Tampilkan postingan dengan label petani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label petani. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Juli 2008

Derita Panjang Petani Kopi

KOMPAS - Jumat, 11 Jul 2003 Halaman: 1 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5684 Foto: 1
DERITA PANJANG PETANI KOPI
PANEN raya kopi tahun ini tidak disambut gembira oleh Toto (37).
Demikian pula oleh puluhan ribu, bahkan ratusan ribu, petani kopi
lainnya yang tersebar di Kabupaten Lahat dan Kota Pagar Alam,
Sumatera Selatan, serta Kabupaten Bengkulu Selatan dan Rejang Lebong,
Bengkulu. Jerih payah mereka selama setahun mendapat balasan yang
tidak setimpal.
Harga biji kopi kering hasil kebun petani saat ini jeblok!
Produksi kebun komoditas andalan dua provinsi itu pun jauh
menurun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Akibat cuaca yang
tidak bersahabat, berganti-ganti antara panas menyengat dan hujan
deras, sebagian bunga kopi mengering atau berguguran. Produksi kopi
pun otomatis menurun.
"Nasib kami ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah
produksi anjlok, harga kopi pun rendah," ujar Toto, petani di Talang
Pagar Alam, Kota Pagar Alam, pekan lalu.
Toto adalah salah seorang petani yang menggarap lahan di areal
perkebunan rakyat di Talang Pagar Alam. Di lokasi perbukitan yang
berdebu karena tanah kering itu, Toto dan keluarganya tinggal.
Persisnya di tengah-tengah areal perkebunan. Dia bersama 20 keluarga
lain menempati "perkampungan" yang lokasinya sekitar 15 kilometer
arah utara dari pusat Kota Pagar Alam.
Petani-petani kopi yang kebanyakan pendatang dari berbagai daerah
tersebut menetap di tengah kebun kopi yang mereka garap sendiri.
Rumah yang ditinggali Toto bersama istri dan tiga anaknya berupa
rumah panggung kayu, berukuran tiga meter kali empat meter. Rumah-
rumah tersebut juga berdiri di atas lahan para tuan tanah yang
menyewakan lahan mereka kepada para petani kopi itu.
"Di sini hampir semuanya pendatang. Kami menyewa tanah dari
pemilik yang semuanya warga Pagar Alam. Hasil yang diperoleh dari
kebun dibagi dua dengan pemilik tanah," ujar Toto.
Karena hasil kebun dibagi dua, penghasilan yang diperoleh Toto
dan juga petani penyewa lahan lainnya menjadi semakin kecil. Ditambah
dengan produksi yang menurun dan harga yang rendah, penghasilan yang
diperoleh mereka semakin kecil.
"Hasil dari kebun kopi setiap tahun selalu habis untuk makan dan
minum keluarga saja. Kadang-kadang hasil yang diperoleh tidak cukup
untuk makan sekalipun," ucap Toto lirih.
***
MUSIM panen kopi tahun ini bagi petani memang merupakan pukulan
yang menyakitkan. Pada pekan lalu, misalnya, biji kopi kering hanya
dihargai Rp 3.700 per kilogram. Bahkan, kopi dengan kualitas lebih
buruk dan kadar air lebih banyak paling tinggi dihargai oleh pedagang
pengumpul (tengkulak) Rp 3.500 per kilogram.
Tahun-tahun sebelumnya harga kopi pun tidaklah bagus, kecuali
ketika harga melambung sampai Rp 16.000 per kilogram tahun 1998.
Tahun-tahun berikutnya harga biji kopi kering terus merosot mulai
dari Rp 7.000 dan Rp 5.000 per kilogram, hingga Rp 2.800 per kilogram
pada tahun 2002.
"Tapi pada tahun 2002 produksi kopi melimpah. Meskipun harganya
lebih rendah, penghasilan yang diperoleh petani tetap lebih besar,"
ujar Zaeri, petani kopi lain di Talang Pagar Alam.
Pada musim panen tahun ini produksi kopi memang merosot sampai di
bawah setengah produksi tahun lalu. Toto, misalnya, yang menggarap
lahan seluas 2,5 hektar, hanya mendapatkan sekitar satu ton biji kopi
kering. Setelah dibagi dua dengan pemilik lahan, hasil yang
diperolehnya tinggal 500 kilogram.
Padahal, selama setahun ini, Toto telah membanting tulang
sepanjang hari. Dia selalu dipanggang terik Matahari ketika
membersihkan kebunnya. Toto pun mengeluarkan biaya tidak sedikit
untuk memupuk sekitar 9.000 batang tanaman kopi miliknya.
Akan tetapi, kerja kerasnya tidak membuahkan hasil yang memadai.
Cuaca yang tidak bersahabat menyebabkan produksi kebun kopi yang
diolah Toto jauh berkurang dibandingkan dengan tahun lalu. Akibat
sengatan Matahari yang luar biasa panas, kembang di tanaman kopi
umumnya cepat mengering. Sementara ketika hujan deras, kembang kopi
pun kebanyakan berguguran.
"Tidak tahu lagi saya harus berbuat apa sekarang. Dengan produksi
sedikit seperti sekarang dan harga yang rendah, saya tidak tahu
apakah hasil penjualannya cukup untuk makan kami sekeluarga satu
tahun ke depan," ujarnya dengan suara pelan.
Laki-laki asal Purworejo, Jawa Tengah, yang datang ke Pagar Alam
untuk membuka kebun kopi sejak tahun 1987, itu memang tidak bisa
berbuat banyak menghadapi berbagai kesulitan yang terus dihadapinya.
Kerja kerasnya selama belasan tahun sebagai petani kopi tidak bisa
berwujud dalam bentuk materi yang memadai.
Toto dan keluarganya tetap tinggal di rumah panggung kecil yang
berdiri di atas tanah orang lain. Isi rumahnya hanyalah sebuah kasur,
yang kalau malam hari ia harus berdesakan di situ dengan anak dan
istrinya. Selain itu, ada satu lemari kecil untuk menyimpan pakaian.
Alat dapurnya terlihat begitu sederhana dan disimpannya di kolong
rumah panggungnya.
Puluhan ribu atau mungkin ratusan ribu petani kopi seperti Toto
hingga sekarang memang belum merasakan nikmatnya kopi, seperti para
penikmat kopi di seantero dunia. Mereka masih terus berkutat dalam
jurang kemiskinan. Penderitaan panjang mereka entah kapan bisa
berakhir. (Agus Mulyadi)
Foto: 1
Kompas/Agus Mulyadi
HARGA KOPI ANJLOK-Seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Kerinci,
Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, tengah menjemur biji kopi hasil
panen di kebun yang dikelolanya. Seperti ribuan petani kopi lainnya,
ibu ini menyesalkan anjloknya harga biji kopi kering yang saat ini
sekitar Rp 3.700 per kilogram

Laba Kecil-kecilan Pedagang Pengumpul

KOMPAS - Jumat, 11 Jul 2003 Halaman: 31 Penulis: mul Ukuran: 5436
LABA KECIL-KECILAN PEDAGANG PENGUMPUL
DI pusat kota Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Rejang Lebong,
Provinsi Bengkulu, deretan rumah toko di salah satu sisi jalan
disesaki timbunan biji kopi kering. Sejak dua tahun ini, ruko-ruko
itu berganti isi dari tempat dijajakannya barang dagangan atau tempat
usaha lain menjadi gudang sementara biji kopi kering.
Berpuluh-puluh karung berisi biji kopi kering yang siap dikirim
ke Lampung dan timbunan kopi kering yang baru dibeli dari petani dan
belum dimasukkan ke dalam karung mengisi ruangan di petak-petak rumah
toko (ruko) tersebut. Sejumlah buruh di masing-masing ruko terlihat
sibuk dengan berbagai aktivitas, seperti membersihkan atau memasukkan
biji kopi ke dalam karung.
Di jalan persis di depan ruko, Sabtu (5/7) siang lalu, sejumlah
petani tampak datang silih berganti. Mereka membawa karung-karung
berisi biji kopi seberat 50 kilogram, maupun yang berisi kurang dari
10 kilogram.
Kepada pedagang pengumpul itulah petani menaruh harapan. Ketika
datang ke kios-kios pedagang itu mereka membawa harapan lain pula,
mudah-mudahan harga biji kopi hari ini lebih baik dibanding kemarin.
Maraknya jual beli kopi di Kepahiang terutama terjadi beberapa
tahun ini berbarengan dengan semakin banyak bermunculan pedagang
pengumpul. "Dua tahun ini saja sudah 70 pedagang pengumpul di sini,"
kata Hidayat, salah seorang pedagang pengumpul di Kepahiang.
Hidayat menuturkan, banyaknya pedagang tersebut menyebabkan
perolehan biji kopi kering dari petani menjadi lebih sedikit. "Saya
sekarang dalam satu hari paling banyak mendapat biji kopi kering
tujuh ton. Hampir setiap hari saya kirim kopi ke Lampung untuk dijual
ke eksportir di sana," ucapnya.
Dikatakan, keuntungan yang diperoleh dari bisnis itu sebenarnya
tidaklah besar, antara Rp 10-Rp 25 per kilogram. Biji kopi itu dijual
kepada eksportir di Lampung dengan harga tidak lebih dari Rp 3.895
per kg. Sebelumnya dia membeli dari petani Rp 3.700 per kg.
Selisih harga pembelian dan penjualan Rp 195 tidak mutlak menjadi
keuntungan. Dari kopi satu kilogram yang dibeli, terdapat penyusutan
Rp 20, ongkos angkut ke Lampung Rp 140, upah buruh angkut Rp 20, dan
biaya karung Rp 15. "Sisanya Rp 20. Tidak seberapa keuntungan yang
saya peroleh," katanya.
Pada musim panen kopi tahun ini, pedagang pengumpul umumnya
mengeluhkan pula soal tidak lancarnya pasokan dari petani. Itu semua
disebabkan anjloknya produksi kopi. "Selain keuntungan kecil, tahun
ini pasokan juga tidak lancar. Apalagi sekarang pedagang pengumpul
seperti saya bertambah banyak," ujar Hidayat.
PEDAGANG pengumpul di Kota Pagar Alam juga mengeluhkan tidak
lancarnya pasokan dan sedikitnya keuntungan yang mereka peroleh.
Namun, usaha itu tetap dijalani karena tetap merupakan pilihan
terbaik bagi mereka untuk mencari sumber nafkah.
"Selama beberapa bulan ini keuntungan yang kami peroleh tidak
lebih Rp 25 per kilogram. Sekarang harga sedang anjlok, sementara
pedagang bertambah banyak," ucap Likut, seorang pedagang pengumpul
kopi di Pagar Alam.
Likut mengatakan, dalam satu hari tempat usahanya mampu
menghimpun biji kopi kering 14 ton-15 ton, bahkan kadang-kadang
sampai 20 ton. Jumlah sebesar itu pula yang dikirim ke eksportir di
Lampung. Lampung menjadi pilihan pedagang pengumpul karena di kota
itu terdapat ratusan eksportir. Pedagang bisa mencari pembeli dengan
harga lebih baik meskipun selisihnya tetap tipis.
Di Lampung, biji kopi yang dibawa truk pengangkut juga pasti
terjual karena banyaknya eksportir tersebut. Itulah sebabnya pedagang
pengumpul, termasuk dari Pagar Alam, memilih Lampung sebagai tempat
menjual kopi ketimbang ke Palembang.
Di Pagar Alam, kota berudara sejuk di kaki Gunung Dempo yang
letaknya 270 kilometer sebelah barat Palembang, juga banyak
bermunculan pedagang pengumpul kopi. Mereka bertebaran di berbagai
pelosok kota, bahkan sampai ke pinggiran kota.
Ke kios-kios pedagang pengumpul itulah petani membawa biji kopi
yang kulitnya telah dikupas. Kepada pedagang pengumpul mereka menaruh
harapan dan menjual hasil bumi itu untuk kelangsungan hidup keluarga
mereka meskipun sebagian di antaranya hanya menjual kopi dalam jumlah
sedikit.
Seorang ibu rumah tangga dan petani berusia sekitar 60 tahun,
Kamis pekan lalu, hanya membawa karung plastik berisi kopi ke tempat
Likut. Ketika ditimbang, berat biji kopi kering yang hendak dijual
hanya sembilan kilogram. "Kalau kopi yang sudah kering dan dikupas
kulitnya ini tidak dijual, kami sekeluarga mau makan apa?" katanya.
Petani saat ini terpaksa menjual kopi produksi kebun mereka
karena didesak kebutuhan hidup. Selain untuk makan sehari-hari, anak-
anak mereka pun sedang banyak membutuhkan biaya untuk mulai sekolah
pada tahun ajaran baru nanti.
Dari sembilan kilogram biji kopi yang dijual perempuan tadi
diperoleh uang Rp 33.300. Uang sebesar itu apakah mampu untuk
menutupi kebutuhan makan dan minum selama seminggu, misalnya? Namun
yang pasti, uang itu pasti tidak cukup untuk membeli keperluan
sekolah anak-anak petani kopi pada tahun ajaran baru yang dimulai
pekan depan. (agus mulyadil)

Kalah Bersaing dengan Kopi Brasil dan Vietnam

KOMPAS - Jumat, 11 Jul 2003 Halaman: 31 Penulis: mul; jos; b04 Ukuran: 8697 Foto: 1
KALAH BERSAING DENGAN KOPI BRASIL DAN VIETNAM
"KEBANYAKAN petani di Indonesia menanam kopi jenis robusta, yang
empat tahun ini harganya memang rendah. Sementara kopi jenis arabika
hanya ditanam sebagian kecil petani. Padahal, harga kopi arabika di
pasar dunia masih tetap tinggi," ujar Edi Kasim, Ketua Asosiasi
Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Provinsi Bengkulu, ketika ditemui
Senin (7/7) pagi di rumahnya.
DI pasar dunia saat ini kopi robusta memang tengah membanjiri
pasaran, terutama kopi robusta produksi Brasil dan Vietnam. Kopi
jenis ini umumnya ditanam petani di sebagian besar wilayah Indonesia,
termasuk Provinsi Bengkulu, Lampung, dan Sumatera Selatan. Kopi
arabika hanya ditanam oleh kurang dari 10 persen petani kopi di tiga
kawasan itu.
Kopi arabika di Indonesia umumnya ditanam petani di Aceh,
Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.
Petani-petani penanam kopi arabika mendapat penghasilan lebih baik
karena produksi dunia tidak melimpah seperti kopi robusta. Dengan
sendirinya harga kopi itu pun stabil.
Sedikitnya lahan yang ditanami kopi arabika oleh petani Provinsi
Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung, merupakan kesalahan dalam
menentukan pilihan. Mungkin karena pengaruh petani lain, ratusan ribu
petani di tiga provinsi itu lebih memilih menanam kopi robusta.
Kebetulan pula, petani di Brasil dan Vietnam umumnya menanam kopi
sejenis pula. Akibatnya, ketika musim panen berlangsung bersamaan
dengan panen di dua negara itu dan negara produsen lain, harga pun
bersaing keras. "Suplai kopi lebih besar dibandingkan dengan
permintaan sehingga harga pun anjlok. Kopi dari Indonesia harus
bersaing dengan kopi dari negara lain," ujar Edi.
Harga kopi robusta ditentukan oleh bursa kopi di London, Inggris.
Sementara kopi arabika ditentukan oleh bursa kopi di New York,
Amerika Serikat (AS). Produksi yang melimpah itulah yang membuat
harga kopi tertekan.
Bagi petani Indonesia, harga kopi yang tertekan akibat kelebihan
produksi itu makin menyulitkan pemasaran. Hal ini disebabkan produsen
kopi negara lain berani menjual dengan harga lebih murah dibanding
kopi asal Indonesia.
Meskipun kopi dijual lebih murah, sehingga lebih mudah menembus
pasar dunia dan diminati pembeli di luar negeri (buyer), petani
Vietnam, misalnya, tetap mendapat penghasilan lebih baik. Ini
disebabkan tingkat produksi petani kopi di negara itu jauh lebih
bagus dibandingkan dengan tingkat produksi petani Indonesia.
Soal produksi, bandingkan misalnya dengan petani Bengkulu, Pagar
Alam, Lahat, atau Lampung. Di sentra-sentra produksi kopi itu, tahun
ini produksinya paling tinggi 500 kilogram per hektar. Sementara
petani Vietnam mampu menghasilkan dua ton biji kopi kering per hektar!
"Meski harga jual kopi mereka lebih rendah dibandingkan dengan
kopi dari Indonesia, penghasilan petani Vietnam tetap lebih tinggi,"
kata Edi.
Dengan penghasilan lebih tinggi, tentu saja petani Vietnam hidup
lebih layak. Itu terwujud berat kegigihan mereka mengolah dan merawat
kebun jauh lebih baik dibandingkan dengan petani di Tanjung Sakti,
Kabupaten Lahat. Ditambah dengan mutu yang lebih bagus, kopi Vietnam
lebih mampu menembus pasar dunia.
***

KOPI asal Indonesia memang masih tetap dikapalkan ke berbagai
negara oleh para eksportir. Namun, mereka harus menanggung kerugian
tidak sedikit, karena harga jual di luar negeri lebih rendah
dibandingkan dengan harga pembelian dari pedagang pengumpul.
"Untuk kembali modal saja sulit bagi eksportir. Mereka masih
menjual kopi kepada pembeli luar negeri karena sebelumnya terikat
kontrak jual beli. Kalau eksportir ingkar janji, mereka akan di-black
list. Ini akan menyulitkan usaha ke depan," ujar Edi.
Para eksportir di Sumatera bagian selatan kebanyakan berada di
Lampung. Mereka membeli kopi dari ratusan pedagang pengumpul kopi
yang berdatangan dari Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung. Karena
banyak pedagang yang datang menjual kopi mereka, eksportir pun bisa
membeli dengan selisih harga yang tidak terlalu menganga dengan harga
jual rugi kepada pembeli asing.
Pilihan ekspor melalui Lampung karena ada jaminan kapal yang akan
mengangkut kopi di daerah itu. Pembeli bisa menentukan sendiri jenis
kapal yang akan mengangkut kopi ke negara tujuan melalui Pelabuhan
Panjang.
Jaminan ketersediaan kapal di pelabuhan itulah yang membuat
Lampung dibanjiri eksportir. Kondisi pelabuhan di Lampung lebih
menjamin dibandingkan Pelabuhan Bom Baru Palembang, misalnya. Karena
itu, pedagang pengumpul pun berbondong-bondong menjual kopi ke
Lampung.
Ekspor kopi melalui Lampung itu membuat nilai ekspor dari daerah
ini terangkat. Lampung memang menjadi andalan bagi ekspor kopi
Indonesia. Hingga akhir tahun 2002 tercatat Lampung memberi andil
lebih dari 196.000 ton dari total ekspor kopi Indonesia 283.700 ton.
Nilai ekspor yang disumbangkan Lampung dari komoditas ini sekitar
99,46 juta dollar AS. Jumlah itu menurun dibandingkan dengan total
ekspor tahun 2001 yang tercatat 240.900 ton kopi dengan nilai 106
juta dollar AS.
Humas AEKI Provinsi Lampung Azischan Satib menyebutkan, tahun ini
hingga periode April 2003, ekspor kopi Lampung lebih dari 49.000 ton
dengan nilai ekspor lebih dari 30 juta dollar AS. Jumlah sebanyak itu
naik sekitar 5.000 ton jika dibandingkan dengan periode yang sama
tahun 2002 yang 44.600 ton dengan nilai ekspor 18,5 juta dollar AS.
Semestinya produksi kopi asal Lampung dapat ditingkatkan karena
kawasan tersebut memiliki lahan dan iklim yang pas untuk kopi. Namun
karena buruknya harga kopi di pasar dunia, petani pun enggan mengurus
tanaman mereka.
Saat ini di Lampung terdapat sekitar 141. 500 hektar tanaman kopi
yang menghasilkan, dan sekitar 12.400 hektar kebun yang belum
menghasilkan. Dari total luasan itu, setiap tahun diperkirakan total
produksi kopi Lampung 150.000 ton, dengan asumsi rata-rata per hektar
kebun menghasilkan 700 kilogram hingga 800 kilogram kopi.
Hal itu berbeda dengan petani Vietnam yang mengolah lahan mereka
lebih baik sehingga mampu memproduksi lebih dari tiga ton kopi per
hektar. Meski pasar dalam negeri tidak mampu menyerap semua produksi
tersebut, Vietnam masih memiliki peluang besar menjual produksi kopi
di pasar dunia dengan harga lebih rendah.
Hingga akhir tahun 2002, dari total 41,45 juta ton kebutuhan kopi
dunia, Vietnam menyuplai sekitar 11,23 juta ton. Sementara Indonesia
memberi andil 5,22 juta ton.
Ketua Dewan Pembina dan Penasihat AEKI Sumatera Selatan Indra
Mulyawan mengemukakan, merosotnya harga kopi dipengaruhi oleh
menumpuknya persediaan kopi dunia. Saat ini, negara penghasil kopi
dunia seperti Brasil sedang panen. Beberapa negara lain seperti
Vietnam, meskipun belum panen raya, juga masih memiliki persediaan
kopi yang sangat besar.
Indra menyebutkan, harga ekspor kopi robusta asal Indonesia di
pasaran dunia saat ini berkisar 60 sen dollar AS per kilogram. "Di
Sumatera Selatan sendiri tidak ada kopi arabika," ujarnya.
Selain stok kopi menumpuk, menguatnya nilai tukar rupiah juga
cukup berperan terhadap turunnya harga ekspor.
Sementara, menurut Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Selatan
Sukarno HS, kopi sebagai komoditas ekspor harganya memang sangat
terpengaruh oleh harga di pasar dunia, sehingga sangat sulit
mengangkat harga kopi petani ke tingkat yang semestinya.
Sukarno menambahkan, sebenarnya ada semacam rencana dana retensi
kopi untuk menjaga harga kopi petani tidak jatuh. Dana ini untuk
membeli kopi saat terjadi panen raya dan harga kopi anjlok.
Petani, menurut Indra, juga berperan terhadap rendahnya harga
jual kopi mereka. Pengolahan pascapanen dan panen yang tidak baik
membuat mutu kopi rendah sehingga dihargai murah. "Dari dulu hingga
sekarang mutu kopi petani memang gitu-gitu saja, belum juga membaik,"
ujarnya.
Kualitas kopi asal Indonesia mungkin tidak bagus karena sebagian
di antaranya terlebih dahulu dilindas kendaraan saat dijemur di
jalan. Itu sebabnya, mungkin, kopi Indonesia kalah bersaing dengan
kopi Brasil dan Vietnam yang tidak perlu dilindas-lindas roda
kendaraan terlebih dahulu. (mul/jos/b04)
Foto:
Kompas/Agus Mulyadi
TETAP MELIMPAH - Meskipun produksi kopi tahun ini merosot sampai
sekitar separuh dari tahun lalu, pedagang pengumpul di Kepahiang,
Rejang Lebong, masih mampu menghimpun berton-ton kopi setiap hari.
Kopi dari daerah ini selanjutnya dijual kepada eksportir di Lampung.

Mobil Tak Terbeli, Mobil Malah Dijual

KOMPAS - Jumat, 11 Jul 2003 Halaman: 30 Penulis: mul Ukuran: 5874
MOBIL TAK TERBELI, DAUN PINTU MALAH DIJUAL
"TAHUN 1998 lalu petani kopi di Bengkulu ini memang gila-gilaan.
Masak mobil yang diparkir di tepi jalan pun ditawar dari pemiliknya,
apakah hendak dijual," ujar Husni, pedagang di Pasar Bengkulu.
Pada saat musim panen kopi dan sesudahnya, pada tahun itu, memang
masa yang luar biasa bagi perekonomian Bengkulu. Dengan melambungnya
harga kopi sampai Rp 16.000 per kilogram, ribuan petani bisa
mengantongi uang tunai hingga puluhan jutaan rupiah di saku celananya.
Tanpa pikir panjang mereka pun membelanjakan uangnya untuk
membeli barang-barang apa saja. "Banyak petani yang tinggal di pondok-
pondok mereka yang kecil di tengah kebun membeli lemari es, rice
cooker, atau televisi. Ketika sampai di rumah, barang-barang itu
tentu saja tak bisa digunakan karena memang belum ada listrik. Kulkas
pun hanya bisa dipakai menyimpan pakaian," kata Husni.
Di jalan-jalan di Provinsi Bengkulu, saat itu berseliweran mobil-
mobil bernomor polisi Jakarta. Mobil-mobil tangan kedua (second hand)
aneka jenis itu tentu saja dibeli petani kopi yang tengah bergelimang
uang. Sementara dealer sepeda motor pun kewalahan melayani
permintaan. Seorang petani saat itu kadang membeli dua sepeda motor
sekaligus, tentu saja dengan uang hasil penjualan kopi.
Melambungnya harga kopi saat itu benar-benar membuat ribuan
petani kopi Bengkulu begitu makmur. Perekonomian daerah itu secara
keseluruhan tentu saja terangkat. Hasil kerja keras petani kopi tidak
sia-sia.
"Harga kopi saat itu tinggi lebih disebabkan faktor dominan kurs
rupiah yang rendah. Pada tahun itu pun produksi kopi dunia, khususnya
jenis robusta, memang tidak tinggi sehingga kopi dari Indonesia
terserap dengan mudah di pasaran dunia," ujar Edi Kasim, Ketua
Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Provinsi Bengkulu.
Saat puncak krisis ekonomi yang melanda negara ini tahun 1998
memang merupakan masa keemasan petani kopi, termasuk di Bengkulu.
Nasib sama dialami pula petani cengkeh dan lada. Orang kaya baru
(OKB) bermunculan di mana-mana. Harga kopi yang membubung telah
mendongkrak kesejahteraan hidup ratusan ribu petani kopi, juga petani
cengkeh dan petani lada.
Namun, sayang pola hidup konsumtif sebagian besar petani saat itu
mendorong pembelanjaan uang sesuka hati mereka. Barang-barang apa
saja dibeli tanpa memikirkan manfaatnya. Petani yang biasa dikungkung
kemiskinan mungkin merasa kaget ketika menyadari mereka memiliki
banyak uang.
***

TAHUN-tahun berikutnya kesulitan ternyata kembali menghadang
petani saat harga kopi kembali turun. Bahkan, pada tahun ini harga
kopi hanya bergerak di kisaran Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per kilogram.
Pada tahun 2002 harganya malah menukik sampai pada kisaran antara Rp
2.500 sampai Rp 2.800 per kg.
Harga sebesar itu-yang bisa berubah setiap hari dengan nilai
antara Rp 100-Rp 300 per kg-tentu saja menyebabkan pendapatan petani
jauh merosot. Di saku celana dan di bawah bantal di kamar tidur
mereka tidak ada lagi uang bergepok-gepok yang siap dibelanjakan
untuk apa saja. Tabungan yang terkuras karena telah habis
dibelanjakan barang saat harga kopi melambung membuat mereka kembali
dililit kesulitan hidup.
"Empat tahun ini jangankan membeli mobil atau sepeda motor baru,
barang-barang yang pernah dibeli pun akhirnya terpaksa dijual
kembali. Bahkan, perabotan di rumah dijual hanya agar keluarganya
bisa makan," ujar Ahmad Holil, Kepala Desa Suban Ayam, Kecamatan
Selupuh Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.
Petani di Desa Muaro Siban, Kecamatan Muaro Tigo, Kabupaten
Lahat, Idham (60), menambahkan, sebagian petani malah ada yang sampai
menjual daun pintu atau peralatan lain di rumahnya agar bisa makan.
***

MEROSOTNYA harga jual dan menurunnya produksi pada musim panen
tahun 2003 ini juga membuat sebagian petani di Bengkulu Selatan dan
Rejang Lebong menjemur biji kopi di tengah jalan. Itu dilakukan
selain agar biji kopi cepat kering, juga supaya kulit biji kopi
terkelupas. Dengan begitu mereka tidak perlu lagi menggiling biji
kopi untuk membuang kulitnya, yang pasti membutuhkan biaya.
Di tengah ambruknya harga dan produksi, petani memang harus tetap
mengeluarkan biaya tambahan untuk mengupas kulit biji kopi sebelum
dijual kepada para pedagang pengumpul. Biaya yang dikeluarkan untuk
menggiling 50 kilogram biji kopi sebesar 1,5 kg biji kopi. Pemilik
penggilingan kopi di Pagar Alam, misalnya, umumnya mendapat bayaran
dengan cara seperti itu.
"Biaya giling setiap karung isi 50 kilogram memang sebesar 1,5
kilogram dari biji kopi yang digiling," ucap H Bakar, pemilik pabrik
penggilingan kopi di Desa Bangun Rejo, Pagar Alam Utara. Di kawasan
Rejang Lebong, biaya giling bukan dibayar dengan biji kopi yang
digiling. "Di sini biaya giling satu kilogram kopi Rp 200," kata
Basir, petani di Desa Tebat Monok, Kepahiang.
Bagi petani, biaya giling hanyalah salah satu pengeluaran setiap
kali panen. Mereka juga harus mengeluarkan biaya lain, seperti upah
buruh panen sebesar Rp 10.000 per hari. Mereka pun harus mengeluarkan
biaya pengangkutan dari kebun ke rumah dan dari rumah ke tempat
pedagang pengumpul yang besarnya ditentukan oleh jarak tempuh.
Bermacam pengeluaran itu tentu saja semakin membuat tipis
penghasilan petani kopi. Karena itu, mereka pun pesimistis hasil
penjualan kopi bisa digunakan untuk makan keluarganya setahun ke
depan.
Soal beli-membeli barang kebutuhan hidup lain, seperti yang
pernah dilakukan tahun 1998, mungkin hanya muncul dalam mimpi-mimpi
mereka saat tidur di malam hari. Mereka tidak tahu kapan harga kopi
kembali membaik dan membuat hidup menjadi lebih layak. (MUL)

Harga Kopi Menukik, Petani Pun Panik

KOMPAS - Jumat, 11 Jul 2003 Halaman: 30 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 6953 Foto: 1
HARGA KOPI MENUKIK, PETANI PUN PANIK
HIDUP petani kopi di zaman yang serba sulit ini makin bertambah
susah. Di tengah terus membubungnya harga-harga kebutuhan pokok hidup
dan berbagai jenis barang, nilai tukar produksi pertanian mereka
tetap rendah. Nilai tukar produksi pertanian, termasuk kopi, tetap
tidak sebanding dengan harga barang yang mereka butuhkan.
PETANI kopi pun kini semakin terpuruk ke dalam lembah kemiskinan,
akibat terus merosotnya harga biji kopi kering di pasaran. Hasil
jerih payah mereka setahun ini tidak membuahkan hasil memadai.
Rendahnya harga jual biji kopi membuat mereka terus terpuruk di dalam
jurang kemiskinan.
"Tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari kebun kopi sekarang.
Harga kopi tidak sebanding dengan kerja keras dan biaya yang telah
dikeluarkan. "Saya tidak tahu lagi, apakah hasil penjualan kopi tahun
ini bisa untuk menutupi biaya makan setahun ke depan," ujar Zaeri,
petani kopi di Talang Pagar Alam, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan.
Keluhan dan kekhawatiran Zaeri seperti mewakili ratusan ribu
petani kopi di Sumatera Selatan (Sumsel), Bengkulu, Lampung, dan juga
provinsi lain di Indonesia. Mereka hanya bisa pasrah
menerima "perlakuan tidak adil" tersebut.
Harga kopi yang terus merosot hanya bisa dihadapi petani dengan
sikap nrimo. Mereka hanya bisa mengikuti kehendak pasar.
Dua bulan ini, saat masa panen kopi tengah berlangsung, harga
jual di tingkat petani menukik tajam di kisaran Rp 3.500 sampai
dengan Rp 4.000 per kilogram. Harga itu tentu saja tak sebanding
dengan kerja keras dan modal yang dikeluarkan petani selama setahun.
Harga di kisaran itu jauh dari harapan petani yang pernah
merasakan bagusnya harga biji kopi kering pada tahun 1998 yang
mencapai Rp 16.000 per kilogram. Namun, kenaikan tersebut hanya
dialami saat itu saja. Tahun berikutnya, yaitu tahun 1999 dan 2000,
harga kopi menurun drastis menjadi Rp 7.000 per kilogram.
"Tahun 2001 harga kopi kembali turun menjadi Rp 5.000 per
kilogram. Dan yang paling parah tahun 2002, harganya hanya sekitar Rp
2.500 sampai Rp 2.800 per kilogram. Namun, tahun lalu produksi
melimpah sehingga pendapatan petani tetap lebih besar," ucap Lukman,
petani kopi di Desa Talang Tinggi, Kecamatan Pagar Alam Utara,
Sumsel, yang memiliki 35.000 pohon kopi.
Tahun 2003 ini memang mimpi buruk bagi petani. Meskipun harga
sedikit membaik dibandingkan dengan tahun lalu, namun produksi kopi
menurun drastis. Gara-gara cuaca yang tidak bersahabat, produksi kopi
petani menurun sampai setengahnya dibandingkan dengan produksi tahun
2002.
Marul, petani kopi di Desa Suban Ayam, Kecamatan Selupuh Rejang,
Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, menyebutkan, produksi
kopi kering dari kebun miliknya sekarang hanya sekitar 500
kilogram. "Itu setengah produksi tahun lalu yang bisa mencapai satu
ton," katanya.
Soal rendahnya produksi ini diakui beberapa petani di Kecamatan
Kerinci, Kecamatan Pulau Pinang, Kecamatan Muaro Tigo, hingga
Kecamatan Tanjung Sakti di Kabupaten Lahat. Menurut mereka, tahun
2003 ini petani kopi mengalami pukulan dua kali.
Idham (60), petani di Desa Muaro Siban, Kecamatan Muaro Tigo,
malah mengaku hanya mendapat 600 kilogram biji kopi kering dari dua
hektar tanamannya. Produksi itu jauh menurun dibandingkan dengan
tahun-tahun sebelumnya.
Demikian pula Helmi (40), petani kopi asal Desa Muaro Danau,
Kecamatan Muaro Tigo, yang tahun ini hanya mendapatkan 400 kilogram
dari sekitar 5.000 batang pohon kopi di kebunnya.
***

MESKIPUN produksi rata-rata jauh lebih sedikit daripada tahun
lalu, di daerah-daerah sentra produksi itu biji kopi tetap terlihat
melimpah. Di sepanjang jalan yang menghubungkan antara Kecamatan
Kerinci-Lahat-Pulau Pinang- Muaro Tigo, hingga ke kecamatan-kecamatan
di Pagar Alam seperti Dempo Utara, Dempo Selatan, Dempo Tengah, Pagar
Alam Selatan, dan Pagar Alam Utara, jemuran kopi ada di mana-mana.
Di ruas jalan yang menghubungkan antara Pagar Alam melalui
Kecamatan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat, terus hingga ke arah Manna,
Kabupaten Bengkulu Selatan, hamparan jemuran kopi terlihat di mana-
mana. Malah di kawasan Tanjung Sakti dan Lubuk Mas, Bengkulu Selatan,
petani menjemur kopi mereka di jalan.
Hamparan jemuran kopi di depan rumah penduduk atau di tepi jalan
terlihat pula di ruas jalan antara Manna dan Kota Bengkulu, terutama
di kawasan Tais hingga Seluma.
***

MENGHADAPI derita berkepanjangan selama empat tahun ini, sebagian
petani tampaknya merasa frustrasi. Mereka akhirnya memilih tidak
mengurusi kebunnya.
"Dengan harga yang terus turun selama beberapa tahun ini, petani
tidak lagi memiliki modal untuk memelihara kebunnya. Biaya paling
mahal untuk pupuk," ujar Basir.
Ia menyebutkan, pupuk jenis NPK saat ini harganya Rp 5.000.
Padahal untuk memupuk satu hektar lahan selama dua kali setahun
dibutuhkan 400 kilogram. Belum lagi biaya untuk membersihkan rumput
Rp 200.000 per tahun, dan menyemprot hama Rp 100.000.
"Banyaknya biaya seperti itu, tentu tidak mungkin bisa ditanggung
petani. Kami akhirnya memilih untuk membiarkan kebun kopi dan mencari
pekerjaan lain. Toh kalau sudah waktunya panen tetap bisa
menghasilkan, meskipun jumlahnya tidak banyak," kata Basir.
Rendahnya produksi dan malasnya petani merawat kebun, dianggap
oleh Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Provinsi Bengkulu
Edi Kasim sebagai penyebab semakin terpuruknya nasib petani kopi. Itu
berbeda dengan petani kopi di Brasil dan Vietnam, misalnya.
"Meskipun harga tengah merosot, petani kopi di Vietnam, misalnya,
tetap memperoleh pendapatan lebih bagus karena produksinya melimpah.
Di Vietnam, karena kebun dirawat dengan baik, produksi satu hektar
kebun bisa mencapai dua ton biji kopi kering," ujar Edi Kasim.
Derita petani kopi memang tak kunjung selesai. Bahkan, Edi pun
tidak bisa memprediksi kapan harga kopi akan membaik lagi. Kalau
sudah begitu, tahun-tahun ke depan petani kopi masih akan terpuruk.
Mungkin nasib petani yang membabat kebun kopi miliknya sekitar
dua tahun lalu, atau sebagian lainnya tahun lalu dan tahun ini, akan
lebih baik hidupnya nanti. Mungkin tanaman karet pengganti mereka
seperti yang telah dilakukan di Kecamatan Kerinci, atau tanaman
coklat pengganti seperti yang dilakukan petani di Tegur Wangi, Pagar
Alam, akan membuahkan hasil lebih baik dibandingkan kopi.
(AGUS MULYADI)
Image:
- Peta Sentra Penghasil kopi
Foto:
Kompas/Agus Mulyadi
DITANAM DI LERENG - Sebagian petani di Dempo Tengah, Pagar Alam,
menanam kopi mereka di lereng-lereng bukit. Di tengah anjloknya harga
kopi sekarang, sebagian besar petani membiarkan kebun kopi mereka
tumbuh tanpa perawatan yang memadai.

Jumat, 09 November 2007

Sadja, Petani Nomad dari Indramayu

KOMPAS - Jumat, 27 Dec 1996 Halaman: 22 Penulis: MUL/BOY Ukuran: 10745
Sadja
PETANI NOMAD DARI INDRAMAYU

MEMBURU lahan kosong. Itulah pekerjaan Sadja (65). Dan itu sudah
dilakukannya selama 25 tahun lebih. Berkelana dari satu tempat ke
tempat lain dan tinggal di situ hanya untuk masa seumur usia tanaman.
Dan karena Sadja mengaku hanya tahu bertanam semangka, maka paling
lama dia "bertahan" di satu tempat selama tiga bulan. Sama dengan usia
semangka. Setelah itu, ia berkemas lagi, pergi ke daerah lain. Orang
menyebutnya petani nomad. Beragam tempat di Jawa Barat dan Jawa Tengah
sudah didatanganinya.
"Usia semangka mulai dari menanam biji sampai mulai panen membutuhkan
waktu sekitar 70 hari. Namun kalau dihitung mulai mengolah lahan
sampai selesai panen, sekitar tiga bulan," kata Sadja, ketika ditemui
Kompas di dalam gubuk di tengah ladang semangkanya di Desa Ciburuy,
Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, pertengahan Desember 1996.
Lahan yang sudah sekali digarap tidak bisa langsung ditanami semangka
lagi. Kalau dipaksakan juga, hasilnya jelek atau gagal panen. Karena
itu, ia harus selalu terus-menerus mencari lahan baru agar bisa
berkesinambungan bertanam semangka.
Petani asal Desa Juntinyuat, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten
Indramayu, Jawa Barat itu, sudah sekitar satu setengah bulan berada di
Maja. Tanaman semangkanya sekarang sedang subur-suburnya. Tanamannya
sudah mulai berbunga, bahkan sebagian sudah menampakkan buah sebesar
buah kelereng sampai bola pingpong.
Sadja adalah salah seorang petani semangka asal Indramayu yang tengah
menggarap lahan telantar di Maja. Ratusan petani semangka lain asal
Indramayu juga menanam semangka di kawasan yang tengah menjadi
sorotan, karena ribuan hektar lahannya telah dikuasai developer untuk
dibangun sebagai perumahan, namun hingga kini masih dibiarkan
telantar.
Ratusan petani asal Indramayu bertanam semangka dalam puluhan
kelompok. Mereka tinggal di puluhan gubuk-gubuk berbeda di tengah
hamparan tanaman masing-masing, di perbukitan Desa Ciburuy dan
sekitarnya. Seperti Sadja, petani pengembara itu juga bertanam
buah manis berair melimpah itu. Ini sudah turun-temurun dilakukan
petani di daerah asalnya di Juntinyuat. Pengembaraan mereka di daerah
lain hanya sebatas usia semangka. Selesai panen, daerah lain pun
didatangi.
"Ning Juntinyuat kuwu keder, sebab kelangan penduduke," kata Sadja,
dalam logat Jawa Indramayu yang kental. Katanya, kepala desa di
Juntinyat bingung kehilangan penduduknya yang rata-rata mengembara
bertanam semangka.
Petani pengembara seperti Sadja hanya sekali-sekali pulang ke kampung
asalnya di Indramayu. Dalam setahun, ia hanya bisa beristirahat di
kampung halaman sekitar sebulan penuh. Selebihnya, ia berpindah-pindah
mengikuti tanaman semangkanya.
Kadang petani-petani itu memang sempat pulang, di sela-sela waktu
bertanam untuk suatu keperluan. Namun itu dilakukan hanya sekitar
satu-dua hari, sebelum kemudian balik lagi mengurus "kebun"-nya.
***

GUBUK yang ditinggali Sadja - juga petani semangka pengembara lain
seperti Sardi, Karsam, Duloh, atau H Warana - berupa tenda plastik
tebal. Karena terus-menerus mengembara, kasur busa juga dibawa. Alas
tidur empuk itu ditaruh di atas amben bambu setinggi sekitar 30
sentimeter.
Tidak hanya itu, perlengkapan dapur dan lainnya juga dibawa serta. Di
sela-sela memelihara tanaman semangka, petani pengembara juga memasak
di dalam tenda. Ada pula di antara mereka yang membawa serta istri,
seperti yang dilakukan H Sadja. Selama masa pengembaraannya, Sadja
selalu didampingi istrinya, kecuali ketika dia sedang hamil sampai
melahirkan.
"Lairane ning umah, beli ning kene," kata Ny Sadja menyebutkan
kelahiran anak bungsunya yang kini berusia 17 tahun. Maksudnya,
anaknya itu lahir di rumah di kampungnya, bukan di tenda saat
mengikuti suaminya mengembara. Entah karena saat di kandungan sudah
dibawa serta berkelana, si anak bungsu H Sadja sampai sekarang ini pun
ikut ayah ibunya dalam hidup gaya nomad.
Meskipun sudah beranak-cucu, dalam bertani semangka di daerah orang, H
Sadja tidak mau kalah dengan petani-petani yang masih muda usia. Ia
bersama istri dan putra bungsunya tidak mau ketinggalan, ikut
berkelana mencari lahan di daerah lain untuk digarap.
Seperti yang dilakukan di Ciburuy, Maja, Sadja merupakan orang yang
tertua, namun semangatnya tidak kalah dengan yang lain. Ayah delapan
orang anak dan belasan cucu itu menyewa lahan seluas 1,5 hektar dengan
sewa Rp 187.500 kepada pemilik lahan. Dari lahan itu Sadja sudah
menanam 4.000 bibit semangka.
Di luar sewa lahan, ia mengeluarkan biaya sekitar Rp 5 juta untuk
tanamannya, membayar upah pekerja kebun yang juga diboyong dari
Indramayu, bibit, pupuk, dan obat hama. Ini belum termasuk biaya makan
sehari-harinya berikut anak istrinya, serta buruh pemelihara tanaman.
Ketika membuka lahan, jumlah petani yang dipekerjakan bisa mencapai 15
orang. Setelah pembersihan dan pengolahan lahan selesai, dan tinggal
menanam bibit serta pemeliharaan sampai panen, jumlah pekerja itu
dikurangi hingga tinggal empat orang.
Setiap pekerja diberi upah per hari sebesar Rp 5 ribu, ditambah
tanggungan makan. Biaya lain adalah pupuk kandang sebanyak 140 karung,
dan pupuk jenis NPK sampai satu ton.
Menurut Sadja, dalam pencarian lahan baru untuk ditanami semangka,
kelompok-kelompok petani asal Indramayu itu mempercayakannya kepada
orang lain. Kalau sudah ada sejumlah kelompok petani masuk ke daerah
baru, biasanya kelompok-kelompok petani lain dari Indramayu juga
datang. Mereka memang biasanya saling memberi informasi di mana ada
lahan kosong.
Mereka menyetor sewa kepada pencari lahan, yang memang dianggap
sebagai pimpinan petani-petani nomad itu. Pimpinan kelompok petani
itulah yang berurusan, mulai mencari hingga negosiasi sewa. Dengan
demikian, petani lainnya dapat dengan tenang menjalankan pekerjaannya,
tanpa harus repot dengan berbagai urusan.
Bukan hanya itu, pimpinan kelompok pula yang menyediakan pupuk. Dalam
penjualan semangka hasil panen pun, pimpinan kelompoklah yang
menginformasikan kepada calon pembeli.
Lantas mengapa memilih daerah Maja? "Daerah ini kan berbukit-bukit,
sementara air cukup berasal dari hujan yang turun. Di perbukitan
seperti ini, lahan semangka tidak tergenang," katanya. Ditambahkan, di
Maja satu-satunya sumber air untuk menyiram semangka hanya air hujan.
Jika panen berhasil, Sadja bisa menghasilkan sekitar 28 ton semangka.
Berat rata-rata satu buah semangka sekitar tujuh kilogram. Kalau harga
lagi normal satu kilogram semangka Rp 450, Sadja dapat mengantongi
uang sebanyak Rp 12,6 juta.
"Yah untung Rp 2-3 juta sekali tanam, lumayan bisa menyambung hidup,"
kata Sadja, yang tidak mau menyebut rinci hasil yang didapatnya.
Tampaknya Sadja sudah cukup pengalaman dalam menanam semangka. Untuk
memaksimalkan hasil panennya, dia memetik semua buah yang tumbuh
kecuali satu yang dibiarkan besar. Dengan demikian, buah yang
dihasilkan adalah buah yang besar dengan isi yang baik.
Hampir semua daerah di Jawa Barat pernah didatangi Sadja untuk
bertanam semangka. Bahkan dia pernah menyewa lahan sampai di daerah
Pemalang, Jawa Tengah. Selebihnya di daerah Jawa Barat, baik itu di
Indramayu sendiri, maupun daerah lain di pantura, seperti Cirebon,
Subang, Karawang, sampai Serang.
Sebelum di Maja, Sadja menanam semangka di daerah Karawang. Sesudah
Maja, Sadja sudah mengatakan akan mencari lahan baru di daerah Jawa
Tengah.
Kenapa mesti jauh ke daerah lain, bukankan di Indramayu terdapat lahan
pertanian luas? "Kalau waktu rendeng seperti sekarang, tidak ada lahan
sisa untuk ditanami semangka. Semuanya ditanami padi. Kami bisa
bertanam di Indramayu, kalau kemarau nanti," kata Sadja.
***
PETANI semangka pengembara lainnya, H Warana (45), juga warga
Juntinyuat, baru lima tahun hidup nomad bertani semangka. Dia
ikut-ikutan tetangganya yang banyak bertanam semangka di daerah lain.
Laki-laki beranak tiga itu - sementara anak istrinya tetap tinggal di
kampung asal - mengaku mendapat keuntungan lumayan dari tanaman
semangkanya.
Sama seperti petani semangka lain, Warana pun sekarang memilih lokasi
di daerah lain, karena di daerah asalnya atau daerah tetangga dekat
Indramayu seperti Cirebon, Brebes, dan Subang, tidak ada lahan kering
untuk bertanam semangka. Semuanya sekarang ditanami padi.
Sardi (40) dan Karsam (38) juga menyebut alasan serupa. Selain tidak
ada lahan tersisa di daerahnya untuk bertanam semangka, selalu
diperlukan lahan baru untuk menanam buah itu. Sekarang ini kakak
beradik yang masing-masing menyewa lahan satu hektar mempunyai dua
orang buruh untuk mengurus tanaman. Sebelumnya, saat membersihkan dan
mengolah lahan, masing-masing membawa belasan buruh dari daerah
asalnya. "Sekarang ini cukup dua orang saja, untuk memelihara dan
mengawasi tanaman," kata Sardi, petani asal Karangsinom, Indramayu.
Berbeda dengan H Sadja dan H Warana, Sardi dan Karsam dalam masa tanam
ini beberapa kali pulang kampung. Mereka berdua mempunyai sawah yang
tengah ditanami padi di desanya. Saat pemupukan padi seminggu lalu
misalnya, keduanya pulang untuk mengawasi langsung. "Sesudah
panen semangka di sini saya pulang, menunggu panen padi sampai
pengolahan sawah dan tanam padi musim berikutnya. Sesudah itu selesai,
kami akan mencari daerah lain untuk kembali bertanam semangka," kata
Karsam.
Berbeda dengan Sardi dan Karsam, empat orang buruh mereka, seperti
juga buruh pemelihara semangka lain, tidak pernah pulang sejak
pengolahan lahan semangka. "Kami terikat kontrak sampai panen nanti,"
kata Wasdi (25) dan Rukyat (20), buruh yang bekerja di lahan Sardi.
Dua orang buruh itu, masing-masing dibayar Rp 400.000 sampai masa
panen semangka selesai nanti. Makan sehari-hari ditanggung majikannya.
Sesudah itu para buruh semangka itu akan mengikuti kembali pemilik
modal. Kalau langsung pindah ke lokasi baru, mereka pun ikut.
Seandainya pulang dulu, mereka pun kembali ke rumah masing-masing,
untuk kemudian kembali mengembara di lahan semangka baru. (mul/boy)
Teksfoto:
Kompas/boy
DARURAT - Sadja (kanan), petani semangka asal Indramayu, sanggup hidup di ì
gubuk darurat selama dalam perantauan. Bila istrinya tidak sedang hamil, dia ì
membawa serta untuk membantu urusan dapur. Meski darurat, petani semangka ì
seperti Sadja mengaku bisa menikmati hidup dan bahkan mampu menciptakan ì
lapangan kerja.