KOMPAS - Minggu, 11 Mar 2001 Halaman: 26 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 9748
DARI JAKARTA NARKOBA MENGALIR
JAKARTA masih menjadi kontributor terbesar pasokan narkoba danpsikotropika di Indonesia. Bahkan Jakarta kini bukan cuma menjadipasar dan distributor barang laknat itu ke berbagai daerah, tetapijuga sudah naik peringkat sebagai produsen dan eksportir ecstasy.
PIHAK kepolisian memperkirakan 1,3 juta warga Jakarta adalahpemakai narkoba dan psikotropika. Walaupun tanpa bukti demografi,sebuah organisasi yang menamakan diri LSM Program Penanggulangan danPemberantasan Penyalahgunaan Narkoba, malah melontarkan dugaan lebih mengejutkan, yaitu sekitar 3,4 juta atau 25 persen warga Jakartapernah memakai narkoba, 85 persen di antaranya pelajar dan mahasiswa.
Dengan konsumen begitu besar, pasokan narkoba yang masuk keJakarta memang luar biasa besar. Yang tertangkap dari sekali usahapenyelundupan di bulan Januari saja, polisi menyita 1,3 ton ganjaserta 6,8 kilogram heroin.
Bayangkan yang tidak tertangkap danberedar di pasar. Pintu masuk yang paling sering dipakai adalahBandara Soekarno-Hatta.Seorang pejabat Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) BandaraSoekarno-Hatta mengakui, penyelundupan heroin, morfin, dan ecstasy,dilakukan sindikat internasional.
"Pelakunya bekerja untuk jaringan internasional yang sangat kuat," kata pejabat yang tidak mau disebut namanya, dengan alasan keamanan keluarganya.
Jaringan pengedar narkotika dan psikotropika internasional itu mempunyai ciri-ciri antara lain, organisasinya rapi, tahu pasar, dan tingginya pemakai di Indonesia. Ciri lain, mereka tahu siapa yangakan menerima heroin, morfin atau ecstasy dan shabu di Indonesia.
Penyelundup umumnya pernah ke Indonesia atau tinggal di Indonesia.Dalam kasus penyelundupan di bulan Januari lalu, misalnya, parapenyelundup datang menggunakan pesawat dari Lahore dan Karachi(Pakistan). S
ebelumnya, mereka menempuh perjalanan dari Bangkok langsung ke Jakarta, atau transit terlebih dahulu di Singapura."Tidak mungkin para penyelundup itu melakukannya sendiri-sendiri.Mereka pasti berasal dari satu jaringan internasional yang sangatkuat. Apalagi mereka datang dari negara yang jauh dari Indonesia,seperti negara-negara Afrika," katanya.
Untuk memasukkan barang ke Indonesia, para penyelundup biasanyamemakai warga Nigeria dan Nepal, serta dari beberapa negara Afrikalain, seperti Zimbabwe dan Angola, atau warga Indonesia sendiri.
Ciri lain jaringan internasional ini adalah cara penyelundupan yangdilakukan. Salah satunya adalah dikenal dengan nama shot gunning.Penyelundupannya dilakukan dengan cara memasukkan banyak penyelundupdalam kurun waktu pendek. Dengan cara seperti itu diharapkan ada diantaranya yang berhasil.
Shot gunning misalnya terjadi pada 28, 29, dan 30 Januari 2001lalu. Ketika itu, secara berturut-turut terjadi tiga kali upayapenyelundupan heroin ke Indonesia. Beruntung petugas KPBC Soekarno-Hatta I jeli, sehingga tiga kali penyelundupan heroinseberat 2.600 gram (2,6 kilogram) dapat digagalkan.
Modus operandi yang dilakukan tiga penyelundup itu pun sama,dengan cara menyembunyikan heroin di dalam perut (ditelan atauswallower). Sebelum ditelan, serbuk putih heroin dimasukkan terlebihdahulu ke dalam butiran-butiran kapsul sebesar kepompong ulat sutra.
Para penyelundup yang gagal antara lain, Zwelibanzi Manana (37) warganegara Afrika Selatan, Hansen Anthony Nwaolisa (33) warga negaraNigeria, dan Ozias Sibanda (33) warga negara Zimbabwe.Beberapa hari sebelumnya 20 Januari 2001, seorang warga negaraNepal Indra Bahadur Tamang (21), juga mencoba menyelundupkan 900 gramheroin dengan cara menelannya.
Seorang warga Nigeria, SamuelIwuchukwu Okeye pada 9 Januari 2001, mencoba pula menyelundupkan 3,8kilogram heroin yang disembunyikannya di dalam tas.Kelima penyelundup heroin itu, kini mendekam di tahanan Markas Besar Polri.
Analisa profil
Pemeriksaan isi perut dengan sinar-x (rontgen) itu, merupakanprosedur standar yang dilakukan petugas KPBC Soekarno-Hatta I. Sebelum seseorang diperiksa, sebelumnya dilakukan analisa profil terhadap para penumpang pesawat yang baru tiba di bandara.Jika petugas KPBC mencurigai seseorang, pemeriksaan segera dilakukan.Tidak hanya barang bawaan yang diperiksa, tetapi juga isi perutnya.
Dengan analisa profil, selama ini banyak kasus penyelundupan bisa digagalkan. Melalui cara ini, petugas KPBC mengamati para penumpangyang baru turun dari pesawat."Biasanya orang yang membawa barangterlarang, apalagi ke negara lain, akan bertingkah laku kurang wajar.Kadang dia terlihat tegang. Kalau melihat orang seperti itu, petugasKPBC segera memeriksanya," ujar pejabat KPBC I.
Selain analisa profil, pengamatan terhadap penumpang pesawat yangbaru tiba di bandara, antara lain dilakukan pula dengan alat pemantaumonitor dan sinar-x. Jika ditemukan benda mencurigakan, isi tas dantubuh penumpang pun diperiksa.
Upaya penyelundupan narkotika dan psikotropika dengan berbagaicara menyebabkan petugas KPBC I yang berjumlah 307 orang pun kini semakin waspada . Untuk mengelabui petugas, penyelundup tidak segan-segan mencobanya dengan cara yang membahayakan diri sendiri, sepertidengan cara menelannya itu. Cara itu berisiko kehilangan nyawa jikakapsul yang berisi heroin pecah di dalam perut.
Pemasaran berjenjang
Jika lolos masuk Jakarta, komoditas narkoba beredar secara berjenjang, untuk mencegah dan menghindari kejaran polisi. Jaringanpemilik narkoba, biasanya mempercayakan beberapa bandar atauBD-biasanya empat atau lima bandar-yang memiliki kerja dan wilayahoperasi berlainan.
Bandar pertama, hanya mengatur masuknya "pasokan" dari luar negeri, untuk kemudian mendistribusikan ke hotel-hotel besar atau apartemen mewah di sekitar Jakarta.Sesuai perannya, biasanya bandarpertama dilakukan orang-orang keturunan Tionghoa.Kabarnya di Jakarta hanya ada 4 bandar pertama, semuanya praktis untouchable, karena dilindungi tukang pukul, pengacara atau bahkanoknum aparat keamanan.
Pada tingkat ini pula biasanya diatur pasokanuntuk daerah di luar Jakarta, tergantung kesepakatan antara BD1 yangtersebar di Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau Bali.
Selanjutnya, pasokan akan disebar lagi oleh bandar BD2, yang jugaberoperasi dari hotel ke hotel berbintang tiga atau kawasan perumahan. Sama seperti kurir yang membawa narkoba dari luar negeri,para BD2 ini kebanyakan berasal dari negara-negara Afrika. Sedangkan penerimanya adalah BD3 yang beredar di beberapa hotel di kawasanKota, Tanah Abang atau Jalan Jaksa, Menteng.
Polisi biasanya cuma mampu menjerat pengedar pada tingkat BD2 ini saat bertransaksi denganpara BD3.Barang-barang dari BD2 biasanya disebar lagi oleh para BD3, yang umumnya warga Indonesia.
Mereka menyebarkan narkoba lewat pesanan telepon, atau kepada pengecer atau BD4 yang umumnya telah mereka kenal. BD4 inilah yang bersinggungan secara langsung dengan konsumen,atau pengecer kelas teri untuk kawasan perkampungan.Ekspor dan imporUpaya penyelundupan narkotika dan psikotropika melalui BandaraSoekarno-Hatta belakangan ini tidak hanya terjadi untuk yang impor.
Tetapi juga ekspor atau persisnya penyelundupan ke luar negeri.Penyelundupan keluar dilakukan pertama kali pada 26 September1999 oleh seorang warga Singapura, Kow Mui Hat alias Gao Meita (34).Sebanyak 5.852 butir ecstasy produksi dalam negeri ketika itu hendakdiselundupkan ke Taiwan.
Ekspor ecstasy menandai mulai pintarnyajaringan pengedar di Indonesia, yang mampu memproduksinya sendiri.Salah satu ekspor ecstasy ke Taiwan lainnya terjadi pada 24 Juli2000. Sebanyak 4.721 butir ecstasy buatan Indonesia, ketika ituhendak diselundupkan oleh Ceng Ching Lung (30), warga negara Taiwan.
Ceng kini mendekam di penjara, setelah dijatuhi hukuman penjara empattahun di Pengadilan Negeri Tangerang, Desember lalu.Upaya menyelundupkan heroin dan kokain ke luar negeri, pernah dilakukan pula oleh tiga bersaudara warga negara Indonesia yaituMeirika Pranola (30), Rani Andriani (25) dan Deni Setia Maharwan(28).
Ketiganya telah dijatuhi vonis hukuman mati, juga olehPengadilan Negeri Tangerang Agustus 2000, karena terbukti menyelundupkan 3,5 kilogram heroin dan tiga kilogram kokain, dengantujuan London.Pada tahun 2000, empat warga negara Nepal, Nar Bahadur Tamang(59), Bala Tamang (30), Til Bahadur Badhari (32), Bahadur Gurung(24), dan seorang warga negara Angola, Thomas Daniel (40), jugadivonis hukuman mati karena menyelundupkan heroin ke Indonesia.
Keuntungan berlimpah yang diperoleh dari penyelundupan, terus mendorong penyelundup lain mencoba melakukannya. Terlebih lagi, jika barang yang diselundupkan adalah miliknya sendiri, keuntungannya berlipat ganda.Para penyelundup yang berhasil dibekuk petugas KPBC Soekarno-Hatta I umumnya mengaku hanya sebagai kurir dengan dijanjikanmendapat sejumlah imbalan. Salah seorang penyelundup heroin yangdibekuk Januari 2001, Hansen Anthony Nwaolisa, mengaku mendapatkan upah 2.000 dollar AS dari orang yang menyuruhnya. (Agus Mulyadi)
Rabu, 16 Juli 2008
Kematian Alda, Fenomena Gunung Es Narkoba
KOMPAS - Minggu, 17 Dec 2006 Halaman: 4 Penulis: amr; mul Ukuran: 3961 Foto: 1
Kriminalitas
KEMATIAN ALDA, FENOMENA GUNUNG ES NARKOBA
Diskotek masih dihinggapi stigma negatif: kelas sosial rawanpsikotropika, narkotika, dan obat-obatan berbahaya. Di situ berkumpulgenerasi penerus bangsa, segmen pasar paling potensial untukdijadikan klien para pengedar ekstasi, sabu, dan sebagainya.Liputan media begitu hebat melaknat barang haram itu, terutamapascakematian artis Alda Risma Elfariana (24) yang meninggal diduga akibat overdosis narkoba, Selasa (12/12).
Kehidupan malam yang bebasmelawan nilai-nilai konvensional turut dihujat.Dampaknya, masyarakat malam diperkirakan berkurang anggotanyakarena shock dan tersadar betapa kehidupan bebas, narkoba, dankematian amatlah tipis batasnya. Setidaknya mereka akan cooling down.
Namun, di diskotek-diskotek di Jakarta, misalnya dua diskotek diJalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk, JakartaBarat, dugaan itumeleset. Di dua tempat itu pada Sabtu (16/12) dini hari kehidupanjustru baru dimulai, melepas penat kota dengan iringan musik yangbisa bikin ekstase. Didominasi muda-mudi, suasana malam terasa makin"panas".
Mereka yang memuja keindahan tubuh, merayakan hidup hampir tiapmalam dengan cara yang tak pernah sempat dipikirkan para guru mereka.Mata memejam, bibir terkatup, kepala bergoyang-goyang, kadang-kadang seolah berputar.Karena ini bukan bursa saham, fluktuasi komunitas ini takterpengaruh oleh berita terkini kematian Alda.
Uniknya, ekonomi sekitar justru berputar cepat.Toko swalayan dan pedagang kaki lima tak pernah tidur melayani pelanggan. Tak bisa dimungkiri, tempat seperti ini penting menjadi salah satu seltransaksi ilegal.
Misalnya, Jumat (15/12) malam, aparat Direktorat Narkoba PoldaMetro Jaya menemukan 4.000 butir ekstasi di Jakarta Barat. Dan diJakarta Pusat ditemukan 1.000 butir ekstasi.Kasus ini menambah daftar barang bukti yang disita selama 2006(hingga Oktober) sebanyak 180.498 butir ekstasi; 1,12 juta gram sabu;597.641 butir obat daftar "G"; dan ganja mencapai angka mengesankan,9,9 juta gram (Data Badan Narkotika Nasional atau BNN).
Remaja memang mendominasi penggunaan narkoba. Remaja itu adalahpelajar SD (malah bisa disebut anak-anak) hingga SLTA. Tahun 2006(hingga Oktober), pengguna SLTA mencapai 14.971 orang, SLTP 4.736orang, dan SD 2.260 orang. Dari mahasiswa, 536 orang.
Kasus Alda
Kasus Alda adalah fenomena gunung es. Alda, satu dari 5.743 orangusia 20-24 tahun yang terlibat narkoba. Atau hanya satu dari 22.503pengguna narkoba tahun 2006."Jumlah ini bisa bertambah karena dataini baru sampai Oktober," ungkap Pranowo Dahlan, Sekretaris PelaksanaHarian BNN.
Tragisnya, Alda masuk jajaran satu dari 40 orang yang meninggaltiap hari karena narkoba. Hari itu, kata Pranowo, selain Alda, masih ada 39 orang meninggal. Ironisnya, kondisi ini nyaris dianggap "lumrah".
Kematian Alda yang menyentak publik menjadi peringatan aktualuntuk mengingatkan bahaya narkoba. Pesan yang ditangkap bukan sekadarjangan sekali-kali check-in di hotel dengan pengedar walaupun diabaik.
Lebih dari itu, jangan sekali-kali mendekati narkoba!Sayangnya, momentum ini tak bisa digunakan baik oleh polisi untukmenggeber kasus narkoba. Polisi belum bisa memainkan public relationyang baik.
Derap informasi tak mampu mengantar polisi profesionaldalam menyampaikan berita kepublik. Hasilnya justru kontraproduktif,selain publik tak mendapatkan haknya, bisa jadi ada yang jadi korbankarena berbagai spekulasi berita.
Media menempatkan mereka bak artis, diuber untuk jadi narasumber.Namun, berita masih berkembang penuh rumor, padahal bisa dicegah jikapolisi mengerti informasi itu bisa menjadi edukasi efektif. KematianAlda, dan 39 orang lainnya per hari itu, harus bisa memberi edukasi kepada kita. (AMIR SODIKIN/AGUS MULYADI)Foto: 1STUDIO MALIBU 62Alda
Kriminalitas
KEMATIAN ALDA, FENOMENA GUNUNG ES NARKOBA
Diskotek masih dihinggapi stigma negatif: kelas sosial rawanpsikotropika, narkotika, dan obat-obatan berbahaya. Di situ berkumpulgenerasi penerus bangsa, segmen pasar paling potensial untukdijadikan klien para pengedar ekstasi, sabu, dan sebagainya.Liputan media begitu hebat melaknat barang haram itu, terutamapascakematian artis Alda Risma Elfariana (24) yang meninggal diduga akibat overdosis narkoba, Selasa (12/12).
Kehidupan malam yang bebasmelawan nilai-nilai konvensional turut dihujat.Dampaknya, masyarakat malam diperkirakan berkurang anggotanyakarena shock dan tersadar betapa kehidupan bebas, narkoba, dankematian amatlah tipis batasnya. Setidaknya mereka akan cooling down.
Namun, di diskotek-diskotek di Jakarta, misalnya dua diskotek diJalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk, JakartaBarat, dugaan itumeleset. Di dua tempat itu pada Sabtu (16/12) dini hari kehidupanjustru baru dimulai, melepas penat kota dengan iringan musik yangbisa bikin ekstase. Didominasi muda-mudi, suasana malam terasa makin"panas".
Mereka yang memuja keindahan tubuh, merayakan hidup hampir tiapmalam dengan cara yang tak pernah sempat dipikirkan para guru mereka.Mata memejam, bibir terkatup, kepala bergoyang-goyang, kadang-kadang seolah berputar.Karena ini bukan bursa saham, fluktuasi komunitas ini takterpengaruh oleh berita terkini kematian Alda.
Uniknya, ekonomi sekitar justru berputar cepat.Toko swalayan dan pedagang kaki lima tak pernah tidur melayani pelanggan. Tak bisa dimungkiri, tempat seperti ini penting menjadi salah satu seltransaksi ilegal.
Misalnya, Jumat (15/12) malam, aparat Direktorat Narkoba PoldaMetro Jaya menemukan 4.000 butir ekstasi di Jakarta Barat. Dan diJakarta Pusat ditemukan 1.000 butir ekstasi.Kasus ini menambah daftar barang bukti yang disita selama 2006(hingga Oktober) sebanyak 180.498 butir ekstasi; 1,12 juta gram sabu;597.641 butir obat daftar "G"; dan ganja mencapai angka mengesankan,9,9 juta gram (Data Badan Narkotika Nasional atau BNN).
Remaja memang mendominasi penggunaan narkoba. Remaja itu adalahpelajar SD (malah bisa disebut anak-anak) hingga SLTA. Tahun 2006(hingga Oktober), pengguna SLTA mencapai 14.971 orang, SLTP 4.736orang, dan SD 2.260 orang. Dari mahasiswa, 536 orang.
Kasus Alda
Kasus Alda adalah fenomena gunung es. Alda, satu dari 5.743 orangusia 20-24 tahun yang terlibat narkoba. Atau hanya satu dari 22.503pengguna narkoba tahun 2006."Jumlah ini bisa bertambah karena dataini baru sampai Oktober," ungkap Pranowo Dahlan, Sekretaris PelaksanaHarian BNN.
Tragisnya, Alda masuk jajaran satu dari 40 orang yang meninggaltiap hari karena narkoba. Hari itu, kata Pranowo, selain Alda, masih ada 39 orang meninggal. Ironisnya, kondisi ini nyaris dianggap "lumrah".
Kematian Alda yang menyentak publik menjadi peringatan aktualuntuk mengingatkan bahaya narkoba. Pesan yang ditangkap bukan sekadarjangan sekali-kali check-in di hotel dengan pengedar walaupun diabaik.
Lebih dari itu, jangan sekali-kali mendekati narkoba!Sayangnya, momentum ini tak bisa digunakan baik oleh polisi untukmenggeber kasus narkoba. Polisi belum bisa memainkan public relationyang baik.
Derap informasi tak mampu mengantar polisi profesionaldalam menyampaikan berita kepublik. Hasilnya justru kontraproduktif,selain publik tak mendapatkan haknya, bisa jadi ada yang jadi korbankarena berbagai spekulasi berita.
Media menempatkan mereka bak artis, diuber untuk jadi narasumber.Namun, berita masih berkembang penuh rumor, padahal bisa dicegah jikapolisi mengerti informasi itu bisa menjadi edukasi efektif. KematianAlda, dan 39 orang lainnya per hari itu, harus bisa memberi edukasi kepada kita. (AMIR SODIKIN/AGUS MULYADI)Foto: 1STUDIO MALIBU 62Alda
Dikonsumsi di Kota Hingga Tepi Hutan
KOMPAS - Rabu, 04 Jun 2003 Halaman: 31 Penulis: b04; mul Ukuran: 9633 Foto: 1
DIKONSUMSI DI KOTA HINGGA TEPI HUTAN
KEPALA pria dan wanita di ruang salah satu diskotek di KotaPalembang, Sumatera Selatan (Sumsel), bergoyang-goyang ke kiri dan kekanan. Gerakan mereka tidak beraturan, tetapi seperti mengikuti ingar-bingar musik yang menggelegar di ruangan itu.
Suara musik yang terasa mengentak jantung dan memekakkan gendangtelinga tersebut seolah menyatu dengan mereka. Mata para pejoget,baik yang duduk maupun berdiri di lantai diskotek, sebagian besarterlihat terpejam.
"Mereka semua lagi on karena pengaruh ecstasy. Biasa lah, tiapmalam Minggu, ya, seperti itu," ujar salah seorang pengunjung yangbaru memasuki arena diskotek tersebut.
Diskotek yang terletak di lantai lima Hotel King di Jalan KolonelAtmo, Palembang, itu dipadati pengunjung. Semua bangku pada Sabtumalam itu penuh terisi. Di setiap bangku, umumnya, terdapat pasanganpria dan wanita.
Di dalam ruang diskotek yang memasang tarif masuk Rp 25.000 perorang tersebut terdapat pula satu ruangan khusus persis di depantoilet pria. Di dalam ruangan yang bagian depannya berdinding kacatersebut terdapat sejumlah wanita yang bisa menjadi pendampingpengunjung pria. Tarif mereka Rp 40.000 untuk tiap jamnya.
Mata terpejam, kepala bergoyang-goyang, dan dentuman musik bisadilihat dan dirasakan pula di diskotek lain di Hotel LembangPalembang.Diskotek yang memasang tarif masuk Rp 15.000 per orang tersebutlebih luas. Pengunjungnya pun lebih beragam karena banyak pula diantara mereka berasal dari kalangan anak baru gede (ABG).
Pengunjung dari kalangan ABG bisa dilihat pula di Diskotek PuriIndah di Jalan Tasik, Palembang, yang memasang tarif masuk Rp 10.000per orang. Kelakuan pengunjung di diskotek ini pun sama seperti duadiskotek lain, yakni bergoyang dan berjoget di bawah pengaruh ecstasy.
Keriuhan pengunjung ABG yang paling mencolok terdapat di diskotekHotel Princess dan Mega Bintang di kompleks Hotel Darma Agung,Palembang. Bahkan di Mega Bintang, ruangan diskotek selalu penuhsesak pengunjung.Diskotek yang memasang tarif murah meriah, Rp 5.000, pada Minggusore terlihat dipenuhi pengunjung ABG pria dan wanita.Semuanya terlihat bergoyang dalam iringan dentuman irama housemusic yang memekakkan telinga.
Mereka seperti tidak peduli denganyang lain kecuali bergoyang sesuka hati mengikuti irama musiktersebut.House music dan ecstasy seperti menjadi bagian dari kehidupanremaja Palembang!
NUN jauh di lokasi lain yang letaknya hampir 400 kilometersebelah barat Palembang, dentuman ingar-bingar irama house musicterdengar jelas pula dari dalam gedung di tepi hutan itu. Irama musikyang mengentak jantung dan serasa memecahkan gendang telinga itu punmengiringi pria dan wanita yang berada di dalam ruangan asal suarauntuk berjoget.
Lokasi gedung tempat kegaduhan irama musik tersebut terletakdi Kampung Patok Besi. Kampung yang terletak di tepi hutan yangdilintasi Jalan Lintas Tengah Sumatera tersebut merupakan lokalisasipelacuran yang termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Sumber Agung, KotaLubuk Linggau.
"Tiap malam, terutama malam Minggu, tempat ini selalu ramaipengunjung. Mereka umumnya pengunjung yang memang suka main ke tempatpelacuran ini," ujar seorang sopir angkutan kota yang mengantarKompas ke lokalisasi itu.
Pengunjung diskotek di lokalisasi tepi hutan itu pun sama sepertitempat lain, menikmati entakkan musik di bawah pengaruh ecstasy atauyang biasa disebut kalangan pemakainya dengan nama inex.
"Di Lubuk Linggau sini gampang mas nyari ecstasy. Barang itutidak hanya mudah didapat di kota besar saja," katanya.
Jauh di selatan sana melewati batas Provinsi Sumsel, yakni diProvinsi Lampung, ecstasy juga bebas beredar di kalangan pengunjungdiskotek yang ada di kawasan Jalan Yos Sudarso.
Rentang jarak sekitar900 kilometer antara Lubuk Linggau dan Bandar Lampung tak mampumembuat perbedaan di kalangan pengunjung tempat hiburan tersebut.Meskipun dipisahkan jarak teramat jauh, sebagian pengunjungdiskotek di Lubuk Linggau dan Bandar Lampung sama-sama mencarihiburan di bawah pengaruh ecstasy.
Di Diskotek Meteor Garden di JalanYos Sudarso, Bandar Lampung, dengan mudah seorang pengunjung dapatmencari "pil gembira" tersebut.Pengunjung bisa memesan ecstacy melalui perantara pramuria ataupengunjung wanita yang bisa diajak untuk menemani minum. "Kalau mau nginex, saya kenalkan dengan teman saya," kata Lindy, seorangpramuria.
Sebentar kemudian, Lindy pergi dan kembali mengajak seoranglaki-laki muda yang mengaku bernama Anto."Mau berapa butir? Kalau micky mouse harganya Rp 70.000 perbutir," kata Anto menawarkan salah satu jenis ecstasy.
Anto jugamenyebut beberapa jenis lain dengan harga yang berbeda-beda."Mana uangnya, nanti saya ambilkan. Tunggu saja di sini, sayajamin barang saya bagus," demikian Anto merayu pengunjung yangberminat membeli ecstasy.
Butiran-butiran pil dengan bermacam-macam nama dan jenis sertaefek berbeda-beda bagi pemakainya tersebut bebas beredar di mana-mana. Ecstasy seperti telah menjadi bagian hidup sebagian warga,bahkan sampai ke pelosok Sumatera Selatan.
Butiran-butiran dengananeka warna yang kerap disebut pula pil setan itu sepertinya bebasdiedarkan dan dikonsumsi para pemakainya tanpa ada proteksi dariaparat kepolisian.
ECSTASY memang tidak lagi menjadi barang mewah dibandingkansekitar lima tahun lalu. Namun, bagi orang kebanyakan hargapsikotropika itu tetap di luar jangkauan.Saat ini, baik di Lubuk Linggau, Bandar Lampung, maupunPalembang, ecstasy dengan berbagai nama ditawarkan para pengedarnyadengan harga Rp 70.000-Rp 80.000 per butir.
Pil yang memberi efek gembira dan tidak mau diam bagi penggunanyatersebut dengan mudah dapat diperoleh di diskotek-diskotek yangterdapat di tiga kota itu. Bahkan bagi pendatang baru yang belummengenal isi perut diskotek tersebut, ecstasy bisa dengan mudahdidapatkan.
Para pramuria atau pengunjung wanita yang biasa mangkal didiskotek menjadi salah satu petunjuk atau pemberi jalan bagaimanamendapatkan ecstasy. Malahan mereka kadang merengek kepada pengunjunglaki-laki yang ditemaninya agar dibelikan ecstasy."Beli inex, dong, bang, sebutir saja. Aku bisa kok mendapatkannyadi sini," kata salah seorang pengunjung wanita di Diskotek Lembang.
Pengunjung wanita, sebut saja namanya Lili, itu menyatakan hargasebutir inex bermerek butterfly Rp 80.000. Maka ketika uang sejumlahitu diberikan kepadanya, Lili pun beranjak dari tempat duduk danmenuju ke arah pintu masuk diskotek.Tidak sampai lima menit kemudian dia telah kembali. Di antara ibujari dan telunjuk tangannya terjepit sebutir pil.
"Ini butterflybang," katanya.Dia pun lantas menenggak inex tersebut dengan air mineral. Dalamhitungan sekitar 20 menit kemudian, Lili telah bergoyang, berjoget.Kadang dia duduk, namun tetap menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiridan kanan.
Bebas dan begitu terbukanya peredaran ecstasy juga dengan mudahditemukan pula di Diskotek Mega Bintang. Sejak berada di pelataranparkir, barang haram itu sudah ditawarkan. Seorang pemuda yangrupanya biasa mangkal di lokasi itu tanpa rasa sungkan dan takutmenawarkan ecstasy kepada pengunjung yang baru turun dari mobil."Kalau mau inex ada bang, harganya Rp 70.000," ujarnya.
ABG dengan wajah pucat, mata kuyu, dan mulut terkatup atau tengahmengunyah permen karet keluar dari pintu yang terletak di lantaidasar Hotel Princess, yang menutup pentas diskotek pada pukul 17.30.Penampilan seperti itu tak bisa menyembunyikan pengaruh ecstasyyang masih bercokol dalam tubuh para remaja pria dan wanita tersebut.
Maraknya peredaran psikotropika jenis ecstasy di Palembang bahkanhingga Lubuk Linggau seperti menunjukkan tidak adanya upayapemberantasan oleh aparat kepolisian. Pada Sabtu malam, misalnya,polisi tidak melakukan razia ke diskotek-diskotek itu.Padahal, peredaran ecstasy sudah begitu mengkhawatirkan.
Dalamrazia mobil di Jalan Kapten A Rivai pada hari Sabtu (31/5) malam,misalnya, polisi membekuk pemilik ecstasy yang mobilnya terjaring.Pemberantasan narkotika, obat-obatan berbahaya, dan psikotropikaapakah hanya dilakukan secara kebetulan dalam razia seperti itu?
Menanggapi maraknya peredaran ecstacy di masyarakat, SosiologInstitut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Wijaya,mengatakan, hal itu terjadi karena masih lemahnya penegakan hukum,khususnya, dalam kasus-kasus narkoba.
"Meskipun sulit dibuktikan, faktanya ada sebagian penegak hukumjustru terlibat dalam mata rantai peredaran narkoba," kata Wijaya.
Selain itu, tingkat partisipasi masyarakat dalam pemberantasannarkoba masih rendah. "Ditambah, kesadaran masyarakat akan bahayanarkoba termasuk ecstasy juga masih sangat rendah," tambah Wijaya."Tidak ada gerakan nyata yang dilakukan untuk memberantasnya,"katanya.(B04/AGUS MULYADI)
Foto:prasetyo eko p
KELUAR DISKOTEK - Beberapa pengunjung salah satu diskotek diPalembang keluar dari tempat hiburan itu pada Selasa (3/6) dini hari.Sebelumnya mereka bersama ratusan pengunjung lainnya di tempat itutenggelam dalam irama house music. Saat menikmati musik riang itulah,hampir semua pengunjung diduga menenggak ecstasy.
DIKONSUMSI DI KOTA HINGGA TEPI HUTAN
KEPALA pria dan wanita di ruang salah satu diskotek di KotaPalembang, Sumatera Selatan (Sumsel), bergoyang-goyang ke kiri dan kekanan. Gerakan mereka tidak beraturan, tetapi seperti mengikuti ingar-bingar musik yang menggelegar di ruangan itu.
Suara musik yang terasa mengentak jantung dan memekakkan gendangtelinga tersebut seolah menyatu dengan mereka. Mata para pejoget,baik yang duduk maupun berdiri di lantai diskotek, sebagian besarterlihat terpejam.
"Mereka semua lagi on karena pengaruh ecstasy. Biasa lah, tiapmalam Minggu, ya, seperti itu," ujar salah seorang pengunjung yangbaru memasuki arena diskotek tersebut.
Diskotek yang terletak di lantai lima Hotel King di Jalan KolonelAtmo, Palembang, itu dipadati pengunjung. Semua bangku pada Sabtumalam itu penuh terisi. Di setiap bangku, umumnya, terdapat pasanganpria dan wanita.
Di dalam ruang diskotek yang memasang tarif masuk Rp 25.000 perorang tersebut terdapat pula satu ruangan khusus persis di depantoilet pria. Di dalam ruangan yang bagian depannya berdinding kacatersebut terdapat sejumlah wanita yang bisa menjadi pendampingpengunjung pria. Tarif mereka Rp 40.000 untuk tiap jamnya.
Mata terpejam, kepala bergoyang-goyang, dan dentuman musik bisadilihat dan dirasakan pula di diskotek lain di Hotel LembangPalembang.Diskotek yang memasang tarif masuk Rp 15.000 per orang tersebutlebih luas. Pengunjungnya pun lebih beragam karena banyak pula diantara mereka berasal dari kalangan anak baru gede (ABG).
Pengunjung dari kalangan ABG bisa dilihat pula di Diskotek PuriIndah di Jalan Tasik, Palembang, yang memasang tarif masuk Rp 10.000per orang. Kelakuan pengunjung di diskotek ini pun sama seperti duadiskotek lain, yakni bergoyang dan berjoget di bawah pengaruh ecstasy.
Keriuhan pengunjung ABG yang paling mencolok terdapat di diskotekHotel Princess dan Mega Bintang di kompleks Hotel Darma Agung,Palembang. Bahkan di Mega Bintang, ruangan diskotek selalu penuhsesak pengunjung.Diskotek yang memasang tarif murah meriah, Rp 5.000, pada Minggusore terlihat dipenuhi pengunjung ABG pria dan wanita.Semuanya terlihat bergoyang dalam iringan dentuman irama housemusic yang memekakkan telinga.
Mereka seperti tidak peduli denganyang lain kecuali bergoyang sesuka hati mengikuti irama musiktersebut.House music dan ecstasy seperti menjadi bagian dari kehidupanremaja Palembang!
NUN jauh di lokasi lain yang letaknya hampir 400 kilometersebelah barat Palembang, dentuman ingar-bingar irama house musicterdengar jelas pula dari dalam gedung di tepi hutan itu. Irama musikyang mengentak jantung dan serasa memecahkan gendang telinga itu punmengiringi pria dan wanita yang berada di dalam ruangan asal suarauntuk berjoget.
Lokasi gedung tempat kegaduhan irama musik tersebut terletakdi Kampung Patok Besi. Kampung yang terletak di tepi hutan yangdilintasi Jalan Lintas Tengah Sumatera tersebut merupakan lokalisasipelacuran yang termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Sumber Agung, KotaLubuk Linggau.
"Tiap malam, terutama malam Minggu, tempat ini selalu ramaipengunjung. Mereka umumnya pengunjung yang memang suka main ke tempatpelacuran ini," ujar seorang sopir angkutan kota yang mengantarKompas ke lokalisasi itu.
Pengunjung diskotek di lokalisasi tepi hutan itu pun sama sepertitempat lain, menikmati entakkan musik di bawah pengaruh ecstasy atauyang biasa disebut kalangan pemakainya dengan nama inex.
"Di Lubuk Linggau sini gampang mas nyari ecstasy. Barang itutidak hanya mudah didapat di kota besar saja," katanya.
Jauh di selatan sana melewati batas Provinsi Sumsel, yakni diProvinsi Lampung, ecstasy juga bebas beredar di kalangan pengunjungdiskotek yang ada di kawasan Jalan Yos Sudarso.
Rentang jarak sekitar900 kilometer antara Lubuk Linggau dan Bandar Lampung tak mampumembuat perbedaan di kalangan pengunjung tempat hiburan tersebut.Meskipun dipisahkan jarak teramat jauh, sebagian pengunjungdiskotek di Lubuk Linggau dan Bandar Lampung sama-sama mencarihiburan di bawah pengaruh ecstasy.
Di Diskotek Meteor Garden di JalanYos Sudarso, Bandar Lampung, dengan mudah seorang pengunjung dapatmencari "pil gembira" tersebut.Pengunjung bisa memesan ecstacy melalui perantara pramuria ataupengunjung wanita yang bisa diajak untuk menemani minum. "Kalau mau nginex, saya kenalkan dengan teman saya," kata Lindy, seorangpramuria.
Sebentar kemudian, Lindy pergi dan kembali mengajak seoranglaki-laki muda yang mengaku bernama Anto."Mau berapa butir? Kalau micky mouse harganya Rp 70.000 perbutir," kata Anto menawarkan salah satu jenis ecstasy.
Anto jugamenyebut beberapa jenis lain dengan harga yang berbeda-beda."Mana uangnya, nanti saya ambilkan. Tunggu saja di sini, sayajamin barang saya bagus," demikian Anto merayu pengunjung yangberminat membeli ecstasy.
Butiran-butiran pil dengan bermacam-macam nama dan jenis sertaefek berbeda-beda bagi pemakainya tersebut bebas beredar di mana-mana. Ecstasy seperti telah menjadi bagian hidup sebagian warga,bahkan sampai ke pelosok Sumatera Selatan.
Butiran-butiran dengananeka warna yang kerap disebut pula pil setan itu sepertinya bebasdiedarkan dan dikonsumsi para pemakainya tanpa ada proteksi dariaparat kepolisian.
ECSTASY memang tidak lagi menjadi barang mewah dibandingkansekitar lima tahun lalu. Namun, bagi orang kebanyakan hargapsikotropika itu tetap di luar jangkauan.Saat ini, baik di Lubuk Linggau, Bandar Lampung, maupunPalembang, ecstasy dengan berbagai nama ditawarkan para pengedarnyadengan harga Rp 70.000-Rp 80.000 per butir.
Pil yang memberi efek gembira dan tidak mau diam bagi penggunanyatersebut dengan mudah dapat diperoleh di diskotek-diskotek yangterdapat di tiga kota itu. Bahkan bagi pendatang baru yang belummengenal isi perut diskotek tersebut, ecstasy bisa dengan mudahdidapatkan.
Para pramuria atau pengunjung wanita yang biasa mangkal didiskotek menjadi salah satu petunjuk atau pemberi jalan bagaimanamendapatkan ecstasy. Malahan mereka kadang merengek kepada pengunjunglaki-laki yang ditemaninya agar dibelikan ecstasy."Beli inex, dong, bang, sebutir saja. Aku bisa kok mendapatkannyadi sini," kata salah seorang pengunjung wanita di Diskotek Lembang.
Pengunjung wanita, sebut saja namanya Lili, itu menyatakan hargasebutir inex bermerek butterfly Rp 80.000. Maka ketika uang sejumlahitu diberikan kepadanya, Lili pun beranjak dari tempat duduk danmenuju ke arah pintu masuk diskotek.Tidak sampai lima menit kemudian dia telah kembali. Di antara ibujari dan telunjuk tangannya terjepit sebutir pil.
"Ini butterflybang," katanya.Dia pun lantas menenggak inex tersebut dengan air mineral. Dalamhitungan sekitar 20 menit kemudian, Lili telah bergoyang, berjoget.Kadang dia duduk, namun tetap menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiridan kanan.
Bebas dan begitu terbukanya peredaran ecstasy juga dengan mudahditemukan pula di Diskotek Mega Bintang. Sejak berada di pelataranparkir, barang haram itu sudah ditawarkan. Seorang pemuda yangrupanya biasa mangkal di lokasi itu tanpa rasa sungkan dan takutmenawarkan ecstasy kepada pengunjung yang baru turun dari mobil."Kalau mau inex ada bang, harganya Rp 70.000," ujarnya.
ABG dengan wajah pucat, mata kuyu, dan mulut terkatup atau tengahmengunyah permen karet keluar dari pintu yang terletak di lantaidasar Hotel Princess, yang menutup pentas diskotek pada pukul 17.30.Penampilan seperti itu tak bisa menyembunyikan pengaruh ecstasyyang masih bercokol dalam tubuh para remaja pria dan wanita tersebut.
Maraknya peredaran psikotropika jenis ecstasy di Palembang bahkanhingga Lubuk Linggau seperti menunjukkan tidak adanya upayapemberantasan oleh aparat kepolisian. Pada Sabtu malam, misalnya,polisi tidak melakukan razia ke diskotek-diskotek itu.Padahal, peredaran ecstasy sudah begitu mengkhawatirkan.
Dalamrazia mobil di Jalan Kapten A Rivai pada hari Sabtu (31/5) malam,misalnya, polisi membekuk pemilik ecstasy yang mobilnya terjaring.Pemberantasan narkotika, obat-obatan berbahaya, dan psikotropikaapakah hanya dilakukan secara kebetulan dalam razia seperti itu?
Menanggapi maraknya peredaran ecstacy di masyarakat, SosiologInstitut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Wijaya,mengatakan, hal itu terjadi karena masih lemahnya penegakan hukum,khususnya, dalam kasus-kasus narkoba.
"Meskipun sulit dibuktikan, faktanya ada sebagian penegak hukumjustru terlibat dalam mata rantai peredaran narkoba," kata Wijaya.
Selain itu, tingkat partisipasi masyarakat dalam pemberantasannarkoba masih rendah. "Ditambah, kesadaran masyarakat akan bahayanarkoba termasuk ecstasy juga masih sangat rendah," tambah Wijaya."Tidak ada gerakan nyata yang dilakukan untuk memberantasnya,"katanya.(B04/AGUS MULYADI)
Foto:prasetyo eko p
KELUAR DISKOTEK - Beberapa pengunjung salah satu diskotek diPalembang keluar dari tempat hiburan itu pada Selasa (3/6) dini hari.Sebelumnya mereka bersama ratusan pengunjung lainnya di tempat itutenggelam dalam irama house music. Saat menikmati musik riang itulah,hampir semua pengunjung diduga menenggak ecstasy.
Label:
dugem,
ekstasi,
lubuk linggau,
palembang
Kota Tanpa Gelandangan
KOMPAS - Selasa, 03 Jun 2003 Halaman: 32 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5783
KOTA TANPA GELANDANGAN
BEKERJA keras! Itulah motto hidup warga Pulau Bangka, termasukpenduduk Kota Pangkalpinang. Mereka tidak mau menjadi pengangguranyang menjadi parasit bagi orang lain.
Membanting tulang sudah pastijauh lebih menjanjikan dan terhormat dibandingkan menjadi pengemis,misalnya.
Mungkin karena penduduknya yang suka bekerja keras itulah di KotaPangkalpinang tidak dijumpai gelandangan dan pengemis. Paling tidak,itulah yang terlihat ketika Kompas selama beberapa hari mengelilingiibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada pertengahan Mei 2003.
Apakah tidak adanya gelandangan atau pengemis yang berkeliaran dijalan-jalan dalam kota pertanda warga Pangkalpinang makmur? Ternyatajawabannya belum tentu. Jika diukur, masih banyaknya warga setempatyang hidup di bawah garis kemiskinan.
Data dari Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Kota Pangkalpinangdisebutkan, di kota itu terdapat sekitar 3.177 keluarga yangtergolong hidup di bawah garis kemiskinan. Namun, warga yang hidupnyapas-pasan itu pun ternyata tidak memilih menjadi pengemis.
Merekamemilih tetap bekerja sebagai buruh kasar, baik di lokasi-lokasipenambangan timah, di pasar, atau tempat lainnya.Jumlah penduduk kota yang akan berusia 47 tahun pada 16 November2003 itu sebenarnya tidak terlalu banyak, yakni sekitar 134.000 jiwa.Mereka umumnya mengandalkan hidup dari sektor perdagangan, jasa, danindustri.
Sekretaris Kota Pangkalpinang Zulkarnaen Karim menyebutkan, 58persen penduduk setempat mencari nafkah dari sektor primer, sepertiperdagangan, jasa, dan industri. Sementara yang menggantungkanhidupnya dari sektor sekunder berupa bidang pengolahan sepertikerajinan sebesar 22 persen.
Sisanya, 20 persen, bergerak dalambidang pertanian, perikanan, dan peternakan.Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang, ungkap Zulkarnaen,menyadari lilitan kemiskinan yang dialami sebagian warganya harusdilepaskan. Upaya yang dilakukan pemkot di antaranya denganmemberikan santunan Rp 50.000 per keluarga setiap bulannya.
"Anggarannya diambil dari dana abadi yang disimpan di bank. Uangitu berasal dari bantuan masyarakat, seperti kalangan pengusaha,"ujar Zulkarnaen.
Penghimpunan dana dan pemberian bantuan kemanusiaan seperti itu,menurut Zulkarnaen, merupakan wujud dari kesetiakawanan sosial yangditunjukkan warganya. Pembinaan kesetiakawanan sosial seperti itudiperlukan agar warga bersama-sama secara swadaya membantu sesamanyayang hidup dalam kemiskinan.Kesetiakawanan sosial itu ditanamkan kepada warga setempat sejakmereka masih sekolah.
"Setiap bulan Agustus, semua pelajar diPangkalpinang menghimpun beras. Jumlah beras yang dikumpulkan darisetiap siswa tidak banyak, semampu mereka masing-masing. Pengumpulanberas pada bulan Agustus itu sekaligus pula menanamkan jiwanasionalisme bagi pelajar," ucap Zulkarnaen.
TIDAK terlihatnya gelandangan atau pengemis berkeliaran di dalamkota memang tidak menjadi tolok ukur wilayah itu makmur secarakeseluruhan. Seandainya bentuk "penyakit masyarakat" lain yaknipelacuran juga menjadi acuan ketidakmakmuran warganya, KotaPangkalpinang sama seperti sebagian besar daerah lain di Indonesia,masih miskin.
Praktik pelacuran begitu nyata di kota yang mempunyai mottopembangunan Berarti (bersih, aman, rapi, tertib, dan indah) itu. Padamalam hari, misalnya, puluhan wanita pekerja seks komersial (PSK)bertebaran di seputar Lapangan Merdeka.
Di kawasan pusat kota yangterletak di depan rumah dinas Wali Kota Pangkalpinang itu denganbebas wanita PSK menjajakan diri.Berdampingan dengan Lapangan Merdeka, bentuk prostitusi lain jugadengan mudah ditemukan di Kompleks Taman Sari. Namun, di lokasi iniyang menjajakan diri berasal dari kalangan waria.
Praktik prostitusi di Pangkalpinang bisa ditemukan pula di dualokasi lain, yakni di kawasan Teluk Bayur dan Parit Enam. Mungkin,sulitnya mencari nafkah di zaman yang masih serba sulit sekarang yangmendorong sebagian perempuan muda menjadi PSK di Pangkalpinang.
Tak adanya gelandangan dan pengemis memang tak menjadi ukuranPangkalpinang adalah kota yang makmur. Anggaran Pendapatan danBelanja Daerah (APBD) Kota Pangkalpinang sampai tahun anggaran 2003pun masih bergantung sepenuhnya ke pemerintah pusat.
Dari APBD sebesar Rp 141 miliar pada tahun 2003, hanya Rp 9miliar yang ditargetkan berasal dari pendapatan asli daerah (PAD)sendiri. Sebagian besar anggaran berasal dari DAU (dana alokasi umum)yang diberikan pemerintah pusat.
Rendahnya PAD tersebut diakuiZulkarnaen Karim.Menurut dia, Kota Pangkalpinang memang tidakmemiliki sumber daya alam memadai. PAD kota ini hanya mengandalkandari retribusi seperti izin tempat usaha dan izin mendirikanbangunan. Lainnya berasal dari pajak penerangan jalan umum, pajakhotel, dan restoran.
Pemkot Pangkalpinang sendiri tentu saja tidak tinggal diam. Salahsatu upaya mendongkrak PAD tersebut, misalnya, berasal dari pajaksarang burung walet. Di kota itu sekarang terdapat lebih dari 70lokasi sarang burung walet.
Di Pangkalpinang memang tidak ditemukan gelandangan, pengemis,bahkan pengamen sekalipun. Di kota yang sebagian penduduknya hidupmiskin itu, kehidupan yang diwarnai pula praktik prostitusi, kerjakeras terus dilakukan warganya agar hidup layak dan lebih layak.
Pada era otonomi daerah sekarang, Pangkalpinang dianggapZulkarnaen lebih makmur dari pada tahun-tahun sebelumnya. Kalaupunmasih dililit kesulitan ekonomi, itu lebih karena imbas keterpurukanekonomi secara nasional selama lima tahun ini. (Agus Mulyadi)
KOTA TANPA GELANDANGAN
BEKERJA keras! Itulah motto hidup warga Pulau Bangka, termasukpenduduk Kota Pangkalpinang. Mereka tidak mau menjadi pengangguranyang menjadi parasit bagi orang lain.
Membanting tulang sudah pastijauh lebih menjanjikan dan terhormat dibandingkan menjadi pengemis,misalnya.
Mungkin karena penduduknya yang suka bekerja keras itulah di KotaPangkalpinang tidak dijumpai gelandangan dan pengemis. Paling tidak,itulah yang terlihat ketika Kompas selama beberapa hari mengelilingiibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada pertengahan Mei 2003.
Apakah tidak adanya gelandangan atau pengemis yang berkeliaran dijalan-jalan dalam kota pertanda warga Pangkalpinang makmur? Ternyatajawabannya belum tentu. Jika diukur, masih banyaknya warga setempatyang hidup di bawah garis kemiskinan.
Data dari Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Kota Pangkalpinangdisebutkan, di kota itu terdapat sekitar 3.177 keluarga yangtergolong hidup di bawah garis kemiskinan. Namun, warga yang hidupnyapas-pasan itu pun ternyata tidak memilih menjadi pengemis.
Merekamemilih tetap bekerja sebagai buruh kasar, baik di lokasi-lokasipenambangan timah, di pasar, atau tempat lainnya.Jumlah penduduk kota yang akan berusia 47 tahun pada 16 November2003 itu sebenarnya tidak terlalu banyak, yakni sekitar 134.000 jiwa.Mereka umumnya mengandalkan hidup dari sektor perdagangan, jasa, danindustri.
Sekretaris Kota Pangkalpinang Zulkarnaen Karim menyebutkan, 58persen penduduk setempat mencari nafkah dari sektor primer, sepertiperdagangan, jasa, dan industri. Sementara yang menggantungkanhidupnya dari sektor sekunder berupa bidang pengolahan sepertikerajinan sebesar 22 persen.
Sisanya, 20 persen, bergerak dalambidang pertanian, perikanan, dan peternakan.Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang, ungkap Zulkarnaen,menyadari lilitan kemiskinan yang dialami sebagian warganya harusdilepaskan. Upaya yang dilakukan pemkot di antaranya denganmemberikan santunan Rp 50.000 per keluarga setiap bulannya.
"Anggarannya diambil dari dana abadi yang disimpan di bank. Uangitu berasal dari bantuan masyarakat, seperti kalangan pengusaha,"ujar Zulkarnaen.
Penghimpunan dana dan pemberian bantuan kemanusiaan seperti itu,menurut Zulkarnaen, merupakan wujud dari kesetiakawanan sosial yangditunjukkan warganya. Pembinaan kesetiakawanan sosial seperti itudiperlukan agar warga bersama-sama secara swadaya membantu sesamanyayang hidup dalam kemiskinan.Kesetiakawanan sosial itu ditanamkan kepada warga setempat sejakmereka masih sekolah.
"Setiap bulan Agustus, semua pelajar diPangkalpinang menghimpun beras. Jumlah beras yang dikumpulkan darisetiap siswa tidak banyak, semampu mereka masing-masing. Pengumpulanberas pada bulan Agustus itu sekaligus pula menanamkan jiwanasionalisme bagi pelajar," ucap Zulkarnaen.
TIDAK terlihatnya gelandangan atau pengemis berkeliaran di dalamkota memang tidak menjadi tolok ukur wilayah itu makmur secarakeseluruhan. Seandainya bentuk "penyakit masyarakat" lain yaknipelacuran juga menjadi acuan ketidakmakmuran warganya, KotaPangkalpinang sama seperti sebagian besar daerah lain di Indonesia,masih miskin.
Praktik pelacuran begitu nyata di kota yang mempunyai mottopembangunan Berarti (bersih, aman, rapi, tertib, dan indah) itu. Padamalam hari, misalnya, puluhan wanita pekerja seks komersial (PSK)bertebaran di seputar Lapangan Merdeka.
Di kawasan pusat kota yangterletak di depan rumah dinas Wali Kota Pangkalpinang itu denganbebas wanita PSK menjajakan diri.Berdampingan dengan Lapangan Merdeka, bentuk prostitusi lain jugadengan mudah ditemukan di Kompleks Taman Sari. Namun, di lokasi iniyang menjajakan diri berasal dari kalangan waria.
Praktik prostitusi di Pangkalpinang bisa ditemukan pula di dualokasi lain, yakni di kawasan Teluk Bayur dan Parit Enam. Mungkin,sulitnya mencari nafkah di zaman yang masih serba sulit sekarang yangmendorong sebagian perempuan muda menjadi PSK di Pangkalpinang.
Tak adanya gelandangan dan pengemis memang tak menjadi ukuranPangkalpinang adalah kota yang makmur. Anggaran Pendapatan danBelanja Daerah (APBD) Kota Pangkalpinang sampai tahun anggaran 2003pun masih bergantung sepenuhnya ke pemerintah pusat.
Dari APBD sebesar Rp 141 miliar pada tahun 2003, hanya Rp 9miliar yang ditargetkan berasal dari pendapatan asli daerah (PAD)sendiri. Sebagian besar anggaran berasal dari DAU (dana alokasi umum)yang diberikan pemerintah pusat.
Rendahnya PAD tersebut diakuiZulkarnaen Karim.Menurut dia, Kota Pangkalpinang memang tidakmemiliki sumber daya alam memadai. PAD kota ini hanya mengandalkandari retribusi seperti izin tempat usaha dan izin mendirikanbangunan. Lainnya berasal dari pajak penerangan jalan umum, pajakhotel, dan restoran.
Pemkot Pangkalpinang sendiri tentu saja tidak tinggal diam. Salahsatu upaya mendongkrak PAD tersebut, misalnya, berasal dari pajaksarang burung walet. Di kota itu sekarang terdapat lebih dari 70lokasi sarang burung walet.
Di Pangkalpinang memang tidak ditemukan gelandangan, pengemis,bahkan pengamen sekalipun. Di kota yang sebagian penduduknya hidupmiskin itu, kehidupan yang diwarnai pula praktik prostitusi, kerjakeras terus dilakukan warganya agar hidup layak dan lebih layak.
Pada era otonomi daerah sekarang, Pangkalpinang dianggapZulkarnaen lebih makmur dari pada tahun-tahun sebelumnya. Kalaupunmasih dililit kesulitan ekonomi, itu lebih karena imbas keterpurukanekonomi secara nasional selama lima tahun ini. (Agus Mulyadi)
Label:
bangka,
miskin,
pangkalpinang,
timah
Lubuk Linggau, Kota Tak Pernah Mati
KOMPAS - Selasa, 01 Jul 2003 Halaman: 32 Penulis: mul Ukuran: 6751 Foto: 1LUBUK LINGGAU, KOTA TAK PERNAH MATI
LEBIH dari 25 mobil memenuhi tempat parkir di salah satu hotel diJalan Sudirman Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Kendaraan roda empatyang diparkir itu, tidak hanya beragam jenisnya, tetapi jugaberlainan nomor polisinya.
Mobil bernomor polisi dari berbagai kota atau daerah di Jawa danSumatera diparkir di tempat itu, karena pengendaranya tengahmenginap. Mereka tengah beristirahat sebelum melanjutkan perjalanankeesokan harinya.
Mobil yang diparkir tidak hanya bernomor polisi Medan, Bengkulu,Banda Aceh, Jambi, Lampung, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan,tetapi juga bernomor polisi Jakarta, Bogor, dan Bandung. "Mereka yangberistirahat di Lubuk Linggau ini, biasanya tengah menempuhperjalanan jauh," kata seorang pelayan hotel.
LUBUK Linggau, kota yang berada sekitar 350 kilometer sebelahbarat Palembang, merupakan kota transit. Dari kota ini, pengendarabisa melanjutkan perjalanan ke kota-kota di Sumatera maupun ke Jawa.Lokasinya di jalan lintas tengah (Jalinteng) Sumatera, membuat kotaini banyak dilewati pemakai jalan.
Pengendara yang datang dari Lampung tujuan Padang, Medan, BandaAceh, Bengkulu, atau Jambi, bisa melalui kota ini. Demikian pula,pengendara dari Medan, Jambi, Padang, atau Bengkulu, melewati danbisa beristirahat di kota ini.
Lokasi yang strategis menyebabkan Lubuk Linggau menjadi kota yangselalu hidup sepanjang hari. Kendaraan hilir mudik, tidak hanya sianghari, tetapi berlangsung pula sepanjang malam.Denyut kehidupan kota yang tidak pernah mati dari pemakai jalandan orang yang lalu lalang itu pula, yang kemudian membuat kehidupandi kota ini terus hidup 24 jam.
Warga kota pun akhirnya terbiasamelakukan aktivitas siang dan malam.Kehidupan kota pada malam hari, salah satunya bisa dilihat dipusat jajanan Pasar Mambo. Di kawasan ini, sekitar 50 pedagangmakanan, minuman, rokok, jamu, dan lainnya menggelar dagangan di duasisi jalan sampai ujung Jalan Sudirman. "Sebagian dari kami buka sampai pagi," kata Arsad (30), pedagangjamu.
Menurut anak transmigran asal Pulau Jawa ini, pedagang makanan diPasar Mambo tidak hanya warga setempat. "Kebanyakan malah pendatang,"ujarnya.
Bermacam dagangan digelar di Pasar Mambo yang berdampingan denganStasiun KA Lubuk Linggau. Warga setempat maupun pendatang yangtransit di kota itu, bisa makan malam sambil jalan-jalan di dalamkota.
Pasar Mambo bisa dijangkau dengan apa saja, baik jalan kaki, naikojek sepeda motor, naik becak, maupun mobil. Lokasinya yang di pusatkota membuat kawasan itu mudah didatangi."Sebagian besar pedagang makanan di sini, umumnya tutup jam 12.00(24.00-Red).
Namun, kawasan ini tetap ramai sampai pagi karena mulaijam 12.00 malam pedagang sayur mulai berdatangan. Otomatis kawasanini hidup siang dan malam," kata seorang pedagang sate padang.
Menikmati makan malam di Pasar Mambo, sebenarnya tidak ubahnyamakan di warung-warung kaki lima di mana pun. Seliweran kendaraan dijalan, sekadar melintas maupun yang hendak parkir, mewarnai kawasanitu.
Namun berbeda dengan di sejumlah kota lain, calon pembeli diPasar Mambo bisa memilih jenis makanan yang disukai. Di sini pembelibisa mencari makanan kaki lima apa saja seperti pecel lele, satepadang, sate madura, sop kaki kambing, dan martabak.
Kehidupan malam terlihat pula di sisi lain Kota Lubuk Linggau.Pendatang atau warga yang suka kehidupan malam, bisa menemukannya dilokalisasi pelacuran Patok Besi.Di lokasi ini terdapat lebih dari 50 rumah tempat mangkal wanitaPSK (pekerja seks komersial) yang sekaligus menjadi tempat kencansesaat.
Di lokalisasi yang letaknya sekitar delapan kilometer daripusat kota ini, terdapat pula sebuah diskotek yang bisa dijadikantempat menghilangkan kepenatan pengunjung.
LUBUK Linggau memang lebih besar dan lebih dikenal daripada kotalain di sekitarnya. Seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di kotaitu malah menyebutkan, Lubuk Linggau lebih besar dan ramai dibandingBengkulu, ibu kota provinsi tetangganya.
Kota yang terletak di pertemuan jalan lintas tengah dan baratSumatera ini, sebenarnya merupakan kota tua yang telah dikenal sejakdahulu kala. Bahkan, kolonial Belanda pun pada awal abad ke-20membangun jalur rel KA dari Lubuk Linggau hingga ke Kertapati,Palembang, dan Tanjung Karang, Bandar Lampung.
Melalui Lubuk Linggau berbagai hasil bumi diangkut. Sampaisekarang pun, jalur KA sampai ke Lubuk Linggau masih hidup. DariStasiun Lubuk Linggau, warga bisa melanjutkan perjalanan ke daerahatau kota tujuan masing-masing di provinsi Bengkulu, Jambi, maupunSumatera Barat.
Seorang penumpang KA Serelo yang baru tiba dari Palembang,Solihin (60), menyebutkan, dia selalu menggunakan KA dari LubukLinggau jika hendak ke Palembang atau sebaliknya. "Lebih pasti waktutibanya," ucap warga Curup, Bengkulu, tersebut.
Dari Lubuk Linggau ke Curup, perjalanan ditempuh menggunakanangkutan umum. Angkutan umum biasanya menunggu calon penumpang tujuankota itu di depan Stasiun KA Lubuk Linggau.Meskipun sudah berusia tua, kota ini baru berdiri secara otonomdua tahun lalu.
Sebelumnya, Lubuk Linggau merupakan ibu kotaKabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.Lubuk Linggau menjadi daerah otonom dengan status kota sejak 17Oktober 2001. Kota dengan penduduk sekitar 180.000 jiwa ini,sebelumnya menjadi ibu kota Musi Rawa sejak 20 April 1943.
Sejak menjadi daerah otonom, perkembangan kota pun semakin pesat.Saat ini, sejumlah hotel melati sampai bintang dua berdiri dikota itu. Sejumlah agen perjalanan siap mengantar warga bepergian kedaerah lain. Pendatang yang menggunakan angkutan umum, bisa pulamendapatkan jasa mobil sewaan untuk beraktivitas di kota ini.
"Kota ini tumbuh menjadi kota perdagangan," ujar Sofyan, salahseorang sopir mobil angkutan sembako.Mungkin karena tumbuh sebagai pusat perdagangan, muncul tokoswalayan, dan sejumlah bank dengan butik ATM-nya.
Bagi yang pertama kali melintas di kota ini, akan terkesimamelihat kota yang selalu hidup. Kota yang penduduknya sebagianpendatang ini, seperti tidak pernah mati. Denyut kehidupan kotaberjalan sepanjang hari, dari pagi hingga ke pagi berikutnya, seiringberjalannya kehidupan di jalan lintas timur Sumatera. (agus mulyadi)
Foto:Kompas/agus mulyadi
PASAR MAMBO - Kawasan Pasar Mambo di pusat Kota Lubuk Linggau setiapmalam dipadati pedagang makanan. Kota perlintasan itu hidup selama 24jam.
LEBIH dari 25 mobil memenuhi tempat parkir di salah satu hotel diJalan Sudirman Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Kendaraan roda empatyang diparkir itu, tidak hanya beragam jenisnya, tetapi jugaberlainan nomor polisinya.
Mobil bernomor polisi dari berbagai kota atau daerah di Jawa danSumatera diparkir di tempat itu, karena pengendaranya tengahmenginap. Mereka tengah beristirahat sebelum melanjutkan perjalanankeesokan harinya.
Mobil yang diparkir tidak hanya bernomor polisi Medan, Bengkulu,Banda Aceh, Jambi, Lampung, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan,tetapi juga bernomor polisi Jakarta, Bogor, dan Bandung. "Mereka yangberistirahat di Lubuk Linggau ini, biasanya tengah menempuhperjalanan jauh," kata seorang pelayan hotel.
LUBUK Linggau, kota yang berada sekitar 350 kilometer sebelahbarat Palembang, merupakan kota transit. Dari kota ini, pengendarabisa melanjutkan perjalanan ke kota-kota di Sumatera maupun ke Jawa.Lokasinya di jalan lintas tengah (Jalinteng) Sumatera, membuat kotaini banyak dilewati pemakai jalan.
Pengendara yang datang dari Lampung tujuan Padang, Medan, BandaAceh, Bengkulu, atau Jambi, bisa melalui kota ini. Demikian pula,pengendara dari Medan, Jambi, Padang, atau Bengkulu, melewati danbisa beristirahat di kota ini.
Lokasi yang strategis menyebabkan Lubuk Linggau menjadi kota yangselalu hidup sepanjang hari. Kendaraan hilir mudik, tidak hanya sianghari, tetapi berlangsung pula sepanjang malam.Denyut kehidupan kota yang tidak pernah mati dari pemakai jalandan orang yang lalu lalang itu pula, yang kemudian membuat kehidupandi kota ini terus hidup 24 jam.
Warga kota pun akhirnya terbiasamelakukan aktivitas siang dan malam.Kehidupan kota pada malam hari, salah satunya bisa dilihat dipusat jajanan Pasar Mambo. Di kawasan ini, sekitar 50 pedagangmakanan, minuman, rokok, jamu, dan lainnya menggelar dagangan di duasisi jalan sampai ujung Jalan Sudirman. "Sebagian dari kami buka sampai pagi," kata Arsad (30), pedagangjamu.
Menurut anak transmigran asal Pulau Jawa ini, pedagang makanan diPasar Mambo tidak hanya warga setempat. "Kebanyakan malah pendatang,"ujarnya.
Bermacam dagangan digelar di Pasar Mambo yang berdampingan denganStasiun KA Lubuk Linggau. Warga setempat maupun pendatang yangtransit di kota itu, bisa makan malam sambil jalan-jalan di dalamkota.
Pasar Mambo bisa dijangkau dengan apa saja, baik jalan kaki, naikojek sepeda motor, naik becak, maupun mobil. Lokasinya yang di pusatkota membuat kawasan itu mudah didatangi."Sebagian besar pedagang makanan di sini, umumnya tutup jam 12.00(24.00-Red).
Namun, kawasan ini tetap ramai sampai pagi karena mulaijam 12.00 malam pedagang sayur mulai berdatangan. Otomatis kawasanini hidup siang dan malam," kata seorang pedagang sate padang.
Menikmati makan malam di Pasar Mambo, sebenarnya tidak ubahnyamakan di warung-warung kaki lima di mana pun. Seliweran kendaraan dijalan, sekadar melintas maupun yang hendak parkir, mewarnai kawasanitu.
Namun berbeda dengan di sejumlah kota lain, calon pembeli diPasar Mambo bisa memilih jenis makanan yang disukai. Di sini pembelibisa mencari makanan kaki lima apa saja seperti pecel lele, satepadang, sate madura, sop kaki kambing, dan martabak.
Kehidupan malam terlihat pula di sisi lain Kota Lubuk Linggau.Pendatang atau warga yang suka kehidupan malam, bisa menemukannya dilokalisasi pelacuran Patok Besi.Di lokasi ini terdapat lebih dari 50 rumah tempat mangkal wanitaPSK (pekerja seks komersial) yang sekaligus menjadi tempat kencansesaat.
Di lokalisasi yang letaknya sekitar delapan kilometer daripusat kota ini, terdapat pula sebuah diskotek yang bisa dijadikantempat menghilangkan kepenatan pengunjung.
LUBUK Linggau memang lebih besar dan lebih dikenal daripada kotalain di sekitarnya. Seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di kotaitu malah menyebutkan, Lubuk Linggau lebih besar dan ramai dibandingBengkulu, ibu kota provinsi tetangganya.
Kota yang terletak di pertemuan jalan lintas tengah dan baratSumatera ini, sebenarnya merupakan kota tua yang telah dikenal sejakdahulu kala. Bahkan, kolonial Belanda pun pada awal abad ke-20membangun jalur rel KA dari Lubuk Linggau hingga ke Kertapati,Palembang, dan Tanjung Karang, Bandar Lampung.
Melalui Lubuk Linggau berbagai hasil bumi diangkut. Sampaisekarang pun, jalur KA sampai ke Lubuk Linggau masih hidup. DariStasiun Lubuk Linggau, warga bisa melanjutkan perjalanan ke daerahatau kota tujuan masing-masing di provinsi Bengkulu, Jambi, maupunSumatera Barat.
Seorang penumpang KA Serelo yang baru tiba dari Palembang,Solihin (60), menyebutkan, dia selalu menggunakan KA dari LubukLinggau jika hendak ke Palembang atau sebaliknya. "Lebih pasti waktutibanya," ucap warga Curup, Bengkulu, tersebut.
Dari Lubuk Linggau ke Curup, perjalanan ditempuh menggunakanangkutan umum. Angkutan umum biasanya menunggu calon penumpang tujuankota itu di depan Stasiun KA Lubuk Linggau.Meskipun sudah berusia tua, kota ini baru berdiri secara otonomdua tahun lalu.
Sebelumnya, Lubuk Linggau merupakan ibu kotaKabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.Lubuk Linggau menjadi daerah otonom dengan status kota sejak 17Oktober 2001. Kota dengan penduduk sekitar 180.000 jiwa ini,sebelumnya menjadi ibu kota Musi Rawa sejak 20 April 1943.
Sejak menjadi daerah otonom, perkembangan kota pun semakin pesat.Saat ini, sejumlah hotel melati sampai bintang dua berdiri dikota itu. Sejumlah agen perjalanan siap mengantar warga bepergian kedaerah lain. Pendatang yang menggunakan angkutan umum, bisa pulamendapatkan jasa mobil sewaan untuk beraktivitas di kota ini.
"Kota ini tumbuh menjadi kota perdagangan," ujar Sofyan, salahseorang sopir mobil angkutan sembako.Mungkin karena tumbuh sebagai pusat perdagangan, muncul tokoswalayan, dan sejumlah bank dengan butik ATM-nya.
Bagi yang pertama kali melintas di kota ini, akan terkesimamelihat kota yang selalu hidup. Kota yang penduduknya sebagianpendatang ini, seperti tidak pernah mati. Denyut kehidupan kotaberjalan sepanjang hari, dari pagi hingga ke pagi berikutnya, seiringberjalannya kehidupan di jalan lintas timur Sumatera. (agus mulyadi)
Foto:Kompas/agus mulyadi
PASAR MAMBO - Kawasan Pasar Mambo di pusat Kota Lubuk Linggau setiapmalam dipadati pedagang makanan. Kota perlintasan itu hidup selama 24jam.
Langganan:
Postingan (Atom)

