KOMPAS - Minggu, 18 Dec 2005 Halaman: 1 Penulis: Mulyadi, Agus; Eko, Prasetyo Ukuran: 7823
Pencari Sagu
BERJUANG, CARI MAKAN DI HUTAN
Oleh Agus Mulyadi dan Prasetyo Eko
Baru beberapa menit memasuki pepohonan sagu di bagian luar hutan
itu, punggung dan belakang kepala Eganus (30) ditempeli puluhan ekor
nyamuk. Ratusan ekor nyamuk lainnya terbang mengikuti dan merubung
laki-laki Suku Asmat itu. Kami berdua di belakangnya, tidak luput
dari serbuan serangga berbahaya itu.
Meskipun sebelum masuk ke hutan, Jumat (16/12) pagi itu, badan
tertutup rapat jaket dan topi, namun tetap gigitan nyamuk terasa di
bagian leher yang sedikit terbuka. Rasanya menusuk kulit kendati tak
langsung gatal.
"Nyamuk di dalam hutan seperti ini memang sangat banyak dan
ganas. Ini yang selalu mengganggu kami. Tapi gangguan ini tetap kami
hadapi karena keluarga di rumah harus makan. Kami harus mencari sagu
dan membawa pulang ke rumah," kata Eganus.
Gangguan ternyata tidak hanya datang dari serangan nyamuk karena
tiba-tiba ada sesuatu yang menempel di lengan tangan. Segera tangan
yang satunya meraba dan ternyata seekor lintah menempel di situ.
Sebelum sempat menggembung, secepatnya pula binatang pengisap darah
itu harus dibuang.
Nyamuk dan lintah hanyalah dua dari beberapa gangguan binatang
yang muncul ketika warga Suku Asmat dan Suku Kamoro masuk hutan
mencari sagu. Untuk mencari pohon sagu, warga harus berjalan cukup
jauh dari permukiman karena pohon-pohon sagu di dekat permukiman
semakin jarang. Duri-duri semak membuat kulit tergores-gores hingga
perih.
"Kami sekarang harus jalan hampir dua jam ke dalam hutan. Kalau
beberapa tahun lalu di sekitar kampung masih banyak pohon sagu,
sekarang sudah harus jauh masuk hutan," kata Yuliana (35), perempuan
warga Hiripau. Para perempuan Suku Kamoro yang tinggal di Desa
Hiripau biasa jalan berombongan bersama ibu rumah tangga lain ke
hutan mencari sagu.
Bahan baku makanan pokok masyarakat dua suku yang tinggal
berdampingan di Desa Hiripau dan Desa Pomako di Kecamatan Mapuru
Jaya, Kabupaten Mimika, Papua, itu hanya terdapat di hutan, baik di
bagian dalam maupun di bagian luar.
Makanan sagu didapat dari ekstrak tepung sagu yang diambil dari
empulur pohon sagu (Metroxylon rumphii mart) dari famili palmae yang
tumbuh alami maupun dibudidayakan.
Tumbuhan yang hidup secara alami di dalam hutan itu menjadi milik
bersama. Masyarakat yang tinggal di permukiman di luar hutan bisa
bebas menebang, membelah, dan mengambil sari sagu untuk dibawa pulang
ke rumah masing-masing.
"Sagu di dalam hutan tidak ada pemiliknya. Kami bisa
mengambilnya untuk makan, dan tidak pernah ribut, misalnya karena
saling berebut pohon sagu," kata Agusta (45), ibu rumah tangga Suku
Asmat di Hiripau.
Ibu rumah tangga
Markus (60), penduduk Suku Asmat lain di Hiripau, menyebutkan,
pohon sagu masih banyak di dalam hutan. Namun, saat ini pohon sagu di
bagian luar hutan yang dekat dengan kampung semakin berkurang.
Pencari sagu, yang kebanyakan ibu rumah tangga, mencari lebih ke
bagian dalam hutan lagi.
Mencari sagu, yang disebut amos dalam bahasa Asmat atau ameta
dalam bahasa Kamoro, kebanyakan dilakukan para perempuan atau ibu-ibu
rumah tangga. Pekerjaan mencari sagu mereka sebut sebagai memangkur.
Di dalam hutan mereka mencari pohon-pohon sagu yang dianggap layak,
yaitu pohon yang di dalamnya diperkirakan terdapat sari sagu,
biasanya berusia dua hingga tiga tahun.
Jika sudah menemukan pohon sagu, harus diketahui dulu apakah
pohon itu cukup mengandung ekstrak sagu. Untuk mengetahuinya, pencari
sagu melubangi batang pohon sagu menggunakan kapak.
Dari lubang dan bekas pohon di mata kapak, warga bisa mengetahui
apakah pohon itu bersagu atau tidak. Jika dirasa cukup mengandung
sagu, pohon itu langsung ditebang.
Proses selanjutnya, batang pohon sagu dengan diameter sekitar 40
sentimeter itu dibersihkan, termasuk dari pelepah- pelepah daunnya.
Lalu batang pohon dibelah menggunakan kapak. Proses penebangan,
pembersihan, hingga pembelahan pohon sagu berlangsung sekitar satu
jam.
Ketika batang sagu sudah terbelah, sari sagu dari bagian tengah
batang pohon pun diambil, dikorek menggunakan ames atau pangkur, alat
dari kayu khusus untuk mengorek sagu. "Selanjutnya, sagu yang sudah
diambil dari dalam batang pohon diperas di pelepah daun ini," ujar
Eganus.
Memeras sagu untuk diambil sarinya adalah pekerjaan selanjutnya.
Sari berupa cairan berwarna putih itu ditampung untuk diendapkan. Di
tempat yang terbuat dari batang kayu sagu itulah sari pati sagu
diendapkan berjam-jam. Setelah sari sagu mengendap, air dibuang.
"Jam lima nanti, sari pati sagu yang sudah diendapkan dan
dibuang airnya, dibawa pulang ke rumah," ujar Eganus. Satu batang
pohon sagu yang bagus bisamenghasilkan tiga tumang atau lebih.
Endapan sagu itu kemudian ditampung dalam wadah yang dibuat dari
daun sagu yang disebut tumang. Dengan menembus lebatnya pepohonan
serta gangguan segala macam binatang, terutama nyamuk, lintah, dan
duri-duri semak, ibu-ibu rumah tangga atau laki-laki pencari sagu,
pulang sore hari sekitar pukul 16.00-17.00.
Beban para perempuan pencari sagu sangat berat. Berat satu tumang
berisi sari pati sagu, 40 kilogram hingga 50 kilogram, sehingga ibu-
ibu pun terbungkuk-bungkuk menggendongnya sepanjang perjalanan.
Dengan beban seberat itu di punggung, mereka harus berjalan
menembus lebatnya semak belukar. Di rumah, sagu disimpan di bagian
belakang yang biasa digunakan untuk dapur.
"Sari pati sagu dari satu tumang dapat untuk makan keluarga
kecil selama tiga minggu sampai satu bulan. Kami makan tiga kali
sehari. Sagu masih menjadi makanan pokok kami, meskipun kadang-kadang
kami makan nasi," kata Markus, warga pendatang pindahan dari
kelompok masyarakat Suku Asmat di Merauke sejak tahun 1999. Makanan
paling terkenal dari sagu di Papua adalah pepeda.
Sisa pokok sagu yang sudah diambil sarinya itu dibiarkan
membusuk. Satu bulan kemudian mereka mendatangi lagi pokok sagu yang
sudah membusuk.
"Kami dapat makanan lezat dari batang pohon sagu yang sudah
busuk itu, ulat sagu sangat lezat," kata Markus.
Ulat sagu biasa dibakar maupun digunakan untuk lauk teman makan
sagu, dan merupakan sumber protein penting.
Bagi sebagian keluarga, mencari sagu bukan hanya untuk makanan
pokok. Mereka pun mencari untuk dijual. Salah satunya ke pasar di
Timika, ibu kota Kabupaten Mimika. Satu tumang sagu, biasanya dijual
Rp 40.000 hingga Rp 70.000 tergantung berat tumang.
Potensi sagu di Papua sebenarnya sangat besar. Hutan sagu di
pulau paling timur Indonesia ini disebut yang terluas. Data Kompas
menyebutkan, luas lahan sagu di Papua sekitar 771.716 hektar, atau 85
persen dari luas hutan sagu nasional.
Hampir seluruh wilayah Papua, mulai dari pesisir hingga
pegunungan seperti Waropen Bawah, Sarmi, Asmat, Merauke, Sorong,
Jayapura, Manokwari, Bintuni, dan Inawatan, terdapat hutan sagu.
Sayangnya, pembabatan hutan di sejumlah kawasan menyebabkan
semakin berkurangnya hutan sagu. Upaya perlindungan sagu dilakukan
sejumlah daerah di Papua. Kabupaten Jayapura, misalnya, punya
peraturan daerah yang mengatur perlindungan hutan sagu.
Perda Nomor 3 Tahun 2000 tentang Pelestarian Hutan Sagu itu, di
antaranya larangan menebang pohon sagu dengan tujuan mendirikan
bangunan di lokasi tersebut.
Selain itu, sagu sebagai makanan pokok kini semakin tersingkir
dan dilupakan. Sebagian beralih makan nasi yang tidak tersedia secara
melimpah di Papua, seperti halnya sagu. Sagu seharusnya bisa menjadi
stok makanan yang jumlahnya melimpah di Papua, hingga tidak perlu ada
kelaparan seperti di Yahukimo.
Tampilkan postingan dengan label papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label papua. Tampilkan semua postingan
Rabu, 14 November 2007
Mencari Kehidupan di Dunia Luar
KOMPAS - Sabtu, 17 Dec 2005 Halaman: 37 Penulis: Mulyadi, Agus; Eko, Prasetyo Ukuran: 7067 Foto: 1
MENCARI KEHIDUPAN DI "DUNIA LUAR"
Oleh Prasetyo Eko dan Agus Mulyadi
"Untuk makan, penduduk desa ini mendulang emas di Sungai Kapur
atau menanam apa saja di kebun. Sebagian dari kami disuruh turun
gunung sejak tahun 1982 dan tinggal di sini," ujar Jeckman Waker,
Kepala Suku Dani Lani, di Desa Kwamki Lama, ketika ditemui di
rumahnya pada hari Selasa (13/12) siang lalu.
Kwamki Lama adalah satu desa di pinggiran Timika, ibu kota
Kabupaten Mimika, Papua. Desa yang berdekatan dengan Bandar Udara
Moses Kilangin, Timika, tersebut merupakan desa tempat bermukimnya
ratusan keluarga dari tujuh suku di Papua.
Jeckman menyebutkan, di Kwamki Lama tinggal penduduk yang berasal
dari suku-suku DaniLani, Amungme, Kamoro, Moni, Ekari, Ndagua, dan
Damal. Mereka warga yang turun dari kawasan pegunungan di
pedalaman. "Ketika pertama kali turun gunung, kami mengalami
kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan daerah baru ini," kata
Jeckman.
Masalah terberat yang dialami Jeckman dan penduduk lain dari Suku
Dani Lani adalah cuaca. Penduduk yang biasa hidup di daerah dingin
pegunungan di daerah Puncak Jaya tersebut, ketika itu harus hidup di
daerah dengan cuaca panas di Timika yang berada tidak jauh dari
pantai.
Mereka waktu itu sangat takut dengan penyakit malaria yang banyak
menimbulkan korban. "Kami juga tidak tahan menghadapi malaria yang
menyerang. Ketika itu banyak warga yang jadi korban terserang
malaria," ucap Jeckman mengenang masa-masa pertama kali harus hidup
di "dunia luar".
Kepindahan itu tentu saja membawa perubahan besar dalam kehidupan
Jeckman dan penduduk lain dari sukunya, serta suku-suku lain yang
bermukim di Kwamki Lama.
Di tempat baru, mereka pun harus mencari penghidupan baru,
mencari sumber nafkah baru untuk hidup keluarganya. Terjadi perubahan
pola hidup warga yangsebelumnya berada di pedalaman, kini warga harus
hidup dekat dengan kawasan perkotaan.
Hidup berdekatan dengan kawasan perkotaan yang masyarakatnya
lebih heterogen, warga harus menyesuaikan diri. Interaksi dengan para
pendatang sedikit banyak berpengaruh terhadap pola hidup warga.
Pengaruh baik maupun buruk dari interaksi tersebut juga terjadi pada
warga.
Jeckman dan penduduk lain pindah ke daerah baru itu karena
diharuskan pindah dari daerah asal yang berdekatan dengan pusat
penambangan emas Tembagapura tersebut. Di daerah baru, Jekcman dan
ratusan keluarga lain diberi rumah dan lahan untuk bercocok tanam.
Warga harus menanam berbagai macam bahan makan. "Saya dan
penduduk lain umumnya menanam umbi-umbian untuk makan, seperti
singkong dan keladi," kata Jekcman.
Kini sumber penghidupan warga pun lebih bervariasi, tidak melulu
berasal dari lahan pertanian. Belakangan, sejak sekitar tahun 1998
lalu, sumber nafkah baru didapat penduduk Kwamki Lama. Mereka ramai-
ramai terjun ke Sungai Kapur untuk mendulang emas.
Di sungai yang menjadi tempat pembuangan limbah dari penambangan
emas di Tembagapura milik PT Freeport Indonesia itu, butiran-butiran
emas didapat, dan cukup mendulangnya dengan peralatan sederhana,
seperti penggorengan untuk melimbang pasir dan lumpur.
Sejak hidup di daerah baru, Jeckman dan penduduk lain harus
mengubah pola hidup. Hal itu tentunya tidak bisa dilakukan karena di
kawasan perkotaan yang sudah jauh dari hutan.
Mereka tidak lagi makan dari tumbuhan yang hidup di hutan. Mereka
harus mengolah lahan pertanian agar bisa makan. Menurut Jeckman,
perubahan itu tidak mudah hingga waktu pertama kali turun gunung
warga mengalami kesulitan untuk bertahan.
Selama 27 tahun hidup di daerah baru, terjadi berbagai perubahan.
Perubahan itu tampak salah satunya dari tempat tinggal mereka. Rumah-
rumah berdinding tembok menjadi tempat tinggal yang dianggap lebih
layak daripada gubuk- gubuk kayu kecil di hutan pegunungan.
Mata pencarian lain
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Mimika, Maimun Madia,
mengatakan, perubahan pola hidup hal yang wajar terjadi pada warga
yang semula bermukim di pedalaman kemudian pindah ke kota dan
berinteraksi dengan warga lain, seperti para pendatang di Timika.
"Seperti sejumlah suku yang dipindah dari pegunungan di
pedalaman Mimika ke Kwamki Lama, mereka sekarang mengenal mata
pencarian lain. Jika sebelumnya mencari makan tergantung dari hasil
hutan, kini mereka mempunyai mata pencarian lain, seperti menjadi
penambang emas," katanya.
Terjadi perubahan seperti pola makan, mata pencarian, dan
perilaku warga. Namun, tidak seluruh segi kehidupan warga berubah.
Pada beberapa suku, sebagian masih mempertahankan budaya asli
meskipun hidup dan tinggal dekat perkotaan.
Misalnya, Suku Kamaro di Desa Hipuri, yang terletak sekitar 20
kilometer di selatan Timika ke arah pesisir pantai. Penduduk pribumi,
terutama perempuan, masih mencari sagu secara beramai-ramai ke hutan.
Mereka pergi ke hutan pagi-pagi, sekitar pukul 08.00, secara
berombongan untuk mencari pohon sagu. Lalu mereka langsung
mengolahnya menjadisagu, dan sore hari, sekitar pukul 16.00, pulang
membawa sagu dengan cara digendong di punggung, kembali ke desa.
Sagu tersebut ditempatkan di wadah yang terbuat dari daun sagu.
Cara-cara tradisional masih mereka pertahankan untuk membuat sagu
tersebut.
Jus, seorang ibu rumah tangga, saat ditemui sedang dalam
perjalanan pulang mencari sagu di hutan, Kamis (15/12) petang,
menuturkan, mencari sagu sudah merupakan kebiasaannya sejak
kecil. "Sudah sejak lama saya mencari sagu untuk makan. Sehari kami
mencari sagu di hutan, berangkat pagi terus pulang bawa sagu untuk
makan," katanya sambil masih menggendong sagu di punggungnya.
Sementara itu, Suku Asmat yang tinggal di perkampungan di selatan
Timika, juga masih bertahan mencari ikan sebagai penghidupan utama.
Itu, misalnya, dijalani sekitar 500 keluarga Suku Asmat yang tinggal
di rumah- rumah panggung sederhana di Desa Pamako, sekitar 30
kilometer dari Timika.
Menurut Linus, salah seorang warga, mereka merupakan warga
pendatang di tempat tersebut. Sebelumnya, komunitas Asmat tersebut
berasal dari daerah Merauke, kemudian pindah dan menetap di sekitar
pesisir Timika, sekitar tahun 1996. Mereka pindah untuk mencari
tempat penghidupan yang lebih baik.
Mereka mencari ikan dengan menggunakan perahu dayung. Berbagai
macam ikan mereka tangkap, seperti ikan kakap. Ikan tersebut sebagian
dijual, sebagian mereka makan sendiri sehari-hari. Warga Asmat ini,
menurut Linus, masih membawa keahlian lama sebagai pematung. "Saya
masih suka membuat patung-patung khas Asmat kecil, dan biasa saya
jual ke Timika, di dekat bandara," ujarnya.
Foto:1
Kompas/Arbain Rambey
Kelaparan yang melanda sebagian penduduk lereng pegunungan
Jayawijaya, Papua, selain disebabkan serangan hama juga disebabkan
sulitnya medan. Mereka umumnya tinggal di tempat-tempat yang
ketinggiannya di atas 1.800 meter di atas permukaan laut.
MENCARI KEHIDUPAN DI "DUNIA LUAR"
Oleh Prasetyo Eko dan Agus Mulyadi
"Untuk makan, penduduk desa ini mendulang emas di Sungai Kapur
atau menanam apa saja di kebun. Sebagian dari kami disuruh turun
gunung sejak tahun 1982 dan tinggal di sini," ujar Jeckman Waker,
Kepala Suku Dani Lani, di Desa Kwamki Lama, ketika ditemui di
rumahnya pada hari Selasa (13/12) siang lalu.
Kwamki Lama adalah satu desa di pinggiran Timika, ibu kota
Kabupaten Mimika, Papua. Desa yang berdekatan dengan Bandar Udara
Moses Kilangin, Timika, tersebut merupakan desa tempat bermukimnya
ratusan keluarga dari tujuh suku di Papua.
Jeckman menyebutkan, di Kwamki Lama tinggal penduduk yang berasal
dari suku-suku DaniLani, Amungme, Kamoro, Moni, Ekari, Ndagua, dan
Damal. Mereka warga yang turun dari kawasan pegunungan di
pedalaman. "Ketika pertama kali turun gunung, kami mengalami
kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan daerah baru ini," kata
Jeckman.
Masalah terberat yang dialami Jeckman dan penduduk lain dari Suku
Dani Lani adalah cuaca. Penduduk yang biasa hidup di daerah dingin
pegunungan di daerah Puncak Jaya tersebut, ketika itu harus hidup di
daerah dengan cuaca panas di Timika yang berada tidak jauh dari
pantai.
Mereka waktu itu sangat takut dengan penyakit malaria yang banyak
menimbulkan korban. "Kami juga tidak tahan menghadapi malaria yang
menyerang. Ketika itu banyak warga yang jadi korban terserang
malaria," ucap Jeckman mengenang masa-masa pertama kali harus hidup
di "dunia luar".
Kepindahan itu tentu saja membawa perubahan besar dalam kehidupan
Jeckman dan penduduk lain dari sukunya, serta suku-suku lain yang
bermukim di Kwamki Lama.
Di tempat baru, mereka pun harus mencari penghidupan baru,
mencari sumber nafkah baru untuk hidup keluarganya. Terjadi perubahan
pola hidup warga yangsebelumnya berada di pedalaman, kini warga harus
hidup dekat dengan kawasan perkotaan.
Hidup berdekatan dengan kawasan perkotaan yang masyarakatnya
lebih heterogen, warga harus menyesuaikan diri. Interaksi dengan para
pendatang sedikit banyak berpengaruh terhadap pola hidup warga.
Pengaruh baik maupun buruk dari interaksi tersebut juga terjadi pada
warga.
Jeckman dan penduduk lain pindah ke daerah baru itu karena
diharuskan pindah dari daerah asal yang berdekatan dengan pusat
penambangan emas Tembagapura tersebut. Di daerah baru, Jekcman dan
ratusan keluarga lain diberi rumah dan lahan untuk bercocok tanam.
Warga harus menanam berbagai macam bahan makan. "Saya dan
penduduk lain umumnya menanam umbi-umbian untuk makan, seperti
singkong dan keladi," kata Jekcman.
Kini sumber penghidupan warga pun lebih bervariasi, tidak melulu
berasal dari lahan pertanian. Belakangan, sejak sekitar tahun 1998
lalu, sumber nafkah baru didapat penduduk Kwamki Lama. Mereka ramai-
ramai terjun ke Sungai Kapur untuk mendulang emas.
Di sungai yang menjadi tempat pembuangan limbah dari penambangan
emas di Tembagapura milik PT Freeport Indonesia itu, butiran-butiran
emas didapat, dan cukup mendulangnya dengan peralatan sederhana,
seperti penggorengan untuk melimbang pasir dan lumpur.
Sejak hidup di daerah baru, Jeckman dan penduduk lain harus
mengubah pola hidup. Hal itu tentunya tidak bisa dilakukan karena di
kawasan perkotaan yang sudah jauh dari hutan.
Mereka tidak lagi makan dari tumbuhan yang hidup di hutan. Mereka
harus mengolah lahan pertanian agar bisa makan. Menurut Jeckman,
perubahan itu tidak mudah hingga waktu pertama kali turun gunung
warga mengalami kesulitan untuk bertahan.
Selama 27 tahun hidup di daerah baru, terjadi berbagai perubahan.
Perubahan itu tampak salah satunya dari tempat tinggal mereka. Rumah-
rumah berdinding tembok menjadi tempat tinggal yang dianggap lebih
layak daripada gubuk- gubuk kayu kecil di hutan pegunungan.
Mata pencarian lain
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Mimika, Maimun Madia,
mengatakan, perubahan pola hidup hal yang wajar terjadi pada warga
yang semula bermukim di pedalaman kemudian pindah ke kota dan
berinteraksi dengan warga lain, seperti para pendatang di Timika.
"Seperti sejumlah suku yang dipindah dari pegunungan di
pedalaman Mimika ke Kwamki Lama, mereka sekarang mengenal mata
pencarian lain. Jika sebelumnya mencari makan tergantung dari hasil
hutan, kini mereka mempunyai mata pencarian lain, seperti menjadi
penambang emas," katanya.
Terjadi perubahan seperti pola makan, mata pencarian, dan
perilaku warga. Namun, tidak seluruh segi kehidupan warga berubah.
Pada beberapa suku, sebagian masih mempertahankan budaya asli
meskipun hidup dan tinggal dekat perkotaan.
Misalnya, Suku Kamaro di Desa Hipuri, yang terletak sekitar 20
kilometer di selatan Timika ke arah pesisir pantai. Penduduk pribumi,
terutama perempuan, masih mencari sagu secara beramai-ramai ke hutan.
Mereka pergi ke hutan pagi-pagi, sekitar pukul 08.00, secara
berombongan untuk mencari pohon sagu. Lalu mereka langsung
mengolahnya menjadisagu, dan sore hari, sekitar pukul 16.00, pulang
membawa sagu dengan cara digendong di punggung, kembali ke desa.
Sagu tersebut ditempatkan di wadah yang terbuat dari daun sagu.
Cara-cara tradisional masih mereka pertahankan untuk membuat sagu
tersebut.
Jus, seorang ibu rumah tangga, saat ditemui sedang dalam
perjalanan pulang mencari sagu di hutan, Kamis (15/12) petang,
menuturkan, mencari sagu sudah merupakan kebiasaannya sejak
kecil. "Sudah sejak lama saya mencari sagu untuk makan. Sehari kami
mencari sagu di hutan, berangkat pagi terus pulang bawa sagu untuk
makan," katanya sambil masih menggendong sagu di punggungnya.
Sementara itu, Suku Asmat yang tinggal di perkampungan di selatan
Timika, juga masih bertahan mencari ikan sebagai penghidupan utama.
Itu, misalnya, dijalani sekitar 500 keluarga Suku Asmat yang tinggal
di rumah- rumah panggung sederhana di Desa Pamako, sekitar 30
kilometer dari Timika.
Menurut Linus, salah seorang warga, mereka merupakan warga
pendatang di tempat tersebut. Sebelumnya, komunitas Asmat tersebut
berasal dari daerah Merauke, kemudian pindah dan menetap di sekitar
pesisir Timika, sekitar tahun 1996. Mereka pindah untuk mencari
tempat penghidupan yang lebih baik.
Mereka mencari ikan dengan menggunakan perahu dayung. Berbagai
macam ikan mereka tangkap, seperti ikan kakap. Ikan tersebut sebagian
dijual, sebagian mereka makan sendiri sehari-hari. Warga Asmat ini,
menurut Linus, masih membawa keahlian lama sebagai pematung. "Saya
masih suka membuat patung-patung khas Asmat kecil, dan biasa saya
jual ke Timika, di dekat bandara," ujarnya.
Foto:1
Kompas/Arbain Rambey
Kelaparan yang melanda sebagian penduduk lereng pegunungan
Jayawijaya, Papua, selain disebabkan serangan hama juga disebabkan
sulitnya medan. Mereka umumnya tinggal di tempat-tempat yang
ketinggiannya di atas 1.800 meter di atas permukaan laut.
Langganan:
Postingan (Atom)

