KOMPAS - Kamis, 02 Dec 1999 Halaman: 17 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 6539
NAIK MRT, MENIKMATI IMPIAN WARGA JAKARTA
SETIAP pagi ratusan ribu warga Bogor, Serpong, Tangerang, dan
Bekasi, selalu tersiksa selama perjalanan di atas kereta menuju ke
Jakarta. Begitu pula saat mereka pulang kerja pada sore harinya.
Sebagian penumpang malah harus siap sedia menantang maut. Mereka
bergelantungan di pintu gerbong atau malah nekat duduk-duduk di atas
gerbong.
Pemandangan seperti itu tidak pernah berubah. Padahal kebutuhan
adanya transportasi angkutan umum massal cepat yang nyaman, telah
lama diimpikan warga Jakarta.
Pemerintah pun-termasuk Pemerintah Daerah DKI Jakarta-pun baru
mampu mengatakan berulangkali, pihaknya "akan" membangun jaringan
kereta massal seperti kereta bawah tanah antara Blok M-Kota. Entahlah,
apakah impian untuk merasakan sarana sistem jaringan transportasi
massal cepat MRT (mass rapid transit) tersebut akan terwujud atau
tidak.
Warga Singapura-lagi-lagi cerita tentang negeri jiran itu-sejak
16 tahun lalu telah menikmati bagaimana nyamannya berkendaraan umum.
Sarana transportasi massal yang aman dan cepat tersedia dengan baik.
Setidaknya 600.000 orang per hari atau 50.000-80.000 per jam warga
Singapura setiap hari menikmati MRT. Mereka telah lama mengalami
kenyataan apa yang lama diimpikan warga Jakarta, menikmati angkutan
massal yang manusiawi.
"Kapan kita bisa naik angkutan umum nyaman di Jakarta, seperti MRT
di Singapura ini," kata rekan saat berkunjung ke Singapura pekan lalu,
di atas MRT dari City Hall menuju ke kawasan perdagangan dan bisnis di
Orchard Road.
Pokoknya setiap saat hendak menuju ke tempat kerja mereka atau
saat pulang, warga Singapura tidak perlu tersiksa di atas bus kota
butut atau KRL yang berdesak-desakan.
Sekitar tiga sampai lima menit menit sekali, MRT singgah di
stasiun-stasiun yang tersedia, dan akan kembali melaju setelah
penumpang masuk dan keluar dengan keluar, dalam hitungan puluhan detik
kemudian. Begitu seterusnya. Semua serba teratur, terkendali, dan
cepat sesuai dengan keinginan penumpangnya.
Suasana di dalam gerbong MRT berbeda jauh dengan saat kita
menggunakan KRL Jabotabek. Penumpang dimanjakan dengan udara sejuk
dari pendingin ruangan (AC). Maka di dalam gerbong pun, penumpang bisa
tetap nyaman dengan kesibukannya masing-masing, seperti membaca atau
sekadar mengobrol dengan kawannya.
Aroma di dalam ruangan pun tetap terjaga. Bau tidak sedap dari
keringat-keringat yang menempel di tubuh dan baju, sirna dalam
kesejukan gerbong. Malah aroma dari parfum-parfum dari yang menempel
dari tubuh sebagian penumpang, masih terasa oleh penumpang lainnya.
(Di KRL atau KRD Serpong-Jakarta, tidak jarang kambing pun menjadi
"penumpang" berbaur dengan manusia).
***
MRT membelah Singapura ke arah utara-selatan dan barat-timur,
dengan pusat stasiun di City Hall dan Raffles Place, di bagian selatan
Singapura. Dari kedua stasiun itu penumpang tinggal memilih MRT sesuai
jurusannya masing-masing.
Trayek MRT Singapura terbagi dua, masing-masing menghubungkan
bagian barat dan timur negara itu, dari Boon Lay ke Pasir Ris
bolak-balik. Satu trayek lainnya menghubungkan antara Marina Bay di
selatan dengan Woodlands di utara melalui pusat perdagangan Orchard
Road, dan terus berlanjut ke Jurong pulang pergi.
Dua trayek MRT barat-timur dan utara selatan itu, bertemu di City
Hall dan Raffles Place. Di kedua stasiun ini penumpang bisa berganti
kereta rute berbeda jika ingin berganti kereta. Tiket pun dengan mudah
didapat melalui mesin pembelian tiket yang disediakan di setiap
stasiun.
Perjalanan nyaman di dalam gerbong MRT tidak terasa melelahkan,
kendati setiap sekitar satu setengah menit harus berhenti di stasiun.
Padahal sepanjang perjalanan dari Boon Lay ke Pasir Ris misalnya, MRT
berhenti di 26 stasiun. Sedangkan rute selatan-utara dari Marina
Bay-Woodlands-Jurong, sebanyak 25 stasiun juga disinggahi.
Dari sebanyak 51 stasiun persinggahan MRT tersebut, sebanyak 16
tempat di antaranya merupakan interchange, tempat penumpang berganti
kereta. Penumpang bisa langsung melanjutkannya dengan menggunakan
angkutan darat lain, dari luar stasiun. Bus kota dan taksi siap
mengantar penumpang ke tempat yang dituju.
MRT di kedua trayek itu, sebagian melalui lintasan terowongan di
bawah tanah. Sebagian lainnya melalui rel layang, sehingga sebagian
wajah Garden City Singapura yang asri dan hijau, bisa dinikmati.
Perjalanan menggunakan MRT yang terasa nyaman, tidak diganggu
pengamen atau pedagang, tidak perlu mengeluarkan biaya mahal, terlebih
lagi bagi warga Singapura. Untuk perjalanan terjauh antara City
Hall-Boon Lay dan City Hall-Pasir Ris misalnya, tarifnya 1,5 dollar
Singapura. Sedangkan untuk jarak dekat seperti dari City Hall-Orchard
Road 0,7 dollar Singapura.
Penggunaan sistem bayar tiket dengan kontrol ketat-namun serba
otomatis-menyebabkan sulit mendapatkan penumpang-penumpang gratis atau
main mata dengan kondektur, dengan membayar di atas kereta. Suatu hal
yang lazim dilakukan para kondektur di dalam KRL Jabotabek.
***
"ORANG Singapura sehat-sehat. Selain udaranya segar, mereka suka
berjalan kaki," seloroh seorang rekan asal Jakarta.
Ucapannya itu mungkin ada benarnya. Untuk menuju ke stasiun MRT
dan diteruskan ke tempat tujuan mereka, umumnya harus dilakukan dengan
berjalan kaki yang cukup lumayan melelahkan bagi yang tidak biasa.
Namun rasa lelah itu bisa ditekan, karena trotoar atau lorong bawah
tanah menuju ke stasiun MRT, semuanya terasa sejuk. Trotoar jalan
Orchard Road, Scott Road, Raffles Road misalnya, diteduhi pepohonan
yang sejuk.
Dengan begitu, selain dimanjakan dengan kereta massal yang nyaman,
warga Singapura pun "dipaksa" untuk berjalan kaki. Selain menyehatkan
badan, namun selalu rutin berjalan kaki ternyata juga membuat aus sol
sepatu. Tidak percaya? Coba perhatikan, sepatu yang dipakai sebagian
penumpang MRT, umumnya terlihat aus. Mungkin karena seringnya sepatu
mereka bergesekan dengan permukaan jalan.
(agus mulyadi, dari Singapura)
Foto:
kompas/agus hermawan
IMPIAN - Sebuah kereta cepat massal atau mass rapid transit (MRT)
melaju di sebuah kawasan Singapura, beberapa waktu lalu. MRT seperti
yang sudah belasan tahun dinikmati warga Singapura itu bagi warga
Jakarta masih berupa impian.
Tampilkan postingan dengan label singapura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label singapura. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 November 2007
Mengundang "Jaycees" ke Bali Lewat "Denpasar Moon"
KOMPAS - Jumat, 03 Jun 1994 Halaman: 9 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 9575 Foto: 1
--------------------------------------------------------------------------------
MENGUNDANG "JAYCEES" KE BALI LEWAT "DENPASAR MOON"
"DENPASAR Moon ..." Dua kata terakhir penggalan syair lagu
Denpasar Moon yang dinyanyikan artis Filipina, Maribeth, itu mengalun
di ruangan tempat acara penutupan JCI-ASPAC 1994 di Sangri La Hotel
Singapura, Minggu (29/5) siang. Sekitar 1.000 anggota JCI (Junior
Chamber International/persatuan kaum profesional muda internasional)
yang menghadiri acara penutupan itu pun bertepuk tangan. Acara
sendiri dilaksanakan 26 - 29 Mei 1994.
LAGU yang masih populer itu, dapat dikatakan sebagai puncak dari
berbagai promosi gencar terhadap penyelenggaraan BBC (Bali Business
Conference) 7-10 September 1994 nanti. Denpasar adalah ibu kota
propinsi Bali, dan di Pulau Dewata inilah Indonesia Junior Chamber
(IJC/nama organisasi JCI di Indonesia), tempat penyelenggaraan
konperensi bisnis pertama kali JCI dilaksanakan.
Alunan empuk suara Maribeth, meski hanya penggalan dua kata dari
lagu populernya yang diperdengarkan itu, sepertinya mengalun
menyelusup kalbu peserta JCI se-Asia Pasific yang hadir. Alunan merdu
yang begitu mengundang, seakan mengajak jaycees (sebutan untuk
anggota JCI) untuk berbondong datang ke Bali. Datang untuk melihat
dan menikmati keindahan pulau itu, sekaligus untuk melakukan kontak
bisnis antarmereka dalam ajang BBC.
Penggalan lagu Denpasar Moon sebenarnya hanya merupakan salah
satu bagian kecil, gencarnya promosi yang dilakukan para profesional
muda Indonesia, demi menyukseskan konperensi bisnis di Bali. Apalagi
BBC merupakan ajang pertama khusus untuk kontak segala macam bisnis,
yang dapat dilakukan kalangan pengusaha muda anggota JCI. Khusus
bagi anggota asal Indonesia, momen itu merupakan peluang untuk
bermitra bisnis dengan pengusaha muda seluruh dunia yang akan hadir.
Rangkaian kegiatan promosi untuk mengundang sebanyak mungkin
anggota JCI hadir di Bali, merupakan rangkaian usaha terus menerus
yang dilakukan IJC dalam jangka waktu cukup lama. Sebut saja
misalnya, usaha promosi mulai World Congress JCI pada bulan November
1993 di Hongkong. Atau promosi saat acara Japan JC Kyoto Convention,
pada bulan Januari 1994 lalu.
Beragam promosi dan kerja keras, khususnya oleh panitia BBC,
merupakan upaya menyukseskan BBC. Sebabnya, BBC diharapkan akan
menjadi ajang yang dapat membuka peluang bisnis, khususnya bagi
kalangan pengusaha muda Indonesia.
Dalam pertemuan JCI-ASPAC 1994 di Singapura dengan tema "Earth
Our Concern", yang dihadiri ratusan jaycees Asia Pasifik, upaya
menjual BBC dilakukan sejak awal acara sampai penutupan. Dalam tiap
kesempatan, acara formal yang diagendakan dan aneka pertemuan
informal, berbagai pendekatan kepada sebanyak mungkin anggota JCI
dilakukan. Dengan cara pembagian stiker, tas pinggang, kaos, sampai
tarian Bali, upaya meyakinkan anggota JCI terus menerus dilakukan.
"Pertemuan JCI-ASPAC di Singapura ini merupakan kesempatan acara
JCI terakhir, sebelum penyelenggaraan BBC. Kami berusaha meyakinkan
anggota JCI dari negara lain bahwa kami pun bisa menyelenggarakan
suatu acara penting," kata Conference Director, Aldo Tobing.
Pentingnya BBC, pada akhirnya membuat pejabat-pejabat teras JCI
pun turut mengundang jaycees untuk datang. Tidak kurang dari Presiden
JCI 1994, Ardaud Gaduro, tokoh asal Mauritius pun dalam sejumlah
pertemuan mengajak peserta menghadiri BBC. Untuk persiapan
penyelenggaraan BBC itu, Presiden JCI mempercayakannya juga kepada
David Hide Oji, sebagai Conference Chairman BBC.
Menpora Hayono Isman pun menyempatkan datang ke acara JCI-ASPAC
Singapura. Selain untuk menemui delegasi Indonesia sebanyak 70 orang
yang dipimpin langsung oleh National President IJC 1994, Ir Ketut
Suardhana Linggih, Menpora juga secara khusus mengundang peserta
negara lain untuk datang ke BBC.
Dalam pertemuan itu, Hayono menghadiri Indonesia Night pada
Sabtu (28/5) malam. Kepada wartawan Indonesia malam itu Hayono
menyatakan, Pemerintah Indonesia mendukung penyelenggaraan BBC. Dan
tentang keberadaan JCI itu sendiri, Hayono melihatnya sebagai lembaga
kaum profesional muda yang berorientasi ke depan. Sebab dalam JCI,
dilatih tentang kepemimpinan.
Hal itu tentu saja sangat penting bagi generasi muda, karena
kelanjutan pembangunan masa depan ada di tanagn mereka.
***
GENCARNYA berbagai bentuk promosi BBC, menurut Aldo Tobing,
dikaitkan dengan kenyataan penyelenggaraan konperensi khusus bisnis
di dalam kalangan wadah JCI. Kepercayaan untuk menjadi penyelenggara
yang menjadi pemacu semangat gencarnya promosi.
Apalagi dalam BBC nanti, kata Aldo diharapkan dapat terwujud
"Deklarasi Bali" menjelang penyelenggaraan APEC, November 1994.
Promosi untuk menumbuhkan kepercayaan dan keyakinan anggota
dari negara lain pada forum pertemuan JCI-ASPAC 1994 di Singapura,
tidak hanya dilakukan jaycees Indonesia. Jaycees Jepang, Korsel, dan
Filipina, juga tidak ketinggalan mempromosikan hajat mereka untuk
acara JCI lainnya.
Jepang misalnya tidak henti-hentinya berpromosi bagi
penyelenggaraan Word Congress JCI ke-49 di Kobe, November 1994.
Delegasi Jepang bahkan sekaligus pula menjual rencana mereka
menyelenggarakan pertemuan JCI-ASPAC di Kanazawa tahun 1996.
Delegasi Korsel tidak ketinggalan, gencar berpromosi pula untuk
penyelenggaraan pertemuan JCI-ASPAC pada 1-4 Juni 1995 di kota Cheju.
Jaycees Negara Ginseng bahkan mulai melakukan promosinya sejak
menjelang acara pembukaan di pelataran Indoor Stadium Nasional
Singapura, 26 Mei 1994 petang. Di depan pintu masuk, sekumpulan
penari tradisional menyambut undangan yang datang.
Upaya promosi untuk penyelenggaraan acara JCI, juga dilakukan
jaycees Filipina. Anggota JCI negara tetangga dekat ini, berencana
menyelenggrakan acara JCI pada tahun 1998. Meski rentang waktu
penyelenggaraan msih cukup lama, upaya untuk lebih meyakinkan
anggota dari negara lain, rupanya lebih mendorong jaycees Filipina
untuk menjual acaranya.
***
BERBAGAI acara yang dipromosikan itu, merupakan acara yang
tidak menyajikan tema sentral khusus bisnis. Acara yang dapat
disebut sebagai salah satu rutinitas JCI itu, mencakup berbagai
aspek. Sebut saja di antaranya tiga masalah yang diperhatikan JCI,
seperti masalah lingkungan hidup, anak-anak, dan bisnis.
Selain itu keberadaan JCI tentunya lebih ingin diperkenalkan di
Indonesia. Sebab lembaga internasional yang berdiri sejak 1944 ini,
belum begitu terdengar di Indonesia. Juga keberadaan IJC yang
berafiliasi ke JCI, dan berdiri tahun 1990 lalu.
JCI sendiri dibentuk tahun 1944 di Mexico City, saat itu
Presiden JCI pertama dijabat Raul Garcia Vidal. Dalam World Congress
di Hongkong, November 1993, untuk Presiden JCI 1994 (Presiden JCI
dipilih setahun sekali) dipilih Ardaud Godera asal Mauritius.
Di Indonesia sendiri, HIPMI pada tahun 1990 membentuk IJC yang
berafiliasi ke JCI. Empat Presiden IJC sejak berdiri adalah Anton
Ryanto, Riswan Helmi Nasution, Adi Putra Tahir, dan Juan Permata
Adoe. Kini Presiden IJC 1994 adalah Ir Ketut Suardhana Linggih, yang
menyelenggarakan Bali Business Conference.
Tema dalam BBC nanti adalah "Global Economic Development with
Environmental Concern". Dalam acara itu masalah bisnis menjadi fokus
yang dibicarakan anggota JCI. Apalagi menurut Aldo Tobing, khusus
untuk masalah bisnis di dalam JCI ada wadah jaringan bisnis di
antara anggota JCI. Wadah dengan nama IBN (International Business
Network) itu, khusus mencakup jaringan bisnis di kalangan anggotanya
di seluruh dunia.
Namun seperti juga berbagai pertemuan yang sebelumnya dilakukan
jaycees, dibahas pula materi lain seperti partisipasi pengumpulan
perubahan ide, pelatihan kepemimpinan, meningkatkan persahabatan,
dan membangun kontak bisnis sesama peserta.
Para anggota IBN yang mencapai sekitar 1.000 orang ini, membuka
peluang bisnis internasional. Wadah inilah yang mungkin sangat
penting bagi pengusaha muda Indonesia, untuk mencari peluang bisnis
dengan rekannya dari negara lain. Karena itu forum BBC diharapkan
dapat semaksimal mungkin dimanfaatkan pengusaha muda Indonesia,
untuk saling kontak bisnis dengan pengusaha negara lain.
Dalam BBC nanti, meski usaha terjadinya kontak bisnis yang
menjadi sasaran utama, materi lain pun diagendakan seperti seminar,
latihan kepemimpinan dan sebagainya. Untuk seminar, salah satu
pembicara direncakan Lee Iacocca, tokoh bisnis internasional yang
telah dua kali dengan gemilang menyelamatkan industri otomotif AS,
Chrysler Corp dari kebangkrutan.
***
MUSIK yang mengiringi penggalan terakhir lagu Denpasar Moon
masih tetap mengalun, meski suara lembut penyanyi cantik asal
Filipina itu sudah berakhir. Denpasar Moon seakan meresap, memasuki
relung hati peserta yang hadir, sehingga mereka akan tetap mengingat
keelokan Pulau Dewata.
Di Bali menunggu pula sebuah ajang untuk saling kontak bisnis
sesama jaycees. Peluang mengembangkan usaha, bagi pembangunan
ekonomi global membentang di hadapan mereka. Denpasar Moon
mengundang untuk masa depan yang lebih baik untuk semua.
(Agus Mulyadi)
TEKS FOTO:
Kompas/mul
MENJUAL BALI -- Berbagai promosi gencar dilakukan delegasi Indonesia
(IJC) untuk mempromosikan BBC. Bermacam tarian tradisional pun
digelar dalam JCI-ASPAC 1994 di Singapura
--------------------------------------------------------------------------------
MENGUNDANG "JAYCEES" KE BALI LEWAT "DENPASAR MOON"
"DENPASAR Moon ..." Dua kata terakhir penggalan syair lagu
Denpasar Moon yang dinyanyikan artis Filipina, Maribeth, itu mengalun
di ruangan tempat acara penutupan JCI-ASPAC 1994 di Sangri La Hotel
Singapura, Minggu (29/5) siang. Sekitar 1.000 anggota JCI (Junior
Chamber International/persatuan kaum profesional muda internasional)
yang menghadiri acara penutupan itu pun bertepuk tangan. Acara
sendiri dilaksanakan 26 - 29 Mei 1994.
LAGU yang masih populer itu, dapat dikatakan sebagai puncak dari
berbagai promosi gencar terhadap penyelenggaraan BBC (Bali Business
Conference) 7-10 September 1994 nanti. Denpasar adalah ibu kota
propinsi Bali, dan di Pulau Dewata inilah Indonesia Junior Chamber
(IJC/nama organisasi JCI di Indonesia), tempat penyelenggaraan
konperensi bisnis pertama kali JCI dilaksanakan.
Alunan empuk suara Maribeth, meski hanya penggalan dua kata dari
lagu populernya yang diperdengarkan itu, sepertinya mengalun
menyelusup kalbu peserta JCI se-Asia Pasific yang hadir. Alunan merdu
yang begitu mengundang, seakan mengajak jaycees (sebutan untuk
anggota JCI) untuk berbondong datang ke Bali. Datang untuk melihat
dan menikmati keindahan pulau itu, sekaligus untuk melakukan kontak
bisnis antarmereka dalam ajang BBC.
Penggalan lagu Denpasar Moon sebenarnya hanya merupakan salah
satu bagian kecil, gencarnya promosi yang dilakukan para profesional
muda Indonesia, demi menyukseskan konperensi bisnis di Bali. Apalagi
BBC merupakan ajang pertama khusus untuk kontak segala macam bisnis,
yang dapat dilakukan kalangan pengusaha muda anggota JCI. Khusus
bagi anggota asal Indonesia, momen itu merupakan peluang untuk
bermitra bisnis dengan pengusaha muda seluruh dunia yang akan hadir.
Rangkaian kegiatan promosi untuk mengundang sebanyak mungkin
anggota JCI hadir di Bali, merupakan rangkaian usaha terus menerus
yang dilakukan IJC dalam jangka waktu cukup lama. Sebut saja
misalnya, usaha promosi mulai World Congress JCI pada bulan November
1993 di Hongkong. Atau promosi saat acara Japan JC Kyoto Convention,
pada bulan Januari 1994 lalu.
Beragam promosi dan kerja keras, khususnya oleh panitia BBC,
merupakan upaya menyukseskan BBC. Sebabnya, BBC diharapkan akan
menjadi ajang yang dapat membuka peluang bisnis, khususnya bagi
kalangan pengusaha muda Indonesia.
Dalam pertemuan JCI-ASPAC 1994 di Singapura dengan tema "Earth
Our Concern", yang dihadiri ratusan jaycees Asia Pasifik, upaya
menjual BBC dilakukan sejak awal acara sampai penutupan. Dalam tiap
kesempatan, acara formal yang diagendakan dan aneka pertemuan
informal, berbagai pendekatan kepada sebanyak mungkin anggota JCI
dilakukan. Dengan cara pembagian stiker, tas pinggang, kaos, sampai
tarian Bali, upaya meyakinkan anggota JCI terus menerus dilakukan.
"Pertemuan JCI-ASPAC di Singapura ini merupakan kesempatan acara
JCI terakhir, sebelum penyelenggaraan BBC. Kami berusaha meyakinkan
anggota JCI dari negara lain bahwa kami pun bisa menyelenggarakan
suatu acara penting," kata Conference Director, Aldo Tobing.
Pentingnya BBC, pada akhirnya membuat pejabat-pejabat teras JCI
pun turut mengundang jaycees untuk datang. Tidak kurang dari Presiden
JCI 1994, Ardaud Gaduro, tokoh asal Mauritius pun dalam sejumlah
pertemuan mengajak peserta menghadiri BBC. Untuk persiapan
penyelenggaraan BBC itu, Presiden JCI mempercayakannya juga kepada
David Hide Oji, sebagai Conference Chairman BBC.
Menpora Hayono Isman pun menyempatkan datang ke acara JCI-ASPAC
Singapura. Selain untuk menemui delegasi Indonesia sebanyak 70 orang
yang dipimpin langsung oleh National President IJC 1994, Ir Ketut
Suardhana Linggih, Menpora juga secara khusus mengundang peserta
negara lain untuk datang ke BBC.
Dalam pertemuan itu, Hayono menghadiri Indonesia Night pada
Sabtu (28/5) malam. Kepada wartawan Indonesia malam itu Hayono
menyatakan, Pemerintah Indonesia mendukung penyelenggaraan BBC. Dan
tentang keberadaan JCI itu sendiri, Hayono melihatnya sebagai lembaga
kaum profesional muda yang berorientasi ke depan. Sebab dalam JCI,
dilatih tentang kepemimpinan.
Hal itu tentu saja sangat penting bagi generasi muda, karena
kelanjutan pembangunan masa depan ada di tanagn mereka.
***
GENCARNYA berbagai bentuk promosi BBC, menurut Aldo Tobing,
dikaitkan dengan kenyataan penyelenggaraan konperensi khusus bisnis
di dalam kalangan wadah JCI. Kepercayaan untuk menjadi penyelenggara
yang menjadi pemacu semangat gencarnya promosi.
Apalagi dalam BBC nanti, kata Aldo diharapkan dapat terwujud
"Deklarasi Bali" menjelang penyelenggaraan APEC, November 1994.
Promosi untuk menumbuhkan kepercayaan dan keyakinan anggota
dari negara lain pada forum pertemuan JCI-ASPAC 1994 di Singapura,
tidak hanya dilakukan jaycees Indonesia. Jaycees Jepang, Korsel, dan
Filipina, juga tidak ketinggalan mempromosikan hajat mereka untuk
acara JCI lainnya.
Jepang misalnya tidak henti-hentinya berpromosi bagi
penyelenggaraan Word Congress JCI ke-49 di Kobe, November 1994.
Delegasi Jepang bahkan sekaligus pula menjual rencana mereka
menyelenggarakan pertemuan JCI-ASPAC di Kanazawa tahun 1996.
Delegasi Korsel tidak ketinggalan, gencar berpromosi pula untuk
penyelenggaraan pertemuan JCI-ASPAC pada 1-4 Juni 1995 di kota Cheju.
Jaycees Negara Ginseng bahkan mulai melakukan promosinya sejak
menjelang acara pembukaan di pelataran Indoor Stadium Nasional
Singapura, 26 Mei 1994 petang. Di depan pintu masuk, sekumpulan
penari tradisional menyambut undangan yang datang.
Upaya promosi untuk penyelenggaraan acara JCI, juga dilakukan
jaycees Filipina. Anggota JCI negara tetangga dekat ini, berencana
menyelenggrakan acara JCI pada tahun 1998. Meski rentang waktu
penyelenggaraan msih cukup lama, upaya untuk lebih meyakinkan
anggota dari negara lain, rupanya lebih mendorong jaycees Filipina
untuk menjual acaranya.
***
BERBAGAI acara yang dipromosikan itu, merupakan acara yang
tidak menyajikan tema sentral khusus bisnis. Acara yang dapat
disebut sebagai salah satu rutinitas JCI itu, mencakup berbagai
aspek. Sebut saja di antaranya tiga masalah yang diperhatikan JCI,
seperti masalah lingkungan hidup, anak-anak, dan bisnis.
Selain itu keberadaan JCI tentunya lebih ingin diperkenalkan di
Indonesia. Sebab lembaga internasional yang berdiri sejak 1944 ini,
belum begitu terdengar di Indonesia. Juga keberadaan IJC yang
berafiliasi ke JCI, dan berdiri tahun 1990 lalu.
JCI sendiri dibentuk tahun 1944 di Mexico City, saat itu
Presiden JCI pertama dijabat Raul Garcia Vidal. Dalam World Congress
di Hongkong, November 1993, untuk Presiden JCI 1994 (Presiden JCI
dipilih setahun sekali) dipilih Ardaud Godera asal Mauritius.
Di Indonesia sendiri, HIPMI pada tahun 1990 membentuk IJC yang
berafiliasi ke JCI. Empat Presiden IJC sejak berdiri adalah Anton
Ryanto, Riswan Helmi Nasution, Adi Putra Tahir, dan Juan Permata
Adoe. Kini Presiden IJC 1994 adalah Ir Ketut Suardhana Linggih, yang
menyelenggarakan Bali Business Conference.
Tema dalam BBC nanti adalah "Global Economic Development with
Environmental Concern". Dalam acara itu masalah bisnis menjadi fokus
yang dibicarakan anggota JCI. Apalagi menurut Aldo Tobing, khusus
untuk masalah bisnis di dalam JCI ada wadah jaringan bisnis di
antara anggota JCI. Wadah dengan nama IBN (International Business
Network) itu, khusus mencakup jaringan bisnis di kalangan anggotanya
di seluruh dunia.
Namun seperti juga berbagai pertemuan yang sebelumnya dilakukan
jaycees, dibahas pula materi lain seperti partisipasi pengumpulan
perubahan ide, pelatihan kepemimpinan, meningkatkan persahabatan,
dan membangun kontak bisnis sesama peserta.
Para anggota IBN yang mencapai sekitar 1.000 orang ini, membuka
peluang bisnis internasional. Wadah inilah yang mungkin sangat
penting bagi pengusaha muda Indonesia, untuk mencari peluang bisnis
dengan rekannya dari negara lain. Karena itu forum BBC diharapkan
dapat semaksimal mungkin dimanfaatkan pengusaha muda Indonesia,
untuk saling kontak bisnis dengan pengusaha negara lain.
Dalam BBC nanti, meski usaha terjadinya kontak bisnis yang
menjadi sasaran utama, materi lain pun diagendakan seperti seminar,
latihan kepemimpinan dan sebagainya. Untuk seminar, salah satu
pembicara direncakan Lee Iacocca, tokoh bisnis internasional yang
telah dua kali dengan gemilang menyelamatkan industri otomotif AS,
Chrysler Corp dari kebangkrutan.
***
MUSIK yang mengiringi penggalan terakhir lagu Denpasar Moon
masih tetap mengalun, meski suara lembut penyanyi cantik asal
Filipina itu sudah berakhir. Denpasar Moon seakan meresap, memasuki
relung hati peserta yang hadir, sehingga mereka akan tetap mengingat
keelokan Pulau Dewata.
Di Bali menunggu pula sebuah ajang untuk saling kontak bisnis
sesama jaycees. Peluang mengembangkan usaha, bagi pembangunan
ekonomi global membentang di hadapan mereka. Denpasar Moon
mengundang untuk masa depan yang lebih baik untuk semua.
(Agus Mulyadi)
TEKS FOTO:
Kompas/mul
MENJUAL BALI -- Berbagai promosi gencar dilakukan delegasi Indonesia
(IJC) untuk mempromosikan BBC. Bermacam tarian tradisional pun
digelar dalam JCI-ASPAC 1994 di Singapura
Lobi Pembangunan Ekonomi Global
KOMPAS - Jumat, 03 Jun 1994 Halaman: 9 Penulis: MUL Ukuran: 5174 Foto: 1
LOBI PEMBANGUNAN EKONOMI GLOBAL
SEORANG jaycees asal India, lengkap dengan memakai penutup
kepala Suku Sikh, menghampiri Ir Bambang Adhy, jaycees Indonesia, di
sela-sela pertemuan JCI-ASPAC Singapura. Setelah saling bersalaman
dan berkenalan, si India mengeluarkan sebuah gelang perak dari dalam
tas yang dibawanya. Gelang diberikan kepada rekan asal Indonesia itu,
disusul pemberian kartu nama.
Bambang Adhy yang Presiden LOM (local organisation members) IJC
pun spontan merogoh kartu namanya, dan memberikan kepada rekannya
asal India itu. Selanjutnya mereka saling ngobrol tentang usaha di
negaranya masing-masing. Sekejap kemudian jaycees India berlalu,
menghampiri rekan anggota JCI dari negara lain yang hadir di ruang
pameran Sangri La Hotel Singapura itu.
Tidak sampai lima menit kemudian, si India kembali lewat di
depan Bambang Adhy. Langsung saling bersalaman, tanpa ba-bi-bu lagi
jaycees langsung merogoh tasnya kembali. Saat bersamaan wajahnya
menatap Bambang Adhy, sehingga dia pun kembali mengenali wajah
rekannya itu. Keduanya pun lantas tertawa.
Kejadian itu merupakan salah satu hal yang mewarnai suasana
pertemuan jaycees se-Asia Pasific di Singapura, 26-29 Mei 1994.
Saling lobi, saling kenal dilakukan peserta pertemuan itu. Melalui
lobi dan pertemuan terus-menerus, kontak bisnis yang menjadi salah
satu sasaran sebagian anggota JCI dapat terwujud.
Seperti yang dikemukakan National President IJC (Indonesia
Junior Chamber/nama organisasi JCI Indonesia), Ir Ketut Suardhana
Linggih, hanya dengan saling kenal dan pertemuan terus menerus,
kontak atau kerja sama bisnis dapat dilakukan. Dan bagi jaycees
Indonesia hal itu yang menjadi salah satu yang ingin diraih.
Dari berbagai lobi antarjaycees di berbagai pertemuan, diakui
Ketut Suardhana telah membuahkan hasil berupa adanya bermacam kontak
bisnis, antara pengusaha muda Indonesia dan pengusaha muda negara
lain. Meski Ketut tidak tahu pasti berapa banyak kerja sama bisnis
yang telah dilangsungkan, dia menyebut hal itu terjadi karena adanya
lobi dan pertemuan terus menerus tersebut.
Soal lobi, pertemuan dari persahabatan sesama jaycees, yang
akhirnya membuahkan kontak bisnis juga diungkap Aldo Tobing. Menurut
dia, memang terwujudnya kontak bisnis tidak dapat dilakukan dalam
sekali dua kali pertemuan. Dan kerja sama itu sendiri tidak hanya
terjadi antarsesama jaycees. Tetapi keberadaan anggota JCI di negara
lain, minimal membantu jaycees Indonesia berbisnis di negara lain.
Aldo mengambil contoh dirinya sendiri. Dia sampai saat itu
belum pernah melakukan bekerja sama bisnis dengan anggota IJC negara
lain. Namun dia pernah memanfaatkan keberadaan IJC di AS. Melalui
National Presiden JCI AS, Aldo mendapat bantuan untuk menembus usaha
bisnis di negara itu.
Usaha melobi dan bertemu dalam setiap kesempatan pertemuan JCI,
juga dimaksudkan meyakinkan pengusaha muda negara lain untuk bekerja
sama. Seperti yang dilakukan Bambang Adhy dari Sumatera Selatan, dia
datang ke JCI-ASPAC Singapura dengan membawa bekal berbagai usahanya
di Indonesia. Maksudnya, dia berusaha meyakinkan pengusaha muda
negara lain untuk kontak bisnis, untuk menanamkan modalnya, dan
bekerja sama dengan perusahaan yang dikelolanya.
***
PELUANG kontak bisnis dengan pengusaha negara lain itu agaknya
memberi kesempatan terbuka bagi anggota jaycees Indonesia. Seperti
dikatakan Ketut Suardhana, dengan anggota sekitar 900.000 orang di
sekitar 100 negara, membuka peluang terjadinya kontak bisnis.
Adanya peluang yang terbuka bagi pengusaha muda Indonesia dalam
himpunan JCI itu, dilontarkan pula Ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha
Muda Indonesia), Adi Putra Tahir. Menurut dia, JCI tidak hanya
memberi manfaat berupa latihan kepemimpinan dan persahabatan, tetapi
juga terbukanya peluang pengusaha muda Indonesia bekerja sama
melakukan kontak bisnis dengan pengusaha muda negara lain.
Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Sudibjo Rahardjo, juga
mengemukakan terbukanya peluang itu ketika menerima delegasi
Indonesia di Kedubes pada 26 Mei 1994. Dubes menyebut contoh potensi
Singapura. Para investor negara tetangga ini disebutnya, mempunyai
uang yang dapat dimanfaatkan Indonesia.
Karena itu Sudibjo Rahardjo mengajak jaycees Indonesia, untuk
memanfaatkan peluang itu. Apalagi dalam pertumbuhan ekonomi global
seperti saat ini, negara-negara berkembang lain, khususnya di Asia,
juga memanfaatkan peluang yang ada untuk menarik modal asing.
Upaya untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di Indonesia bagi
pengusaha muda Indonesia, sepertinya menemukan tempat dan kesempatan
dalam wadah JCI. Namun kiat melobi dan meyakinkan ini, harus pandai-
pandai dimanfaatkan dalam berbagai kesempatan. Juga lobi dengan
gelang perak ala India.(mul)
Teksfoto:
Kompas/mul
SALING MELOBI - Arena pertemuan jaycees pada JCI-ASPAC 1994 di
Singapura, dimanfaatkan sebagian peserta untuk saling melobi jaycees
negara lain. Lobi diperlukan untuk merintis kerjasama bisnis di
antara mereka.
LOBI PEMBANGUNAN EKONOMI GLOBAL
SEORANG jaycees asal India, lengkap dengan memakai penutup
kepala Suku Sikh, menghampiri Ir Bambang Adhy, jaycees Indonesia, di
sela-sela pertemuan JCI-ASPAC Singapura. Setelah saling bersalaman
dan berkenalan, si India mengeluarkan sebuah gelang perak dari dalam
tas yang dibawanya. Gelang diberikan kepada rekan asal Indonesia itu,
disusul pemberian kartu nama.
Bambang Adhy yang Presiden LOM (local organisation members) IJC
pun spontan merogoh kartu namanya, dan memberikan kepada rekannya
asal India itu. Selanjutnya mereka saling ngobrol tentang usaha di
negaranya masing-masing. Sekejap kemudian jaycees India berlalu,
menghampiri rekan anggota JCI dari negara lain yang hadir di ruang
pameran Sangri La Hotel Singapura itu.
Tidak sampai lima menit kemudian, si India kembali lewat di
depan Bambang Adhy. Langsung saling bersalaman, tanpa ba-bi-bu lagi
jaycees langsung merogoh tasnya kembali. Saat bersamaan wajahnya
menatap Bambang Adhy, sehingga dia pun kembali mengenali wajah
rekannya itu. Keduanya pun lantas tertawa.
Kejadian itu merupakan salah satu hal yang mewarnai suasana
pertemuan jaycees se-Asia Pasific di Singapura, 26-29 Mei 1994.
Saling lobi, saling kenal dilakukan peserta pertemuan itu. Melalui
lobi dan pertemuan terus-menerus, kontak bisnis yang menjadi salah
satu sasaran sebagian anggota JCI dapat terwujud.
Seperti yang dikemukakan National President IJC (Indonesia
Junior Chamber/nama organisasi JCI Indonesia), Ir Ketut Suardhana
Linggih, hanya dengan saling kenal dan pertemuan terus menerus,
kontak atau kerja sama bisnis dapat dilakukan. Dan bagi jaycees
Indonesia hal itu yang menjadi salah satu yang ingin diraih.
Dari berbagai lobi antarjaycees di berbagai pertemuan, diakui
Ketut Suardhana telah membuahkan hasil berupa adanya bermacam kontak
bisnis, antara pengusaha muda Indonesia dan pengusaha muda negara
lain. Meski Ketut tidak tahu pasti berapa banyak kerja sama bisnis
yang telah dilangsungkan, dia menyebut hal itu terjadi karena adanya
lobi dan pertemuan terus menerus tersebut.
Soal lobi, pertemuan dari persahabatan sesama jaycees, yang
akhirnya membuahkan kontak bisnis juga diungkap Aldo Tobing. Menurut
dia, memang terwujudnya kontak bisnis tidak dapat dilakukan dalam
sekali dua kali pertemuan. Dan kerja sama itu sendiri tidak hanya
terjadi antarsesama jaycees. Tetapi keberadaan anggota JCI di negara
lain, minimal membantu jaycees Indonesia berbisnis di negara lain.
Aldo mengambil contoh dirinya sendiri. Dia sampai saat itu
belum pernah melakukan bekerja sama bisnis dengan anggota IJC negara
lain. Namun dia pernah memanfaatkan keberadaan IJC di AS. Melalui
National Presiden JCI AS, Aldo mendapat bantuan untuk menembus usaha
bisnis di negara itu.
Usaha melobi dan bertemu dalam setiap kesempatan pertemuan JCI,
juga dimaksudkan meyakinkan pengusaha muda negara lain untuk bekerja
sama. Seperti yang dilakukan Bambang Adhy dari Sumatera Selatan, dia
datang ke JCI-ASPAC Singapura dengan membawa bekal berbagai usahanya
di Indonesia. Maksudnya, dia berusaha meyakinkan pengusaha muda
negara lain untuk kontak bisnis, untuk menanamkan modalnya, dan
bekerja sama dengan perusahaan yang dikelolanya.
***
PELUANG kontak bisnis dengan pengusaha negara lain itu agaknya
memberi kesempatan terbuka bagi anggota jaycees Indonesia. Seperti
dikatakan Ketut Suardhana, dengan anggota sekitar 900.000 orang di
sekitar 100 negara, membuka peluang terjadinya kontak bisnis.
Adanya peluang yang terbuka bagi pengusaha muda Indonesia dalam
himpunan JCI itu, dilontarkan pula Ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha
Muda Indonesia), Adi Putra Tahir. Menurut dia, JCI tidak hanya
memberi manfaat berupa latihan kepemimpinan dan persahabatan, tetapi
juga terbukanya peluang pengusaha muda Indonesia bekerja sama
melakukan kontak bisnis dengan pengusaha muda negara lain.
Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Sudibjo Rahardjo, juga
mengemukakan terbukanya peluang itu ketika menerima delegasi
Indonesia di Kedubes pada 26 Mei 1994. Dubes menyebut contoh potensi
Singapura. Para investor negara tetangga ini disebutnya, mempunyai
uang yang dapat dimanfaatkan Indonesia.
Karena itu Sudibjo Rahardjo mengajak jaycees Indonesia, untuk
memanfaatkan peluang itu. Apalagi dalam pertumbuhan ekonomi global
seperti saat ini, negara-negara berkembang lain, khususnya di Asia,
juga memanfaatkan peluang yang ada untuk menarik modal asing.
Upaya untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di Indonesia bagi
pengusaha muda Indonesia, sepertinya menemukan tempat dan kesempatan
dalam wadah JCI. Namun kiat melobi dan meyakinkan ini, harus pandai-
pandai dimanfaatkan dalam berbagai kesempatan. Juga lobi dengan
gelang perak ala India.(mul)
Teksfoto:
Kompas/mul
SALING MELOBI - Arena pertemuan jaycees pada JCI-ASPAC 1994 di
Singapura, dimanfaatkan sebagian peserta untuk saling melobi jaycees
negara lain. Lobi diperlukan untuk merintis kerjasama bisnis di
antara mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)

