Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Oktober 2008

Jalan-jalan ke Tangkuban Perahu (lagi), serta Goa Jepang







Jalan-jalan ke Tangkuban Perahu (lagi), serta ke Goa Jepang
Tidak bosan-bosannya kami berkunjung ke Tangkuban Perahu di perbatsan Kabupaten Bandung Barat dan kabupaten Subang, Jawa Barat. Pesona kawah gunung itu seakan selalu mengundang untuk datang dan datang lagi, seperti saat “ngabuburit” bulan Ramadhan lalu.

Kala itu kami pun mengunjungi satu tempat wisata yang seperti terlupakan oleh mereka yang kerap berkunjung ke Bandung yakni Taman Nasional Ir H Juanda, di utara Dago. Tempat ini, bagi kami selama ini seperti tertutup oleh ingar-bingar FO, bistro, dan lain-lain di Bandung.

Sebelum ngabuburit ke Tangkuban Perahu, kami sempat mengunjungi TN Juanda. Di tempat ini, selain terpampag keindahan deretan pohon pinus, kami juga sempat memasuki Goa Jepang. Goa buatan ini, konon dulu tempat para tentara Jepang bersembunyi, termasuk menyebunyikan barang rampasan mereka dari negeri tercinta ini.

Satu goa lagi yang jaraknya sekitar 500 meter dari Goa Jepang, belum sempat kami kunjungi. Lain kali, kami pasti melihat-lihat Goa Belanda saat berkunjung ke Bandung lagi. (agus mulyadi)

Rabu, 14 November 2007

Comro Pun Tergeser Hamburger

KOMPAS - Senin, 08 Feb 1993 Halaman: 1 Penulis: HARIYONO, TRI/MULYADI, AGUS Ukuran: 7905
COMRO PUN TERGESER HAMBURGER
PERNAH merasakan nenas goreng atau nangka goreng? Jika
belum, datanglah ke Bandung, ke Jalan Supratman samping RRI
(Radio Republik Indonesia) Bandung. Di sini tempat mencicipi
makanan khas Bandung, seperti bajigur, bandrek, comro hingga
makanan yang agak aneh seperti nenas goreng atau nangka goreng.
Jika belum puas, datanglah ke Cihampelas atau Pasar Baru
Bandung. Cicipilah renyahnya oncom goreng dan kentang goreng
serta manisnya wajit Cililin, wajit duren hingga sale pisang
khas Bandung.
Namun, jika ingin mencicipi makanan khas Sunda yang lain
seperti katimus dan misro, sekarang sudah sulit mendapatkannya.
Untuk merasakan katimus (singkong parut rebus berisi gula) atau
misro (amis di jero - singkong parut goreng diisi gula merah), harus
mau susah mencari di pinggiran kota Bandung.
Beberapa jajanan khas Bandung, kini makin tersisih. "Semula
kami jualan katimus dan comro (oncom di jero), tetapi sepi pembeli.
Sekarang kami menjual jajanan yang lain," ujar Ny Dadah (47),
pedagang bajigur dan bandrek di Jalan Supratman.
"Penduduk Bandung lebih suka hamburger daripada comro atau
misro. Lebih doyan pizza daripada katimus," keluh Ny Dadah
pula.
Selain kurang peminat, sangat boleh jadi kehadiran makanan
Barat yang mudah didapat menjadi salah satu sebab "matinya"
beberapa makanan khas Bandung. Hamburger, pizza dan sejenisnya,
kini sangat mudah didapatkan di berbagai sudut kota Bandung.
Sedangkan jika ingin merasakan makanan khas Bandung, harus rela
bersusah-susah masuk-keluar gang.
Meski demikian, warga Bandung patut berbangga. Masyarakat
Kota Kembang ini bisa berinovasi melahirkan makanan-makanan baru
yang kemudian populer bukan hanya di Bandung, tetapi menyebar
sampai ke kota-kota lain. Batagor atau baso tahu goreng misalnya,
kini menjadi makanan yang banyak disukai berbagai kalangan. Masih
ada lagi nenas goreng, nangka goreng, cilok (aci dicolok/tapioka
ditusuk) gurilem dan makanan-makanan lainnya.
Makanan khas Bandung sendiri, seperti bajigur dan bandrek
masih tetap bertahan. Bajigur adalah minuman santan kelapa panas
ditambah gula merah dan kolang-kaling. Sedangkan bandrek adalah
air jahe manis dan hangat. Salah satu warung yang menjual makanan
khas ini ada di Jalan Supratman.
***
BAJIGUR Supratman punya riwayat panjang. Memang sulit untuk
mengatakan bahwa bajigur ini tertua di Bandung. Namun boleh
dibilang, inilah bajigur yang hingga kini tetap bertahan dan
punya pelanggan tersendiri, yang bukan hanya kalangan mahasiswa,
tapi juga pejabat yang dulu pernah mengenyam bangku kuliah di
Bandung. Ada olok-olok yang beredar, belum sempurna rasanya, jika
kuliah di Bandung tak pernah mencicipi bajigur Supratman.
Bajigur Supratman dirintis oleh Hajjah Maemunah (74) dan
suaminya, Sarban (88), sejak 1958, lebih dari 34 tahun lalu.
Maemunah saat itu hanya menjual bajigur, bandrek, comro, misro,
ubi rebus, singkong rebus dan kacang rebus.
Tidak ada perkembangan yang mencolok di awal-awal usahanya,
sehingga lambat laun pelanggannya mulai meninggalkannya. "Mungkin
kurang cocok makan singkong rebus di udara Bandung yang dingin,"
ujar Maemunah.
Tahun 1974 ia mencoba membuat berbagai makanan baru,
meracik adonan tersendiri, nenas goreng. Buah ini dicampurnya dengan
adonan terigu seperti layaknya pisang goreng, dan digoreng.
Kemudian dia pun mencoba membuat nangka goreng. Hasilnya
ternyata di luar dugaan, pelanggannya jadi bertambah banyak.
Boleh jadi karena mereka merasa makanan ini agak aneh dan ingin
mencobanya.
Ketika Ny Maemunah sudah uzur, usahanya sejak tahun 1980
dilanjutkan oleh anaknya Ny Dadah (47). Meski demikian Hajjah
Maemunah sering mengolah sendiri bajigur dan bandrek untuk
pelanggannya.
Nangka goreng dan nanas goreng yang dulu dirintis ibunya,
hingga kini terus dilanjutkan Ny Dadah. Bahkan kedua makanan ini
seolah-olah menjadi trade mark Bajigur Supratman. Dalam sehari
misalnya, dia bisa menghabiskan 10 nenas segar dan sekitar 12
kilogram nangka, selain 20 kg pisang goreng, 200 tahu isi dan 250
tahu polos. "Jika malam minggu atau malam libur, jumlah
makanan yang digoreng lebih banyak dari itu," ujarnya.
Warung kecil yang melayani pelanggan sejak pukul 19.00
hingga dinihari ini, juga bisa menghabiskan 10 panci besar
bajigur dan bandrek, belum termasuk pesanan yang datang ke rumah.
Dalam acara-acara perkawinan, ulang tahun, bahkan tahun baru
sering ada pelanggan yang meminta dibuatkan bajigur untuk 400 -
800 orang atau sekitar 3 panci besar.
Hasil usaha ini sangat lumayan. Ny Maemunah misalnya, bisa
menunaikan ibadah haji. Sedangkan Ny Dadah bisa menyekolahkan
anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Tiga dari enam anaknya kini
masih duduk di bangku perguruan tinggi, sementara enam karyawan
bekerja melayani pelanggan-pelanggannya.
***
SALAH satu makanan khas Bandung lainnya, yang sudah dikenal
sejak berpuluh tahun lalu adalah peuyeum, atau tape. Makanan yang
terbuat dari ubi kayu ini, secara perlahan juga tergeser berbagai
jenis makanan impor, atau karena hasil inovasi baru.
Peuyeum Bandung mempunyai rasa spesifik, karena "daging"-nya
tidak lembek, sehingga bisa bertahan lama. Selain itu makanan ini
punya ukuran lebih besar, bisa sampai seukuran lengan orang
dewasa, karena bahan bakunya ubi kayu kualitas nomor satu.
Salah satu tempat yang masih setia menjual peuyeum adalah di
Pasar Baru, Jalan Otista, Kotamadya Bandung. Di pasar itu, masih
ada lima pedagang yang menjajakannya, di antaranya adalah Suryana
(43), ayah empat anak asal Kelurahan Situ Aksan. Ia berdagang
sejak tahun 1966, mewarisi usaha dari kakek dan ayahnya.
Apa sih menariknya, sehingga berdagang peuyeum bisa menjadi
usaha turun temurun? Jawabnya, mungkin karena ini salah satu
upaya melestarikan budaya, seperti tersurat pada label peuyeum
yang dijajakannya. Pada secarik kertas berukuran 4x6 cm, dia
menyebut, Seni Budaya Pangan Alam Indonesia Karya Wanodya
Parahiyangan, lengkap dengan alamat los tempatnya berjualan.
Pria berperawakan tinggi besar itu dalam sehari menjual
empat bakul peuyeum. Satu bakul berisi 40 kg, dan dijualnya Rp
600/kg. Dalam musim hujan seperti sekarang, dagangannya hanya
laku satu bakul. Padahal kalau musim kemarau paling sedikit lima
bakul yang dibeli konsumen tiap hari.
Suryana sendiri mendapatkan peuyeum mentah dari Desa Cimenyan di
kawasan perbukitan Bandung timur. Ia menerima ubi kayu yang telah
bercampur ragi, dan tinggal menunggu proses fermentasi selama dua
hari, sebelum menjadi peuyeum.
Jajanan khas Bandung ini, selain bisa dinikmati langsung,
dapat pula dijadikan bahan campuran minuman es, digoreng, atau
dibuat colenak (dicocol enak), yaitu peuyeum bakar dikucuri kinca
dari gula merah.
Saking terkenalnya, colenak bahkan pernah dinyanyikan secara
plesetan oleh remaja Bandung tahun 50-an, saat peuyeum belum
tersaingi hotdog. Kini, syairnya tinggal kenangan:
"colenak beuleum peuyeum digulaan,
dicocol enak baju beureum keur duaan.
Awas bom batok, awas bom batok
rebu-rebu randa montok
leumpangna dicentok-centok
sieun nincak tai kotok."
(Colenak, tape bakar diberi gula
dicocol enak, baju merah untuk berdua
awas ranjau, awas ranjau
Beribu-ribu janda montok
langkahnya disendat-sendat
takut menginjak kotoran ayam).
(tri haryono/agus mulyadi)
Teksfoto:
Kompas/js
BAJIGUR - Sebuah kedai bajigur yang selalu padat pengunjung di Jalan
WR ì
Supratman, Bandung. Kedai yang punya perjalanan panjang dalam bisnis ì
bajigur ini masih bertahan dan punya pelanggan tersendiri.

Senin, 12 November 2007

Goyang Disko Goyang Rupiah

KOMPAS - Minggu, 03 Mar 1991 Halaman: 1 Penulis: DEWANTI, LAKSMI; TEJO, AGUS HADISUJIWO; MAFIRION; MULYADI, AGUS Ukuran: 11448 Foto: 1
GOYANG DISKO, GOYANG RUPIAH
Pengantar Redaksi :
Bisnis diskotik meriah lagi. Bukan hanya di Jakarta, di beberapa
daerah, para pengusaha juga mulai berani mempertaruhkan uangnya dalam
bisnis ini. Bagaimana prospek bisnis hiburan ini? Wartawan Kompas
Laksmi Dewanti dan Agus Hadisuwijo Tejo dibantu oleh Mafirion dan
Agus Mulyadi menuangkan lika-liku bisnis ini dalam satu tulisan di
halaman ini, dan dua di halaman 6.
KOTA kecil Batu, Malang, Jawa Timur, seperti mati di malam hari.
Namun ada pengusaha yang berniat membangun diskotik bawah tanah. Di
Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, sebuah gedung kesenian rakyat disulap
menjadi tempat bergengsot dan akan dibuka bulan Maret ini. Dan
Jakarta, menambah arena hiburan malam ini 31 Desember lalu
dengan Fire Discotheque. Terletak di Plaza Indonesia, kehadiran
diskotik yang mengaku the hottest and the most modern hi-tech disco
in Jakarta itu ikut memanaskan bisnis hiburan malam di Jakarta.
Inilah bisnis yang menyenangkan: menghibur orang sambil meraup uang.
Dengan arena melantai 6X12 meter dan menawarkan berbagai
teknologi canggih seperti sinar laser 12 warna, space-video, live
camera yang dihubungkan pada layar raksasa 5X10 meter, atau DJ
console yang terkomputerisasi, Fire mampu menyedot rata-rata 500
pengunjung tiap malam. Untuk malam Sabtu dan malam Minggu,
pengunjungnya lebih membludag lagi. "Hingga tamu sulit berjalan,"
ujar Joe Anwar, manajer operasional FD yang berasal dari Singapura.
Investasi yang ditanamkan untuk bisnis gemerlap ini memang tak
tanggung-tanggung, sekitar Rp 3,5 milyar! PT Rajawali Wirabakti
Utama serta kongsinya, Fire Discotheque Singapura, berani bertaruh
miliaran rupiah sebab sudah lama mereka mengendus bau kuat "uang
malam" Jakarta. Mereka sadar betul, perputarannya bisa mencapai
ratusan miliar rupiah per tahunnya.
***
BISNIS malam, terutama di metropolitan, memang kian marak dari
hari ke hari. Tengok saja pajak hiburan yang sempat dipetik Dinas
Pendapatan Daerah DKI. Angkanya tak main-main. Mencapai Rp 18,4
miliar di tahun 1989/1990! Yang terbesar, justru sumbangan dari
bisnis "uang malam" ini.
Tentu, ke-79 diskotik yang tersebar di seantero Jakarta tak
sendirian meramaikan malam. Panti pijat yang berjumlah 252 buah, 35
bar dan kelab malam, serta arena prostitusi yang tak terhitung
jumlahnya, menurut perhitungan majalah Info Ekonomi mampu
mengalirkan setidaknya Rp 133 miliar per tahunnya.
Perhitungan ini tentu saja belum termasuk transaksi "bawah
tangan" yang melibatkan belasan ribu wanita, dengan 468 germo dan
10.195 pelacur yang tercatat "resmi" di Departemen Sosial.
Lantas, di manakah letak diskotik di tengah perputaran "uang
malam" yang melesat cepat ini?
***
"DISKO adalah bisnis yang profitable, terutama di kota besar,"
tutur Henry Y Pramudhi, manajer operasional Ebony, diskotik populer
di bilangan Rasuna Said, Jakarta. "Sasaran kita jelas kelompok
yuppies, yakni para eksekutif menengah atas yang jumlahnya makin
banyak di Jakarta. Sekarang, melakukan refreshing lewat hiburan
malam, mulai jadi trend di kalangan itu."
Dengan rata-rata pengunjung 200 orang pada hari biasa, mencapai
700 di hari Sabtu, dan melimpah hingga 1450 orang di hari Kamis,
lewat tiket masuk saja Ebony sudah bisa mengeruk Rp 2 juta hingga Rp
17 juta per malam.
Padahal, harga tiket sebesar Rp 10 ribu di hari biasa, dan Rp 12
ribu di malam Minggu itu, sama sekali "bukan apa-apa" dibandingkan
dengan harga minuman yang dijajakan. "Bisnis hiburan malam memang
rata-rata mengeruk keuntungan besar dari penjualan minuman ini,"
tambah Pramudhi.
Diskotik, seperti halnya pub atau kelab malam, memang
biasa "menggenjot" keuntungan lewat harga minuman setinggi-tingginya,
tanpa disadari pengunjung. Sebab first drink, atau minuman yang
pertama kali dipesan, biasanya sudah digabungkan dalam cover charge
tiket masuk.
***
LALU, keuntungannya? Jangan kaget. Marjin keuntungan dari
minuman saja bisa mencapai lebih dari 1000 persen! Tanamur misalnya,
yang mangkal di bilangan Tanah Abang, menawarkan aneka soft drink
dengan harga Rp 3.500 segelasnya. Lantas minuman yang
dianggap "standard" lainnya, seperti whisky, dry gin, vodka, martini
atau cinzono, ditawarkan seharga Rp 4.500 hingga Rp 5.000 untuk tiap
gelas kecil. Itu belum harga minuman lain, yang berkisar antara Rp
6.000 hingga Rp 10.000 per gelasnya.
Padahal, berapa banyak rata-rata pengunjung menghabiskan
minumannya? "Mereka minum rata-rata empat gelas dengan harga minuman
Rp 9.000," papar Fifin Arifin, manajer The Music Room yang letaknya
di Hotel Borobudur Intercontinental Jakarta.
Maka hitung saja, dengan jumlah tamu rata-rata 400 orang dan
cover charge sebesar Rp 10 ribu untuk hari biasa, The Music Room bisa
menyedot tak kurang dari Rp 18 juta tiap malamnya. Belum lagi, jika
acara fashion night dibuka tiap Jumat. Tiket masuknya bisa mencapai
Rp 16 ribu, bahkan lebih tinggi dari tiket malam Minggu yang Rp 14
ribu. Jangan lupa, jumlah ini belum termasuk tip pengunjung, yang
seringkali deras mengalir ke kantong para waitress.
Dengan tarif yang lebih murah, Stardust, diskotik di bilangan
Glodok Jakarta, pada hari-hari khusus mampu menyedot pengunjung
hingga 1000 orang. Jumlah pengunjung yang rata-rata mencapai 500
orang per hari itu, dikenakan tiket masuk seharga Rp 5000 pada hari
biasa, dan Rp 6.500 pada saat acara ladies night.
Padahal, "Jumlah gelas minuman yang laku biasanya 2,5 kali
pengunjung dengan harga minuman rata-rata Rp 4000," papar Arifin
Sialagan, asisten manajer operasional Stardust. Maka, secara rata-
rata, tiap malam Stardust bisa menyabet tak kurang dari Rp 7 juta.
Sementara, The Oriental Discotheque yang menyatu dengan Hotel
Jakarta Hilton International, "cuma" menargetkan pemasukan sekitar Rp
4,5 juta saja tiap malamnya. Pengunjung The Oriental, kebanyakan
memang berasal dari kalangan remaja. "Sekarang, kami sedang mencoba
menggaet kelompok eksekutif dari dunia industri dan perbankan," ujar
Donny Sukamdono, head waiter The Oriental. "Pertimbangannya, spend
kelompok ini untuk minuman jauh lebih besar dari remaja. Para remaja
paling-paling cuma sekali minum saja, cuma first drink yang sudah
masuk dalam cover charge."
***
SASARAN kelas menengah atas ini, rupanya diincar pula oleh
Antoni Argaatmaja, manajer pemasaran diskotik Voila, yang letaknya di
lantai 4 gedung Patra Jasa, Jakarta. Antoni sangat yakin, "Prospek
bisnis diskotik ini bakal running well sepanjang tahun. Yang dijual
di sini adalah musik, dan musik nggak akan habis-habis. Juga jangan
khawatir tentang pengunjung, sebab regenerasi selalu terjadi. Yang
sudah tua-tua itu bukan berarti habis, sebab justru mendapat tambahan
dari pengunjung muda."
Beragam kiat diterapkan untuk merebut pengunjung. Itu antara
lain mengadakan ladies night, miniskirt competition, atau marathon
drinking competition seperti yang dilakukan Ebony. Atau, Hot Sunday's
Jeans dan Student Party yang dilakukan Voila. Ada juga door prize
seperti yang dilakukan Fire. Semua itu jelas untuk menggaet jutaan
rupiah yang berputar dari hari ke hari.
Persaingan dalam bisnis ini kian terasa, setelah 52 diskotik
yang tercatat di tahun 1988 tumbuh menjadi 79 di awal tahun
1991."Lihat saja, The Oriental pun terkena dampak dari munculnya
Fire. Jumlah pengunjungnya merosot," ujar Donny Sukamdono. "Tapi
menurut perhitungan saya, dalam waktu tiga atau empat bulan lagi
pengunjung akan stabil kembali."
Toh Irza Rivai, satu-satunya DJ Indonesia di antara tiga DJ
Singapura di Fire, berkeyakinan bahwa anggapan orang terhadap bakal
merosotnya Fire tiga atau empat bulan lagi, tidak betul. "Saya akan
berusaha mempertahankan agar Fire bisa berjalan terus seperti ini.
Keberhasilan sebuah diskotik sangat ditentukan oleh para DJ-nya. Ini
tantangan buat saya. Bagi saya, yang namanya diskotik itu ya yang
seperti Fire ini," ungkapnya.
Joe Anwar pun mendukung tekad Irza. "Yang penting dari sebuah
diskotik di samping musik dan DJ, adalah adanya perubahan suasana.
Orang-orang kota cenderung cepat bosan. Karena ittu, seperti juga
halnya Fire di Singapura, tiap tahun kita akan mengubah interior dan
suasana."
Meski jumlah uang jutaan rupiah yang tersedot masuk tiap malam
cukup menggiurkan, sebenarnya jumlah yang keluar pun ternyata tidak
main-main. "Setelah jumlah uang yang masuk dikurangi biaya
operasional, seperti bayaran pekerja, sewa gedung, sewa listrik, dan
maintenance, labanya jadi kelihatan tidak seberapa besar lagi,"
ungkap Pramudhi. "Tetapi keuntungan ini tidak bisa dibandingkan
begitu saja, lho. Profit tergantung dari banyak hal, seperti
manajemen, lokasi, dan juga gedung. Seperti Stardust itu, dengan cover
charge relatif murah pengunjung datang berjubelan. Mereka
bisa "mencetak" uang tiap malam."
***
"MENCETAK" uang, agaknya memang tak melulu didominasi diskotik
yang besar-besar di metropolitan. Meski relatif mengeluarkan uang
lebih kecil, kalangan menengah-bawah yang datang dalam jumlah besar
tentu bisa menghasilkan uang dalam jumlah yang lumayan pula.
Kiat inilah yang diterapkan oleh Lipstick Standing Disco di
Bandung. Maka jangan heran, bila di tempat ini sekittar 500
pengunjung dihentak-hentak oleh irama dangdut pada acara dangdut
night. Satu grup dangdut khusus disewa dengan penyanyinya yang
berpakaian seronok. "Pada mulanya, kami hanya mencoba. Ternyata,
sambutannya luar biasa meriah. Sekarang ini sudah dua tahun kami
tetap mempertahankan acara ini dua kali seminggu," papar Ken
Rigawara, manajer Lipstick.
Cara Gatot Wiradinata, manajer diskotik Gunung Batu di Bandung,
lain lagi. "Kami menyelenggarakan acara spesial ladies and breaker
night. Acara itu kami tawarkan melalui pesawat komunikasi untuk
saling kontak," katanya.
Lain di Bandung, lain pula di Pakanbaru. Meski sudah disuplai
dengan tiga diskotik, Desember tahun lalu Inderapura International
Hotel berani menggelar sebuah lagi, Paradise Discotheque. Diskotik
yang menelan investasi sekitar Rp 600 juta ini mengelola bisnis itu
melalui kerja sama dengan Indonesian Disc Jockey School di Jakarta.
(Lihat di halaman 6: Sekolah DJ, Sekolah untuk Hidup). "Meski
sekarang belum begitu menggembirakan, bisnis diskootik ini dua tahun
lagi bakal cerah," ujar HS Chaidir, manajer Paradise. Untuk menggaet
prospek yang cerah itu, harus sudah mulai dirintis dari sekarang."
Barangkali prospek bisnis ini memang cerah. Sebab, seperti yang
dinyatakan Ahmad Fahmy, manajer Tanamur, "Masyarakat itu barangkali
makin kesepian. Mereka butuh keramaian, tak keberatan berjubelan
ramai-ramai."
***
Foto : 1
Kompas\js
CANGGIHNYA DISKO - Hentakan musik, warna-warni cahaya dan layar
proyeksi video mengiringi ratusan pengunjung yang nyaris memenuhi
lantai dansa Fire Discoteque di Plaza Indonesia. Kecanggihan
teknologi benar-benar dimanfaatkan dalam persaingan ketat bisnis
diskotek.