.
Busung Lapar dan Kelalaian Negara
KOMPAS - Sabtu, 27 Feb 1999 Halaman: 8 Penulis: THY/MUL Ukuran: 5199
BUSUNG LAPAR DAN KELALAIAN NEGARA
ANGGA, bayi berumur enam bulan, tergolek lemah. Matanya lebih
sering terpejam. Kalaupun sesekali terbuka, matanya kelihatan cekung
dan sayu. Badannya kurus kering dan kakinya mulai membengkak.
Karena tidak ada gairah untuk makan dan menyusu, dokter yang
merawatnya di Rumah Sakit Arjawinangun Cirebon memberinya makan
tambahan melalui saluran infus. "Ketika lahir kondisinya normal. Hanya
belakangan ini saja badannya melemah dan semakin kurus," kata Madi
(35), ayah Angga.
Buruh tani miskin yang tinggal di rumah teramat sederhana di Desa
Bobos, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon ini tidak mengetahui
anaknya menderita marasmic kwashiorhor atau lebih parah dari sekadar
gizi buruk dan hampir mendekati busung lapar. Selain kemiskinan,
ketidaktahuannya memilih makanan yang bergizi, menyebabkan Angga harus
terganggu pertumbuhan badan dan fungsi otaknya.
Namun bukan hanya Angga yang mengalami penderitaan demikian.
Sofiah, bayi berumur 12 bulan, juga harus mengalami nasib serupa.
Ayahnya, Sarkin (36) buruh tani dan tinggal di Desa Kejuden, Kecamatan
Plumbon sekitar 15 kilometer sebelah barat pusat kota Cirebon, juga
tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi Sofiah.
Berat badan Sofiah hanya sekitar 5 kg atau separuh dari berat
badan normal. Selain berat badannya rendah, kondisi tubuhnya sangat
kurus, rambut kemerahan dan kelopak matanya cekung. Sofiah hanya bisa
terbaring lemah dengan tatapan mata sayu.
Selain Angga dan Sofiah, tercatat masih ada enam bayi lain yang
mendekati tahap busung lapar dan sekitar 27.000 bayi lainnya yang
bergizi buruk yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Cirebon. Jika
status gizi bayi dapat dijadikan indikator kemiskinan-seperti
disimpulkan dalam disertasi Dr Herman Sudiman-maka hal ini tercermin
gamblang di seluruh wilayah Kabupaten Cirebon.
***
IRONIS memang. Program Jaring Perlindungan Sosial Bidang Kesehatan
(JPSBK) berdana hampir Rp 2 trilyun nyaris habis disebar, namun
laporan munculnya bayi-bayi gizi buruk makin gencar saja. Paling tidak
di Jawa Barat, bukan hanya di Kabupaten Cirebon saja, tapi juga di
Kodya dan Kabupaten Tangerang yang tak jauh dari Jakarta, sudah
dilaporkan dua bayi mati karena kekurangan gizi.
Selain dua bayi yang telanjur mati, hingga kini setidaknya masih
ada dua bayi lagi di Kodya Tangerang yang menderita busung lapar.
Mereka kini tergolek lemah di dua ranjang perawatan yang terletak
berdampingan, di Paviliun Kemuning, RSU Tangerang. Sorot mata mereka
sayu. Perut kedua bayi terlihat membesar, seperti wanita hamil tua.
Sedangkan bagian tubuh lainnya terlihat kurus, dengan tulang-tulang
menonjol.
Adelia (sembilan bulan) dan Ahmad Jaya (26 bulan), dua bayi itu,
sudah seminggu lebih harus menjalani perawatan di RSU Tangerang.
Krisis ekonomi berkepanjangan, telah melahirkan bayi-bayi generasi
penerus yang kurang makan. Makanan seadanya di zaman serba sulit ini,
mengakibatkan Adelia dan Ahmad Jaya didera perut lapar. Puluhan bayi
lain di Kotamadya Tangerang, dan sejumlah bayi lain di Kabupaten
Tangerang, diketahui telah mengalami kekurangan gizi.
Bibi Adelia, Melan (20), yang menungguinya di RSU Tangerang,
menyebutkan, ihwal penderitaan Adelia berawal dari perceraian kedua
orang tuanya beberapa bulan lalu. Adelia yang masih bayi pun ikut
ibunya, Mega (18), warga Kelurahan Pasirjaya, Kecamatan Jatiuwung,
Kodya Tangerang.
Dengan penghasilan pas-pasan sebagai buruh pabrik, Mega berusaha
mencukupi makanan bagi anak tunggalnya itu.
"Mega hanya mampu membeli susu satu kaleng setelah gajian. Setelah
susu habis, Adelia hanya bisa diberi teh manis," kata Melan, Kamis
(25/2).
Perut Adelia sejak tiga bulan lalu membengkak. Dengan rujukan
petugas puskesmas Adelia dikirim ke RSU Tangerang sejak pekan lalu.
Dalam pemeriksaan dokter, dikatakan Adelia mengalami penyakit lever
(hati) yang menyebabkan perut bayi itu membengkak.
Kurangnya pemberian makanan bergizi, juga menyebabkan penderitaan
Ahmad Jaya, anak keenam dari tujuh anak. Menurut ibunya, Amsiah (27),
sejak ia hamil lagi Jaya pun tidak bisa netek. "ASI saya ganti dengan
air campur gula. Itu pun kalau saya sedang punya gula," kata Amsiah,
warga Desa Rajeg, Kabupaten Tangerang.
Selama lima bulan Jaya menyusu air gula, sampai akhirnya dia pun
terkena penyakit. Perutnya membesar, dan bagian tubuh lainnya kurus
kering. Menurut dr Bachtiar, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Tangerang, Ahmad Jaya juga menderita penyakit lain, seperti anemia,
kurang protein, dan infeksi pada saluran kencing.
Apapun penyakit bayi-bayi malang seperti Adelia dan Ahmad Jaya di
Tangerang, atau Angga dan Sofiah di Cirebon Pemerintah Indonesia tidak
bisa melepaskan tanggungjawabnya untuk menyelamatkan mereka. Bahkan
seharusnya mencegahnya lebih dini, jika tidak ingin dikatakan telah
terjadi kelalaian atau penelantaran oleh negara (state negligence)
yang jelas melanggar Konvensi PBB untuk Hak-hak Anak yang telah
diratifikasi Pemerintah Indonesia. (thy/mul)
BUSUNG LAPAR DAN KELALAIAN NEGARA
ANGGA, bayi berumur enam bulan, tergolek lemah. Matanya lebih
sering terpejam. Kalaupun sesekali terbuka, matanya kelihatan cekung
dan sayu. Badannya kurus kering dan kakinya mulai membengkak.
Karena tidak ada gairah untuk makan dan menyusu, dokter yang
merawatnya di Rumah Sakit Arjawinangun Cirebon memberinya makan
tambahan melalui saluran infus. "Ketika lahir kondisinya normal. Hanya
belakangan ini saja badannya melemah dan semakin kurus," kata Madi
(35), ayah Angga.
Buruh tani miskin yang tinggal di rumah teramat sederhana di Desa
Bobos, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon ini tidak mengetahui
anaknya menderita marasmic kwashiorhor atau lebih parah dari sekadar
gizi buruk dan hampir mendekati busung lapar. Selain kemiskinan,
ketidaktahuannya memilih makanan yang bergizi, menyebabkan Angga harus
terganggu pertumbuhan badan dan fungsi otaknya.
Namun bukan hanya Angga yang mengalami penderitaan demikian.
Sofiah, bayi berumur 12 bulan, juga harus mengalami nasib serupa.
Ayahnya, Sarkin (36) buruh tani dan tinggal di Desa Kejuden, Kecamatan
Plumbon sekitar 15 kilometer sebelah barat pusat kota Cirebon, juga
tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi Sofiah.
Berat badan Sofiah hanya sekitar 5 kg atau separuh dari berat
badan normal. Selain berat badannya rendah, kondisi tubuhnya sangat
kurus, rambut kemerahan dan kelopak matanya cekung. Sofiah hanya bisa
terbaring lemah dengan tatapan mata sayu.
Selain Angga dan Sofiah, tercatat masih ada enam bayi lain yang
mendekati tahap busung lapar dan sekitar 27.000 bayi lainnya yang
bergizi buruk yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Cirebon. Jika
status gizi bayi dapat dijadikan indikator kemiskinan-seperti
disimpulkan dalam disertasi Dr Herman Sudiman-maka hal ini tercermin
gamblang di seluruh wilayah Kabupaten Cirebon.
***
IRONIS memang. Program Jaring Perlindungan Sosial Bidang Kesehatan
(JPSBK) berdana hampir Rp 2 trilyun nyaris habis disebar, namun
laporan munculnya bayi-bayi gizi buruk makin gencar saja. Paling tidak
di Jawa Barat, bukan hanya di Kabupaten Cirebon saja, tapi juga di
Kodya dan Kabupaten Tangerang yang tak jauh dari Jakarta, sudah
dilaporkan dua bayi mati karena kekurangan gizi.
Selain dua bayi yang telanjur mati, hingga kini setidaknya masih
ada dua bayi lagi di Kodya Tangerang yang menderita busung lapar.
Mereka kini tergolek lemah di dua ranjang perawatan yang terletak
berdampingan, di Paviliun Kemuning, RSU Tangerang. Sorot mata mereka
sayu. Perut kedua bayi terlihat membesar, seperti wanita hamil tua.
Sedangkan bagian tubuh lainnya terlihat kurus, dengan tulang-tulang
menonjol.
Adelia (sembilan bulan) dan Ahmad Jaya (26 bulan), dua bayi itu,
sudah seminggu lebih harus menjalani perawatan di RSU Tangerang.
Krisis ekonomi berkepanjangan, telah melahirkan bayi-bayi generasi
penerus yang kurang makan. Makanan seadanya di zaman serba sulit ini,
mengakibatkan Adelia dan Ahmad Jaya didera perut lapar. Puluhan bayi
lain di Kotamadya Tangerang, dan sejumlah bayi lain di Kabupaten
Tangerang, diketahui telah mengalami kekurangan gizi.
Bibi Adelia, Melan (20), yang menungguinya di RSU Tangerang,
menyebutkan, ihwal penderitaan Adelia berawal dari perceraian kedua
orang tuanya beberapa bulan lalu. Adelia yang masih bayi pun ikut
ibunya, Mega (18), warga Kelurahan Pasirjaya, Kecamatan Jatiuwung,
Kodya Tangerang.
Dengan penghasilan pas-pasan sebagai buruh pabrik, Mega berusaha
mencukupi makanan bagi anak tunggalnya itu.
"Mega hanya mampu membeli susu satu kaleng setelah gajian. Setelah
susu habis, Adelia hanya bisa diberi teh manis," kata Melan, Kamis
(25/2).
Perut Adelia sejak tiga bulan lalu membengkak. Dengan rujukan
petugas puskesmas Adelia dikirim ke RSU Tangerang sejak pekan lalu.
Dalam pemeriksaan dokter, dikatakan Adelia mengalami penyakit lever
(hati) yang menyebabkan perut bayi itu membengkak.
Kurangnya pemberian makanan bergizi, juga menyebabkan penderitaan
Ahmad Jaya, anak keenam dari tujuh anak. Menurut ibunya, Amsiah (27),
sejak ia hamil lagi Jaya pun tidak bisa netek. "ASI saya ganti dengan
air campur gula. Itu pun kalau saya sedang punya gula," kata Amsiah,
warga Desa Rajeg, Kabupaten Tangerang.
Selama lima bulan Jaya menyusu air gula, sampai akhirnya dia pun
terkena penyakit. Perutnya membesar, dan bagian tubuh lainnya kurus
kering. Menurut dr Bachtiar, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Tangerang, Ahmad Jaya juga menderita penyakit lain, seperti anemia,
kurang protein, dan infeksi pada saluran kencing.
Apapun penyakit bayi-bayi malang seperti Adelia dan Ahmad Jaya di
Tangerang, atau Angga dan Sofiah di Cirebon Pemerintah Indonesia tidak
bisa melepaskan tanggungjawabnya untuk menyelamatkan mereka. Bahkan
seharusnya mencegahnya lebih dini, jika tidak ingin dikatakan telah
terjadi kelalaian atau penelantaran oleh negara (state negligence)
yang jelas melanggar Konvensi PBB untuk Hak-hak Anak yang telah
diratifikasi Pemerintah Indonesia. (thy/mul)
Menyelamatkan Caturwulan
KOMPAS - Rabu, 18 Feb 1998 Halaman: 11 Penulis: THY/MUL Ukuran: 3545
MENYELAMATKAN CATURWULAN...
INILAH salah satu kebijaksanaan pemerintah daerah yang di rasakan
langsung masyarakat. Ketika terjadi pemogokan sopir angkutan umum di
sekitar Cirebon selama sepekan, Bupati Cirebon Rachmat Djoehana langsung
memerintahkan agar pejabat Pemda Cirebon yang selama ini menikmati mobil
dinas, harus mengangkut pelajar yang berdiri di pinggir-pinggir jalan
karena tidak terangkut kendaraan bantuan.
"Mobil dinas tersebut pada dasarnya milik rakyat, sehingga ketika
rakyat membutuhkan, mobil tersebut harus bisa dimanfaatkan," perintah
Bupati Rachmat Djoehana.
Maka mulai dari kepala bagian hingga jabatan yang lebih atas yang
mendapat mobil dinas, selama pemogokan berlangsung, bolak-balik mengangkut
pelajar, karyawan hingga ibu-ibu yang akan pergi kepasar. Jika selama ini
pelajar dan karyawan hanya bisa menyaksikan kendaraan berpelat merah
tersebut hilir mudik di tengah jalan, sekarang saat pemogokan berlangsung,
bisa menikmati secara gratisan.
"Lebih enak naik mobil dinas begini. Kalau naik truk bantuan, untuk
pelajar putri karena pakai rok, sangat susah naiknya," kata seorang siswi
SMEA Negeri 2 Lemahabang, Kabupaten Cirebon yang terlambat mengikuti tes
somatif karena baru mendapat angkutan sekitar pukul 07.30 WIB kemarin.
Pemogokan sopir angkutan, memang bukan hanya menyusahkan pelajar dan
karyawan. Guru-guru pun juga jadi serba salah. Jika di liburkan, karena
murid susah mendapatkan angkutan, kebijaksanaan tersebut jelas menyalai
aturan. Namun jika tidak di liburkan, kasihan murid-murid susah mendapatkan
angkutan untuk pergi ke sekolah maupun kembali ke rumah. Tidak mengherankan
jika kemudian, sejumlah guru di Cirebon turut menghentikan kendaraan
pribadi yang melintas, lalu minta pengertian dan minta pertolongan
pengemudi agar bersedia mengantar anak didiknya yang kesulitan angkutan.
Keluhan yang sama juga di rasakan masyarakat yang akan bepergian
ke luar kota karena urusan yang sangat penting. "Saya harus memeriksakan
diri ke dokter setelah operasi, namun tidak ada bus atau kendaraan pribadi
yang berani melintasi Kadipaten karena mendengar di Kadipateng sedang
terjadi kerusuhan," keluh Ny Yeti (27), penduduk perumnas Cirebon yang
harus memeriksakan diri ke dokter penyakit dalam ke Rumah Sakit AL-Islam
Bandung.
Rasa pasrah dilontarkan Ny Euis Karmini (45) yang tidak bisa ke Bandung untuk menengok anaknya yang sakit, karena tidak ada angkutan umum. Kita merasakan dampak pahit dari krisis moneter. Tapi melakukan pemogokan, tidak memecahkan masalah, malah lebih menyengsarakan rakyat," ujarnya geram.
***
KELUHAN soal naiknya harga suku cadang ini, memang yang menjadi alasan
pemogokan sopir dan pemilik angkutan umum. Sebagai contah, minyak rem dari
Rp 5.500 naik menjadi Rp 22.500 per liter. Sedangkan ban yang semula
Rp 80.000 sekarang naik menjadi Rp 300.000 per buah. "Berarti untuk membeli satu buah ban, pemilik kendaraan harus menunggu setoran selama sepuluh hari," kata Iskandar Agus Banaji, ketua Organda Kabupaten/Kotmadya Cirebon menanggapi keluhan pengemudi dan pemilik angkutan umum.
Menurut Iskandar, menaikkan tarif angkutan bukanlah solusi yang tepat
karena daya beli masyarakat saat ini sudah sangat rendah. "Idealnya pemerintah melakukan intervensi sehingga harga suku cadang kendaraan bisa
turun kembali," ujar Iskandar yang memahami namun tidak mendukung terjadinya pemogokan angkutan umum. (thy/mul)
MENYELAMATKAN CATURWULAN...
INILAH salah satu kebijaksanaan pemerintah daerah yang di rasakan
langsung masyarakat. Ketika terjadi pemogokan sopir angkutan umum di
sekitar Cirebon selama sepekan, Bupati Cirebon Rachmat Djoehana langsung
memerintahkan agar pejabat Pemda Cirebon yang selama ini menikmati mobil
dinas, harus mengangkut pelajar yang berdiri di pinggir-pinggir jalan
karena tidak terangkut kendaraan bantuan.
"Mobil dinas tersebut pada dasarnya milik rakyat, sehingga ketika
rakyat membutuhkan, mobil tersebut harus bisa dimanfaatkan," perintah
Bupati Rachmat Djoehana.
Maka mulai dari kepala bagian hingga jabatan yang lebih atas yang
mendapat mobil dinas, selama pemogokan berlangsung, bolak-balik mengangkut
pelajar, karyawan hingga ibu-ibu yang akan pergi kepasar. Jika selama ini
pelajar dan karyawan hanya bisa menyaksikan kendaraan berpelat merah
tersebut hilir mudik di tengah jalan, sekarang saat pemogokan berlangsung,
bisa menikmati secara gratisan.
"Lebih enak naik mobil dinas begini. Kalau naik truk bantuan, untuk
pelajar putri karena pakai rok, sangat susah naiknya," kata seorang siswi
SMEA Negeri 2 Lemahabang, Kabupaten Cirebon yang terlambat mengikuti tes
somatif karena baru mendapat angkutan sekitar pukul 07.30 WIB kemarin.
Pemogokan sopir angkutan, memang bukan hanya menyusahkan pelajar dan
karyawan. Guru-guru pun juga jadi serba salah. Jika di liburkan, karena
murid susah mendapatkan angkutan, kebijaksanaan tersebut jelas menyalai
aturan. Namun jika tidak di liburkan, kasihan murid-murid susah mendapatkan
angkutan untuk pergi ke sekolah maupun kembali ke rumah. Tidak mengherankan
jika kemudian, sejumlah guru di Cirebon turut menghentikan kendaraan
pribadi yang melintas, lalu minta pengertian dan minta pertolongan
pengemudi agar bersedia mengantar anak didiknya yang kesulitan angkutan.
Keluhan yang sama juga di rasakan masyarakat yang akan bepergian
ke luar kota karena urusan yang sangat penting. "Saya harus memeriksakan
diri ke dokter setelah operasi, namun tidak ada bus atau kendaraan pribadi
yang berani melintasi Kadipaten karena mendengar di Kadipateng sedang
terjadi kerusuhan," keluh Ny Yeti (27), penduduk perumnas Cirebon yang
harus memeriksakan diri ke dokter penyakit dalam ke Rumah Sakit AL-Islam
Bandung.
Rasa pasrah dilontarkan Ny Euis Karmini (45) yang tidak bisa ke Bandung untuk menengok anaknya yang sakit, karena tidak ada angkutan umum. Kita merasakan dampak pahit dari krisis moneter. Tapi melakukan pemogokan, tidak memecahkan masalah, malah lebih menyengsarakan rakyat," ujarnya geram.
***
KELUHAN soal naiknya harga suku cadang ini, memang yang menjadi alasan
pemogokan sopir dan pemilik angkutan umum. Sebagai contah, minyak rem dari
Rp 5.500 naik menjadi Rp 22.500 per liter. Sedangkan ban yang semula
Rp 80.000 sekarang naik menjadi Rp 300.000 per buah. "Berarti untuk membeli satu buah ban, pemilik kendaraan harus menunggu setoran selama sepuluh hari," kata Iskandar Agus Banaji, ketua Organda Kabupaten/Kotmadya Cirebon menanggapi keluhan pengemudi dan pemilik angkutan umum.
Menurut Iskandar, menaikkan tarif angkutan bukanlah solusi yang tepat
karena daya beli masyarakat saat ini sudah sangat rendah. "Idealnya pemerintah melakukan intervensi sehingga harga suku cadang kendaraan bisa
turun kembali," ujar Iskandar yang memahami namun tidak mendukung terjadinya pemogokan angkutan umum. (thy/mul)
Kerupuk Melarat Nikmat Disantap dengan Sambal
KOMPAS - Minggu, 30 Apr 1995 Halaman: 15 Penulis: MUL Ukuran: 4032
KERUPUK MELARAT, NIKMAT DISANTAP DENGAN SAMBAL
MELARAT, ternyata tidak hanya disandang sebagian
manusia. Makanan di Cirebon pun ada yang disebut melarat yaitu
jenis makanan kerupuk. "Kerupuk melarat", begitu sejumlah
pedagang makanan ringan di kawasan Plered menyebutnya.
Mengapa diberi nama berkonotasi sengsara seperti itu? Nama ini
sebenarnya hanyalah olok-olok. Sejumlah pedagang makanan
mengatakan, itu karena kerupuk ini tidak dimasak dengan minyak
goreng, tetapi menggunakan pasir. Mungkin juga penyebutan
nama itu terlontar awalnya karena pemilik kerupuk tidak mau
menggorengnya dengan minyak.
Tetapi inilah kekhasan kerupuk melarat yang dikenal juga
dengan nama "kerupuk mares". Proses pemasakan dalam penggorengan
berisi pasir di atas tungku api yang kemudian memberi rasa khas
kerupuk ini. Dan jika dimakan dengan sambal, ada kenikmatan
sendiri yang dirasakan mereka yang memakannya. Sekali makan
kerupuk bersambal, sulit menghentikannya.
Rasa kerupuk melarat sudah begitu dikenal masyarakat Cirebon
dan sekitarnya. Karena kerupuk ini lebih nikmat dimakan dicampur
sambal, konsumen lebih mengenalnya dengan sebutan "kerupuk sambal".
Karupuk melarat merupakan salah satu dari banyak macam jenis
makanan yang dijual di Plered. Kerupuk ini tidak berasal dari
pabrik di luar Cirebon, tetapi salah satu jenis makanan produk
lokal dan merupakan industri rumah tangga.
Kerupuk melarat diproduksi di rumah-rumah penduduk Blok
Kaliandul, Desa Setu Kulon, Plered, Kabupaten Cirebon. Penduduk
setempat sejak puluhan tahun lalu, turun temurun memproduksi kerupuk
khas yang dicetak aneka warna ini. Jemuran kerupuk masih mentah
dapat dijumpai di depan rumah-rumah penduduk.
Bahan baku kerupuk khas Cirebon ini sebenarnya sederhana.
Hanya tepung singkong yang dicampur air dan bumbu-bumbu seperti
bawang merah, bawang putih, ketumbar, garam, dan sedikit gula,
ditambah zat pewarna.
Kerupuk melarat termasuk jenis makanan yang laris manis.
Karena laku keras, tidaklah aneh jika kemudian stok kerupuk
mentah siap jual di sejumlah pengrajin, bisa kosong sama sekali.
Misalnya di rumah industri Ny Mardinah (60), pada suatu siang
tengah Maret lalu sama sekali tidak ada persediaan kerupuk mentah.
Sisa yang ada, diborong habis pembeli dari Kadipaten, Majalengka
pada pagi harinya.
Padahal proses produksi di rumah Ny Mardinah tidak pernah
berhenti. Sebanyak 18 pekerja membantunya. Sehari penuh, mulai dari
pembuatan adonan bahan baku yang sudah diberi pewarna sampai
penjemuran, dapat dihasilkan kerupuk mentah kering yang siap jual.
Menurut Ny Mardinah sehari pabrik di rumahnya menghabiskan 3,5
kuintal tepung singkong. "Produksi kerupuknya timbangannya sama
seperti berat bahan bakunya," kata Mardinah.
Ada dua jenis bentuk kerupuk melarat yang dihasilkannya yakni
jenis panjang pipih dan bulat keriting. Harga jual dua kerupuk
mentah di rumahnya masing-masing Rp 1.250 per kilogram dan Rp 1.400
per kilogram. "Kerupuk ini murah meriah, tidak rugi membelinya.
Kalau sudah merasakan kerupuk melarat, pasti ketagihan," tutur Ny
Mardinah.
Kerupuk melarat asal Cirebon, hanyalah salah satu jenis produk
makanan lokal yang sudah dikenal sampai ke luar batas wilayah. Makan
murah tapi nikmat disantap ini, turut menjadi pelengkap sejumlah
makanan khas Cirebon. Bahkan menurut Ny. Mardinah, kerupuk ini
sampai pula ke Jakarta, dijual penduduk setempat yang bernagkat
sendiri mencari pasar di Ibu Kota.
Kerupuk melarat yang lebih dikenal dengan nama kerupuk sambal
ini, dalam bentuk matang biasanya dijual pedagang gado-gado
gendongan, yang keliling masuk keluar kampung. Konsumennya tidak
hanya golongan berduit pas-pasan, tetapi juga dari kalangan
masyarakat mampu.(mul)
------
tesk foto:
Kompas/mul
SIAP DIJEMUR -- Salah satu proses awal pembuatan krupuk melarat
adalah penjemuran. Setelah adonan dicetak, ditaruh di tampah siap
untuk dijemur.
KERUPUK MELARAT, NIKMAT DISANTAP DENGAN SAMBAL
MELARAT, ternyata tidak hanya disandang sebagian
manusia. Makanan di Cirebon pun ada yang disebut melarat yaitu
jenis makanan kerupuk. "Kerupuk melarat", begitu sejumlah
pedagang makanan ringan di kawasan Plered menyebutnya.
Mengapa diberi nama berkonotasi sengsara seperti itu? Nama ini
sebenarnya hanyalah olok-olok. Sejumlah pedagang makanan
mengatakan, itu karena kerupuk ini tidak dimasak dengan minyak
goreng, tetapi menggunakan pasir. Mungkin juga penyebutan
nama itu terlontar awalnya karena pemilik kerupuk tidak mau
menggorengnya dengan minyak.
Tetapi inilah kekhasan kerupuk melarat yang dikenal juga
dengan nama "kerupuk mares". Proses pemasakan dalam penggorengan
berisi pasir di atas tungku api yang kemudian memberi rasa khas
kerupuk ini. Dan jika dimakan dengan sambal, ada kenikmatan
sendiri yang dirasakan mereka yang memakannya. Sekali makan
kerupuk bersambal, sulit menghentikannya.
Rasa kerupuk melarat sudah begitu dikenal masyarakat Cirebon
dan sekitarnya. Karena kerupuk ini lebih nikmat dimakan dicampur
sambal, konsumen lebih mengenalnya dengan sebutan "kerupuk sambal".
Karupuk melarat merupakan salah satu dari banyak macam jenis
makanan yang dijual di Plered. Kerupuk ini tidak berasal dari
pabrik di luar Cirebon, tetapi salah satu jenis makanan produk
lokal dan merupakan industri rumah tangga.
Kerupuk melarat diproduksi di rumah-rumah penduduk Blok
Kaliandul, Desa Setu Kulon, Plered, Kabupaten Cirebon. Penduduk
setempat sejak puluhan tahun lalu, turun temurun memproduksi kerupuk
khas yang dicetak aneka warna ini. Jemuran kerupuk masih mentah
dapat dijumpai di depan rumah-rumah penduduk.
Bahan baku kerupuk khas Cirebon ini sebenarnya sederhana.
Hanya tepung singkong yang dicampur air dan bumbu-bumbu seperti
bawang merah, bawang putih, ketumbar, garam, dan sedikit gula,
ditambah zat pewarna.
Kerupuk melarat termasuk jenis makanan yang laris manis.
Karena laku keras, tidaklah aneh jika kemudian stok kerupuk
mentah siap jual di sejumlah pengrajin, bisa kosong sama sekali.
Misalnya di rumah industri Ny Mardinah (60), pada suatu siang
tengah Maret lalu sama sekali tidak ada persediaan kerupuk mentah.
Sisa yang ada, diborong habis pembeli dari Kadipaten, Majalengka
pada pagi harinya.
Padahal proses produksi di rumah Ny Mardinah tidak pernah
berhenti. Sebanyak 18 pekerja membantunya. Sehari penuh, mulai dari
pembuatan adonan bahan baku yang sudah diberi pewarna sampai
penjemuran, dapat dihasilkan kerupuk mentah kering yang siap jual.
Menurut Ny Mardinah sehari pabrik di rumahnya menghabiskan 3,5
kuintal tepung singkong. "Produksi kerupuknya timbangannya sama
seperti berat bahan bakunya," kata Mardinah.
Ada dua jenis bentuk kerupuk melarat yang dihasilkannya yakni
jenis panjang pipih dan bulat keriting. Harga jual dua kerupuk
mentah di rumahnya masing-masing Rp 1.250 per kilogram dan Rp 1.400
per kilogram. "Kerupuk ini murah meriah, tidak rugi membelinya.
Kalau sudah merasakan kerupuk melarat, pasti ketagihan," tutur Ny
Mardinah.
Kerupuk melarat asal Cirebon, hanyalah salah satu jenis produk
makanan lokal yang sudah dikenal sampai ke luar batas wilayah. Makan
murah tapi nikmat disantap ini, turut menjadi pelengkap sejumlah
makanan khas Cirebon. Bahkan menurut Ny. Mardinah, kerupuk ini
sampai pula ke Jakarta, dijual penduduk setempat yang bernagkat
sendiri mencari pasar di Ibu Kota.
Kerupuk melarat yang lebih dikenal dengan nama kerupuk sambal
ini, dalam bentuk matang biasanya dijual pedagang gado-gado
gendongan, yang keliling masuk keluar kampung. Konsumennya tidak
hanya golongan berduit pas-pasan, tetapi juga dari kalangan
masyarakat mampu.(mul)
------
tesk foto:
Kompas/mul
SIAP DIJEMUR -- Salah satu proses awal pembuatan krupuk melarat
adalah penjemuran. Setelah adonan dicetak, ditaruh di tampah siap
untuk dijemur.
Plered, Pusat Makanan Ringan "Selawe Perak"
KOMPAS - Minggu, 30 Apr 1995 Halaman: 15 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 7800
PLERED, PUSAT MAKANAN RINGAN "SELAWE PERAK"
ANDA pasti akan pusing tujuh keliling seandainya saat ini
mencari makanan ringan (snack) super murah seharga Rp 25 (dua
puluh lima rupiah). Dengan uang sebesar itu paling banter hanya
mendapat sebutir permen, seperti yang sah-sah saja dilakukan
sejumlah pasar swalayan, saat membayar kembalian uang pembeli.
Namun Anda tak usah berkecil hati. Di zaman harga-harga makanan
dan segala macam kebutuhan manusia semakin melambung, ternyata masih
ada makanan ringan yang dijual dengan harga selawe perak.
Makanan ringan murah -- yang kebanyakan untuk konsumsi anak-
anak ini -- dengan mudah didapatkan di Cirebon. Tepatnya di kawasan
pusat perdagangan kue di kawasan Plered, sekitar lima kilometer
barat kota Cirebon. Kawasan perdagangan makanan ringan ini meliputi
sejumlah desa seperti Plered, Weru, Panembahan, dan Setu.
Para pemudik Lebaran atau pengendara lain yang kerap
melintas jalan itu, akan dapat dengan mudah melihat banyaknya
makanan ringan seharga selawe perak (Rp 25 ) itu. Timbunan
kue dari pedagang grosir besar, menengah, dan kecil, banyak
terdapat di kedua sisi jalan. Bongkar muat jajanan dari truk dan
kendaraan lain, sebagian dilakukan pula di kedua pinggir jalan padat
kendaraan itu.
Ramainya transaksi jual beli segala macam makanan ringan
dan kegiatan bongkar muat yang melibatkan banyak kendaraan
pengangkutnya, menjadi salah satu penyebab kemacetan lalu lintas
yang kerap terjadi di kawasan itu. Arus kendaraan yang merambat,
menjadi pemandangan biasa di Plered. Antrean kendaraan
biasa terjadi, mulai dari sekitar perempatan Jl Plered sampai
pertigaan Kedawung, sepanjang sekitar tiga kilometer.
Padat dan tersendatnya lalu lintas di Plered, selain karena
tingginya frekuensi arus kendaraan, juga karena kesibukan pasar
makanan ringan di kawasan itu. Setiap hari ratusan pembeli datang
membawa kendaraan untuk mengangkut makanan ringan yang
dibeli. Puluhan kendaraan besar, juga datang dan membongkar
muatan makanan ke sejumlah grosir di pusat makanan itu.
***
PEMBELI makanan ringan kering di Plered berdatangan dari
berbagai kota dan daerah. Mereka adalah pedagang yang
sengaja membeli makanan di Plered untuk dijual di daerah mereka.
Mereka tidak hanya berasal dari daerah Cirebon sendiri dan
daerah sekitar seperti, Brebes, Tegal, Indramayu, Kuningan, dan
Majalengka, tetapi juga berasal dari Purwokerto, Solo, atau
Subang, Sumedang serta daerah lain.
Sejumlah grosir ada di daerah itu. Mereka menjual dan
menyalurkan kiriman bertruk-truk makanan kering, kepada sub-grosir
atau pedagang lebih kecil. Hingga tidaklah berlebihan jika setiap
hari transaki dagang, diperkirakan bernilai ratusan juta rupiah.
Di Plered, menurut pemilik Toko Hendra, terdapat ratusan jenis
makanan. Pedagang sub-grosir ini sampai kesulitan menyebut satu per
satu jenis makanan ringan yang ditawarkan karena banyaknya.
Bermacam makanan ringan mulai dari harga Rp 25 per bungkus
sampai seharga Rp 100 dan segala jenis makan ringan lain, sebagian
besar tidak berasal dari Plered dan daerah Cirebon itu sendiri.
Makanan itu datang dari pabrik di berbagai kota seperti Jakarta,
Bandung, Tangerang, Solo, Surabaya, dan kota lainnya.
Selebihnya adalah makanan ringan yang berasal dari produk industri
rumahan di kawasan Plered sendiri dan sekitar Cirebon.
Namun antara produk lokal dan pabrik besar dapat dibedakan,
dengan melihat dari bentuk kemasannya. Aneka makanan ringan dari
pabrik dikemas dalam bungkus plastik bagus aneka warna, atau dalam
kotak karton. Merek makanan ini pun keren-keren.
Snack selawe perak misalnya diberi nama Halo, cokelat stik
Choyo-Chyo, agar-agar Jely Cup-Cup, atau permen bermerek RX
Candy. Kebanyakan jenis yang dijual di Plered adalah aneka macam
snack, kuaci, agar-agar, permen, mie kering, sampai kue yang
dikemas dalam balon. Hampir semua jenis makanan ini berasal dari
luar Cirebon.
Sedangkan produk lokal yang juga turut meramaikan Plered, di
antaranya aneka jenis kerupuk, kacang-kacangan, makanan kering dari
terigu, makanan dari singkong, dan sebagainya. Beberapa jenis
makanan setempat antara lain dikenal dengan nama kremes,
klitik, kacang, atum, teng-teng, kerupuk melarat/mares, dan
sebagainya. Sebagian makanan lokal ini, bisa dibeli sejumlah pasar
swalayan di Cirebon.
***
MAKANAN ringan lokal inilah yang sebenarnya menjadi cikal bakal
mengapa Plered menjadi pusat perdagangan makanan ringan. Seorang
grosir, H. Enny (47), menyebutkan sejak dia kecil, kawasan Plered
sudah menjadi tempat perdagangan makanan.
Menurut Enny, salah seorang perintisnya adalah penduduk
setempat, H Anwar, yang saat ini juga menjadi grosir besar.
Namun pengusaha ini tidak mau menjelaskan ihwal pertumbuhan
Plered. "Tanya pada yang lain saja," katanya.
Sejumlah pedagang menyebutkan, berkembangnya kawasan Plered
menjadi pusat perdagangan makanan karena di daerah itu ada kawasan
makanan ringan industri rumahan. Transaksi jual beli, selain
berlangsung di rumah produksi, juga di Pasar Kue Weru. Pasar ini
sampai sekarang masih menjadi tempat transaksi. Puluhan pedagang
sub-grosir dan kecil mengambil tempat menjajakan dagangan di sini.
Keberadaan pedagang di Pasar Kue Weru dan sekitarnya, juga
merupakan gambaran dari suatu pembagian rezeki (keuntungan)
secara merata bagi banyak orang. Tidak hanya grosir yang meraup
keuntungan besar karena menjual dalam partai besar, tetapi
pedagang kecil di bawahnya pun dapat meraih laba.
Pedagang yang berdatangan, kebanyakan membeli pada sub-grosir
atau pedagang lebih kecil dari grosir. Pedagang-pedagang ini
membeli barangnya dari grosir yang menerima kiriman pabrik. Kecuali
pembelian dalam partai besar yang tidak dapat dilayani sub-grosir,
pembeli dari luar tidak boleh membeli langsung dari grosir. Begitu
aturan dagangnya meski tidak tertulis.
Satu ikat makanan kecil berisi 100 bungkus, misalnya, dibeli
pedagang dari sub-grosir Rp 1.850. Sebelumnya sub-grosir mebeli dari
grosir Rp 1.800. Pihak grosir sendiri tidak mau menyebut, berapa
harga makanan itu dari pabriknya.
Rantai pembagian rezeki ini lebih panjang lagi. Pedagang yang
membeli dari subgrosir, akan menjualnya kepada pedagang eceran di
pasar Rp 1.900. Di tingkat pedagang eceran, harganya kemudian
melonjak menjadi Rp 2.500 per satu ikat isi 100 bungkus, karena
dijual Rp 25 per bungkus.
Meski untung yang didapat pedagang subgrosir per ikat kecil,
hanya Rp 50, namun bisnis makanan ini berjalan lancar dan dalam
partai cukup besar. Seorang pedagang asal Sindanglaut, Cirebon,
Tafsir (60), membeli aneka makanan ringan satu bak truk kecil
seharga Rp 1,5 juta. Dua kali seminggu dia bolak-balik ke Plered.
Hal serupa dilakukan seorang pedagang asal Majalengka. Sukar (35)
asal Tegal dua hari sekali juga membawa (membeli) satu boks penuh
makanan ringan. Di kotanya, makanan ini dijual ke pedagang eceran.
Para pedagang mulai dari pedagang eceran sampai grosir
sendiri sebenarnya tidak begitu mengerti mengapa pihak pabrik
mampu memproduksi makanan semurah itu, Rp 25 per bungkus.
Mungkin itulah misteri mata rantai produksi dan perdagangan
makanan ringan Plered. Yang tidak masuk akal bagi masyarakat awam
pun dapat menghidupi ribuan orang, seperti makanan ringan selawe
perak Plered.(agus mulyadi)
----------
teks foto:
Kompas/mul
PASAR MAKANAN -- Kawasan sekitar pasar kue Weru, Plered, selalu
dipadati tumpukan makanan ringan, pedagang, dan pembelinya.
Pemandangan seperti ini berlangsung sepanjang hari.
PLERED, PUSAT MAKANAN RINGAN "SELAWE PERAK"
ANDA pasti akan pusing tujuh keliling seandainya saat ini
mencari makanan ringan (snack) super murah seharga Rp 25 (dua
puluh lima rupiah). Dengan uang sebesar itu paling banter hanya
mendapat sebutir permen, seperti yang sah-sah saja dilakukan
sejumlah pasar swalayan, saat membayar kembalian uang pembeli.
Namun Anda tak usah berkecil hati. Di zaman harga-harga makanan
dan segala macam kebutuhan manusia semakin melambung, ternyata masih
ada makanan ringan yang dijual dengan harga selawe perak.
Makanan ringan murah -- yang kebanyakan untuk konsumsi anak-
anak ini -- dengan mudah didapatkan di Cirebon. Tepatnya di kawasan
pusat perdagangan kue di kawasan Plered, sekitar lima kilometer
barat kota Cirebon. Kawasan perdagangan makanan ringan ini meliputi
sejumlah desa seperti Plered, Weru, Panembahan, dan Setu.
Para pemudik Lebaran atau pengendara lain yang kerap
melintas jalan itu, akan dapat dengan mudah melihat banyaknya
makanan ringan seharga selawe perak (Rp 25 ) itu. Timbunan
kue dari pedagang grosir besar, menengah, dan kecil, banyak
terdapat di kedua sisi jalan. Bongkar muat jajanan dari truk dan
kendaraan lain, sebagian dilakukan pula di kedua pinggir jalan padat
kendaraan itu.
Ramainya transaksi jual beli segala macam makanan ringan
dan kegiatan bongkar muat yang melibatkan banyak kendaraan
pengangkutnya, menjadi salah satu penyebab kemacetan lalu lintas
yang kerap terjadi di kawasan itu. Arus kendaraan yang merambat,
menjadi pemandangan biasa di Plered. Antrean kendaraan
biasa terjadi, mulai dari sekitar perempatan Jl Plered sampai
pertigaan Kedawung, sepanjang sekitar tiga kilometer.
Padat dan tersendatnya lalu lintas di Plered, selain karena
tingginya frekuensi arus kendaraan, juga karena kesibukan pasar
makanan ringan di kawasan itu. Setiap hari ratusan pembeli datang
membawa kendaraan untuk mengangkut makanan ringan yang
dibeli. Puluhan kendaraan besar, juga datang dan membongkar
muatan makanan ke sejumlah grosir di pusat makanan itu.
***
PEMBELI makanan ringan kering di Plered berdatangan dari
berbagai kota dan daerah. Mereka adalah pedagang yang
sengaja membeli makanan di Plered untuk dijual di daerah mereka.
Mereka tidak hanya berasal dari daerah Cirebon sendiri dan
daerah sekitar seperti, Brebes, Tegal, Indramayu, Kuningan, dan
Majalengka, tetapi juga berasal dari Purwokerto, Solo, atau
Subang, Sumedang serta daerah lain.
Sejumlah grosir ada di daerah itu. Mereka menjual dan
menyalurkan kiriman bertruk-truk makanan kering, kepada sub-grosir
atau pedagang lebih kecil. Hingga tidaklah berlebihan jika setiap
hari transaki dagang, diperkirakan bernilai ratusan juta rupiah.
Di Plered, menurut pemilik Toko Hendra, terdapat ratusan jenis
makanan. Pedagang sub-grosir ini sampai kesulitan menyebut satu per
satu jenis makanan ringan yang ditawarkan karena banyaknya.
Bermacam makanan ringan mulai dari harga Rp 25 per bungkus
sampai seharga Rp 100 dan segala jenis makan ringan lain, sebagian
besar tidak berasal dari Plered dan daerah Cirebon itu sendiri.
Makanan itu datang dari pabrik di berbagai kota seperti Jakarta,
Bandung, Tangerang, Solo, Surabaya, dan kota lainnya.
Selebihnya adalah makanan ringan yang berasal dari produk industri
rumahan di kawasan Plered sendiri dan sekitar Cirebon.
Namun antara produk lokal dan pabrik besar dapat dibedakan,
dengan melihat dari bentuk kemasannya. Aneka makanan ringan dari
pabrik dikemas dalam bungkus plastik bagus aneka warna, atau dalam
kotak karton. Merek makanan ini pun keren-keren.
Snack selawe perak misalnya diberi nama Halo, cokelat stik
Choyo-Chyo, agar-agar Jely Cup-Cup, atau permen bermerek RX
Candy. Kebanyakan jenis yang dijual di Plered adalah aneka macam
snack, kuaci, agar-agar, permen, mie kering, sampai kue yang
dikemas dalam balon. Hampir semua jenis makanan ini berasal dari
luar Cirebon.
Sedangkan produk lokal yang juga turut meramaikan Plered, di
antaranya aneka jenis kerupuk, kacang-kacangan, makanan kering dari
terigu, makanan dari singkong, dan sebagainya. Beberapa jenis
makanan setempat antara lain dikenal dengan nama kremes,
klitik, kacang, atum, teng-teng, kerupuk melarat/mares, dan
sebagainya. Sebagian makanan lokal ini, bisa dibeli sejumlah pasar
swalayan di Cirebon.
***
MAKANAN ringan lokal inilah yang sebenarnya menjadi cikal bakal
mengapa Plered menjadi pusat perdagangan makanan ringan. Seorang
grosir, H. Enny (47), menyebutkan sejak dia kecil, kawasan Plered
sudah menjadi tempat perdagangan makanan.
Menurut Enny, salah seorang perintisnya adalah penduduk
setempat, H Anwar, yang saat ini juga menjadi grosir besar.
Namun pengusaha ini tidak mau menjelaskan ihwal pertumbuhan
Plered. "Tanya pada yang lain saja," katanya.
Sejumlah pedagang menyebutkan, berkembangnya kawasan Plered
menjadi pusat perdagangan makanan karena di daerah itu ada kawasan
makanan ringan industri rumahan. Transaksi jual beli, selain
berlangsung di rumah produksi, juga di Pasar Kue Weru. Pasar ini
sampai sekarang masih menjadi tempat transaksi. Puluhan pedagang
sub-grosir dan kecil mengambil tempat menjajakan dagangan di sini.
Keberadaan pedagang di Pasar Kue Weru dan sekitarnya, juga
merupakan gambaran dari suatu pembagian rezeki (keuntungan)
secara merata bagi banyak orang. Tidak hanya grosir yang meraup
keuntungan besar karena menjual dalam partai besar, tetapi
pedagang kecil di bawahnya pun dapat meraih laba.
Pedagang yang berdatangan, kebanyakan membeli pada sub-grosir
atau pedagang lebih kecil dari grosir. Pedagang-pedagang ini
membeli barangnya dari grosir yang menerima kiriman pabrik. Kecuali
pembelian dalam partai besar yang tidak dapat dilayani sub-grosir,
pembeli dari luar tidak boleh membeli langsung dari grosir. Begitu
aturan dagangnya meski tidak tertulis.
Satu ikat makanan kecil berisi 100 bungkus, misalnya, dibeli
pedagang dari sub-grosir Rp 1.850. Sebelumnya sub-grosir mebeli dari
grosir Rp 1.800. Pihak grosir sendiri tidak mau menyebut, berapa
harga makanan itu dari pabriknya.
Rantai pembagian rezeki ini lebih panjang lagi. Pedagang yang
membeli dari subgrosir, akan menjualnya kepada pedagang eceran di
pasar Rp 1.900. Di tingkat pedagang eceran, harganya kemudian
melonjak menjadi Rp 2.500 per satu ikat isi 100 bungkus, karena
dijual Rp 25 per bungkus.
Meski untung yang didapat pedagang subgrosir per ikat kecil,
hanya Rp 50, namun bisnis makanan ini berjalan lancar dan dalam
partai cukup besar. Seorang pedagang asal Sindanglaut, Cirebon,
Tafsir (60), membeli aneka makanan ringan satu bak truk kecil
seharga Rp 1,5 juta. Dua kali seminggu dia bolak-balik ke Plered.
Hal serupa dilakukan seorang pedagang asal Majalengka. Sukar (35)
asal Tegal dua hari sekali juga membawa (membeli) satu boks penuh
makanan ringan. Di kotanya, makanan ini dijual ke pedagang eceran.
Para pedagang mulai dari pedagang eceran sampai grosir
sendiri sebenarnya tidak begitu mengerti mengapa pihak pabrik
mampu memproduksi makanan semurah itu, Rp 25 per bungkus.
Mungkin itulah misteri mata rantai produksi dan perdagangan
makanan ringan Plered. Yang tidak masuk akal bagi masyarakat awam
pun dapat menghidupi ribuan orang, seperti makanan ringan selawe
perak Plered.(agus mulyadi)
----------
teks foto:
Kompas/mul
PASAR MAKANAN -- Kawasan sekitar pasar kue Weru, Plered, selalu
dipadati tumpukan makanan ringan, pedagang, dan pembelinya.
Pemandangan seperti ini berlangsung sepanjang hari.
Derita Ini Masih Belum Berakhir
KOMPAS - Rabu, 08 Feb 1995 Halaman: 1 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 7427
DERITA INI MASIH BELUM BERAKHIR...
TANAM padi dan panen sampai dengan tiga kali musim tanam, biasa
terjadi di lahan sawah beririgasi teknis yang airnya terjamin.
Sebagian petani di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, pun
kerap tanam sampai tiga kali atau lebih. Namun itu tidak dalam satu
tahun, tapi dalam satu kali musim tanam (MT). Panennya pun, tetap
hanya satu kali.
Itu terjadi, karena petani setempat kerap harus mengganti
tanaman padi mereka. Biasanya, karena bibit padi yang sudah ditanam
mati membusuk akibat terendam air. Agar bisa ikut panen -meski
terlambat- mau tidak mau petani Krangkeng harus mengganti tanaman
padinya yang mati.
Penggantian bibit tanaman padi ini kadang tidak hanya sekali
(dalam satu MT), tetapi sampai dua tiga kali. Sebab, ketika tanaman
baru sudah ditanam, banjir datang lagi merendam berhari-hari.
Tanaman padi mati lagi, sehingga harus diganti. Kondisi itu berulang
terjadi, sampai genangan tinggi yang mematikan tanaman tidak terjadi
lagi. Ya karena hujan mulai jarang turun, sehingga genangan surut.
Bahkan hantaman cobaan terhadap petani Krangkeng dalam
bercocok tanam padi ini, sudah terjadi saat baru dalam persemaian
bibit. Bibit baru disemaikan banjir datang, hingga habis terbawa
banjir. Ganti persemaian ini pun kerap terjadi lebih dari satu
kali.
"Kita bae wis nebar ping loro kien," kata seorang petani di
Desa Singakerta, sebut saja namanya Samin. Maksudnya, dalam MT
1994/1995 sekarang dia sudah dua kali ini menaburkan bibit di
persemaian. Sebab persemaiannya yang pertama lenyap dibawa
genangan banjir di sawahnya.
* * *
SEBAGIAN petani di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu,
sampai minggu pertama Februari 1995 ini tetap belum bisa menanam
padi di lahan sawah mereka. Boro-boro menanam padi, mengolah
sawah pun sulit dilakukan. Genangan air di kawasan persawahan itu
yang mengakibatkan tertundanya penanaman padi MT sekarang.
Sebagian petani lainnya di kawasan persawahan "merana" itu
ada yang sudah menanam padi, tetapi tetap terlambat jauh
dibandingkan di kecamatan lain di Indramayu.
Keadaan tidak jauh berbeda terjadi pula di daerah
tetangganya, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Petak-petak
sawah terlantar atau baru dan belum lama ditanam, menjadi
pemandangan sekarang ini. Padahal di Krangkeng dan Kapetakan
masing-masing ada sekitar 5.000 hektar dan 8.000 hektar sawah
tadah hujan.
Gambaran persawahan tadah hujan dua kecamatan di kabupaten
berbeda yang lahannya kerap tergenang banjir ini, mungkin bisa
diwakili di kawasan persawahan antara Sungai Cimanis dan Sungai
Kumpulkuista. Di kawasan persawahan yang termasuk dalam Desa
Singakerta (Krangkeng) dan Bungko Lor, sebagian besar masih
terlantar. Genangan air cukup tinggi masih merendam sawah.
Lokasinya, berada di sisi barat berbatasan dengan jalan raya
yang menghubungkan Indramayu-Cirebon. Di sisi timur berbatasan
langsung dengan sebuah saluran air tawar pertambakan kawasan
pantai. Persawahan di sisi barat jalan raya pun kondisinya tidak
jauh berbeda, meski tidak separah di sisi timur jalan.
* * *
SEJAK kapan sebenarnya kendala yang begitu menghambat
kelancaran pertanian di kawasan itu terjadi? Apa pula penyebabnya?
Kondisi sawah tadah hujan yang tidak beririgasi teknis yang
dijamin airnya, memang sudah sejak berpuluh tahun lalu. Namun
genangan air dalam waktu lama di persawahan mereka, terjadi
sekitar sepuluh tahun lalu.
Ada penyebab yang menghambat pembuangan air ke laut, sehingga
genangan seperti betah di persawahan. Petani setempat menuding
pertambakan di sepanjang pantai, yang menjadi salah satu penyebab
terjadinya genangan. Setiap kali hujan deras - di kawasan itu maupun
di bagian hilir saluran-saluran yang melintas - genangan terjadi.
Dan surutnya, membutuhkan waktu berhari-hari, berminggu-minggu.
Di wilayah Krangkeng, air dari beberapa sungai dan saluran
pembuang yang melintas di persawahan, terhambat saluran sejajar
tambak yang disebut penduduk setempat Kali Malang. Air yang mengalir
dari sungai dan saluran, tidak langsung terbuang ke laut, tetapi
bermuara di Kali Malang, yang melintang sejajar dengan pantai
berkilo-kilo meter jauhnya di wilayah Kecamatan Krangkeng.
Karena semua air dari saluran dan sungai bermuara hanya di
satu tempat -Kali Malang- air jadi cepat meninggi. Dari kali ini
untuk kepentingan penyediaan air pertambakan ini, air dialirkan dan
bermuara di Sungai Kumpulkuista.
Namun Kumpulkuista sendiri sudah bermuatan volume air dalam
jumlah besar. Permukaan air yang cukup tinggi, sehingga air dari
Kali Malang hanya bisa mengalir perlahan. Tidak lancar. Terlebih
lagi pada musim hujan, ketika semua saluran/sungai yang bermuara
di Kali Malang, dan Kumpulkuista sendiri tinggi. Bisa dikatakan,
air dari Kali Malang tidak bisa mengalir ke Kumpulkuista.
Akibatnya mudah ditebak. Air di Kali Malang kemudian meluap
ke persawahan di sisi barat. Kondisi tanggul di sisi itu, yang
memudahkan air meluber ke persawahan. Sedangkan tanggul di sisi
timur yang membatasi Kali Malang dengan pertambakan, memang
didesain untuk mengamankan tambak. Tanggul yang cukup tinggi,
mengamankan tambak dari bahaya luapan.
Selain menerima luapan dari Kali Malang, persawahan di
kawasan Krangkeng itu harus pula menerima luapan dari semua
saluran dan sungai yang melintas. Sebabnya, tanggul-tanggul
saluran/sungai tidak terpelihara. Di tanggul yang sudah mendekati
kawasan Kali Malang, di sana-sini tanggul rata dengan sawah.
Kali Cimanis misalnya, tanggulnya tidak dapat dilewati
sampai mencapai Kali Malang. Kondisi tanggul yang sebagian rusak
di bagian hilir, yang menjadi penyebabnya.
Dengan kondisi itu, tentu saja air dari saluran dengan
bebasnya masuk persawahan. Dalam musim hujan sejak sebulan
terakhir yang kerap mengguyur kawasan itu, air yang menggenangi
persawahan menjadi semakin tinggi dan sulit terbuang.
Di Kapetakan, persoalannya sedikit berbeda. Genangan sulit
terbuang, karena sejumlah saluran tidak bisa bermuara ke laut,
karena saluran dijadikan tambak. Air tidak bisa mengalir. Pimpro
PWS (pengembangan wilayah sungai) Cimanuk-Cisanggarung, Ir
Soeradji Dipl Ing, sudah meminta Bupati Cirebon untuk menertibkan
kawasan tambak.
* * *
PETANI setempat terus bergulat dengan nasibnya. Akibat
kepentingan yang dianggap lebih bagus -pertambakan- mereka
menjadi korban. Tetapi petani tidak menyerah. Mereka mencoba
terus bertahan dan tetap setia bercocok tanam padi.
Meski kemudian mereka harus lebih lama lagi menunggu
surutnya genangan, karena ada kepentingan lain lagi yang tidak
dapat dihadang mereka. Seperti yang dialami petani Bungko Lor.
Sawah mereka yang sudah lama tergenang, kini semakin "awet"
kebanjiran. Sawah mereka menjadi tempat pembuangan air saluran di
sisi utara Kumpulkuista, yang sengaja dibobol untuk pembangunan
sebuah bendung karet. Dari tanggul yang dibobol sejak Agustus
1994 lalu, air langsung menerjang persawahan mereka, tanpa mereka
bisa berbuat apa-apa.
Perjalanan nasib buruk petani Krangkeng dan Kapetakan, terus
berlanjut. Derita bagi mereka memang belum berakhir...
(agus mulyadi)
DERITA INI MASIH BELUM BERAKHIR...
TANAM padi dan panen sampai dengan tiga kali musim tanam, biasa
terjadi di lahan sawah beririgasi teknis yang airnya terjamin.
Sebagian petani di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, pun
kerap tanam sampai tiga kali atau lebih. Namun itu tidak dalam satu
tahun, tapi dalam satu kali musim tanam (MT). Panennya pun, tetap
hanya satu kali.
Itu terjadi, karena petani setempat kerap harus mengganti
tanaman padi mereka. Biasanya, karena bibit padi yang sudah ditanam
mati membusuk akibat terendam air. Agar bisa ikut panen -meski
terlambat- mau tidak mau petani Krangkeng harus mengganti tanaman
padinya yang mati.
Penggantian bibit tanaman padi ini kadang tidak hanya sekali
(dalam satu MT), tetapi sampai dua tiga kali. Sebab, ketika tanaman
baru sudah ditanam, banjir datang lagi merendam berhari-hari.
Tanaman padi mati lagi, sehingga harus diganti. Kondisi itu berulang
terjadi, sampai genangan tinggi yang mematikan tanaman tidak terjadi
lagi. Ya karena hujan mulai jarang turun, sehingga genangan surut.
Bahkan hantaman cobaan terhadap petani Krangkeng dalam
bercocok tanam padi ini, sudah terjadi saat baru dalam persemaian
bibit. Bibit baru disemaikan banjir datang, hingga habis terbawa
banjir. Ganti persemaian ini pun kerap terjadi lebih dari satu
kali.
"Kita bae wis nebar ping loro kien," kata seorang petani di
Desa Singakerta, sebut saja namanya Samin. Maksudnya, dalam MT
1994/1995 sekarang dia sudah dua kali ini menaburkan bibit di
persemaian. Sebab persemaiannya yang pertama lenyap dibawa
genangan banjir di sawahnya.
* * *
SEBAGIAN petani di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu,
sampai minggu pertama Februari 1995 ini tetap belum bisa menanam
padi di lahan sawah mereka. Boro-boro menanam padi, mengolah
sawah pun sulit dilakukan. Genangan air di kawasan persawahan itu
yang mengakibatkan tertundanya penanaman padi MT sekarang.
Sebagian petani lainnya di kawasan persawahan "merana" itu
ada yang sudah menanam padi, tetapi tetap terlambat jauh
dibandingkan di kecamatan lain di Indramayu.
Keadaan tidak jauh berbeda terjadi pula di daerah
tetangganya, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Petak-petak
sawah terlantar atau baru dan belum lama ditanam, menjadi
pemandangan sekarang ini. Padahal di Krangkeng dan Kapetakan
masing-masing ada sekitar 5.000 hektar dan 8.000 hektar sawah
tadah hujan.
Gambaran persawahan tadah hujan dua kecamatan di kabupaten
berbeda yang lahannya kerap tergenang banjir ini, mungkin bisa
diwakili di kawasan persawahan antara Sungai Cimanis dan Sungai
Kumpulkuista. Di kawasan persawahan yang termasuk dalam Desa
Singakerta (Krangkeng) dan Bungko Lor, sebagian besar masih
terlantar. Genangan air cukup tinggi masih merendam sawah.
Lokasinya, berada di sisi barat berbatasan dengan jalan raya
yang menghubungkan Indramayu-Cirebon. Di sisi timur berbatasan
langsung dengan sebuah saluran air tawar pertambakan kawasan
pantai. Persawahan di sisi barat jalan raya pun kondisinya tidak
jauh berbeda, meski tidak separah di sisi timur jalan.
* * *
SEJAK kapan sebenarnya kendala yang begitu menghambat
kelancaran pertanian di kawasan itu terjadi? Apa pula penyebabnya?
Kondisi sawah tadah hujan yang tidak beririgasi teknis yang
dijamin airnya, memang sudah sejak berpuluh tahun lalu. Namun
genangan air dalam waktu lama di persawahan mereka, terjadi
sekitar sepuluh tahun lalu.
Ada penyebab yang menghambat pembuangan air ke laut, sehingga
genangan seperti betah di persawahan. Petani setempat menuding
pertambakan di sepanjang pantai, yang menjadi salah satu penyebab
terjadinya genangan. Setiap kali hujan deras - di kawasan itu maupun
di bagian hilir saluran-saluran yang melintas - genangan terjadi.
Dan surutnya, membutuhkan waktu berhari-hari, berminggu-minggu.
Di wilayah Krangkeng, air dari beberapa sungai dan saluran
pembuang yang melintas di persawahan, terhambat saluran sejajar
tambak yang disebut penduduk setempat Kali Malang. Air yang mengalir
dari sungai dan saluran, tidak langsung terbuang ke laut, tetapi
bermuara di Kali Malang, yang melintang sejajar dengan pantai
berkilo-kilo meter jauhnya di wilayah Kecamatan Krangkeng.
Karena semua air dari saluran dan sungai bermuara hanya di
satu tempat -Kali Malang- air jadi cepat meninggi. Dari kali ini
untuk kepentingan penyediaan air pertambakan ini, air dialirkan dan
bermuara di Sungai Kumpulkuista.
Namun Kumpulkuista sendiri sudah bermuatan volume air dalam
jumlah besar. Permukaan air yang cukup tinggi, sehingga air dari
Kali Malang hanya bisa mengalir perlahan. Tidak lancar. Terlebih
lagi pada musim hujan, ketika semua saluran/sungai yang bermuara
di Kali Malang, dan Kumpulkuista sendiri tinggi. Bisa dikatakan,
air dari Kali Malang tidak bisa mengalir ke Kumpulkuista.
Akibatnya mudah ditebak. Air di Kali Malang kemudian meluap
ke persawahan di sisi barat. Kondisi tanggul di sisi itu, yang
memudahkan air meluber ke persawahan. Sedangkan tanggul di sisi
timur yang membatasi Kali Malang dengan pertambakan, memang
didesain untuk mengamankan tambak. Tanggul yang cukup tinggi,
mengamankan tambak dari bahaya luapan.
Selain menerima luapan dari Kali Malang, persawahan di
kawasan Krangkeng itu harus pula menerima luapan dari semua
saluran dan sungai yang melintas. Sebabnya, tanggul-tanggul
saluran/sungai tidak terpelihara. Di tanggul yang sudah mendekati
kawasan Kali Malang, di sana-sini tanggul rata dengan sawah.
Kali Cimanis misalnya, tanggulnya tidak dapat dilewati
sampai mencapai Kali Malang. Kondisi tanggul yang sebagian rusak
di bagian hilir, yang menjadi penyebabnya.
Dengan kondisi itu, tentu saja air dari saluran dengan
bebasnya masuk persawahan. Dalam musim hujan sejak sebulan
terakhir yang kerap mengguyur kawasan itu, air yang menggenangi
persawahan menjadi semakin tinggi dan sulit terbuang.
Di Kapetakan, persoalannya sedikit berbeda. Genangan sulit
terbuang, karena sejumlah saluran tidak bisa bermuara ke laut,
karena saluran dijadikan tambak. Air tidak bisa mengalir. Pimpro
PWS (pengembangan wilayah sungai) Cimanuk-Cisanggarung, Ir
Soeradji Dipl Ing, sudah meminta Bupati Cirebon untuk menertibkan
kawasan tambak.
* * *
PETANI setempat terus bergulat dengan nasibnya. Akibat
kepentingan yang dianggap lebih bagus -pertambakan- mereka
menjadi korban. Tetapi petani tidak menyerah. Mereka mencoba
terus bertahan dan tetap setia bercocok tanam padi.
Meski kemudian mereka harus lebih lama lagi menunggu
surutnya genangan, karena ada kepentingan lain lagi yang tidak
dapat dihadang mereka. Seperti yang dialami petani Bungko Lor.
Sawah mereka yang sudah lama tergenang, kini semakin "awet"
kebanjiran. Sawah mereka menjadi tempat pembuangan air saluran di
sisi utara Kumpulkuista, yang sengaja dibobol untuk pembangunan
sebuah bendung karet. Dari tanggul yang dibobol sejak Agustus
1994 lalu, air langsung menerjang persawahan mereka, tanpa mereka
bisa berbuat apa-apa.
Perjalanan nasib buruk petani Krangkeng dan Kapetakan, terus
berlanjut. Derita bagi mereka memang belum berakhir...
(agus mulyadi)
Senyum Petani Hanya Sementara
KOMPAS - Rabu, 03 Aug 1994 Halaman: 17 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 6137
SENYUM PETANI HANYA SEMENTARA
PETANI di Kabupaten Karawang, Subang, serta sebagian Indramayu,
dan Cirebon di Jawa Barat, hari-hari ini bisa menyunggingkan senyum
senang. Ekspresi kegembiraan itu muncul lantaran mereka merasa bahwa
jerih payahnya dihargai. Harga gabah hasil panen petani MT (musim
tanam) 1994 saat ini masih tinggi dalam ukuran mereka.
Harga gabah jenis GKP (gabah kering panen) berkisar Rp 400--Rp
450/kg, sedang untuk GKG (gabah kering giling) yang siap digiling
menjadi beras, harganya sudah di atas Rp 500/kg.
Tetapi sebagian petani di Indramayu dan Cirebon, juga petani di
daerah lain, agaknya harus menunda perasaan senang lantaran lahan
persawahan mereka mengalami kekeringan. Di Indramayu, sawah yang
sudah dinyatakan puso mencapai 4.950 ha, dan di Cirebon 2.700 ha.
Tidak ada senyum tersungging di bibir para petani yang
terakhir. Tanaman padi MT 1994 yang jadi tumpuan harapan telah
berubah menjadi jerami-jerami kering tidak berguna. Untuk menyambung
hidup, akhirnya sebagian dari mereka, terutama petani gurem,
terpaksa hengkang dari desanya, mencari kerja apa saja di kota.
Kondisi berbeda dialami sebagian petani lain di Indramayu dan
Cirebon. Lahan tanaman padi mereka yang selamat dari ancaman
kekeringan, dan berhasil dipanen, membuat mereka menyunggingkan
senyum seperti petani tetangga di Karawang dan Subang. Di sini nilai
tukar gabah hasil sawah mereka sama tingginya.
Musim panen MT 1994 yang kini tengah berlangsung di Cirebon,
mencakup areal seluas 5.000 ha. Bahkan di Indramayu sudah sekitar
30.000 ha tanaman padi yang dipanen. Areal luas panen yang tidak
jauh berbeda dengan di Indramayu, telah berlangsung pula di Karawang
dan Subang. Panen raya di empat kabupaten "lumbung beras" di Jabar
itu, diperkirakan akan berlangsung sampai Agustus ini.
***
PENGAMATAN Kompas di areal persawahan di Karawang, Subang, dan
Indramayu pekan lalu menunjukkan, sebagian areal persawahan lain di
Kecamatan Ciasem, Patokbeusi (Subang), dan sebagian di Kecamatan
Jatisari (Karawang) rata-rata usia tanaman padi sudah tiga bulan.
Diperkirakan, panenan berlangsung September 1994 nanti.
"Mudah-mudahan harga gabah tetap tinggi seperti sekarang,
ketika sawah saya panen nanti," kata seorang petani di Pamanukan,
Kabupaten Subang.
Harapan yang dilontarkan petani tadi cukup beralasan. Dia
khawatir, harga padi/gabah yang sekarang tinggi akan kembali menurun
bila operasi pasar (OP) beras semakin membanjiri pasar-pasar. Atau
manakala produksi padi melimpah, dan saat panen raya mendatang.
Kalau itu terjadi, para petani tidak akan merasakan tingginya
nilai tukar hasil jerih payah mereka. Tak bakal merasakan bahagia
seperti yang dialami Aying (40) petani di Gempolsari, Patokbeusi
yang dapat menjual gabah kering panennya seharga Rp 440/kg.
"Saat ini harga gabah kering giling sudah di atas Rp 500," kata
beberapa tengkulak yng membeli GKP, langsung di lokasi-lokasi panen
di Patokbeusi dan Jatisari.
Harga gabah di tingkat petani saat ini, sudah jauh di atas
harga dasar gabah tahun 1994 yang ditetapkan pemerintah yakni Rp
260/kg untuk GKP dan Rp 360/kg untuk GKG. Bagi petani, nilai tukar
gabah sekarang cukup layak untuk jerih payah mereka. Kelebihan hasil
penjualan, akan dapat memperpanjang pemenuhan kebutuhan hidup yang
mereka dapat dari hasil pertanian itu.
Apalagi, mereka tidak merasakan "manisnya" hasil nilai tukar
gabah MT 1993/1994 sebelumnya. Ketika itu harga gabah paling tinggi
sesuai standar pemerintah yakni Rp 260/kg untuk GKS (gabah kering
simpan), bahkan sebagian lain hanya dihargai Rp 240-Rp 250/kg.
***
HARGA gabah pada saat ini yang dirasakan cukup tinggi, akhirnya
berpengaruh pada melambungnya harga beras di pasaran. Di sejumlah
daerah di Karawang, Subang, dan Indramayu, harga beras kualitas
sedang masih berkisar Rp 750--Rp 800/kg. Bahkan di Cirebon, harga
beras dengan kualitas sama Rp 800--Rp850/kg.
Tetapi keuntungan yang didapat petani dalam waktu satu tahun
(dua MT) sebenarnya tidaklah terlalu tinggi. Para petani di Ciberes,
Patokbeusi, dan Jatibaru, Jatisari merinci, sawah mereka seluas satu
bahu (0,7) pada MT 1994, menghasilkan tiga ton GKP bersih. Dengan
nilai jual Rp 440/kg, didapatkan hasil uang Rp 1.320.000. "Tapi saya
harus memperhitungkan semua pengeluaran untuk pengolahan tanaman
padi dan sawah saya itu," kata petani Ciberes.
Untuk biaya produksi MT 1994 dia mengeluarkan uang Rp 250.000,
untuk traktor pengolah lahan sawah, bibit, pupuk, obat-obatan hama,
dan lainnya. Diperoleh hasil bersih Rp 1.070.000.
Sedangkan hasil bersih dari sawah/tanaman satu bahu padi MT
1993/1994 lalu juga sebanyak tiga ton, hanya senilai Rp 530.000.
Hingga total yang didapat petani dari tanaman padi satu bahu untuk
satu tahun (dua MT), hanya Rp 1.600.000.
"Tetapi itu pun harus dikurangi dengan biaya untuk sawah lain,
seperti PBB, hektaran, dan iuran air," kata petani di Ciberes. PBB
satu bahu dibayar Rp 42.000, dan hektaran (dana swadaya pembangunan
desa) Rp 100.000.
Setelah dikurangi Rp 142.000, hasil yang didapat petani dari
sawahnya seluas satu bahu, dalam waktu satu tahun Rp 1.480.000. Atau
untuk tiap bulan dia hanya mendapat Rp 123.300. Dengan perhitungan
sama, dari areal satu hektar sawah yang menghasilkan 4,5 ton GKG,
penghasilan petani setahun Rp 1.838.000, atau Rp 153.160 sebulan.
Gembar-gembor tentang tingginya harga beras dan gabah saat ini,
sebenarnya tidak bersifat riil, karena yang didapat petani tetap
rendah. Kalau pun petani sementara ini bisa tersenyum senang, karena
mereka merasa bersyukur dengan harga sekarang. Itu berarti membantu
menambah sedikit penghasilan mereka. (agus mulyadi)
Teks Foto
Kompas/mul
MENGUNTUNGKAN -- Harga gabah hasil panen MT 1994 yang mencapai Rp
440/kg untuk GKP, kali ini menguntungkan kalangan petani. Seperti
yang dialami petani Aying (tak bertopi) dari Desa Gempolsari ini.
SENYUM PETANI HANYA SEMENTARA
PETANI di Kabupaten Karawang, Subang, serta sebagian Indramayu,
dan Cirebon di Jawa Barat, hari-hari ini bisa menyunggingkan senyum
senang. Ekspresi kegembiraan itu muncul lantaran mereka merasa bahwa
jerih payahnya dihargai. Harga gabah hasil panen petani MT (musim
tanam) 1994 saat ini masih tinggi dalam ukuran mereka.
Harga gabah jenis GKP (gabah kering panen) berkisar Rp 400--Rp
450/kg, sedang untuk GKG (gabah kering giling) yang siap digiling
menjadi beras, harganya sudah di atas Rp 500/kg.
Tetapi sebagian petani di Indramayu dan Cirebon, juga petani di
daerah lain, agaknya harus menunda perasaan senang lantaran lahan
persawahan mereka mengalami kekeringan. Di Indramayu, sawah yang
sudah dinyatakan puso mencapai 4.950 ha, dan di Cirebon 2.700 ha.
Tidak ada senyum tersungging di bibir para petani yang
terakhir. Tanaman padi MT 1994 yang jadi tumpuan harapan telah
berubah menjadi jerami-jerami kering tidak berguna. Untuk menyambung
hidup, akhirnya sebagian dari mereka, terutama petani gurem,
terpaksa hengkang dari desanya, mencari kerja apa saja di kota.
Kondisi berbeda dialami sebagian petani lain di Indramayu dan
Cirebon. Lahan tanaman padi mereka yang selamat dari ancaman
kekeringan, dan berhasil dipanen, membuat mereka menyunggingkan
senyum seperti petani tetangga di Karawang dan Subang. Di sini nilai
tukar gabah hasil sawah mereka sama tingginya.
Musim panen MT 1994 yang kini tengah berlangsung di Cirebon,
mencakup areal seluas 5.000 ha. Bahkan di Indramayu sudah sekitar
30.000 ha tanaman padi yang dipanen. Areal luas panen yang tidak
jauh berbeda dengan di Indramayu, telah berlangsung pula di Karawang
dan Subang. Panen raya di empat kabupaten "lumbung beras" di Jabar
itu, diperkirakan akan berlangsung sampai Agustus ini.
***
PENGAMATAN Kompas di areal persawahan di Karawang, Subang, dan
Indramayu pekan lalu menunjukkan, sebagian areal persawahan lain di
Kecamatan Ciasem, Patokbeusi (Subang), dan sebagian di Kecamatan
Jatisari (Karawang) rata-rata usia tanaman padi sudah tiga bulan.
Diperkirakan, panenan berlangsung September 1994 nanti.
"Mudah-mudahan harga gabah tetap tinggi seperti sekarang,
ketika sawah saya panen nanti," kata seorang petani di Pamanukan,
Kabupaten Subang.
Harapan yang dilontarkan petani tadi cukup beralasan. Dia
khawatir, harga padi/gabah yang sekarang tinggi akan kembali menurun
bila operasi pasar (OP) beras semakin membanjiri pasar-pasar. Atau
manakala produksi padi melimpah, dan saat panen raya mendatang.
Kalau itu terjadi, para petani tidak akan merasakan tingginya
nilai tukar hasil jerih payah mereka. Tak bakal merasakan bahagia
seperti yang dialami Aying (40) petani di Gempolsari, Patokbeusi
yang dapat menjual gabah kering panennya seharga Rp 440/kg.
"Saat ini harga gabah kering giling sudah di atas Rp 500," kata
beberapa tengkulak yng membeli GKP, langsung di lokasi-lokasi panen
di Patokbeusi dan Jatisari.
Harga gabah di tingkat petani saat ini, sudah jauh di atas
harga dasar gabah tahun 1994 yang ditetapkan pemerintah yakni Rp
260/kg untuk GKP dan Rp 360/kg untuk GKG. Bagi petani, nilai tukar
gabah sekarang cukup layak untuk jerih payah mereka. Kelebihan hasil
penjualan, akan dapat memperpanjang pemenuhan kebutuhan hidup yang
mereka dapat dari hasil pertanian itu.
Apalagi, mereka tidak merasakan "manisnya" hasil nilai tukar
gabah MT 1993/1994 sebelumnya. Ketika itu harga gabah paling tinggi
sesuai standar pemerintah yakni Rp 260/kg untuk GKS (gabah kering
simpan), bahkan sebagian lain hanya dihargai Rp 240-Rp 250/kg.
***
HARGA gabah pada saat ini yang dirasakan cukup tinggi, akhirnya
berpengaruh pada melambungnya harga beras di pasaran. Di sejumlah
daerah di Karawang, Subang, dan Indramayu, harga beras kualitas
sedang masih berkisar Rp 750--Rp 800/kg. Bahkan di Cirebon, harga
beras dengan kualitas sama Rp 800--Rp850/kg.
Tetapi keuntungan yang didapat petani dalam waktu satu tahun
(dua MT) sebenarnya tidaklah terlalu tinggi. Para petani di Ciberes,
Patokbeusi, dan Jatibaru, Jatisari merinci, sawah mereka seluas satu
bahu (0,7) pada MT 1994, menghasilkan tiga ton GKP bersih. Dengan
nilai jual Rp 440/kg, didapatkan hasil uang Rp 1.320.000. "Tapi saya
harus memperhitungkan semua pengeluaran untuk pengolahan tanaman
padi dan sawah saya itu," kata petani Ciberes.
Untuk biaya produksi MT 1994 dia mengeluarkan uang Rp 250.000,
untuk traktor pengolah lahan sawah, bibit, pupuk, obat-obatan hama,
dan lainnya. Diperoleh hasil bersih Rp 1.070.000.
Sedangkan hasil bersih dari sawah/tanaman satu bahu padi MT
1993/1994 lalu juga sebanyak tiga ton, hanya senilai Rp 530.000.
Hingga total yang didapat petani dari tanaman padi satu bahu untuk
satu tahun (dua MT), hanya Rp 1.600.000.
"Tetapi itu pun harus dikurangi dengan biaya untuk sawah lain,
seperti PBB, hektaran, dan iuran air," kata petani di Ciberes. PBB
satu bahu dibayar Rp 42.000, dan hektaran (dana swadaya pembangunan
desa) Rp 100.000.
Setelah dikurangi Rp 142.000, hasil yang didapat petani dari
sawahnya seluas satu bahu, dalam waktu satu tahun Rp 1.480.000. Atau
untuk tiap bulan dia hanya mendapat Rp 123.300. Dengan perhitungan
sama, dari areal satu hektar sawah yang menghasilkan 4,5 ton GKG,
penghasilan petani setahun Rp 1.838.000, atau Rp 153.160 sebulan.
Gembar-gembor tentang tingginya harga beras dan gabah saat ini,
sebenarnya tidak bersifat riil, karena yang didapat petani tetap
rendah. Kalau pun petani sementara ini bisa tersenyum senang, karena
mereka merasa bersyukur dengan harga sekarang. Itu berarti membantu
menambah sedikit penghasilan mereka. (agus mulyadi)
Teks Foto
Kompas/mul
MENGUNTUNGKAN -- Harga gabah hasil panen MT 1994 yang mencapai Rp
440/kg untuk GKP, kali ini menguntungkan kalangan petani. Seperti
yang dialami petani Aying (tak bertopi) dari Desa Gempolsari ini.
Langganan:
Postingan (Atom)

