Tampilkan postingan dengan label ciremai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ciremai. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2007

Liburan di Gunung Ciremai, Jangan Tinggalkan Apa Pun Kecuali Jejak Kaki

KOMPAS - Senin, 04 Jul 1994 Halaman: 12 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 11220 Foto: 1
Liburan di Gunung Ciremai
JANGAN TINGGALKAN APAPUN,
KECUALI JEJAK KAKI.......
MENDAKI tanpa meninggalkan bekas, kecuali jejak tapak kaki.
Begitu bunyi salah satu "komitmen" para pendaki gunung di mana pun.
Tetapi janji tidak tertulis itu tampaknya tidak berlaku untuk
pendaki Gunung Ciremai, sebuah gunung tertinggi di Jawa Barat dengan
ketinggian 3.078 meter dpl (di atas permukaan laut).
Janji tidak tertulis para pendaki gunung -- yang notabene
adalah pencinta alam -- dilanggar sendiri oleh sebagian pendaki
Gunung Ciremai. "Pelanggaran komitmen", misalnya, terlihat jelas
dari berserakannya berbagai jenis sampah, seperti di jalur pendakian
melalui rute Desa Linggajati, Kabupaten Kuningan.
Di sepanjang jalur yang paling ramai dilalui pendaki Ciremai
itu, tampak serakan kertas koran, kantung plastik, bungkus mie,
sampai karton bungkus fast food. Pada musim pendakian masa liburan
sekolah seperti saat ini, serakan sampah menjadi pemandangan yang
umum mewarnai kegiatan pendaki Ciremai.
Mungkin akibat kurang dipahaminya arti cinta alam oleh
sebagian pendaki Ciremai, terjadilah pelanggaran terhadap komitmen
tidak tertulis lainnya. Perusakan, meski dalam skala kecil, menimpa
sejumlah jenis flora di gunung itu. Salah satu yang termasuk
"incaran perusakan" adalah bunga edelweis.
Bunga abadi itu menjadi sasaran sebagian pendaki Ciremai yang
sampai di kawasan puncak dan kawah. Tangkai bunga dipatahkan. Bahkan
tidak sedikit, terutama pendaki dari kalangan pelajar setingkat SMP,
yang mematah-matahkan ranting hanya sekadar untuk memetik bunga
puncak gunung tersebut.
* * *
PADA masa liburan sekolah, sebagian siswa mengisinya dengan
menelusuri belantara gunung. Dan sebisa mungkin, bagian tertinggi
didatangi. Salah satu sasaran "anak-anak gunung" adalah Gunung
Ciremai yang terletak di wilayah timur Jawa Barat. Gunung yang masih
aktif itu dibanjiri sejumlah siswa dari berbagai penjuru kota dan
daerah. Mereka tidak hanya berdatangan dari daerah sekitar seperti
Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu tetapi juga dari
Jakarta dan Bandung.
Para pendaki mulai dari yang masih bau kencur (dengan usia di
bawah 15 tahun) sampai sekitar 30-an tahun, datang dan mendaki dalam
jumlah rombongan besar dan kecil. Sebagian besar dari mereka
langsung mendaki, sementara sebagian lainnya melengkapinya dengan
berkemah di kaki gunung. Dua lokasi perkemahan ini di antaranya
adalah kawasan hutan pinus Cibonar, Linggajati dan Palutungan,
Kuningan.
Dua lokasi perkemahan ini juga menjadi awal pendakian. Jalur
teramai menuju puncak adalah dari Linggajati. Data yang tercatat di
pos Linggajati, sejak awal liburan 12 Juni 1994 lalu, sampai dengan
29 Juni 1994, sudah lebih dari 4.000 orang yang mendaki. Sedangkan
jalur Palutungan tidak begitu ramai dilalui, seperti halnya jalur
dari Maja, Kabupaten Majalengka.
Alasan pendaki, jalur Linggajati relatif lebih pendek. Padahal
jalur Linggajati harus melalui medan berat dan curam. Di sepanjang
perjalanan, lokasi pendakian menanjak sampai kemiringan sekitar 70
derajat. Waktu normal yang harus ditempuh pendaki sampai puncak --
dengan diselingi istirahat hanya beberapa menit -- mencapai sekitar
10 jam.
Tetapi, sepanjang pendakian Sabtu (18/6) malam, Kompas
menjumpai pula para pendaki yang tergeletak tidur di sejumlah
lokasi, baik di dalam tenda, kantung tidur (sleeping bag), maupun di
tempat-tempat terbuka. Ada yang memasang tenda di Blok Kuburan Kuda
(ketinggian sekitar 1.000 m), Binbin, Bapak Tere, Batu Lingga (2.200
m), Sanggabuwana, atau Pengasinan (2.900 m).
* * *
DALAM buku "Data Dasar Gunung Api Indonesia", Gunung Ciremai
sama seperti Gunung Slamet di Jateng adalah gunung berapi yang
berdiri sendiri (soliter), yang menguasai pemandangan hingga jauh di
sekelilingnya.
Kaki gunung di sebelah utara, meluas di kiri-kanan Pegunungan
Kromong Lama hingga jauh di daratannya. Kaki gunung barat, selatan,
dan bagian timur, dalam perkembangannya tertahan oleh daerah
pegunungan tersier yang mengelilinginya.
Letak Ciremai terdapat di Tatar Sunda yakni Kabupaten Cirebon,
Kuningan, dan Majalengka. Nama lain Gunung Ciremai yang bertipe
gunung api strato ini adalah Cereme, Cerme, dan Careme. Di puncak
gunung ini terdapat tiga kawah bernama Kawah Barat, Kawah Timur, dan
Gua Walet.
Gunung Ciremai pernah beberapa kali menunjukkan aktivitasnya
sebagai gunung api. Dalam buku itu disebutkan, pada tanggal 11-12
Agustus 1772 terjadi letusan di kawah pusat. Pada bulan April 1805
terjadi lagi letusan dari kawah, tetapi tidak sampai menimbulkan
kerusakan. Pada tahun 1917, dari dinding selatan terbang uap
belerang. Pada September 1924 tampak sebuah hembusan fumarol (gas
bercampur uap) kuat di bagian barat dari dinding pemisah.
Kemudian kegiatan letusan terjadi lagi antara 24 Juni 1937
hingga 7 Januari 1938. Penyebaran abu ketika itu mencapai daerah
seluas sekitar 52,5 km persegi. Pada permulaan tahun 1955 terjadi
gempa bumi tektonik, yang menimbulkan kerusakan beberapa rumah di
sekitar Kawedanan Cilimus, tanpa mempengaruhi kegiatan magmanya.
Dalam buku itu disebutkan, cara mencapai kawah puncak Gunung
Ciremai bisa dilakukan dari barat yaitu melalui Cipanas (1.100 meter
dpl), sebuah kampung di Kecamatan Maja, Majalengka, di perkebunan
teh Argalingga. Pada ketinggian 1.908 meter dpl, pendaki akan
menemukan pertigaan menuju Kuningan dan Gandasoli. Setelah itu baru
dicapai batas hutan Kijamuju yakni Sanghyang Bangkai. Di lokasi ini
pendaki biasanya melakukan upacara memohon keselamatan terlebih
dahulu, sebelum melanjutkan ke puncak.
Pendakian kemudian (setelah berjalan 4,5 jam) akan sampai di
Gua Walet, sebuah gua kecil yang menyerupai terowongan lava yang
telah ambruk. Dari gua ini bisa dicapai kawah di pilar triangulasi
3.056 meter dpl. Sedangkan titik tertinggi Sunan Cirebon berada pada
pilar triangulasi 3.078 meter dpl.
Sedangkan pendakian melalui Linggajati (580 m) dapat dilakukan
melalui Lingga (2.300 m) -- yang dianggap keramat -- hingga pilar
triangulasi 3.027 m. Dari tempat ini, untuk menuju ke Gua Walet
harus melewati bagian tepi kawah sebelah selatan.
Namun, menurut pendaki Wirjosumarto dan Abdulpatah -- yang
menuliskan pengalamannya pada tahun 1955 -- pendakian ke puncak
dapat dilakukan dari Cibuntu (utara), Setianagara dan Gunung Deukeut
(timur), dan Palutungan (selatan).
* * *
JALUR pendakian melalui Linggajati, menurut sejumlah pendaki,
merupakan jalur paling sulit. Bagaimana tidak, hampir sepanjang
jalan setapak yang dilalui, kondisinya menanjak dan harus melalui
sela-sela bebatuan atau akar pepohonan. Jalan setapak ini sekaligus
menjadi aliran air dari bagian atas gunung, jika hujan turun.
Pada musim kemarau sekarang, jalan air untuk jalur pendakian
itu berubah menjadi sangat berdebu, akibat tidak hentinya ratusan
pendaki lalu-lalang tiap hari saat musim liburan 1994 ini. Ketebalan
debu di sebagian lokasi, bahkan, sudah mencapai lebih dari 15 cm.
Meskipun begitu, pendaki tetap membutuhkan energi cukup dan
harus penuh kehati-hatian. Bila terpeleset dan tidak dapat menjaga
keseimbangan, batu-batu besar pun siap menanti. Dengan medan yang
cukup sulit seperti itu, perbekalan yang memadai menjadi syarat
utama untuk mencapai puncak Gunung Ciremai. Tanpa perbekalan cukup,
siap-siap saja tersiksa di sepanjang perjalanan.
Persyaratan paling utama pendakian seperti itu kadang-kadang
diabaikan sebagian pendaki. Dalam perjalanan, Kompas misalnya
bertemu seorang pendaki pelajar SMA asal Cirebon yang nekat
melanjutkan perjalanan ke puncak -- yang masih sekitar tiga jam
perjalanan lagi -- tanpa membawa bekal apa pun. "Teman-teman saya
sudah di depan," katanya. Rasa haus tak tertahankan yang
dideritanya, memaksa pendaki itu meminta minum pada pendaki lain.
Harus diakui, perbekalan cukup, seperti makanan, minuman, obat-
obatan, tenda, sleeping bag, atau juga peralatan memasak seperti
panci, gelas, akan sangat menjadi beban yang begitu menyiksa
pendaki. Namun untuk mereka yang terbiasa mendaki, perbekalan yang
kadang mencapai berat lebih 20 kg, bisa dibawa sekaligus dalam
sebuah ransel.
Jefri dan Endang, dua pendaki asal Jakarta dan Cirebon yang
berjalan bareng, misalnya, membawa perbekalan yang menambah beban,
tetapi memperlama waktu tempuh pendakian itu. Keduanya akan berada
di gunung beberapa hari, sehingga mereka merasa perlu untuk membawa
peralatan cukup.
Meski kadang-kadang peralatan tak perlu dipakai, bisa saja
tiba-tiba situasi berubah. Hal itu terbukti terjadi pada Minggu
(19/6) dinihari di sekitar Kuburan Kuda (1.000 meter dpl), ketika
turun gerimis cukup deras. Sejumlah pendaki kebingungan, karena
tidak membawa tenda untuk berteduh. Mereka beranggapan, pada musim
kemarau, gerimis atau hujan nyaris tidak mungkin terjadi.
Mengenai tidak siapnya perbekalan yang dibawa sebagian pendaki
ini dibenarkan pula oleh Rahman, anggota pencita alam Wanadri.
Menurut dia, sebagian pendaki memang kadang-kadan meremehkan masalah
perbekalan ini. Alasan mereka, ujar Rahman, biasanya karena
pendakian dilakukan pergi-pulang. Artinya, mereka tidak mau
berkemah. Sehingga hanya perbekalan makanan dan minuman sekadarnya
saja yang diboyong. Padahal kemungkinan-kemungkinan buruk bisa saja
terjadi. Misalnya, mereka tersesat, sehingga akhirnya berada di
gunung selama berhari-hari.
Untuk mendaki pun, sebagian besar pendaki Ciremai tidak
mempunyai izin dari KPH Kuningan. Petugas di pos Linggajati, Juned,
mengaku kesulitan untuk menahan mereka yang tidak punya izin
mendaki, karena mereka sudah berada di lokasi itu. Padahal izin dan
identitas pendaki diperlukan guna mencegah hal-hal yang tidak
diinginkan.
Ini mungkin yang membedakan mereka dengan para pendaki Ciremai
pada zaman dahulu kala, bila mereka naik dari Argalingga,
Majalengka. Izin itu memang bukan berupa surat resmi, tetapi upacara
doa keselamatan yang dilakukan saat tiba di batas hutan Kijamuju
yakni Sanghyang Bangkai. Doa ini diperlukan sebelum pendaki
melanjutkan perjalanan ke puncak gunung.
***
Pendaki gunung sahabat alam sejati
Jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan
Memproklamirkan dirimu pencinta alam
Namun maknanya belum kau miliki
Satu bait syair dari sebuah lagu yang dilantunkan artis asal
Kota Kembang, Ritta Ruby Hartland, sekitar awal tahun 1980-an
mungkin dapat melambangkan "kegiatan" sebagian pendaki Ciremai pada
musim pendakian liburan sekolah tahun 1994 ini. (Agus Mulyadi)
Foto: 1
Kompas/mul
BERKIBAR DI PUNCAK -- Setelah lelah menempuh perjalanan belasan
jam, bendera pun dikibarkan di puncak Ciremai. Sunan Cirebon adalah
tempatnya, dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut.

Barang Elektronik dari Kaki Ciremai

KOMPAS - Jumat, 28 Apr 1995 Halaman: 18 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 6587
BARANG ELEKTRONIK DARI KAKI CIREMAI
HAWA sejuk pegunungan di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur,
Kabupaten Kuningan, Jabar, membuat penghuninya betah tinggal di
dalam rumah. Tetapi mereka tidak terbenam di depan pesawat televisi
atau tempat tidur. Di dalam ruangan yang lebih hangat daripada di
luar ini, sebagian penduduk menciptakan produk-produk elektronika.
Sejak sekitar 10 tahun lalu, dari rumah-rumah penduduk setempat
tercipta beragam komponen dasar barang eletronik. Sebut saja PCB
(printed circuit board), modul (komponen elektronik setengah jadi
untuk berbagai bentuk elektronik jadi), sampai berbagai barang
elektronik bentuk jadi, seperti tape, power amplifier, equalizer,
booster, dan sebagainya.
Bahkan modul elektronik asal Cisantana, melalui perusahaan
pemesannya di berbagai kota besar, telah diekspor ke berbagai
negara. Produk modul yang dihasilkan penduduk desa yang tinggal di
ketinggian sekitar 800 meter dapl (di atas permukaan laut) ini,
misalnya stereo pre am head & record dan tone stereo. Keduanya
adalah bagian komponen penting tape deck, tape mobil, atau radio.
Sentuhan tangan penduduk setempat, telah mampu dinikmati
penduduk di berbagai daerah Indonesia dan dunia. Sebab produk PCB
Cisantana, akhirnya dipakai berbagai pabrik pembuat barang
elektronik. Produk elektronik Cisantana bisa juga langsung
dinikmati, seperti tape deck, interkom, equalizer, power amplifier,
atau booster, dengan menggunakan merek Pronica dan Ronica.
"Biar gampang disebut dan diingat orang," kata Gunawan (36),
tentang pilihan dua nama untuk merek elektronik Cisantana. Ayah tiga
anak ini adalah perintis pembuatan barang elektronik di desa itu,
sekaligus menghubungi berbagai relasi untuk pemasaran.
***
CISANTANA adalah desa di lima kilometer barat kota Kuningan.
Desa ini nyaris terpisah dengan daerah lain, sebab hanya ada satu
jalan beraspal selebar tiga meter yang menghubungkan desa itu dengan
desa lain, melalui desa tetangganya, Cigugur. Sesudah Cisantana
hanya ada satu desa lagi, Palutungan, desa yang terletak paling
ujung di kaki Ciremai. Bagi para pendaki Ciremai yang melalui
Palutungan, Cisantana tentu sudah dikenal.
Terwujudnya Cisantana menjadi daerah produsen elektronik adalah
dari kedatangan Gunawan tahun 1984. "Udara desa yang masih bersih,
membuat saya betah tinggal di sini. Desa ini juga cukup sepi," kata
Gunawan yang lahir di Pekanbaru, Riau itu.
Sebelum ke Cisantana, Gunawan tinggal di Teluk Gong, Jakarta,
saat dia masih menimba ilmu di jurusan elektronik, Fakultas Teknik
Universitas Trisakti. Namun bangku kuliah tidak diselesaikannya,
karena keburu ke Cisantana.
"Saya tidak betah tinggal di Jakarta, terlalu sumpek," ujar
Gunawan memberi alasan. Ketika seorang kenalannya mengajaknya ke
Cisantana, dia merasa kerasan terhadap kesejukan, ketenangan, dan
udara bersih desa itu.
Gunawan semula membuka usaha peternakan ayam. Maklum, di
kawasan itu banyak penduduk beternak ayam dan sapi perah. Tetapi
belum sampai niat itu terlaksana - padahal sudah membuat bangunan
kandang ayam - Gunawan beralih ke elektronik.
Dunia elektronik sebelumnya sudah diakrabi Gunawan, yang
menamatkan SMP di Pekanbaru dan SMA di Bandung ini. Ketika masih
kuliah di Trisakti dan tinggal di Teluk Gong, dia sudah membuat
berbagai tape deck, dan jenis lainnya. Ketika itu dia dibantu 10
pekerja. Produknya dipasarkan di Jakarta.
***
SEJUMLAH pedagang elektronik kembali dihubungi. Produknya laku
di pasaran, sehingga permintaan terus meningkat. Tidak hanya barang
jadi, tetapi komponen-komponen barang elektronik pun dijamahnya.
Dan ketika permintaan semakin menderas, Gunawan semakin banyak
merekrut tenaga kerja di Cisantana. Sebab permintaan berdatangan
dari berbagai kota besar dan daerah. Gunawan dan produknya telah
dikenal produsen dan pedagang elektronik lain.
Kehandalan "orang gunung" ini makin menarik minat perusahaan
besar elektronik di Indonesia. Alhasil, Desa Cisantana kebanjiran
pesanan komponen elektronik, dari sejumlah pabrik elektronik di
Jakarta, dan daerah lain. Gunawan tentu saja kerepotan, dia semakin
banyak merekrut tenga kerja setempat, bahkan melimpahkan pesanan
kepada sebagian penduduk untuk melayani pesanan yang datang.
Dengan segala kesibukannya, Gunawan makin melebur dengan
penduduk setempat, setelah empat tahun kemudian menyunting gadis
setempat, dan telah menciptakan lapangan kerja baru di Cisantana.
Dari ibu-ibu dan remaja, mereka bekerja dalam kelompok di sejumlah
rumah penduduk. Bahkan kelompok pekerja ini, melebar sampai ke desa
lain di empat kecamatan sekitar.
Gunawan sendiri lalu membangun pabrik khusus untuk pembuatan
PCB di Cisantana, bekerja sama dengan KUD setempat, melibatkan
sekitar 100 orang. Itu belum termasuk pekerjanya yang tersebar di
berbagai desa. Mereka berkelompok mengerjakan komponen elektronik
berbeda. Ada 20 kelompok pekerja di bawah Gunawan.
Di luar itu, lebih dari 200 penduduk setempat juga memproduksi
barang elektronik, kebanyakan berbentuk modul pesanan pabrik besar.
Awalnya mereka bekerja dan dilatih Gunawan. Lalu mereka mengerjakan
sendiri pesanan langsung dari pabrik, melalui rekomendasi Gunawan.
"Mereka menerima pesanan langsung dan mengerjakan sendiri sesuai
keinginan pabrik," katanya.
Salah satu kelompok pekerja adalah Karang Taruna setempat.
"Kami sedang mengerjakan modul tone stereo dari Eltec," kata Asep,
lulusan SPG (sekolah pendidikan guru) tahun 1990. Yang tergabung
dalam karang taruna ini 24 orang.
Cara kerja dalam kelompok-kelompok, menurut Gunawan, seperti
yang dilakukan industri elektronik di Jepang dan Taiwan. Dengan
begitu, pengerjaan masing-masing komponen elektronik tidak saling
mengganggu. Pihak pabrik pemesan, nantinya tinggal merangkai
berbagai komponen itu untuk menjadi produk jadi.
Gunawan tidak melihat berkembangnya kelompok pekerja di
kalangan masyarakat setempat sebagai saingan, karena mereka bisa
saling menunjang dan berkembang. Bahkan diharapkan, pengusaha besar
tertarik membantu kelompok-kelompok itu, terutama penyediaan
peralatan lebih modern. Dengan begitu, mutu produk yang dihasilkan
dapat lebih ditingkatkan. (agus mulyadi)
Teksfoto:
Kompas/mul
BERPRODUKSI -- Sejumlah remaja sedang mengerjakan sejumlah komponen
elektronik. Secara tidak langsung, mereka sudah ikut berproduksi.

Jumat, 09 November 2007

Di Cirebon Ada Air Kuningan

KOMPAS - Selasa, 23 Apr 1991 Halaman: 13 Penulis: HARIYONO, TRI; MULYADI, AGUS Ukuran: 6534 Foto: 1

DI CIREBON ADA AIR KUNINGAN

HATI-hati membaca judul ini. Siapa tahu akan Anda artikan, di
Cirebon ada air terbuat dari kuningan. Padahal bukan itu maksudnya.
Yang benar, di Cirebon ada air berasal dari daerah Kuningan.

Kota di ujung timurlaut Jabar ini, memang miskin sumber air
untuk memenuhi kebutuhan warganya. Tapi, syukurnya, tetangga
terdekat di sebelah selatan Cirebon, di Kabupaten Kuningan, ternyata
kaya akan sumber air. Dari kabupaten inilah air melimpah tadi
dipasok setiap hari, memenuhi kebutuhan air untuk warga kota
Cirebon. Saking berlimpah, jangan heran bila Anda sedang melintas di
kota Cirebon, melihat air ledeng dibuang-buang.

Kota Kuningan di kaki gunung Ciremai ini memang kaya akan
sumber air. Meskipun hanya satu sumber yang dimanfaatkan, tepatnya
di Paniisan, ternyata air bersih itu sudah merepotkan Cirebon. Debit
air yang masuk dari Kuningan ke Cirebon, memang sangat tinggi.

"Itulah sebabnya jika malam sekitar pukul satu hingga pukul
tiga dinihari, air terpaksa kami buang. Bak penampung tidak cukup.
Kalaupun saluran pipa ditutup, bak penampungan di Kuningan tetap
tidak akan mampu menampung derasnya air. Bila dipaksa bisa jebol,"
tutur Ir. Ny Sri Sularmi S, Kepala Seksi P2TP (Penelitian,
Perencanaan, Teknologi, dan Pengembangan) PDAM Kotamadya Cirebon..

SUMBER air di Paniisan memang luar biasa besarnya. Air seolah
keluar dari perut bumi tiada hentinya. Sehingga diperlukan kolam
penampungan yang cukup besar. Dari kolam inilah, air disalurkan
menuju Cirebon lewat pipa-pipa raksasa yang panjangnya sekitar 22
kilometer. Debit air yang disalurkan melalui pipa ini mencapai 800
liter per detik. Cukup untuk memenuhi kebutuhan warga kota Cirebon
yang jumlahnya sekitar 200.000 jiwa.

Namun tentu, air yang diperoleh dari Kuningan, tidak begitu
saja diserahkan ke Cirebon. Warga Cirebon juga memberikan "imbal
jasa" kepada Pemda Kuningan. "Cirebon memang sangat beruntung. Sebab
air yang diperoleh dari Kuningan sudah bersih, sehingga biaya
pengolahannnya bisa ditekan," ujar Ir Sularmi.

Biaya pengolahan yang murah ini, membuat tarif PDAM di
Kotamadya Cirebon tergolong rendah dibandingkan kota-kota lainnya.
Tidak mengherankan jika 87 persen warga kota dapat menikmati air
bersih, dengan menjadi pelanggan PDAM. Besarnya jumlah pelanggan ini
antara lain disebabkan warga kota memang kesulitan air bersih, dan
juga tarif air relatif rendah.

Besarnya jumlah pelanggan air di Kotamadya Cirebon, ternyata
menjadi potensi yang besar pula untuk menarik retribusi RPLP
(Retribusi Penyehatan Lingkungan Permukiman). "Retribusi ini ditarik
bersama-sama dengan rekening air. Sehingga masyarakat tidak
merasakan bahwa pemukimannya kena retribusi," ujar Kumaedhi,
Walikota Cirebon.

MESKI jumlah pelanggan sudah lumayan besar, 87 persen penduduk,
pemda Kodya juga menyediakan beberapa tangki air bersih umum. Sejauh
ini tercatat sudah tiga tangki umum yang disediakan PDAM. Dengan
kapasitas masing-masing 6.000 liter per tangki, pengadaan fasilitas
ini juga dimaksudkan untuk membantu penduduk non-pelanggan,
menikmati hidup secara sehat.

Tiga penampungan air bersih ini, sengaja ditempatkan di
wilayah pinggiran kota dalam wilayah Kecamatan Harjamukti, yang
belum dijangkau jasa pelayanan PDAM. Salah satu di antaranya
terdapat di Blok Argapura, Kelurahan Argasunya RT 03/ RW 01.

Namun sayangnya, penduduk belum memanfaatkan terminal air yang
mulai dioperasikan akhir Februari 1991 lalu itu. Padahal harga yang
harus dibayar tidaklah tinggi. Untuk satu jerigen isi 20 liter,
hanya dikenakan tarif Rp 50. Harga ini terbagi masing-masing untuk
kas RW Rp 15, RT setempat selaku pengelola Rp 10, dan PDAM Rp 25 per
jerigen.

Karena belum optimal dimanfaatkan, tidak mengherankan jika
penampungan air dengan kapasitas 6.000 liter ini, sejak diresmikan
baru diisi sekali. Seorang warga Kelurahan Argasunya, Blok Argapura,
RT3/RW1 menjelaskan, itu karena masih sedikitnya pemakai. Setiap
hari, paling banyak hanya enam orang yang mengambil air di tempat itu.

Menurut perkiraan, kejadian ini karena tidak adanya alat angkut
ke rumah-rumah konsumen. Untuk mengambil air, penduduk harus
menjinjing jerigen dari dan ke rumahnya. Keadaan ini tentu
merepotkan mereka, sehingga air sumur pun tetap menjadi pilihan
pertama.

WALIKOTAMADYA Cirebon, Drs. Kumaedhi Syafruddin mengaku,
penyediaan kebutuhan air melalui tabung-tabung ini, memang diniatkan
agar semua masyarakat Cirebon dapat menikmati air bersih. "Dengan
adanya tempat air bersih ini, diharapkan sisa sebanyak 13 persen
penduduk Cirebon yang belum menikmatinya, terutama rakyat pinggir
kota dapat tercapai," ujar Kumaedhi.

Sebagai kelanjutan penyediaan air bersih ini, tahun 1992
mendatang direncanakan pula akan dipasang enam unit terminal air
baru. Beda dengan terminal air, keran umum hampir semuanya
ditempatkan di lingkungan permukiman penduduk, terutama di daerah
kumuh. Beda pula dengan terminal air yang belum banyak dimanfaatkan
penduduk, keran air rutin dimanfaatkan. Tarifnya pun hanya Rp 25
per jerigen isi 20 liter, yang semuanya disetorkan ke PDAM.

MEMANG, dengan air yang didapat dari Kuningan, Cirebon bisa
tersenyum. Bahkan, mampu membuat menara air besar di Jl Tuparev
(Tujuh Pahlawan Revolusi), persis berbatasan dengan Kabupaten
Cirebon. Pemda Kotamadya Cirebon, terus berkeras mengatasi kesulitan
air bersih bagi penduduk yang belum menikmati air bersih.

Setiap orang yang memasuki Cirebon dari arah Bandung atau
Jakarta, akan membaca "Selamat Datang" dalam tulisan yang besar. Dan
kini, makna selamat datang yang tertulis itu, kini menjadi kian
lengkap. Karena Cirebon sebagai kota di simpang jalan, bisa
menyegarkan orang yang hendak melakukan perjalanan jauh ke Barat
atau pun ke Timur. Anda tinggal membuka keran air ledeng untuk
membasuh muka, pasti ada air yang mengucur.
Baru setelah itu, tulisan "Selamat Tinggal" di ujung jalan enak
bunyinya. (Try Haryono/Agus Mulyadi)

Foto: 1
Kompas/thy
KURANG DIMANFAATKAN - Terminal air bersih di Kecamatan Harjamukti
Kodya Cirebon ini kurang dimanfaatkan penduduk, kendati tarif air
bersih ini amat murah. Penduduk lebih suka menggunakan air sumur.