Tampilkan postingan dengan label lebak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lebak. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2007

Duka Masih Selimuti Korban Tabrakan KA dan Kebakaran

KOMPAS - Jumat, 02 Nov 2001 Halaman: 36 Penulis: bsp; mul Ukuran: 4525
DUKA MASIH SELIMUTI KORBAN TABRAKAN KA DAN KEBAKARAN
HINGGA hari Rabu (31/10) wajah anggota masyarakat yang mengalami
musibah, baik akibat kecelakaan kereta api maupun kebakaran, masih
tampak sendu. Termasuk Ny Ebah (37) masih menampakkan kesedihan
mendalam akibat kematian suaminya.
Samsul Bahri alias Buyung, suami Ebah, meninggal pada musibah
tabrakan kereta api di Lebak Sambel, Kelurahan Cijoro Lebak,
Rangkasbitung, Banten, 25 Oktober dini hari.
Tidak ada harta kekayaan yang ditinggalkan oleh Buyung. Rumah
petak kontrakan yang harus segera dibayar Rp 35.000 per bulan di
Kampung Rancatimah, Cijoro Lebak, sungguh sangat kecil. Rumah itu
tidak mampu untuk menampung jenazah Buyung dan para pelayat.
Beruntung ada tokoh masyarakat setempat, Nahrawi (70), yang
menyediakan rumah untuk menerima jenazah Buyung dan para pelayat.
Nahrawi yang asli Lebak, juga tetap bersedia menampung sementara Ebah
dan kedua anak kembarnya, serta untuk selamatan atas kematian Buyung.
Kekayaan dalam bentuk keturunan, merupakan peninggalan Buyung
yang harus tetap dijaga oleh Ebah. "Saya sudah pesan sama Ebah,
supaya jangan melupakan dua anaknya yang harus tetap dirawat dan
dibesarkan," kata Nahrawi.
"Iya, saya sadar bahwa saya sudah tidak lagi didampingi oleh
suami saya. Saya sekarang harus bisa hidup dengan kedua anak saya,
dan juga harus tetap menjaga kandungan yang kini memasuki usia dua
bulan ini," kata Ebah. Istri almarhum Buyung ini mengatakan hal
tersebut sambil mengelus-elus perutnya.
Sambil menerima tamunya yang menyerahkan sumbangan, yakni Tim
Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) di ruang tamu keluarga Nahrawi, Ebah
menceritakan segala sesuatunya tentang Buyung. Di pangkuannya
tergeletak anak perempuannya, Nuryati (4). Sementara anak kembar
Nuryati dan Rizal, berada di pangkuan Ny Nahrawi. Rizal dan Nuryati,
tampaknya sama sekali belum tahu bahwa bapaknya tidak akan kembali
bersamanya lagi.
***

WAJAH sendu juga tercermin pada Ny Sutisna, istri almarhum
kondektur kereta yang juga menjadi korban. Anak ketiganya, bungsu
dari tiga bersaudara yang masih berusia lima tahun, tampaknya belum
paham betul bahwa selamatan tiga hari yang diadakan di rumahnya
adalah untuk kirim doa bagi almarhum Sutisna.
Hari Sabtu (27/10) itu, ketika Tim DKK mengunjungi rumahnya,
para pelayat memang masih berdatangan ke rumah Ny Sutisna. Anak
pertamanya, seorang perempuan turut sibuk menyiapkan selamatan.
Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Adjidarmo, Rangkasbitung,
keluarga yang menunggui korban luka akibat tabrakan kereta api
tersebut juga tetap menunjukkan kesedihan mendalam.
"Sampai sekarang, kami belum ditagih biaya rumah sakit. Kabar
yang kami terima, semuanya akan diselesaikan oleh PT Kereta Api
Indonesia, dan mungkin juga dari asuransi," kata Yohan, istri Lilis
yang bersama anaknya Rina menjadi korban luka dan dirawat di RS
Adjidarmo. Hal serupa juga disuarakan oleh Ny Sumiarsih, ibu Ade
Hardianto yang masih tergeletak dengan kepala dibalut perban di RUD
Adjidarmo.
***

HAL serupa dialami pula oleh warga korban kebakaran di perumahan
padat penduduk di Kelurahan Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta
Pusat. Sekitar 215 rumah rata dengan tanah pada kebakaran yang
terjadi pada hari Senin (22/10) sekitar pukul 06.15. Akibat
selanjutnya 1.150 jiwa kehilangan tempat tinggal, harta benda,
termasuk perlengkapan sekolah dari para pelajar yang menjadi korban.
Di antara korban terdapat pula Erza (17) yang hingga kini masih
dirawat di RSAL Mintoharjo, Bendungan Hilir, Jakarta. Erza, tersambar
kobaran api sehingga kedua kakinya luka parah, sementara ayahnya
masih diamankan pihak kepolisian, dan tiga adik serta ibunya dalam
pengungsian.
Usaha untuk meringankan beban masyarakat korban kebakaran itu
telah pula dilakukan oleh DKK. Bantuan selain diberikan kepada
keluarga Erza, juga diberikan untuk para enam SD yang kehilangan
segalanya dan saat ini masih mengungsi di tanah pekuburan Karet.
Semangat belajar para pelajar SD tersebut perlu mendapat
dukungan. Walaupun rumah rata tanah, tetapi mereka tetap masuk
sekolah, dan belajar seperti biasa.
Itulah sebabnya DKK mengucurkan bantuan untuk mereka. Seluruh
bantuan yang telah disalurkan baik untuk korban tabrakan kereta,
maupun untuk korban kebakaran berjumlah Rp 14 juta. (bsp/mul)

Kalimaya, Batu Mulia yang Penuh Pesona

KOMPAS - Sabtu, 28 Dec 1996 Halaman: 12 Penulis: MUL/BOY Ukuran: 6571
KALIMAYA, BATU MULIA YANG PENUH PESONA

KABUPATEN Lebak, Jawa Barat, sudah lama dikenal sebagai daerah
penghasil batu mulia, selain emas, dan berbagai jenis hasil tambang
lainnya. Salah satu yang khas adalah batu mulia yang dikenal dengan
nama Batu Kalimaya.
Batu untuk pelengkap perhiasan kalung, cincin, giwang, dan sebagainya,
ditemukan dari dalam perut bumi Lebak, tepatnya di Kecamatan Maja. Dari
daerah ini batu mulia yang mempunyai kekhasan tersendiri itu dihasilkan,
dan menyebar kepada peminatnya di berbagai penjuru.
Kekhasan yang nampak dari batu Kalimaya adalah terdapatnya sejumlah
titik-titik sinar yang nampak di batu. Warga dan pencari batu setempat,
menyebut kemilau titik-titik sinar di batu dengan sebutan "kembang".
Bentuk keindahan kembang-kembang di dalam batu itulah, yang membedakan
batu Kalimaya dengan batu mulia lain. Warna batu Kalimaya juga bermacam-
macam, hitam, putih, merah, hijau, biru, dan semuanya ditumbuhi kembang-
kembang.
Harga batu Kalimaya yang sudah jadi bervariasi, tergantung kemilau
batu, keindahan yang terpancar, bentuk dan ukurannya. Salah seorang warga
Desa Curugbitung, Kecamatan Maja, pemilik batu Kalimaya dengan alas dasar
warna putih berdiameter sekitar satu sentimeter, menyebut harga batunya
Rp 150.000. Batu itu dipakainya untuk bandul kalung. Kalau ukuran batu
lebih besar dan kemilau kembangnya lebih bagus, harganya bisa jutaan rupiah.
Nama Kalimaya sendiri, ternyata sama sekali tak punya hubungan dengan
kali atau sungai. Batu itu juga tidak ditemukan di aliran sungai, tetapi
digali dari dalam tanah. Salah satu lokasi terbesar penambangan batu
Kalimaya, terdapat di Kampung Cilampung, Desa Ciburuy, Kecamatan Maja.
Kawasan itu bisa ditempuh dengan berjalan kaki melalui Kampung Lebakpasir,
Desa Ciburuy, sejauh satu kilometer.
Dipilihnya lahan perkebunan karet di Kampung Cilampung untuk mencari
batu Kalimaya, menurut Risman (25) salah seorang penambang, awalnya hanya
karena faktor kebetulan. Di lokasi itu ada warga yang menemukan Kalimaya
ketika tengah menggali tanah.
Lokasi penemuan batu Kalimaya tidak hanya di Kampung Cilampung. Warga
di sejumlah desa di Kecamatan Maja, kadang secara kebetulan menemukan
batu mulia tersebut saat menggali tanah.
***
MEMASUKI kawasan penambangan Batu Kalimaya di kawasan perkebunan karet
di Kampung Cilampung, dari kejauhan sudah disambut deru mesin pompa air
yang digunakan penambang untuk menguras air dari dalam lubang tambang.
Lebih dekat, sudah terlihat lubang-lubang galian yang mirip terowongan
persembunyian di kala perang di dinding bukit. Namun terowongan-terowongan
itu sudah ditinggalkan penambang.
Ketika memasuki lokasi utama penggalian di atas bukit, dibutuhkan
cukup kewaspadaan. Di sana-sini terdapat lubang-lubang yang tidak kelihatan
dasarnya, karena dalamnya rata-rata lebih dari 30 meter, bekas penggalian
batu Kalimaya yang sudah ditinggalkan.
Sumur-sumur dalam berdiameter sekitar 1,5 meter, telah ditinggalkan
tanpa ditimbun kembali. Bekas penambangan batu Kalimaya menjadi lebih
berbahaya lagi, karena sebagian di antaranya telah ditumbuhi semak hingga
tak terlihat. Di kawasan lubang penambangan batu Kalimaya, terdapat pula
pondok-pondok tempat beristirahat penambang.
Saat ini ada sekitar 10 sumur penambangan batu Kalimaya. Untuk
mengaduk-aduk isi perut bumi, mencari batu berharga itu membutuhkan
tenaga kerja sekitar tujuh orang tiap sumur galian. Tapi tidak setiap hari
mereka bisa menemukannya. Kadang bisa berbulan-bulan, baru dapat ditemukan
batu berharga tersebut.
Para penambang itu terbagi dalam beberapa bidang pekerjaan. Ada yang
khusus mengaduk-aduk di dalam sumur mencari batu, dan penarik ember
berisi batu galian serta mengangkutnya. Batu cadas bekas galian dibuang
berserakan di sekitar lubang galian. Seorang pekerja lain, biasanya juga
masih mencoba mencari batu Kalimaya di antara pecahan batu-batu cadas itu.
Penggali dan pencari Kalimaya di dalam lubang galian, harus membawa
lampu petromaks untuk penerangan. Kegelapan sumur dalam bisa diatasi
dengan sinar lampu, yang juga akan membuat pantulan sinar batu yang ada di
dalam lubang. Batu Kalimaya umumnya menempel di batu-batu cadas di dalam
perut bumi.
Menurut salah seorang buruh penambang, Pepen (29), galian sampai
sedalam 30 meter lebih dilakukan selama berbulan-bulan. Batu Kalimaya
ditemukan menempel di batu cadas. "Kalau lagi mujur, ketika galian
baru dua atau tiga meter, kadang kami sudah menemukannya. Namun bisa
pula sebulan lebih kami tidak menemukan batu itu, meski galian sudah
bertambah dalam," katanya.
Pepen, seperti juga puluhan penambang lainnya, hanyalah buruh pencari
batu. Ada pemodal yang membiayai pencarian batu mulia itu. Mereka mendapat
penghasilan bila memperoleh batu Kalimaya. Batu itu langsung dijual dan
dihargai sendiri oleh pemodal.
Pernah misalnya buruh-buruh penambang menemukan batu Kalimaya cukup
bagus berdiameter sekitar lima sentimeter. Pemodal lantas membeli batu
yang masih mentah itu Rp 1 juta. Uang penjualan dibagi-bagi kepada seluruh
penambang di sumur tempat ditemukannya batu. Dari penemuan itulah penambang
mendapat upah. Sementara kebutuhan makan-minum para buruh penambang selama
penggalian berlangsung, ditanggung pemodal.
Untuk memenuhi kebutuhan makan-minum di kawasan tambang batu Kalimaya,
seorang pedagang makanan, Salmah (30), mangkal di lokasi itu. Salmah sudah
hampir 10 tahun berada di sekeliling penambang batu Kalimaya. Katanya,
selain deru mesin diesel penyedot air dari dalam lubang galian, tidak ada
keributan lain. Juga tidak pernah ada kejadian penambang yang tertimbun di
dalam lubang galian, seperti misalnya yang kerap dialami penambang emas
tradisional.
Batu-batu Kalimaya yang ditemukan di lubang galian, tidak langsung
bisa dijadikan perhiasan. Batu-batu "mentah" itu harus terlebih dahulu
digosok untuk mengeluarkan kemilaunya. Ukuran batu pun disesuaikan dengan
kebutuhan jenis perhiasan apa yang akan dilengkapi dengan Kalimaya.
(mul/boy)
Foto:
MENCARI BATU - Usaha menemukan batu Kalimaya, Selain dilakukan oleh mereka
yang muda usia, juga melibatkan beberapa pria berusia lanjut. Namun tak
seperti rekannya yang muda, mereka tak menggali sampai di bawah tanah,
melainkan hanya mencari di bekas galian. Siapa tahu ada batu Kalimaya yang
luput dari perhatian penambang.

Warga Maja Tetap Jadi Penonton

KOMPAS - Selasa, 20 Apr 1999 Halaman: 17 Penulis: MUL Ukuran: 3335

--------------------------------------------------------------------------------

WARGA MAJA TETAP JADI PENONTON

CABAI keriting ternyata bisa tumbuh dengan subur di Bumi Maja,
Kabupaten Lebak, Jawa Barat. Komoditas pertanian yang rasa dan
harganya "pedas" bagi ibu-ibu rumah tangga itu, tumbuh subur dan
berbuah cukup lebat.
Hamparan tanaman cabai jenis keriting yang tumbuh subur di
Kecamatan Maja itu bisa dilihat di dua lokasi perkebunannya di Desa
Cipining dan Desa Tanjungsari. Lahan yang digunakan kebetulan tanah
telantar milik dua pengembang kawasan (developer) yang kini bangkrut.
Dua kebun cabai berada di lahan milik PT Agroindo Adipratama,
pengembang perumahan Rumah Kebon Maja Asri di Cipining, di atas
lahan 1,5 hektar. Kebun lain seluas tiga hektar di atas lahan milik
PT Majasani Pratama, pengembang perumahan Vila Regensi Maja di
Tanjungsari.
Dua hamparan perkebunan cabai itu setidaknya menunjukkan, Bumi
Maja subur. Di daerah itu tidak hanya padi, singkong, ubi jalar,
pisang, sawo, atau rambutan, yang bisa ditanam dan dipetik.
Cabai pun bisa tumbuh, menghasilkan dan menguntungkan penanamnya.
Telantarnya ribuan hektar lahan yang telah dibebaskan 15
pengembang untuk membangun perumahan, sejak sekitar setahun ini memang
telah dimanfaatkan warga untuk kembali bercocok tanam. Warga bisa
memanfaatkan lahan yang belum dibuldozer, dikeruk, dan diratakan
pengembangnya.
***

KEBUN cabai keriting di Vila Regensi Maja, kini sedang memasuki
masa panen. "Panen sudah dilakukan sejak setengah bulan lalu, dan
sampai sekarang sudah lima kali panen, yang dilakukan setiap tiga
hari. Hasil panen keseluruhannya sekitar dua ton," kata Odi (26),
warga Tanjungsari yang bekerja sebagai buruh di perkebunan itu,
kepada Kompas, awal April.
Menurut Odi, lahan yang digunakan menanam cabai itu sebelum
dikuasai dan digusur pengembang, merupakan perkebunan karet.
Sebelumnya warga setempat belum pernah menanam cabai keriting di
kawasan itu. Seorang karyawan PT Majasani Pratama kemudian mencoba
memanfaatkan lahan telantar itu, dan bibit pertama ditanam Januari
1999 lalu.
Sama seperti di Tanjungsari, kebun cabai di Cipining juga bukan
milik warga setempat, tetapi milik karyawan dari developer PT Agroindo
Adipratama. Tanaman di atas lahan seluas 1,5 hektar itu kini telah
melewati masa puncak panen.
Penjaga kebun, Ook (28) menyebutkan, kebun cabai keriting itu
telah dipanen 32 kali. "Hasilnya rata-rata sekitar 1,5 kuintal setiap
kali panen," ujarnya. Ditambahkan, lahan kebun cabai sebelumnya juga
bekas perkebunan karet yang telah dikuasai pengembang pemiliknya.
Kendati tanaman cabai terbukti bisa tumbuh subur di Maja, ternyata
belum menarik minat warga setempat untuk menanamnya. Sama seperti
tumbuhnya perumahan di kawasan itu, tumbuhnya cabai pun hanya bisa
ditonton warga Maja. Mereka tidak bisa merasakan keuntungan pedasnya
harga cabai tersebut.
Paling banter warga setempat hanya bisa menjadi penjaga, dan
buruh kasar di perkebunan cabai itu. Mereka hanya puas menerima upah
Rp 7.000 per hari dari pemilik kebun, tanpa bisa merasakan keuntungan
mahalnya harga cabai yang pernah melambung sampai puluhan ribu rupiah
per kilogramnya. Warga Maja tetap masih menjadi penonton di daerahnya
sendiri. (mul)

Akan Lahir Kota Baru di Maja

KOMPAS - Jumat, 27 Dec 1996 Halaman: 18 Penulis: MUL/BOY Ukuran: 6391
AKAN LAHIR KOTA BARU DI MAJA
Mengapa mereka mencari kerja jauh dari tempat mereka menguburkan
orangtuanya? Mengapa mereka lari dari desa, di mana mereka disunat?
Mengapa mereka lebih suka mencari keteduhan pohon yang tumbuh di sana,
daripada naungan hutan-hutan kita? Banyak orang yang sebenarnya anak
kita, tapi meninggalkan Lebak........ Mengapa pohon bertanya: di mana
orang yang kulihat bermain sebagai anak kecil di kakiku dulu?
* * *

EDUARD Douwes Dekker alias Multatuli, sudah merisaukan kondisi
Kabupaten Lebak saat dia datang ke daerah tetangga Kabupaten Tangerang
sebelah barat itu. Kutipan di atas adalah penggalan pidatonya, sehari
sesudah dia datang di Rangkasbitung -ibu kota Kabupaten Lebak- dalam
kedudukannya sebagai Asisten Residen Lebak tahun 1856. Kutipan
ucapannya tersebut dimuat dalam bukunya yang terkenal, "Max Havelaar".
Kerisauan Multatuli terhadap kondisi Lebak, lebih disebabkan
kurangnya perhatian warga setempat memanfaatkan potensi daerah itu.
Pada zaman itu warga Lebak sudah berpencaran mencari nafkah ke daerah
lain. Lebak dipandang sebelah mata. Dan mungkin karena kondisi seperti
itulah, yang membuat daerah ini sampai sekarang merupakan kabupaten
paling miskin di Jawa Barat.
Namun itu dulu, hampir satu setengah abad lalu. Kini Lebak sudah
mulai diincar orang, untuk menanamkan modalnya di daerah itu. Kalangan
pengusaha mulai memasuki Lebak, dan mencoba membangun kawasan miskin
itu. Setidaknya kini belasan developer perumahan telah menanamkan
uangnya untuk menuai keuntungan di Kecamatan Maja, salah satu
kecamatan di Kabupaten Lebak di bagian paling timur.
Lantas mengapa Maja yang dipilih? Bukankah lokasi kawasan itu
jauh dari pangsa pasar terbesar perumahan, yakni pekerja Jakarta dan
Tangerang. Lokasi Maja pun cukup jauh dari zona industri Serang yang
terdekat?
Dari Jakarta ke Maja misalnya, harus ditempuh melalui jalan darat
dengan jarak sekitar 70 kilometer. Jalan tercepat saat ini hanya bisa
ditempuh dengan menggunakan kereta api dari Stasiun Maja, sekitar satu
setengah jam.
Belasan kompleks perumahan akan dibangun di kecamatan Maja yang
juga termasuk kategori miskin, seperti terlihat pada kehadiran 18 desa
kategori desa tertinggal (IDT/Inpres Desa Tertinggal). Dari 21 desa di
kecamatan itu, hanya tiga desa tidak termasuk dalam kategori desa IDT.
Para pengembang kawasan perumahan itu, akan mencoba mengubah daerah
Maja menjadi kawasan permukiman baru. Kantor BPN (Badan Pertanahan
Nasional) Lebak, sudah memberikan izin lokasi kepada 16 developer pada
lahan seluas 4.785 ha.
Kehadiran belasan pengusaha swasta itu sendiri dikhawatirkan akan
menggusur warga setempat dari daerahnya. Kehadiran ratusan ribu
perumahan yang akan dibangun, dan sekitar satu juta penghuninya
dikhawatirkan akan menyisihkan warga setempat makin ke pinggiran.
Paling tidak hal itu sudah mulai terjadi, sejak pembebasan lahan
mulai dilakukan tahun 1994. Yang sudah dan mulai tergusur adalah sumber
hidup warga berupa kebun, ladang, dan sawah warga.
Di atas lahan kawasan itu akan berdiri kompleks perumahan Bukit
Sangiang Indah, yang dibangun PT Graha Bina Sentosa, di atas lahan
160 ha.
Pembebasan lahan sawah itu sendiri, dibantah oleh Mujiono, Mantri
Polisi Kecamatan Maja. Menurut dia, tidak ada sawah yang dibebaskan
untuk pembangunan kawasan perumahan. Hanya tanah kering, kebun, tanah
telantar, dan bekas areal perkebunan karet yang akan dijadikan lahan
perumahan.
Hal serupa ditegaskan pula oleh Ir Aan Kusdinar, Kepala Seksi Tata
Ruang Bappeda (Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah) Kabupaten
Lebak. Dia mengatakan, tidak ada sawah yang dibebaskan. Lagi pula,
katanya, sawah di Kecamatan Maja tidak ada yang beririgasi teknis.
Semuanya sawah tadah hujan. Dipastikan pula, tidak akan ada permukiman
penduduk yang digusur untuk pembangunan kompleks-kompleks perumahan.
* * *

DI kawasan itu akan dibangun sekitar 250.000 rumah berbagai tipe.
Mulai dari rumah sangat sederhana (RSS), rumah sederhana (RS), sampai
rumah menengah dan mewah. Kalau rumah-rumah itu laku dijual,
diperkirakan lebih dari satu juta jiwa warga baru Maja akan
menempatinya.
Kompleks perumahan Maja akan dibangun oleh 16 pengembang. Lokasinya
tersebar di 16 desa dari 21 desa yang ada di kecamatan itu. Perumahan-
perumahan yang akan dibangun di Maja secara terpadu di antara 16
developer, dan terpadu pula dengan kompleks perumahan di kabupaten
tetangganya, Kabupaten Bogor, Tangerang, dan Serang.
Ke-16 developer yang akan membangun perumahan di Maja, telah
mengantungi izin prinsip dari Pemda Kabupaten Lebak dan izin lokasi
dari BPN setempat. Mereka adalah PT Jabaragro Nusatama (seluas 400
ha), PT Agrindo Adyapratama (800 ha), PT Armidian Karyatama (250 ha),
PT Grahabina Sentosa (200 ha), PT Cubama Karya Griya (200 ha), PT
Bambu Kuning Metropolitan (75 ha), PT Persada Internusa (500 ha),
PT Equator Kartika (500 ha).
Developer lainnya, PT Bukit Nusa Indah (250 ha), PT Majasani Pratama
(200 ha), Perum Perumnas (500 ha), PT Darmaraya Properindo (200 ha),
Bambu Kuning Mitra Serasi (200 ha), dan Putra Surya Perkasa (700 ha).
Dan developer paling buncit PT Caso Utama (50 ha), meski sampai saat
in baru izin prinsip yang telah dikeluarkan Pemda Lebak, tetapi izin
lokasinya belum.
Sementara desa-desa yang sebagian lahannya sudah dibebaskan dan
dikuasai para developer, antara lain Desa Maja, Sangiang, Mayak,
Padasuka, Pasirkembang, Cilangkap, Cilayung, Ciburuy, Cipining,
Cidadap, Pasirkecapi, Mekarsari, Cibeureum, Tanjungsari, Curugbadak,
dan Curugbitung. Hanya lima desa tidak dimasuki developer yakni Desa
Guradog, Sekarwangi, Candi, Sukamulia, dan Binong.
Lahan seluas hampir 5.000 yang dialokasikan untuk perumahan, hampir
separuh dari total luas wilayah Kecamatan Maja yang sekitar 13.236 ha.
Jumlah warganya tercatat 56.567 jiwa (1.322 KK). Dengan kepadatan
penduduknya hanya 17 jiwa per kilometer.
Di kawasan itu nantinya akan dibangun 250.000 unit rumah berbagai
tipe, dari sangat sederhana sampai rumah mewah. Kalau rumah laku,
diperkirakan sekitar 1 juta jiwa warga baru akan datang menempati
Maja. (mul/boy)

Mendung Menggantung di Langit Maja

KOMPAS - Jumat, 27 Dec 1996 Halaman: 18 Penulis: MUL/BOY Ukuran: 6273
MENDUNG MENGGANTUNG DI LANGIT MAJA

NENEK Min mengaku menyesal. Lahan sawahnya seluas tiga petak
terpaksa dijual kepada salah satu developer yang akan membangun
perumahan di Kecamatan Maja. Sebelum dilepas hampir tiap hari dia
didatangi calo, minta tiga petak sawahnya seluas kurang dari 2.000 m2
itu dijual saja.
Karena tidak tahan, nenek berusia sekitar 80 tahun yang tinggal
bersama seorang anak dan menantunya, akhirnya melepas sawahnya. Uang
hasil penjualan sawah, sekitar Rp 1,4 juta, sudah habis untuk berbagai
keperluan.
Dia menyesal, karena tak ada lagi miliknya yang berharga. Kini
sawahnya sudah diuruk untuk pembangunan kompleks perumahan. Selama
puluhan tahun sawah itu menjadi sumber nafkah utama. Bisa ditanami
dua kali dalam setahun.
Tetapi, nenek Min tidaklah sendirian. Karena masih puluhan warga
Tanjungsari lainnya menuturkan penyesalan sama. Sawah dan kebun dibeli
developer yang akan membangun perumahan. Sebagian hingga kini memang
masih bisa menikmati uang hasil penjualan, karena masih ada yang
tersisa. Tetapi launnya, sudah ludes. Dan celakanya, uang ludes mereka
belum juga mendapatkan pekerjaan.
Dan untuk Kecamatan Maja, keadaan sama dialami ribuan warga.
Seperti juga warga Tanjungsari, sebagian warga 15 desa lain di Maja
telah menjual harta mereka paling berharga, tanah. Tidak ada data pasti,
berapa banyak warga yang kehilangan lahannya yang telah dibebaskan
atau mau dibebaskan developer perumahan.
Setalah tanah dijual, memang tampak perubahan. Di Tanjungsari,
Sangiang, atau Cipining dan desa lain yang terkena proyek perumahan,
rumah-rumah warga sudah berubah bentuk. Rumah bergaya kuno, kusen
rumah yang kusam karena sudah lama tidak dicat, atau lantai yang masih
tanah, diubah dan perbaiki dengan uang hasil penjualan tanah.
"Hampir semua warga sini dan Tanjungsari yang menjual tanahnya,
dihabiskan untuk memperbaiki rumah. Terutama warga yang tanahnya tidak
terlalu luas," kata H Ajid (50), warga Desa Sangiang yang bertetangga
dengan Tanjungsari.
Sementara bagi warga yang menjual tanah cukup luas, lebih dari
satu hektar, selain untuk memperbaiki atau membangun rumah, sebagian
uangnya juga dibelikan kendaraan atau untuk modal berdagang. Semisal
Hasimin (45), warga Desa Padasuka misalnya, memilih berdagang kamping
dan kerbau.
Ayah tiga anak itu memperoleh modal dari hasil penjualan satu hektar
tanahnya. Sekarang dia memiliki dua ekor kerbau dan 10 ekor kambing.
Di luar itu, dia tak mempunyai kesibukan lain yang bisa menghasilkan.
Beda dibanding ketika masih menjadi petani dulu.
Murdi (50) warga Cipining, lain lagi. Meski lahan sawahnya sudah
dijual kepada developer, sampai saat ini dia masih bisa bercocok tanam
di situ. Entah sampai kapan. "Kalau sudah tidak boleh lagi, yah, baru
kita pikirkan mau kerja apa lagi", katanya.
* * *

BOLEH dibilang, sebagian besar petani itu kini menjadi
pengangguran. Dan dalam keadaan menganggur itu, mereka berharap bisa
bekerja di proyek pembangunan perumahan itu. Menjadi buruh bangunan,
bila proyek sudah dimulai. Tetapi, proyek belum juga dimulai. Dan
keadaan itu sangat mereka sesalkan. "Coba kalau yang dibangun pabrik,
pasti banyak penduduk daerah ini bisa menjadi pekerjanya," kata Ny
Mamari (35), warga Tanjungsari.
Begitupun, warga tetap berharap poyek perumahan di Maja, bisa
mendongkrak hidup mereka. Andai kata tidak diterima sebagai buruh,
mereka berharap kehadiran warga baru perumahan itu bisa melahirkan
lapanagan kerja.
Catatan menyebutkan, total luas izin lokasi di Maja, 4.785 ha.
Lebih dari 60 persen di antaranya telah dibebaskan dari pemiliknya.
Tanah warga dibebaskan sejak 1994 dengan harga sekitar Rp 700/m2.
Dan pada 1996 ini dengan harga antara Rp 1.300-Rp 1.500/m2.
Menurut Mujiono, Mantri Polisi Kecamatan Maja, pembebasan lahan
di 16 desa tidak mengambil lahan sawah. Lagi pula sawah di Maja tidak
ada yang beririgasi teknis. Sementara lima desa lainnya, tetap akan
dipertahankan sebagai penghasil rambutan tangkue, khas Lebak.
* * *

MARAKNYA pembebasan lahan di Maja, ternyata mengundang pula
spekulan tanah datang ke daerah itu. Orang-orang berduit dari kota,
ikut menekan harga.
Mereka bekerja sama dengan calo setempat. Salah seorang di antaranya,
Sahlan (45) warga Cilangkap, menuturkan bahwa dia hanya mendapatkan
komisi. Uang itu diterimanya sebagai upah atas jasa yang diberikannya,
mencari tanah.
Menurut warga, seorang spekulan tanah asal Jakarta saat ini sudah
menguasai lebih dari 1.000 ha. Mereka tidak tahu untuk apa tanah itu
"diborong".
Menurut Ir Aan Kusdinar, Kepala Seksi Tata Ruang Bappeda Kabupaten
Lebak, tidak semua lahan yang dibebaskan developer adalah milik warga.
Sebagian merupakan tanah-tanah negara, di antaranya bekas perkebunan
karet yang telah habis HGU (hak guna usaha)-nya. Lahan itu dipergunakan
oleh dua developer yakni PT Argrindo Adyapratama dan PT Jabaragro
Nusatama, yang masing-masing memegang izin lokasi seluas 800 ha dan
400 ha.
Luas lahan bekas perkebunan yang turut dibebaskan itu, katanya,
sekitar 60 persen dari total luas izin lokasi yang dipegang dua
developer tersebut. "Sebagian lahan lain yang dibebaskan, juga
merupakan lahan tidak produktif," ujar Aan, didampingi Kabag Humas
Pemda Lebak, Tony Fathony BA.
Mendung tengah menggantung di Maja. Petani menganggur. Sementara
di depan mata lahan-lahan pertanian itu masih dibiarkan oleh pemilik
barusang developer perumahan-kosong. (mul/boy)


Foto:
Kompas/boy
MEMBURUH - Sebagian besar petani Maja kini menganggur setelah lahan
usaha dijual kepada developer perumahan. Ada yang beruntung menjadi
pedagang kerbau dan kambing. Ada juga yang menjadi buruh bangunan
atau mengerjakan apa saja asalkan bisa mendapat Rp 1.000/hari. Dua
petani tengah melintas di lahan kosong yang kini dikuasai developer.
Foto:
Kompas/boy
STASIUN MAJA - Angkutan kereta api adalah satu-satunya andalan warga
Maja ke Jakarta. Kesederhanaan stasiun Maja tidak mengurangi pentingnya
angkutan kereta api bagi warga.