KOMPAS - Sabtu, 23 Sep 1995 Halaman: 8 Penulis: MUL Ukuran: 4512
SUNGAI ANGKER DAN MUNTABER DI LEUWIHIYEUM
SUNGAI Cipanggaur di Kampung Leuwihiyeum, Desa Argapura,
Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, mendadak sepi. Tidak ada
penduduk yang mandi, cuci, atau buang air besar. Padahal biasanya,
sebelum fajar menyingsing sampai rembang petang, di sungai itu
denyut kehidupan penduduk setempat terus berdetak.
Sungai di kampung itu benar-benar telah berubah sesuai nama
kampungnya yakni Leuwihiyeum. Terjemahan bebas penduduk setempat
menyebutkan leuwihiyeum berasal dari dua kata dalam bahasa Sunda,
leuwi (sungai) dan hiyeum (angker). Dengan kata lain, sungai di
Kampung Leuwihyeum telah menjadi sungai angker.
Suasana Leuwihiyem terletak sekitar 50 km barat kota Bogor.
Sungai yang lebar, dangkal, berair tenang, dikelilingi pepohonan
tinggi, pada musim kemarau ini perlahan mengalir, dengan kedalaman
paling tinggi sebatas lutut orang dewasa. Sebuah TPU (tempat
pemakaman umum) di seberang sungai, menyempurnakan keangkeran itu.
Penduduk Kampung Leuwihiyeum yang berjumlah sekitar 500 jiwa
atau 180-an KK (kepala keluarga), seolah terbenam di rumah masing-
masing. Mereka mandi dan mencuci di sumur dekat rumahnya, kecuali
buang hajat besar terpaksa masih di Sungai Cipanggaur (bukan Cipager
seperti berita hari Jumat (22/9).
Namun suasana angker dan sepi dari kegiatan itu ternyata hanya
bertahan dua hari. Mulai Jumat pagi kemarin, penduduk kembali
membanjiri kali yang melintas di kampungnya itu. Mereka mandi,
mencuci pakaian dan perlengkapan dapur, serta buang hajat di sungai,
seperti yang sudah turun temurun berlangsung.
Kampung Leuwihiyeum termasuk wilayah Desa Argapura. Menurut
Husnul Khotimah, Kaur Kemasyarakatan Desa Argapura, penduduk desa
itu 7.741 orang. Luas desa 3.681 ha, di antaranya terdiri atas sawah
319 ha, perkebunan mulik PTP XI (kelapa hibrida, cokelat, dan karet)
425 ha, dan hutan negara 180 ha.
Argapura terdiri atas enam kampung yakni Leuwihiyeum,
Leuwiceri, Bolang, Malangbong, Tipar, dan Cipining. Leuwihiyeum
sendiri dapat dijangkau melalui jalan antara Bunar-Parungpanjang.
Dari jalan itu, membelok ke barat satu kilometer lebih melalui jalan
berbatu di tengah-tengah kebun karet.
SELAMA dua hari dua malam, mulai Selasa malam hingga Kamis
siang lalu, warga setempat memang disibukkan oleh penyakit muntaber.
Sebanyak 96 warga harus berurusan dengan petugas kesehatan akibat
terjangkiti wabah ini, terdiri dari 92 orang penduduk Leuwihiyeum
dan 4 warga kampung tetangganya, Leuwihceri.
Dari jumlah itu, 20 pasien harus diinfus di Puskesmas Jasinga.
Seorang lainnya diinfus di posko yang dibentuk di salah satu rumah
penduduk Kampung Leuwihiyeum. Korban lainnya, 10 orang mendapat
pengobatan di Puskesmas Jasinga (tanpa rawat inap), dan sisanya 65
orang mendapat pengobatan di posko.
Tim kesehatan dari Puskesmas Lebakwangi yang dipimpin dr Ani
Supihani H, bahu-membahu mencegah semakin parahnya wabah muntaber.
Apalagi dalam serangan itu salah seorang penduduk, Ny Rumdayah (65),
meninggal saat dirawat di Puskesmas Jasinga. Korban lain di
puskesmas itu sudah pulang.
Sampai Jumat kemarin, di posko Leuwihiyeum tinggal seorang yang
masih diinfus, Ny Yoyo (25). Perempuan yang tengah hamil tujuh bulan
itu, diinfus mulai Jumat pagi. Dia termasuk korban paling akhir
terjangkit muntaber. Kemarin pagi, dua anak-anak juga harus diobati
tim kesehatan.
"Kami sudah membagikan oralit sebanyak 800 bungkus," kata dr
Ani, yang dibantu beberapa tenaga medis dari Puskesmas Lebakwangi.
Pengobatan di posko itu berlangsung sejak Rabu.
MUNTABER yang berjangkit di Leuwihiyeum diduga berhubungan
dengan kebiasaan hidup kurang bersih penduduk setempat. Yang paling
disoroti adalah kebiasaan mandi, mencuci, dan buang air besar di
Sungai Cipanggaur.
"Kami sudah terbiasa turun-temurun memanfaatkan sungai itu.
Meski penduduk di sini umumnya punya sumur, tetap saja mereka pergi
ke kali," kata Maad (60) penduduk setempat. Kebiasaan itu diakui
pula oleh Sekdes, H Mukmin. Dikatakan, hanya untuk masak dan minum,
penduduk setempat memakai air sumur.
Sungai Cipanggaur di Kampung Leuwihiyeum pun hanya berubah
angker dan tidak diminati selama dua hari. Karena kebutuhan dan
kebiasaan, mereka tetap kembali ke sungai itu. Mereka tidak sadar,
muntaber tetap mengancam. (agus mulyadi)
Kamis, 15 November 2007
VCD Porno, Pemicu Kasus Perkosaan
KOMPAS - Selasa, 12 Jun 2001 Halaman: 18 Penulis: mul Ukuran: 4241
VCD PORNO, PEMICU KASUS PERKOSAAN
DUA gadis cilik berusia tujuh dan sembilan tahun di Kabupaten
Tangerang, pekan lalu menjadi korban perkosaan dua pemuda tanggung.
Akibat perbuatan itu, masa depan keduanya (sebut saja namanya Mawar
dan Melati) menjadi suram. "Madu" telah terhisap kumbang jauh sebelum
waktunya.
Kasus perkosaan pertama menimpa diri Mawar di Perumahan Dasana
Indah, Desa Bojong Nangka, Kecamatan Legok, Rabu siang pekan lalu.
Tersangka pelakunya, pelajar kelas tiga SLTP (Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama) berinisial TP (16), tetangga korban di Dasana Indah.
Aksi TP, dilakukan di rumah orangtuanya yang sedang kosong.
Perkosaan yang menimpa Mawar, diketahui beberapa jam sesudah
kejadian, ketika ibunya merasa curiga melihat Mawar kesakitan saat
buang air kecil. Setelah didesak, Mawar menyebutkan TP melakukan
perbuatan jahat terhadap dirinya.
Dua hari berikutnya, Jumat siang, Melati, seorang gadis kecil
berusia sembilan tahun, menjadi korban yang dilakukan Nt (14). Melati
digagahi buruh pabrik itu, di belakang sebuah pabrik di Desa
Kadujaya, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang.
"Dua kasus perkosaan itu akan dituntaskan sesuai jalur hukum,
meskipun tersangka pelakunya masih di bawah umur," kata Kepala Polres
Metro Tangerang, Affan Richwanto, Senin (11/6).
KEPADA petugas Kepolisian Sektor (Polsek) Legok dan Curug yang
menangani kedua kasus itu, TP dan Nt mengaku kerap melihat film biru
di rumah teman-teman mereka. Gara-gara melihat adegan yang tidak
semestinya melalui VCD (video compact disc) player/pemutar piringan
cakram, kedua pemuda tanggung itu akhirnya ingin mencoba
merasakannya. Gairah mereka meletup ke permukaan sebelum waktunya.
Mereka pun akhirnya melepaskan hasrat seksualnya kepada gadis
kecil Mawar dan Melati. Mereka telah menjadi tersangka penjahat yang
harus menerima ganjaran mendekam di balik jeruji besi.
Terjadinya aksi perkosaan yang melibatkan anak-anak kecil itu,
diduga erat kaitannya dengan maraknya penjualan VCD porno di
Tangerang belakangan ini. Di mana-mana , di hampir semua tempat
penjualannya, terutama di pedagang kaki lima, peminat dapat dengan
mudah mendapatkannya. Harga VCD porno pun dapat dijangkau kantung
oleh hampir semua kalangan, antara Rp 5.000 - Rp 7.000, per keping.
Piringan cakram berisi adegan-adegan cabul tersebut, memang tidak
dijual secara mencolok, seperti VCD bajakan lainnya yang dijajakan.
Umumnya, pedagang VCD porno menyimpannya di dalam tas mereka atau
tempat lain yang tidak mencolok. Namun ketika ada calon pembeli yang
berminat, pedagang segera menunjukkan tas atau tempat menyembunyikan
VCD porno.
Hal seperti itu misalnya dilakukan dua pedagang kaki lima di
kawasan ujung Pasar Anyar di Jalan Ki Asnawi, dan di depan pabrik
Argo Pantes di Jalan MH Thamrin, Kota Tangerang. VCD porno yang
mereka jual, sebelumnya didapatkan dengan mudah pula dari pedagang di
kawasan perdagangan elektronik Glodok, Jakarta, dengan harga sekitar
Rp 3.500 - Rp 4.000, per keping.
Namun penjualan VCD porno, tidak hanya dilakukan para pedagang di
Kota Tangerang. Diduga, penjualan barang berisi adegan cabul
tersebut, telah masuk pula ke berbagai pelosok desa di Kabupaten
Tangerang, seiring bebasnya penjualan VCD bajakan.
Kepala Polres Tangerang, Affan Richwanto, ketika ditanya
menyatakan belum melihat adanya kaitan antara dua kasus perkosaan
terhadap dua gadis kecil, dengan "bebasnya" penjualan VCD porno di
Tangerang. Namun dia mengakui, kasus perkosaan di Legok dan Curug itu
menandakan telah rusaknya moral sebagian generasi muda.
Tentang bebasnya penjualan VCD porno, menurut Affan karena para
pedagang memanfaatkan setiap kesempatan untuk menjualnya. Ketika
polisi lengah, mereka menjual VCD porno. "Kami akan melakukan razia
VCD porno," janji Affan.
Sebelum jatuh korban lebih banyak lagi, penyebabnya memang harus
diberantas terlebih dahulu. Peredaran bebas VCD porno, tidak hanya
menyuramkan masa depan Mawar, Melati, dan korban-korban lainnya,
tetapi juga merusak moral generasi muda, seperti yang menimpa TP dan
Nt. (agus mulyadi)
VCD PORNO, PEMICU KASUS PERKOSAAN
DUA gadis cilik berusia tujuh dan sembilan tahun di Kabupaten
Tangerang, pekan lalu menjadi korban perkosaan dua pemuda tanggung.
Akibat perbuatan itu, masa depan keduanya (sebut saja namanya Mawar
dan Melati) menjadi suram. "Madu" telah terhisap kumbang jauh sebelum
waktunya.
Kasus perkosaan pertama menimpa diri Mawar di Perumahan Dasana
Indah, Desa Bojong Nangka, Kecamatan Legok, Rabu siang pekan lalu.
Tersangka pelakunya, pelajar kelas tiga SLTP (Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama) berinisial TP (16), tetangga korban di Dasana Indah.
Aksi TP, dilakukan di rumah orangtuanya yang sedang kosong.
Perkosaan yang menimpa Mawar, diketahui beberapa jam sesudah
kejadian, ketika ibunya merasa curiga melihat Mawar kesakitan saat
buang air kecil. Setelah didesak, Mawar menyebutkan TP melakukan
perbuatan jahat terhadap dirinya.
Dua hari berikutnya, Jumat siang, Melati, seorang gadis kecil
berusia sembilan tahun, menjadi korban yang dilakukan Nt (14). Melati
digagahi buruh pabrik itu, di belakang sebuah pabrik di Desa
Kadujaya, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang.
"Dua kasus perkosaan itu akan dituntaskan sesuai jalur hukum,
meskipun tersangka pelakunya masih di bawah umur," kata Kepala Polres
Metro Tangerang, Affan Richwanto, Senin (11/6).
KEPADA petugas Kepolisian Sektor (Polsek) Legok dan Curug yang
menangani kedua kasus itu, TP dan Nt mengaku kerap melihat film biru
di rumah teman-teman mereka. Gara-gara melihat adegan yang tidak
semestinya melalui VCD (video compact disc) player/pemutar piringan
cakram, kedua pemuda tanggung itu akhirnya ingin mencoba
merasakannya. Gairah mereka meletup ke permukaan sebelum waktunya.
Mereka pun akhirnya melepaskan hasrat seksualnya kepada gadis
kecil Mawar dan Melati. Mereka telah menjadi tersangka penjahat yang
harus menerima ganjaran mendekam di balik jeruji besi.
Terjadinya aksi perkosaan yang melibatkan anak-anak kecil itu,
diduga erat kaitannya dengan maraknya penjualan VCD porno di
Tangerang belakangan ini. Di mana-mana , di hampir semua tempat
penjualannya, terutama di pedagang kaki lima, peminat dapat dengan
mudah mendapatkannya. Harga VCD porno pun dapat dijangkau kantung
oleh hampir semua kalangan, antara Rp 5.000 - Rp 7.000, per keping.
Piringan cakram berisi adegan-adegan cabul tersebut, memang tidak
dijual secara mencolok, seperti VCD bajakan lainnya yang dijajakan.
Umumnya, pedagang VCD porno menyimpannya di dalam tas mereka atau
tempat lain yang tidak mencolok. Namun ketika ada calon pembeli yang
berminat, pedagang segera menunjukkan tas atau tempat menyembunyikan
VCD porno.
Hal seperti itu misalnya dilakukan dua pedagang kaki lima di
kawasan ujung Pasar Anyar di Jalan Ki Asnawi, dan di depan pabrik
Argo Pantes di Jalan MH Thamrin, Kota Tangerang. VCD porno yang
mereka jual, sebelumnya didapatkan dengan mudah pula dari pedagang di
kawasan perdagangan elektronik Glodok, Jakarta, dengan harga sekitar
Rp 3.500 - Rp 4.000, per keping.
Namun penjualan VCD porno, tidak hanya dilakukan para pedagang di
Kota Tangerang. Diduga, penjualan barang berisi adegan cabul
tersebut, telah masuk pula ke berbagai pelosok desa di Kabupaten
Tangerang, seiring bebasnya penjualan VCD bajakan.
Kepala Polres Tangerang, Affan Richwanto, ketika ditanya
menyatakan belum melihat adanya kaitan antara dua kasus perkosaan
terhadap dua gadis kecil, dengan "bebasnya" penjualan VCD porno di
Tangerang. Namun dia mengakui, kasus perkosaan di Legok dan Curug itu
menandakan telah rusaknya moral sebagian generasi muda.
Tentang bebasnya penjualan VCD porno, menurut Affan karena para
pedagang memanfaatkan setiap kesempatan untuk menjualnya. Ketika
polisi lengah, mereka menjual VCD porno. "Kami akan melakukan razia
VCD porno," janji Affan.
Sebelum jatuh korban lebih banyak lagi, penyebabnya memang harus
diberantas terlebih dahulu. Peredaran bebas VCD porno, tidak hanya
menyuramkan masa depan Mawar, Melati, dan korban-korban lainnya,
tetapi juga merusak moral generasi muda, seperti yang menimpa TP dan
Nt. (agus mulyadi)
Aksi Pelarian Tiga Narapidana Perempuan dari LP
KOMPAS - Minggu, 03 Dec 2000 Halaman: 1 Penulis: mul Ukuran: 5734
AKSI PELARIAN TIGA NARAPIDANA PEREMPUAN DARI LP
BAK adegan film, tiga perempuan yang mendekam di bui gara-gara
kasus narkotika dan psikotropika, secara perlahan-lahan menggergaji
terali besi kamar tahanan mereka. Setiap kali seorang dari mereka
menggergaji, dua narapidana lainnya mengawasi bagian luar ruang
tahanan agar tidak ketahuan oleh penjaga.
Aksi dengan gergaji besi itu dilakukan setiap saat, sejak Rabu
(29/11), pada waktu-waktu yang mereka anggap aman. Ketekunan tiga
perempuan yang mendekam di ruang tahanan Blok A LP (Lembaga
Pemasyarakatan) Wanita Dewasa Tangerang di Jalan TMP Taruna, Kota
Tangerang, itu membuahkan hasil. Pada Kamis malam batang besi selesai
digergaji dan tinggal dibengkokkan.
Ketiganya, Rani Andriyani (25), Maya (40), dan Angel (30),
bernafas lega. Mereka tinggal menunggu waktu yang tepat untuk
membengkokkan dan mematahkan batang terali besi itu, serta menyelinap
keluar.
Sejak beberapa minggu sebelumnya mereka mengumpulkan untaian
nilon sedikit demi sedikit untuk dibuat tali. Nilon itu mereka ambil
saat mengikuti pendidikan keterampilan di dalam LP Wanita.
Rani Andriyani, narapidana yang divonis hukuman mati oleh
Pengadilan Negeri Tangerang pada 22 Agustus 2000, adalah seorang
penyelundup heroin dan kokain. Dia dibekuk di kawasan Bandara
Soekarno-Hatta pada 12 Januari 2000, ketika hendak terbang ke London,
membawa 3,5 kilogram heroin dan tiga kilogram kokain. Rani ditangkap
polisi bersama dua saudara sepupunya, Meirika Franola dan Deny Setia
Maharwan, yang akhirnya juga dihukum mati dalam kasus yang sama.
Setelah lepas dari tahanan polisi, Rani mendekam di LP Wanita
Tangerang, hingga kini.
Sedangkan Angel dan Maya, juga terlibat kasus narkotika dan
psikotropika. Angel telah dijatuhi hukuman 18 bulan penjara, karena
memiliki putaw. Maya divonis hukuman delapan tahun penjara, karena
tersangkut kasus ecstasy. Dua wanita bertubuh langsing itu, menurut
seorang petugas LP Wanita Tangerang, baru sekitar dua bulan menempati
selnya di Tangerang. Sebelumnya mereka mendekam di LP Wanita
Pondokbambu, Jakarta Timur.
ENTAH ide siapa, tiga narapidana perempuan memilih waktu kabur
pada sekitar usai makan sahur dan shalat Subuh. Pertimbangannya
mungkin bahwa semua penjaga LP pada malam itu sudah kekenyangan
setelah makan sahur sehingga mengantuk, atau telah sampai pada puncak
kantuknya setelah berjaga sejak pukul 18.00.
Rani, Maya, dan Angel, segera membengkokkan terali besi yang
mereka gergaji. Satu per satu perempuan-perempuan perkasa, berani,
dan cerdik, itu menyelinap di sela terali besi yang dibengkokkan, dan
segera menuju ke menara pos jaga nomor dua, di bagian belakang LP.
Dari menara pos jaga yang kosong tanpa penjaga itu, satu per satu
mereka menuruni pagar tembok LP setinggi lima meter, dengan bantuan
tali nilon.
Namun malang bagi Rani, karena dia jatuh terduduk. Akibatnya,
sakit luar biasa segera menderanya. Kelak ketahuan kalau tulang
pinggangnya patah atau saling berhimpitan. Rani akhirnya ditinggal
pergi oleh Maya dan Angel. Aksi tiga narapidana perempuan itu baru
diketahui penjaga LP Wanita setelah Rani berteriak meminta tolong.
"Saya ingin pulang. Saya kangen sama orang tua dan saudara," ujar
Rani dengan berlinangan air mata, usai menceritakan kisahnya di ruang
IGD (instalasi gawat darurat) RSU Tangerang, Jumat siang.
Kerinduan Rani, anak sulung pasangan Neni dan Andi, semakin
menguat ketika memasuki bulan suci Ramadhan ini. Dia ingin kembali
merasakan makan sahur dan berbuka puasa, bersama ayah, ibu, dan dua
adik kandungnya, di rumahnya di Jalan Moch Yamin, Cianjur, Jawa
Barat.
Hingga Sabtu (2/12) siang belum diketahui siapa yang mendalangi
pelarian itu. Juga belum diketahui asal gergaji besi tersebut.
Seandainya gergaji berasal dari tamu yang mengunjungi mereka, kenapa
bisa lolos dari pengecekan petugas LP Wanita? Belum diketahui pula
apakah pelarian itu dibantu pihak lain.
Pada waktu pelarian berlangsung, LP dijaga oleh 11 petugas.
Sebagian adalah petugas laki-laki yang berjaga di pagar bagian dalam.
Sebagian lain para sipir wanita, bertugas di dalam blok-blok penjara.
Empat menara pos jaga di empat sudut LP Wanita seluas 1,6 hektar itu,
diduga tidak ditempati penjaga.
"Kami selama ini memang kekurangan orang, untuk mengawasi 211
narapidana dan tahanan di LP Wanita," ujar seorang petugas LP saat
menjaga Rani di RSU Tangerang.
Kepala LP Wanita Tangerang hingga Sabtu siang tetap sulit
ditemui. Petugas LP semuanya menolak kedatangan Kompas dan wartawan
lain, dengan menanyakan apakah membawa surat izin dari Kanwil Depkeh
DKI Jakarta. Menurut informasi, Kepala LP Wanita dan semua penjaga
yang bertugas pada malam pelarian narapidana, sudah diperiksa atasan
mereka dari Departemen Kehakiman.
Kaburnya tiga narapidana perempuan dari ruang penjara mereka,
mengagetkan petugas LP Wanita. Menurut seorang petugas LP Wanita,
selama 17 tahun dia bertugas di LP itu, baru kali ini ada kasus
pelarian narapidana.
"Kami tidak menduga sama sekali. Selama ini kami percaya tidak
bakal ada yang kabur, karena mereka semuanya perempuan. Kelengahan
kami rupanya dimanfaatkan Rani, Maya, dan Angel," ujarnya.
Pelarian yang cukup menggemparkan itu, diduga bisa terjadi
terutama akibat lengahnya petugas LP Wanita Tangerang. Mereka terlena
oleh adem-ayemnya penghuni LP selama ini.
Kepolisian Resor Tangerang hingga Sabtu sore, belum mampu melacak
keberadaan Maya dan Angel, yang tengah menghirup "udara bebas"-nya.
(agus mulyadi)
AKSI PELARIAN TIGA NARAPIDANA PEREMPUAN DARI LP
BAK adegan film, tiga perempuan yang mendekam di bui gara-gara
kasus narkotika dan psikotropika, secara perlahan-lahan menggergaji
terali besi kamar tahanan mereka. Setiap kali seorang dari mereka
menggergaji, dua narapidana lainnya mengawasi bagian luar ruang
tahanan agar tidak ketahuan oleh penjaga.
Aksi dengan gergaji besi itu dilakukan setiap saat, sejak Rabu
(29/11), pada waktu-waktu yang mereka anggap aman. Ketekunan tiga
perempuan yang mendekam di ruang tahanan Blok A LP (Lembaga
Pemasyarakatan) Wanita Dewasa Tangerang di Jalan TMP Taruna, Kota
Tangerang, itu membuahkan hasil. Pada Kamis malam batang besi selesai
digergaji dan tinggal dibengkokkan.
Ketiganya, Rani Andriyani (25), Maya (40), dan Angel (30),
bernafas lega. Mereka tinggal menunggu waktu yang tepat untuk
membengkokkan dan mematahkan batang terali besi itu, serta menyelinap
keluar.
Sejak beberapa minggu sebelumnya mereka mengumpulkan untaian
nilon sedikit demi sedikit untuk dibuat tali. Nilon itu mereka ambil
saat mengikuti pendidikan keterampilan di dalam LP Wanita.
Rani Andriyani, narapidana yang divonis hukuman mati oleh
Pengadilan Negeri Tangerang pada 22 Agustus 2000, adalah seorang
penyelundup heroin dan kokain. Dia dibekuk di kawasan Bandara
Soekarno-Hatta pada 12 Januari 2000, ketika hendak terbang ke London,
membawa 3,5 kilogram heroin dan tiga kilogram kokain. Rani ditangkap
polisi bersama dua saudara sepupunya, Meirika Franola dan Deny Setia
Maharwan, yang akhirnya juga dihukum mati dalam kasus yang sama.
Setelah lepas dari tahanan polisi, Rani mendekam di LP Wanita
Tangerang, hingga kini.
Sedangkan Angel dan Maya, juga terlibat kasus narkotika dan
psikotropika. Angel telah dijatuhi hukuman 18 bulan penjara, karena
memiliki putaw. Maya divonis hukuman delapan tahun penjara, karena
tersangkut kasus ecstasy. Dua wanita bertubuh langsing itu, menurut
seorang petugas LP Wanita Tangerang, baru sekitar dua bulan menempati
selnya di Tangerang. Sebelumnya mereka mendekam di LP Wanita
Pondokbambu, Jakarta Timur.
ENTAH ide siapa, tiga narapidana perempuan memilih waktu kabur
pada sekitar usai makan sahur dan shalat Subuh. Pertimbangannya
mungkin bahwa semua penjaga LP pada malam itu sudah kekenyangan
setelah makan sahur sehingga mengantuk, atau telah sampai pada puncak
kantuknya setelah berjaga sejak pukul 18.00.
Rani, Maya, dan Angel, segera membengkokkan terali besi yang
mereka gergaji. Satu per satu perempuan-perempuan perkasa, berani,
dan cerdik, itu menyelinap di sela terali besi yang dibengkokkan, dan
segera menuju ke menara pos jaga nomor dua, di bagian belakang LP.
Dari menara pos jaga yang kosong tanpa penjaga itu, satu per satu
mereka menuruni pagar tembok LP setinggi lima meter, dengan bantuan
tali nilon.
Namun malang bagi Rani, karena dia jatuh terduduk. Akibatnya,
sakit luar biasa segera menderanya. Kelak ketahuan kalau tulang
pinggangnya patah atau saling berhimpitan. Rani akhirnya ditinggal
pergi oleh Maya dan Angel. Aksi tiga narapidana perempuan itu baru
diketahui penjaga LP Wanita setelah Rani berteriak meminta tolong.
"Saya ingin pulang. Saya kangen sama orang tua dan saudara," ujar
Rani dengan berlinangan air mata, usai menceritakan kisahnya di ruang
IGD (instalasi gawat darurat) RSU Tangerang, Jumat siang.
Kerinduan Rani, anak sulung pasangan Neni dan Andi, semakin
menguat ketika memasuki bulan suci Ramadhan ini. Dia ingin kembali
merasakan makan sahur dan berbuka puasa, bersama ayah, ibu, dan dua
adik kandungnya, di rumahnya di Jalan Moch Yamin, Cianjur, Jawa
Barat.
Hingga Sabtu (2/12) siang belum diketahui siapa yang mendalangi
pelarian itu. Juga belum diketahui asal gergaji besi tersebut.
Seandainya gergaji berasal dari tamu yang mengunjungi mereka, kenapa
bisa lolos dari pengecekan petugas LP Wanita? Belum diketahui pula
apakah pelarian itu dibantu pihak lain.
Pada waktu pelarian berlangsung, LP dijaga oleh 11 petugas.
Sebagian adalah petugas laki-laki yang berjaga di pagar bagian dalam.
Sebagian lain para sipir wanita, bertugas di dalam blok-blok penjara.
Empat menara pos jaga di empat sudut LP Wanita seluas 1,6 hektar itu,
diduga tidak ditempati penjaga.
"Kami selama ini memang kekurangan orang, untuk mengawasi 211
narapidana dan tahanan di LP Wanita," ujar seorang petugas LP saat
menjaga Rani di RSU Tangerang.
Kepala LP Wanita Tangerang hingga Sabtu siang tetap sulit
ditemui. Petugas LP semuanya menolak kedatangan Kompas dan wartawan
lain, dengan menanyakan apakah membawa surat izin dari Kanwil Depkeh
DKI Jakarta. Menurut informasi, Kepala LP Wanita dan semua penjaga
yang bertugas pada malam pelarian narapidana, sudah diperiksa atasan
mereka dari Departemen Kehakiman.
Kaburnya tiga narapidana perempuan dari ruang penjara mereka,
mengagetkan petugas LP Wanita. Menurut seorang petugas LP Wanita,
selama 17 tahun dia bertugas di LP itu, baru kali ini ada kasus
pelarian narapidana.
"Kami tidak menduga sama sekali. Selama ini kami percaya tidak
bakal ada yang kabur, karena mereka semuanya perempuan. Kelengahan
kami rupanya dimanfaatkan Rani, Maya, dan Angel," ujarnya.
Pelarian yang cukup menggemparkan itu, diduga bisa terjadi
terutama akibat lengahnya petugas LP Wanita Tangerang. Mereka terlena
oleh adem-ayemnya penghuni LP selama ini.
Kepolisian Resor Tangerang hingga Sabtu sore, belum mampu melacak
keberadaan Maya dan Angel, yang tengah menghirup "udara bebas"-nya.
(agus mulyadi)
Kebebasan unruk ZARIMA
KOMPAS - Kamis, 22 Oct 1998 Halaman: 15 Penulis: MUL/TRA Ukuran: 3214
KEBEBASAN UNTUK ZARIMA
"HATI-HATI Rima. Jangan lupa kami," teriak beberapa narapidana
di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Tangerang, sambil melambaikan
tangan mereka ke arah Zarima binti Mirafsur (26). Gadis berkulit
kuning bersih itu sambil tersenyum balas melambaikan tangan, sambil
terus melangkah menuju pintu keluar LP Wanita.
Hari Rabu (21/10), tepat pukul 10.12 WIB Zarima resmi menginjak
"tanah kebebasan" di luar pintu kompleks LP Wanita. Hari itu Zarima,
yang diringkus petugas Polres Tangerang tahun 1996, karena menyimpan
29.677 butir ecstasy di rumahnya, di kawasan Jakarta Barat, mendapat
pembebasan bersyarat dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Depkeh.
Dengan pembebasan itu, ia tidak perlu menjalani penuh pidananya
selama empat tahun, sampai akhir tahun 2000, seperti yang dijatuhkan
majelis hakim PN Jakbar, Juni 1997. Walau bebas, Zarima tetap wajib
lapor ke kejaksaan. Kalau dalam masa "pemantauan" sampai Oktober 2001
ia melakukan pelanggaran pidana, sisa hukumannya harus dijalani.
Kepala LP Wanita Tangerang, Susy Marliana minta Zarima memahami
pengertian pembebasan bersyarat itu secara sungguh-sungguh, sehingga
tidak perlu lagi meringkuk di balik jeruji besi. "Selama di sini, ia
berkelakuan baik. Zarima juga sudah menjalani dua pertiga pidananya.
Dia memenuhi syarat untuk mendapatkan pembebasan bersyarat, walaupun
masih gamang, karena mendapat sorotan masyarakat," tuturnya.
Penasihat hukum Zarima, OC Kaligis mengingatkan kliennya untuk
tidak melakukan kesalahan lagi. Tetapi ia juga berharap, masyarakat
bisa menerima Zarima dengan sepenuh hati, tanpa stigma masa lalunya
yang tidak menyenangkan. "Zarima masih membutuhkan bimbingan. Namun
ia kini semakin berdisiplin," tuturnya.
SEBUAH mobil Mercy warna perak metalik, bernomor polisi B 1088
FP membawa Zarima dan keluarganya meninggalkan LP Wanita Tangerang.
Sebelum pulang, mereka sempat mampir ke Kantor Pengacara OC Kaligis.
Di sini sejak Agustus lalu, Zarima menjalani asimilasi (bekerja di
luar LP). Ia diberi gaji Rp 500.000 per bulan.
Menikmati kebebasan itu, Zarima terlihat berbinar. Bibirnya tak
henti-hentinya tersenyum, bukan saja kepada wartawan yang sejak pagi
menunggu di LP Wanita Tangerang, tetapi juga kepada aparat Kejaksaan
Negeri Tangerang yang mengurusi surat pembebasan bersyarat. "Saya
senang. Saya akan menikmati dahulu kebebasan ini di rumah bersama
keluarga," papar Zarima.
Ia berjanji tak ingin kembali ke penjara, meski dari situ banyak
pelajaran yang dipetik. "Selama di dalam tahanan, saya ambil hikmahnya.
Di tahanan, saya selalu shalat lima waktu, dan diajarkan hidup disiplin.
Seperti untuk makan harus dimulai dan berakhir saat bel berbunyi.
Pertama di tahanan memang berat, tetapi selanjutnya tidak," tuturnya.
Salah satu barang bawaan yang dibawa Zarima dari tahanan adalah
uang tabungannya sebesar Rp 5.431.000. Uang itu tabungan serta upah
Zarima selama bekerja di kantor OC Kaligis. (mul/tra)
Teksfoto:
Kompas/tra
SENYUM ZARIMA - Dengan tersenyum, Zarima mengurus persyaratan untuk kebebasan bersyaratnya.
KEBEBASAN UNTUK ZARIMA
"HATI-HATI Rima. Jangan lupa kami," teriak beberapa narapidana
di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Tangerang, sambil melambaikan
tangan mereka ke arah Zarima binti Mirafsur (26). Gadis berkulit
kuning bersih itu sambil tersenyum balas melambaikan tangan, sambil
terus melangkah menuju pintu keluar LP Wanita.
Hari Rabu (21/10), tepat pukul 10.12 WIB Zarima resmi menginjak
"tanah kebebasan" di luar pintu kompleks LP Wanita. Hari itu Zarima,
yang diringkus petugas Polres Tangerang tahun 1996, karena menyimpan
29.677 butir ecstasy di rumahnya, di kawasan Jakarta Barat, mendapat
pembebasan bersyarat dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Depkeh.
Dengan pembebasan itu, ia tidak perlu menjalani penuh pidananya
selama empat tahun, sampai akhir tahun 2000, seperti yang dijatuhkan
majelis hakim PN Jakbar, Juni 1997. Walau bebas, Zarima tetap wajib
lapor ke kejaksaan. Kalau dalam masa "pemantauan" sampai Oktober 2001
ia melakukan pelanggaran pidana, sisa hukumannya harus dijalani.
Kepala LP Wanita Tangerang, Susy Marliana minta Zarima memahami
pengertian pembebasan bersyarat itu secara sungguh-sungguh, sehingga
tidak perlu lagi meringkuk di balik jeruji besi. "Selama di sini, ia
berkelakuan baik. Zarima juga sudah menjalani dua pertiga pidananya.
Dia memenuhi syarat untuk mendapatkan pembebasan bersyarat, walaupun
masih gamang, karena mendapat sorotan masyarakat," tuturnya.
Penasihat hukum Zarima, OC Kaligis mengingatkan kliennya untuk
tidak melakukan kesalahan lagi. Tetapi ia juga berharap, masyarakat
bisa menerima Zarima dengan sepenuh hati, tanpa stigma masa lalunya
yang tidak menyenangkan. "Zarima masih membutuhkan bimbingan. Namun
ia kini semakin berdisiplin," tuturnya.
SEBUAH mobil Mercy warna perak metalik, bernomor polisi B 1088
FP membawa Zarima dan keluarganya meninggalkan LP Wanita Tangerang.
Sebelum pulang, mereka sempat mampir ke Kantor Pengacara OC Kaligis.
Di sini sejak Agustus lalu, Zarima menjalani asimilasi (bekerja di
luar LP). Ia diberi gaji Rp 500.000 per bulan.
Menikmati kebebasan itu, Zarima terlihat berbinar. Bibirnya tak
henti-hentinya tersenyum, bukan saja kepada wartawan yang sejak pagi
menunggu di LP Wanita Tangerang, tetapi juga kepada aparat Kejaksaan
Negeri Tangerang yang mengurusi surat pembebasan bersyarat. "Saya
senang. Saya akan menikmati dahulu kebebasan ini di rumah bersama
keluarga," papar Zarima.
Ia berjanji tak ingin kembali ke penjara, meski dari situ banyak
pelajaran yang dipetik. "Selama di dalam tahanan, saya ambil hikmahnya.
Di tahanan, saya selalu shalat lima waktu, dan diajarkan hidup disiplin.
Seperti untuk makan harus dimulai dan berakhir saat bel berbunyi.
Pertama di tahanan memang berat, tetapi selanjutnya tidak," tuturnya.
Salah satu barang bawaan yang dibawa Zarima dari tahanan adalah
uang tabungannya sebesar Rp 5.431.000. Uang itu tabungan serta upah
Zarima selama bekerja di kantor OC Kaligis. (mul/tra)
Teksfoto:
Kompas/tra
SENYUM ZARIMA - Dengan tersenyum, Zarima mengurus persyaratan untuk kebebasan bersyaratnya.
Sri Yuliani Saraswaty, Wanita Pertama yang Jadi Lurah di Ibu Kota
KOMPAS - Jumat, 11 Feb 1994 Halaman: 20 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 9305
Ny. Sri Yuliani Saraswaty SH
WANITA PERTAMA YANG JADI LURAH DI IBU KOTA
KALAU ada wanita mendapat sebutan "Bu Lurah" tanpa harus
menjadi istri Pak Lurah, inilah dia: Sri Yuliani Saraswaty SH (31) -
- satu dari sedikit lurah wanita di Indonesia.
"Apanya yang istimewa Mas, kok sampai mau ditulis segala?" kata
wanita kelahiran Solo yang menjadi Kepala Kelurahan Grogol,
Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat itu. Ya, karena sampean
lurah itulah. Lebih-lebih, dekade sekarang ini sering disebut-sebut
sebagai "dekade wanita" -- prowomen. Lebih istimewa lagi, Sri adalah
wanita pertama yang menjadi lurah sejak Jakarta lahir lebih dari
empat abad yang lalu.
Dia dilantik sebagai Lurah Grogol oleh Wali Kotamadya Jakarta
Barat, Sutardijanto, di Ruang Pola Kantor Wali Kotamadya Jakarta
Barat, seputar awal Februari lalu. Seusai pelantikan, ibu dari tiga
anak ini langsung menuju ke Kantor Kelurahan Grogol. Dia ingin
segera tahu tempat kerjanya yang baru, sekaligus mengenal aparat
kelurahan yang menjadi mitra kerjanya.
Penampilannya kalem -- seperti tersisa kekhasan sebagai "Putri
Solo", meski di Solo dia cuma "numpang lahir", karena sejak TK dia
dibesarkan di Jakarta. Dalam tingkat kepemimpinan pada unit
sosiologi seperti sebuah desa, yang dibutuhkan mungkin memang bukan
kata-kata besar, tapi tindakan konkrit bagaimana dia harus
berhadapan dengan masyarakatnya. Sementara, desa yang disebut di
sini adalah sebuah desa di tengah Jakarta, dengan seribu satu
persoalan urban.
"Apa-apa yang memang sudah baik dikerjakan aparat kelurahan,
akan saya teruskan. Sedangkan yang masih kurang, akan kami
tingkatkan," ujarnya bersahaja.
Yang akan menjadi fokus perhatiannya adalah meningkatkan
pelayanan masyarakat. Lulusan Fakultas Hukum Universitas
Tarumanegara (Untar) tahun 1985 ini sadar belaka, jabatan yang
diembannya adalah sebagai pelayan masyarakat.
SEORANG lurah, seorang istri, seorang ibu, dan terlebih lagi
seorang wanita. Rasanya tak perlu muluk-muluk menjulukinya "wanita
karier", "wanita aktif", dan semacamnya (yang kalau dalam kekenesan
siaran radio yang membahas "trend wanita aktif" dikatakan, bagi
"wanita aktif" rasanya 24 jam sehari tidak cukup...).
"Wanita tetap tidak boleh lupa kodratnya sebagai wanita. Meski
berkarir, harus ingat tugasnya sebagai ibu rumah tangga," ujarnya
kalem. Dia tak melebih-lebihkan perannya sendiri, bahwa dia
betapapun tak sekadar "ratu rumah tangga", tapi juga membawahi
27.000 penduduk Kelurahan Grogol yang begitu heterogen disertai
beraneka ragam karakter.
Lahir di Solo, 23 Juli 1963, sebagai anak tunggal pasangan Drs
Soekarno, pejabat di lingkungan Kanwil BKKBN Timor Timur dan Ny
Suharmi, Sri memulai perjalanan karirnya di lingkungan Pemda DKI
Jakarta tahun 1981. Setelah tamat SMA Negeri II Jalan Gajah Mada
Jakarta, Sri mulai bekerja di BKKBN DKI Jakarta. Pada tahun itu juga
dia masuk kuliah di FH Untar, dan sekaligus aktif di KNPI Kecamatan
Tambora (wilayah tempat tinggalnya) sebagai sekretaris. Di BKKBN DKI
dia betah sampai dengan pertengahan tahun 1984. Sesudahnya dia
pindah ke BKKBN Jakarta Pusat, dan sejak April 1986 dia menjadi
bendahara di BKKBN Jakarta Barat.
Sejak 1 Agustus 1992 Sri menjadi staf di Bagian Hukum dan
Organisasi Tata Laksana (Ortala) Pemda Jakbar. Tujuh belas bulan
kemudian dia kembali pindah dan kini dipercaya sebagai Lurah Grogol.
Kehidupannya mengalir, sebagai kehidupan wanita. Di tengah-
tengah perjalanan karirnya sebagai pegawai negeri, Sri Yuliani
Saraswaty menikah dengan Drs Sutrisno -- saat ini bekerja di Badan
Meteorologi dan Geofisika di Jalan Arif Rahman Hakim Jakarta.
Pasangan itu dikaruniai tiga putri: Yutrisa Sasti Anindyarani (4,5
tahun), Citra Swari Pradita (2), dan si bungsu yang baru lahir satu
setengah bulan lalu, Desrina Putri Mustikasari.
"Jabatan yang saya jalani sekarang merupakan hadiah buat si
kecil," ujar wanita berambut lurus sebahu dan berkulit sawo matang
itu sambil tersenyum.
NYONYA Sri Yuliani Saraswaty mengakui meski tidak semua orang
bisa menjadi lurah, apalagi wanita, dia tetap merasa jabatannya
sekarang tidak lebih sebagai kepercayaan atasannya di Pemda
Kotamadya Jakarta Barat. Dan sebagai pelayan masyarakat, sebisa
mungkin dia akan berusaha maksimal, tentu dengan dukungan rekan
kerja di kelurahan.
Peningkatan pelayanan kepada masyarakat serta penanganan
kebersihan di wilayahnya, menjadi prioritas pertama yang akan
dilakukan. Apalagi dua hal itu merupakan bagian dari rencana
strategis Pemda DKI Jakarta 1992-1997. Bentuk pelayanan maksimal
yang akan diberikannya kepada masyarakat, tentu sebatas proporsi
kerja dalam tingkat kelurahan. Misalnya penandatanganan KTP, surat-
surat pengantar dari kelurahan, dan sebagainya.
"Pokoknya setiap surat yang masuk dan harus saya tandatangani,
kalau ada kesempatan akan saya lakukan hari itu juga. Kenapa harus
membuat masyarakat harus menunggu lama, untuk sekadar sebuah tanda
tangan," ujarnya setengah bertanya.
Semua kegiatan yang akan dilakukannya itu pastilah akan lebih
menyita waktu, dibandingkan di tempat-tempat kerja sebelumnya.
Sebagai lurah, dia harus langsung berhubungan dengan orang banyak.
Tidak lagi hanya duduk di belakang meja, menghadapi setumpuk berkas
seperti sebelumnya.
Untuk semua itu dukungan dari suami dan anak-anaknya pasti
sangat diperlukannya. Mungkin dia tidak lagi berhari Minggu bersama
keluarga, karena harus mengikuti kegiatan kebersihan. Di lain waktu
mungkin pula dia harus pulang begitu larut malam, karena menghadiri
berbagai acara, baik di kelurahannya maupun di kecamatan dan di
kantor wali kota atau tempat lainnya.
"Suami saya menyatakan dukungannya ketika mengetahui saya akan
dilantik menjadi Lurah Grogol," katanya.
Kesibukkan yang menyita waktu sebagai lurah, mulai dirasakannya
dalam masa dua hari dia bertugas. Ketika Kompas berusaha menemui di
kantornya, Ny Sri ternyata sudah tidak berada di tempat. Dia harus
mengikuti rapat mingguan tingkat Kecamatan Grogol Petamburan,
bertempat di Kantor Kelurahan Tanjung Duren Selatan. Beruntung,
ketika dikejar ke Tanjung Duren Selatan, rapat belum dimulai.
Bincang-bincang sekitar 45 menit pun terpaksa numpang di salah satu
ruangan kantor itu.
Kesibukan dalam hari kedua masa kerjanya sebagai lurah itu,
dapat dikatakan sebagai gambaran dari rutinitas dan kesibukan kerja
yang bakal terus menghadangnya. Ny Sri tentu harus pintar-pintar
membagi waktu untuk tugas dan keluarganya.
KEPERCAYAAN yang diembannya sebagai lurah wanita yang pertama
di DKI Jakarta, juga dianggap oleh Ny Sri sebagai uji coba. Dia
berharap dapat menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga akan
banyak lagi lahir lurah wanita lain di Jakarta. Penempatannya
sebagai Lurah Grogol dianggapnya sebagai bagian dari uji coba itu.
Ny Sri menyadari betul, Kelurahan Grogol selama ini memang
telah tertata baik. Di kelurahan ini sekitar 70 persen dari luas
wilayahnya merupakan perumahan yang dihuni pegawai negeri dan
pensiunan pegawai negeri. Hingga untuk menggerakkan partisipasi
masyarakat, dia memperkirakan tidaklah terlalu sulit.
Salah satu hal yang menjadi pemikirannya dalam hari-hari
pertama tugasnya adalah bagaimana menata permukiman kumuh di
sebagian kawasan bantaran Banjir Kanal. Tentang istilah permukiman
kumuh sendiri, Ny Sri mengungkapkan ketidaksetujuannya. "Itu lebih
tepat disebut kawasan tertinggal," kata Bu Lurah.
Penanganan permukiman kumuh, pelayanan, kebersihan, dan
berbagai tugas lainnya, dianggapnya sebagai tantangan yang harus
bisa dijalani dengan baik. Dia mengetahui untuk melaksanakannya
dibutuhkan partisipasi langsung dari semua warga. Untuk itu
pendekatan-pendekatan terhadap warga akan dilakukannya.
Tetap dalam bahasanya, dia tidak muluk-muluk mengemukakan
program kerja. Apalagi dia belum tahu betul bagaimana menjalani
tugas sebagai lurah. "Saya kan baru dua hari ini bekerja," katanya
kepada Kompas yang memang menemuinya dua hari setelah pelantikan.
Meski dapat dikatakan baru dua hari kerja sejak hari Senin
(7/2) lalu, sebenarnya Ny Sri Yuliani Saraswaty telah mulai pada
hari Minggu (6/2). Pada hari itu, dia menghadiri apel program
kebersihan di Kebon Jeruk. "Saya pergi ke Kebon Jeruk sambil membawa
anak saya yang paling besar. Sementara saya ikut apel, dia tinggal
di dalam mobil."
Cara seperti itu mungkin akan dilakukan, baik sebagai lurah
maupun sebagai ibu rumah tangga. Apalagi nantinya dia akan tinggal
di rumah dinas yang tidak jauh dari kantor kelurahan. Lantas apa
yang telah dilakukan lurah wanita pertama di DKI itu sebagai pelayan
masyarakat, dalam dua hari pertama masa kerjanya? "Saya hanya baru
mendatangani surat-surat pengantar untuk warga yang membuat akte
kelahiran, dan seorang warga yang akan pindah tempat tinggalnya,"
ujar Ny. Sri Yuliani Saraswaty sambil tersenyum. (agus mulyadi)
Foto:1(mul)
Kompas/mul
Ny. Sri Yuliani Saraswaty
Ny. Sri Yuliani Saraswaty SH
WANITA PERTAMA YANG JADI LURAH DI IBU KOTA
KALAU ada wanita mendapat sebutan "Bu Lurah" tanpa harus
menjadi istri Pak Lurah, inilah dia: Sri Yuliani Saraswaty SH (31) -
- satu dari sedikit lurah wanita di Indonesia.
"Apanya yang istimewa Mas, kok sampai mau ditulis segala?" kata
wanita kelahiran Solo yang menjadi Kepala Kelurahan Grogol,
Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat itu. Ya, karena sampean
lurah itulah. Lebih-lebih, dekade sekarang ini sering disebut-sebut
sebagai "dekade wanita" -- prowomen. Lebih istimewa lagi, Sri adalah
wanita pertama yang menjadi lurah sejak Jakarta lahir lebih dari
empat abad yang lalu.
Dia dilantik sebagai Lurah Grogol oleh Wali Kotamadya Jakarta
Barat, Sutardijanto, di Ruang Pola Kantor Wali Kotamadya Jakarta
Barat, seputar awal Februari lalu. Seusai pelantikan, ibu dari tiga
anak ini langsung menuju ke Kantor Kelurahan Grogol. Dia ingin
segera tahu tempat kerjanya yang baru, sekaligus mengenal aparat
kelurahan yang menjadi mitra kerjanya.
Penampilannya kalem -- seperti tersisa kekhasan sebagai "Putri
Solo", meski di Solo dia cuma "numpang lahir", karena sejak TK dia
dibesarkan di Jakarta. Dalam tingkat kepemimpinan pada unit
sosiologi seperti sebuah desa, yang dibutuhkan mungkin memang bukan
kata-kata besar, tapi tindakan konkrit bagaimana dia harus
berhadapan dengan masyarakatnya. Sementara, desa yang disebut di
sini adalah sebuah desa di tengah Jakarta, dengan seribu satu
persoalan urban.
"Apa-apa yang memang sudah baik dikerjakan aparat kelurahan,
akan saya teruskan. Sedangkan yang masih kurang, akan kami
tingkatkan," ujarnya bersahaja.
Yang akan menjadi fokus perhatiannya adalah meningkatkan
pelayanan masyarakat. Lulusan Fakultas Hukum Universitas
Tarumanegara (Untar) tahun 1985 ini sadar belaka, jabatan yang
diembannya adalah sebagai pelayan masyarakat.
SEORANG lurah, seorang istri, seorang ibu, dan terlebih lagi
seorang wanita. Rasanya tak perlu muluk-muluk menjulukinya "wanita
karier", "wanita aktif", dan semacamnya (yang kalau dalam kekenesan
siaran radio yang membahas "trend wanita aktif" dikatakan, bagi
"wanita aktif" rasanya 24 jam sehari tidak cukup...).
"Wanita tetap tidak boleh lupa kodratnya sebagai wanita. Meski
berkarir, harus ingat tugasnya sebagai ibu rumah tangga," ujarnya
kalem. Dia tak melebih-lebihkan perannya sendiri, bahwa dia
betapapun tak sekadar "ratu rumah tangga", tapi juga membawahi
27.000 penduduk Kelurahan Grogol yang begitu heterogen disertai
beraneka ragam karakter.
Lahir di Solo, 23 Juli 1963, sebagai anak tunggal pasangan Drs
Soekarno, pejabat di lingkungan Kanwil BKKBN Timor Timur dan Ny
Suharmi, Sri memulai perjalanan karirnya di lingkungan Pemda DKI
Jakarta tahun 1981. Setelah tamat SMA Negeri II Jalan Gajah Mada
Jakarta, Sri mulai bekerja di BKKBN DKI Jakarta. Pada tahun itu juga
dia masuk kuliah di FH Untar, dan sekaligus aktif di KNPI Kecamatan
Tambora (wilayah tempat tinggalnya) sebagai sekretaris. Di BKKBN DKI
dia betah sampai dengan pertengahan tahun 1984. Sesudahnya dia
pindah ke BKKBN Jakarta Pusat, dan sejak April 1986 dia menjadi
bendahara di BKKBN Jakarta Barat.
Sejak 1 Agustus 1992 Sri menjadi staf di Bagian Hukum dan
Organisasi Tata Laksana (Ortala) Pemda Jakbar. Tujuh belas bulan
kemudian dia kembali pindah dan kini dipercaya sebagai Lurah Grogol.
Kehidupannya mengalir, sebagai kehidupan wanita. Di tengah-
tengah perjalanan karirnya sebagai pegawai negeri, Sri Yuliani
Saraswaty menikah dengan Drs Sutrisno -- saat ini bekerja di Badan
Meteorologi dan Geofisika di Jalan Arif Rahman Hakim Jakarta.
Pasangan itu dikaruniai tiga putri: Yutrisa Sasti Anindyarani (4,5
tahun), Citra Swari Pradita (2), dan si bungsu yang baru lahir satu
setengah bulan lalu, Desrina Putri Mustikasari.
"Jabatan yang saya jalani sekarang merupakan hadiah buat si
kecil," ujar wanita berambut lurus sebahu dan berkulit sawo matang
itu sambil tersenyum.
NYONYA Sri Yuliani Saraswaty mengakui meski tidak semua orang
bisa menjadi lurah, apalagi wanita, dia tetap merasa jabatannya
sekarang tidak lebih sebagai kepercayaan atasannya di Pemda
Kotamadya Jakarta Barat. Dan sebagai pelayan masyarakat, sebisa
mungkin dia akan berusaha maksimal, tentu dengan dukungan rekan
kerja di kelurahan.
Peningkatan pelayanan kepada masyarakat serta penanganan
kebersihan di wilayahnya, menjadi prioritas pertama yang akan
dilakukan. Apalagi dua hal itu merupakan bagian dari rencana
strategis Pemda DKI Jakarta 1992-1997. Bentuk pelayanan maksimal
yang akan diberikannya kepada masyarakat, tentu sebatas proporsi
kerja dalam tingkat kelurahan. Misalnya penandatanganan KTP, surat-
surat pengantar dari kelurahan, dan sebagainya.
"Pokoknya setiap surat yang masuk dan harus saya tandatangani,
kalau ada kesempatan akan saya lakukan hari itu juga. Kenapa harus
membuat masyarakat harus menunggu lama, untuk sekadar sebuah tanda
tangan," ujarnya setengah bertanya.
Semua kegiatan yang akan dilakukannya itu pastilah akan lebih
menyita waktu, dibandingkan di tempat-tempat kerja sebelumnya.
Sebagai lurah, dia harus langsung berhubungan dengan orang banyak.
Tidak lagi hanya duduk di belakang meja, menghadapi setumpuk berkas
seperti sebelumnya.
Untuk semua itu dukungan dari suami dan anak-anaknya pasti
sangat diperlukannya. Mungkin dia tidak lagi berhari Minggu bersama
keluarga, karena harus mengikuti kegiatan kebersihan. Di lain waktu
mungkin pula dia harus pulang begitu larut malam, karena menghadiri
berbagai acara, baik di kelurahannya maupun di kecamatan dan di
kantor wali kota atau tempat lainnya.
"Suami saya menyatakan dukungannya ketika mengetahui saya akan
dilantik menjadi Lurah Grogol," katanya.
Kesibukkan yang menyita waktu sebagai lurah, mulai dirasakannya
dalam masa dua hari dia bertugas. Ketika Kompas berusaha menemui di
kantornya, Ny Sri ternyata sudah tidak berada di tempat. Dia harus
mengikuti rapat mingguan tingkat Kecamatan Grogol Petamburan,
bertempat di Kantor Kelurahan Tanjung Duren Selatan. Beruntung,
ketika dikejar ke Tanjung Duren Selatan, rapat belum dimulai.
Bincang-bincang sekitar 45 menit pun terpaksa numpang di salah satu
ruangan kantor itu.
Kesibukan dalam hari kedua masa kerjanya sebagai lurah itu,
dapat dikatakan sebagai gambaran dari rutinitas dan kesibukan kerja
yang bakal terus menghadangnya. Ny Sri tentu harus pintar-pintar
membagi waktu untuk tugas dan keluarganya.
KEPERCAYAAN yang diembannya sebagai lurah wanita yang pertama
di DKI Jakarta, juga dianggap oleh Ny Sri sebagai uji coba. Dia
berharap dapat menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga akan
banyak lagi lahir lurah wanita lain di Jakarta. Penempatannya
sebagai Lurah Grogol dianggapnya sebagai bagian dari uji coba itu.
Ny Sri menyadari betul, Kelurahan Grogol selama ini memang
telah tertata baik. Di kelurahan ini sekitar 70 persen dari luas
wilayahnya merupakan perumahan yang dihuni pegawai negeri dan
pensiunan pegawai negeri. Hingga untuk menggerakkan partisipasi
masyarakat, dia memperkirakan tidaklah terlalu sulit.
Salah satu hal yang menjadi pemikirannya dalam hari-hari
pertama tugasnya adalah bagaimana menata permukiman kumuh di
sebagian kawasan bantaran Banjir Kanal. Tentang istilah permukiman
kumuh sendiri, Ny Sri mengungkapkan ketidaksetujuannya. "Itu lebih
tepat disebut kawasan tertinggal," kata Bu Lurah.
Penanganan permukiman kumuh, pelayanan, kebersihan, dan
berbagai tugas lainnya, dianggapnya sebagai tantangan yang harus
bisa dijalani dengan baik. Dia mengetahui untuk melaksanakannya
dibutuhkan partisipasi langsung dari semua warga. Untuk itu
pendekatan-pendekatan terhadap warga akan dilakukannya.
Tetap dalam bahasanya, dia tidak muluk-muluk mengemukakan
program kerja. Apalagi dia belum tahu betul bagaimana menjalani
tugas sebagai lurah. "Saya kan baru dua hari ini bekerja," katanya
kepada Kompas yang memang menemuinya dua hari setelah pelantikan.
Meski dapat dikatakan baru dua hari kerja sejak hari Senin
(7/2) lalu, sebenarnya Ny Sri Yuliani Saraswaty telah mulai pada
hari Minggu (6/2). Pada hari itu, dia menghadiri apel program
kebersihan di Kebon Jeruk. "Saya pergi ke Kebon Jeruk sambil membawa
anak saya yang paling besar. Sementara saya ikut apel, dia tinggal
di dalam mobil."
Cara seperti itu mungkin akan dilakukan, baik sebagai lurah
maupun sebagai ibu rumah tangga. Apalagi nantinya dia akan tinggal
di rumah dinas yang tidak jauh dari kantor kelurahan. Lantas apa
yang telah dilakukan lurah wanita pertama di DKI itu sebagai pelayan
masyarakat, dalam dua hari pertama masa kerjanya? "Saya hanya baru
mendatangani surat-surat pengantar untuk warga yang membuat akte
kelahiran, dan seorang warga yang akan pindah tempat tinggalnya,"
ujar Ny. Sri Yuliani Saraswaty sambil tersenyum. (agus mulyadi)
Foto:1(mul)
Kompas/mul
Ny. Sri Yuliani Saraswaty
Langganan:
Postingan (Atom)

